Alhamdulillah.
Penulis : Lusia Sudarti.
"Dek ... seandainya Abang belum bisa membahagiakan kalian disisa hidup Abang. Abang mohon maaf yang sebesar-besarnya ....!"
"Emaak, Adek lapar udah masak belum Emak?" tanya Kurnia, Anak keduaku.
Aku terkesiap mendengar ucapan dan pertanyaannya. "Belum Sayang. Maafin Emak ya," ucapku pilu sembari merengkuhnya dalam pelukan. Tak terasa titik-titik embun menggenang dalam pelupuk mataku.
"Ya sudah kalo gitu Adek Nia main dulu ya mak, nanti kalo emak udah mateng masaknya, Adek panggil aja ya Mak!" ujarnya sambil beranjak dari kedua pahaku. Aku mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. "Iya Sayang," sahutku dengan suara parau
Selepas kepergiannya aku menangis dalam diam, tubuhku luruh kelantai.
'Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu yang Maha besar.
Namaku Hanum aku hidup bersama Suami dan kedua orang Anakku. Anak sulungku bernama Fandi, ia duduk di kelas dua SD, Kurnia masih berusia empat tahun. Suamiku bernama Hardi, ia bekerja sebagai buruh serabutan. Sedangkan membantu bekerja sebagai buruh cuci setrika dari rumah kerumah.
Namun, baik penghasilanku atau pun
Bang Hardi belum mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kami.
Zaman sekarang kebutuhan pokok telah melambung.
Kami tinggal di rumah gubuk sederhana peninggalan orang tua Bang Hardi.
Rumah tangga kami baik-baik saja, Bang Hardi tipe lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
Aku termenung seorang diri, sementara Bang Hardi belum kembali dari bekerja sebagai buruh cangkul di sawah tetangga.
Aku berfikir kira-kira apa yang dapat kumasak untuk makan siang ini.
Kulangkahkan kakiku dengan langkah yang tertatih menuju tudung saji yang berada diatas meja makan persegi yang telah usang.
Disana hanya tersisa sekitar dua sendok makan sambal terasi di dalam mangkuk plastik berwarna hijau, dan dipiring kecil tersisa beberapa potong kepala ikan asin sisa semalam.
Dan juga beberapa potong singkong rebus sisa sarapan tadi pagi.
Aku mengedarkan tatapanku kesebuah plastik yang tergantung disamping rak piring yang terbuat dari kayu. Aku melangkah untuk memeriksa isi kantong plastik yang tergantung.
Kedua netraku membola, aku melihat isinya dengan rasa bahagia.
'wah beras AKING rupanya. Alhamdulilah Ya Allah ... semua ini akan kuolah menjadi nasi kembali. Untuk Anak-anakku nanti."
Aku memindahkan beras aking tersebut kedalam wadah, kutakar dahulu. Dua kaleng susu, lumayan untuk pengganti nasi.
Aku mencuci beras aking dengan doa semoga menjadi berkah buat keluargaku.
Dengan cekatan aku menyalakan api ditungku sederhanaku. Ya karena melonjaknya bahan pangan, aku tak mampu membeli gas buat memasak dikompor.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Setengah jam kemudian nasi pun telah matang, segera kuangkat dari kukusan dan kutaruh di sangku agar cepat dingin, aku mengambil kipas yang terbuat dari anyaman bambu untuk mempercepat proses pendinginan. Namun Kurnia telah berada dibelakangku, rupanya ia benar-benar kelaparan.
"Emak, udah masaknya!" Kurnia muncul dari pintu dapur dan menghampiri aku yang sedang menyendok nasi aking yang masih mengepulkan uap panas.
"Udah Sayang, ayo kita makan!" jawabku sambil mencuci tangannya.
"Enggak apa-apa lauknya pake kepala ikan asin dulu ya? Nanti jika kita punya uang kita beli ikan asin yang segar," ujarku kepadanya dengan pelan.
"Iya Mak, gak apa-apa kok. Enak itu," sahutnya dengan kedua netra berbinar. Aku menghela nafas perlahan, hatiku sedih bagai tercabik-cabik.
Aku meniup nasi yang masih panas dan menambahkan kepala ikan asin yang kupotong kecil-kecil kedalam nasi lalu menyuapkan kepada Kurnia.
Ia makan dengan begitu lahap, senyum manis tersungging dari kedua bibirnya.
"Mak ... kok rasanya gak sama kayak nasi yang biasa Adek makan ya?" tanyanya dengan mulut penuh dengan nasi.
Aku tertegun sesaat sebelum aku menjawab pertanyaan polosnya.
"Iya Sayang karena nasi yang ini adalah nasi aking."
Kurnia menatapku sesaat kemudian ia fokus kembali kearah piringnya.
"Nasi aking itu nasi yang bagaimana Mak?" tanyanya lagi.
"Nasi aking itu adalah nasi yang sudah dijemur dan kering lalu dimasak kembali," jawabku sembari mengusap lembut rambutnya.
"Oh gitu ya Mak," sahutnya.
"Iya Sayang. Tapi enakkan?" tanyaku.
"Enak Mak. Boleh Adek nambah dikiiiit lagi Mak, adek belum kenyang."
Aku tersenyum mendengarnya.
"Boleh dong Sayang!" aku menyendok nasi dan kutaruh didalam piringnya. Ia tersenyum melihat nasi di piringnya yang telah berisi nasi kembali.
Aku masih menyuapinya dengan sabar.
Aku hanya mampu menyimpan semua rasa dihatiku. Aku tak ingin melihat Anakku bersedih karena keluh kesahku.
'Ya Allah, ya Robb. Tolong ampuni ketidak berdayaanku dalam memberikan nafkah untuk Anak-anakku," lirih batinku.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar salam dari arah pintu dapur. Sosok Bang Hardi muncul, dari tubuhnya mengucur keringat dan membasahi kaos yang telah kusam menempel di badannya.
"Waalaikum salam, baru pulang Bang?" tanyaku sambil menyuapi Kurnia.
Bang Hardi tersenyum kepada kami.
"Iya Mak. Aduh Anak bapak lagi makan ya? Minta dong," sapa Bang Hardi kepada Kurnia yang masih menikmati makan siangnya.
"Enak lo Pak, Adek Nia makan sama kepala ikan asin," sahutnya dengan tersenyum.
"Oh ya benarkah, mau dong," ujar Bang Hardi kepada Anaknya.
"Boleh. Ya kan Mak."
Aku mengangguk.
"Udah kenyang Adek Mak," seru Kurnia.
"Udah kenyang Sayang?" tanyaku sembari menyodorkan air minum kepadanya.
"Iya Mak, Adek main dulu ya Mak!" ujarnya sembari beranjak bangkit lalu menuju keruang depan tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku hanya menghela napas perlahan, dan Bang Hardi tertunduk lesu dan sedih.
"Ya udah bang, istirahat dulu, biar kering kering keringat ditubuh Abang, setelah itu mandi lalu makan siang," titahku kepada beliau.
"Iya Dek. Maafin Abang yang belum bisa membahagiakan kalian," jawabnya dengan sedih.
Aku tersenyum mendengarnya. "Enggak apa-apa Bang, yang penting kita sudah berusaha semampu kita. Jika memang kita belum berpunya, itu suratan takdir darinya," jawabku sambil mencuci piring bekas makan Kurnia.
"Dek ... seandainya Abang belum bisa membahagiakan kalian disisa hidup Abang. Abang mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar suamiku sambil tersenyum. Namun menurutku itu bukanlah sebuah senyuman, tetapi lengkungan patah dan menyerah.
Aku bingung mendengar ucapan Bang Hardi selalu meminta maaf! Sebenarnya apa yang akan terjadi terhadap kami ...? Berbagai pertanyaan berkelindan di kepalaku, namun aku berusaha menepisnya.
Aku mendongak dan menatap kearah Bang Hardi. "Abang bicara apa sih? Emak gak suka mendengar abang bicara seperti itu lagi," jawabku sembari menghampirinya.
"Mak, Adek Nia main di halaman samping sebentar ya?" ujar Kurnia kepadaku.
Ia berjalan dari ruang depan, mungkin bosan berada seorang diri diruang depan.
"Jangan ketempat yang panas ya Sayang," jawabku.
"Iya Mak."
"Hati-hati ya Sayang?" timpal Bang Hardi.
"Iya Pak."
"Bang, jangan bicara seperti itu lagi, aku menjadi sangat sedih mendengarnya."
Aku menjatuhkan bobot tubuhku di sampingnya. Bang Hardi mengipas tubuhnya menggunakan topi bulat anyaman yang selalu dipakai jika bekerja.
Next kah?
Kita Bisa Makan Enak Mak Sore Ini.
Penulis : Lusia Sudarti.
Aku merasakan ia berurai air mata. Aku sedikit mendongak untuk menatapnya.
Benar saja, kedua netranya terlihat sembab. Dan masih ada jejak air yang menggenang.
Part 2
Entah mengapa hari ini Bang Hardi seolah enggan jauh dariku dan Anak-anaknya.
Senja menampakkan dirinya, menggantikan siang yang terik.
Aku seperti biasa bekerja sebagai buruh cuci setrika di rumah tetangga yang tak jauh dari kediamanku.
"Num, jangan lupa yang ini dicuci sampai putih lagi ya?" ujar Bude Ani sambil menyerahkan baju seragam SMA yang terlihat sangat dekil dan kotor. Aku mengamati seragam yang ada di tanganku. Aku bingung bagaimana caraku menghilangkan noda, yang sepertinya noda getah pohon pisang.
"Juragan, tetapi ini sepertinya noda dari pohon atau daun pisang. Dan akan sangat sulit untuk di hilangkan. Kecuali dengan serbuk khusus atau cairan penghilang noda membandel," ujarku kepada Juragan Ani sambil meneliti seragam ditanganku.
"Ah, masak sih Num!" ujar Juragan Ani lagi sambil memeriksa noda yang ada diseragam putih milik putrinya.
"Iya Num kamu bener. Tapi kenapa seragam Ajeng sampai terkena getah pohon pisang!" ujar Juragan Ani sembari meletakkan seragam dalam ember yang berisi rendaman pakaian.
Sedang beliau beranjak masuk kedalam rumah megahnya.
Aku melanjutkan pekerjaanku hingga selesai. Juragan Ani meskipun kaya raya, namun beliau sama sekali tak pernah pelit. Satu hal yang aku suka bekerja pada Juragan Ani, jika pekerjaanku selesai beliau selalu membayar lebih. Bahkan sering kali beliau memberikan makanan ataupun sembako.
Beda sekali sifatnya dengan Anak gadisnya yang masih SMA kelas tiga, yang namanya Ajeng. Ia suka seenaknya kalo bicara sama orang, bahkan yang lebih tua darinya.
Karena hari ini tak terlalu banyak yang harus kucuci setrika makanya aku pulang cepat.
"Num, ini gaji kamu! Dan ini ada sedikit lauk untuk Anak-anak kamu. Semoga Anak-anak kamu suka ya!" ujar beliau memberikan uang sebesar lima puluh ribu sebagai upahku. Aku terbelalak melihat selembar uang berwarna biru tersebut.
"Ini kebanyakan Juragan, bukankah gaji saya hanya empat puluh ribu," ujarku sambil mengembalikannya kepada Juragan Ani.
Namun Juragan Ani mendorong tanganku sembari berucap. "Itu tambahan buat kamu Num, saya tau kamu sangat membutuhkannya!" ujar Beliau dengan suara lembut.
Aku menatap Beliau dengan terharu.
"Terimakasih Juragan. Saya memang sangat membutuhkannya!" jawabku sendu.
"Saya juga turut prihatin ya Num. Tapi percayalah, saya yakin suatu saat nanti kamu pasti hidup bahagia," ujarnya menasihati. Aku mengangguk.
"Terimakasih banyak Juragan. Kalau begitu saya mohon pamit dahulu."
"Iya Num, hati-hati di jalan ya!" Juragan Ani tersenyum.
Aku membalas dengan anggukan lalu meninggalkan rumahnya.
Dalam perjalanan aku tak berhenti mengucap syukur atas ni'mat yang Allah berikan pada hari ini.
Aku melangkah dengan hati bahagia. Aku bisa menyisihkan sedikit uang yang aku dapat untuk beberapa hari. Aku membawa satu plastik berisi beras dan entah apa lagi.
Aku berjalan melewati warung yang tak jauh dari gubukku.
"Eh Hanum ... tumben banyak banget belanjaan kamu hari ini? Kamu sudah gajian ya ... bayar hutang kamu! Enak aja beli di warung lain, kalo ngutang kewarungku," hardik Bude Sinta ketika aku melintasi warungnya. Seketika aku berhenti lalu memutar tubuh.
Hatiku sedikit terluka mendengar ucapannya.
"Ya Allah Bude! Ini pemberian Juragan Ani!" ujarku sambil mengangkat kantong plastik ditanganku.
"Alaaah, bohong kamu! Bilang aja gak mau bayar hutang!" sahutnya dengan tatapan sinis. Aku malu karena banyak pelanggan warungnya yang menatapku.
Mereka berbisik-bisik sambil sesekali melirik kepadaku. Mungkin mereka tengah menggunjing aku.
"Ayo bayar sekarang!" ia mendekatiku dengan menengadahkan tangannya.
"Benar yang Hanum bilang. Hanum baru saja selesai bekerja di rumah saya!"
Juragan Ani membalas ucapan Bude Sinta dengan nada tegas dan berwibawa.
Aku memutar tubuh ketika mendengar suara Juragan Ani. Beliau menatapku dengan lembut. "Num, ini ketinggalan!" beliau memberikan plastik yang entah apa isinya.
Dan Bude Sinta terdiam setelah mendengar langsung penjelasan dari Juragan Ani.
"Alah, hidup miskin aja belagu!" umpatnya sambil berlalu dan melayani pelanggannya.
"Sudah! Pulanglah Num, kasihan Anak-anak menunggu di rumah."
"Terimakasih Juragan!" aku menundukkan kepalaku dan melangkah menuju kerumahku.
Tak aku hiraukan cercaan mereka, setelah Juragan Ani putar balik kerumahnya.
"Assalamu'alaikum!" aku mengucapkan salam dan masuk melalui pintu dapur.
Di ruang tengah Fandi dan Kurnia sedang bermain.
"Waalaikum salam, Emak bawa apa!" Songsong kedua Anakku ketika melihatku menaruh plastik dari Juragan Ani keatas meja makan.
"Emak juga gak tau. Coba kalian periksa," titahku kepada mereka berdua. Mereka membuka plastik dan memeriksa isinya.
"Waaahh Mak, ini ada kue Mak. Sama susu kotak Mak dua Mak ...!" seru Nia dengan girang dan bahagia, aku melihat ada beberapa potong kue dan susu juga makanan lainnya.
"Ini ada ayam goreng empat iris sama sayur Mak, kita bisa makan enak Mak sore ini," ujar Fandi dengan raut wajah bahagia.
"Alhamdulillah Nak, ini rezeqi buat kalian buat kita semua," sahutku sambil mengucap syukur dalam hati.
"Bapak belum pulang ya?" tanyaku kepada mereka berdua.
"Belum Mak."
Aku segera menaruh beras dan yang lainnya ketempatnya. Lalu menyimpan lauk pauk dan kututup dengan tudung saji.
"Mak, boleh Fandi minta kuenya ....," ujar Fandi sambil menatapku.
"Nia juga ya Mak," sahut Kurnia.
Aku meraih mereka dalam pelukan, aku terharu melihat mereka yang tak pernah mendapatkan yang mereka inginkan, meskipun hanya satu buah susu.
"Itu buat kalian. Itu adalah rezeqi buat Anak-anak Soleh dan Soleha seperti kalian," ujarku sambil tersenyum menahan segala kepedihan.
"Hooreee, Adek satu Abang satu nih!" Fandi dan Kurnia melonjak girang.
Aku tersenyum kembali melihat mereka tersenyum. 'Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan sedikit rezeqi untuk Anak-anakku, Amiin," lirih batinku.
"Assalamu'alaikum.'
Aku menoleh ke arah pintu. "Waalaikum salam. Abang baru pulang!" tanyaku sambil mencium punggung tangannya yang berlumuran tanah.
"Bapak, Adek sama Abang diberi susu kotak!" teriak Kurnia dengan senyuman mengembang dari bibirnya.
"Ohh, benarkah ...!" ujar Bang Hardi sambil berjongkok menyamai putri kecilnya.
"Bapak mau!" ia menyodorkan pipet kearah bibir Bang Hardi.
"Emm, enak ya susu kotak," ucapnya setelah menyesapnya sedikit.
Aku tersenyum melihat keakraban Bang Hardi bersama Anak-anaknya.
"Dapat rezeqi dari mana Dek?" tanyanya sambil melepas kaos yang basah oleh keringat.
"Dari Juragan Ani Bang. Bukan hanya itu, juragan Ani juga memberikan sembako dan uang," jawabku bahagia.
"Alhamdulilah, rezeqi dari mana aja datangnya. Tinggal kita yang harus selalu pandai bersyukur!" tukas Bang Hardi sambil duduk di bale-bale yang berada didapur. Dimana biasanya kami menghabiskan waktu. Atau beristirahat setelah pulang bekerja.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Aku mengantarkan Fandi menuju ke masjid untuk belajar mengaji dengan berjalan kaki, karena memang tak terlalu jauh jaraknya dari kediamanku.
Sementara Bang Hardi bermain bersama Kurnia di rumah. Matahari terlihat memerah di ufuk barat, ia akan kembali keperaduannya.
Gegas aku menyusuri jalan beraspal agar aku segera tiba di rumah. Kalo pulangnya, Fandi akan diantar oleh Guru mengajinya, karena searah dengan mereka. Mengaji pun tak terlalu lama, hanya sekitar satu jam setengah.
Aku menyiapkan untuk makan malam sembari menanti adzan magrib. Fandi baru saja pulang dengan diantar guru mengajinya.
Anak-anak bersantai sejenak dengan Bapaknya di ruang depan. Tepat sekali, aku selesai menyiapkan untuk makan malam, adzan magrib berkumandang.
"Alhamdulilah, ayo kita sholat berjamaah!" titah Bang Hardi sembari bangkit untuk mengambil wudhu, aku dan Anak-anak mengekor dibelakangnya.
Lalu kami melakukan sholat berjamaah di ruang sholat.
Entah mengapa Bang Hardi sedikit lama dari biasanya melakukan dzikir.
Setelah bersalaman dengan kedua Anaknya.
Aku mencium punggung tangan Bang Hardi. Ia mencium keningku dengan lembut.
Aku merasakan ia berurai air mata. Aku sedikit mendongak untuk menatapnya.
Benar saja, kedua netranya terlihat sembab. Dan masih ada jejak air yang menggenang.
"Yuk kita makan Dek!" ujar Bang Hardi.
"Ayo Pak, Adek udah gak sabar mau makan ayam goreng dari Juragan," sahut Kurnia, ia tersenyum dan menampakkan lesung pipinya.
"Iya, Abang juga Dek," seru Fandi. Aku dan Bang Hardi hanya tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Kami bergandengan tangan menuju dapur.
"Mak, Adek mau ayam gorengnya," ujar Kurnia.
"Abang juga Mak," sahut Fandi. Aku tersenyum mendengar ucapan antusias mereka.
'Ya Allah, terimakasih atas nikmat dan Rezeqi yang Engkau berikan untuk keluargaku, Amiin ...!" aku berdoa dalam hati.
"Maafin Bapak ya Anak-anak, Bapak gak mampu memberikan makanan yang layak buat kalian," ujar Bang Hardi pilu, ia menunduk untuk menahan air mata agar tak jatuh.
Suasana menjadi hening sesaat.
"Ayo makan, jika kita bersyukur maka Allah senantiasa mendatangkan rezeqi entah dari mana saja datangnya," ujarku.
"Iya Mak, begitu juga yang diucapkan oleh guru ngaji Abang," sahut Fandi dengan dengan suaranya yang khas penuh dengan nasi.
Bang Hardi tersenyum mendengar ucapan Fandi. Ia mengusap pucuk kepala Anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Kami menyantap makan malam dengan suka cita.
Anak-anak selepas makan mereka menuju ruang depan, yang tampak dari dapur. Kurnia menemani Abangnya belajar. Sedang aku dan Bang Hardi masih berada di meja makan.
"Dek, gimana ya. Abang sudah berusaha untuk mencari pinjaman namun belum mendapatkannya. Juragan Hendra menolak untuk memberikan pinjaman kepada abang," ucapannya lirih, ia menghela nafas perlahan.
Aku termenung mendengar ucapan bang Hardi. 'Kemana lagi aku harus mencari pinjaman."
Sejenak aku termenung ...!
"Besok akan kucoba meminjam kepada Juragan Ani Bang. Semoga beliau tak keberatan," ujarku. Bang Hardi menatapku sesaat, lalu ia tersenyum.
"Abang merasa tak berguna menjadi seorang Suami dan Bapak!" Bang Hardi meremas jemari tanganku. Aku menggenggamnya erat untuk memberikan sedikit kekuatan kepadanya.
(Bersambung)
Mohon bijak dalam memilih bacaan Rate 21+++
Kenapa Suamiku Kedua Kakinya Tak Berpijak.
Penulis : Lusia Sudarti.
Part 3
"Abang merasa tak berguna menjadi seorang Suami dan Bapak!" Bang Hardi meremas jemari tanganku. Aku menggenggamnya erat untuk memberikan sedikit kekuatan kepadanya
Bang Hardi akhir-akhir ini selalu melamun, bahkan ia sering kali bangun tengah malam untuk melakukan sholat malam, dan setelahnya ia tak langsung istirahat, ia berzikir begitu lama dan panjang.
"Dek, Abang ingin menghabiskan waktu Abang bersama kalian, ayo kita kedepan sambil membantu Fandi belajar," Bang Hardi menarik lembut tanganku.
"Abang duluan, Adek mau mencuci piring sebentar," tolakku dengan halus, aku tersenyum manis untuknya.
"Oh ya sudah. Abang tunggu di depan ya!" ujar Bang Hardi sembari mencium pipiku, setelah itu ia meninggalkan aku di dapur seorang diri.
Aku tertegun menerima perlakuan Bang Hardi, aku menatap punggungnya yang berguncang saat melangkah.
Tapi tunggu ... ada yang aneh dengannya, kenapa kedua kakinya seolah tak menapak lantai semen yang ia pijak ... aku mengucek kedua bola mataku.
Kembali aku melihat kearah kedua kakinya, namun tetap sama seperti tadi.
Bang Hardi telah menghilang di balik almari pakaian yang menjadi sekat antara dapur dan ruang tengah. 'Ah sudahlah mungkin hanya perasaanku saja, atau aku sedang berhalusinasi," gumamku.
Aku sadar dari lamunanku dan gegas mencuci piring bekas makan lalu mengelap meja hingga bersih. Aku menyusul Suami dan Anak-anakku keruang tengah, sambil membawa secangkir kopi manis untuknya, aku mendengar mereka bercanda dengan kedua Anak kami.
"Kok Emak gak diajak ketawa sih!" ujarku sembari menaruh segelas kopi di atas meja, lalu bergabung bersama mereka.
"Ini Mak, Abang kan cerita kalo di sekolah Abang ada guru baru yang sangat cantik, dan Ibu guru itu sangat baik sama Abang," sahut Fandi bercerita dengan riang.
"Terus Bapak minta di kenalin sama guru baru Abang Mak. Kata bapak jangan bilang sama Emak," Fandi senyum-senyum menatap Bang Hardi yang juga mengulum senyum sambil menatapku.
"Emmm gitu ya!" aku menggelitik pinggangnya, Bang Hardi tertawa terbahak-bahak menerima gelitikan dariku.
"Ampun Dek, abang cuma bercanda kok hehehe."
Aku bersungut kepadanya.
Kurnia dan Fandi terkekeh melihat kami berdua.
Kemudian aku mengalihkan pembicaraan kearah Fandi.
"Oh ya. Siapa namanya?" tanyaku sambil memasang wajah penasaran.
"Eemm, namanya Ibu Rika," jawab Fandi.
"Namanya cantik ya?" pujiku dengan tulus.
"Nama Emak juga cantik seperti Emak," sahut Fandi, ia mengusap lembut pipiku yang membuatku menjadi terharu.
"Iya, Emak adalah wanita tercantik yang pernah Bapak temui," ujar Bang Hardi yang membuatku menjadi salah tingkah.
Wajahku pasti mirip udang goreng hehehe.
"Bapak juga ganteng kok," aku mengamati wajah Bang Hardi yang nampak bersinar, semakin terlihat memesona.
"Pastinya gitu lho," sahutnya memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Nia, sini Nak ....!" panggilku ketika melihat bungsuku nampak mengantuk.
Ia pun beringsut mendekatiku.
"Adek ngantuk Mak," katanya dengan pelan, kedua netranya pun sayu.
"Anak Bapak udah ngantuk ya."
Bang Hardi mengusap lembut pucuk kepala Kurnia, yang telah memejamkan mata.
"Abang udah belajarnya?" tanyaku beralih menatap Fandi yang sedang memasukkan bukunya kedalam tas yang telah terdapat banyak jahitan disana-sini.
"Iya Mak. Bapak tadi bantuin PR Abang."
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya.
"Mak, Pak. Abang juga udah ngantuk, hooaamm," ujar Fandi seraya menguap lebar dan kedua bola matanya berair, menandakan ia betul-betul mengantuk.
"Ayo Bapak temani bobo!" Bang Hardi menggenggam jemari Fandi lalu menuntunnya memasuki kamar mereka, sementara aku mengangkat Kurnia yang telah pulas dalam tidurnya.
"Fandi udah bobo Bang?" tanyaku sambil merebahkan Kurnia disisi Fandi dan kutaruh bantal guling diantara mereka.
"Ssstttt ... Bang Hardi memberikan kode agar aku tak bicara, takut mengganggu Anak-anak tertidur.
Aku dan Bang Hardi keluar dengan berjingkat, lalu menutup pintu dengan perlahan.
Kami menuju ketempat semula, Bang Hardi menyesap kopinya yang telah menghangat.
"Kita ke teras yuk Dek!" ajak Bang Hardi sambil menggamit lenganku.
"Ayo Bang."
Kami melangkah perlahan menuju teras yang terdapat bale-bale bambu tempat biasa kami bercengkrama.
Bale-bale yang di bentuk seperti kursi, namun tetap bisa untuk rebahan atau sekedar bermalas-malasan.
"Sini Dek," Bang Hardi menepuk sebelah tangannya untuk bersandar. Aku mengikuti permintaannya. Kami menatap langit yang nampak cerah, karena bertaburan bintang yang gemerlap.
"Bang, Adek ingin menjadi bintang yang selalu bersinar, tak perduli meskipun tertutup awan dan sinarnya menghilang karena sinar rembulan yang meneranginya," ujarku sambil tersenyum.
"Dek, Abang akan selalu mencintaimu dan Anak-anak. Meskipun Abang kelak tak akan lagi bersama kalian," ujar Bang Hardi lirih, aku memalingkan wajah dan menatapnya. Bang Hardi menatap langit yang begitu indah malam ini.
Aku mengusap wajahnya yang semakin membuatku menggilainya.
"Abang bicara apa sih. Abang semakin bicara ngelantur aja," seruku.
Jemariku diraihnya, lalu diciumnya perlahan.
Kemudian ia memelukku dengan sangat erat, hingga aku kesulitan untuk bernafas.
"Bang, susah bernafas nih," aku berontak sambil sedikit cemberut.
Bukannya di lepaskan, Bang Hardi menghujani wajahku dengan kecvpan bertubi-tubi.
Semakin lama semakin memanas, aku merasakan jantungku berdetak sedikit lebih kencang, menerima semua sentuhan-sentuhan yang membuat seluruh urat nadiku bergetar.
"Dek, kita masuk yuk," bisiknya di telingaku, nafasnya memburu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Kegiatan panas yang menuntut sebuah pelampiasan berlanjut di dalam kamar yang sangat sederhana.
Rintihan demi rintihan yang berpadu dengan kenikmatan pernikahan dalam penyatuan berlangsungnya secara berulang-ulang.
Bang Hardi seolah tak merasa lelah.
Aku hampir kewalahan di buatnya.
Menjelang subuh Bang Hardi terkulai di sisiku, keringat membanjiri tubuhnya juga tubuhku.
"Terimakasih Sayang, Abang sangat mencintaimu lebih dari hidup Abang sendiri," ucapnya sambil mencium keningku lalu memelukku erat di bawah selimut.
"Adek juga mencintai Abang. Hanya Abang dan Anak-anak yang Adek punya saat ini," aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya.
"Ssstt, jangan nangis Sayang. Jangan membuat hati Abang menjadi sedih. Ayo istirahat karena hari hampir pagi," Bang Hardi membelai rambutku yang terurai hingga pinggang.
Aku mencoba memejamkan mata yang tiba-tiba tak merasa mengantuk. Fikiranku berkelana, tak merasakan ketenangan sedikitpun.
Aku merasakan Bang Hardi akan meninggalkan aku untuk selamanya.
Gema adzan membuatku terbangun, perasaan aku belum terlelap. Tubuhku serasa remuk.
Terbayang pergumulan dengan Bang Hardi semalam, ia begitu perkasa malam ini. Aku malu jika mengingatnya.
Kubelai wajahnya yang nampak sekali jejak letihnya. Ia menggeliat lalu membuka kedua netranya. "Udah subuh Dek," tanyanya sambil mengulas senyum.
"Iya Bang," jawabku.
Aku memutar tubuh hendak meraih pakaian yang berserakan di lantai, namun tangan kekarnya menarikku dalam pelukannya.
"Sekali lagi yuk Dek," bisiknya di telingaku, aku meremang mendengarnya.
"Udah subuh, ayo sholat yuk Bang," tolakku halus.
"Sebentaaarrr aja Dek," ujarnya.
Aku melihat pergerakan juniornya di bawah sana.
Jantungku berdetak sangat kencang. Dengan satu gerakan Bang Hardi telah mengunci tubuhku yang kini telah berada dalam Kungkungannya.
D3sahan demi d3sahan mengiringi aktivitas kami, hingga tubuh Bang Hardi kembali terkulai di sisiku. Ia tersenyum puas sambil menatapku.
"Adek hebat, mampu membuat Abang tak berdaya," bisiknya. Seketika hawa hangat mengaliri wajahku, aku memalingkan wajah dengan senyum yang aku tahan.
"Ayo Bang mandi lalu sholat," ajakku.
Kami berdua mandi bersama dan entah Bang Hardi mendapatkan kekuatan dari mana ia seolah tak merasakan lelah, di kamar mandi pun ia menginginkannya kembali.
Setelah benar-benar merasa lelah kami pun mengakhiri semua lalu melakukan sholat berjamaah.
Hari ini adalah hari libur.
Anak-anak sengaja tak kubangunkan, biarlah mereka menikmati hari ini untuk bangun sedikit siang.
Aku selesai menyiapkan sarapan di temani Bang Hardi sambil menikmati secangkir kopi.
"Sebentar Bang, mau bangunin Anak-anak dulu!" aku bangkit tanpa menunggu jawaban darinya.
Dengan rambut yang masih terlilit handuk aku membangunkan Anak-anak untuk sarapan.
"Abang kerja di mana hari ini?" tanyaku ketika kami menyantap nasi goreng buatanku.
"Di sawah Juragan Darta, Dek," jawabnya sambil menikmati sepiring nasi goreng.
"Oh iya Bang."
"Mak, nasi gorengnya enak banget," seru Kurnia. Aku menatapnya dengan tersenyum.
"Jelas dong, masakan Emak selalu juara," sahut Fandi.
"Betul sekali. Seandainya kita punya modal, Emak pasti akan Bapak minta membuka warung nasi. Masakan Emak kalian, meskipun sederhana namun terasa nikmat," puji Bang Hardi membuatku tersipu malu.
"Ah Abang bisa aja."
"Ya udah Abang berangkat dulu ya!" pamit Bang Hardi, ia mengulurkan tangan untuk kucium seperti biasa, kemudian ia beralih kepada Anak-anaknya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam, hati-hati Bang," jawabku.
Ia tersenyum dan menatapku sangat lama.
Kemudian ia melangkah dengan langkah sedikit berat.
Aku tertegun menatap punggungnya yang perlahan menjauh.
'Apa sebenarnya yang akan terjadi dengan Bang Hardi?" batinku berbisik.
Seperti biasa aku bekerja sebagai buruh cuci dan setrika dari rumah kerumah.
Hari ini aku kerumah juragan Darta untuk mencuci pakaian lalu menyetrika.
"Assalamu'alaikum Bu," aku mengucapkan salam saat telah berada di teras kediaman Juragan Darta yang terbilang megah.
"Waalaikum salam. Oh kamu Num," sapanya ramah sambil mempersilahkan aku masuk. Istri juragan Darta berwajah ayu, meskipun usianya telah menua.
"Iya Juragan."
Aku memasuki ruang cuci dan setrika yang terletak di samping dapur. Dengan cekatan aku merendam pakaian kotor dalam mesin cuci.
Sembari menunggu beberapa menit, aku membalik pakaian yang akan di setrika.
"Num, hari ini Suami kamu yang bekerja. Pardi gak masuk karena harus mengantarkan istrinya mau melahirkan," ujar Juragan Sekar, istri dari Juragan Darta.
"Iya Juragan, tadi pagi Bang Hardi bilang kalo hari ini bekerja di sawah Juragan. Tetapi Bang Hardi tak bercerita apa pun tentang Istrinya Pardi!" sahutku sambil memutar mesin cuci.
"Num, kamu itu sebetulnya berwajah cantik lho, sayangnya tak terawat," ujar Juragan Sekar sembari menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Ah enggak kok Juragan, wajah saya pas-pasan aja kok," ujarkan merendah.
"Orang yang menilai Num," debatnya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Juragan Sekar. Aku masih tetap dengan pekerjaanku.
"Num, jangan tersinggung ya. Kamu mau gak saya kasih baju-baju Andri waktu seusia Fandi Anak kamu, bukan apa-apa Num. Saya sayang kalo pakaian bekas Andi dibuang karena masih sangat bagus," ujar beliau.
Aku menatap Juragan Sekar dengan rasa bahagia, mau Juragan," jawabku spontan, aku merasa bahagia karena Fandi sudah gak punya pakaian layak.
"Alhamdulilah. Nanti saya pilih dulu ya Num!" ujar Juragan Sekar sembari menuju keluar dari ruang setrika.
Hatiku amat senang mendengarnya. Sudah lama sekali aku tak pernah mampu untuk membelikan pakaian baru untuk Anak-anakku.
Dengan cekatan aku menyelesaikan pekerjaanku. Selepas dari sini aku harus kerumah Juragan Agung. Karena istri Juragan Agung yang terkenal judes.
(Bersambung)