"Ikhlaskan suamimu menikah lagi, Aisyah! Lagipula kamu tidak bisa kan memberikan aku cucu?"
Wanita bernama Aisyah itu hanya tertunduk menahan tangis di hadapan perempuan yang disebutnya sebagai ibu mertua. Sementara itu, sang suami yang seharusnya jadi tameng untuk istri malah lebih berpihak pada ibunya.
"Tapi, Bu ... perasaan Aisyah masih berat untuk ikhlas. Aisyah perlu waktu ...." ucapnya sambil memelas. Memohon belas kasih dari mertua yang menatapnya jengah.
"Sudah kuduga, Wisnu. Istrimu memang sangat keras kepala. Kau pilih saja dua opsi, menikah lagi atau tak kuanggap lagi sebagai anakku." wanita tua itu berkata dengan kejam. Tanpa peduli dia sedang menoreh luka sedalam-dalamnya lada wanita yang berposisi yang sebagai istri anaknya.
Wisnu terdiam sejenak. Satu sisi dia sangat mencintai istrinya dan tidak ingin kehilangannya lagi. Sudah cukup bagi Wisnu untuk mentalak istrinya sebanyak dua kali. Jika dia tak bisa menahan diri lagi kali ini, maka perpisahan abadi ada di depan matanya. Namun, Wisnu jyga takut membuat murka dan sedih hati ibunya yang sudah merawatnya susah payah menjadi seorang ibu tunggal. Begitulah cerita yang selalu didengarnya.
"Wisnu akan menikah lagi, dengan perempuan pilihan Ibu," ucap Wisnu setelah menghela nafasnya berat. Bu Ratna yang mendengar keputusan anaknya tersenyum bahagia. Sementara Aisyah malah semakin di banjiri air mata. Wisnu hanya sekilas menatap istrinya lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Mas ... tidak bisakah kita bicarakan ini lagi?" Aisyah memelas pada suaminya. Berharap laki-laki yang sudah bersumpah dua kali itu mau memikirkan kembali keputusannya.
"Heh mandul, kamu pikir kamu bisa mengendalikan anakku, heh? Urusi saja rahimmu yang kering kerontang itu hingga sampai saat ini aku tak bisa memiliki cucu," ucap Bu Ratna ketus.
"Bu, bukannya Aisyah sudah cek dan hasilnya baik-baik saja, Kan?" Aisyah mencoba membela dirinya. Bukan pemahaman yang di dapat mertuanya melainkan sebuah kalimat tuduhan tentang Wisnu, anaknya.
"Jadi maksudmu anakku yang mandul?" Bu Ratna naik pitam. Tangannya mulai menunjuk-nunjuk pada Aisyah yang duduk di hadapannya.
"Bu ... sudahlah. Wisnu pasti akan menikah lagi sesuai keinginan ibu." Wisnu mencoba menenangkan ibunya yang terbawa emosi. "Dan kamu, Aisyah! Berani sekali membuat ibuku marah. Kamu tahu, surgaku ada di telapak kaki ibuku!" bentak Wisnu pada istrinya yang menangis sesegukan karena tersudut oleh dua orang egois yang ingin punya anak dan cucu.
Bu Ratna memandang menantunya sinis. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa menantu yang di bayangaknnya akan jadi pebisnis terkenal malah memilih menjadi ibu rumah tangga dan hidup dari hasil kerja keras anaknya. Sebab itulah Bu Ratna sangat membenci menantunya. Di tambah Aisyah belum bisa memberikan cucu untuknya. Kemarahan Bu Ratna semakin menjadi. Berkali-kali dia hadir sebagai duri dalam daging di pernikahan Wisnu dan Aisyah sehingga Wisnu khilaf menjatuhkan talak dua kali pada istrinya.
Hingga menyisakan satu kesempatan terakhir.
"Besok, kamu ikut ibu untuk bertemu dengan calon istrimu." titah Bu Ratna. Wisnu mengangguk mengiyakan. Tidak sanggup menolak ibunya. Laki-laki yang berstatus sebagai seorang suami itu malah menyakiti hati perempuan yang seharusnya dibahagiakannya.
***
Aisyah pulang ke rumahnya sendirian karena sang suami memilih menginap di rumah ibunya. Menyetir sendirian di tengah hujan, wanita itu mencoba menguatkan batinnya sekuat-kuatnya. Aisyah mencoba kuat ditengah-tengah kelemahan semua wanita. Di madu.
Sesampainya di rumah, wanita itu segera mengambil sajadahnya dan bersujud lama mencurahkan isi hati pada yang maha pencipta.
"Allah ... jika suamiku bukanlah takdirku lagi, maka berikanlah aku takdir yang terbaik sesuai kehendakmu. Aku ikhlas ... aku ikhlas ... aku ikhlas ...." Aisyah mengulang kalimatnya berkali-kali dengan dada yang tertusuk. Wanita itu sama sekali belum ikhlas membiarkan dirinya akan berbagi suami dengan orang lain hanya karena pernikahan mereka yang memasuki satu tahun belum berhasil mendapatkan keturunan. Sudah berkali-kali Aisyah menyuruh Wisnu untuk cek ke dokter seperti dirinya. Tapi suaminya selalu menolak dan berkata kalau dia baik-baik saja. Sebenarnya ada terbesit curiga di hati wanita itu kalau-kalau suaminya nenyembunyikan sesuatu. Namun, dia malah memilih menutup aib suaminya bahkan di hadapan mertuanya. Aisyah selalu percaya kalau istri adalah baju untuk suami dan dia wajib menutup aib suaminya. Tapi Wisnu malah dengan ringan hati menyakiti hati istrinya. Persis sebuah pepatah; air susu dibalas air tuba.
***
Bu Ratna mengajak sang putra kesayangan untuk pergi ke kafe tempat dia janjian dengan perempuan yang menurutnya pantas untuk menjadi istri anaknya. Wanita tua itu sumringah ketika dilihatnya Winda sudah duduk di sebuah meja menunggu kedatangannya.
"Nah, itu dia," ucap Bu Ratna dengan semangat sambil menyeret putranya.
" Oh ... ini ya yang namanya Mas Wisnu. Halo Mas, aku Winda." gadis muda yang cantik dengan gaun hijau yang terbuka itu menjulurkan tangannya pada Wisnu. Wisnu membalas jabat tangannya dengan canggung.
"Bagaimana? Cantik kan?" Bu Ratna bertanya pada putranya yang memandang terpana pada Winda.
"Ca-cantik, Bu." ucap Wisnu terbata. Seumur hidup, dia tidak pernah membayangkan akan begini. Bertemu dan akan menikah dengan wanita cantik dan seksi.
"Ya jelas cantik lah. Istrimu kalah jauh. Winda ini orangnya smart, cantik, pandai berdandan lagi. Dia juga kerja loh," Bu Ratna mempromosikan Winda habis-habisan. Gadis itu tersenyum senang di puji setinggi langit oleh calon mertuanya.
"Memangnya Winda bekerja apa?" tanya Wisnu membuka pembicaraan.
"Model." jawaban Winda membuat Wisnu terpana. Tahu akan pikiran putranya, Bu Ratna segera menyenggol kaki Wisnu dan mencairkan suasana.
"Hehe jadi, kapan kita melangsungkan pernikahan kalian, nak Winda?"
"Semakin cepat, saya pikir semakin baik. Menikah siri saja tidak apa-apa." ucap Winda yang membuat hati Bu Ratna berbunga-bunga. Wanita tua itu membayangkan dirinya tak lama lagi akan menimang seorang cucu dan memiliki menantu yang bisa dibanggakan di hadapan teman-temannya.
****
Hari itu juga Wisnu pulang ke rumah. Aisyah menyambut suaminya dengan sumringah tapi sang suami sejak awal kedatangannya memasang wajah masam.
"Mas, ada apa?" tanya Aisyah yang mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Wanita itu terkejut melihat sang suami malah sibuk mengemasi pakaian dan barang-barangnya.
"Mas, kamu mau kemana?" Aisyah memegang lengan suaminya. Tapi Wisnu refleks mendorong sang istri hingga hampir tersungkur ke lantai.
"Malam ini aku akan menikah dengan Winda. Aku harap kamu mengerti," ucap Wisnu tanpa perasaan. Mungkin paras cantik dan tubuh seksi Winda melekat di kepalanya sehingga membuatnya mati hati pada istri solehah yang selalu ada dalam susah dan senangnya.
"Bagaimana bisa ... Ya Allah ...." Aisyah terkejut mendengar ucapan suaminya. Wanita itu segara memeluk sang suami dengan erat.
"Mas ... tolonglah. Aku tidak bisa berbagi suami meski ganjarannya surga." ucapnya sambil terisak dalam pelukan suaminya.
Wisnu tetap pada pendiriannya. Dia berkata dengan dingin sedingin salju di kutub utara. "Baiklah kalau itu keinginanmu. Maka mulai detik ini, kau Aisyah binti Ahmad aku talak engkau dengan talak tiga. Jangan berpikir aku akan kembali padamu atau memintamu kembali. Aku sudah bukan suamimu lagi. Jadi kau tak usah takut akan berbagi suami."
Aisyah terkejut. Memundurkan dirinya. Tangisnya menghilang namun bagian dalam dirinya remuk. Ini kali ketika sang suami menalaknya. Artinya, mereka tidak akan pernah bisa bersama lagi.
Setelah mengucap talak, Wisnu segera pergi. Laki-laki yang di rundung kasmaran pada gadis cantik itu begitu semangat menyiapkan pernikahannya yang akan berlangsung beberapa jam lagi.
Ketika Wisnu pulang ke rumah Ibunya, Bu Ratna melihat putranya yang membawa koper besar segera menghampirindan bertanya. "Bagaimana tadi? Apa Aisyah melarangmu lagi?"
"Wisnu sudah menceraikannya, Bu." ucap Wisnu pada ibunya tanpa sedikitpun penyesalan terpancar di wajahnya. Semua ini karena bayang-bayang Winda yang cantik yang sudah ada di depan matanya.
Bu Ratna memekik senang. Wanita tua itu seperti sosok tubuh yang sama sekali tak punya hati. "Akhirnya, kamu bisa lepas dari perempuan mandul itu. Lalu bagaimana rumah yang kalian tempati. Kamu bakal usir Aisyah dari sana, kan?" tanya Bu Ratna. Dia merasa kalau rumah itu adalah milik anaknya yang berarti juga miliknya.
"Rumah itu di beli pakai uang Wisnu dan Aisyah. Mungkin akan jadi harta gono-gini,"terang Wisnu.
"Gak bisa! Kamu itu kepala keluarga. Harusnya rumah itu jadi milik kamu!" Bu Ratna naik pitam.
Seorang wanita tua gemuk datang menghampiri Bu Ratna lalu berbisik di telinganya. Dia adalah asisten rumah tangga Bu Ratna yang memberitahu kalau semua masakan sudah siap. Perias pengantin juga sudah sampai. Akad nikah Wisnu dan Winda akan dilangsungkan beberapa jam lagi.
Emosi Bu Ratna perlahan mereda seiring banyaknya kegiatan yang harus diurusnya. Wanita tua itu meninggalkan Wisnu dan pergi kebelakang.
Sepeninggal Ibunya, Wisnu menghela nafas panjang. Dia benar-benar bingung soal rumah yang ditempati Aisyah karena memang tujuh puluh persen adalah uang Aisyah untuk membelinya. Bahkan seisi perabotan juga pemberian ayah dan ibu Aisyah.
"Mas ... kamu sudah datang?" suara lembut menyadarkan lamunan Wisnu. Ketika kepala laki-laki itu mendongak, dilihatnya Winda yang masih memakai kaos pendek dan celana pendek. Tubuh mulus tanpa cela itu kembali membuang segala ingatannya akan wanita solehah yang baru saja disakitinya. Winda mendekati Wisnu, lalu memeluknya dari samping. Wisnu yang seumur hidup tak pernah dipegang perempuan yang bukan mahram bergidik. Merasa risih dengan perlakuan Winda meski sisi liarnya menikmatinya.
****
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah!!!"
Bu Ratna tersenyum bahagia. Winda tersenyum manis. Wisnu tersenyum sumringah. Kebahagiaan seolah menyelimuti keluarga itu saat ini. Ketika Wisnu mengulurkan tangan untuk dicium oleh Winda, langit tiba-tiba menurunkan hujan sederas-derasnya. Padahal tadi siang, cuaca sedang panas-panasnya dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mungkinkah saat ini ada wanita surga yang sedang menangis di bumi?
Listrik segera padam. Tamu yang datang segera panik. Winda segera memegang erat lengan Wisnu. "Mas ... aku takut," ucapnya manja.
"Tenang saja. Mas di sini," ucap Wisnu mencoba menenangkan istrinya. Padahal, laki-laki itu juga merasakan debar aneh dalam dadanya. Tiba-tiba nama Aisyah seperti palu yang terus menerus memukul dan menjadi detak jantungnya. Wisnu gemetaran.
Untunglah beberapa saat kemudian lampu menyala. Para tamu yang hadir menghela nafas lega. Namun cahaya terang lampu juga menyorot sukses wajah Wisnu yang berkeringat dingin dan wajah pucat pasi bak mayat hidup.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Winda setelah melihat suaminya pucat pasi.
Pandangan Wisnu tiba-tiba suram. Kemudian wajah cantik Winda dengan rambut pirang yang disanggul itu berubah menjadi wajah bersih dan kerudung lebar khas Aisyah.
"Ai ..." ucap Wisnu seketika.
"Wisnu!" Bu Ratna menyentak putranya agar tersadar dari lamunannya. Wisnu tergagap. Beruntung tak banyak orang yang memperhatikan mereka. Para tamu undangan sedang sibuk menikmati hidangan yang di sediakan. Winda memasang wajah murung. Wanita itu tahu, Ai yang di maksud dalam ucapan Wisnu adalah Aisyah. Seharusnya Winda tidak perlu merasa cemburu karena dialah yang merebut suami orang lain, bukan direbut suami oleh orang lain.
Setelah acara selesai, Winda mendekati ibu mertuanya, Bu Ratna. Dia memasang wajah yang penuh kesedihan. "Bu, jangan-jangan Mas Wisnu gak bisa nerima aku jadi istrinya. Habisnya ... tadi dia liat aku sambil manggil-manggil nama Aisyah."
Bu Ratna memandang menantunya penuh kasih. Menantu yang di dapatnya dari jalanan. Tidak jelas asal usulnya. Seorang model ternama sudah cukup baginya untuk kriteria istri anaknya. "Tenang aja. Wisnu sudah menceraikan Aisyah. Kamu jadi satu-satunya istri Wisnu dan menantu di rumah ini," terang Bu Ratna.
Wajah Winda berubah cerah. Tatapannya menatap ibu mertuanya dengan hangat. Ketika perempuan itu memalingkan wajahnya, raut wajah dan sorot matanya berubah.
"Bu, maaf Haikal baru sampai." seorang laki-laki tampan dengan penampilan parlente dan jam tangan yang diketahui Winda seharga ratusan juta itu datang dan menyalami Bu Ratna dengan santun.
"Gak usah datang, juga gak papa. Lagian, siapa yang mengundang kamu ke sini?" ucap Bu Ratna ketus.
Laki-laki yang bernama Haikal itu tersenyum manis. Wajahnya yang khas indo membuat Winda menatapnya tak berkedip. Haikal bahkan lebih tampan sepuluh kali lipat di banding Wisnu.
"Saya mendengar kabar kalau Mas Wisnu menikah. Jadi saya kemari. Oh ya, bagaimana kabar Aisyah?" tanya Haikal lagi.
"Kalau kamu datang ke sini untuk membahas wanita mandul itu, sebaiknya kamu pulang. Tingkahmu dan ibumu sama saja. Suka menghancurkan kebahagiaan orang lain!" bentak Bu Ratna.
Sebelum Bu Ratna mengeluarkan sumpah serapahnya, Wisnu muncul dan menyapa Haikal. Haikal akhirnya pamit undur diri pada Bu Ratna yang bahkan enggan menoleh sedikitpun. Wisnu akhirnya mengajak Haikal ke depan agar tak terjadi peselisihan lebih lanjut antara saudaranya dan ibunya.
"Siapa dia, Bu?" tanya Winda yang mulai penasaran.
"Anak tiri saya," jawab Bu Ratna dengan masih mempertahankan mimik wajah kesalnya.
Winda mengangguk dan ber Oh ria. Wanita itu berpikir kalau mendiang ayahnya Mas Wisnu ternyata punya dua istri. Namun satu hal yang tidak Winda tahu. Dirinya dan Bu Ratna sama-sama licik. Sama-sama merebut suami orang. Di masa lalunya, Bu Ratna merasa iri dengan temannya yang sudah sepuluh tahun menikah tapi tidak memiliki anak. Hingga dengan liciknya dia membuat perangkap seolah dirinya adalah korban. Sehingga mau tak mau Mendiang ayahnya Wisnu harus bertanggung jawab. Beruntung, istri pertama adalah wanita berhati besar sehingga dia mau memaafkan kekhilafan suaminya dan menerima Bu Ratna.
Bu Ratna merasa di atas angin ketika kala itu dia bisa melahirkan anak. Rasanya dia adalah pemenang dan harta keluarga Wijaya akan jadi miliknya. Namun takdir berkata lain. Istri pertama Wijaya yang merupakan sahabat dekatnya dulu, Evelyn malah hamil di usia pernikahannya yang sudah lima belas tahun. Saat itu, Wisnu berusia lima tahun dan pernikahan Bu Ratna dengan Wijaya menginjak tahun ke enam.
Bu Ratna merasa seluruh kebahagiaan dan janji-janji masa depan penuh kekayaannya terbagi. Apalagi setelah tahu sang istri hamil, Wijaya seolah melupakan Bu Ratna meski tak pernah absen memberikan nafkah uang. Wanita tua itu memelihara dendamnya yang besar pada Haikal dan ibunya sampai sekarang.
Aisyah duduk di jendela. Memandang langit malam yang gelap gulita. Tangisnya tumpah ruah. Hari ini laki-laki yang sangat dicintainya menikah dengan wanita lain. Hari ini putus sudah semua janji-janji yang dikatakan Wisnu padanya.
Langit menurunkan airnya membabi buta, seolah ikut bersedih atas kesedihan Aisyah. Wanita itu menyelesaikan tangisnya. Lalu menelpon kedua orang tuanya. Bukan! Dia bukan wanita gegabah yang membuat orang tua terkejut atas kejadian yang menimpa dirinya. Aisyah hanya meminta agar ibu dan ayahnya datang berkunjung.
Perempuan dengan rambut indah yang tak pernah dilihat lelaki manapun selain ayah dan suaminya itu berjalan lalu mengambil sebuah foto yang masih tersimpan di kamar mereka. Foto itu diambil saat Aisyah dan Wisnu baru menikah. Kala itu, dia merasa sangat bahagia karena telah di jadikan seperti Khadijah yang begitu disayang dan dicinta Rasul. Namun takdit berkata lain, laki-laki lembutnya, imamnya, ternyata lebih takut dan mau melakukan apa saja ucapan ibunya.
"Bahkan setelah aku memberikan segalanya, kau masih saja tidak tahu perjuanganku. Apa kau tidak mencintaiku dengan sungguh, Mas ...." bisik Aisyah pada potret Wisnu yang tersenyum lebar.
Hujan semakin lebat. Mengguncang alam. Bumi seolah bersedih atas kesedihan wankta yang selalu menjaga ibrahnya sebagai istri.
****
Sementara itu ....
Di ruang tamu terjadi perdebatan hebat Antara Wisnu dengan Haikal. Haikal benar-benar menyayangkan keputusan Wisnu karena telah menceraikan Aisyah hanya karena ada Winda dan atas keinginan ibunya yang ingin memiliki cucu.
"Bang, kamu sudah zalim terhadap Aisyah. Tidakkah kau ingat kalau wanita itu dulu yang membantumu mengembangkan usahamu yang hendak bangkrut?" Haikal berkata dengan geram. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Abangnya.
"Ibu ingin segera punya cucu. Sebagai anak, tentu saja aku harus menuruti keinginannya. Ibuku sudah tua, kalau dia tidak ada di dunia ini aku bisa menyesal. Lagipula, surga ada di telapak kaki ibuku. Bukan di telapak kaki istriku," ucap Wisnu membela diri.
"Tidak ada surga jika masih menyakiti hati makhluk," sergah Haikal.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Memang kau tuhan hah?" bentak Haikal yang merasa tersinggung.
"Kau tersinggung, Bang. Berarti apa yang kukatakan benar dan kau menyesalinya. Lihat saja, kau akan menyesal, Bang!" ejek Haikal
"Pergi dari sini! Kau sama saja dengan ibumu, suka menghancurkan kebahagiaan orang lain." Hardik Wisnu. Jari-jarinya mengepal. Seolah bersiap meninju wajah tampan Haikal yang tersenyum mencela terang-terangan.
"Kau dan ibumu sama saja, Bang. Entah apa yang dikatakan ibumu. Yang jelas aku datang kemari baik-baik. Namun ternyata kalian masih membawa-bawa masa lalu. Padahal jelas-jelas ibumu yang merebut suami ibuku, merebut ayahku dari ibuku. Kau dan ibumu sama saja." cemooh Haikal. Laki-laki itu kemudian pergi tanpa pamit dari rumah Wisnu.
"Si*alan!" Jerit Wisnu sendirian di ruang tamu. Pernikahan yang seharusnya jadi tawa dan bahagia, malah jadi ladang emosi di malam pertama.
***
Winda ternyata menyimpan penasaran pada sosok Haikal. Sebab dirinya bukan wanita baik-baik yang menundukkan pandangan atau punya rasa malu yang besar, mudah bagi Winda mengejar laki-laki yang dinilainya tampan dan bisa di manfaatkan.
"Mas Haikal!" panggil Winda pelan, setengah berbisik. Haikal menoleh dan menatap ke arah suara. Dilihatnya wanita dengan pakaian tidur itu mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Haikal dingin.
"Mas, saudaranya Mas Wisnu?" tanya Winda pelan.
Haikal mengangguk. "Kamu wanita yang tadi di dapur dengan Bu Ratna, kan?"
Winda mengangguk. "Mas ingat saya? Mas naksir saya, ya?" ucap Winda dengan penuh percaya diri.
"Pede sekali kamu. Saya hanya mengira, kok." jawab Haikal datar.
Winda merasa tertampar karena laki-laki di hadapannya seperti sosok yang sulit di taklukkan. Namun wanita itu seolah tak habis akal. Dia segera meminta Haikal untuk bertemu makan siang bersama.
"Kamu gila? Kamu baru saja menikah dengan kakakku lalu mengajakku makan siang bersama? Murah sekali hargamu. Apa kakakku sudah gila melepas perempuan baik-baik untuk perempuan yang bisa di beli dengan sedikit uang!" hardik Haikal.
"Dasar ipar bod*h. Aku hanya mengajak makan siang. Bukan mengajakmu selingkuh!" tampik Winda.merasa kalah.
Haikal hanya memandang Winda penuh cela , lalu berbalik pergi.
****
"Win ... kamu belum mau tidur?" tanya Wisnu lembut pada istri cantiknya yang sejak tadi bersungut-sungut.
"Gak," ketus Winda. Wanita itu masih merasa kesal atas penolakan dan hinaan Haikal padanya.
Wisnu mendekati istrinya. Lalu mengelus pucuk kepala Winda perlahan. "Apa sih, Mas. Kamu gak liat aku lagi mumet! Bisa gak sih kamu jauh-jauh dulu!" Bentak Winda.
Wisnu mengehela nafas berat. Sepanjang usia pernikahan, Aisyah tidak pernah meninggikam suaranya. Namun sekarang, Winda malah membentaknya di malam pertama pernikahan mereka.
Melihat wajah Winda yang menatapnya berang, Wisnu memilih mengalah dengan menjauh sejenak dari Winda. Barangkali dia sedang datang bulan, pikir Wisnu. Malam itu, laki-laki yang selalu patuh pada ibunya tidur dengan menahan perasaan kecewa. Biasanya, dia tidur dengan bahagia. Kali dia harus tidur memeluk bantal.
***
Pagi-pagi sekali, Bu Ratna sudah duduk di meja makan. Wajahnya agak kesal mendengar penuturan Wisnu kalau Winda belum bangun tidur.
"Maaf, Bu. Semalam Winda capek banget," ucap Winda yang segera bergabung di meja makan masih dengan baju tidurnya. Sementara Bu Ratna dan Wisnu sudah berdandan rapi.
"Wah, berarti cepat 'jadi' dong," ucap Bu Winda sambil melirik ke arah Wisnu. Yang dilirik hanya bisa salah tingkah sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Yang ada, Wisnu dan Winda tidur saling membelakangi satu sama lain.
"Winda, kalau bisa kamu kasih ibu cucu secepatnya, ibu nanti bakal kasih kamu hadiah besar loh." ucap Bu Ratna sambil menyantap makanannya.
"Memangnya Aisyah gak bisa kasih cucu, ya?" Winda berusaha memancing obrolan tentang keingintahuannya tentang Aisyah pada Bu Ratna.
"Wanita mandul itu, emang gak berguna. Udah bagus dia kerja jadi manajer pas nikah sama anak saya malah berhenti. Katanya mau fokus ngurus rumah. Benar-benar tol*l. Gobl*k. Memannga dia pikir anak saya alat untuk menghidupi dirinya yang seenaknya ongkang-ongkang kaki di rumah? Kamu tahu nggak, Aisyah itu malah ngotot sama saya kalau dia sudah cek ke dokter dan hasilnya normal. Tapi lihat! Buktinya sekarang dia gak isi. Berarti dia mandul." terang Bu Ratna berapi-rapi.
Winda manggut-manggut. Dia bukan wanita bodoh. Jelas masalah ini ada pada Wisnu. Winda tahu Bu Ratna mencoba mengelak atas kekurangan anaknya. Sementara itu, Wisnu makan dengan cepat. Percakapan tentang Aisyah membuat perasaannya sakit. Sesuatu yang terlanjur terjadi tak bisa disesali. Laki-laki itu tak bisa meminta kembali.