Bab 1

Seorang wanita yang tengah sibuk menata beberapa menu makan malam, ia tersenyum puas saat melihat beberapa hasil masakanya yang tertata rapi di atas meja.

"Sempurna." Gumamnya dengan senyum mengembang.

"Aku yakin Mas Reno akan menyukainya, apalagi dengan kabar yang akan dia terima nanti." gumamnya sambil memegang hasil laporan dari sebuah rumah sakit.

Ya, malam ini ia akan memberikan sebuah kejutan untuk sang suami. Tepat ke tiga bulan pernikahannya, Aurel di nyatakan hamil.

Tentu saja hal ini membuat Aurel bahagia, dia ingin memberitahukan suaminya saat makan malam bersama nanti.

Bahkan untuk merayakan kehamilannya, ia sengaja membuat berbagai menu kesukaan sang suami untuk makan malam nanti.

Ia berharap dengan kabar kehamilannya, suaminya akan semakin mencintai dan menyayanginya.

Ia sangat berharap pernikahannya akan semakin bahagia dengan hadirnya seorang malaikat kecil di keluarga kecilnya ini.

Setelah yakin semuanya nampak sempurna, Aurel memutuskan untuk membersihkan diri lalu setelah itu ia akan menunggu sang suami pulang dari bekerja.

Rasanya sungguh tidak sabar melihat bagaimana reaksi sang suami kala mendengar kabar kehamilannya.

Beberapa menit sudah berlalu, kini Aurel sudah nampak cantik dengan dres bewarna putih. Rambutnya yang panjang dan lurus sengaja ia gerai, menambah kadar kecantikannya.

Aurel mengambil ponselnya ingin menghubungi sang suami. Ia ingin menanyakan pukul berapa suaminya akan pulang.

"Halo mas? kapan kamu pulang?" tanya Aurel sesaat panggilannya tersambung.

"Maaf Dek, malam ini Mas tidak bisa pulang! karena Mas harus pergi ke Bandung sekarang juga!" jawab Reno dengan nada menyesal.

"Kenapa mendadak sekali Mas?" ucap Aurel dengan nada Kecewa.

"Maafkan Mas, Dek, Restauran kita yang berada di cabang Bandung mengalami masalah. Mas harus kesana sekarang juga! Mas janji akan segera pulang!"

Aurel terdiam, rasa kecewa menyelimuti hatinya. Rencana untuk memberi kejutan kepada sang suami gagal total, karena suaminya harus pergi ke Bandung.

"Halo Dek, kenapa diam? kamu marah? maafkan aku sayang, setelah urusan selesai aku akan segera pulang!" janji Reno.

"Baiklah Mas, hati-hati di jalan!"

"Kamu marah Dek? sekali lagi Mas minta maaf, karena Mas pergi ke luar kota mendadak seperti ini." Sesalnya.

"Tidak Mas, aku tidak marah! Mas hati-hati di jalan, jika sudah sampai Mas kabari aku ya." Ucap Aurel menenangkan sang suami.

Dia tidak ingin Reno menjadi tidak fokus karena memikirkan dirinya yang sedang marah. Memang Aurel sedikit kecewa dan marah, tetapi mau bagaimana lagi? itu sudah menjadi tanggung jawab sang suami, sebagai pemilik sebuah restauran yang cukup terkenal di dalam bahkan di di luar kota ini.

"Baiklah kalau begitu Mas tutup telponya, kamu hati-hati di rumah, jika terjadi sesuatu maka hubungi Mas secepatnya!" ucap Reno mengakhiri panggilan telpon.

Aurel mendesah kecewa, rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa harus gagal karena sang suami tidak bisa pulang.

Ini bukan pertama kalinya Reno tidak pulang kerumah, dalam satu bulan terakhir sudah terhitung lima kali ini suaminya tidak pulang.

Entah masalah apa yang sedang di alami restauran suaminya itu. Suaminya tidak pernah bercerita tentang masalah pekerjaan denganya.

Aurel pernah bertanya, kenapa Reno tidak pernah membahas masalah restauran denganya.

Reno hanya menjawab ia tak ingin membebani masalah pekerjaan kepadanya, jadi biarlah Reno yang memikirkanya.

Reno hanya meminta kepada Aurel untuk selalu mendukungnya. Tentu saja Aurel menyanggupi permintaan sang suami.

"Sayang maafkan Mama, karena belum bisa memberitahu keberadaan mu ke papamu. Tetapi kamu tak perlu kawatir, masih ada waktu esok untuk memberitahu papamu! jangan sedih ya sayang!" gumam Aurel sambil mengelus lembut perutnya yang masih terlihat rata itu.

_____

Aurel perlahan membuka matanya saat cahaya matahari masuk lewat celah tirai dan mengenai matanya.

Ia mengusap pelan matanya yang terasa sangat perih karena masih mengantuk. Entah pukul berapa dirinya bisa tertidur?

Dengan malas ia menyibak selimut lalu turun dari pembaringanya. Dia harus segera bangun dan segera berangkat bekerja.

Ya, Aurel bekerja sebagai guru di salah satu taman Kanak-kanak yang tak jauh dari rumahnya.

Aurel sangat menyukai anak-anak, jadi dia memutuskan untuk menjadi guru TK. Karena baginya berada di dekat anak-anak membuatnya merasa tidak kesepian.

Apalagi di saat seperti ini, suaminya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya membuatnya merasa kesepian, dan anak-anak didiknya lah yang membuatnya merasa jauh lebih baik.

"Aku harus cepat, aku tak ingin murid-muridku menunggu terlalu lama!" gumam Aurel saat melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 06.30.

Tak butuh waktu lama untuk Aurel membersihkan diri, kini dirinya sudah siap dengan kemeja berwarna cream berlengan panjang yang di lipat sampai sebatas siku di padu dengan celana kain panjang bewarna hitam.

Tak lupa ia memakai kaca matanya yang selama ini menemaninya, karena matanya mengalami mata minus jarak jauh.

Aurel terlihat sangat sederhana namun tak mengurangi kecantikanya. Tak perlu menunggu lama, ia langsung berjalan keluar dan segera menarik sepeda motor matic kesayangannya.

perlahan Aurel menjalankan sepeda motornya dan membelah jalanan ibu kota di pagi hari ini. Aurel memberhentikan motor yang di kendarainya saat lampu jalan menunjukkan warna merah.

Saat sedang asik menunggu lampu merah menjadi warna hijau, netra Aurel tak sengaja melihat sebuah mobil mewah yang nampak tak asing baginya.

Bahkan untuk memastikannya, ia melihat plat nomor mobil itu. Ternyata benar dugaanya, mobil mewah yang berwarna hitam itu adalah milik suaminya.

"Itukan mobil Mas Reno? kok ada disini? bukanya mas Reno masih di Bandung ya?" gumamnya.

Tin....

Suara klakson berhasil membuyarkan lamunan Aurel. karena penasaran, akhirnya Aurel mengikuti mobil yang ia duga milik suaminya.

Ia hanya ingin memastikan kalau orang yang berada di mobil itu adalah suaminya, jika benar itu suaminya kenapa Reno tak memberi kabar kalau dia sudah kembali dari Bandung.

Kedua alis Aurel saling menaut saat mobil itu berbelok di sebuah perumahan. Karena sangat penasaran Aurel terus mengikuti mobil itu, hingga akhirnya mobil itu masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar dan mewah dan berpagar tinggi.

Aurel berhenti di luar pagar rumah itu. Aurel manatap Mobil yang berhenti, dan perlahan pintu mobil itu terbuka lalu muncul sosok laki-laki yang sangat ia kenali.

Aurel masih setia melihat lelaki yang sangat ia cintai keluar dari mobil lalu memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk seseorang.

Aurel bisa melihat binar bahagia dan pancaran cinta yang terlihat jelas di wajah sang suami. Ada binar bahagia saat Reno menatap wajah cantik sang wanita.

Selama dua tahun berpacaran dan selama tiga bulan menikah dengan Reno, Aurel tidak pernah melihat wajah binar dan tatapan cinta yang begitu dalam di pancaran mata Reno kepadanya.

"Siapa dia Mas? kenapa kau terlihat begitu bahagia saat bersamanya?" gumam Aurel dalam hati.

Bab 2

Reno yang tengah menggandeng mesra wanita yang baru saja memberinya kabar gembira ini, seketika menghentikan langkahnya saat menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikanya dari luar pagar.

"Aurel?" gumamnya saat menyadari siapa orang yang sedari tadi memperhatikanya.

untuk sesaat tatapan mata mereka bertemu, hingga Aurel memilih menyalakan mesin motornya dan segera meninggalkan tempat yang begitu menyesakkan baginya.

"Kenapa Sayang?" tanya Ayunda karena Reno menghentikan langkahnya.

"Tidak, tidak ada. Lebih baik kita segera masuk ke dalam! aku tak ingin kau kelelahan," ucap Reno membawa Ayunda masuk ke dalam rumah mereka.

Hati Reno merasa sangat gelisah saat melihat Aurel berada di depan rumahnya. Ia yakin Aurel tengah merasa dibohohongi dan ingin meminta penjelasan padanya.

"Mungkin sudah saatnya Aurel tahu yang sebenarnya. Aku berharap dia mau menerima Ayunda sebagai adik madunya." Gumam Reno dalam hati.

Sementara itu Aurel lebih memilih untuk berhenti di sebuah taman, yang cukup sepi pengunjung.

Dia teringat bagaimana suaminya menggandeng mesra wanita lain. Hatinya begitu sangat cemburu, melihat bagaimana Reno begitu terlihat menyayangi wanita itu.

"Siapa dia Mas? kenapa kau terlihat begitu menyayanginya? Bahkan aku tak pernah melihat binar bahagia di matamu saat kau bersamaku," gumamnya sendu.

Aurel mengingat saat pertama kali bertemu dengan Reno. Lelaki itu terlihat sangat frustasi sehingga membuatnya tak fokus berjalan kaki, hingga lelaki itu hampir tertabrak mobil jika saja dia tidak menarik Reno ke pinggir jalan.

Sejak saat itu mereka menjadi dekat dan memutuskan untuk berpacaran. Selama dua tahun berpacaran Reno terlihat sangat mencintainya hingga akhirnya memutuskan untuk melamar Aurel dan memintanya untuk menikah.

Tentu saja Aurel menerima ajakan menikah dengan Reno, karena dia juga sangat mencintai Reno dan menunggu momen dimana Reno mengajaknya menikah.

Aurel kira sudah cukup mengenal Reno, karena terhitung cukup lama mereka berpacaran. Namun, pernikahan yang baru seumur jagung, Reno sudah menggandeng wanita lain, bahkan lelaki itu nampak bahagia sekali bersama dengan wanita yang tak di kenalnya.

Aurel duduk termenung memikirkan nasib pernikahannya ke depan, apalagi saat ini dirinya tengah hamil.

Dia bingung, apakah dirinya akan memberitahu Reno kalau dirinya tengah hamil atau tidak. Jika dia memberitahu, apakah Reno akan menerima bayinya dan meninggalkan wanita itu?

"Maafkan Mama sayang, jika nanti kamu harus kehilangan kasih sayang papamu sebelum kamu lahir. Apapun yang terjadi, Mama akan tetap mempertahankan mu sayang," gumam Aurel sembari mengelus lembut perutnya.

Seharian ini Aurel berada di taman untuk menenangkan dirinya, hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam, akhirnya Aurel memutuskan untuk pulang.

Sebenarnya dia enggan untuk pulang, tetapi dirinya harus menemui suaminya agar semuanya jelas, berharap suaminya mau jujur tentang hubunganya dengan wanita yang dia peluk mesra tadi pagi, itupun jika suaminya pulang malam ini.

"Dari mana saja, kenapa jam segini baru pulang?" terdengar suara bariton yang sangat ia kenali.

Lelaki itu tengah berdiri di ruang tengah sembari melipat kedua tanganya di depan dadanya. Tatapannya sangat tajam, menandakan dirinya tengah menahan amarah.

"kau masih peduli denganku Mas?" tanya Aurel dengan nada tenang.

walaupun hatinya sangat ingin memaki lelaki yang berstatus suami baginya ini, namun sekuat tenaga ia menahannya.

"Tentu saja aku peduli! ingat, kau itu istriku. Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa seijin suaminya."

"Cih, jika aku tak keluar maka aku tidak akan pernah melihat pemandangan yang begitu menyenangkan." Sindir Aurel.

Setelah mengatakan hal itu, Aurel lebih memilih masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket, ia ingin beristirahat, karena jujur tubuh dan pikiranya sangat lelah.

Biarlah, dia akan menunggu Reno membahas masalah siapa wanita yang di gandengnya tadi pagi.

Sementara Reno hanya diam menatap punggung Aurel yang menghilang dari balik pintu kamar mereka.

Seharusnya dirinya bisa menahan emosinya. Ia lupa kalau Aurel telah melihatnya bersama Ayunda tadi pagi.

Reno menghela nafasnya secara kasar, ia lebih memilih untuk mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar dan memberitahu yang sebenarnya tentang hubunganya dengan Ayunda.

Dia berharap, Aurel bisa menerima Ayunda dan jika itu terjadi, maka Reno berjanji akan bersikap adil untuk kedua istrinya.

Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit, akhirnya Aurel selesai dengan acara mandinya.

Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati sang suami yang tengah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

"Kau sudah selesai? kemari lah kita perlu bicara!" titah Reno sambil menepuk pinggiran ranjang sebelahnya.

Aurel hanya diam dan berjalan di kursi meja rias duduk tepat di depan sang suami. Entah, dirinya enggan untuk duduk di samping sang suami.

"Cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan." Tanya Aurel dengan nada datar.

Tanganya sibuk mengambil krim malam dan mengolesnya di wajahnya. Reno menatap sendu ke arah sang istri, ini pertama kalinya Aurel bersikap dingin terhadapnya.

"Dek, aku ingin memberitahu sesuatu hal yang penting!"

"Katakanlah Mas, jangan berbelit!"

Reno mengambil nafas dalam lalu membuangnya secara perlahan. Reno menatap lekat kepada istrinya yang tengah sibuk dengan skincarenya.

Ia tahu, Aurel melakukan hal itu hanya ingin mengalihkan rasa gugup dan penasaran nya. Bahkan, Reno juga tahu, kalau istrinya ini sedang menahan amarah karena telah melihatnya bersama dengan wanita lain yang terlihat sangat mesra.

"Sebenarnya aku sudah menikah dengan Ayunda Dek."

Tak

Skincare yang di pegang oleh Aurel terjatuh, Aurel menatap tak percaya pada lelaki yang sudah ia nikahi selama 3 bulan ini.

Tubuhnya bergetar, telinganya berdengung seolah apa yang ia dengar itu salah. Kepalanya terasa berputar, tanganya mencengkram erat meja rias.

"S-sejak kapan Mas?" tanya Aurel dengan bibir yang bergetar menahan tangis, matanya menatap tajam ke arah sang suami melalui kaca.

Di sana dia bisa melihat suaminya juga tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Aurel bisa melihat ada semburat rasa bersalah dari wajah tampan sang suami.

"Sudah satu bulan ini Dek," jawab Reno.

Reno berdiri dan mendekati Aurel, dia memegang pundak istrinya yang terasa bergetar menahan amarah dan tangis sekaligus.

Reno berjongkok di depan Aurel, tanganya menggenggam tangan istrinya yang terasa sangat dingin.

"Dek, maafkan aku karena sudah mengkhianati pernikahan kita...."

"Ceraikan aku Mas, aku tak ingin di duakan! aku tak bisa berbagi suami dengan wanita lain, jadi lebih baik kita bercerai saja." Potong Aurel yang sekuat tenaga menahan air matanya.

Meskipun hatinya begitu hancur, mendapati kenyataan jika suaminya sudah menikah lagi. Namun ia tak ingin terlihat lemah di depan suaminya ini.

Ya, Aurel lebih baik memilih mundur dari pada harus menjalani poligami. Ia benar-benar tak sanggup.

"Tidak, aku tidak akan menceraikan mu!" tegas Reno.

Bab 3

"Dek, mari kita bicarakan hal ini secara baik-baik. Mas tidak ingin ada perpisahan di antara kita Dek." Reno berusaha membujuk istrinya.

Reno tak ingin berpisah dengan Aurel,

"Jika tidak ingin berpisah denganku, maka ceraikan dia!" tegas Aurel.

Reno terdiam mendengar ucapan Aurel, kini dia di hadapkan dengan dua pilihan.

"Maaf, Mas tidak bisa meninggalkan Ayunda karena, karena dia tengah hamil anak Mas."

Degh....

Mendengar pengakuan dari Reno membuat jantung Aurel terasa berhenti berdetak. Aurel benar-benar tak dapat mempercayainya.

"Ha-hamil?" tanya Aurel dengan terbata.

Reno hanya mengangguk sebagai jawaban, dia menggenggam erat tangan Aurel dan menatap lekat wajah Aurel yang perlahan di tetesi air mata.

Ya, mendengar wanita yang di nikahi suaminya tengah hamil, membuatnya tak bisa lagi membendung air mata yang sekuat tenaga ia tahan agar tak keluar.

Namun, apalah daya? kabar yang di bawa oleh suaminya membuatnya merasa sangat sakit hati sehingga tak mampu lagi untuk membendung air matanya.

"Dek, Mas yakin kita bisa hidup bahagia bersama dengan Ayunda dan anak kita."

"Anak kita?" Aurel mengulang ucapan sang suami.

"Iya, anak kita. Kau bisa menganggapnya sebagai anakmu sendiri, kita akan merawatnya bersama sayang." Ucap Reno lembut.

"Cih, kau yang membuatnya bersama wanita lain, lalu kau menyuruhku untuk merawat anak hasil perselingkuhan kalian?"

"Dek...." Bentak Reno tak terima dengan ucapan Aurel.

"Kenapa? aku memang benar kan Mas? anak itu hasil perselingkuhan kalian, dan aku tak akan pernah mau merawat anak itu! jadi lebih baik kita bercerai saja." Tegas Aurel, sembari mengusap air matanya secara kasar.

"Tidak! aku tidak akan pernah menceraikan mu! suka tidak suka kau akan tetap menjadi istriku, dan Ayunda akan menjadi adik madumu!" tegas Reno.

"Jika kau tak ingin mengurus surat perceraian kita, biar aku saja yang akan mengurusnya!" ucap Aurel datar.

Mendengar hal itu, seketika Reno menatap tajam Aurel. Ia menarik tangan Aurel dengan kasar sehingga membuat tubuh mereka saling bertabrakan.

Aurel bisa melihat kilatan amarah di kedua mata Reno, namun Aurel sama sekali tidak takut. Ia membalas tatapan itu tak kalah tajam.

"Aku takkan membiarkanmu mengajukan gugatan cerai, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi istriku!"

Reno menarik tengkuk Aurel, sehingga membuatnya mendongak dan membuat mulutnya sedikit terbuka, tanpa pikir panjang Reno langsung melumat bibir mungil sang istri.

Rasanya tak rela jika ia harus berpisah dengan Aurel. Meskipun ia sangat mencintai Ayunda, namun tak dapat di pungkiri ia juga mulai mencintai istrinya ini.

Apapun akan ia lakukan untuk membuat Aurel tetap berada di sisinya. Reno adalah seorang laki-laki, dan dia berhak untuk memiliki dua istri.

Apalagi secara materi dia mampu untuk menafkahi dua istrinya. Dia juga akan berusaha bersikap adil untuk mereka berdua.

Aurel mencoba memberontak melepas ciuman sang suami, namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawan suaminya.

Apalagi sedari tadi siang dia belum memasukkan apapun ke dalam perutnya. Membuatnya lemas tak betenaga.

Aurel hanya bisa pasrah menerima perlakuan sang suami. Malam ini menjadi saksi kesakitan yang Aurel alami.

Aurel tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini, ia hanya bisa berharap untuk bisa segera terbebas dari Reno sang suami.

aaakkkhhh.....

Reno menyemburkan benihnya ke dalam rahim Aurel. Setelahnya dia ambruk di samping sang istri dan membawanya ke dalam pelukanya.

"Maafkan aku sayang, aku tak ingin kehilangan salah satu dari kalian." Gumam Reno mengecup puncak kepala sang istri.

Sementara Aurel hanya diam saja, dia lebih memilih memejamkan matanya. Berharap ini semua hanyalah mimpi buruk baginya, dan besok pagi semuanya akan kembali seperti semula.

_______

Aurel membuka matanya secara perlahan saat merasakan ada sebuah tangan yang mengusap lembut puncak kepalanya.

"Kau sudah bangun sayang?" ucap Reno dengan lembut, lalu ia mengecup lembut kening sang istri.

Reno bersikap seperti biasanya, lembut dan terlihat sangat mencintai dan menyayangi Aurel.

"Mas...." Aurel mencoba untuk bangun, namun dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya

Seketika ia teringat tentang kejadian tadi malam, ternyata semalam bukan mimpi, namun sebuah kebenaran.

Reno membantu Aurel untuk bangun dan perlahan mendudukunya.

"Ini minumlah, dan segera makan sarapanmu! Mas harus segera pergi bekerja." Reno menyodorkan semangkuk bubur ayam kepada sang istri yang terlihat pucat.

Reno menjadi semakin bersalah, ia sangat yakin karena kejadian semalam membuat wajah Aurel menjadi sangat pucat.

"Aku kira, semalam hanya mimpi Mas. Ternyata semua itu kenyataan yang harus aku alami." Ucap Aurel sembari kembali meneteskan air matanya.

"Sebenarnya apa salahku dan apa kurang ku Mas, sehingga kau tega menduakanku? Jika kau memang sudah tak lagi mencintaiku, maka cukup lepaskan aku, jangan membuatku terluka semakin dalam seperti ini Mas," Aurel menangis tersedu, rasanya ia tak sanggup lagi untuk membendung semua pertanyaan itu di dalam benaknya.

Reno membawa tubuh Aurel yang bergetar karena tangis yang pecah dan terdengar sangat memilukan.

Reno sekarang benar-benar sudah menjadi seorang bajingan, yang sudah menyakiti hati seorang wanita yang selama ini menemani dirinya di saat terpuruk dan menjadi orang sesukses sekarang.

"Kau tidak salah sayang, di sini yang salah itu Mas. Maafkan aku, karena sudah membuatmu terluka sampai seperti ini. Tetapi kamu harus tahu, kau akan selalu ada di hatiku Aurel. Mas sangat menyayangimu." Ucap Reno sembari mengeratkan pelukanya.

"Mas, perutku sakit." Keluh Aurel sembari mencengkram erat perutnya yang terasa keram.

"Kau kenapa sayang?" tanya Reno panik, karena melihat Aurel yang terlihat kesakitan. Apalagi melihat wajah yang semakin pucat sang istri.

Aurel hanya menggeleng, sembari meringis kesakitan. Rasanya ia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan sang suami.

Aurel meremas kuat perutnya yang terasa semakin sakit, hingga membuatnya tak sadarkan diri.

"Aurel, hey kamu kenapa sayang?" Reno bertanya sembari menepuk pelan pipi sang istri, berharap Aurel mau membuka matanya.

Tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, Reno segera membopong tubuh istrinya untuk di bawa kerumah sakit agar Aurel segera di periksa.

Selama perjalanan Reno tak hentinya mengutuk dirinya sendiri karena sudah membuat wanita yang ia sayangi terluka seperti ini.

"Seharusnya aku tak melakukan hal ini, maafkan aku sayang! Aku berharap kau baik-baik saja." Gumam Reno sembari sesekali melihat Aurel yang berada di sampingnya.

Tak butuh waktu lama, mobil yang di tumpangi Reno sudah sampai di rumah sakit. Dengan segera Reno menggendong tubuh Aurel.

"Dokter, tolong istri saya dokter." Teriak Reno dengan wajah paniknya.

Mendengar Reno yang berteriak, beberapa dokter dan suster segera mengambil alih tubuh Aurel untuk di periksa.

Reno ingin ikut masuk ke dalam UGD, namun di tahan oleh perawat dan memintanya untuk menunggu di luar.

"Semoga kau baik-baik saja sayang, Maaf...." Gumam Reno dengan penuh penyesalan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED