Kembali membaca proposal, dan setelah itu ditutup kembali lantaran waktu sudah habis. Hayden segera menandatangani proposal itu dan memberikannya pada sekretaris.
Matanya yang lelah mulai melirik pada jam yang berada di pergelangan tangan, ternyata sudah waktunya jam pulang. Hayden segera bangkit dan tak lupa untuk memasukkan beberapa benda pada tas kerjanya untuk dibawa pulang ke apartemen mewah miliknya, berguling-guling di kasur empuk mungkin sangat menyenangkan.
Sampai di pertengahan perjalanan, Hayden terjebak macet yang diinformasikan cukup panjang. Pria itu berpikir keras untuk bisa cepat pulang, dan pilihannya terjatuh pada jalan lain yang bisa dikatakan jarang dilewati oleh orang.
Jalan itu memang sedikit jauh, namun akan memakan waktu lebih lama jika dirinya hanya mengikuti kemacetan saja. Jalanan yang cukup sepi berhasil membuat Hayden sedikit lebih tenang tanpa takut ada orang lain yang menghadang dan merampas harta bendanya. Toh jalanan ini aman, hanya tidak banyak orang yang tahu saja.
"Siapa dia?" tanya Hayden pada dirinya sendiri ketika melihat seorang gadis yang tampak menangis sesegukan dibawah pohon yang rindang. Tubuh gadis itu bahkan dipenuhi warna kebiruan khas seperti orang yang telah dipukul bertubi-tubi.
Mobil Hayden berhenti tepat di hadapan seorang gadis tadi, pria itu segera turun dari mobilnya dan mulai menawarkan bantuan.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Hayden sebaik mungkin, gadis itu mulai mendongakkan wajahnya yang berhasil membuat Hayden semakin terkejut. Hidung mancung nan mungilnya mengeluarkan darah, jangan lupakan sisi bibirnya yang mengeluarkan darah juga.
"Astaga ... kau terluka. Mari saya antar untuk ke rumah sakit, luka-luka ini harus segera diobati," ucap Hayden yang kini mulai membawa gadis yang tidak diketahui namanya masuk ke dalam mobil dan melesat pergi menuju rumah sakit.
Selama di perjalanan pun tidak ada yang bersuara kecuali isak tangis gadis di samping Hayden. Pria itu ingin membuka suara, namun melihat gadis itu kesulitan berbicara pun niatnya kembali diurungkan. Mungkin meminta penjelasan bisa lain kali jika gadis disampingnya telah merasa lebih baik.
Sampai di rumah sakit, para pihak medis segera mengobati luka gadis yang dibawa oleh Hayden. Gadis itu pun harus dirawat terlebih dahulu selama beberapa hari agar dokter bisa mengontrolnya secara jelas.
Hayden telah menandatangani surat persetujuan perawatan Kanaya. Ya, Hayden tidak tahu namanya, maka dari itu ia memberi namanya asal saja. Lagi pula, ketika ditanyakan tentang nama ataupun tempat tinggal, gadis itu hanya diam dengan kedua mata yang mengeluarkan cairan bening. Hal itu membuat Hayden tak tega dan memberikannya nama secara asal saja.
"Sekarang, nama kau Kanaya. Itu nama dari saya, jika kau sudah bisa menyebutkan atau mengingat nama aslimu, pakai nama asli saja," ujar Hayden pada gadis yang kini tengah menatapnya.
Dokter pun berkata jika Kanaya mengalami depresi tingkat sedang dan belum terlalu parah. Gadis itu sangat trauma sampai psikisnya terganggu. Dan dokter juga menyarankan agar ia sering dibawa ke psikiater agar menjadi gadis yang normal kembali.
"Oh ya, kedua orang tua kau di mana? Biar saya yang menghubungi mereka untuk menjemput kau di sini." Kanaya menggeleng lemah, wajahnya kembali pucat ketika mengingat sesuatu yang sangat menakutkan itu.
"Orang tua mati, pria pembunuh penggal mereka di depan mata aku. Aku takut ..." Keringat dingin mulai mengalir di dahi Kanaya, tubuh mungilnya mulai bergetar takut membuat Hayden tidak tega melihatnya.
Pria itu segera memeluk gadis di depannya dan menenangkan sebisa mungkin. Mungkin lain kali dirinya tidak akan membahas perihal orang tua di hadapan Kanaya, traumanya sangat parah. Jika terus dipancing, maka depresi yang dialami oleh Kanaya akan sulit disembuhkan.
"Istirahatlah, saya tidak akan pergi," ucap Hayden membuat Kanaya mengangguk pelan, gadis itu mulai mencoba tidur sebisa mungkin dan meyakinkan hatinya jika semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali normal ketika dirinya kembali terjaga nanti.
Hayden tersenyum tipis melihat Kanaya yang mulai kembali terpejam, gadis itu tampak lebih tenang dengan mata yang tertutup rapat.
Hayden yang sedari tadi duduk di samping Kanaya kini mulai bangkit, menarik selimut untuk menutupi gadis itu sampai sebatas dada dan tak lupa untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantik Kanaya.
"Saya keluar sebentar," pamit Hayden yang tidak dibalas sedikit pun oleh Kanaya, gadis itu hanya diam dengan pikiran yang sudah berkelana di alam mimpi.
***
Kini Hayden tengah duduk berdua bersama Brian—teman dekatnya, di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Kanaya dirawat.
Hayden juga telah menceritakan kejadian tadi pada Brian yang ditanggapi dengan benar oleh temannya itu.
"Menurutku, mungkin lebih baik jika Kanaya dimasukkan saja ke dalam Rumah Sakit Jiwa. Ya ... kau tahu sendiri jika keadaannya memang seperti itu dan harus ditempatkan pada tempat yang seharusnya. Mungkin di sana dia bisa menjadi gadis yang kembali normal," ujar Brian membuat Hayden diam dan memikirkan kata-katanya dengan baik.
"Tapi ... Dokter berkata jika Kanaya hanya mengalami depresi ringan. Juga ada trauma yang sangat mendalam membuatnya harus lebih banyak ketenangan agar perlahan-lahan bisa melupakan apa yang membuatnya trauma. Lagi pula, dia tidak terlalu gila. Mungkin aku yang mengurusnya saja." Brian menatap Hayden heran. Meskipun Brian tahu jika Hayden tinggal seorang diri di apartemen, tapi bukan berati jika pria itu mencari teman yang tidak waras bukan?
"Yang benar saja! Kau seorang pria yang sempurna, masih banyak gadis atau perempuan cantik di luar sana yang bisa kau ajak tinggal bersama di apartemenmu itu. Dia hanya gadis gila—"
"Aku yang bertindak! Terimakasih atas masukannya," ujar Hayden, pria itu mulai beranjak pergi meninggalkan Brian yang menatapnya bingung.
"Awas saja jika ikut gila!" kesal Brian yang kini tengah duduk seorang diri dengan hati yang menggerutu kesal.
Hayden sendiri kini sedang membersihkan diri di apartemennya dan tak lupa untuk mengisi perut yang terasa kosong. Ia memang tinggal sendiri, namun setiap harinya selalu ada orang yang mengurus apartemen ataupun makanan. Orang-orang itu hanya beberapa jam datang dalam sehari dan kembali pulang tanpa tinggal bersama dengan Hayden sendiri. Pria itu memang tidak terlalu suka jika ada keramaian di tempatnya.
Selesai melakukan itu semua, Hayden mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah sakit. Tak lupa juga untuk membawa buah tangan yang semoga saja bisa membuat hati Kanaya lebih senang dari sebelumnya. Pria itu hanya membeli beberapa buah-buahan dan makanan lainnya saja.
Sampai di rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan Kanaya, hal yang pertama kali Hayden lihat adalah seorang gadis yang tengah disuapi makanan oleh suster.
"Permisi," dua perempuan yang sedang berhadapan itu sama-sama menoleh ke arah pintu yang di mana terdapat Hayden dengan salah satu tangan yang membawa sesuatu.
Bisa pria itu lihat jika Kanaya sedang tersenyum ke arahnya.
"Oh Tuan, maaf saya telah lancang memberi makan pada Kanaya. Beliau mengeluh ingin makan tadi," ujar suster itu yang hanya dibalas senyuman oleh Hayden sebelum berkata, "tidak masalah, terimakasih telah membantu Kanaya. Biar saya saja yang melanjutkan," pinta Hayden yang segera diberi anggukan oleh suster itu.
Kini Kanaya kembali ditemani oleh Hayden, pria itu juga membantunya untuk makan dengan benar.
Ketika sedang asik membantu Kanaya makan, tiba-tiba saja pikiran tentang ucapan Brian agar memasukkan Kanaya ke rumah sakit jiwa mulai terlintas di pikiran Hayden. Pria itu menggeleng pelan dan terdiam.
Kanaya yang merasa heran pun mulai bertanya. "Kakak kenapa?" tanya Kanaya yang berhasil memecah fokus Hayden.
"Tadi saya telah bertemu dengan teman saya untuk menceritakan kejadian hari ini dan menceritakan tentang kau. Dia memberi masukan untuk memasukkan kau ke dalam Rumah Sakit khusus untuk orang yang memiliki gangguan lain. Dia berkata seperti itu mungkin bertujuan untuk membuat kau agar lebih bisa menjadi gadis yang normal kembali. Dan pertanyaan saya, apakah kau mau dirawat di sana?" tanya Hayden yang berhasil membuat Kanaya beku.
Pikiran gadis itu kembali berputar, sebisa mungkin menormalkan detak jantungnya yang semakin menggila untuk bisa menjawab pertanyaan Hayden dengan tenang dan benar.
"Tidak. Tinggalkan saja saya sendiri daripada harus dimasukkan ke dalam tempat itu. Biarkan saja saya terlunta-lunta di jalanan, saya tidak mau!" Hayden diam, sepertinya tindakan yang salah menawarkan perihal tadi. Kanaya terlihat sangat membencinya.
"Ya, saya tahu itu. Tidak salah juga saya menolak usulannya. Karena saya tahu, kau tidak gila dan kau hanya sedikit berbeda dari yang lainnya. Kau gadis kuat yang saya yakini akan kembali bisa seperti dulu. Jangan takut, orang tuamu memang tidak ada, namun saya selalu ada untukmu." Tidak tega. Dua kata itu yang bisa mewakili perasaan Hayden saat ini.
Gadis di depannya ini sudah tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya.
***
Dua hari setelah Kanaya dirawat, kini gadis itu mulai tinggal bersama dengan Hayden pada apartemen mewah pria itu. Hayden pun telah mengatur jadwal sebaik mungkin untuk perawatan Kanaya. Semua rencana sudah tersusun dengan rapi dan hanya mengerjakannya saja.
"Kau suka?" tanya Hayden pada Kanaya yang kini tengah melihat kondisi ruangan yang akan digunakan sebagai kamar. Warna dari ruangan itu lebih dominan warna putih daripada warna salem. Semua terlihat rapi serta nyaman.
"Sangat suka," jawab Kanaya yang kini tengah menikmati empuknya kasur yang akan digunakan untuk tempat istirahatnya.
Di ruangan itu pun Hayden tidak menaruh benda tajam atau benda-benda yang bisa melukai Kanaya, semua telah disulap sedemikian rupa agar Kanaya nyaman dan aman. Dan tentunya dengan bantuan Brian, pria itu memang sangat ahli mendesain dan menata letak benda-benda yang ada di dalam ruangan.
"Istirahatlah, aku ada urusan sebentar. Jangan lupa berdoa," titah Hayden yang segera diangguki oleh Kanaya. Gadis itu sedikit demi sedikit membiasakan diri untuk melibatkan Tuhan di manapun keberadaannya. Semua itu atas dorongan dari Hayden agar lebih dekat dengan kebaikan.
"Kau juga jangan lupa istirahat. Hari ini aku sangat banyak merepotkanmu," ujar Kanaya yang hanya dibalas senyum tipis oleh Hayden. Pria itu mulai beranjak pergi meninggalkan Kanaya yang sedang mencari posisi nyaman untuk beristirahat.
Sepeninggalan Hayden, Kanaya hanya berdiam diri dan menegaskan pada hatinya jika mulai saat ini dirinya harus membuka lembaran baru. Urusan orang tuanya biarkan saja seperti itu sampai ia memiliki tenaga serta keberanian yang tinggi sebelum mengulik siapa dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Anak mana yang tega membiarkan dua orang yang sangat berjasa di dalam kehidupan dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Padahal, Kanaya sendiri tahu jika kedua orang tuanya tidak pernah mencari masalah bahkan bisa dikatakan hidupnya damai.
Ia tidak memiliki saudara seperti orang lain. Kedua orang tuanya adalah sama-sama anak panti yang tidak tahu asal-usul diri, dan jika kedua orang itu tiada, maka ia pun menjadi sebatang kara. Betul betul sendiri.
Namun beruntungnya, Tuhan tidak sejahat itu membuat Kanaya hidup seorang diri tanpa ada teman satupun. Hayden datang menolongnya dengan hati yang sangat tulus. Pria itu tak segan-segan memberinya apapun dengan syarat harus menuruti perintahnya. Dan perintah Hayden sendiri hanya sebatas mengurus diri dengan benar, makan yang teratur, dan mengikuti segala pengobatan agar mentalnya kembali sempurna.
Merasa tidak bisa membalas Hayden menggunakan materi, Kanaya hanya bisa mengikuti ucapan pria itu saja. Toh Hayden telah sangat baik padanya.
***
Setelah memastikan asisten rumah tangga membuatkan makanan dengan baik dan benar, Hayden kembali memasuki kamar Kanaya untuk mengajaknya makan bersama.
Hayden sedikit terkejut ketika melihat Kanaya yang sudah duduk namun dengan mata terpejam. Gadis itu diam bagaikan patung membuat Hayden tak sabar untuk mendekat dan menanyakan langsung kondisinya.
"Sudah puas istirahat? Asistenku telah memasak makanan yang kau sukai. Cepat turun dan kita makan bersama," ujar Hayden. Dengan spontan Kanaya membuka mata dan mengusap perutnya yang berbunyi tanda lapar.
Daging sapi. Harum dari bumbunya saja sangat beda, hal itu membuat kanaya terbangun dan beralih duduk untuk mencium aroma sedapnya dengan puas tanpa membuka mata yang terasa sangat lengket.
Meskipun di rumah sakit Kanaya sangat sering berisitirahat, hal itu tentu tidak akan melunturkan niatnya untuk tertidur pulas di kamar pribadi yang memang terasa lebih nyaman dan bebas.
Kanaya mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Tidak terlalu banyak asal perutnya bisa terisi dengan baik. Gadis itu melahapnya dengan semangat. Hal itu tentu tidak lepas dari pandangan Hayden, melihat Kanaya yang lahap memang sangat menyenangkan. Saking senangnya Hayden sampai melupakan makanan lezat yang sedari tadi menunggunya untuk disantap.
"Kau tidak suka daging? Dia hampir menangis saking lamanya menunggu kau yang diam sedari tadi," ujar Kanaya sambil menunjuk sepotong daging sapi pada piring Hayden. Pria itu terkekeh pelan, mengangguk singkat sebelum menyantap daging sapi yang katanya akan menangis.
Selesai makan, Kanaya tak sengaja melihat koleksi minuman Hayden yang sangat banyak dengan berbagai rasa. Gadis itu sudah bersiap untuk mencicipinya dari salah satu koleksi itu sebelum Hayden datang dan merampasnya secara paksa.
"Biarkan aku meminumnya!" pinta Kanaya sambil berusaha merebut kembali botol minuman yang kini tengah dirampas oleh Hayden.
"Tidak boleh, dan tidak akan pernah aku mengizinkan kau untuk meminum ini. Apa kau tidak melihat jika kandungan alkohol ini sangat tinggi? Kau akan bermasalah jika masih berani meminumnya!" jelas Hayden membuat raut senang di wajah Kanaya mulai memudar. Gadis itu menyerah dan duduk dengan lemas pada mini bar yang tersedia.
Hayden yang tidak tega melihat Kanaya sedih pun mencari hal lain, pria itu kembali menyimpan minuman yang hampir dikonsumsi oleh Kanaya pada tempat yang lebih aman lagi. Mungkin sebagai gantinya Hayden akan membuatkan minuman yang lebih aman lagi.
Teh manis.
Kanaya tampak tidak sabar menghabiskan teh manis dari Hayden yang katanya sebagai ganti minuman tadi. Gadis itu masih terlihat marah. Kentara terlihat dari raut wajahnya yang sedang menahan kesal.
"Harusnya kau berterimakasih karena aku telah menggantinya dengan minuman yang lebih nikmat dan aman," ujar Hayden yang kini tengah duduk di hadapan Kanaya yang sedang menopang dagu. Gadis itu menatap Hayden kesal namun tak ayal meminum teh manisnya sampai kandas.
"Mungkin minuman itu lebih nikmat daripada teh manis buatanmu ini," ujar Kanaya setelah melirik Hayden dengan tatapan sinisnya. Pria itu sendiri hanya merespon dengan senyum tipis, Kanaya semakin lama semakin keras kepala. Permintaan yang Hayden tolak akan dibalas dengan sikap ketus dan menyebalkannya, namun Kanaya sendiri tidak berani marah sampai meledak-ledak karena masih tahu batas etika.
"Setidaknya kau tetap aman dan tidak mabuk sekarang." Kanaya diam, ucapan Hayden memang benar. Tetapi, hatinya masih belum bisa menerima dengan senang tentang minuman tadi yang diganti dengan segelas teh manis saja.
"Lain kali aku akan membuatkan minuman yang lebih nikmat lagi," ujar Hayden yang belum bisa membujuk Kanaya. Gadis keras kepala memang sangat sulit untuk dibujuk.
Hayden menarik nafas pasrah, pria itu melenggang pergi meninggalkan Kanaya yang semakin kesal. Gadis itu melirik punggung Hayden yang kini tengah tenggelam di area dapur, entah sedang melakukan apa di dalam sana.
Kanaya pun sama, melenggang pergi menuju kamarnya kembali. Sungguh, Hayden sangat menyebalkan! Pria tampan itu benar-benar menyebalkan dan Kanaya sangat membencinya.
Ketika sedang asik mengumpat, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka membuat aktivitas mengumpat Kanaya berhenti begitu saja. Mencoba melihat dari pantulan cermin dan menemukan Hayden di sana. Hendak apa pria itu masuk ke dalam kamarnya?
"Jangan terlalu banyak," ujar Hayden dengan salah satu tangan yang memberikan botol minuman, minuman yang diinginkan oleh Kanaya.
Mata gadis itu berbinar, Kanaya sangat senang sekarang. Dengan cepat Kanaya mengambil botol minuman yang masih ada di tangan Hayden, mulai membuka penutupnya dan menenggak minuman itu sepuasnya.
"Huh ... nikmat sekali! Terima kasih pria tampanku!" ucap Kanaya membuat Hayden segera merampas botolnya kembali karena takut Kanaya akan mabuk parah.
"Hey, itu milikku! Kalau kau mau, beli saja sendiri! Tidak mampu? HaHaHa, dasar miskin!" lihatlah, gadis itu sudah tidak jelas sekarang. Mencoba mengambil kembali botol minuman yang ada pada Hayden sebisa mungkin namun selalu gagal. Tinggi badannya tidak mencukupi untuk bisa meraih botol minum itu.
"Kau," ucapan Kanaya terjeda dengan kedua tangan yang memegang sisi bahu Hayden. Cup, "GILA!" Hayden terperangah. Siapa yang gila di sini? Bahkan setelah mencium bibirnya Kanaya melenggang pergi tanpa dosa.
"Bibirku sudah tidak suci lagi ya Tuhan!!" pekik Hayden dengan suara tertahan.
Daripada mencari perkara lain, Hayden segera membawa Kanaya untuk terbaring di kasur. Tentu dengan dirinya karena telapak tangan mungil Kanaya tidak mau melepas cengkeramannya pada ujung baju yang digunakan oleh Hayden.
"Kau sebaiknya istirahat. Mengatakan orang lain gila sedangkan dirinya juga tidak memiliki sisi kewarasan sekarang," ujar Hayden yang tidak dipedulikan oleh Kanaya.
"Huh, harus sampai kapan aku istirahat? Baru saja terjaga, dan sekarang kau menyuruhku untuk kembali istirahat? Yang benar saja!" Hayden memijat pelipisnya yang seakan berdenyut, kerasukan apa gadis ini.
"Terus kau mau apa? Kepalaku sakit mendengar segala ocehanmu." Kanaya diam dan memikirkan sesuatu sampai ide terbaik melintas di kepalanya. "Bagaimana kalau kau pijat aku saja sampai tertidur? Dengan begitu aku tidak akan banyak berbicara sedangkan kau pun tidak akan merasa risih dengan ocehanku," ujar Kanaya yang berhasil membuat Hayden terkejut kesekian kalinya.
Hey, dirinya CEO perusahaan besar! Semua orang tunduk patuh padanya. Dan sekarang, gadis mungil itu menyuruhnya untuk memijat kaki? Oh God ...
***
Keesokan harinya, Hayden masih belum terbangun dengan tubuh yang masih tertutup selimut tebal. Hari libur memang menjadi hari yang sangat menyenangkan baginya, karena satu hari itu ia bisa bermalas-malasan dengan puas.
Sedangkan Kanaya yang lebih dulu terbangun atau bisa dikatakan sudah terbangun sejak satu jam yang lalu tengah bingung sekarang. Setelah mandi tadi Kanaya mulai bingung hendak melakukan apa, gadis itu hanya diam di kamar karena takutnya jika keluar akan mengacau.
"Huh, apakah dia sedang mencoba menjadi kerbau?" tanya Kanaya pada dirinya sendiri ketika belum mendengar sesuatu yang disebabkan oleh Hayden. Yang pastinya pria itu masih tertidur pulas sekarang.
Tiba-tiba saja Kanaya menyengir kuda ketika mengingat malam tadi Hayden terus menemani dirinya yang tidak bisa tertidur, sedangkan pria itu sampai meminum kopi 2 kali agar bisa menahan kantuk dan menemani Kanaya dengan tenang.
Betapa baiknya pria itu meskipun ia sendiri merasa dirinya menyebalkan.
"Kau harus sabar, jika aku yang memasak maka dapur itu akan meledak!" ujar Kanaya sambil menusuk-nusuk perutnya menggunakan jari telunjuk mungilnya ketika berbunyi tanda lapar.
Ketukan di pintu kamarnya mulai memecah keheningan kamar Kanaya, asisten rumah tangga Hayden itu menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu. Tanpa menunggu waktu lama lagi Kanaya segera keluar dari sangkarnya guna menikmati sarapan agar perutnya kembali terisi dengan penuh.
"Hayden belum terbangun?" tanya Kanaya pada asisten yang kini tengah membuatkan susu putih untuknya. "Sepertinya belum. Dia memang seperti ini jika hari libur. Bahkan sampai lupa sarapan dan makan siang," jawab asisten itu membuat Kanaya mengangguk paham.
Tapi ... bukankah perut akan sakit jika tidak diberi asupan? Oh tidak bisa seperti itu! Secepat mungkin Kanaya menghabiskan sarapan serta susunya, barulah setelah itu mengambil sarapan serta air minum dan membawanya menuju kamar Hayden.
Keadaan tempat itu masih gelap dengan seseorang yang masih sibuk terpejam dibalik selimut tebal dan di atas kasur yang empuk.
"Hey, kau harus sarapan. Setelah itu terserah hendak melanjutkan tidur atau apa," ujar Kanaya membuat Hayden mau tak mau bangkit dan membasuh wajahnya sebentar. Memang perutnya lapar, tapi rasa malas itu lebih dulu menyerang membuat Hayden memilih tidur saja.
"Kau sudah sarapan?" tanya Hayden, anggukan dari Kanaya membuatnya tenang dan bisa menikmati sarapan itu dengan hati yang senang. Jika saja Kanaya belum memasukkan sesuatu ke dalam perut, mungkin kini Hayden memilih untuk memastikan Kanaya sarapan terlebih dahulu saja. Gadis itu akan marah secara tidak sadar jika perutnya mulai lapar.
Selesai sarapan, kantuk yang sedari tadi menjadi setan terdekat Hayden mulai hilang. Pria itu kini tengah membersihkan diri dan menyusul Kanaya yang sedang menikmati acara televisi pagi hari. Keduanya menonton televisi itu dengan camilan yang masing-masing memegang. Jika seperti ini keadaan akan tetap sepi dan aman.
Kanaya mulai merasa bosan setelah satu jam setengah matanya menatap televisi tanpa jeda. Gadis itu beranjak pergi membuka lemari dingin dan menemukan makanan lain di sana. Tanpa memperdulikan makanan itu milik siapa, Kanaya segera memakannya tanpa ragu. Toh ia suka.
"Padahal aku membelinya untuk diriku sendiri," ujar Hayden pada Kanaya yang terlihat sangat asik memakan makanan kesukaannya.
"Tatap wajahku. Apa terlihat raut peduli? Tidak, bukan?" wajah sombong itu melengos begitu saja membuat Hayden hanya bisa bersabar agar tidak memancing amarah Kanaya. Toh ia bisa membelinya lain kali, biarkan saja Kanaya memakannya.
Jujur saja, ini kali pertama Hayden merasa tempat tinggalnya tidak sepi seperti dulu. Ocehan Kanaya terkadang membuat Hayden merasa nyaman di apartemennya.
"Oh ya, jika nanti aku sudah sembuh dan hidup seperti biasa, kau akan menangis tidak kalau aku pergi?" tanya Kanaya setelah mengunyah dan menelan makanannya. Hayden hanya mengendikkan bahu acuh, toh baginya Kanaya memang seorang gadis yang terlunta-lunta dan Tuhan mengirimnya untuk memberi bantuan. Cukup sebatas itu.
"Tentu tidak, karena kau bukan siapa-siapa bagiku. Aku hanya menolongmu sampai sembuh nanti," jawab Hayden membuat Kanaya mengangguk paham. Dirinya tidak sabar untuk sembuh sepenuhnya dan bisa menjadi seorang gadis pada umumnya, hidup tanpa didampingi obat dan psikiater.
"Tapi ... kalau aku tidak bisa sembuh bagaimana? Apakah kau akan marah karena aku terus merepotkanmu?" Hayden menarik nafas pelan, mencoba mengalihkan tatapannya dari layar televisi dan beralih pada seorang perempuan yang tidak bisa berhenti bertanya itu.
"Kau pasti sembuh. Marah mungkin tidak, tapi ada masanya aku lelah dan tidak bisa mengurusmu. Dan pastinya bukan aku yang marah, melainkan kau yang mengamuk jika perutmu lapar." Kanaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ucapan Hayden memang ada benarnya juga. Lagi pula, manusia mana yang tidak kesal jika perutnya lapar namun di dapur tidak ada makanan? Hayden harusnya tahu itu! Hanya saja, kadang Kanaya sendiri tidak bisa mengontrol emosi.
"Kau harusnya tahu aku gadis seperti apa. Hehe," cengir Kanaya membuat Hayden menggeleng pelan dibuatnya. Entah apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Kanaya, gadis itu kini tengah membuka gorden jendela besar yang menampakkan keadaan kota di pagi hari dari atas. Terlihat sangat menakjubkan.
Kanaya sudah bersiap hendak membuka jendelanya, namun Hayden lebih dulu tiba dan mencekal kedua pergelangan tangannya. "Jangan macam-macam," peringat Hayden membuat Kanaya mau tidak mau mengurungkan niat itu. Gadis itu memilih untuk menikmati matahari pagi di balkon kamarnya saja. Toh tempat itu lebih aman dengan pembatas yang kokoh juga cukup tinggi. Lagi pula, Kanaya bisa menjamin jika dirinya tidak akan terjun ke bawah.
"Huh, padahal aku hanya ingin melihat matahari saja, tapi dia sangat pelit! Lihatlah, di sini aku bisa menikmati kehangatanmu," ujar Kanaya sambil menunjuk matahari dengan mata tertutup karena tidak kuat dengan sinarnya.
Hayden yang sedari tadi mengikuti Kanaya pun tersenyum tipis melihat gadis yang berbicara tidak jelas dengan telunjuk mungil yang menunjuk-nunjuk matahari.
Hayden segera menarik salah satu kursi yang ada di kamar Kanaya untuk terus bisa mengawasi gadis itu dengan nyaman. Gadis itu tampak sedang bernyanyi, dilanjut menari, dan diakhiri dengan berpidato asal. Senyum tipis Hayden sedari tadi tidak surut sedikit pun, tingkah Kanaya benar-benar menghiburnya.
Gadis itu mulai mengedarkan pandangan ke arah lain dan menemukan Hayden sedang menatapnya dari dalam kamar dengan duduk santai. Mendadak Kanaya kikuk dan duduk tenang pada kursi yang tersedia. Gadis itu merutuki dirinya sendiri lantaran telah bertingkah sesuka hati tanpa menyadari jika ada Hayden sedari tadi. Astaga, bagaimana jika pria itu akan menertawainya? Ish, benar-benar memalukan!
Hayden yang menyadari sesuatu pun mulai beranjak pergi mendekati Kanaya, duduk di hadapan seorang gadis yang sedang memalingkan wajah darinya.
"Tidak perlu malu, hal itu sangat menghibur." Kanaya yang sudah tidak kuat menahan malu pun menutup wajahnya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangan mungilnya. Kekehan kecil lolos dari bibir Hayden namun tidak dihiraukan oleh Kanaya. Kekehan itu justru bagaikan ledekan baginya.
"Bisakah kau pergi? Aku benar-benar malu sekarang!" pinta Kanaya. Bukannya menuruti permintaan gadis itu, Hayden justru dengan sengaja menopang dagu dan semakin memerhatikan wajah Kanaya, sang empu yang diperlakukan seperti itu semakin kesulitan bernafas saja.
"HAYDEN MALLORY LUCANO!" tawa Hayden pecah ketika Kanaya sudah menyebutkan nama panjangnya. Itu artinya Kanaya sedang berada di puncak malu paling tinggi. Tidak mau merusak mood Kanaya, Hayden memilih untuk pergi dan meninggalkan Kanaya yang kini memasuki kamar dan bersembunyi di balik selimut tebalnya guna menghilangkan kejadian memalukan tadi dari kepalanya.
"Aish, kenapa aku benar-benar memalukan?! Apakah sedari tadi Hayden telah memerhatikanku menari? Bernyanyi? Berpidato bak orang bodoh? Oh God ... kirim aku ke lautan dan tenggelamkan saat ini juga!" Kanaya terus bergerak tidak jelas sampai rambut yang sedari tadi tergerai indah telah berantakan bak singa betina sedang kelaparan.
Hayden sendiri masih tenang dengan mata yang memerhatikan video sembunyi-sembunyi yang diambil sewaktu Kanaya menari. Tawanya pecah ketika rekaman itu menunjukan kaki Kanaya yang tidak sengaja membentur meja kecil di sampingnya. Ada-ada saja tingkahnya.
***