Ia akan jadi kisah kelam, kisah yang panjang dan kisah tak berkesudahan.
•••
"Lepasin saya! Kamu siapa!" Gadis dengan mata yang ditutup kain hitam tersebut terus meronta agar dilepaskan, ia terbaring di ranjang berseprai putih dengan tangan terikat. Kedua kakinya bebas, hanya saja kaki kirinya memang tak bisa digerakan akibat kecelakaan masa lampau.
Laki-laki yang merangkak di atasnya terkekeh mirip orang gila, ia setengah sadar setelah meneguk beberapa botol vodka yang membuatnya kian ngefly. Dua teman sialannya sengaja menantang Jonas untuk meminum alkohol itu karena kalah taruhan, dan sekarang Jonas berakhir di sebuah kamar kontrakan yang entah milik siapa—juga dipertemukan dengan gadis pincang yang menjadi korban apes malam ini.
Jonas juga tak tahu siapa gadis di bawahnya—yang penting bisa memenuhi kebutuhan seks setelah salah satu teman Jonas sengaja mencampur obat perangsang pada salah satu gelas berisi vodka yang diminum Jonas, alhasil remaja enam belas tahun itu kini mulai merasakan panas menjalar ke sekujur tubuhnya, ia mulai menegang di segala tempat.
"Tolong lepasin saya, jangan lakukan hal jahat ke saya." Gadis itu terus meronta di bawah tekanan napsu buas yang kini menguasai Jonas.
Jonas tetap tak menyahut, mata sayunya seakan menelanjangi gadis itu, ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher seraya mengendus aroma body mist yang begitu memabukan. Jonas kembali terkekeh, ia berdiri dengan lutut dan menarik hoodie yang dipakainya melewati leher hingga terlepas, Jonas membuang asal benda itu ke selasar, kaus polo yang membalut tubuhnya juga ia loloskan. Jonas kembali membungkuk, ia mulai menciumnya dengan lembut penuh perasaan, ia mengaitkan lidahnya lebih dalam dan gadis itu tak bisa berbuat apa-apa selain menggerakan tubuhnya tanda penolakan, tangan yang diikat itu Jonas tahan di atas kepala si gadis.
Tangan kanan Jonas mulai melepaskan satu persatu kancing yang melindungi tubuh di bawahnya, jika saja tangan gadis itu tak terikat pasti ia masih bisa menahan. Kesalahan apa yang membuatnya berada dalam situasi mengerikan itu sekarang.
"Manis," bisik Jonas setelah melepas ciuman itu sesaat, aroma alkohol begitu menguar dari udara yang keluar melalui bibir Jonas. Ia kembali menyesap bibir merah muda di bawahnya selembut tadi. Tangannya mulai turun menyingkap rok hitam yang menutupi bagian paling menyenangkan itu. "Lo mau 'kan sama gue?" Suara parau Jonas terdengar mengerikan di indra pendengaran gadis itu, ingin sekali ia berteriak, nyatanya bibir Jonas lagi-lagi membungkamnya tanpa memberi celah untuk bicara.
Remaja itu menelusupkan satu tangannya ke celana dalam si gadis dan melakukan sesuatu di sana seraya menggerakan jemarinya dengan ritme pelan hingga pancingan itu membuat jemarinya basah. Batin gadis itu menolak, tapi tubuhnya justru meminta lebih.
"Lo yakin nggak mau, huh? Ini badan lo mau, gimana dong?" bisik Jonas begitu sensual, ia mulai memainkan cuping telinga si korban dengan lidahnya, membuat sensasi panas menjalar ke sekujur tubuh gadis itu.
"Tolong jangan jahat sama saya ... lepasin saya sekarang ...."
"Kita belum selesai, Sayang."
"Kamu siapa!"
"Jonas."
"Tolong lepasin saya!"
"No choice, Baby."
Jonas tak pernah menyentuh seorang gadis, baru sekarang ia nekat karena pengaruh obat sialan itu. Jonas mengendus aroma leher si korban dalam-dalam, segera ia menyesap tiap jengkal leher gadis itu hingga menciptakan kissmark di mana-mana.
"Ah ... tolong jangan lanjutin, saya—" Bibirnya lebih dulu disesap lembut, apa pun yang terjadi sangatlah kontradiksi dengan pikirannya, kenapa tubuhnya berkhianat dan tak sinkron dengan pikiran.
Jonas menarik celana dalam gadis itu hingga terlepas dan ia juga menurunkan resleting celanannya—mengeluarkan apa yang seharusnya ia tekankan sejak tadi.
Jonas membuka lebar-lebar selangkangan si korban dan menekan miliknya perlahan hingga gadis pincang itu hampir saja berteriak jika saja bibir Jonas tak membungkamnya. Tarian erotis di ranjang mulai bergerak dengan ritme pelan, ia merobek selaput tipis gadis itu dan menjalarkan rasa sakit dari ujung kaki hingga ubun-ubun, hati yang tak terlihat bahkan lebih sakit saat tahu keperawannya sudah diambil laki-laki asing yang tak ia tahu wajahnya.
Lama-lama gerakan Jonas kian cepat, dan rasa sakit kini bercampur sensasi yang berbeda. Jonas tak peduli jika air mata gadis itu sudah membasahi kain hitam yang menutup matanya.
Semuanya terus berlanjut hingga malam mengerikan itu berakhir.
•••
Sempurna atau tidaknya, biar Tuhan yang menilai. Tetaplah menjadi pribadi yang pandai menata hati.
•••
Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam atau yang biasa disebut Mapala Universitas Teratai baru saja menyudahi kegiatan sharing pengalaman oleh para senior yang lebih dulu mengikuti kegiatan outdoor survival itu selama mereka menempuh pendidikan di kampus yang sama, semua terdengar menantang—khususnya untuk para mahasiswa, ada juga beberapa mahasiswi tangguh yang ikut kegiatan itu. Setiap kampus pasti memiliki komunitas Mapala, sebuah komunitas yang terbentuk sekitar 54tahun silam, komunitas pecinta alam yang dibuat tanggal 22 Desember 1964 oleh salah satu Universitas terbesar di Indonesia.
Komunitas itu mencakup banyak kegiatan yang notabene dilakukan pada alam terbuka seperti hiking, arung jeram, menyelam, panjat tebing, jelajah hutan, telusur gua dan paralayang. Hanya jelajah hutan dan hiking yang bukan merupakan satu divisi khusus, dan dua kegiatan itu adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki tiap-tiap anggota.
Kegiatan Mapala bisa ada di setiap kampus yang mencakup seluruh anggota fakultas, bisa juga ada di tiap-tiap fakultas. Sedangkan di Universitas Teratai semuanya mencakup seluruh fakultas.
Jonas melangkah sendirian setelah berpisah dengan teman-teman Mapala yang berbeda fakultas dengannya, Jonas adalah mahasiswa fakultas komunikasi. Dia tak terlalu terkenal di kampus, hanya kalem dan memiliki pembawaan yang tenang, Jonas justru terkenal di kalangan anak-anak Mapala.
"Kak Jonas!" seru seorang gadis yang juga baru keluar dari ruang rapat Mapala tadi.
Jonas menghentikan langkah dan memutar tubuh, gadis dengan rambut diikat ekor kuda itu sudah berdiri di depannya.
"Iya?"
"Namaku Anggun, Kak. Sebenarnya aku mau ...." Anggun menggantung kalimatnya.
"Mau apa?"
"Minta tanda tangan sama selfie boleh?" Wajah Anggun mengiba, sedangkan Jonas menganga mendengar permintaan itu.
"Yang bener aja, buat apa?" Jonas menggaruk pelipisnya, ia merasa aneh dengan permintaan gadis itu. Memang apa bagusnya sampai ingin berfoto dengan Jonas.
"Suatu kebanggaan kalau bisa punya foto senior Mapala yang ganteng model Kak Jonas, please boleh ya? Satu aja kok." Anggun menyatukan dua tangannya, memohon.
Jonas menghela napas pasrah. "Oke, satu aja, dan jangan bilang soal ini ke teman-teman lo. Gue bukan aktor."
Anggun tersenyum lebar, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka kamera depan. "Tapi Kakak mirip aktor, habisnya baby face banget sih. Gimana dong?"
"Terserah lo."
"Sini dong deketan." Anggun menarik lengan Jonas ke dekatnya, dan empunya lagi-lagi pasrah. Jonas memang tidak tegaan terhadap perempuan, ia merasa kaku seperti robot sekarang saat wajah itu dipaksa tersenyum tanpa alasan.
"Lihat kamera ya, Kak. Jangan lupa pasang senyum paling manis, kalau di dekat aku harus bahagia."
Kenapa Jonas harus berhadapan dengan perempuan cerewet seperti Anggun yang notabene junior di komunitas Mapala, Anggun baru bergabung dua bulan yang lalu, sedangkan Jonas sudah setahun lamanya. Meski Anggun cukup lama memperhatikan Jonas yang sering memimpin rapat, tapi baru kali ini ia memberanikan diri meminta foto bersama, mungkin sedikit lancang, tapi Anggun benar-benar suka.
Jonas menarik sudut bibirnya hingga tercipta sebuah lengkungan secara paksa, tapi tetap begitu memikat, sedangkan Anggun pamer deretan giginya seraya merangkul lengan Jonas tanpa canggung.
Ckrek!
"Makasih, Kak." Anggun melihat hasil fotonya di ponsel dan ia tersenyum bangga. "Pasti orang-orang bakal iri lihat ini."
Jonas berdecak. "Bukannya tadi gue bilang jangan kasih tahu siapa-siapa, artinya jangan dipamerin."
"Lupa."
Jonas memutar tubuh, ia hendak melenggang pergi, tak saat itu juga ia menubruk seorang gadis yang melangkah ke arahnya hingga tongkat serta pemiliknya tersungkur di selasar.
"Eh, Maaf!" Buru-buru Jonas membantu gadis itu berdiri dan memberikan tongkat yang diapit pada ketiak kiri. "Nggak sengaja."
"Saya tahu." Gadis itu mengedar pandang, ia mencari seseorang dan tak terlalu memperbesar adegan jatuh tadi. Gadis berambut panjang itu menatap Jonas, menelitinya dari ujung kaki hingga kepala. "Kamu kenal Rio?"
"Kenal, dia ada di—"
"Agatha!" seru Rio yang baru keluar dari ruang rapat anak Mapala, ia melangkah menghampiri Jonas dan gadis bernama Agatha itu.
"Saya cari kamu," ucap Agatha seraya tersenyum. Meski hanya seulas senyum tipis, tapi banyak anak fakultas sastra tahu kalau senyum Agatha paling memikat.
"Iya, ya udah langsung pulang aja sekarang."
"Oke."
"Eh, sekali lagi maaf ya," sela Jonas tak enak hati, ia mengusap tengkuknya dan tampak kebingungan untuk berinteraksi dengan sepasang manusia di depannya.
Rio menatap Agatha dan Jonas bergantian. "Emang dia ngapain kamu, Agatha?"
"Oh itu, nggak sengaja jatuh tadi." Agatha tersenyum tipis, ia menatap Jonas sesaat. "Ayo kita pulang."
"Oke."
Setelah diskusi itu berakhir, Agatha dan Rio melenggang pergi. Gadis itu tampak menyeimbangkan langkahnya yang tertatih dengan tongkat yang ia apit pada ketiak kiri, dan Rio begitu sabar menyamai laju langkah mereka meski harus pelan. Kedua kaki Agatha tampak sempurna, utuh. Namun, sayangnya memang harus pincang seperti yang banyak orang lihat.
"Kasihan Kak Agatha," celetuk Anggun yang sedari tadi hanya diam, dan perkataan itu berhasil membuat Jonas menoleh padanya.
"Emang dia kenapa?"
"Kan kakinya lumpuh satu, katanya sih karena kecelakaan waktu kecil. Padahal dia cantik banget, aku aja iri sama dia."
Jonas manggut-manggut, ia kembali menatap Agatha dan Rio yang akhirnya menghilang di ujung koridor. Selama setahun kuliah di Universitas Teratai, baru kali ini Jonas melihat Agatha. Gadis itu mahasiswi baru atau Jonas yang tak pernah mengitari area kampus hingga baru sekarang melihatnya.
Jonas menggaruk pelipisnya, tak perlu juga memikirkan sesuatu yang bukan ranahnya. Jonas melenggang pergi meninggalkan Anggun sendirian.
•••
"Makasih," ucap Agatha setelah turun dari mobil Rio, sedangkan empunya setia duduk di balik kemudi. "Hati-hati di jalan."
"Oke, aku pulang duluan." Rio melambaikan tangan sesaat sebelum kembali melajukan mobilnya menjauhi kediaman Agatha.
Gadis itu menghela napas menatap rumah besarnya, rumah yang sudah hampir sebelas tahun menemani hari-harinya, rumah yang pertama kali ia tinggali saat usia tujuh tahun. Mereka yang berbaik hati membawa gadis pincang itu ke rumah mewah tanpa peduli latar belakangnya. Mereka orang-orang baik yang sudi membawa gadis pincang masuk ke istana dan menyebutnya sebagai anggota keluarga.
Agatha menarik kakinya melewati gerbang yang terbuka lebar, terlihat mobil hitam milik Dani—ayah angkatnya—ada di halaman rumah. Tumben sekali pria itu sudah di rumah meski kanvas di atas sana masih terlihat cerah.
Agatha masuk ke rumah, dengan tertatih ia mengampiri kamarnya yang kebetulan berada di lantai dasar—jadi tak perlu tenaga ekstra untuk menapaki tangga.
"Agatha." Panggilan itu membuat Agatha yang sudah menarik daun pintu akhirnya mengurungkan niat, ia memutar tubuh menatap Dani yang menuruni tangga menghampiri dirinya.
"Tumben Papa udah pulang?" Agatha meraih tangan Dani dan mengecupnya.
"Tadi Papa lihat Rio antar kamu dari jendela kamar, apa hubungan kalian makin dekat?"
"Biasa aja kok."
"Kamu masih ingat 'kan soal perjanjian kita?"
Dada Agatha terasa sesak tiap kali Dani mengingatkannya soal itu, ia merasa dimanfaatkan—meski Dani menganggapnya sebagai ajang balas budi karena ia telah mengadopsi Agatha dari panti asuhan dan mengurusnya hingga hari ini, bahkan memberi pendidikan terbaik untuk Agatha. Sebagai anak angkat Agatha bisa apa, tidak tahu diri namanya kalau sampai protes macam-macam sedangkan keluarga barunya itu terlalu baik sampai Agatha sendiri kadang lupa dengan segala hal buruk yang pernah menimpanya di masa kecil. Keluarga itu membuatnya merasa memiliki rumah yang seharusnya.
"Agatha ingat kok, Pa. Agatha masuk kamar dulu." Sorot mata gadis itu meredup, sebenarnya ia paling benci jika harus membahas semua itu lagi, Agatha merasa seperti didorong terus-terusan agar semua yang Dani inginkan berjalan sesuai rencana, dan Agatha yang jadi peran utama untuk skenario yang disiapkan orangtuanya.
"Oke, tapi ingat ya kalau kamu harus dapatkan Rio biar bisnis Papa sama ayah dia berjalan lancar."
Iya, dan Agatha selalu benci rencana itu, batin Agatha. "Tenang aja, Agatha selalu ingat semua itu. Agatha masuk dulu." Gadis itu masuk kamar dan mengunci pintunya.
Agatha menghempas pantatnya di ranjang, ia menyugar rambut panjangnya seraya menghela napas panjang, gadis itu merebahkan tubuh menatap langit-langit kamar. Ia ingin berteriak nyaring menyuarakan isi hatinya yang benar-benar kecewa, tapi Agatha belum temukan tebing yang pas untuk melakukan hal bebas itu. Ia merasa seperti kepompong yang tak pernah bisa memiliki sayap kupu-kupu, Agatha terikat dengan banyak hal, dan ia masih membenci hidupnya meski tinggal dilingkup keluarga yang benar-benar anggap Agatha berharga.
Agatha kadang merasa bingung kenapa Dani sampai menyuruhnya memanfaatkan hubungan itu, padahal ia cacat. Memangnya siapa yang ingin memiliki kekasih pincang seperti dirinya? Meski Agatha tahu selama ini Rio memang laki-laki yang baik, tulus berteman dengannya. Sedikit pun Agatha tak ingin memanfaatkan pertemanan mereka apalagi berhubungan dengan hati, Agatha tak pernah mencintai siapa-siapa. Ia hanya tahu diri dan posisi, Agatha hanya anak adopsi dan Rio putra tunggal pemilik Asoka Group dengan furniture mewah yang terkenal di mana-mana. Ia tak ingin membuat Rio malu jika berhubungan dengannya, masih banyak gadis sempurna yang bisa Rio ajak kencan atau dijadikan kekasih.
Meski Rio sendiri pun tak pernah mempermasalahkan fisik Agatha, mereka berteman sejak lulus SMA hingga kini, bahkan seseringnya Rio memuji sosok Agatha yang tak pernah mengeluh perihal kurangnya—meski hati Agatha berkata lain. Ia pernah menjauh dari Rio, tapi laki-laki itu mengejarnya lagi hingga Agatha lelah mengelak. Bahkan mereka dianggap sepasang kekasih di kalangan anak kampus, padahal hanya berteman dekat.
•••
Jonas berdiri di dekat jendela kamar apartemennya, ia mengangkat panggilan yang sudah lima kali membuat ponselnya terus berdering. Tertera nama Papa pada layar yang menampilkan wallpaper pemandangan Gunung Bromo nan cantik tertutup kabut.
"Ada apa nyariin? Udah tahu 'kan kalau Jonas nggak akan pulang, mending piring-piring di rumah beresin dulu daripada nanti habis sama Jonas."
"Mama kamu kangen, Jo. Papa—"
"Papa juga? Bullshit tahu!" Jonas melompati jendela dan berdiri di balkon apartemen yang ia huni pada lantai dua puluh gedung pencakar langit itu, ia kini menatap prmandangan pencakar lain lain yang berlomba-lomba menyentuh jingga di atasnya, Jonas menghela napas kasar seraya menyugar poni yang jatuh di dahinya.
"Terserah kamu, Papa mau minta tolong."
"Apa?"
"Besok ikut Papa ke acara peresmian kantor cabang Asoka Group yang baru. Kebetulan Papa diundang."
"Terus apa hubungannya sama aku?" Jonas tampak tidak setuju.
"Semua yang diundang bawa anak mereka, khususnya yang udah kuliah. Papa mohon, Jo."
"Ini sayembara atau apa?"
"Jonas."
"Kita lihat aja besok." Jonas mematikan panggilan secara sepihak, ia menatap langit jingga yang kian meredup, yang sebentar lagi akan diganti pekat malam.
•••
Aku tidak sempurna, dan kamu datang sebagai penyempurna.
•••
“Agatha di sini dulu sebentar.”
“Oke, papa masuk duluan. Sebentar lagi pasti Rio sampai.” Dani keluar dari mobil dan meninggalkan Agatha yang sebenarnya sama sekali tak ingin datang ke acara besar itu.
Agatha menyandarkan punggungnya pada jok mobil seraya menghela napas berulang kali, ia tak suka berada di tempat yang di kelilingi oleh orang-orang penting—terutama rekan bisnis Dani, Agatha sangat ingin pulang dan mengunci diri di kamarnya. Ia juga tak nyaman menggunakan gaun hitam yang sudah membalut tubuh langsingnya, apalagi tatanan rambut serta make up itu. Agatha merasa itu bukan dirinya.
Andai ia punya banyak pilihan, pasti ia tak akan memenuhi keinginan Dani untuk ikut dalam acara peresmian kantor cabang Asoka Group yang notabene dimiliki oleh Ryan—ayah Rio, mungkin itulah alasan paling tepat Dani mengajaknya untuk ikut karena Rio pasti juga akan datang, dan Dani berharap hubungan putri angkatnya ikut kian rekat.
Agatha membuka pintu mobil, ia mengeluarkan tongkat yang bisa ditekuk tersebut dan menjatuhkan kaki kanannya lebih dulu—barulah kaki kiri yang sudah tak berfungsi lagi. Ia menutup pintu dan mengedar pandang ke penjuru parkiran, keadaan masih ramai di luar kantor baru itu. Sejujurnya Agatha malu untuk masuk ke dalam sana, ia takut mempermalukan saja.
Gadis itu melangkah menghampiri beranda, ia sesekali sibuk menyibak gaun hitamnya yang tak nyaman dipakai apalagi dadanya terekspos cukup jelas, hawa dingin juga dengan mudah menguliti dan menusuk tulangnya malam-malam seperti ini.
“Nggak nyaman yah?” celetuk seseorang yang berhasil membuat Agatha menghentikan langkah saat sebentar lagi masuk melewati pintu utama.
Tampak Jonas di belakang gadis itu dengan tampilan yang memikat, Jonas mengenakan setelan jas hitam yang cukup formal dan pas untuk tubuhnya, poni acak-acakan Jonas jatuh di dahi—menambah kesan baby face lebih kuat untuk makhluk itu. Jonas menghampiri Agatha seraya memasukan satu tangannya ke saku celana.
“Gaunnya kepanjangan, kenapa nggak pakai dress aja,” ujar Jonas. Ia memperhatikan Agatha dari ujung kaki sampai kepala, gadis itu memang tampak sempurna meski kakinya cacat, dan Jonas merasa familier dengan sosok itu sekarang. “Kayak pernah lihat.”
“Mungkin,” sahut Agatha memasang raut datar, “saya juga pernah lihat kamu.”
Jonas menggaruk pelipisnya, “Iya, gue Jonas.” Remaja itu mengulurkan tangannya.
Mendengar nama itu membuat Agatha mengingat sesuatu, ia merasa familier, tapi buru-buru ditepisnya prasangka buruk itu. Lagipula makhluk bernama Jonas di dunia pasti begitu banyak, Agatha membalas uluran tangan Jonas.
“Agatha.”
“Iya, kita satu kampus walaupun baru kemarin gue lihat elo.” Sekarang Jonas memamerkan kebodohannya sebagai laki-laki kuper yang baru tahu kalau ada makhluk semanis Agatha di kampusnya.
“Oh gitu, saya masuk dulu.”
“Iya, lain kali kalau emang gaunnya nggak nyaman mending jangan dipakai,” pesan Jonas membuat Agatha tersenyum tipis, gadis itu masuk melewati lobi dan menghampiri resepsionis.
•••
Saat Rio dipanggil untuk naik ke altar rendah oleh pembawa acara, Agatha memilih meninggalkan acara tersebut—padahal semua orang bertepuk tangan, ia benar-benar bosan terutama setelah melihat tatapan menyeramkan beberapa pria padanya—yang mungkin menginginkan gadis itu, Agatha benci berada di sana. Ia memilih kembali duduk di sebelah kemudi seraya menyandarkan punggung yang dipenuhi sejuta beban tak kasat mata, rasanya lebih tenang sendirian daripada mendengar hiruk pikuk gelegar tawa atau ocehan orang-orang tentang uang, relasi, pendidikan anak mereka bahkan membandingkan yang satu dengan lainnya. Apa Dani tak berpikir dua kali saat mengajak Agatha untuk ikut? Rio bahkan berbicara dengan gadis lain ketimbang dirinya. Ah, Agatha tak ingin peduli dengan itu—intinya ia tak suka segala hal di dalam sana. Mereka semua begitu membosankan, tak ada satu pun yang menarik di mata Agatha.
Agatha berkali-kali menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, ia tak suka tatanan rambutnya yang sengaja dikeriting malam ini, bukan ia yang make over sendiri, tapi salon langganan sang ibu.
Agatha juga menurunkan kaca jendela, dadanya kembang kempis merasakan pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam tubuhnya. Ia ingin lekas pulang sekarang, tapi acara baru saja dimulai. Agatha perlu memperpanjang rasa bosannya tanpa harus melihat orang-orang di dalam sana.
Kapan mereka mau ngalah sama aku, batin Agatha, ia menerawang memikirkan banyak hal yang begitu tak sejalan dengan pemikiran serta kata hatinya. Agatha lelah bersandiwara, hanya saja ia tak punya hak untuk banyak bicara.
Ternyata mobil di sebelahnya juga tak kosong, pemiliknya berada di balik kemudi dan baru saja menurunkan kaca jendela—membuat Agatha menoleh dan menemukan wajah Jonas di sana.
“Kok di sini?” tanya Jonas sedikit terkejut mendapati wajah itu lagi.
“Kamu juga di situ.”
“Eum, gue lagi bingung aja mau ngapain.” Jonas tak memiliki alasan lain yang lebih pas, ia merasa kikuk.
“Kalau saya emang nggak suka di sana, semuanya ngebosenin,” aku Agatha tanpa peduli ia bicara dengan siapa, Agatha bahkan tak menatap lawan bicaranya.
“Kenapa? Karena gaunnya nggak nyaman? Bukannya lo sama Rio terus, atau karena dia tadi bicara sama cewek lain terus lo kesal—jadinya ngumpet di situ,” asumsi Jonas, rupanya ia cukup cermat memperhatikan banyak orang di ballroom tadi.
Seketika Agatha menoleh dan menyipitkan matanya. “Kamu cenayang atau apa? Cuma opsi pertama yang benar. Soal Rio itu urusan dia, kami cuma berteman.” Raut Agatha berbeda dari saat gadis itu bertemu Rio di kampus, tapi Jonas tak bisa membaca apa yang terselip di balik iris Agatha.
Jonas manggut-manggut, ia memang memperhatikan Agatha saat di dalam, bahkan saat gadis-gadis anak relasi Jordan—ayah Jonas—banyak yang mendekati dan mengajak bercengkrama, Jonas tak peduli dan memprioritaskan Agatha yang berdiri sendiri seraya sesekali sibuk membenarkan posisi gaun hitam miliknya. Jonas bahkan tersenyum kecil saat Agatha sibuk mengatur japit rambutnya, terlihat sangat tidak nyaman. Lalu ia berakhir di dalam mobil setelah benar-benar merasa penat dengan acara di dalam, khususnya karena ia menghindari para gadis itu. Jonas tak terlalu suka berada di lingkungan yang kebanyakan menampilkan gadis-gadis muda seumuran dirinya, Jonas tak terbiasa bercengkrama dengan mereka—apalagi jika urusannya sampai meminta nomor ponsel.
“Bukan-bukan, tapi semoga cepat jadi cenayang biar bisa baca isi hati orang,” ujar Jonas tersenyum miring seakan mengisyaratkan sesuatu pada gadis yang diajaknya bicara sekarang.
“Terserah kamu.” Agatha kembali menerawang, tak menghiraukan tatapan Jonas yang masih fokus padanya.
“Lebih enak kumpul sama anak-anak Mapala, isinya cowok semua, jadi nggak ada yang bikin cemburu. Udah gitu sharing pengalaman,” ucap Jonas memulai topik pembahasan yang lain.
Awalnya Agatha hanya diam, lima menit berselang ia mulai angkat suara.
“Kalau saya lebih suka lihat latihan teater di kampus, saya pengin dansa tapi nggak bisa.” Agatha tertawa kecil. “Mana bisa saya dansa.”
Jonas suka tawa kecil itu, pandangannya jatuh hati. “Gue bisa ajarin lo dansa.”
Agatha menoleh dan kembali menyipit. “Nggak perlu.”
“Cuma tawarin aja, siapa tahu suatu hari berubah pikiran.”
“Kaki saya lumpuh, mana bisa dansa,” celetuk Agatha langsung pada topik masalah, “lagian siapa sih yang mau ajak saya dansa.”
“Gue,” aku Jonas tanpa ragu lagi.
“Kamu cuma iming-iming, saya belum bisa bedain mana yang tulus atau cuma omong aja. Saya juga mau jadi cenayang yang bisa baca pikiran orang lain, banyak orang di sekitar saya, mau berteman sama saya tapi entah alasan apa.
“Entah karena mereka cuma kasihan atau memang tulus melihat saya apa adanya, andai memilih semudah itu ya?” Agatha kembali tertawa, tawa yang bagi Jonas diartikan sebagai rasa sedih. Tangan yang terus menyelipkan anak rambut itu membuat Jonas gemas karena mengganggu pemandangannya.
“Emangnya kalau kaki lo itu lumpuh, terus hati sama pikiran lo juga lumpuh?”
Agatha menggeleng. “Saya terima semuanya kok, saya bersyukur karena Tuhan masih kasih saya napas buat waktu selanjutnya. Seenggaknya saya hidup buat membuktikan sama orang-orang kalau ada yang lebih nggak sempurna dari yang lainnya.”
“Tolong jangan bahas itu, Agatha.” Jonas membuka pintu mobil dan turun, ia bergerak menghampiri mobil Agatha dan membungkuk menyentuh jendela, menatapnya dalam lekat perempuan di dalam sana. “Jangan nilai lo nggak berguna, Tuhan menciptakan manusia pasti banyak syaratnya. Salah satu itu adalah gimana lo bisa menghargai diri sendiri, love yourself, oke?”
Sungguh, perkataan Jonas mampu membuat kedua sudut bibir Agatha tertarik tanpa terpaksa. Namun, saat tangan Jonas terulur tanpa canggung untuk membenarkan japit rambut gadis itu—Agatha membeku.
“Kalian berdua ngapain?”
Seketika Jonas menegakan tubuhnya dan menarik tangan dari rambut halus Agatha, ia menoleh ke sumber suara yakni Rio yang baru datang ke parkiran dan memergoki Agatha serta Jonas terlihat begitu dekat—membuatnya curiga.
“Maaf.” Jonas mundur menghampiri mobilnya, sedangkan Rio membungkuk menatap Agatha lewat jendela mobil, menggantikan posisi Jonas tadi.
“Kamu kenapa di sini?” tanya Rio.
“Nyari angin aja, kenapa kamu keluar?” kilah Agatha.
“Nggak ada kamu, jadi aku cariin dan ternyata ada di sini. Bahas apa sama Jonas?”
Agatha menatap ke arah Jonas yang menyandarkan kepala pada jok mobil, laki-laki itu tampak memejamkan matanya.
“Bahas nggak penting, ya udah saya turun sekarang.” Rio membukakan pintu untuk Agatha, ia membantu gadis itu turun dan membiarkan Agatha mengapit tongkatnya. Sungguh, Agatha jauh lebih sempurna tanpa tongkat itu dan mungkin banyak yang antre menunggunya, tapi Tuhan sengaja memberitahu bahwa kecantikan atau sempurnanya fisik seseorang tidak untuk dipamerkan, siapa pun mereka yang tulus pasti segera bisa melihat jelas—terutama hati.
Jonas membuka mata kala mendengar suara derap langkah yang kian jauh, dilihatnya Agatha yang melangkah bersama Rio, terdengar pula tawa mereka begitu mengganggu indra pendengaran Jonas. Ada yang kontradiksi dengan sikap gadis itu saat bersama atau tanpa Rio di sebelahnya, apa Agatha sedang berpura-pura?
•••