-----
"Anda kira setelah semua ini saya akan mencintai anda? jangan harap!" Desis Marvel seraya menatap tajam Xia, Wanita yang beberapa jam yang lalu dinikahinya secara terpaksa.
Xia tersenyum miring, bahkan mengabaikan tatapan dingin dan menusuk milik Marvel yang sebelumnya tak pernah ditunjukan secara terang terangan.
Setidaknya sebelum dia menyuruh sang papa untuk mengancam laki laki tampan itu agar menikah dengannya.
Sebelumnya meskipun kerap kali Xia mengganggunya dan bahkan menunjukan ketertarikan secara terang terangan Marvel tetap menolak dengan sopan, dan halus. mengingat Xia adalah anak dari orang tua yang telah memberinya pekerjaan 10 tahun lalu.
Lebih tepatnya saat dia masih berusia 15 tahun, orang tua Xia lah yang merawatnya.
Xia duduk dengan anggun dan masih mengenakan gaun pengantin rancangannya sendiri dengan bangga, bahkan wajahnya tak diliputi marah ataupun sedih dengan apa yang Marvel ucapkan.
"Setidaknya, duduklah dulu Marvel apakah kamu tidak capek seharian melayani para tamu yang tidak sedikit? Pacarmu tidak akan menangis kamu tinggalkan beberapa jam saja,"
Marvel terdiam sesaat, rupanya Xia tau jika pagi sebelum datang keacara dia sempat menemui dara.
"Selama kamu ada didekatku, dara akan aman Marvel jadi jangan kemana mana untuk malam ini" Xia hanya mendengus dengan senyum tipis ketika melihat tangan Marvel yang terkepal kuat "Bukankah ini malam pengantin kita? Kamu tak ingin .. "
Belum sempat Xia menyelesaikan ucapannya, suara derap langkah kaki lalu disusul pintu dibanting membuatnya langsung mendatarkan wajahnya ketika melihat Marvel keluar, meski begitu Xia tak yakin jika Marvel berani keluar setelah ancamannya.
Setelah menghela nafas beberapa kali Xia akhirnya beranjak kekamar mandi setelah mengambil pakaian ganti dilemarinya.
Rumah yang kini Xia dan Marvel tempati adalah rumah hadiah dari orang tua Xia, dan mereka langsung menempatinya setelah acara resepsi selesai.
Beberapa setelahnya Xia telah keluar dengan keadaan yang lebih segar, baju tidur satin yang melekat ditubuh ya membuatnya tampak sangat cantik .
Tubuhnya bak model yang ramping dengan kulit seputih susu, tak heran banyak yang mengincarnya namun dia hanya mencintai Marvin seorang.
Setidaknya sejak 2 tahun yang lalu saat dia pulang dari kuliah paris.
Dia bermain dikantor sang kakak dia melihat laki laki tampan yang menarik perhatiannya.
Selama ini, dia sekolah Smp sampai kuliah diparis dimana neneknya berada jadi tidak pernah melihat anak yang menjadi kebanggaan keluarganya selain keluarganya sendiri.
Hanya Marvin laki laki yang tak memandangnya takjub, disaat yang lain menatapnya mendamba.
Xia meletakkan hair dryer setelah dirasa rambutnya telah kering, tenggorokkanya terasa kering dia juga ingin mengecek dimana pria yang kini berstatus suaminya itu berada. dia yakin Marvel tidak keluar karna sejak tadi dia tak mendengar suara mobil keluar dari garasi.
Setelah menapaki lantai dan turun kebawah alisnya bertaut heran ketika melihat Marvel malah tidur disofa ruang tengah, bajunya masih sama saat masuk kedalam rumah.
Xiapun mendekat, menatap pria itu makin dekat, senyumnya terlukis tipis melihat wajah tampan Marvel dari dekat.
Tanganya terangkat dan menyingkirkan helaian rambut Marvel yang menutupi wajahnya.
Marvel sepertinya tidur terlelap karna memang resepsi tadi menguras banyak tenaga, teman kuliahnya yang berada diparis pun beberapa menyempatkan datang dan yang pasti lebih banyak rekan bisnis sang papanya yang tidak sedikit.
Selang beberapa detik suara ponsel Marvel berdering singkat, sepertinya bukan panggilan melainkan pesan.
Dia hanya menoleh sekilas dan melihat nama sang pengirim dibagian atas.
Nama Dara dengan belakang emot daun kering kuning kesukaan marvel.
Dara🍂
Aku ga marah Mas, aku cuma mau nenangin diri, tapi sekarang lebih baik karna kamu udah janji disamping aku terus, makasih sayang.
Dara🍂
Maaf yah tadi panggilannya, ga aku angkat.
-...
-----
Pagi sekali Marvel membuka matanya ketika dirasa badannya terasa begitu pegal, memang melelahkan hari kemaren dia harus menghadapi tamu tamu yang tidak bisa dianggap sedikit, sedikit merenggangkan tubuhnya laki laki itu sedikit terkejut ketika mendapati sebuah selimut yang merosot ketika dia beranjak duduk.
Tak ambil pusing Marvel segera mengecek ponselnya, tadi malam dia menunggu balasan dari kekasihnya, karna tak kunjung menjawab panggilannya, ingin mendatangi kontrakan Dara namun mengingat ancaman Xia yang tak main main membuatnya urung.
Mengingat Xia, gadis itu adalah gadis manja, yang apa apa langsung disuguhi didepan matanya tanpa repot repot usaha sendiri jadi mustahil dia sudah bangun.
Marvel segere manghela nafas lega ketika menjawab chatnya dengan tenang, tadi malam sebenarnya dia ingin menunggu balasan chat dari Dara hanya saja tubuhnya dan pegal dan kantuk yang tidak bisa ditahan membuatnya tidur tanpa bisa dicegah.
Setelah membalas pesan sang kekasih Marvel segera pergi dari rumah, mengingat dia belum membeli ataupun membawa pakaian ganti satupun dan badannya sudah lengket dan dia tidak nyaman.
baru saja dia bangkit dari duduk marvel dikejutkan dengan sesuatu benda jatuh dari arah dapur, takut apa yang jatuh dia segera berlari kesana untuk memeriksa apa yang terjadi.
Dari jauh bisa Marvel lihat Xia tengah duduk merapikan sebuah telur gosong yang tumpah sekaligus dengan wajannya.
Dan didepannya masih menyala kompor dengan ponsel yang jaraknya cukup jauh dan menampilkan tayangan dari youtobe orang memasak telur.
" Sialan, ga guna banget tutor diyoutobe, tau gini beli aja sih, sibet ". Gerutunya dengan tangan yang masih membersihakan sisa sisa minyak yang masih bercecaran.
Marvel hanya menatapnya datar, lalu berbalik sebelum Xia menyadarinya, dia sangat malas jika harus dihadapkan dengan gadis itu pagi pagi sekali.
Dia segera menyambar mobil dan bergegas pergi.
Setelah membeli pakaian cukup banyak dan mandi juga berganti pakaian bukanya pulang, Marvel malah mendatangi kontrakan Dara yang tidak cukup besar namun layak dihuni.
Awalnya Marvel menyarankan untuk menggunakan aparteman saja namun dara menolak.
Setelah sampai dikontrakan Dara dan mengetuk pintu beberapa kali, terlihat Dara yang menyambutnya dengan wajah yang masih sembab namun pakaiannya rapi mungkin akan berangkat kekantor.
Melihat Marvel, Dara segera menyambutnya dengan memeluk pria itu dengan erat bahkan air matanya kembali tumpah.
Marvel tak kalah erat membalasnya.
" Didalam aja, gak enak dilihat orang " bisiknya yang diangguki dara.
Setelah melepas pelukanya mereka segera masuk, dan keduanya duduk disofa berhadapan.
" Tadi malam kalian - "
Marvel menahan bibir Dara dengan jarinya, lalu kembali memeluk wanita itu.
" nggak, dan sampai kapanpun aku nggak akan menyentuhnya ".
Dara semakin terisak dengan kata kata penenang Marvel, bahkan ketika tangan kekar itu mengelus lembut rambutnya tak membuatnya tenang.
" Aku takut kamu ninggalin aku ".
" Nggak akan ".
Dara mendongak, dia sudah tidak menangis namun masih terisak kecil.
" Tapi kalau dia mau bikin kamu cinta sama dia? ".
" Aku yang akan bikin dia sendiri nyerah, dan memilih pergi ".
Dara mengulas senyum, bibirnya menatap Marvel penuh harap membuat Marvel tau apa yang diinginkan Dara, baru saja kedua bibir mereka akan bertemu sebuah dering ponsel membuatnya terkejut dan melepaskan pelukanya untuk melihat siapa yang menelfon.
Sedangkan Dara mengalihkan wajah dengan wajah bersemu, malu membuatnya tersenyum.
Ternyata dari Darren, sang papa mertua.
" Iya om-em paa ".
' Bisa kerumah sekarang?, mama ngajakin kamu sama Xia sarapan bareng '
Marvel menghela nafas lalu melirik Dara sekilas.
" Baik pa, saya akan segera kesana sama Xia ".
Setelah panggilan ditutup Marvel mengusap wajahnya, lalu menatap Dara sendu.
" Sayang ma- ".
" Nggak papa Marvel, aku ngerti kamu kesana aja ".
Marvel kembali menghela nafas ketika melihat senyuman manis Dara yang menyimpan luka.
Melihat tatapan ragu Marvel, Dara mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi Marvel dengan sayang " aku percaya, meskipun raga kamu sama dia, hati kamu tetap di aku kan ".
" Tentu " sahut Marvel cepat sembari mengenggam tangan Dara dan mengecupnya beberapa kali.
-
Setelah sampai dirumahnya dan Xia, ternyata wanita cantik itu sudah siap dengan pakaian modisnya, memang dara dan Xia jauh berbeda.
Dara yang sederhana dan Xia yang tampil dengan segala pakaian mewah dan bermerknya seolah menyatakan jika dirinya wanita berkelas.
" Habis darimana? " tanya Xia santai setelah sampai didepan sang suami.
Marvel menghela nafas dengan wajah muak.
" Saya rasa anda sudah tau jawabanya ".
" Apakah ancaman ku belum cukup Marvel??? "
Marvel yang sudah berbalik dan akan melangkah menghentikan kembali langkahnya, namun tidak berbalik.
" Apakah dihidup anda hanya ada ancaman dan kepuasan untuk diri anda sendiri? ".
Xia tersenyum miring melihat punggung Marvel yang semakin menjauh.
" Ternyata kamu sudah mulai bisa memahamiku sayang ".
Marvel sedikit menyernyit risih ketika mendengar Xia memanggilnya dengan kata sayang namun tak ambil pusing dia segera menuju mobilnya dan disusul Xia setelahnya.
Setelah beberapa menit mereka sampai dirumah megah milik orangtua Xia jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 15 menit.
Baru saja masuk gerbang mereka langsung disambut 2 penjaga, setelah memarkirkan mobilnya keduaya segera masuk.
" Wah pengantin baru kita sudah datang ".
Suara ceria Teresa, sang mama tampak riang dan menyambut anak dan menantunya, sedangkan sang papa dilihatnya baru saja turun dari arah tangga.
" Kak Dean ga ikut sarapan sama kita juga ma " tanya Xia setelah keempatnya duduk dimeja makan.
" Nggak, abang kamu lagi ngurusin rara yang lagi ngidam ".
" Ck emang menyusahkan saja wanita lemah itu ".
" heh " Teresa menghardik ucapan sang anak dengan gemas " kamu ini nanti kalau kamu nanti ngidam dan lebih parah biar diketawain Rara tau rasa ".
" Aku nggak akan nyusahin kalau nanti hamil, karna anak kita pinter, ya kan sayang " serunya sembari menatap Marvel binar.
Marvel yang tak berpikiran sejauh itu menjadi canggung kepada kedua mertuanya dan bingung harus menjawab apa, jika seandainya saja hanya berdua dia mungkin akan mengeluarkan kata kata pedas namun disini ada dua orang penting dihidupnya, meskipun sempat kecewa karna ikut rencana licik Xia namun dia tetap menyayangi kedua orang tua itu.
" Ehem.. Sebaiknya kita segera makan, ada yang mau papa omongin pada kalian semua ".
Marvel menghela nafas lega, mendengar kata kata Darren seolah menyelamatkannya dari suasana yang kurang nyaman baginya, merekapun makan dengan tenang tak ada pembicaraan setelahnya hanya suara sendok yang mengisi.
Beberapa saat kemudian mereka semuanya selesai dan siap mendengarkan sang kepala keluarga.
" Papa udah menyiapkan tiket honeymoon dimaldives untuk kalian berdua selama 1 minggu ".
Marvel tercekat, sementara Xia sudah bersorak gembira memang itu impiannya dia ingin honeymoon dimaldives bersama suaminya kelak.
" Tapi pa, selama itu? Lalu siapa yang menghandle — ".
" Kamu jangan kuatir Marvel, untuk saat ini semuanya stabil dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan jadwal dean dia pasti maklum ".
" Iya, kamu nggak perlu khawatir Marvel, Dean aja dulu sama rara sampai hampir satu bulan, dan pulang pulang bawa cucu, mungkin kalian juga bisa gitu " goda Teresa sembari menatap Marvel.
Marvel menghela nafas berat, seminggu? Bagaimana dia ijin pada Dara, dan pastinya Dara akan marah padanya dan dia tidak bisa itu sehari saja tanpa Dara dia merasa kesepian apalagi sampai seminggu.
Sedangkan Xia diam diam tersenyum miring melihat raut wajah Marvel yang gelisah.
-----
Marvel menatap ponselnya gamang, dia ingin mengabari pacarnya namun dia ragu malah nantinya mereka akan bertengkar namun jika tidak dijelaskan takut nantinya dara salah faham.
Setelah menimbang cukup lama akhirnya Marvel pun menjelaskan dengan pelan agar Dara mengerti.
Setelah berdehem beberapa kali Marvel membalas sapaan Dara ditelepon.
' Kenapa sayang? '
" Aku mau ngomong, tapi dengerin dulu jangan salah faham ya. "
' Kenapa sih? Jangan buat aku khawatir, kamu udah tidur sama mbak Xia mas? '.
Suara disebrang telfon terdengar panik dan menuntut membuat Marvel gelagapan.
" Eh bukan sayang, bukan itu!!. "
' Terus kenapa? '
" Emlmm, lusa mertua aku nyuruh aku ke Maldive sama Xia. " Marvel berkata dengan lirih takut membuat hati pacarnya terluka, dan benar saja tak ada balasan dari sebrang telfon membuat Marvel panik.
" Daraa. "
' Mas mau — '
" Bukan sayang, jauhkan pikiran kotormu itu dari otakmu, tentu saja aku tidak akan menyentuhnya sama sekali. "
Bukanya menjawab, Dara malah terisak kecil disebrang telfon membuat Marvel yang tadinya duduk resah langsung bangkit dengan wajah panik.
" Sayang— . "
' Tapi disana cuma kalian berdua, nggak mungkin kalau nggak ngapa ngapain." Bentaknya disela tangis.
Marvel mengusap wajahnya frustasi, bagaimana meyakinkan dara jika dia tidak berminat menyentuh istri yang dinikahi terpaksanya itu.
" Percaya sama aku Dara — . "
Panggilan terputus.
' Sial '
Marvel mengumpat setelah tiba tiba saja Dara mematikan ponselnya, jika sudah begini mana bisa Marvel meninggalkannya dengan keadaan Dara marah marah, mana bisa tenang dia apalagi nanti jaraknya yang cukup jauh dan tidak mungkin dia akan bolak balik untuk menyambangi kekasihnya itu.
Dengan tergesa Marvel menyambar kuncinya berniat kekontrakan Dara.
" Mau nemuin Dara?. "
Suara Xia dari arah belakang membuatnya menghentikan langkah, namun dirasa tidak terlalu penting Marvel hanya mendengus dan melanjutkan langkahnya kembali.
" Bagaimana jika kita membuat kesepakatan. "
Lagi lagi Marvel menghentikan langkahnya antara muak dengan tingkah Xia namun juga penasaran dengan apa yang wanita itu ucapkan.
Dengan wajah malas Marvel berbalik, dan menatap balik wajah Xia yang tersenyum miring menatapnya.
" Maaf saya tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong anda." Desis Marvel ketika beberapa menit setelahnya Xia tak kunjung membuka suara.
Xia menghela nafas santai " begini Marvel, kamu boleh ajak Dara diacara honeymoon kita. "
Alis Marvel terangkat sedikit tak mengerti dengan apa yang xia ucapkan apakah dara diperbolehkan ikut ke acara liburan itu? Apa wanita ini tidak salah bicara.
" Iya Marvel, kamu boleh ajak Dara bersama kita tapi dengan 1 syarat. "
Dalam hati Marvel sudah bersorak, dia bisa liburan bersama sang kekasih ditempat yang sama diimpikan dara dulu, namun dia juga penasaran dengan apa syarat yang Xia ajukan.
" Apa syaratnya?. "
" Wahh bahagia sekali kamu Marvel begitu mendengar kamu juga bisa membawa kekasihmu bersama kita, sampai sampai kamu begitu tidak sabar mendengar syarat dariku. "
Marvel hanya menghel nafas malas ketika mendengar basa basi Xia yang dirasa tidak penting sama sekali.
" Oke, syaratnya mudah sekali Marvel, kamu disana harus memperlakukan aku layaknya istri yang mencintai suaminya dan ... "
" Apa magsud anda? Saya sudah bilang saya tidak akan menyentuh ... "
" stttt jangan marah dulu Marvel, aku gak minta kita harus berhubungan badan meskipun itu juga tidak salah, kita suami istri yang sah dimata hukum dan negara. "
Marvel sedikit mengulum bibirnya malu karna mengira Xia ingin mereka benar benar melakukan honeymoon layaknya pasangan suami istri yang sebenarnya, jelas saja dia tidak mau.
" Lalu apa?. "
" Dan hormati lah dirimu sebagai menatu keluarga kami, jangan mempermalukan keluargaku, jangan mesra mesra an dengan kekasih itu didepan banyak orang, menjijikan. "
" Hmm baiklah. "
Xia berdehem singkat " Setidaknya kabarkan berita baik ini pada kekasihnya yang sekarang mungkin saja menangis mendengar kamu dan aku akan honeymoon. "
Baru saja akan menghubungi dara mengingat satu hal yang dirasa cukup penting.
" Tapi, apakah Dara bisa libur seminggu lamanya. "
Xia tersenyum miring " Kamu lupa siapa yang kamu ajak bicara Marvel, membuatmu menikahiku saja bisa apalagi hanya membuat dara bisa libur satu minggu. "
Marvel berdecak malas, lalu keluar rumah menuju teras untuk menghubungi sang kekasih mengabarkan hal gembira ini.
------
" Apa Kamu sudah gilaa Xiaaa?!!!!"
Sentak Dean ketika mendengar penjelasan Xia yang ber keinginan membawa dara dalam acara honeymoon mereka dan meminta ijin untuk meliburkan dara selama seminggu.
Masalah meliburkan Dara cukup mudah, mengingat peran dara dikantornya yang tidak terlalu penting dan orang lain bisa menggantikan sementara.
Masalahnya dia membawa Dara.
Mama Teresa membuat acara itu untuk membuat mereka menjadi dekat tapi Xia malah mengancurkannya dengan menghadirkan orang yang amat dicintai laki laki yang kini sudah berstatus suami adiknya. Apa sudah gila adiknya ini?.
Sudah kemaren kemaren dibuat gila dengan permintaan Xia yang ingin menikah dengan Marvel, orang yang sudah dianggap sahabatnya sendiri dan kini malah membuat hal gila lainnya.
Dean memijit pelipisnya pusing.
"Kakak gak ngerti, dia pasti akan setiap detik menghubungi sang kekasih, dan aku tidak bisa menikmati liburanku juga. "
" Tap—."
" Aku tau keputusan apa yang aku ambil kak, aku nggak akan membiarkan mereka bermesraan didepan mataku sendiri. "
" Tapi Xia, mereka orang yang saling jatuh cinta, sejauh apa kamu menjauhkan mereka punya seribu cara untuk mendekat. "
" Aku tau kak, tapi aku punya jutaan ribu cara membuat keduanya menjauh, kakak meragukanku?. "
Dean menghela nafasnya lelah, Dara keras kepalanya sama sepertinya dan jika dia mengatakan bisa dia akan melakukan berbagai cara untuk mewujudkanya.
" Baiklah kalau gitu, jaga diri disana kalau ada apa apa segera hubungi kakak. "
" Ck, gue bukan anak kecil lagi sialan. "
Dean tertawa, adiknya sangat arogan namun tanpa sadar selalu bertingkah menggemaskan didepannya.
" Baik lah baiklah wahai orang dewasa. "
------
Marvel yang tengah menuju kerumah sang kekasih karna kekasihnya tak kunjung mengangkat panggilannya dan sebelumnya Xia yang melihat dia keluarpun dan mengeluarkan ancaman memuakkan kembali.
Setelah sampai dikontrakan Dara, gadis itu hanya membuka pintu dan kembali masuk.
Melihat kekasihnya yang terlihat masih merajuk, dan marah padanya membuat Marvel mengulum bibirnya gemas, wajah sembab Marvel terlihat menggemaskan dimatanya.
Setelah keduanya duduk Marvel segera meraih tangan Dara meskipun wanita itu tak mengalihkan wajahnya dari depan tak mau memandang Marvel.
" Sayang, aku punya kabar gembira. "
Dara segera menatap Marvel tajam dan menyentak tangannya dari genggaman pria itu.
" Kabar gembira kalau kamu bisa berduaan dengan orang secantik nyonya Xia?. "
Marvel hanya bisa mengulum senyum gemas dengan tingkah Dara yang marah dan sirat akan kecemburuan.
" Aku rasa, lebih cantik kekasihku. "
Mendengar godaan itu Dara memalingkan wajahnya dengan wajah bersemu merah.
" Sayang, aku benar benar bawa kabar gembira buat kita, terutama kamu." Kembali Marvel meraih tangan Dara dengan lembut, dan kali ini wajah Dara terlihat tenang dan lunak dia akan mendengarkan apa yang akan dibicarakan Marvel.
" Kamu bisa ikut aku sama Xia liburan diMaldave sayang. "
Mata dara membulat dengan wajah syok." Kamu nggak bercanda kan mas? ".
Marvel mengacak rambut Dara gemas dan menggeleng sembari tersenyum manis.
" Tapi gimana bisa?. "
Marvel sedikit gugup dan berdehem singkat membuat Dara menangkap hal yang tidak beres tidak mungkin Xia, sosok arogan dan keras itu dengan mudah mengajak pacar suaminya untuk ikut liburan bersama, apakah wanita itu menyiapkan rencana licik?.
" Mas? Kamu disuruh berhubungan badan sama— . "
" Bukan sayang. "
" Lalu apa mas, pasti ada yang kamu sembunyiin kan?. "
Marvel menghela nafas sejenak " Dia ngajuin 1 syarat, dengan memperlakukan dia layaknya istri ditempat umum dan kita tidak boleh mengumbar kemesraan. "
Dara mengangkat alisnya berfikir, itu syarat yang sangat mudah, dia dan Marvel memang jarang bermesraan didapan orang banyak secara terang terangan dan dia rasa bukan masalah besar untuknya.
" Baiklah, maafin aku ya mas akhir akhir ini aku sering berfikir negatif ke kamu. "
Pria itu membalas dengan tersenyum lembut " Nggak papa sayang itu wajar, cuma yang perlu kamu tau, cuma kamu orang yang aku cintai. "
" Aku percaya mas. "