Ketika Wisnu pulang ke rumah Ibunya, Bu Ratna melihat putranya yang membawa koper besar segera menghampirindan bertanya. "Bagaimana tadi? Apa Aisyah melarangmu lagi?"
"Wisnu sudah menceraikannya, Bu." ucap Wisnu pada ibunya tanpa sedikitpun penyesalan terpancar di wajahnya. Semua ini karena bayang-bayang Winda yang cantik yang sudah ada di depan matanya.
Bu Ratna memekik senang. Wanita tua itu seperti sosok tubuh yang sama sekali tak punya hati. "Akhirnya, kamu bisa lepas dari perempuan mandul itu. Lalu bagaimana rumah yang kalian tempati. Kamu bakal usir Aisyah dari sana, kan?" tanya Bu Ratna. Dia merasa kalau rumah itu adalah milik anaknya yang berarti juga miliknya.
"Rumah itu di beli pakai uang Wisnu dan Aisyah. Mungkin akan jadi harta gono-gini,"terang Wisnu.
"Gak bisa! Kamu itu kepala keluarga. Harusnya rumah itu jadi milik kamu!" Bu Ratna naik pitam.
Seorang wanita tua gemuk datang menghampiri Bu Ratna lalu berbisik di telinganya. Dia adalah asisten rumah tangga Bu Ratna yang memberitahu kalau semua masakan sudah siap. Perias pengantin juga sudah sampai. Akad nikah Wisnu dan Winda akan dilangsungkan beberapa jam lagi.
Emosi Bu Ratna perlahan mereda seiring banyaknya kegiatan yang harus diurusnya. Wanita tua itu meninggalkan Wisnu dan pergi kebelakang.
Sepeninggal Ibunya, Wisnu menghela nafas panjang. Dia benar-benar bingung soal rumah yang ditempati Aisyah karena memang tujuh puluh persen adalah uang Aisyah untuk membelinya. Bahkan seisi perabotan juga pemberian ayah dan ibu Aisyah.
"Mas ... kamu sudah datang?" suara lembut menyadarkan lamunan Wisnu. Ketika kepala laki-laki itu mendongak, dilihatnya Winda yang masih memakai kaos pendek dan celana pendek. Tubuh mulus tanpa cela itu kembali membuang segala ingatannya akan wanita solehah yang baru saja disakitinya. Winda mendekati Wisnu, lalu memeluknya dari samping. Wisnu yang seumur hidup tak pernah dipegang perempuan yang bukan mahram bergidik. Merasa risih dengan perlakuan Winda meski sisi liarnya menikmatinya.
****
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah!!!"
Bu Ratna tersenyum bahagia. Winda tersenyum manis. Wisnu tersenyum sumringah. Kebahagiaan seolah menyelimuti keluarga itu saat ini. Ketika Wisnu mengulurkan tangan untuk dicium oleh Winda, langit tiba-tiba menurunkan hujan sederas-derasnya. Padahal tadi siang, cuaca sedang panas-panasnya dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mungkinkah saat ini ada wanita surga yang sedang menangis di bumi?
Listrik segera padam. Tamu yang datang segera panik. Winda segera memegang erat lengan Wisnu. "Mas ... aku takut," ucapnya manja.
"Tenang saja. Mas di sini," ucap Wisnu mencoba menenangkan istrinya. Padahal, laki-laki itu juga merasakan debar aneh dalam dadanya. Tiba-tiba nama Aisyah seperti palu yang terus menerus memukul dan menjadi detak jantungnya. Wisnu gemetaran.
Untunglah beberapa saat kemudian lampu menyala. Para tamu yang hadir menghela nafas lega. Namun cahaya terang lampu juga menyorot sukses wajah Wisnu yang berkeringat dingin dan wajah pucat pasi bak mayat hidup.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Winda setelah melihat suaminya pucat pasi.
Pandangan Wisnu tiba-tiba suram. Kemudian wajah cantik Winda dengan rambut pirang yang disanggul itu berubah menjadi wajah bersih dan kerudung lebar khas Aisyah.
"Ai ..." ucap Wisnu seketika.
"Wisnu!" Bu Ratna menyentak putranya agar tersadar dari lamunannya. Wisnu tergagap. Beruntung tak banyak orang yang memperhatikan mereka. Para tamu undangan sedang sibuk menikmati hidangan yang di sediakan. Winda memasang wajah murung. Wanita itu tahu, Ai yang di maksud dalam ucapan Wisnu adalah Aisyah. Seharusnya Winda tidak perlu merasa cemburu karena dialah yang merebut suami orang lain, bukan direbut suami oleh orang lain.
Setelah acara selesai, Winda mendekati ibu mertuanya, Bu Ratna. Dia memasang wajah yang penuh kesedihan. "Bu, jangan-jangan Mas Wisnu gak bisa nerima aku jadi istrinya. Habisnya ... tadi dia liat aku sambil manggil-manggil nama Aisyah."
Bu Ratna memandang menantunya penuh kasih. Menantu yang di dapatnya dari jalanan. Tidak jelas asal usulnya. Seorang model ternama sudah cukup baginya untuk kriteria istri anaknya. "Tenang aja. Wisnu sudah menceraikan Aisyah. Kamu jadi satu-satunya istri Wisnu dan menantu di rumah ini," terang Bu Ratna.
Wajah Winda berubah cerah. Tatapannya menatap ibu mertuanya dengan hangat. Ketika perempuan itu memalingkan wajahnya, raut wajah dan sorot matanya berubah.
"Bu, maaf Haikal baru sampai." seorang laki-laki tampan dengan penampilan parlente dan jam tangan yang diketahui Winda seharga ratusan juta itu datang dan menyalami Bu Ratna dengan santun.
"Gak usah datang, juga gak papa. Lagian, siapa yang mengundang kamu ke sini?" ucap Bu Ratna ketus.
Laki-laki yang bernama Haikal itu tersenyum manis. Wajahnya yang khas indo membuat Winda menatapnya tak berkedip. Haikal bahkan lebih tampan sepuluh kali lipat di banding Wisnu.
"Saya mendengar kabar kalau Mas Wisnu menikah. Jadi saya kemari. Oh ya, bagaimana kabar Aisyah?" tanya Haikal lagi.
"Kalau kamu datang ke sini untuk membahas wanita mandul itu, sebaiknya kamu pulang. Tingkahmu dan ibumu sama saja. Suka menghancurkan kebahagiaan orang lain!" bentak Bu Ratna.
Sebelum Bu Ratna mengeluarkan sumpah serapahnya, Wisnu muncul dan menyapa Haikal. Haikal akhirnya pamit undur diri pada Bu Ratna yang bahkan enggan menoleh sedikitpun. Wisnu akhirnya mengajak Haikal ke depan agar tak terjadi peselisihan lebih lanjut antara saudaranya dan ibunya.
"Siapa dia, Bu?" tanya Winda yang mulai penasaran.
"Anak tiri saya," jawab Bu Ratna dengan masih mempertahankan mimik wajah kesalnya.
Winda mengangguk dan ber Oh ria. Wanita itu berpikir kalau mendiang ayahnya Mas Wisnu ternyata punya dua istri. Namun satu hal yang tidak Winda tahu. Dirinya dan Bu Ratna sama-sama licik. Sama-sama merebut suami orang. Di masa lalunya, Bu Ratna merasa iri dengan temannya yang sudah sepuluh tahun menikah tapi tidak memiliki anak. Hingga dengan liciknya dia membuat perangkap seolah dirinya adalah korban. Sehingga mau tak mau Mendiang ayahnya Wisnu harus bertanggung jawab. Beruntung, istri pertama adalah wanita berhati besar sehingga dia mau memaafkan kekhilafan suaminya dan menerima Bu Ratna.
Bu Ratna merasa di atas angin ketika kala itu dia bisa melahirkan anak. Rasanya dia adalah pemenang dan harta keluarga Wijaya akan jadi miliknya. Namun takdir berkata lain. Istri pertama Wijaya yang merupakan sahabat dekatnya dulu, Evelyn malah hamil di usia pernikahannya yang sudah lima belas tahun. Saat itu, Wisnu berusia lima tahun dan pernikahan Bu Ratna dengan Wijaya menginjak tahun ke enam.
Bu Ratna merasa seluruh kebahagiaan dan janji-janji masa depan penuh kekayaannya terbagi. Apalagi setelah tahu sang istri hamil, Wijaya seolah melupakan Bu Ratna meski tak pernah absen memberikan nafkah uang. Wanita tua itu memelihara dendamnya yang besar pada Haikal dan ibunya sampai sekarang.
Aisyah duduk di jendela. Memandang langit malam yang gelap gulita. Tangisnya tumpah ruah. Hari ini laki-laki yang sangat dicintainya menikah dengan wanita lain. Hari ini putus sudah semua janji-janji yang dikatakan Wisnu padanya.
Langit menurunkan airnya membabi buta, seolah ikut bersedih atas kesedihan Aisyah. Wanita itu menyelesaikan tangisnya. Lalu menelpon kedua orang tuanya. Bukan! Dia bukan wanita gegabah yang membuat orang tua terkejut atas kejadian yang menimpa dirinya. Aisyah hanya meminta agar ibu dan ayahnya datang berkunjung.
Perempuan dengan rambut indah yang tak pernah dilihat lelaki manapun selain ayah dan suaminya itu berjalan lalu mengambil sebuah foto yang masih tersimpan di kamar mereka. Foto itu diambil saat Aisyah dan Wisnu baru menikah. Kala itu, dia merasa sangat bahagia karena telah di jadikan seperti Khadijah yang begitu disayang dan dicinta Rasul. Namun takdit berkata lain, laki-laki lembutnya, imamnya, ternyata lebih takut dan mau melakukan apa saja ucapan ibunya.
"Bahkan setelah aku memberikan segalanya, kau masih saja tidak tahu perjuanganku. Apa kau tidak mencintaiku dengan sungguh, Mas ...." bisik Aisyah pada potret Wisnu yang tersenyum lebar.
Hujan semakin lebat. Mengguncang alam. Bumi seolah bersedih atas kesedihan wankta yang selalu menjaga ibrahnya sebagai istri.
****
Sementara itu ....
Di ruang tamu terjadi perdebatan hebat Antara Wisnu dengan Haikal. Haikal benar-benar menyayangkan keputusan Wisnu karena telah menceraikan Aisyah hanya karena ada Winda dan atas keinginan ibunya yang ingin memiliki cucu.
"Bang, kamu sudah zalim terhadap Aisyah. Tidakkah kau ingat kalau wanita itu dulu yang membantumu mengembangkan usahamu yang hendak bangkrut?" Haikal berkata dengan geram. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Abangnya.
"Ibu ingin segera punya cucu. Sebagai anak, tentu saja aku harus menuruti keinginannya. Ibuku sudah tua, kalau dia tidak ada di dunia ini aku bisa menyesal. Lagipula, surga ada di telapak kaki ibuku. Bukan di telapak kaki istriku," ucap Wisnu membela diri.
"Tidak ada surga jika masih menyakiti hati makhluk," sergah Haikal.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Memang kau tuhan hah?" bentak Haikal yang merasa tersinggung.
"Kau tersinggung, Bang. Berarti apa yang kukatakan benar dan kau menyesalinya. Lihat saja, kau akan menyesal, Bang!" ejek Haikal
"Pergi dari sini! Kau sama saja dengan ibumu, suka menghancurkan kebahagiaan orang lain." Hardik Wisnu. Jari-jarinya mengepal. Seolah bersiap meninju wajah tampan Haikal yang tersenyum mencela terang-terangan.
"Kau dan ibumu sama saja, Bang. Entah apa yang dikatakan ibumu. Yang jelas aku datang kemari baik-baik. Namun ternyata kalian masih membawa-bawa masa lalu. Padahal jelas-jelas ibumu yang merebut suami ibuku, merebut ayahku dari ibuku. Kau dan ibumu sama saja." cemooh Haikal. Laki-laki itu kemudian pergi tanpa pamit dari rumah Wisnu.
"Si*alan!" Jerit Wisnu sendirian di ruang tamu. Pernikahan yang seharusnya jadi tawa dan bahagia, malah jadi ladang emosi di malam pertama.
***
Winda ternyata menyimpan penasaran pada sosok Haikal. Sebab dirinya bukan wanita baik-baik yang menundukkan pandangan atau punya rasa malu yang besar, mudah bagi Winda mengejar laki-laki yang dinilainya tampan dan bisa di manfaatkan.
"Mas Haikal!" panggil Winda pelan, setengah berbisik. Haikal menoleh dan menatap ke arah suara. Dilihatnya wanita dengan pakaian tidur itu mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Haikal dingin.
"Mas, saudaranya Mas Wisnu?" tanya Winda pelan.
Haikal mengangguk. "Kamu wanita yang tadi di dapur dengan Bu Ratna, kan?"
Winda mengangguk. "Mas ingat saya? Mas naksir saya, ya?" ucap Winda dengan penuh percaya diri.
"Pede sekali kamu. Saya hanya mengira, kok." jawab Haikal datar.
Winda merasa tertampar karena laki-laki di hadapannya seperti sosok yang sulit di taklukkan. Namun wanita itu seolah tak habis akal. Dia segera meminta Haikal untuk bertemu makan siang bersama.
"Kamu gila? Kamu baru saja menikah dengan kakakku lalu mengajakku makan siang bersama? Murah sekali hargamu. Apa kakakku sudah gila melepas perempuan baik-baik untuk perempuan yang bisa di beli dengan sedikit uang!" hardik Haikal.
"Dasar ipar bod*h. Aku hanya mengajak makan siang. Bukan mengajakmu selingkuh!" tampik Winda.merasa kalah.
Haikal hanya memandang Winda penuh cela , lalu berbalik pergi.
****
"Win ... kamu belum mau tidur?" tanya Wisnu lembut pada istri cantiknya yang sejak tadi bersungut-sungut.
"Gak," ketus Winda. Wanita itu masih merasa kesal atas penolakan dan hinaan Haikal padanya.
Wisnu mendekati istrinya. Lalu mengelus pucuk kepala Winda perlahan. "Apa sih, Mas. Kamu gak liat aku lagi mumet! Bisa gak sih kamu jauh-jauh dulu!" Bentak Winda.
Wisnu mengehela nafas berat. Sepanjang usia pernikahan, Aisyah tidak pernah meninggikam suaranya. Namun sekarang, Winda malah membentaknya di malam pertama pernikahan mereka.
Melihat wajah Winda yang menatapnya berang, Wisnu memilih mengalah dengan menjauh sejenak dari Winda. Barangkali dia sedang datang bulan, pikir Wisnu. Malam itu, laki-laki yang selalu patuh pada ibunya tidur dengan menahan perasaan kecewa. Biasanya, dia tidur dengan bahagia. Kali dia harus tidur memeluk bantal.
***
Pagi-pagi sekali, Bu Ratna sudah duduk di meja makan. Wajahnya agak kesal mendengar penuturan Wisnu kalau Winda belum bangun tidur.
"Maaf, Bu. Semalam Winda capek banget," ucap Winda yang segera bergabung di meja makan masih dengan baju tidurnya. Sementara Bu Ratna dan Wisnu sudah berdandan rapi.
"Wah, berarti cepat 'jadi' dong," ucap Bu Winda sambil melirik ke arah Wisnu. Yang dilirik hanya bisa salah tingkah sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Yang ada, Wisnu dan Winda tidur saling membelakangi satu sama lain.
"Winda, kalau bisa kamu kasih ibu cucu secepatnya, ibu nanti bakal kasih kamu hadiah besar loh." ucap Bu Ratna sambil menyantap makanannya.
"Memangnya Aisyah gak bisa kasih cucu, ya?" Winda berusaha memancing obrolan tentang keingintahuannya tentang Aisyah pada Bu Ratna.
"Wanita mandul itu, emang gak berguna. Udah bagus dia kerja jadi manajer pas nikah sama anak saya malah berhenti. Katanya mau fokus ngurus rumah. Benar-benar tol*l. Gobl*k. Memannga dia pikir anak saya alat untuk menghidupi dirinya yang seenaknya ongkang-ongkang kaki di rumah? Kamu tahu nggak, Aisyah itu malah ngotot sama saya kalau dia sudah cek ke dokter dan hasilnya normal. Tapi lihat! Buktinya sekarang dia gak isi. Berarti dia mandul." terang Bu Ratna berapi-rapi.
Winda manggut-manggut. Dia bukan wanita bodoh. Jelas masalah ini ada pada Wisnu. Winda tahu Bu Ratna mencoba mengelak atas kekurangan anaknya. Sementara itu, Wisnu makan dengan cepat. Percakapan tentang Aisyah membuat perasaannya sakit. Sesuatu yang terlanjur terjadi tak bisa disesali. Laki-laki itu tak bisa meminta kembali.