DORRRR!!!!
Rentetan serta desingan proyektil meluluhlantakkan bangunan tak terlalu besar di sebuah daerah bernama Minsk. Rumah yang dihuni oleh satu keluarga itu kini dihancurkan dengan timah panas yang datang dari berbagai penjuru rumah tersebut. Adalah Joseph Stalin Gerarda, sang kepala keluarga Gerarda yang harus melindungi istri serta dua orang putrinya yang berusia 10 serta 15 tahun yang sedang ketakutan dan bersembunyi di ruang bawah tanah milik mereka.
"Mommy, aku takut." Ucap Sabrina, gadis cilik berusia 10 tahun itu menutup kedua telinganya sambil memegang boneka teddy bear miliknya dengan wajah ketakutan.
"Jangan khawatir, Sayang. Papa pasti akan menyelamatkan kita. Maria, apa kau tak apa-apa, Sayang?" tanya sang Mama melihat dua putri tercintanya dipanda ketakutan dan kecemasan.
"Papa ... aku khawatir dengan papa, Mommy." Ucap Maria menangis dalam dekapan sang mama.
"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Jangan takut, Tuhan bersama kita." Mama berusaha menenangkan dua putrinya.
****
"Di mana benda itu?" seorang pria dengan potongan layaknya serdadu asing dengan rambut warna pirang berdiri tegak serta tubuh kekar berotot dibalut pakaian hijau army tengah menodongkan laras panjang jenis AK 45 semi-otomatis di pelipis seorang pria dengan posisi berlutut sambil mengangakat kedua tangannya ke atas.
"Kutanya sekali lagi, Tuan Joseph Stalin Gerarda, di mana Anda simpan chip itu? Bekerjasamalah dan kujamin, kau beserta istri dan dua putri cantikmu masih bisa melihat matahari terbit esok hari." Ujar pria itu menyeringai.
"Chip-nya tak ada padaku! Percuma saja kalian datang ke tempat ini karena memang tak ada padaku." Sahut pria bernama Joseph Stalin Gerarda itu tanpa takut sedikit pun.
"Hahahha, benar-benar tipikal seorang agen sejati rupanya. Apa kau tak takut jika istri dan anak-anakmu tahu apa pekerjaan ayah mereka?" Senyum seringai tersungging dengan jelas di bibir pria pirang itu.
"Kau tak akan berani mengatakannya," sahut Joseph.
BUAGH!!
Sebuah pukulan kencang dengan memakai gagang senapan milik pria pirang itu membuat Joseph langsung tersungkur seketika dengan kucuran darah segar di pelipis dan tepi mulutnya .
"Siapa sebenarnya kalian? Mengapa kalian menghancurkan rumahku? Apa salahku pada kalian?"
"Anda tak perlu tahu siapa kami! Tapi kami tahu siapa Anda, pekerjaan, istri, serta anak-anak Anda. Kenapa? Karena kami lebih pintar dari Anda!" balasnya tertawa puas.
"CIH, jika kalian memang sepintar itu, kenapa belum juga menemukan apa yang kalian inginkan? Atau kepintaran kalian itu hanya omong kosong belaka?" Joseph membalas dengan tawa sekeras-kerasnya hingga terdengar ke ruang bawah tanah di mana istri serta kedua anaknya bersembunyi.
"Papa! Aku ingin ke papa, Mommy. Aku ingin melihat papa!" Maria terus mendesak sang mama agar mengizinkannya menemui sang papa.
"Tidak! Tidak! Tidak Maria! Kau dan adikmu tetap di sini, biar Mommy yang melihat keadaan papa."
"Tapi, Mom ...," Maria memegang lengan sang mama dengan kuat.
"Ini perintah!"
Tanpa pikir panjang, sang mama membuka pintu ruang bawah tanah, mengamati gerak-gerik musuh yang masih berada di rumah mereka. "Doakan Mommy agar berhasil." Senyum sang mama pada kedua putirnya yang saling berpelukan.
"Mommy janji Mommy harus kembali! Harus kembali," ucap Sabrina menangis tak henti-hentinya sambil dipeluk Maria.
"Maria, jaga adikmu. Jika Mommy tak kembali ...,"
"Mommy harus kembali! Maria tak ingin dengar alasan apa pun! Harus kembali bersama papa!" tegas Maria menahan air matanya.
"Kalian memang anak hebat!" Sang Mama mengecup kening keduanya sambil menitikkan air mata. "Mama pergi dulu."
Maria dan sang adik, Sabrina saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain, sementara mama mereka menjemput sang papa.
****
Dengan mengendap-endap, sang mama berusaha mencari yahu keberadaan sang suami yang sedang ditawan oleh sekelompok orang tak dikenal. Dengan hati-hati ia menyusuri tiap kamar dan ruangan di rumah besar itu, hingga ....
AKHHHHH!!
Seseorang dari belakang menarik paksa rambut sang istri dan menyeretnya ke tempat di mana suami berada.
"OUCH!!" rintihnya
"Sayang!" Sang suami langsung meraih tubuh sang istri dan memeluknya. "Kau tak apa-apa?" tanya Joseph.
sang istri mengangguk, "Aku tak apa-apa."
"Anak-anak bagaimana? Apa mereka aman?' bisik Joseph.
"Mereka aman, Sayang. Mereka sedang menunggumu."
"HEI! KENAPA KALIAN MALAH BICARA BERDUA, HAH!"
BUAGHH!!
"Akhhhh, Papaaaa ...," teriak Mama melihat sang suami dipukuli lagi dengan gagang senjata api.3
"Cukup! Cukup! Hentikan, apa yang kalian inginkan?" Mama memeluk sang suami yang telah bersimbah darah dan tertelungkup.
"Chip!"
"Chip? Chip apa maksud kalian? bingung Mama.
"Tuan Joseph, bagaimana? Perlukah kami memberitahu istri Anda apa pekerjaan Anda sebenarnya?" tanya pria pirang itu lagi.
"Pekerjaan se--benarnya? Tuan, siapa kalian ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba masuk rumah kami dan melukai suami saya?"
"Hah!! Cukup basa-basinya. Biar kuberitahu, Nyonya Joseph Stalin Gerarda, suami Anda adalah seorang ...,"
KREK ... KREK!!
Tanpa disangka, Joseph mengambil senapan kecil dari tempat selongsong senjata api kecil milik pria itu. Dengan mengokang (menarik pelocok senjata api) dia mengarahkan pada pria pirang itu. Beberapa anak buah sang pria bertubuh tegap-besar itu sontak mengarahkan laras panjang mereka ke arahnya.
"Hahaha, kau mau menembakku? Silakan,.tapi jangan harap kedua putrimu akan selamat! Bawa mereka ke sini!" teriaknya.
Tanpa diduga, Maria dan sang adik, Sabrina berhasil ditangkap oleh orang-orang tak dikenal itu dan membuat mereka harus bertekuk lutut di hadapan pria pirang itu.
"Jangan sakiti mereka, aku mohon ...," sang Mama menangis mengatupkan kedua tangannya.
"Jadi bagaimana, Tuan Joseph? Masih mau bermain-main denganku?" Seringai pria itu.
Tangan gemetar, wajah penuh darah di sebagian pelipisnya, membuat Joseph mau tak mau menyerah dan membuang senjata api sedikit menjauh darinya.
"Lepaskan putriku! Mereka tak ada hubungannya dengan ini!" ujar Joseph.
"Siapa bilang tak ada? Bukankah mereka adalah darah dagingmu? Apa kau lupa perumpamaan 'darah lebih kental dari air?'. Jika ingin mereka selamat, katakan padaku!""
Dengan menjentikkan jarinya, salah satu putri mereka Sabrina diseret dan ditodong senjata laras panjang miliknya.
"SABRINA!!!" Maria dan sang mama berteriak.
"Bagaimana Tuan Joseph? Apa kini Anda mengerti apa maksud ucapanku?"
"Tapi aku memang tak tahu di mana chip itu berada! Kenapa kalian tak percaya juga."
Tak lama, salah satu anak buah pria pirang itu menghampiri dan berbisik padanya.
"Baiklah, Tuan Joseph. Ternyata Anda tak berbohong. Chip itu memang tak ada pada Anda,"
Joseph, sang istri dan dua putrinya menghirup napas seakan telah terbebas dari bahaya. "Oleh karena itu, aku juga akan membebaskan kau dan seluruh keluargamu!"
"A--apa maksudmu?" Joseph langsung keringat dingin, dan ....
Dor ...
Dor ...
Dor ...
"Papa! Mama! Sabrina ...,"
Satu per satu, nyawa keluarga Gerarda harus berakhir secara tragis. Sementara itu, Maria yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarganya dibunuh berusaha melawan mereka, namun tentu saja, fisik yang jauh berbeda serta emosi yang tak stabil, membuat Maria dengan mudah dijatuhkan.
"Hmm, wajahmu cukup lumayan! Jika aku membawamu dan bertemu dengan Tuan, mungkin tak akan ada ruginya. Bawa dia!" perintah pria pirang itu.
"Lepas! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Maria berusaha melawan dan tiba-tiba salah satu dari mereka memukul tengkuk Maria dengan gagang senjata api miliknya hingga ia pingsan.
"Tuan, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" tanya deorang pria pada pria pirang yang tengah berdiri di depan kediaman Gerarda.
"Seperti biasa! Killing clearly and burn it!" ucapnya meninggalkan tempat itu sambil tertawa penuh kemenangan.
Di saat langkahnya belum jauh dari kediaman Gerarda, tiba-tiba sebuah bunyi ledakan cukup kencang dan keras ditimbulkan di sekitar tempat kejadian. Rupanya kediaman keluarga Gerarda telah dihancurkan oleh anak buah pria pirang guna menghilangkan barang bukti dan jejak mereka.
"Misi selesai, Tuan. Tapi sayangnya, chip itu tak ada di sana.," ucap sang pria berambut pirang di ponsel yang ia pegang dan segera beranjak meninggalkan kediaman Gerarda.
Byuurrr!!
Guyuran air dingin tepat mengenai wajah Maria yang tertelungkup pingsan sejak tadi. Terkejut dan napas terengah dia rasakan mana kala seseorag baru saja membangunkannya dengan cara yang tak biasa.
"Bangun!" suara bariton pria dengan tegas berdiri di hadapan Maria, membuang ember hingga terdengar sangat nyaring.
Perlahan, mata Maria terbuka dan melihat samar pria di hadapannya. "Kau, s--siapa kau?" tanyanya dengan bibir bergetar.
"Bangun, bocah tengik!" perintahnya.
"Hahaha, bagaimana aku bisa bangun sementara aku kedinginan dan kelaparan."
"Dasar bocah tengik! Kenapa dia tak menghabisimu juga seperti anggota keluargamu yang lain!? Menyusahkan!" keluh pria itu membalikkan badannya.
"Kau! Kau telah membunuh keluargaku! Kau telah menghancurkan semua yang kumiliki ...," Maria berdiri merambah ke tubuh lelaki tegap itu. "Apa-apaan ini!" lelaki itu melepaskan tangan Maria yang basah dari seragam hijaunya.
"Kembalikan! Kembalikan keluargaku! KEMBALIKAN MEREKA SEMUA!!" teriak Maria histeris.
"LEPASKAN! Dasar bocah tengik! Mana Ivan?! Panggil dia ke sini!" perintah pria tegap itu pada salah satu anak buahnya.
"Baik, Tuan."
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian tega menghabisi keluargaku? Apa salah keluargaku? APA!?" tanya Maria berdiri dengan gemetar di hadapan pria bertubuh tegap itu.
"Karena ayahmu tak mau bekerja sama dengan kami! Itulah alasan kenapa keluarga kalian dihabisi!" jawab pria itu sambil menyeringai.
"KAU! KAU!!"
"Sersan, Anda mencariku?" seorang pria berbadan tegap lainnya datang ke tempat Maria ditahan.
Netra Maria langsung terbelalak dan menghampiri pria berambut pirang tegak yang menghabisi nyawa seluruh keluarganya.
"KAU! KAU YANG TELAH MENGHABISI KELUARGAKU! KAU ...,"
Bruk!!
Tubuh Maria langsung terjatuh menghempas tanah dengan keras. Tubuhnya yang lemah dan beberapa luka lebam yang diterimanya ketika penyerangan itu terjadi tampak jelas terlihat di tubuh mungilnya. Kedua pria berbadan tegap itu lantas membawa tubuh Maria ke sebuah ruang dan menyuruh seseorang mengobatinya.
"Kau! Buat dia siuman sesegera mungkin! Jangan sampai Tuan menunggu karena hal sepele ini!" perintah salah satu dari kedua pria tadi pada dokter yang ada di ruang itu.
"Baik, Tuan. saya mengerti."
****
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan pada gadis itu? Apa kau yakin dia akan berguna bagi kita?" tanya pria di samping pria pirang dengan rambut tegak berjalan beriringan.
"Apa kau tak lihat ada sesuatu yang istimewa pada diri gadis itu?"
"Maksudmu?"
"Mata gadis itu!" senyum pria pirang itu lebar.
"Mata?"
"Gadis itu memiliki warna mata yang tak biasa. Kedua mata yang beda warna, indah ... sungguh indah. Sayang jika kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri." Jelasnya senyumnya mengembang.
"Maksudmu ...,"
"Kau tahu benar apa maksudku, Gordan. Kita bisa dapatkan banyak uang jika kita menjualnya di tempat 'biasa'." Kekeh pria berambut pirang itu.
"Hmmm, harus kuakui, otakmu sangat cepat bila menyangkut soal uang, Ivan. Lalu, bagaimana dengan chip itu? Apa kau berhasil mendapatkannya?"
"Tidak! Aku belum mendapatkannya! Tapi pasti akan aku dapatkan!"
Sementara itu, di ruang terpisah, Maria yang telah siuman membuka kelopak matanya secara perlahan sambil memandangi sekitar tempatnya sekarang berada.
"Ini di mana?" tanyanya pelan sambil memegangi kepalanya.
"Sudah sadar?"
Seorang dokter menghampiri Maria dan memeriksanya kembali.
"A--Anda--Anda siapa? Jangan--jangan sakiti saya! Jangan!" teriak histeris Maria.
"Jangan takut, saya tak akan melukaimu. Saya hanya ingin memeriksa keadaanmu." Dokter itu kemudian dengan lembut memeriksa Maria dengan teliti mulai dari atas hingga ke bawah, "Ini ... luka apa ini?" Dokter itu menunjuk pada satu luka lebam besar di sekitar pinggul Maria.
"Bu--bukan apa-apa!" Sahutnya langsung menutup pakaiannya dan mengalihkan pandangannya.
Dokter itu tampak terkejut ketika melihat mata Maria yang berbeda warna dan segera berkata, "Apa di keluargamu ada yang memiliki kelainan pigmen mata?"
"M--maksud Dokter?" tanya Maria takut dan gugup.
"Heterochromia! Matamu memiliki dua warna yang berbeda dan itu hanya satu diantara sekian milyar orang yang kemungkinan memiliki kelainan yang sama. Apa itu dari keluargamu?" tanya Dokter itu lagi mendekatkan wajahnya ke Maria.
"A--aku-- ...aku," jari-jemari Maria bergetar dan tubuhnya juga seperti orang yang kedinginan. Sang dokter yang melihat sikap Maria pun segera menghentikan pertanyaannya, "Istirahatlah, apa kau sudah makan?" tanyanya lagi.
Maria menggelengkan kepalanya.
"Akan kuambilkan makanan untukmu, gadis manis. Sebentar ya." Dokter itu pun keluar dari ruangannya dan mencarikan makanan untuknya.
"Dokter Herbert!" panggil suara lantang laki-laki dari belakang.
"Sersan Gordan," sapanya kembali.
"Anda mau ke mana, Dokter? Bagaimana dengan pasien yang baru saja kuberikan pada Anda?"
"Dia sudah sadar?"
"Benarkah? Baiklah kalau begitu!" Gordan melangkah menjauhi sang dokter dan terlihat ingin membuka pintu ruangan di mana Maria berada.
"Sersan!" panggil dokter itu sedikit lantang.
"Ada apa?"
"Maaf, tapi kurasa pasien baru saja sadar dan dia terlihat ketakutan. Boleh saya tahu apa yang terjadi?" tanya Dokter itu bak polisi.
"Dokter Yvent, tugasmu adalah menuruti ucapan kami! Dan jangan sesekali keluar dari batasmu! Apa Anda paham!?" tegas Gordan mendekatkan wajahnya ke Yvent.
"Saya paham, tapi ruang ini adalah tempat otoritas saya! Jadi, siapa pun yang ada di dalam sana, mau penjahat atau bukan tetap harus dilindungi dan diselamatkan, tak peduli apa yang terjadi, Sersan Gordan." Balas Yvent dengan ekspresi tegas dan serius.
Gordan terdiam. Netra birunya menatap tajam sang dokter. "Anda mulai banyak tingkah rupanya! Apa Anda lupa untuk apa Anda di sini, hah!?"
"Saya tak lupa, Sersan Gordan. Tapi profesi saya telah menyumpah siapapun itu, apa pun jabatan atau posisi mereka, selama mereka membutuhkan pertolongan kami, maka kami harus memenuhi sumpah jabatan dan kode etik yang kami junjung tinggi." Jelas Yvent meraih gagang pintu dan masuk ke dalam.
"Hmmm, rupanya Anda belum tahu sedang berurusan dengan siapa, Doktet Yvent."
****
Sementara itu di dalam, tampak Yvent tengah mengobati Maria yang terbaring di kasur dan mata yang selalu menatap ke langit-langit.
"Nah, aku sudah mengobati lukamu. Dalam beberapa hari kau akan sembuh." Ucap Yvent mengusap wajah Maria lembut.
Maria tampak selalu berusaha menghindarkan wajahnya dari tangan Yvent dan melihatnya penuh ketakutan. Yvent yang merasa iba akan keadaan Maria mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis muda itu.
"Maria, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?" tanya Yvent pelan.
"Anda--Anda siapa sebenarnya? Kenapa menolongku?" tanya Maria ragu
"Namaku Yvent, aku seorang dokter. Kau ...," Yvent tak melanjutkan ucapannya.
"Aku lapar, Dok."
"Oh, iya, maaf aku belum sempat membawakanmu makanan tadi. Sebentar ya, kuambilkan."
Yvent beranjak dari hadapan Maria dan membuka pintu ruangannya, ternyata Gordan masih menunggu di luar ruangannya.
"Anda ... masih di sini, Sersan?" tanya Yvent sedikit terkejut.
"Minggir, aku harus bertemu dengan anak itu!" Gordan mendorong dengan kencang tubuh Yvent hingga terjatuh.
"Tidak! Tunggu sampai dia pulih benar, baru Anda bisa menemuinya!" tegas Yvent menaham kaki Gordan erat.
"KAU!!"
"ADA APA INI?"
Suara derap sepatu nyaring dan intonasi suara menekan terdengar jelas oleh mereka berdua. Seorang pria dewasa dan anak laki-laki serta beberapa orang prajurit yang berpakaian serba hitam dan merah layaknya ninja tampak berdiri di belakang mereka.
"Jenderal Goyev, Anda di sini?" Gordan langsung memberi hormat pada laki-laki bertubuh tinggi besar, berseragam hijau army dengan banyak lencana dan pangkat yang tersemat di kedua pundak lelaki bernama Goyev Kischinko itu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut, hah? Dan kau, Dokter, apa yang sedang Anda lakukan di bawah sana?" tanyanya melirik tajam ke arah keduanya.
"Jenderal Goyev ...," Gordan langsung mendekati atasannya dan berbisik padanya.
"Apa? Putri Joseph Stalin Gerarda ada di dalam?" tanya Sang Jenderal.
Gordan mengangguk. Segera, tanpa membuang waktu sang jenderal dan anak remaja laki-laki yang bersamanya masuk ke dalam ruangan dan menemui Maria. Yvent yang berusaha menjegal mereka akhirnya pasrah dan mengikuti mereka di belakang.
"BANGUN!" tegas suara Gordan sambil menendang kaki kasur Maria tidur.
Perlahan, mata Maria terbuka dan melihat beberapa pria berbadan tegap telah berdiri di hadapannya
"S--siapa kalian? Mau apa kalian? Jangan sakiti aku ... aku mohon ...," Maria menunjukkan ketakutannya.
"Jen--,"
Tiba-tiba tangan Gordan menghalangi Yvent yang hendak melindungi Maria. "Ingat apa kata-kataku barusan!"
Terdiam dan kembali melangkah mundur, Yvent menundukkan wajahnya, mengepalkan tangannya seakan orang yang dipenuhi amarah.
"Kau putri Joseph Stalin Gerarda?" tanya Sang Jenderal dengan baritonnya yang dalam.
"Si--siapa kau? Apa maumu?" Maria memasang wajah penuh kebencian.
"Namaku Goyev Kischinko, ini adalah wakilku, Sersan Gordan, dan pria yang telah mengobatimu bernama Dokter Yvent. Siapa namamu?"
Maria terdiam. "Hey, bocah tengik! JAWAB!" sentak Gordan.
"Sersan, cukup! Bukan begitu cara memperlakukan anak gadis yang beranjak dewasa!" tegas Goyev melirik tajam.
"Maaf, Jenderal."
Beberapa saat Goyev memperhatikan Maria, senyum seringainya mulai terulas di wajahnya. "Istirahatlah, Maria. Pasti kau masih terkejut dengan apa yang terjadi pada ... keluargamu."
Sontak, Maria langsung menoleh ke arah Goyev dan langsung mendudukkan tegak badannya sembari menari-narik seragam Goyev dengan kencang. "Kembalikan keluargaku! Kembalikan mereka! Kembalikan! Kalian para penjahat tengik!"
"KAU!" kembali Gordan hampir menampar wajah Maria.
"Sersan Gordan! Ini wilayahku! Siapa pun yang akan bertindak menyakiti pasienku, akan berurusan denganku!" tegas Yvent lantang.
Goyev, Gordan, dan anak laki-laki yang bersama mereka langsung melihat ke arah Yvent. Goyev kemudian merangkul Yvent dan mengajaknya keluar sementara Gordan dan anak laki-laki yang ikut bersamanya berada di dalam.
"Dokter Yvent, kenapa Ana begitu emosional? Anda bahkan tak mengenal anak itu. Mengapa Anda bersimpati padanya?"
"Dia pasienku, dan saya telah mengatakan pada Sersan Gordan siapa pun itu, jahat atau baik, jika ia masuk ke ruanganku maka ia pasien saya. Dan tugas saya membantu mereka."
Goyev tersenyum, "Jika begitu, bisakah saya minta tolong pada Anda, Dokter?"
"Pertolongan apa yang Anda harapakan, Jenderal?"
"Kelihatannya anak yang bernama Maria ini begitu menderita, bagaimana jika kita buat dia lupa akan kesedihannya dan sedikit 'bermain' dengan dunia barunya?"
"Maksud Anda?" tanya Yvent penasaran.
"Kau tahu apa yang biasa kau lakukan." Goyev memberikan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna putih, "ini ...,"
Goyev mengangguk sambil menyeringai lebar. "Lakukan tugasmu!"
"Kau tahu apa yang harus dilakukan, Dok." Goyev memasukkan tangannya ke dalam kantong baju seragamnya dan mengambil sebuah botol kaca bening polos berisi cairan di dalamnya.
"Apa ini?" tanya Yvent penasaran.
"Sebuah obat." Sahut Goyev langsung menempelkan tangannya ke Yvent dan memberikannya.
"Obat? Obat apa Jenderal?"
Goyev merangkul Yvent dan berkata, "Di sini tak ada yang boleh bertanya macam-macam, Dok. Meskipun kau salah satu dariku, tapi di sini aku adalah sang penguasa dan aku juga orang yang mengatur semuanya, jadi ...," Goyev tersenyum tipis.
"Saya mengerti, Jenderal."
"Bagus! Berikan obat itu pada Maria, pastikan dia benar-benar sembuh, Dokter."
Yvent hanya terdiam. Ia pergi setelah mengambil obat pemberian Goyev. Tak lama ia melihat Gordan dan anak laki-laki yang datang bersama Goyev keluar dari ruangannya.
"Semoga sukses, Dokter." Ucap Gordan sambil berlalu dan mengulas senyum seringai di wajahnya.
'Semoga sukses? Apa maksudnya?' gumam Yvent. Dia melihat Maria tengah duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah luar. Mata heterochromia itu terfokus pada pandangan ilalang yang ada di luaran ruangan Yvent. Sesekali terpaaan angin sepoi melalui celah kecil ventilasi udara menggoyangkan rambut coklat gelapnya. Yvent menatap gadis itu dengan datar, dalam, dan lirih. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengannya, namun satu yang ia yakini ... sang jenderal pasti telah melakukan sesuatu pada keluarganya. Dengan langkah santai, Yvent menghampiri Maria yang tetap bergeming . Dia menyembunyikan botol pemberian Goyev di kantong baju dokternya. Dengan mengulas senyum lebar, dia berusaha membuat Maria merasa nyaman dan aman.
"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Yvent berdiri di samping Maria.
"Apa gunanya baik jika tak ada lagi orang-orang yang peduli pada kita." Sahut Maria tanpa melihat Yvent.
"Ini," Yvent memberikan sebuah roti dengan isi bacon di dalamnya.
"Terima kasih, Dokter. Anda sungguh orang yang baik hati." Ucapnya kali ini tersenyum dan melihat Yvent.
Sungguh ada rasa perlawanan yang ingin dilakukan Yvent. Berkali-kali ia melihat kelakuan sang jenderal yang membuatnya muak, namun seberapa banyak ia melihatnya, ia tak memiliki kemampuan atau kuasa untuk melawannya. Ia melihat Maria memakan roti yang dibawanya dengan lahap, seakan tak makan selama berhari-hari. 'Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini?' gumamnya menatap Maria pekat.
"Ada apa, Dokter? K--kenapa Anda melihatku begitu?" tanya Maria menghentikan makannya
"Ah, tidak--tidak. Tidak ada, kamu lanjutkan saja makannya." Ucap Yvent berseloroh sambil tersenyum.
Dia membalikkan badannya, mengambil botol yang ada di saku bajunya, 'Ini cairan apa? Apa jangan-jangan ..," "Dokter ... Dokter," panggil Maria.
"Ada apa, Maria. Apa kau perlu sesuatu?"
Maria menggelengkan kepalanya. "Bagaimana caranya melupakan sesuatu yang menyakitkan, Dokter?"
"Apa maksudmu?"
Dia terdiam, Maria kemudian berdiri dan menghampiri Yvent, menatapnya pekat, "Aku ingin melupakan semuanya, Dokter. Aku ingin melupakan sesuatu yang telah membuatku menderita, aku ingin melupakan hari itu!"
"Hari itu? Ada apa dengan hari itu? Apa yang terjadi?"
"Mereka ...mereka membunuh keluargaku! Mereka menghabisi keluargaku satu per satu di depan mataku! Mereka ... mereka tak pantas disebut manusia! Mereka tak pantas hidup! Mereka pantas mati! Para ... para pembunuh itu ... para pembunuh itu ... AAARRGGGHHH!!" Maria mulai berteriak dan tak bisa mengendalikan dirinya.
"Maria ... Maria, tenanglah! Tenangkan dirimu ... Maria!" Yvent memegangi Maria yang mulai membanting segala apa pun benda yang ada di dalamnya. Yvent berusaha tak panik. "Maria, kita bisa bicarakan ini, kau bisa cerita apa pun padaku. Aku temanmu," bujuk Yvent.
"Teman? Aku bahkan tak mengenal Anda! Bagaimana mungkin Anda menjadi temanku, Anda dan mereka sama! Aku ... aku tak ingin hidup lagi. Aku ingin bertemu keluargaku! Aku ingin bersama mereka!" teriak Maria sambil menangis kencang.
"Aku akan membantumu," ucap Yvent pelan-pelan menghampiri.
"Apa? Membantuku? Bagaimana Dokter akan membantuku? Apa Dokter tahu keluargaku? Apa Dokter tahu apa yang terjadi padaku? Apa Dokter punya alasan kenapa harus membantuku?" tanya Maria dengan senyum seakan menyindir penawaran Yvent.
"Aku tak tahu semuanya, tapi aku akan tetap membantumu."
"Atas dasar apa? Kasihan?" sindir Maria mengulas senyum seringai.
Yvent terdiam. "Karena sudah cukup aku melihat semuanya!"
Maria menghentikan isaknya, menatap Yvent dalam dengan matanya yang beda warna. "Apa maksud Dokter? Melihat apa?" tanyanya penasaran.
Yvent langsung membungkam ucapannya, "Apa kau sudah selesai? Jika sudah, istirahatlah. Tubuhmu belum pulih benar."
"Aku ingin keluar sebentar, apa boleh?" tanya Maria.
"Maria, dengarkan aku. Kau tak bisa keluar-masuk seenaknya di sini, karena ...,"
"Karena apa?"
"Karena ini tempat terlarang dan hanya mereka yang memiliki kepentingan bisa keluar-masuk tempat ini."
"Lalu aku? Bagaimana denganku? Kenapa aku bisa ke tempat ini?" beribu pertanyaan Maria membuat Yvent sedikit kewalahan menjawabnya.
"Karena kau adalah tamu kami. Jadi, sudah sepantasnya kami menyambutmu bukan?"
Seorang wanita berpakaian sipil tiba-tiba masuk ke ruangan Yvent dan memotong pembicaraan keduanya.
"Kau ...," sahut Yvent terkejut akan kedatangan wanita itu.
"Kau pasti Maria. Karleen Maria Gerarda." Ucap wanita itu menyambangi Maria.
"Kau siapa?"
"Anna Kurschove, aku adalah sekretaris Jenderal Goyev. Senang bertemu denganmu ..."
Netra Anna langsung terkesiap dan takjub melihat mata Maria yang memiliki warna berbeda. "Mata ... mu, sungguh indah." Tanpa sadar, Anna mengusap wajah Maria.
"Hentikan itu!"
Tangan Maria langsung memegang tangan Anna dengan kencang. "Aku tak kenal Anda! Jangan seenaknya menyentuh wajah orang lain!" sinis Maria menatap Anna.
"Baik, maaf." Anna langsung mengangkat tangannya menjauhi wajah Maria.
Netra wanita berambut pendek dengan potongan rambut bergaya Marilyn Monroe itu beralih ke Yvent. Sambil menarik senyum tipis di wajah eksotisnya, Anna berujar, "Dia menarik."
Yvent langsung menarik tangan Anna dan membawanya keluar ruangan, sementara Maria hanya tertegun dan terdiam melihat sikap yang ditunjukkan keduanya.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa ke sini?" tanya Yvent tak senang dan merendahkan suaranya.
"Menurut Anda apa, Dokter? Bukankah kau memiliki benda itu? Aku hanya ingin memastikan jika Anda benar-benar melakukannya," senyum seringai Anna.
"Aku ...,"
"Atau Anda memang tak ingin melakukannya? Kulihat wajahnya cukup manis dan juga matanya yang beda warna sungguh eksotik."
"Jangan ganggu dia! Dia pasienku! Gordan yang membawanya ke sini."
"Aku tahu. Tapi, apa dia tahu siapa kau, tempat ini, dan siapa yang telah menghabisi keluarganya?" bisik Anna tak lepas dari senyumnya.
Sambil menelan saliva, Yvent berkata, "Kumohon, pergilah. Aku pasti akan melakukannya. Dia tak perlu khawatir."
"Benarkah? Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapan Anda, Dokter Yvent?"
Terdiam. Yvent mengambil botol kaca kecil pemberian Goyev dan mencoba untuk meminumnya. Sesekali netranya melihat ke arah wanita itu dengan tatapan tajam penuh kebencian. Botol yang telah ia buka dengan pelan namun pasti kini berada di ujung bibirnya dan ....
"Dokter!"