Perkenalkan, aku Salma Putri Edelweiss, putri pertama dan satu satunya dari ayah dan ibuku, ayahku pekerja keras, saking kerasnya dia tidak pernah berada dirumah, bahkan sampai dimana hari kematian ibuku. dia tidak sama sekali datang. kecewa dan marah, namun beginilah hubungan aku dan kedua orang tuaku, tidak pernah bisa disebut sebagai keluarga yang utuh. aku berusaha menjadi yang paling hebat diantara yang lain, mencoba mendapatkan apapun dengan segala usaha yang aku lakukan. aku mandiri dari kecil, meski masih sedikit bergantung pada ibuku. sejak kecil aku memang tinggal berdua dengan ibuku, ayahku hanya sesekali saja pulang. itupun kurasa seperti orang asing bagi kami. meski aku tahu prihal ayahku yang selalu berselingkuh, aku tetap ingin mengetahui bagaimana selingkuhannya. sampai sebesar ini, sampai sekuat ini aku tidak pernah tau keberadaan ayahku. kecuali dia yang dengan sukarela datang padaku sendiri.
malam ini memang sangat sunyi, aku yang hanya sendiri di rumah merasa sedikit terganggu dengan keheningan malam itu. fikiranku kacau yang hanya bisa ku lakukan adalah menelfon panji untuk menemaniku bermalam dirumah ku.
jarak rumah aku dan panji tidak terlalu jauh, rumahnya tepat di belakang rumahku.
orangtuanya juga mengenal aku dengan baik, orang tuaku juga mengenalnya dengan baik.
waktu menunjukan pukul 01. 30 wib aku buru buru mengiriminya pesan.
ji kerumah gue sebentar, penting lo bilang nyokap lo kerumah siapa kek ga usah bilang kerumah gue. bokap gue ga ada dirumah juga soalnya.
Meski ayahku, memang tidak pernah ada dirumah.
aku mengirim pesan itu ke panji, handphoneku masih ku peggang berharap secepat kilat dia membalasnya.
"ngapain gue kerumah lo tengah malem gini. jawab panji"
"Gue takut"
panji tidak membalas pesanku, namun tidak lama ada sms masuk dari panji katanya dia sudah ada di depan rumahku.
aku langsung membuka pintu rumahku dan buru-buru menyuruh panji masuk kerumah ku.
"lo kenapa?" tanya panji tanpa basa basi
"hah" kataku kaget
"iya lo nyuruh gue kesini karena lo pengen?"
"kaga bego gue sendirian dan gue takut"
"lo udah biasa sendirian dirumah ga mungkin lo takut?" katanya
"trus menurut lo gue lagi pengen?" tanyaku
"iya lo mau kan, gue ga berani ngapa2in lo ma" katanya
"oke"
"tapi gue bisa kasih lo kissing, lo bisa kissing kan?"
"hah?"
panji mencium bibirku, aku mengikuti iramanya, tidak begitu buruk bahkan lebih hebat dari dugaan ku.
dia berhenti, aku pun berhenti.
"Ternyata gue pengen lebih, gimana dong?" Tanyanya
"Ya terserah" jawabku
panji kembali mencium bibirku, dia lebih agresif dari sebelumnya.
panji kembali berhenti dan aku terdiam lagi.
"sialan gue beneran kebawa suasana" katanya
"terus?" tanyaku lagi
"Lo mau?" tanyanya, aku mengerti maksud dari perkataannya itu.
"boleh aja, mumpung ga ada orang?" kataku
sekarang aku benar benar liar, otakku benar benar bermasalah orang yang berhadapan denganku adalah orang yang bahkan aku tahu bagaimana dia bersikap santun kepada orang tuanya, lelaki hebat yang pekerja keras di usia nya yang baru 23 tahun pencapaiannya sudah banyak dan aku kadang iri kepadanya.
"lo serius?"
"terus mau Lo gimana?"
"yaudah lepas baju lo cepetan" katanya
Tanpa pemanasan, tanpa basa basi kami hanya melakukan apa apa yang sudah kami mulai, aku hanya mengikuti alur. Selanjutnya hanya menerima segala hal yang Panji lakukan kepadaku. Aku bahkan sudah lama tidak melakukan ini, entah setan mana yang merasuki ku sehingga aku melakukan hal ini dengan seseorang yang sudah ku kenal lama, entah karena rasa kesal atau karena rasa sepi ku yang membuat aku sebodoh ini.
"maaaa" suara panji tepat ditelinga ku
"maaa" suara Panji terdengar sangat berat di telingaku
"ga usah manggil manggil, lanjutin aja" kataku
aku mengikuti permainan Panji yang agresif, tubuhku bergetar dan merasa panji berhasil membuat aku semakin bersemangat bermain dengannya
"maa, maa, maaaa" suaranya mengelitik dan aku menikmatinya.
kami bermain 2 kali, panji yang gue kenal santun ternyata seagresif ini. tubuhnya mungkin akan sering ku rindukan, ya mungkin.
"gue subuh balik ya, udah bawa sarung biar dikira abis subuhan" katanya
"otak lo emang kriminal" kataku
"memanfaatkan kesempatan, ma nanti malam main lagi yaaaa. wajib" katanya
aku hanya tersenyum, bingung apa yang harus aku lakukan, seandainya aku bisa menahan diri mungkin aku dan panji tidak akan sejauh ini.
namun malam ini adalah malam pembuka untukku dan panji semakin merajut hal tabu bersama.
tubuh Panji seperti magnet, jika hanya berdua kuasa aku bisa melakukan apapun bersamanya.
meski mencoba untuk bersikap biasa biasa saja saat mengunjungi rumahnya untuk bertemu dengan ibu panji. aku dan panji selalu mencari kesempatan untuk sekedar menggeserkan kelamin kita atau hanya sekedar berciuman.
dan hari ini aku berkunjung kerumah panji, karena aku ingin mengembalikan buku bacaan punya panji, yang telah selesai ku baca. kebetulan hari sabtu aku dan dia sedang libur. ibunya karena tahu aku sangat dekat dengan panji, mengijinkan aku memasuki kamarnya. untung saja panji anak tunggal maka saat ibunya panji pamit membeli sayuran, aku dan panji kembali melakukan hal yang sama seperti tadi malam di rumahku
panji menginginkan aku yang lebih aktif, namun aku enggan melakukannya, jadi aku menolaknya, sebab aku ingin melakukannya di ruang tamu yang kebetulan sepi, panji mengiyakan ajakan ku, padahal semalam sudah 4 kali, dan ditambah 2 kali siang ini. panji bermain lebih hebat dari sebelumnya, dia sangat hebat urusan ini aku yang tak berdaya, menikmati semua hal yang kami lakukan. kesal ku hilang sekejap, rasa sepi ku hilang seketika, panji dengan lembut mencium keningku, aku memeluk Panji dengan erat, bibir Panji mencium ku.
"sialan, gue pengen terus terusan ketemu lo" katanya
"iya samaaa, gue jadi candu sama lo" kataku
"ah kesal, kenapa harus sama lo? ma" tanyanya
"apa yang kenapa?" kataku sedikit marah
panji menghela nafas,
"andai gue ketemu lo lebih dulu, mungkib Lo jadi pacar gue" ucapnya
"gue ambil parfume dulu takut ketauan nyokap gue" sambungnya lagi
dia menyemprotkan parfumnya ke kursi
"maaa mau mau lagi?" tanya panji
"besok lagi lah, ya kali sih capek gue" kataku
"iya sih yaudah" katanya singkat
"besok gue ngampus sampe sore." balasku
"iya gue jemput lo aja nanti di kampus, kita main di mobil ya, seru kali" katanya
"jangan macem macem digerebek warga di nikahin nanti"
"kaga main cantik lah" katanya menggampankan
"Ih bege sering lo ya sama cewek lo?"
"sering sih kaga tapi pernah lah, tapi enakan sama lo sih kalau urusan gini, bikin nagih"
"apa yang enak?" tanyaku
"ga ngerti tapi daya tarik lo lebih aduhay" katanya
aku yang mendengarnya merasa risih namun tetap menerimanya karena ku fikir aku juga tertarik fisik terhadapnya.
"cewe lo ga marah nanti?"
"urusan gampang" katanya
"oke besok main lagi, lebih lama ya, harus lebih oke biar sama sama enak" katanya lagi
"nanti lo suka beneran sama gue"
"kagaaaa deh, jangan sampe jatuh cinta, hubungan kita sebatas ini aja" katanya
"oke berarti nanti balik ngampus cek in aja di hotel main sampe malem" kataku
"yaudah gue yang boking nanti,"
"Oke" kataku
Kami mengakhiri obrolan malam itu, tidur dengan alarem yang ku pasang agar panji pulang subuh nanti.
ke esokan harinya aku langsung pergi menuju kampus, seperti biasa aku selalu menggunakan kendaraan umum jarak kampus dan rumahku cukup jauh 10km dan jarak antara kampus dan kantor panji sekitar 25km haha.
hari ini aku merasa berbeda, partikel kejadian semalam membuat aku tersenyum lebar, tidak jelas dan tidak tahu alasannya apa? hanya saja panji kurasa melengkapi kekosonganku. aku merasa dia cukup menjadi seseorang yang bisa aku andalkan untuk saat ini. namun aku tahu dengan pasti pacar panji sungguh sangat menyebalkan, dia lebih egois dari pada aku, sejauh yang aku ingat, panji tidak bisa menolak apapun yang di minta laras. hahah
ya laras adalah pacar panji. ah tiba tiba aku merasa kesal membahas laras.
Oh iyah aku hampir lupa memperkenalkan diriku, gara gara Panji, duniaku menjadi teralihkan, untuk sekarang panji jadi pusat segala khayalku, perkenalkan aku Salma putri edelweiss, putri tunggal dari ayah dan ibuku, ayahku jarang pulang kerumah, bahkan tidak pernah, dan ibuku setahun yang lalu tuhan memanggilnya, aku sebatang kara, hidup hanya sendiri di kota Jakarta, kota besar yang kurasa aku tak sanggup jika harus melaluinya sendiri, namun aku bisa bertahan sejauh ini, meski lingkungan ku tidak sebaik yang terlihat oleh kebanyakan orang.
Aku kuliah di jurusan management, semester TUA, tidak maksudku sudah semester menjelang akhir. Sedang sibuk mempersiapkan skripsi dll. Doakan segera beres ya. Hehe
MK hari ini sangat menyebalkan statistik ini pelajaran yang sangat menguras pikiran, kurasa semua yang ada dikelas setuju dengan pendapatku.
"ah sialan otak gue panas" teriak ku dalam kelas
semua mata tertuju kepadaku, aku hanya tersenyum, dan mereka kembali asik dengan kertas serta kalkulator ditangan.
"maa nomer 6 udah?" tanya dini kepadaku
Dini adalah temanku, teman satu satunya di kampus ini, aku jarang sekali berinteraksi dengan yang lain, terlalu abai dan tidak ingin terlalu mencolok.
"ga usah tanya.! gue pusing anjay, ga ada yang masuk ke otak gue!" kataku
"sebentar gue nyontek yg lain, nanti hasilnya bagi ke lo" katanya dini berlalu meninggalkan bangkunya, lalu dia meminta jawaban kepada teman yang lain.
Oh iya, dini adalah satu satu nya teman yang tahu segalanya tentang aku, dia tau semuanya tentang aku, bahkan dia tau siapa saja yang mendekatiku serta siapa saja yang menjadi pacarku. kadang kami jalan bareng, lalu menyewa villa untuk tidur bersama pasangan masing-masing, dini sama denganku, bahkan kurasa dia jauh lebih parah dariku, kalian tahu? dia simpanan om om, om yang bisa kapan saja di telfon oleh dini, saat dia membutuhkan sesuatu, dan ya tentu pasti harus ada feedback nya, dini hanya perlu siap bersedia kapan saja, saat si om om ini lagi kepingin. aku sudah menasehatinya untuk berhenti menjadi simpanan suami orang, tapi dia dengan santai membalikan pernyataan ku.
"katanya sudah rusaklah aku ini, sana sini mau, deket laki orang dapet duit ya biarlah toh, ga semua orang gue layanin"
aku yang mendengarnya tidak bisa berkutik, sulit sekali menasehati dia, padahal niatku baik, supaya dia tidak patah hati nantinya.
dia memang sangat bebas, hidup merantau dan sendirian, baginya asal dia bisa bertahan hidup, ya selesai, ga ada masalah hebat yang perlu di pikirkan.
"ma lo langsung balik apa mau mampir kost ku?" Tanya dini membuyarkan lamunan ku
"mau maen gue?"
"maen apaan?" tanyanya
"maen lah" kataku
"sialan serius sama siapa?"
Dini mengerti maksud dari kata maen yang ku katakan, maen itu sama halnya dengan melakukan hubungan suami istri. Istilah ini aku mencetuskan ya berdua dengan dini.
"lo tau gue punya temen cowo? yang rumahnya di belakang rumah gue itu?"
"oh yang cakep itu bukan yang kerja di PT ABC. yang waktu itu gue bilang ke lo, kalau gue mau ngedeketin dia karena mayan ganteng itu kan?"
"hahaha iya din, gue lagi mulai intens sama dia, tapi dia punya pacar"
"eh stop beb stop. keknya dia tipe orang yang udah jatuh cinta, kaya udah, ga bakalan sama yang lain" katanya
"gue sama dia semalem abis ketemu" bisik ku
"serius? Lo udah maen? Lanjutkan" katanya
"gue kira lo bakalan nasehatin gue panjang lebar" kataku
"ga bisa gue nasehatin orang yang kaya lo, lagian mayan lah ya dia cakep gitu, okelah" katanya
aku dan dini lanjut berbincang, MK statistik selesai, waktu sudah menunjukan pukul 16. 00 sore.
aku ingin mengiriminya pesan bahwa aku sudah selesai dan siap untuk di jemput panji. ternyata ponselku lebih dulu berdering sebelum sempat aku mengetik pesan untuk panji.
gue ke laras dulu ya, dia minta tolong buat anterin ke rumah bibi nya
aku langsung terpaku, saat membaca pesan yang mengembang di ponselku, tiba tiba aku merasa sesak, mataku panas dan berair. aku menarik nafas, sengaja untuk menahan air mata yang ingin jatuh membasahi pipi.
"oh oke"
Balasku singkat
"lo marah?"
balasan panji mengembang di layar ponselku.
"lo pikir gue berhak marah?"
balasku kali ini air mataku membasahi pipi
"lo tau gue punya cewek, jadi jangan marah jangan ngambek, nanti malem gue kerumah lo, buat nemenin lo bobo lagi."
Balasnya,
aku menelan ludah, suaraku tertahan di tenggorokan, sesak dan menyakitkan.
"ga usah yaaaa, gue biasa tidur sendiri."
aku klik kirim dan langsung memasukan ponselku ke dalam saku.
aku menuruni tangga demi tangga kampus, sengaja menggunakan tangga agar waktuku berkurang lebih lambat dari biasanya. aku berjalan sangat lambat, setidaknya aku bisa meredakan amarahku meski hanya sedikit.
Hari ini aku cukup tersia - sia kan, padahal kurasa aku bisa menjadi apa saja yang dia minta.
ah kenapa?
Aku tidak tahu jawaban pastinya, kurasa aku yang salah menaruh harapan kepadanya.
aku memutuskan mematikan ponselku, waktu menunjukan pukul 21. 00. pikiranku sangat tak bisa berpikir jernih, lebih baik tidur untuk meredakan rasa kesal yang masih tersisa.
"si panji ngapain aja di sana?"
"panji udah balik apa belom"
"panji kapan pulang?"
otak ku dipenuhi oleh pikiran tentang panji.
aku meraih ponselku segera ingin menyalakannya, namun sesaat aku mengurungkan niatku, aku berfikir untuk tak kecewa lagi, takut ternyata panji tidak sama sekali menghubungiku. Entah akan sehancur apa hatiku ini, saat mendapati kenyataan yang tak sejalan dengan harapan ku.
aku langsung berbaring di ranjang ku, mencoba memejamkan mataku namun aku tak bisa.
"alma" suara dari depan rumah terdengar tak asing di telinga
"maaaa, gue pinjem buku dong buat referensi, penting banget" katanya lagi
saat inginku buka pintu rumahku panji sudah tidak ada di sana.
namun suaranya samar samar terdengar sedang mengobrol di samping rumah.
"ini mau ngerjain kerjaan kantor daa, dirumah berisik mamah lagi nonton film andin, jadi aku mau ngerjain di si alma aja palingan, mumpung belum malem banget" kata panji kepada uda di samping rumahku
"iya ji istri gue juga sama andin terus sampe mabok gue, yaudah sono keburu malem" jawab uda
panji bergegas masuk kerumah ku, sengaja pintu rumah ku buka, supaya dia bisa langsung masuk ke dalam.
aku tidur dikamar.
panji meletakan laptopnya di ruang tamu, lalu masuk ke kamarku.
dia langsung tidur di sampingku, dia memeluk dan menciumi pipiku, dia mencium leher ku. Aku membiarkan dia bermain dengan tubuhku
"kamu tahu? gue menahan ini dari jam 5 sore tadi, pikiran gue cuma tertuju ke lo, ditambah lo ga bisa dihubungi gue kesel, gue marah" katanya berbisik di telingaku dan berakhir dengan gigitan kecil di daun telingaku.
"lo pikir gue ga marah? gue marah lo lebih mementingkan dia ketimbang gue?"
Aku memutarkan tubuhku menghadap langit langit kamarku, Panji meregangkan pelukannya.
dia mencium bibirku dengan kasar, mengigit bibir bawahku lalu berhenti.
"Maaa, gue minta maaf" katanya
Aku hanya terdiam,
"Maaa, aku disini, sudah disini, tolong jangan marah lagi" katanya
aku menikmati semua sentuhan yang panji berikan kepadaku. Dia membuat amarahku padam, entah sihir apa yang dia berikan padaku.
"mau main?" tanya panji
"belum malem?"
"gapapa aman
Panji melucuti pakaianku satu persatu, dia menyentuh semua bagian tubuhku, aku tak berdaya.
"suka?" tanyanya
dia meraba bagian bagian sensitif ku.
"Menurut lo gimana?" tanyaku
"entahlah" katanya
"gue menikmati" jawabku
Aku dan panji mulai mengeluarkan keringat, tidak ada sehelai pakaian pun di tubuhku, begitu juga Panji. kami kembali melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan.
kami melakukan segala gaya, entah gaya yang pernah ku lihat di film dewasa, ataupun yang belum pernah kulihat, menurut Panji gaya yang paling enak saat aku berada di atas, namun bagiku, aku lebih suka saat aku terelntang dan Panji berada di atas ku. menurutku itu sensasi yang luar biasa.
Panji mengigit telingaku, seperti biasa aku semakin menjadi jadi, kurasa Panji sudah tahu, bagian yang paling bisa membuat aku berdesis renyah.
aku melihat wajah Panji yang rasanya dia juga menikmati permainan ini, wajahnya yang seperti itu membuat aku candu, ingin melihatnya lagi dan terus, tapi apa boleh aku melakukanya lagi dan lagi. tentang perasaan apa yang menjelma dalam dada, kurasa Panji seharusnya bertanggung jawab atas perlakuannya kepadaku, esok jika rasaku berubah menjadi sesuatu yang rumit, aku yakin penyebabnya adalah diriku, yang dengan bodoh membiarkan lelaki ini masuk dalam kehidupanku, saat hatinya, dan hatiku telah mencintai orang lain, kurasa ini salah. ya ini salah.
"maaa, gue menikmati" katanya berbisik lirih
Aku menikmati semua alur yang dia buat, semua hal yang dia lakukan membuat aku menjadi ingin terus dan lagi bermain dengannya, padahal seharusnya aku merugi memberikan tubuhku pada lelaki yang bahkan bukan kekasihku.
"maa, enak?" ucap Panji yang masih berada di atas tubuhku
"Enak, udah ji? gue mau pake baju, sana ke ruang tamu dulu"kataku
"Masih kurang, tapi gpp bisa lagi nanti" katanya
aku melihat jam di dinding, pukul 22. 10 wib.
Panji mengenakan pakaiannya, lalu menuju ke ruang tamu. Aku membereskan tempat tidurku, dan merapihkan tubuhku kemudian menyusul panji ke ruang tamu.
Aku mengenakan pakaian blouse selutut, pakaian dalam ku, tidak ku kenakan. Panji berada di bangku sebrang, dan aku berada di sebrang lainnya, dia sibuk dengan laptop dan aku rebahan di bangku panjang sambil memainkan ponselku.
Ternyata panji menghubungi ku 30 kali dan pesan whatsap 50kali aku tertawa melihatnya.
"Kenapa ketawa?" tanya panji
"Gpp lucu aja"
"Lo kenapa pake baju itu?"
"Kenapa emang?"tanyaku
"Sengaja biar gue kepancing lagi?" tanyanya
"apa sih ga jelas Lo" kataku
Panji tertawa terbahak.
Aku menggoda panji yang sedang asik dengan laptopnya. menurunkan baju agar terlihat bagian dadaku.
Panji melirik kearahku, dia tersenyum masam
"Yang ga usah di situ deh duduknya, keliatan tetangga sini pindah sini" katanya
Aku menolak panji.
"Ga ah takut di terkam harimau" kataku
"Kalau disini lo ga bakalan berani nyentuh gue"tambahku
aku dan panji tertawa terbahak
"Gue jadi candu maaa, gimana dong" katanya lagi
"Gue juga candu, lo enak mainnya gue menikmati" kata ku
"Besok bakalan lebih intens dari ini, gue ga mau sedetikpun waktu gue sama lo ilang" kata panji
Aku tersenyum kepadanya dia mencium kening ku lalu pamit peluang kerumahnya.
Aku menutup pintu rumah ku. Kursi langsung ku semprot parfume takut menyisakan bau bau yang tak sedap.
malam itu aku tertidur dengan lelap, lelah sekali bermain dengan Panji berkali kali.
saat subuh tiba, pintu rumahku ada yang mengedor, ku kira ayahku pulang, namun ternyata panji yang lepas sholat subuh langsung main kerumahku.
"ada apa?" tanyaku
"ma bukan pintu dong" katanya
aku membukakan pintu untuk Panji, dia baru saja turun dari masjid, bahkan rambutnya masih basah wangi shampo yang khas, aku yang sudah sadar dengan gelagatnya mencoba menghindari dia sebisaku, namun ternyata tidak bisa, sekali lagi pagi itu kami bermain, desahan demi desahan kami ciptakan, tubuhku kembali berkeringat, begitupula panji, kami menikmati permainan ini.
kami menghabiskan waktu sebelum jam 6 pagi hanya untuk berolahraga dan berbagi keringat di ranjang kamarku, sialan dia jadi saksi bisu ke ganasan aku dan panji, sebelumnya aku tidak pernah melakukan adegan ini dirumahku, namun kali ini mungkin karena lawan mainku sahabatku sendiri. Maka aku seberani ini. tapi bagaimana bisa aku melakukan hal ini lagi dan terus, kurasa semalam sudah lebih dari cukup, lantas mengapa pagi ini aku mau diajak main d dengannyaa lagi.
"pagi gue pasti lancar kalau udah gini" katanya
"kenapa?"
"dapat energi banyak banget" katanya lagi
"yaudah balik gih bentar lagi ibu ibu bakalan keluar buat nyapu teras" kataku
"iyah siap tuan putri. aku pamit yaaaa semangat kuliahnya, nanti sore balik ngampus aku jemput" katanya
"iya siap"
dia mencium kening ku lalu berlalu.
kalian tahu, panji akan memanggilku aku dan kamu, jika dalam keadaan terpuaskan. Coba pastikan.
hari ini berlalu dengan indah, karena partikel partikel antara aku dan panji tercipta, sebuah kenikmatan yang begitu ku nikmati, ah mengapa aku sejauh ini dengan panji.
sore itu pukul 16. 45 aku sudah menunggu panji menjemput ku. kata panji jam 5 sore mungkin dia baru sampai kampus ku, namun ternyata mobil panji sudah terparkir di dalam kampusku. aku afal mobilnya. brio hitam.
"aku udah di parkiran ya sayang"
satu pesan masuk di ponselku
"aku langsung meluncur kesitu sabar yaaaaa"
aku bergegas masuk kedalam mobil panji, dia tersenyum kearahku. aku yang baru saja duduk di dalam mobil langsung di sosor panji, bibirnya menyium bibirku.
"yah tegang" celetuk panji sembari memegggang barang berharganya
"langsung ke hotel apa makan dulu" tanyaku
"pesen makan terus langsung ke hotel, kita makan disana"
"ide bagus"
kami pergi ke burger king untuk memesan makanan, kemudian langsung melaju menuju hotel, kami saling tatap, meski rasanya kami sedang mabuk asmara, aku tidak ingin jauh dengan Panji begitu pula Panji, ku rasa dia ingin bersama ku selalu.
"lo kalau punya pacar gimana?" tanya panji
"lah emangnya kenapa?" tanyaku balik
aku tahu apa yang ada dipikirannya, apakah ketika akhirnya aku menemukan pacar, mungkin aku tidak akan mau lagi melakukan semuanya bersama panji. Satu hal yang panji belun tahu, bahwa di hatiku sebenarnya ada seseorang yang kuharapkan hadir di hidupku, namun dia keduanya ku butuhkan sebagai pelengkap hidupku. meski di hatiku ada seseorang, namun dia bukan pacarku, dia sama dengan panji hanya sahabatku namun aku begitu mencintainya.
"ya ngga, kan kalau lo punya pacar, lo ga bakalan bisa diajaki ketemu lagi" katanya
"gue ga tau, sekarang liat orang lain malah ga begitu tertarik. gue malah lebih tertarik ke lo" aku mencoba mengalihkan pandanganku
"gimana maksudnya?"
"gue ga tau perasaan apa yang ada di diri gue, kalau pun cinta rasanya mustahil lo bisa cinta ke gue balik"
"apa menurut lo gue ga suka sama lo?" tanya panji
"ya ga mungkin, lebih ke aneh tipe lo bukan kaya gue"
"iyaaa sih, lo tau banget tipe gue kek gimana, dari SMP sampe hari ini, gue selalu liat cewek dari fisik, tapi lo beda, gue ga mungkin main sama orang yang gue ga mau, karena kita udah sejauh ini, berarti gue mau sama lo, gue suka bareng lo, apalagi lo montok, lo manis kalau prihal cinta gue ga tau soal ini"
"gue juga tertarik ke lo karena fisik, lo tau lah ga ada cewe yang ga suka pas liat lo hahaha"
panji tersenyum, mobil sampai di pintu masuk burger king. panji mengisyaratkan aku untuk menutup bajunya untuk menutupi adik mungil miliknya.