Di dalam rumah yang sama, dengan kamar berbeda. Walaupun mentari masih enggan untuk menampakkan dirinya. Namun, apapun yang ada di ruangan itu sudah dapat dilihat dengan sangat jelas. Suara gemericik air hujan masih terdengar sangat deras, udara dingin masih menyelimuti seluruh kota di pagi ini. Sehingga, hal ini membuat sebagian umat manusia masih enggan untuk keluar dari selimutnya.
Sepasang anak manusia yang ada di dalam salah satu kamar di dalam rumah besar itu, tampak tertidur pulas dengan wajah lelah masing-masing di antara mereka. Menghabiskan waktu semalaman untuk bertempur mengakibatkan tenaga mereka sangat terkuras. Lelah? ya ... itu lah yang dirasakan oleh mereka saat ini.
"Hoam," Maya menguap, dan menggeliatkan tubuhnya.
Intimnya terasa sangat perih saat dia menggeliat tadi, tulang di sekujur tubuhnya terasa remuk.
"Aah ... sakit sekali." Maya sedikit meraba bagian luar guanya yang terasa perih.
"Suamiku benar-benar perkasa," ucap Maya kagum, dengan mata berbinar-binar. "Sampai intim ku terasa robek akibat ulahnya semalam." Maya mengelus rambut pria yang tertidur tengkurap di sampingnya.
Maya menoleh ke arah jendela yang masih tertutup oleh gorden. "Hujan, pantesan sangat dingin." Maya menarik selimutnya hingga leher, tidak lupa juga untuk menyelimuti lelaki perkasa di sampingnya.
Maya merangkul tubuh kekar itu dalam dekapannya. Tubuh mereka yang sama-sama polos berada di dalam satu selimut yang sama. Hawa di dalam selimut menjadi hangat mengalahkan udara dingin di pagi ini. Apalagi, Maya yang mendekat ke posisi Daffin tidur, tidak memberikan jarak sedikitpun. Hal itu membuat kulit mereka saling menempel. Maya menggoda lelaki yang dianggap sebagai suaminya itu dengan berbagai cara, tapi yang digoda tidak bangun dari tidurnya. Dia tetap setia berada di posisi awal tanpa bergeming sedikitpun.
Maya menjilati daun telinga orang yang dianggap sebagai suaminya, dan menggigit kecil daun telinga pria yang tidur telungkup itu, hingga beralih posisi ke atas punggung lelaki yang masih setia di dalam alam mimpi tersebut. Maya menggesek-gesekkan inti tubuhnya di atas bokong pria yang masih tertidur telungkup di bawahnya. Tidak sampai di situ. Maya juga menempelkan gundukan daging kenyalnya ke punggung pria di bawahnya. Namun, anehnya sang pria tidak memberi reaksi apapun, dia masih tetap setia dengan posisinya.
Maya sudah mulai gerah dengan step by step yang dia praktekan untuk membangunkan lelaki kekar yang tidur satu ranjang dengannya. Rasa bosan, dan putus asa menghampiri hatinya. Maya turun dari posisinya, dan mendudukkan bokongnya di atas kasur dekat pria itu tertidur. "Yang. Bangun donk." Maya menggoyang-goyangkan tubuh pria di hadapannya.
"Sayang …." Maya memeluk tubuh pria itu, dan berbisik di telinganya. "Kamu gak mau mengulangi olah raga kita semalam?" pancing Maya.
"Sayaaang! Ayolah, kenapa kamu tidurnya seperti orang mati?" rengek Maya di dekat telinganya. Namun, lelaki itu tetap setia telungkup dengan wajah di atas bantal.
"Awas, ya! Nanti giliran kamu yang minta jatah, aku juga gak bakal mau," rajuk Maya memonyongkan bibirnya.
Sebenarnya lelaki itu sudah bangun dari tadi, semenjak Maya menaiki tubuhnya. Akan tetapi, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk Maya. Dia juga mulai dilanda kebingungan untuk menjelaskan kejadian semalam kepada Maya. Dari tadi, dia memikirkan kata-kata, dan bagaimana cara mengatakan hal yang sesungguhnya telah terjadi kepada Maya. Dia senang telah mendapatkan Maya. Apalagi telah berhasil mendapatkan mahkota Maya, tapi disisi lain, dia juga tidak tega menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maya.
Daffin dilema, rasa cintanya kepada Maya membuat dia buta. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Posisinya saat ini sangat sulit untuk dimengerti. Dia bukanlah pria yang menikahi Maya. Melainkan dia hanya pria yang tiba-tiba mengawini Maya begitu saja. Saat ini, Daffin tidak ubahnya dari seorang bajingan yang sangat tidak punya harga diri.
"Maafkan aku, May" batinnya lirih. rasa sesal mulai berdatangan menghampirinya.
"Aku tahu, setelah ini kamu akan sangat membenciku." Air matanya menetes membasahi bantal di bawah wajahnya.
"Aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu, May! Aku tidak rela jika orang lain menidurimu untuk yang pertama kalinya." batinnya lagi.
"Semoga setelah ini, kamu mau menerimaku di kehidupanmu kedepannya," harap Daffin yang masih setia dengan posisinya.
"Biarkan Arthur bersama Sella, dan aku berjanji akan menjadi pasangan yang terbaik untukmu. Aku akan membahagiakan kamu, dan memuaskanmu!" ucapnya dalam hati. Sedangkan Maya terus menggodanya di atas sana membuat libidonya naik kembali.
Maya menciumi leher belakang Daffin, menghisapnya penuh semangat, hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit kuning langsat itu. Maya terbakar gairah oleh ulahnya sendiri. Tadinya dia hanya ingin menggoda lelaki yang dianggap sebagai suaminya itu. Akan tetapi, nyatanya kini dialah yang termakan oleh godaannya sendiri. Maya gerah dengan sikap lelaki yang di bawah tubuhnya, yang dia rasa sedang mempermainkannya. Dengan birahi yang menggelora, bercampur kesal yang menggebu-gebu, Maya turun dari punggung Daffin, dan menarik tubuh itu dengan kasar, sehingga tubuh orang yang ada di depannya terbalik menghadap Maya.
Seketika Maya terlonjak kaget. Matanya membulat sempurna, seakan mau copot dari pelupuknya. Maya memundurkan dirinya beberapa jengkal ke belakang menjauhi lelaki yang berada di hadapannya sekarang. Dengan gerakan cepat, Maya menarik selimut untuk menutupi dirinya yang polos, tidak terbalut oleh satu helai benang pun dinkulitnya.
Setelah mengumpulkan semua kesadarannya. Maya mengucek matanya, memastikan kalau dia telah salah lihat. Dia berharap, itu hanya mimpi. Ternyata harapan Maya hanya sebatas harapan. Orang yang ada di hadapannya, memang betul bukan suaminya, tetapi itu adalah orang lain yang sudah dia anggap sebagai seorang kakak selama ini. Maya pun berteriak histeris setelah menyadari kalau dia telah berada di satu kasur yang sama dengan orang lain dalam keadaan telanjang bulat. Maya terus berteriak histeris dengan mengeluarkan semua level suaranya, hal itu membuat Daffin kelimpungan.
"May, tenang! tenang dulu!" Daffin yang sudah kepalang basah, dia bangun dan duduk dengan keadaan masih polos tanpa ada yang menutupi tubuhnya, tidak terkecuali bagian kemaluannya juga tidak ada yang menutupi.
"Ku mohon, May! diamlah! jangan sampai orang-orang pada kesini," mohon Daffin yang mulai merasa terancam.
Daffin mendekati Maya untuk mencoba menenangkan wanita pujaan hati, supaya Maya tidak lagi berteriak memancing orang lain untuk datang ke dalam kamar tempat mereka memadu kasih tadi malam. Namun, yang didekati dengan niat ingin menenangkannya malah semakin berteriak histeris lebih keras lagi.
"Keluaaar! keluaaar ...!" usir Maya dengan menunjuk pintu kamar. Maya berteriak sangat keras hingga kuping Daffin terasa mau pecah.
Maya syok, dan tidak menyangka. Jika, lelaki yang dia goda dari tadi bukanlah suaminya. Melainkan, tetangga yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.
"Apakah yang bersamaku tadi malam adalah kamu juga?" selidik Maya, berharap apa yang dia sangkakannya tidaklah benar, dan dia juga ingin Daffin menjawab tidak, untuk pertanyaannya kali ini.
Harapan Maya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, Daffin menganggukkan kepalanya menandakan itu sebuah jawaban atas pertanyaan dari Maya. Daffin menunduk, dia tak berani melihat ke arah Maya yang menangis sejadi-jadinya, dan mengeluarkan sumpah serapah untuk Daffin.
Maya melemparkan apapun yang ada di dekatnya ke arah Daffin dengan suara tangis yang semakin menggelegar. Maya hilang kendali, selimut yang tadi dia buat menutupi tubuhnya sudah jatuh ke lantai.
Maya melangkah penuh emosi ke arah Daffin. "Kamu telah menghancurkan harga diriku, Kamu jahat." Maya memukuli Daffin, tifak memperdulikan lagi tubuhnya masih tertutup oleh selimut, atau tidak.
"Kamu, jahaat! kamu harus menebus ini semua!" Maya memukuli Daffin sekuat tenaga yang dia punya, dia melampiaskan amarah yang begitu besar dalam dirinya.
"Dasar bajingan …." Maya menjambak rambut Daffin. Sehingga yang di jambak meringis kesakitan
"Hina aku sepuas kamu. Aku akui, ini semua salahku." Daffin berusaha melepaskan rambutnya dari cengkraman Maya. "Aku melakukan ini a-," ucapan Daffin terputus karena Maya semakin menarik rambutnya.
"Lepaskan aku dulu, May. Aku akan menjelaskan semuanya!" pinta Daffin memegang bagian kepalanya yang sakit, terasa rambutnya akan copot di tarik oleh Maya.
"Kita bicara baik-baik dulu, May. Apakah kamu tidak mau mendengar penjelasanku?" Daffin terus berusaha melepaskan diri dari Maya.
Maya mendorong kasar kepala Daffin. "Aku tidak butuh penjelasanmu. Kamu bajingan, kamu binatang yang telah menghancurkan hidupku." Maya kembali mengambil sesuatu yang ada di dekatnya, dia melemparkan benda-benda tersebut ke arah Daffin.
"Dimana Arthur? kamu sekap dimana dia?" tuduh Maya.
"Aku tidak menyekapnya." jawab Arthur di sela emosi Maya.
"Kalau kamu tidak menyekapnya. Lalu kamu apakan dia, sehingga kamu bisa melakukan hal bejat seperti ini kepadaku?" Mendapat pertanyaan seperti itu, Daffin tidak tahu mau menjawab apa. Dia tidak tahu alasan untuk berbohong. Tapi, dia juga tidak mungkin jujur kepada Maya dengan hal sabotase yang dia lakukan di malam pengantin Maya, bersama Arthur.
"Kemana Arthur?" lirih Maya dengan tangis yang tidak mau usai.
"Aku tidak tahu dia kemana, May," jawab Daffin berbohong.
"Bohong. Kamu pasti sudah menjebaknya," tebak Maya.
"Deg!" Jantung Daffin berdegub mendengar tebakan Maya. Apa yang di tuduhkan Maya saat ini adalah benar adanya. Akan tetapi, Daffin selalu mengelak dengan mengatakan dia tidak tahu dimna Arthur berada.
Sekarang Maya berbalik menyakiti tubuhnya. Dia mencakar-cakar seluruh badannya hingga meninggalkan goresan luka, dan bekas merah oleh kuku panjang di jari lentiknya. Sebagian luka itu mengeluarkan darah tapi Maya tidak menghiraukannya. Maya terus mencakar, dan memukul tubuhnya yang sudah dia rasa sangat kotor.
"Maya! hentikan! ini semua salahku. Kumohon, berhentilah menyakiti dirimu sendiri!" Daffin memegang erat tangan Maya, membuat maya memberontak untuk melepaskan tangannya.
"Aku akan mempertanggung jawabkan semua ini. Aku, janji!" Daffin terus memegang tangan itu dengan erat supaya Maya berhenti menyakiti dirinya sendiri.
"Jika setelah kejadian ini, Arthur meninggalkan kamu. Maka, aku akan sangat siap menerima kamu di kehidupanku. Aku sangat mencintaimu, May!" ucap Daffin meyakinkan Maya. Namun, Maya hanya menggeleng tanda tidak setuju dengan perkataan Daffin.
"Kamu harus percaya! cintaku lebih besar kepadamu. Melebihi cinta Arthur yang telah kamu terima," imbuh Daffin lagi.
"Aku tidak mau siapapun! Termasuk kamu, Bajingan!pergi kamu dari sini" Teriak Maya.
"Aku bisa membahagiakan kamu jika kamu mau hidup bersamaku, May. Buktinya tadi malam, aku bisa membuatmu puas," ucap Daffin mengingatkan pertempuran mereka tadi malam supaya hati Maya luluh untuk mau hidup bersamanya.
Alih-alih bisa meluluhkan hati Maya dengan mengingatkan malam panjang yang mereka lalui dengan bercucuran keringat tadi malam, malah itu membuat hati Maya semakin tercabik-cabik.
"Kamu menyukainya, kan?" tanya Daffin percaya diri.
Perkataan Daffin membuat Maya murka. Sakit hatinya kepada Daffin yang telah menidurinya, dan kepada Arthur yang telah meninggalkannya di malam pertama pernikahannya, membuat Maya kembali menangis histeris.
Maya menggigit tangan Daffin yang mengungkung tangannya sampai tangan tidak berdaya itu lepas dari cekalan tangan kekar Daffin.
"Plak! Plak!" Dua tamparan keras mendarat di kiri, dan kanan oleh kedua telapak tangan Maya berhasil mendarat dengan sangat mulus di pipi Daffin secara bergantian.
"Aawh." Daffin mengerang, memegang kedua pipinya yang terasa panas oleh tamparan Maya.
"Kamu bajingan … binatang!" Sumpah serapah terlontar dari mulut Maya dengan nada emosional tinggi.
Saat ini, hidup Maya benar-benar terasa sangat hancur. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi pada dirinya. Baru saja dia menikmati kebahagiaan karena dinikahi oleh pria pujaan hati yang sangat dia cintai. Sekarang, kebahagiaan itu lenyap seketika. Senyuman yang mengambang begitu mekar di bibirnya pada hari kemarin, pagi ini telah berganti dengan tangisan pilu yang sangat mengoyak kehidupannya.
Sekelebat bayangan dia bercumbu dengan Daffin tadi malam, melintas, dan menari riang di dalam memorinya, "Kenapa semua ini kamu lakukan kepadaku?" Maya melemparkan bantal di dekatnya ke arah Daffin. Orang yang dilempar hanya pasrah menerima lemparan bantal dari tangan Maya tanpa mengelakkan diri sedikitpun.
Maya juga tidak habis pikir. Kenapa bisa Arthur tidak ada di kamarnya semalaman. Bahkan sampai pagi ini, Arthur belum juga menemuinya. Apakah Arthur, dan Daffin sudah bekerja sama untuk mengerjainya. Prasangka, demi prasangka bermunculan dalam hati Maya.
"Arthuuur!" Maya memanggil Arthur dengan suara nyaring, dan bergetar.
"Arthur! kamu dimana?!" teriaknya lagi yang di iringi tangis begitu menyayat hati.
"May, jangan teriak-teriak! Nanti orang-orang pada datang kesini," ucap Daffin cemas.
"Arthur! hiks hiks hiks ...." Maya terus memanggil-manggil nama Arthur dengan sangat keras.
"Arthur tidak ada disini, May. Tenangin diri kamu dulu. Setelah ini, kita pergi dari sini untuk menata masa depan kita yang bahagia," bujuk Daffin yang berasa tidak ada urat harga dirinya.
"Keluaar!" Maya mendorong tubuh Daffin dengan sekuat tenaganya.
Daffin memegang tangan Maya, dan menciumnya sekilas. "Aku tidak akan keluar, apalagi meninggalkan kamu. Aku akan keluar jika aku bisa membawamu pergi bersamaku," jawab Daffin.
Dengan sekuat tenaga, Maya menarik tangannya dari Daffin. "Plak!" Kelima jari tangan kanan Maya mendarat di pipi Daffin setelah tangannya berhasil terlepas dari cekalan pria di hadapannya.
"Aku tidak akan pergi bersamamu. Kamu adalah seorang bajingan yang telah menghancurkan kehidupanku," teriak Maya.
"Arthur! Hiks hiks, Arthur!" Maya kembali meneriakkan nama Arthur dengan sangat keras.
Maya sangat kecewa, dan tidak menyangka, Arthur tega meninggalkannya saat malam pertama mereka, dan membiarkan Daffin tidur bersamanya untuk melalui malam panas yang seharusnya dia lalui, dan dia persembahkan untuk Arthur.
"Aku benci! Aku benci kalian! Apakah kalian bersekongkol?!" Maya memukul kepala Daffin dengan tangis yang masih terisak.
"Toloong! siapapun yang ada disini, tolong, tolong bawakan suamiku kesini!" Suara Maya sudah terdengar parau karena dari tadi terus berteriak dan menangis.
"Itu, Maya ken-aah ah ... Maya kenapa?" tanya Sella yang terbata karena terus di genjot Arthur dengan tusukan cepat.
Arthur tidak menjawab pertanyaan Maya, dia terus memacu dan menusuk liang surga yang menjepit hangat belalainya.
"Maya ... Ah, hhh, itu Maya, Ah mmm ...." Mulut Sella yang dari tadi terus menanyakan Maya, dan sangat berisik di kulum oleh Arthur, di lumatnya sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
"Itu, Maya ken-aah ah ... Maya kenapa?" tanya Sella yang terbata karena terus di genjot Arthur dengan tusukan cepat.
Arthur tidak menjawab pertanyaan Sella, dia terus memacu, dan menusuk liang surga yang menjepit hangat belalainya. Yang ada di pikiran Arthur saat ini hanyalah menuntaskan perperangannya. Setelah itu baru mengurus apapun yang sedang terjadi di luar sana. Arthur sedang berada di puncak birahi, sehingga dia tidak bisa menghentikan aksi penyaluran di tengah-tengah peperangan saat ini.
"Maya ... Ah, hhh, itu Maya, Ah mmm ...." Mulut Sella yang dari tadi terus menanyakan Maya, di kulum oleh Arthur, di lumatnya sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
Arthur menggigit bibir Sella membuat Sella membuka sedikit bibirnya yang langsung di masuki oleh lidah Arthur. Lidah Arthur menari-nari di dalam sana, berdansa nikmat bersama lidah Sella.
Ditelungkupkan kedua telapak tangannya oleh Arthur keatas dua buah daging sintal di dada Sella, di remas-remas dan sesekali memainkan pucuk bulatan kecil di atasnya membuat Sella mabuk alang kepalang. Memori di dalam kepalanya mendadak tidak bisa memikirkan yang lain. Sekarang memori itu terasa penuh oleh gairah yang disalurkan oleh aksi yang dimainkan Arthur saat ini.
Arthur semakin mempercepat tusukan belalainya ke dalam goa penjepit di bawah sana, dan meremas erat daging sintal yang jadi pegangannya.
"Ah hmm aah ah" Arthur dan Sella terus mengerang tidak beraturan kala tususukan itu semakin lama semakin cepat.
"Aahk ...." Lenguh Arthur dan Sella bersamaan dengan semburan lava kental memenuhi dinding gua Sella.
Sella memejamkan matanya, terkapar tidak berdaya sedangkan Arthur, Ambruk di atas tubuh Sella untuk beberapa menit. Direbahkan tubuhnya ke samping Sella oleh Arthur, dan mencoba menetralkan pernafasannya beberapa saat. Setelah merasa tenaganya sedikit membaik karena terkuras oleh pertarungan dari tadi malam hingga pagi ini, Arthur bangun dan memungut pakaian mereka berdua yang berserakan di sembarang tempat.
Arthur memakai pakaiannya lengkap seperti semula, sedangkan pakaian Sella dilempar begitu saja ke atas tubuh Sella yang masih telentang polos memperlihatkan bagian inti tubuhnya.
"Cepat pakai, pakaianmu!" ucap Arthur dingin dan berlalu ke kamar mandi.
Sella bangun, dan mengambil pakaiannya yang dilemparkan Arthur tadi, di pakainya satu persatu pakaian itu, mulai dari lapisan dalam yang berenda hingga pakaian penutup luarnya.
"Bersihkan tubuhmu! jangan sampai Maya mengetahui semua ini!" Arthur menyisir rambutnya ke belakang dengan jari membuat dia semakin cool di mata Sella.
Sella hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia menatap Arthur dengan perasaan campur aduk.
"Lupakan kejadian ini! jangan pernah menganggap kejadian ini pernah ada di antara kita!" ucap Arthur.
"Deg ...." Bak dihujani ribuan belati, jantung Sella seakan berhenti bekerja untuk sesaat.
Butiran air mata Sella jatuh melewati pipinya. Dia menatap Arthur penuh kebencian. Sella tidak menyangka Arthur yang biasanya dia kenal sangat baik, dan humoris bisa berbicara seperti itu. Padahal dia telah mengambil perawan Sella, dan menikmati tubuh Sella berulang kali semenjak tadi malam. Sekarang, dengan sangat mudah dia meminta Sella untuk melupakan kejadian yang mereka lakukan, yang lebih parahnya, dia meminta Sella untuk melupakan dan tidak mengingatnya lagi.
"Kamu mau aku melupakan semua ini? menyuruh ku untuk menganggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita?" tanya Sella dengan mulut bergetar, dan air mata yang terus keluar dari pelupuknya.
"Kurang jelas apa yang aku katakan tadi?" Arthur melipat kedua tangannya di dada dan mengangkat satu alisnya ke atas.
"Setelah kamu melakukan semua ini, kamu tega berkata seperti itu. Kamu telah mengambil perawanku, Arthur!" tangis Sella pecah tak terbendung menahan perasaannya.
"Mengambil, kamu bilang?" Arthur melangkah mendekati Sella yang masih duduk di atas ranjang, "Bukankah ... kamu sendiri yang datang kepadaku untuk memberikannya?" Arthur mencengkram dagu Sella dengan keras, dan mendorongnya kasar.
"Deg!" Sella terperangah mendengar penuturan Arthur.
'Apakah Arthur mengetahui semuanya?' batin Sella menatap mata di hadapannya.
"Apa kamu bilang? Aku yang datang kepadamu dan menyerahkan keperawananku kepadamu?" Sella menyipitkan matanya memandang Arthur.
"Jika, kamu tidak datang kepadaku. Ini semua tidak akan terjadi!" perdebatan sengit itu semakin lama semakin panas, Mereka berdua tidak menghiraukan Maya yang terus berteriak membuat gaduh seisi rumah.
"Memangnya kamu siapa? Hah?" Sella melototi Arthur membuat Arthur juga balik melototinya.
"Jika, aku mau menyerahkan perawanku ke sembarang orang. Maka itu akan ku serahkan bukan kepadamu! memangnya apa sih kelebihan kamu? laki-laki berparas jelek yang tidak mempunyai rasa tanggung jawab!" ucap Maya naif terbawa emosi.
"Kamu menghinaku. Tapi dengan sukarela datang untuk memberikan perawanmu pada orang yang kamu anggap tidak pantas mengambil itu dari kamu. Hahaha," Arthur menertawai Sella yang semakin terbakar amarah.
"Plak!" Sella mendaratkan telapak tangannya dengan keras ke pipi Arthur.
"Kamu periksa CCTV di luar rumahmu sampai yang ada di dalam rumah! kamu lihat di sana, apakah aku yang datang kepadamu memberikan tubuhku secara cuma-cuma kepadamu atau kamu yang mengambil nya dengan paksa dariku." Sella mendorong tubuh Arthur, dan berlalu kehadapannya begitu saja tanpa menunggu perkataan Arthur lagi.
Sella berjalan cepat menuju arah suara kegaduhan yang dibuat oleh Maya, dia penasaran sekaligus ingin melihat kehancuran sahabatnya itu saat ditinggal oleh suaminya saat malam pertama. Maya memang menganggap Sella sebagai sahabat baik. Namun, itu tidak berlaku bagi Sella, dia tidak pernah menganggap Maya sebagai sahabat. Melainkan baginya, Maya adalah seorang saingan yang selalu mendapatkan apa yang Sella inginkan.
Contohnya saja, Sella mencintai Arthur sudah sejak lama. Diam-diam dia berusaha mengambil hati Arthur dan menarik perhatian lelaki itu dengan berbagai cara. Tapi, usahanya tidak membuahkan hasil. Malahan sekarang Arthur telah menikah, dan menggelar resepsi yang sangat mewah bersama Maya. Yaitu, orang yang dianggap perebut segalanya dari dirinya oleh Sella.
Dengan senyum kemenangan karena telah berhasil mengambil malam pertama orang yang sangat dia benci selama ini, Sella terus melangkah menuju kamar paling ujung dari rumah itu. Dia tidak sabar melihat Maya hancur di hari bahagianya.
"What?" Mata Sella melotot melihat Maya yang sudah seperti orang gila di hadapannya.
"Apa yang terjadi dengan kamu, May?" Sella mendekati Maya yang telanjang tanpa memakai pakaian sehelai benang pun.
Maya tidak menghiraukan Sella, dia terus melemparkan segala sesuatu yang ada di dalam kamar itu. Kosmetik yang ada di meja rias kini telah berserakan di setiap sudut. Gucci kecil yang biasanya teronggok tenang di atas nakas kini telah bercerai berai menjadi puluhan keping. Sedangkan Daffin berdiri di samping Maya, dengan tubuh yang sama polos dengan orang yang ada di dekatnya. Daffin terus berusaha untuk menenangkan Maya, dia tidak mau jika Maya nekat untuk menyakiti dirinya sendiri.
"Maya, kamu kenapa? tenangkanlah dahulu! ceritakan kepadaku apa yang terjadi padamu!" Sella meraih lengan Maya, berpura-pura simpati pada keadaan Maya saat ini.
Maya tidak menjawab, dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sella. Dia tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana, dia sangat terpuruk dengan kejadian ini. Disisi lain, dia merasa bersalah kepada Sella karena telah tidur dengan Daffin.
'Maafin aku, Sel' batin Maya yang terus menangis semakin menjadi-jadi.
Maya menganggap Sella punya perasaan kepada Daffin karena selama ini mereka sering ketemuan dan jalan bareng. Apalagi akhir-akhir ini, Sella dan Daffin sepertinya sangat lengket. Dimana ada Sella pasti disitu ada Daffin.
"Kamu ngapain disini?" Sella melihat ke arah Daffin, orang yang ditatap hanya diam.
"Kenapa kalian tidak memakai baju? apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Sella bersandiwara, seperti tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Maafkan aku, Sel!" ucap Maya lirih dengan keadaan masih terisak. Sedangkan Daffin hanya diam sambil memunguti pakaiannya yang tercecer di pintu masuk kamar.
"Apa yang terjadi?" Suara briton terdengar dari arah belakang mereka.
"Maya ku temukan dengan Daffin dalam keadaan telanjang," jawab Sella melirik ke arah Arthur.
Arthur menerobos masuk ke dalam kamar yang seharusnya jadi saksi malam pengantin untuk pertama kalinya bagi dia dan Maya, untuk melakukan sesuatu hal yang indah. Tapi kini, Kamar itu telah menjadi tempat pertama kali untuk Maya merasakan kenikmatan dunia dengan laki-laki yang bukan suaminya. Sekaligus sebagai saksi untuk kehancuran Maya di pagi ini.
Kehidupan dengan jalan yang sangat rumit untuk Maya akan di mulai dari tempat ini. Tempat yang menyajikan surga sekaligus neraka untuk dirinya.
Arthur menghentikan langkahnya, berdiri dengan ambigu di tengah-tengah kamar yang sudah sangat berantakan. Dia menyipitkan matanya kala retina kecil itu menangkap pemandangan yang sangat luar biasa untuk di lihat. Secarik potret yang dia tangkap berhasil membuat hatinya membara.
Arthur menatap ke arah Maya yang berada tidak jauh darinya dengan sangat geram. "Ada apa, ini?" tanya Artur yang tidak beralamat pada siapa dia bertanya.
"Aku juga gak tahu," jawab Sella menaikkan pundaknya. Berharap Arthur akan menghina, dan mencaci Maya.
Sella bersorak ria, melihat situasi yang terjadi saat ini. Dia merasa momen ini adalah sebuah momen yang tepat untuk membalaskan sakit hatinya kepada Maya. Dengan begini, Sella sangat yakin, Arthur akan menceraikan, dan mencampakan Maya. Peluang untuk dia mendapatkan Arthur saat ini sangat besar. Apalagi, Arthur telah meniduri, dan mengambil mahkotanya. Dengan begitu, Sella bisa berada di posisi yang kuat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Akhirnya, aku bisa melihat kehancuran Maya," batin Sella. Dia menarik sebelah ujung bibirnya ke atas. Menyeringai, melirik ke arah Maya.
Arthur melirik ke arah Daffin yang sedang bertelanjang bulat seperti bayi besar yang duduk dengan kepala menunduk. Tangan Arthur mengepal dengan rahang mengeras. Sebagai seorang suami, sudah pasti emosinya akan mendidih saat mendapati istrinya bersama pria dewasa lain. Apalagi mereka di ruangan yang sama, dengan kondisi tubuh yang sama-sama telanjang.
"Apa yang terjadi?" tanya Arthur sekali lagi dengan nada suara yang lebih keras dari sebelumnya.
Daffin hanya diam di tempat. Sedangkan Maya, dia terus menangis tanpa henti. Kondisinya sekarang tidak ubahnya dari orang gila. Tubuh yang polos tanpa ditutupi oleh sehelai benang pun, dan rambutnya yang sudah gimbal. Hati Arthur begitu sakit kala retina matanya terus menangkap potret-potret di hadapannya dengan sangat jelas. Apalagi tidak ada di antara mereka yang menjawab pertanyaan Arthur.
"Kenapa pada diam? Kalian gak punya kuping, dan tidak punya suara untuk menjawab pertanyaanku?" teriak Arthur semakin geram.
Sella melangkahkan kakinya mendekati Arthur yang berdiri di tengah-tengah kamar. "Jangan berteriak seperti ini, Ar! kendalikan dirimu!" ucap Sella memegang lengan Arthur yang terasa gemetar menahan emosinya.
"Kasihan mereka. Apalagi Maya. Mungkin dia sudah tidur dengan Daffin semenjak tadi malam. Se-," Arthur yang mendengar ucapan Sella semakin geram. Dia menarik tangannya dengan kasar dari Sella. Sehingga ucapan Sella terputus karena kaget.
Sella kembali memegang lengan Arthur, dan kembali memulai aktingnya untuk menutupi akal busuk yang dia miliki. "Biarkan mereka menyelesaikannya dulu, Ar! mungkin mereka harus punya waktu berdua untuk menyelesaikan permasalahan mereka yang sudah terjadi." Dengan wajah bertopengnya, Sella berbicara sok bijak di hadapan Arthur.
"Sepertinya, di antara mereka berdua telah terjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Bisa jadi, mereka telah melakukan hubungan sebagaimana yang dilakukan oleh perempuan dewasa dengan pria dewasa. Apalagi saat ini mereka sama-sama tidak pakai pakaian di dalam ruangan yang sama." Sella berusaha semakin memanasi Arthur yang sudah terbakar api amarah.
Kata-kata yang keluar dari mulut Sella seakan menjadi pupuk untuk kemarahan di dalam diri Arthur. Rencana Sella untuk membuat Arthur semakin emosi berjalan dengan sangat mulus. Arthur kembali menarik lepas tangannya dari Sella. Emosi di hatinya semakin membuncah setelah mendengar penuturan Sella. Usaha Sella untuk memanasi Arthur ternyata tidak sia-sia. Arthur termakan hasutan-hasutan yang terlontar dari mulut Sella. Dengan kata-kata sok bijaknya, Sella menyisipkan getah yang mampu semakin memperkeruh suasana di dalam kamar yang sudah berantakan itu.
Mata Arthur yang sudah memerah, melotot ke arah Daffin. Sedangkan Daffin hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Sekarang, dia telah tertangkap basah oleh Arthur. Sebenarnya, memang kondisi seperti inilah yang di inginkan oleh Daffin. Supaya rencananya untuk memisahkan Maya dengan Arthur berjalan sesuai target yang telah dia buat sendiri. Daffin sangat yakin, dengan melihat kejadian ini, Arthur akan terbawa emosi, dan menceraikan Maya. Setelah itu Dia akan menjadikan Maya miliknya.
Daffin berusaha memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa, tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di dalam kamar yang sama dengan dirinya.
"Lihatlah sampai matamu keluar, dan emosimu tidak tertahankan! ceraikan Maya! dia adalah milikku," ucap Daffin dalam hati. Dia menyeringai sinis menatap punggung Arthur yang telah berbalik arah membelakanginya.
"Setelah bercerai dengan Arthur, kamu tidak ada pilihan lain, selain menikah denganku, May!" batin Daffin yang kini berbalik menatap ke arah Maya yang sedang menangis sesegukan.
"Impianku selama ini akhirnya tercapai juga," Sorak riang Daffin dalam hati. Daffin yang bodoh tidak memikirkan akibat dari perbuatannya.
Sella mendekati Maya yang berada di pojok kamar sedang meratapi nasibnya. Dengan topeng kucingnya, Sella meraih tubuh perempuan telanjang yang sedang meratapi kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Maya berdiri, dan menghambur kedalam pelukan orang yang selama ini dia anggap sebagai sahabat baiknya. Orang yang sangat dia percaya sudah dari lama. "Kamu yang sabar ya, May!" Sella Mengelus-elus pelan punggung Maya. Sama seperti sahabat-sahabat lainnya yang sedang menenangkan Seorang sahabatnya yang sedang bersedih. Sella juga melakukannya, tapi itu semua dia lakukan hanya untuk mempermulus topeng yang dia pakai selama ini.
"Apa yang terjadi padamu? Ceritakan semuanya padaku, agar kamu merasa lega," bujuknya dengan sedikit mengeraskan suara agar Arthur mendengarnya.
"A-aku …." Maya tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dia kembali menangis sesegukan.
"Apa kamu sudah tidur bersama Daffin?" tanya Sella langsung ke inti ceritanya. Sella sangat berharap Maya menjawab dengan sejujurnya, agar Arthur bisa mendengar semuanya dari mulut Maya.
Maya menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya mengalir deras. Ingatannya kembali ke waktu tadi malam. Dimana pada saat itu dia menerima sentuhan-demi sentuhan dari Daffin dengan hati yang sangat bahagia. Bahkan, Maya juga ikut membalas belaian Daffin terhadapnya. Permainan mereka imbang. Maya, dan Daffin sama-sama agresif. Tidak ada di antara mereka yang sangat mendominan satu sama lain. Mereka adalah pasangan yang sama-sama kuat dalam bertarung di atas kasur. Ingatan, dan bayangan kejadian itu berhasil mengunci mulut Maya. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Sella.
"Jangan menangis lagi! aku kan sudah bilang sama kamu, ceritakan semuanya yang telah terjadi kepadaku supaya hatimu merasa lega," ucap Sella yang berusaha mengulik apa saja yang sudah di lakukan Maya bersama Daffin.
"Jika kamu bingung mau memulai cerita kejadian ini dari mana, aku saranin kamu ingat lagi, gimana bisa Daffin, dan kamu tidak pakai pakaian? Apakah Daffin memaksamu, atau kamu membuka pakaianmu bersama Daffin dengan suka rela," Sella kembali memancing Maya agar bersuara menjelaskan kejadian yang sudah berlalu dalam kehidupan Maya.
Maya kembali menggelengkan kepalanya yang terasa berat. "A-aku, dan Daffin …." Maya menahan tangisnya. Dia sudah menguatkan hatinya untuk memulai menceritakan semua yang telah terjadi kepada dirinya bersama Daffin semenjak tadi malam.
"Malam tadi … Aku, dan Daffin te-," Arthur menarik tubuh polos Maya yang tidak memakai apapun dari pelukan Sella. Sehingga ucapan Maya terpotong karena kaget ada yang menariknya secara kasar. "May, bajumu kemana?" ucap Arthur yang sudah dikuasai amarah. Tindakan Arthur yang langsung menarik tubuh Maya membuat kalimat Maya yang akan menjelaskan apa yang telah dia lakukan bersama Daffin menjadi terputus.
"Rasain!" batin Sella saat Arthur mencekal lengan Maya, dan menariknya dengan kasar.
"Ini belum seberapa sahabatku tercinta," batin Sella angkuh.
"Sebentar lagi, kamu akan merasakan lebih sakit lagi dari ini," ucap Sella dalam hati dengan tatapan sinis yang di utarakan khusus untuk Maya.
"Aku yakin, Arthur akan mencampakkan kamu. Dan menggantikan posisimu di hatinya dengan kehadiran aku." batin Sella yang sudah percaya diri akan menggantikan Maya sebagai istri Arthur.
Maya terus menangis sesegukan tanpa menjawab pertanyaan Arthur yang mempertanyakan dimana bajunya.
"Jawab, aku!" Arthur mencengkram lengan Maya dengan sangat erat hingga cekalan itu meninggalkan bekas merah di kulit Maya.
"Aku tidak butuh tangisan! yang aku butuhkan itu jawaban, bukan tangisan hina seperti ini," bentak Arthur yang sudah menduga-duga apa yang telah terjadi antara Maya, dengan Arthur. Maya hanya menggeleng pelan dengan tangis semakin terisak menahan sakit, dan perih di hatinya. ditambah lagi dengan rasa sakit dari cekalan suaminya. Tangisan Maya begitu pilu untuk didengar oleh hati yang mempunyai rasa empati. Namun, sayangnya tidak ada satupun diantara mereka yang ada disana merasakan kepiluan itu.
"Apakah kamu telah menyerahkan dirimu kepada, dia?" tunjuk Arthur pada Daffin dengan tangan sebelah yang masih mencengkram lengan Maya.
"Jawab!" bentak Arthur.
"Kamu jahat!" Maya memukul dada Arthur dengan tangis yang semakin menjadi.
Arthur menatap dalam orang yang ada dalam cekalannya. "Jahat?" Dengan Mata menyipit, kening yang mengkerut, dan kedua alis yang menyatu. Arthur menatap Maya dengan tajam. "Apa maksud kamu, hem? Apa?!" Bentak Arthur kembali, membuat Jantung Maya terasa mau copot mendengar bentakan dari orang yang sangat dia cintai.
Maya tidak mempunyai nyali untuk menjawab pertanyaan Arthur yang menggelegar di telinganya. Dia hanya menggeleng tidak berdaya dengan air mata yang terurai saat Arthur membentaknya. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan yang selama ini sangat diharapkan nya, malah hancur, dan membuat dirinya terasa sangat hina.
Arthur memindai tubuh Maya, sejumlah bekas merah dari permainan Maya malam tadi begitu jelas terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Leher, dan ke dua daging kembar yang bergelantung di dada Maya pun menjadi pusat perhatian Arthur. Karena, kedua tempat itulah yang paling banyak mengoleksi bekas tanda kemerahan tersebut. Melihat bekas-bekas merah di tubuh istrinya bertebaran di mana-mana, emosi Arthur semakin membara. Dia sangat tahu betul, itu tanda terbuat karena apa. Dia memang mencumbu Maya setelah ijab kabul, dan acara resepsinya. Akan tetapi, Arthur tidak membuat tanda merah di tubuh Maya sebanyak itu.
Arthur mengeratkan cekalannya. Dia tidak peduli, tangan Maya sakit karena cekalannya, atau tidak "Apa yang telah kamu lakukan?" Dia menggoyangkan tubuh Maya dengan suara yang menggelegar.
"Hebat! Baru satu hari jadi istriku, kamu sudah membuat ulah," ucap Arthur yang sudah sangat kecewa dengan apa yang di lihatnya di tubuh wanita yang baru dia nikahi beberapa jam yang lalu itu.
"Ayo, Ar. Ceraikan dia!" Sella berharap di dalam hatinya, Arthur langsung menceraikan, dan menalak Maya saat itu juga.
Selama Arthur mencekal lengan Maya, dan selalu membentak Maya karena kecewa dengan apa yang dilihatnya, Sella terus tersenyum bahagia. Hatinya bersorak riang melihat penderitaan Maya yang dia anggap selalu mengambil apa yang dia inginkan.
Sekarang, Arthur melepaskan cekalannya di tangan Maya, dan beranjak mendekati Daffin yang masih setia berada di kamar itu menunggu Maya di ceraikan oleh Arthur. Daffin, dan Sella sama-sama berdoa agar Arthur menceraikan, dan menalak Maya secepatnya.