Bab 2

"Nikahi saya selama satu bulan, tetapi bayar saya sepuluh kali lipat. Anggap saja Anda membeli keperawanan saya dengan harga yang pantas. Selama pernikahan itu Anda bisa menikmati tubuh saya sepuasnya. Setelah satu bulan, saya akan melupakan semuanya, lalu pergi dari kehidupan Anda untuk selamanya," ujar Sheila dengan dada bergemuruh.

Seumur hidup ini adalah pertama kalinya ia melakukan tawar menawar dengan keperawanannya sebagai taruhan. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun juga Sheila tidak ingin di penjara atas kesalahan yang ia perbuat. Sebagai wanita yang cerdas ia memiliki impian besar di dalam hidupnya. Status sebagai mantan kriminal jelas akan menodai reputasinya di masa depan.

"Menikahimu lalu membayar sepuluh kali lipat dari uang yang kamu curi dariku? Huh ... jangan konyol. Jelas-jelas kamu yang telah merugikanku, Sheila. Kamu menggunakan uang perusahaanku tanpa izin. Lalu sekarang kamu ingin mengaturku hanya karena aku memintamu tidur denganku? Jangan buat aku tertawa. Di sini aku yang memegang kendali, bukan kamu!" jawab Revian dengan wajah tegang.

Rahangnya bergerak-gerak menahan emosi, jelas ia tidak senang mendengar permintaan Sheila yang merendahkannya. Uang senilai lima ratus juta apalah artinya bagi Revian. Namun, ia merasa wanita itu menjengkalinya, seolah-olah dirinya seorang pria pecandu perawan.

"Saya tahu, Bapak adalah orang yang memegang kendali penuh atas diri saya saat ini. Namun, tolong pahami dari sudut pandang saya, Pak. Saya mengaku salah dan memohon belas kasih Bapak untuk menyelamatkan hidup saya. Tetapi Bapak meminta saya memilih antara penjara dan keperawanan saya. Jika saya menyerahkan keperawanan saya sebagai imbalan atas kesalahan itu, rasanya sangat tidak adil, Pak. Saya sungguh tidak rela jika keperawanan saya hanya dihargai senilai lima puluh juta," jawab Sheila dengan sepasang mata yang telah berlinang.

"Sebagai pertahanan diri saya yang terakhir, maka saya beranikan diri mengajukan permintaan itu. Jika satu malam bisa Anda hargai senilai lima puluh juta, apa yang membuat Anda merasa rugi jika saya meminta lima ratus juta untuk tiga puluh malam?" lanjut Sheila sambil menghapus air mata yang merembes di sudut matanya.

Sheila benci dirinya yang lemah, yang meneteskan air mata tak berdaya di depan lelaki. Namun, ia sungguh terpojok saat itu. Apa yang bisa ia lakukan selain mengemis agar dibebaskan dari tuntutan hukum.

Revian mendengus kesal.

"Aku tidak perlu menikah jika hanya untuk meniduri perempuan. Banyak perempuan di luar sana yang rela aku tiduri dengan cuma-cuma, mengapa aku harus repot? Lagi pula apa istimewanya milikmu itu sampai aku harus menikahimu?" ucap Revian dengan nada mencemooh.

Bagi Revian yang terkenal playboy, wanita memang tidak berharga sama sekali. Baginya para wanita itu tidak lebih dari sekedar makhluk matre yang hanya menginginkan hartanya. Itu sebabnya, ia bersikap dingin mendengar permintaan Sheila yang di telinganya terdengar sebagai azaz manfaat semata.

Sheila mengaktifkan mode blind pada dinding kaca ruangan direktur itu, lalu melangkah anggun menuju meja kerja Revian. Dalam situasi itu, mereka benar-benar seolah berada dalam ruangan pribadi yang memancarkan aura intim. Tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam ruangan kaca tersebut.

"Bapak boleh lihat sendiri keistimewaan milik saya ini. Saya tidak akan menawarkan opsi itu jika tidak ada untungnya bagi Anda," ucap Sheila dengan kepercayaan diri yang kembali ia bangun dengan menguatkan hati.

Sheila duduk di atas meja, tepat di depan Revian yang masih duduk bersandar di kursi kebesarannya. Kedua tangan lelaki itu terlipat di depan dada, dengan satu tangan menahan dagu, sementara sorot matanya menatap datar ke arah Sheila.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Sheila menaikkan roknya, lalu menurunkan celana dalamnya yang berwarna putih. Ia tahu, tingkahnya saat ini mungkin terlihat seperti perempuan jalang di mata Revian. Akan tetapi, Sheila memilih untuk mengabaikan semua pikiran negatif itu. Ia fokus pada upaya meluluhkan Revian agar mau menghapus kesalahannya dan membebaskannya dari tuntutan hukum.

Masih dengan menahan rasa malu di dalam hati, Sheila membuka kakinya lebar-lebar di hadapan Revian, sehingga memampang area kewanitaannya yang tak lagi ditutupi apa pun itu.

Revian terpaku, tangan yang tadi berada di dagunya tanpa ia sadari terlepas begitu saja. Dengan antusias ia mendorong kursinya kembali ke depan, untuk melihat area pribadi Sheila lebih dekat. Namun wanita itu bergerak secepat kilat, menghalangi niat Revian dengan menyilangkan kakinya sehingga wajah lelaki itu nyaris membentur lututnya yang putih mulus.

"Ka-kamu yakin sudah berusia 25 tahun?" tanyanya dengan suara terbata.

Sheila tertawa penuh ironi.

"Bapak 'kan sudah melihat sendiri kartu identitas saya. Mengapa masih bertanya tentang hal itu?" tanya Sheila.

"Kalau kamu benar-benar wanita berusia 25 tahun, bagaimana bisa milikmu begitu mulus seperti ... maaf bukan aku bermaksud tidak sopan ... tetapi bagaimana milikmu itu bisa seperti bayi begitu?" tanya Revian heran.

Ia sudah melihat berbagai bentuk area kepribadian wanita, dari yang perawan hingga janda. Dari yang berkulit putih, hingga berkulit gelap. Namun, belum pernah sekali pun ia melihat milik wanita dewasa yang ranum, mulus, berwarna merah muda tanpa sehelai rambut pun menutupinya. Kalau pun ia pernah melihat milik wanita yang tanpa rambut, tetapi tetap saja terlihat rambut-rambut halus bekas dicukur tumbuh di sekitarnya. Sementara milik Sheila jelas sangat berbeda. Tidak salah jika wanita itu menyebut miliknya istimewa karena memang itulah adanya. Hal itu membuat Revian penasaran untuk menjajal miliknya sendiri di liang yang berwarna merah muda itu.

Sheila melompat turun dari meja, mengenakan celana dalamnya, lalu merapikan pakaiannya kembali. Setelah itu ia kembali berdiri dengan sopan di depan meja Revian.

"Dokter bilang saya memiliki kelainan hormon. Bapak lihat sendiri, 'kan? Selain rambut di atas kepala, seluruh tubuh saya nyaris tidak memiliki rambut lainnya. It's okay. Selagi tubuh saya mengalami pertumbuhan yang sama dengan wanita lain, dokter itu bilang semuanya normal saja," jelas Sheila tanpa beban.

"Jadi ... bagaimana dengan permintaan saya tadi, Pak Revian. Apakah Anda setuju?" desak Sheila.

Ia tidak mau membuang waktu lagi. Detik itu juga ia harus memastikan dirinya aman dari tuntutan hukum. Saat ini ia tidak lagi mau memusingkan segala persoalan harga diri. Selagi dirinya tidak berzina, Sheila merasa tidak ada yang salah dalam keputusan yang ia buat.

'Lagi pula hanya satu bulan. Setelah itu, aku bisa bebas dengan materi yang cukup untuk memulai usaha dan hidup tenang bersama mama. Soal status janda sudah pasti tidak masalah. Yang pasti sebisa mungkin aku harus menghindari kehamilan selama pernikahan itu,' ucap Sheila di dalam hati.

"Deal ... Minggu ini juga aku akan menikahimu."

Tanpa Sheila sangka, Revian menyetujui permintaannya dengan semangat.

"Tetapi sebelum itu, aku ingin menyentuh milikmu dulu. Anggap saja ini sebagai sebuah tester produk baru," ucap Revian dengan deru napas yang mulai memburu.

Bayang-bayang milik Sheila yang istimewa sungguh membuatnya sulit untuk menahan diri. Meskipun belum bisa memasukkan miliknya yang telah menegang ke liang sempit itu, bagi Revian dengan menyentuh saja sudah cukup untuk merasakan sensasinya.

Namun, reaksi Sheila sungguh di luar dugaannya. Wanita cantik bertubuh seksi itu menyalakan ponselnya, lalu mengirimkan nomor rekeningnya ke ponsel Revian.

"Anda ingin tester? Saya ingin pembayaran di muka," ucap Sheila dingin.

Revian berdecak sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia mengetikkan sesuatu di benda pipih itu. Tak lama kemudian, terdengar notifikasi di ponsel Sheila.

"Dua ratus lima puluh juta, tunai. Sisanya ... setelah kesepakatan pernikahan kita berakhir," ujar Revian dengan seringai kemenangan.

"Sekarang mana tester untukku?"

Bab 3

"Sekarang mana tester untukku?" tanya Revian seraya melangkah lebih dekat, sehingga membuat Sheila bergerak mundur dengan paras memucat.

"Be-berjanjilah Anda hanya menyentuh dari luar," pinta Sheila dengan suara terbata.

"Memangnya kamu bisa meminum air dari botol yang ada tutupnya?" tanya Revian dengan seringai tipis.

Sheila terpojok, ia tidak bisa bergerak mundur lagi karena dirinya sudah membentur tembok.

"Ayolah, Sheila. Jangan membuang waktu lagi. Jangan buat rasa penasaranku semakin besar sehingga sulit untuk mengendalikan diri. Sebagai wanita dewasa, kamu pasti sudah bisa melihat bagian bawah tubuhku yang mengeras di balik denim ini. Atau ... kamu memang ingin melalukan tester dengannya langsung? kata Revian lagi yang langsung dijawab dengan gelengan kuat oleh Sheila.

"Pakai tangan saja, Pak. Tapi, please ... jangan masukkan jari Anda. Berjanjilah terlebih dahulu," ujar Sheila.

Revian mengungkung tubuh Sheila dengan kedua tangannya yang ia tumpukan di dinding. Dengan suara rendah ia berkata, "Aku berjanji. Sekarang bukalah celana dalammu."

Sheila memejamkan mata dengan debaran jantung yang semakin tak menentu. Dia sangat gugup saat itu, ditambah lagi dengan posisi wajah Revian yang hanya berjarak beberapa mili dari wajahnya. Hembusan napas lelaki itu bahkan bisa menggetarkan rambut-rambut halus di permukaan kulitnya.

"Kamu pakai parfum apa? Aromanya enak," tanya Revian.

"Ti-tidak ada parfum, Pak. Ha-hanya sabun mandi," jawab Sheila.

"Saya ingin mencium kamu," bisik Revian dengan suara yang semakin parau.

Sheila ingin menolak, tetapi percuma karena bibir lelaki itu sudah menempel di atas bibirnya. Sheila bisa merasakan sapuan lembut dari lidahnya yang basah. Lumatan-lumatan kecil juga pria itu lakukan dengan lembut.

Revian menempelkan tubuhnya ke tubuh Sheila, membiarkan kejantanannya yang mengeras menekan paha wanita itu dengan intens.

Tanpa melepaskan ciumannya tangan Revian mulai menelusuri tubuh Sheila, bergerak turun dari pundak, dada, pinggang, lalu meluncur ke area belakang. Jari-jari kokoh miliknya meremas bokong Sheila dengan penuh hasrat. Dari bokong tangan itu meluncur ke bawah, menyelinap ke balik rok pendek yang Sheila kenakan, setelah itu hinggap di atas paha Sheila yang mulus.

Dari paha itu, tangannya bergerak perlahan menuju area yang berada di sela paha. Ujung jarinya menyentuh tepian bibir yang sangat halus dan lembab.

"Aah ... Sheil, milik kamu benar-benar istimewa dari yang lain," racau Revian sambil terus mengelus permukaan kewanitaan Sheila yang mulus dan chubby.

Sheila sendiri mulai terbakar oleh sentuhan Revian yang memabukkan. Jika saja tak ingat malu, ia mungkin akan mengeluarkan desahan sebagai reaksi atas sentuhan yang pria itu berikan. Namun, akal sehatnya masih berjalan, ia menahan semua sensasi itu dengan sekuat tenaga.

Revian menggeram tanpa sadar.

"Aku ingin memasuki kamu, Sheil. Ooh ...." Revian terus meracau sambil meremas lembut bukit kecil milik Sheila yang benar-benar membuatnya berada di puncak birahi.

Jemari Revian menelusuri celah yang lembut itu, dan bisa merasakan ada cairan yang mengenai ujung jarinya.

"Kamu sudah basah, Sheil. Ternyata tubuh kamu juga menikmati sentuhan ini," ucap Revian.

Janjinya untuk tidak memasukkan jari ke liang itu menguap ke udara. Revian tidak sanggup lagi menahan diri. Dari celah itu jarinya bergerak mencari liang kenikmatan Sheila.

Namun, Sheila bergerak cepat menahan tangan Revian, lalu menyilangkan kedua kakinya, menutup area pribadi itu rapat-rapat.

"Anda sudah berjanji tidak akan memasukkan jari ke sana," kata Sheila memperingatkan.

Dengan ekspresi datar, Sheila menarik tangan lelaki itu, menjauh dari area kewanitaannya.

"Sudah sepuluh menit lewat lima belas detik. Sepertinya sudah cukup kalau hanya untuk tester," lanjut Sheila.

Ia merunduk, meloloskan diri dari kungkungan lengan pria itu, lalu mengenakan celana dalamnya kembali.

"Besok pagi saya akan menyerahkan surat pengunduran diri pada Bapak. Sampai jumpa minggu depan," ucap Sheila seraya melangkah menuju pintu.

"Tidak. Aku tidak bisa menunggu selama itu. Pernikahan kita dipercepat. Aku akan menjemputmu lusa. Persiapkan dirimu," kata Revian sambil berjalan kembali menuju meja kerjanya.

Mata indah itu membesar beberapa detik, tetapi kembali meredup setelah keterkejutannya hilang. Meski berat hati, Sheila mengangguk juga karena memang dirinya tak lagi memiliki hak suara untuk melayangkan protes.

"Baiklah, sampai jumpa lusa," sahut Sheila seraya memutar tubuhnya, lanjut melangkah menuju pintu.

Tangannya sudah meraih handle pintu itu ketika ponsel yang ada di dalam saku blazernya berbunyi.

"Ya, halo, Mbak. Bagaimana proses operasi Mamaku? Apakah sudah selesai?" tanya Sheila dengan sebelah tangan menarik handle.

Namun, handle itu tidak berhasil ia putar hingga habis karena tubuh Sheila seolah membeku di tempatnya berdiri ketika mendengar kata-kata dari perawat ibunya itu.

"Ja-jangan be-bercanda, M-mbak. I-itu nggak lucu," ucap Sheila terbata dengan suara bergetar.

["Saya tidak bercanda, Mbak Sheila. Operasi ibu Mbak tidak berhasil. Beliau meninggal di meja operasi setelah mengalami pendarahan hebat."]

"TIDAAAAK! OPERASI MAMAKU TIDAK MUNGKIN GAGAL. MAMAKU TIDAK BOLEH MATI!" teriak Sheila.

Kedua tungkainya terasa lemas, tanpa sadar Sheila jatuh terduduk tanpa sempat membuka pintu kaca itu.

Revian yang sudah duduk di meja kerjanya langsung terlompat dari kursinya, lalu berlari mendekati Sheila.

"Hei, Sheila. Ada apa? Mengapa kamu histeris begini?" tanya Revian heran.

Sheila mengangkat kepalanya, menatap Revian dengan wajah yang basah oleh air mata.

"Mama saya ... mama saya ... operasinya gagal, Pak. Huhuhuhu ... Mamaaaa ... Mamaaaa," jawab Sheila.

Tangisnya pecah tak tertahan lagi. Sheila meraung sejadi-jadinya sambil memanggil-manggil mamanya.

Revian tertegun, tak tahu harus berkata apa untuk menghibur wanita yang akan ia nikahi itu. Hanya tangannya yang terangkat perlahan, menepuk punggung Sheila dengan pelan.

"Ikhlaskan kepergian ibu kamu. Mungkin ini jalan dari Tuhan agar dia tidak merasakan sakit lagi," ucap Revian.

Sheila terus menangis tersedu, menelungkupkan setengah badannya di lantai tanpa memedulikan kehadiran Revian yang berada di dekatnya. Bagi Sheila dunianya sudah runtuh, tidak ada lagi siapapun yang tersisa di sampingnya. Bahkan dirinya sendiri pun sudah tergadai akibat uang yang ia gunakan untuk membiayai pengobatan almarhum ibunya.

Menit demi menit berlalu, Sheila masih berada dalam posisi duduk dengan tubuh menangkup lantai. Sementara itu Revian berjalan mondar-mandir bingung harus berbuat apa untuk wanita itu.

"Sheila, bangunlah. Berhenti menangis, lebih baik temui ibumu di rumah sakit," kata Revian.

Namun, Sheila bergeming. Ia tetap berada dalam posisi itu tanpa menanggapi kata-kata Revian, membuat lelaki itu berdecak kesal.

"Kamu dengar kata-kataku, tidak? Berhenti tantrum seperti bayi begitu. Dewasalah, urus jenazah ibumu itu!" seru Revian lagi.

Akan tetapi, seruan itu lagi-lagi bagai angin lalu di telinga Sheila. Ia tidak mengubah posisinya sedikit pun, bahkan menggerakkan tubuhnya pun tidak.

'Eh ... sudah berapa lama dia menangis dalam posisi begitu?' gumam Revian heran sambil melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Astaga! Sudah satu jam lebih. Jangan-jangan dia pingsan lagi," seru Revian kaget.

Ia pun bergegas menghampiri Sheila, lalu mengguncang tubuh wanita itu sambil memanggil-manggil namanya.

"Hei, Sheila. Bangun! Mau sampai kapan kamu menangis begini?" tanya Revian.

Lagi-lagi Sheila tidak menjawab. Wajah Revian berubah cemas. Tanpa memedulikan apa pun lagi, Revian mengangkat tubuh Sheila dari lantai. Ternyata benar dugaannya. Mata Sheila terpejam, wajahnya pucat bagaikan tak dialiri darah. Tidak diragukan lagi, wanita itu pingsan karena shock setelah mendengar berita kematian ibunya.

Sekarang giliran Revian yang shock, karena pertama kali di dalam hidupnya berhadapan langsung dengan wanita yang jatuh pingsan saat berada di dekatnya.

'Sial, dia pakai pingsan segala lagi. Apa yang harus aku lakukan?' tanya Revian bingung karena tidak ada siapa pun yang bisa dimintai tolong. Di kantor itu hanya tinggal mereka berdua, sementara karyawan lainnya sudah pulang sejak jam kerja berakhir sore tadi.

Tidak ada cara lain, ia pun menelepon seseorang agar bisa membantu dirinya memindahkan Sheila.

"Ben, datang ke ruangan saya sekarang!" titah Revian pada Benny, sopir pribadinya.

Tidak lama kemudian pria bertubuh tegap datang, masuk ke ruangan Revian setelah mengetuk pintunya tiga kali.

"Astaga! Apa yang terjadi, Bos? Mengapa Bu Sheila bisa pingsan di sini?" tanya Benny heran. Ia cukup mengenal Sheila yang sehari-hari bertugas sebagai kasir utama itu. Sepanjang pengetahuannya, wanita itu tidak memiliki hubungan pribadi dengan Revian. Itu sebabnya ia bingung kenapa Sheila bisa pingsan di dekat pintu ruangan bosnya itu.

"Sudah, tidak usah banyak tanya. Bantu saya memindahkannya ke mobil. Kita harus mengantarnya pulang," jawab Revian.

Benny mengangguk. Dengan mudahnya, ia membopong tubuh Sheila lalu membawanya menuju mobil Revian yang berada di area parkir khusus direksi. Sheila dibaringkan di kursi tengah, sementara Revian duduk di kursi sebelah kemudi. Ia sedang membuka data karyawan untuk menemukan alamat rumah Sheila.

"Di mana alamat rumahnya, Bos?" tanya Benny sambil mengemudikan mobil itu keluar dari area parkir.

"Komplek Duta Mas Blok A3 No. 10. Kamu tahu tempat itu, nggak?" jawab Revian setelah mendapatkan alamat rumah Sheila di database karyawan.

"Tahu, Bos. Cukup dekat kok dari sini," jawab Benny.

"Bagus deh. Kalau begitu tunggu apa lagi, langsung saja ke sana," ujar Revian.

Usai berkata begitu, ia mengubah posisi tempat duduknya, lalu merebahkan tubuh untuk tidur. "Nanti bangunkan saya kalau sudah sampai," titahnya sambil memejamkan mata.

Benny mengiyakan perintah itu tanpa protes, karena memang sudah menjadi kebiasaan Revian begitu. Sejak berkerja sebagai sopir Revian empat tahun yang lalu, Benny sudah sangat hapal dengan kebiasaannya. Lelaki berwajah tampan itu selalu tidur saat berada di perjalanan, tidak peduli itu perjalanan jarak jauh ataupun perjalanan yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.

Mobil mewah yang dikendarai Benny sampai di alamat yang disebutkan Revian. Ia menghentikan laju mobil itu tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis berukuran sedang.

"Bos, kita sudah sampai," ucap Benny sambil menepuk pelan lengan bosnya itu.

Revian duduk, lalu mengamati sekitarnya untuk beberapa saat.

"Ya, sudah. Kamu beritahu keluarganya sana," titah Revian.

Benny menurut patuh, turun dari mobil itu lalu mengetuk pintu rumah bernomor sepuluh itu dengan pelan.

Seorang pria berusia awal empat puluh membukakan pintu, terlihat kebingungan saat Benny memberitahu perihal Sheila yang pingsan di dalam mobil.

"Ada apa, Ben? Kenapa lama sekali?" tanya Revian dari jendela mobil yang ia buka setengah.

Benny menghampiri Revian dengan kebingungan.

"Ada masalah, Bos. Bapak itu bilang tidak memiliki keluarga bernama Sheila Damaris," jawab Benny.

"Kamu yakin? Kamu sudah sebutkan ciri-ciri fisiknya? Kalau perlu minta bapak itu melihat sendiri ke mobil deh," kata Revian.

"Sudah saya sarankan begitu, Bos. Tetapi bapak itu dengan tegas menolak. Dia bahkan memperlihatkan salinan kartu keluarga yang tersimpan di ponselnya. Memang tidak ada nama Bu Sheila di sana," jelas Benny.

"Lho ... kenapa bisa begitu? Apakah alamat rumahnya salah? Tetapi saya sudah melihat dengan teliti tadi, memang di sini alamatnya," ujar Revian tak kalah bingungnya dengan sang sopir.

Benny mengemudikan mobil itu kembali, fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.

"Jadi sekarang kita ke mana, Bos?" tanya Benny lagi.

"Itu yang saya juga tidak tahu, Ben," jawab Revian sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia menoleh ke belakang, menatap Sheila yang masih terbaring tak sadarkan diri.

"Ah ... tadi dia menerima panggilan telepon dari seseorang di rumah sakit, 'kan?" seru Revian pada dirinya sendiri.

Ia pun bergegas memeriksa saku blazer Sheila untuk menemukan ponsel gadis itu, sayangnya nihil. Ia gagal menemukan ponsel milik Sheila.

"Sial. Mungkin ponselnya terjatuh saat di kantor," gumam Revian.

Sekarang ia benar-benar kebingungan karena tidak tahu harus membawa Sheila ke mana. Hari semakin malam, Revian sadar dirinya harus segera mengambil keputusan agar tidak berputar-putar tanpa arah di jalanan itu.

"Tidak ada pilihan lain. Bawa dia ke hotel saja, Ben," ucap Revian.

"Hotel yang biasa, Bos?" tanya Benny lugu.

"Apakah pertanyaan itu masih harus saya jawab?" Revian balik bertanya dengan dingin.

Benny menggeleng. Tanpa berkata-kata lagi ia segera melajukan mobil itu menuju hotel bintang lima tempat Revian biasanya menghabiskan waktu bersama wanita-wanita mainannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED