Bab 1

Seorang wanita cantik berambut gelombang dengan gaun merah ruby yang menyeret hingga ke kaki berjalan anggun dengan high heels tiga jarinya.

Namanya adalah Alika (28 tahun) sang business woman yang sudah tiga tahun ini menjadi direktur dari perusahaan terkenal Alika's group.

Tepatnya saat ini ia sedang menghadiri acara pernikahan mantan suaminya. Beberapa orang saling berbisik saat melihatnya.

"Lihat, dia datang. Dasar muka tembok! Setelah mempermalukan Rachel didepan publik, dia masih punya muka untuk menghadiri acara pernikahan mantan suaminya." desis salah satu wanita.

"Urat malunya mungkin putus." wanita lainnya menertawakan.

Alika memutar matanya dan mencoba mengabaikan perkataan menjijikan beberapa orang. Ia tidak peduli jika banyak orang menghujatnya, bahkan ia pun tahu sedang berada dimana.

Ia telah masuk ke dalam kandang singa. Yang ketika sudah menginjakkan kakinya ke dalam, ia tidak akan mungkin bisa keluar.

Sejujurnya ia sangat tidak selera menghadiri acara pernikahan sang mantan suami. Jika saja bukan karena atas dasar hubungan kerja ia tidak akan sudi menginjakkan kakinya ke kandang singa.

Kandang yang kotor, menjijikan, memuakkan bahkan menjadi tempat bersemayam sang pelakor dan mantan suami yang suka pamer. Menghadiri pernikahan mereka bahkan sangat berkemungkinan melunturkan harga dirinya.

Sebenarnya dua hari yang lalu Alika bertemu dengan sang mantan suami (Andrew) di kantor kepemilikan lelaki itu.

Awalnya membahas pekerjaan tapi tiba tiba Rachel datang dan bergelayut di bahu Andrew, menghimbau pada Alika untuk tidak terlalu dekat dengan suaminya karena sebentar lagi mereka akan menikah.

Alika tidak percaya wanita itu bahkan membicarakan hal konyol padanya di jam kerja seperti ini. Seolah dia mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.

Ditambah lagi Andrew setuju dengan perkataan Rachel yang lantas membuat Alika tercengang. Menurut Andrew, Alika terlalu sering mengunjungi kantornya, kenapa tidak menyerahkan masalah ini ke sekretarisnya saja yang bernama Albert.

Itu katanya. Bahkan katanya lagi, ia khawatir jika calon istri barunya yang sangat membanggakan dan lulusan Oxford dengan predikat cumlaude itu bakal menjadi bulan bulanan Alika.

Alika benar benar jengkel saat itu.

Ini cowok kepedean banget! Bahkan jika dipikir, mereka berdua sama sama memiliki kesamaan, yaitu membuat tensi darah naik!

Saat itu Alika pun membalas dengan perkataan yang tak jauh lebih pedas. Ia mengatakan jika Rachel terlalu berlebihan, bahkan ia tidak bisa membedakan antara masalah pekerjaan dan hubungan pribadi.

Jika dari awal saja tidak bisa menjadi pribadi yang mawas diri, bagaimana mungkin bisa menjadi istri yang membanggakan. Ditambah merebut kembali Andrew adalah hal yang paling tidak masuk di akal.

Apakah ia akan merebut mainan yang sudah menjadi bekas orang lain? Itu kata Alika.

Dan tak ada yang bisa Alika tangkap dari raut wajah Rachel selain tatapan jengkel. Alika yang baru akan pergi tiba tiba tersandung kaki Rachel. Gadis itu terlihat puas saat melihat Alika hampir akan terjatuh.

Ditambah Andrew merasa sangat pede jika Alika melakukan itu untuk menarik perhatiannya supaya dipeluk atau dibantu berdiri olehnya. Andrew mengatakan hal yang benar benar memuakkan untuk kesekian kalinya.

Alika bangun dengan sendirinya, ia melihat Rachel yang tampak semerdeka itu. Alika tidak tahan melihatnya, bahkan segelas air yang ada dimeja langsung ia ambil dan guyur wajah Rachel.

Alika merasa sangat puas, meskipun banyak orang jadi memusatkan perhatian pada mereka bahkan setelahnya mereka jadi saling bersangka buruk pada Alika.

Hari ini di hari pernikahan mereka. Diatas panggung, Andrew sang mantan suami dan Rachel sang pelakor saling bersalaman dengan beberapa tamu undangan. Alika merasa malas sekali ingin ke atas panggung bersalaman dengan mereka.

Tapi jika tidak bersalaman dengan mereka, ia tidak bisa cepat pulang. Setidaknya ia harus menghormati pemilik acara ini.

Alika pun memberanikan diri menaiki panggung, dari sana ia bisa mendengar banyak suara saling berbisik dibelakangnya.

"Tuh lihat, si perusak suasana."

"Kenapa sih dia diundang?"

"Dia pasti cemburu. Pasti sekarang mau ngacak ngacak panggung."

"Kayaknya bakal ada huru hara setelah ini."

Itu adalah segelintir suara beberapa orang dibelakang Alika yang sangat terdengar jelas di telinganya. Alika coba mengabaikannya dan maju mendekati Andrew serta Rachel.

Andrew yang melihat Alika berjalan mendekat langsung menyambutnya. Mereka saling bersalaman saat itu.

Andrew berbisik ditelinga Alika. "Kamu cantik sekali hari ini, tapi jangan harap saya mau berpaling ke kamu lagi." bisik Andrew dan langsung dihadiahi injakan kaki oleh Alika.

Gadis itu tetap tersenyum padanya lalu beralih bersalaman dengan Rachel.

"Maaf ya Al atas kejadian waktu itu, elo sih yang duluan ngeselin jadi gue ikut kebawa moody." ujar Rachel. Alika pura pura tersenyum meski dalam hati ingin muntah. Bahkan ia berkata pelan dalam hati.

"Kamu juga ngeselin. Saya tidak pernah menyesal sudah mengguyur rambutmu." gumam Alika.

"Lo ngomong apa Al?" tanya Rachel tidak mendengarkan karena suara berisik organ tunggal.

Alika menggeleng dan tersenyum, seolah merasa ia tidak apa apa saat itu.

Tiba tiba Andrew berkata kepada tamunya yang ingin salaman dengannya.

"Mas, mau sama wanita ini enggak? Dia mantan istri saya. Cantik kan? Kalo mas berkenan nanti saya kasih nomor teleponnya." ujar Andrew. Alika langsung geram dan merasa Andrew sangat konyol, apakah lelaki ini gila?!

"Namanya Alika mas, dia semenjak cerai sama saya jadi suka melamun, marah marah gak jelas, pendendam dan galau akut. Mas mau kan sama wanita ini?" tanya Andrew.

Alika benar benar merasa dipermalukan. Memangnya ia barang?! Tanpa sadar tangan Alika pun tergerak untuk menampar pipi Andrew.

Semua tamu undangan yang sudah mengira hal ini akan terjadi pun saling berkata. "Apa gue bilang." Lalu saling bergosip banyak hal seputar reputasi Alika yang sudah tercoreng di mata para pendukung Rachel dan Andrew khususnya dari keluarga mereka.

"Kamu pikir saya barang main ditawarin seenaknya sama orang lain?!" tandas Alika.

"Udahlah Al, enggak usah nyangkal. Kamu kan statusnya janda sekarang jadi ada kemungkinannya bakal nemuin suami lagi itu jarang." ujar Andrew kemudian disambut oleh Rachel.

"Betul tuh kata mas An." bela Rachel.

Alika merasa sangat benci dengan mereka berdua. Ia lantas berkata "Lihat saja, saya akan membuktikannya!

Bahwa saya akan mendapatkan suami dalam waktu yang tidak kalian sangka!" tandas Alika dan lantas membuat kedua makhluk lucknut itu terdiam.

Lihat saja! Aku akan segera menemukan suami!

Setelahnya, Alika berjalan cepat keluar dari gedung pernikahan itu. Albert, sekretarisnya yang melihat Alika keluar dari gedung dengan terburu buru langsung mencoba mengejarnya.

Ia pun tahu apa yang barusan Alika lakukan, dia menampar mantan suaminya di hari pernikahannya, tepat didepan publik dan para delegasi perusahaan.

Ia telah berhasil mencoreng nama dan reputasinya sendiri di acara ini. Tapi yang ia lihat selama ini dari sosok Andrew adalah dia berengsek, dia adalah lelaki yang sangat gemar membuat Alika hipertensi.

Dia benar benar lelaki yang tidak cocok untuk dijadikan pendamping hidup sang Miss independen itu.

Di dalam mobil Pajero sport miliknya, Alika terus menatap jendela. Menarik turunkan nafasnya mencoba menetralisir dadanya yang semula dibuat sesak. Albert segera masuk dan duduk di kursi setir, tepat disamping kanannya.

"Anda terlihat kusut. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Albert.

"Dimana saya bisa mendapatkan suami secepatnya?" tanya Alika langsung ke intinya.

Bab 2

Albert terkejut dan lantas tertawa kecil. "Apa anda pernah mendengar seseorang berkata seperti ini? Segala sesuatu tidak ada yang instan. Bahkan mie instan saja harus dimasak dulu baru bisa dimakan. Begitupun saat anda mencari suami. Ya apalagi suami." ujar Albert dan lantas membuat Alika terus menatapnya.

Albert yang mau bertanya apakah ada sesuatu dengan wajahnya langsung di potong sebelum bicara.

"Apa kau mau menjadi suamiku Al?" tanya Alika dengan mata berbinar.

"Plis." ucapnya lagi.

"Apa anda baru saja membenturkan kepala anda Bu direktur?" tanya Albert serius

"Hah? Kamu pikir ini sinetron?" gerutu Alika.

"Jika saya menjadi suami anda, saya tidak bisa menjadi sekertaris anda lagi dan besar kemungkinan saya akan menjadi pemilik perusahaan properti milik anda." ucap Albert dengan wajah datar.

"Loh bukannya itu bagus?" tanya Alika

"Saya hanya tidak ingin menjadi orang yang repot sama seperti anda."

"Hah?"

"Jika saya menjadi orang yang repot maka saya tidak akan pernah bisa menjadi majikan yang baik untuk Elijah."

Alika tidak percaya ini, Albert bahkan lebih memilih mengurus kucingnya dibanding menjadi pemilik perusahaan besar. Dasar sekertaris tidak jelas.

Alika memijat pelipisnya, pusing dengan kegesrekan sekretarisnya satu ini. "Oke, kalau kamu tidak mau menjadi suami saya. Bagaimana jika menjadi suami kontrak saya?" tanya Alika.

"Tetap tidak bisa, karena akan sama sama merepotkan. Jika saya jatuh cinta dengan anda akan lebih repot lagi." ujar Albert. Alika merasa kesal, ia semakin keras memijat pelipisnya.

"Yasudah kalau begitu carikan aku suami." ujar Alika.

"Apa anda tertarik dengan biro jodoh?" tanya Albert

"Biro jodoh? Ya apapun itu asal saya bisa cepat mendapatkan suami." ujar Alika.

"Baiklah kalau begitu. Saya dengar ada sebuah biro jodoh di daerah Jakarta. Biro jodoh ini sering melahirkan begitu banyak pasangan yang berakhir langgeng dan harmonis rumah tangganya." ucap Albert.

"Yah terserahlah, yang penting saya mau suami. Katakan pada mereka jika saya menginginkan suami dengan lima kriteria, pertama enak dipandang, murah senyum dan semacamnya, kaya atau miskin tidak masalah yang paling penting adalah dia seperti itu ! Kedua baik, bukan orang begajulan, tidak suka narkoba ataupun berhidung tindik. Saya tidak suka, lalu ketiga dia tidak merokok, keempat dia pandai berakting, jika saya meminta dia berakting mesra dengan saya, dia harus pandai berakting dan kelima dia harus pandai memasak." ujar Alika. Albert menyimak, ia langsung berbicara.

"Akan lebih baik jika anda juga ikut dengan saya kesana." ujar Albert.

"Supaya anda bisa bebas memilih yang mana yang cocok dengan anda." ucapnya lagi.

"Boleh sih, kapan rencananya kita kesana?" tanya Alika.

"Besok bagaimana? Anda sibuk?" tanya Albert.

"Jika kamu mau besok, batalkan saja meeting kita besok dan cari hari lain." usul Alika.

"Baik kalau begitu." ucap Albert.

Esok paginya

Alika dan Albert berada didalam mobil Pajero sport itu. Alika tampak sangat cantik saat itu, memakai blouse dan rok pendek serta dibalut oleh sebuah blazer.

Sementara Albert tampil biasa saja, sama persis seperti penampilannya sehari hari berangkat ke kantor. Mobil menepi didepan sebuah lapangan luas yang sejauh mata memandang terdapat ratusan mobil terparkir disana. Alika berpendapat mungkin itu adalah mobil para calon peserta biro jodoh ini.

Bahkan didepan sana terlihat gedung sangat besar dan bertingkat, mirip sebuah apartemen atau gedung pencakar langit yang ada di pusat kota jakarta. Tepatnya gedung itu merupakan kantor biro jodoh yang sedang mereka cari itu.

Sedikit lebih jauh biro jodoh ini bernama "Angel's cupid" bahkan sepanjang mata memandang, Alika bisa melihat spanduk pink dan merah bertuliskan "Angel's cupid" diseluruh area lapangan maupun gedung.

"Angel's cupid" sebenarnya merupakan biro jodoh yang bernaung dibawah perusahaan Angela's group. Perusahaan yang masih berusia seumur jagung namun akibat ketenaran "Angel's cupid" tersebut, ia mampu menjadi perusahaan terbesar se indonesia.

Awal pemasaran mereka adalah memanfaatkan media sosial dan mempromosikan kepada para pelanggan mereka untuk memviralkan kesuksesan mereka dalam mendapatkan jodoh dari Angel's cupid ini.

Semenjak biro jodoh ini menunjukkan performa baiknya sebagai ajang mencari pasangan yang paling laku dan laris manis.  mampu menyumbang kekayaan perusahaan yang sangat besar hingga sampai 90 persen bahkan kini perusahaan mereka mulai merambah ke berbagai bidang untuk meluaskan nama mereka agar lebih dikenal ke masyarakat umum yang bukan hanya sekedar menawarkan jasa saja akan tetapi produk juga.

Seperti produk kecantikan, tas branded, baju, berlian dan kuliner. Pemilik Angela's group yang misterius ini pun yang tadinya kaya jadi semakin double tingkat kekayaannya.

Sepanjang Albert menjelaskan tentang Angela's group dan Angel's cupid, Alika menyimaknya dengan baik, ia jadi semakin penasaran dengan perusahaan yang tingkat kekayaannya paling tinggi se-Indonesia itu.

Bahkan perusahaan Alika saja kalah dengan perusahaan itu. Ia penasaran apakah biro jodoh ini mampu memberikan apa yang jadi keinginannya itu.

Mereka akhirnya sampai ke dalam gedung Angel's cupid. Albert menyarankan Alika untuk duduk karena ia menyadari pendaftaran itu akan berlangsung lama.

Alika pun menunggu cukup lama disana lalu kemudian mereka disarankan untuk pergi ke lantai dua. Sesampainya didalam aula lantai dua yang luas dan megah, terdapat begitu banyak peserta biro jodoh bahkan total peserta yang tercatat di buku absen yang Albert isi total ada lima ratusan peserta.

Pembawa acara menjelaskan tentang Angel's cupid, sejarahnya, kapan didirikan, tujuan dan bagaimana awal mula terbentuknya biro jodoh itu. Sangat detail hingga Alika merasa sangat mengantuk mendengarnya.

Albert yang menyadari kepala Alika naik turun ketika mendengarnya langsung menaruh pipi Alika dengan minuman dingin.

Alika menggeram. "Apa yang kau lakukan heh?"

"Saya khawatir anda disuruh maju ke depan kalau ketahuan tertidur." ucap Albert dengan wajah datar. Alika memutar matanya.

"Kau pikir ini disekolah huh?" balas Alika.

Satu jam kemudian pidato pun selesai, bagi Alika itu adalah pidato yang benar benar sangat berguna untuk dijadikan ajang baginya menahan kantuk selama satu jam. Bagus sekali, ia sudah mendengar pidato yang membuang waktunya. Tidak bisakah langsung skip saja bagian pemilihan suami?!

Alika yang merasa tidak sabaran pun berbisik pada Albert. "Tidak bisakah langsung ke bagian memilih suami Al? Aku berlama lama disini bisa jadi fosil nanti." ucap Alika.

Seseorang dibelakang kursi mereka terlihat menertawakan. Alika terkejut saat menoleh ada perempuan sangat cantik dibelakangnya. Seperti malaikat. Bahkan dia nampak seperti boneka dimata Alika, tunggu... mungkinkah dia boneka hidup? Manequin yang tiba tiba berubah menjadi seorang manusia?

Wanita berambut panjang itu tersenyum manis pada Alika, menyapanya. Alika balik tersenyum canggung.

Alika akhirnya diperkenankan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Albert sialan itu malah tidak memilih ikut ke dalam ruang itu. Benar benar sekertaris tidak setia kawan!

Seorang wanita dengan rambut menyurai panjang yang wajahnya hampir bisa disamakan boneka itu duduk disebuah kursi dan tersenyum menyapanya. Tunggu dia... bukankah dia terlihat seperti wanita tadi?! Si malaikat itu!

Alika langsung balik tersenyum menyapanya. Ia beralih duduk di kursi yang telah disediakan dihadapan gadis itu. Alika sesekali memberanikan diri menatap gadis tersebut dengan menaikkan sedikit wajahnya.

Lalu yang ia terima adalah pesona kecantikan sang gadis yang begitu menyilaukan bahkan hampir melebihi sinar lampu diatasnya.

Tapi kelihatan dari wajahnya, gadis ini tampak masih berumur sekitar belasan tahun. Ah tidak.. minimal baru lulus sekolah sih. Sudahlah.. kenapa juga ia harus memikirkan gadis ini?

Gadis itu tiba tiba mengajak Alika bersalaman, Alika coba meredam rasa canggungnya dengan sebuah kepercayaan diri dan sikap inteleknya.

Ia terima salaman tangan gadis itu lalu balik tersenyum sama hal dengannya. Gadis itu berkata. "Perkenalkan, nama saya Angela. Saya adalah orang yang akan membimbing anda untuk mencari cinta sejati yang mungkin akan layak untuk anda pertimbangkan." ucap Angela bijak.

Alika cukup terkejut dengan sikap gadis ini yang seolah sudah paham arti melayani dengan sikap terpuji dan beradab di umur yang terlihat baru belasan itu. Tapi ya.. bukan itu masalahnya. Apa katanya tadi? Pertimbangkan?

Alika merasa ada sesuatu yang salah disini. Ia lantas berkata. "Tunggu,  maksud perkataan anda barusan yang mungkin akan layak untuk dipertimbangkan. Apakah mungkin maksudnya anda berkenan memberikan saya kandidat calon suami yang kemungkinan besarnya tidak mungkin saya pilih?" tanya Alika.

Angela tidak terlalu paham dengan maksudnya. "Maksudnya?"

"Maksud saya, apakah tidak bisa jika saya saja yang mengajukan langsung kriteria yang saya inginkan?" tanya Alika. Angela yang baru paham lantas menjawabnya.

"Maaf, tidak bisa bu. Sistem pemilihan calon pasangan disini memang seperti itu. Tidak bisa mengajukan syarat, akan tetapi kita yang menawarkan masing masing biodata para calon." ujar Angela.

Benar benar membuang waktu.

Alika menghela nafas kesal, ia segera menyampirkan tasnya ke lengan dan bangkit dari kursinya. Hendak pergi, namun sebelum itu ia melihat jam di tangannya dan berkata dengan wajah datar menatap Angela lurus.

"Dua jam, tiga puluh menit lewat dua detik." ucap Alika. Angela tidak paham. "Eh?"

"Saya sudah membuang waktu saya disini dua jam tiga puluh menit lewat dua detik, tanpa ada kepastian dan jaminan keinginan saya dapat terpenuhi." ucap Alika.

Bab 3

Angela terkejut. Ini pertama kalinya ada wanita yang menganggap waktunya terbuang sia sia berada disini.

Susah payah kakaknya membangun image baik tentang perusahaan yang dikelola atas namanya, tapi kini kemungkinan itu akan hilang begitu saja!

Satu review buruk pasti akan menyebabkan review buruk lainnya bermunculan.

Apalagi perusahaan ini adalah sebagai ajang pembuktian bagi ibu dan ayahnya jika ia dan kakaknya adalah orang yang sanggup untuk menjadi pimpinan perusahaan tanpa campur tangan kekayaan keluarganya. 

Angela tidak terima!

Ia yang tidak rela membiarkan image perusahaan yang dibangun oleh ia dan kakaknya hancur pun lantas mencegah Alika pergi. Ia memegang tangan Alika.

"Tunggu dulu.. apakah anda benar benar tidak berniat untuk melihat biodata para kandidat? Barangkali ada yang menarik minat anda." tanya Angela.

"Saya tidak berniat membuang waktu. Jika dari sekian banyak orang tidak ada yang menarik minat saya bagaimana? Hmm? Apakah anda bisa membayar kembali sisa waktu yang telah saya habiskan disini?" tanya Alika.

Angela terdiam mematung. Merasa percuma untuk memberi pertimbangan lagi.

Alika segera berjalan keluar, langkah demi langkah. Namun baru beberapa langkah, Angela kembali berkata.

"Apa kriteria yang anda inginkan?" tanya Angela yang langsung membuat Alika menghentikan jalannya dan memutarkan tubuhnya ke belakang, menghadap Angela.

"Lima kriteria." ucap Alika

Esok paginya, di ruang kerjanya yang rapih dan terawat. Alika terlihat sibuk mengerjakan tugasnya di depan laptop, mengetik sesuatu dengan sepuluh jarinya begitu cepat, seakan dia memang sudah terbiasa mengetik dalam waktu cepat seperti itu.

Bahkan ternyata sudah dari empat jam yang lalu ia berada dalam posisi duduk dan mengetik cepat seperti ini.

Sebenarnya ada alasan dibalik tindakannya ini, alasan utamanya adalah, ia ingin menyelesaikan banyak pekerjaannya yang sekarang agar tidak menjadi pengganggu ketika ia mendapat kabar untuk segera berkunjung kembali ke biro jodoh kemarin.

Alika pun segera mengakhiri akhir ketikannya dengan tanda titik, simpan dan ia lipat laptop tersebut dengan cepat.

Ia sandarkan punggung dan kepalanya ke belakang kursi lalu mulai bersantai. Matanya terus menatap langit langit ruang kerjanya yang tanpa ada sarang laba laba secuil pun.

Alika kembali membayangkan apa yang terjadi kemarin antara dirinya dengan Angela.

Ia mengisi biodata segala hal mengenai hidupnya termasuk lima kriteria yang harus dipenuhi, motivasi, bio, dan impiannya.

Biodata itu begitu rinci hingga Alika merasa sangat malas untuk mengisinya, apalagi Albert juga tidak ikut masuk ke dalam ruangan itu, jadi ia tidak bisa meminta bantuan Albert untum mengisinya begitu saja.

Alika menambahkan kalau dirinya akan membayar 500 juta pada biro jodoh tersebut, asalkan ia bisa menemukan suami yang memenuhi semua kriterianya dan tentu bisa diandalkan.

Katanya, Angela akan menghubunginya lagi besok.

Namun sekarang, Alika yang sejak tadi menunggu telepon dari Angela tidak kunjung mendengar suara ponselnya berbunyi sekalipun.

Apakah mungkin Angela lupa? Atau mungkin ia memang tidak bisa menemukan suami yang memenuhi kriterianya?!

Alika merasa jengah, tampaknya ia memang salah telah membuang waktunya selama dua jam lebih disana tanpa ada kepastian yang jelas.

Menyebalkan sekali.

Alika terus memandang ponselnya dengan pasrah, ia merasa sangat menyesal telah berharap lebih pada biro jodoh tersebut.

Sekarang waktunya untuk menghadapi kenyataan... bahwa dirinya harus mengakui kekalahannya pada Andrew, kalau ia tidak bisa membuktikan sumpahnya dua hari yang lalu di hari pernikahan lelaki itu.

Ketika sedang sibuk memandang ponselnya, tiba tiba ada panggilan dari nomor tidak dikenal. Alika terheran, siapa sebenarnya yang meneleponnya dengan nomor tidak dikenal?

Mungkinkah orang iseng?

Tapi bagaimana jika itu adalah orang penting termasuk Angela? Ahh benar... ini pasti dari Angela!

Alika yang sangat yakin itu adalah Angela pun langsung menerima teleponnya.

"Iya, halo?" ujar Alika. Namun setelah orang diseberang telepon berbicara, Alika langsung mengernyitkan dahi dari wajahnya yang semula sangat bersemangat dan terkesan gembira.

Alika menunggu agak lama sampai orang yang diseberang telepon selesai berbicara lalu ketika orang itu berhenti, Alika langsung berkata.

"Maaf tapi saya sudah memiliki asuransi. Dan tidak akan berpindah ke asuransi lainnya dalam waktu lama. Terima kasih." ucap Alika segera mematikan teleponnya sebal.

Alika langsung menelungkupkan wajahnya ke atas meja, merasa sangat pasrah. Ia tidak yakin jika harapannya untuk segera memiliki suami akan semudah itu tercapai!

Tiba tiba ponselnya kembali berdering, Alika pun menerima teleponnya dengan keadaan wajah yang masih menelungkup diatas meja.

Ia dekatkan ponselnya ke dekat telinganya. "Apalagi mbak? Saya bilang saya tidak butuh asuransi." ujar Alika yang masih mengira telepon itu dari perusahaan yang menawarkan asuransi.

Seorang perempuan diseberang telepon lalu berkata. "Maaf bu, tapi saya bukan dari perusahaan asuransi. Saya Angela." ucap perempuan di ujung telepon yang langsung membuat Alika melotot dan bangkit duduk detik itu juga.

"Angela dari Angela's cupid?" tanya Alika coba meyakinkan.

"Iya benar bu. Saya ingin menyampaikan, jika saya sudah menemukan pria yang sesuai dengan kriteria yang ibu inginkan." ujar Angela.

Alika merasa sangat senang, raut wajahnya yang semula murung kini tampak bersemangat.

"Serius mbak? Itu beneran sesuai dengan yang saya inginkan bener? Dan dia bersedia menikah dengan saya secara kontrak kan?" tanya Alika.

"Iya bu, meskipun baru kali ini kami mengadakan sistem pernikahan kontrak, semua sesuai yang ibu inginkan dan atur. Tapi ada satu hal bu..." ucap Angela tampak ragu.

"Katakan saja." ujar Alika.

"Apakah ibu merasa tidak apa apa kalau pria ini adalah orang yang tidak memiliki pekerjaan?" tanya Angela.

"Enggak apa apa. Lagipula sejak awal saya tidak pernah mempermasalahkan latar belakang ekonomi calon suami saya. Bahkan di biodata saya menulis, jika saya akan membiayai semua kebutuhan suami saya dan tak masalah jika calon suami saya membebankan seluruh hal terkait keuangannya ke saya. Bahkan jikapun ia masih kuliah, saya akan membantu membiayainya hingga ia tamat. Atau sekalipun dia pengangguran. Bahkan saya sarankan dia untuk bersenang senang didalam rumah saya. Saya hanya butuh aktingnya saja sebagai seorang suami yang baik." ujar Alika.

"Baik bu." ujar Angela, setelahnya ia kembali berkata.

"Apakah ibu bisa meluangkan waktunya kesini sekarang? Karena pria itu sedang menunggu ibu saat ini. Sekaligus juga untuk segera menyelesaikan perkara ini dan masalah kontraknya. Saya sarankan untuk ibu membawa juga surat pernikahan kontraknya kesini." pinta Angela.

"Okay, saya akan membawanya." ujar Alika hingga akhirnya ia pun menutup telepon tersebut dan merasa begitu gembira dengan hal ini.

Albert yang melihat Alika begitu semringah lantas terdiam menontonnya dan menatap wanita itu datar. Ia lantas berkata. "Sepertinya setelah ini akan turun hujan lebat, melihat anda begitu bersemangat seperti itu membuat saya khawatir dunia akan baik baik saja." ujar Albert.

"Ayolah Al, apa salahnya sedikit bersemangat? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah ketika kita menjalaninya dengan semangat?" dalih Alika

"Apakah barusan Andrew mengabarkan kalau istrinya mengalami kecelakaan?" tanya Albert yang mengira jika karena hal kecelakaan itulah yang membuat Alika tampak begitu bersemangat.

"Hey hey, ini tidak ada hubungannya dengan mereka." balas Alika.

"Lantas?" tanya Albert.

"Aku sudah menemukan suami yang sesuai dengan keinginanku Al!!" ucap Alika. Albert hanya mengohkan perkataannya dan masih berwajah datar. Ia menghela nafas setelahnya.

Alika memperhatikan Albert yang nampak menghela nafas dengan wajah yang sama sekali tidak memberikan emosi dan sedatar jalan tol.

Alika curiga apakah Albert cemburu jika dirinya memiliki pasangan? Alika pun dengan bangganya berkata.

"Kenapa kau menghela nafas hmm? Cemburu ya aku sudah punya pasangan?" tanya Alika.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED