Bab 1

Masih teringat jelas dalam ingatan Vina saat suaminya Radit memberikan surat cerai pada hari itu. Yang mana pada hari itu, Vina baru saja pulang dari rumah sakit. Pulang membawa kabar tidak menyenangkan, membuatnya berstatus janda seperti pada saat ini. Entahlah, belum ada hitungan jam orang kepercayaan Radit sudah bisa mengurus surat cerai secepat itu. Mungkin itu yang dikatakan kekuatan uang.

Vina divonis sulit memiliki keturunan oleh Dokter yang menanganinya pada hari itu. Dan, langsung saja pada hari itu Vina diberi surat cerai oleh suami yang kini sudah menjadi mantan suaminya.

Vina Putri Hermawan, adalah nama lengkap dari Vina. Vina baru saja menikah dengan Radit lima bulan yang lalu. Tapi, karena vonis dokter yang mengatakan kalau Vina sulit memiliki keturunan saat melakukan tes kesuburan, membuatnya menyandang status janda dari pernikahan yang belum genap setengah tahun itu.

"Dit, lebih baik kamu ceraikan saja istrimu itu. Untuk apa mempertahankan istri yang tidak bisa punya anak. Lebih baik segera kau ceraikan saja dia daripada menjadi beban keluarga. Tidak ada untungnya kita memberi makan orang yang tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada kita. Daripada kita buang-buang uang untuk memberinya makan, lebih baik uang jatah makan dan keperluan dia kamu tabung untuk keperluan anakmu nanti." Ibu Saras berkata dengan nada sinis. Yang mana Ibu Saras adalah ibu dari Radit, ibu mertua Vina.

Di saat Ibu Saras mendengar kabar bahwa menantunya itu sulit memiliki keturunan, di saat itu pula dia langsung bertambah tidak suka dengan Vina. Ya, memang sudah dari awal pernikahan Ibu Saras tidak merestui putranya itu menikah dengan Vina.

"Bu, tapi pernikahan kami baru berjalan lima bulan. Apa kata orang-orang nanti bila mereka tahu kalau aku dan Vina bercerai? Keluarga kita akan menanggung malu, Bu! Belum lagi nanti kalau keluarga kita dan keluarga Vina bertanya-tanya tentang sebab cerainya pernikahan kami. Radit harus jawab apa Bu? Radit malu." Radit mengacak rambutnya frustasi. Memikirkan perasaan, nasib pernikahan, dan juga reputasi nama baik keluarga yang harus dijaga. Itu semua seolah berputar di pikiran Radit, membuat kepalanya pusing sendiri.

"Ibu tanya sekarang sama kamu, Dit. Kamu pilih ditanya sekarang tentang perceraian kamu sama Vina? Apa kamu pilih ditanya nanti tentang momongan? Ditanya tentang momongan itu hal yang sangat sensitif, Dit. Itu menyangkut harga diri kamu sebagai seorang laki-laki dan suami," kata Ibu Saras.

"Bu, Vina sama Mas Radit itu kan menikah baru lima bulan. Jadi waktunya masih panjang Bu. Apakah tidak sebaiknya kita berusaha terlebih dahulu? Vina yakin kalau Vina itu bisa memiliki keturunan, Bu." Kini giliran Vina yang angkat bicara. Memegang telapak tangan mertuanya itu.

"Dapat dari mana kamu keyakinan kalau kamu itu bisa memiliki keturunan? Sudah jelas vonis dokter mengatakan kalau kemungkinan kamu untuk memiliki keturunan sangatlah tipis. Jadi kamu tidak usah seyakin itu!" cerca ibu Saras kepada menantunya itu. Ibu Saras menarik telapak tangan yang dipegang oleh menantunya itu.

"Dit, beri surat cerai itu pada Vina. Supaya Vina tanda tangan sekarang di hadapan Ibu" kata ibu Saras.

"Surat cerai?" Vina mengulang ucapan ibu Saras. Terkejut akan apa yang dikatakan boleh ibu mertuanya itu.

"Iya. Surat cerai kamu dan Radit anak saya." Tekan ibu Saras. Menatap Vina dengan tatapan mata tidak suka.

"Tapi Bu, benar kata Vina. Kita bisa berusaha dulu. Berikan waktu untuk Vina berusaha Bu. Vina masih bisa mengikuti program hamil, atau bayi tabung misalnya. Masih banyak jalan alternatif lain, Bu. Tolong beri kesempatan untuk Vina," bujuk Radit pada ibunya.

"Inilah yang Ibu tidak suka dari Vina. Dia banyak merubah kamu Dit. Kamu berubah drastis setelah menikah dengan wanita ini. Maka dari itu waktu kamu minta restu, Ibu tidak merestui pernikahan kalian. Tapi apa? Kalian malah menikah tanpa restu dari ibu. Maka, inilah jadinya sekarang. Ini akibat dari pernikahan tanpa restu dari seorang ibu, Dit!" kata Ibu Saras. Berbicara dengan dagu yang terangkat.

"Bu, salah Vina di mana dan apa? Kenapa Ibu sangat tidak suka dengan Vina?" tanya Vina. Menatap ibu mertuanya itu.

"Dit, berikan suratnya pada Vina saat ini di depan ibu, atau, kamu ibu anggap tidak pernah ada dalam kehidupan Ibu?" Ibu Saras tidak menjawab pertanyaan menantunya itu. Dia malah melanjutkan permintaannya pada putranya untuk memberi surat cerai pada Vina. Vina yang mendengar itu pun tidak terasa air matanya menetes. Vina sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Kini semuanya bergantung pada suaminya itu.

Huft….

Maafkan aku Vina. Aku tidak bisa berbuat lebih jauh lagi dari ini. Sudah jelas terlihat hasil dari pernikahan tanpa restu seorang ibu. Dan, aku tidak mau ini terjadi dalam hidupku untuk selamanya. Aku tidak mau membuat Ibu kecewa padaku lebih dari ini. Sekali lagi, maafkan aku Vina Putri Hermawan.

Radit yang semula menunduk termenung memikirkan sesuatu, mengangkat kepalanya. Menatap wajah Vina.

"Tanda tangani surat ini Vin!" perintah Radit memberikan sebuah amplop berisikan surat cerai kepada Vin.

"Mas Radit tega sama Vina?" tanya Vina tak habis pikir akan apa yang diperintahkan oleh suaminya itu. Vin benar-benar sakit hati atas perlakuan suami dan mertuanya itu.

"Mas nggak bisa berbuat apa-apa lagi, Vin. Mungkin benar kata Ibu. Inilah akibat dari pernikahan tanpa restu dari orang tua, terutama seorang Ibu," jelas Radit. Dia merasa sangat bersalah kepada Vin.

"Hmm, baik."

"Itu pilihan, Mas. Vina tidak bisa merubah keputusan Mas. Vina ikhlas bila memang pernikahan ini harus berakhir saat ini." Vina berusaha untuk menguatkan hatinya. Vina pun menerima surat itu. Tanpa membaca surat itu, Vina langsung membubuhkan tanda tangannya di surat cerai itu.

"Ini Mas suratnya. Terima kasih atas waktu, perhatian, cinta dan kasih sayang yang sudah mas Radit berikan ke Vina selama ini. Sekali lagi Vina mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Mas Radit dan juga Ibu. Vina pamit, Mas, Bu!" Vina pergi dari rumah itu, tanpa membawa barang-barang satu pun kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia merasa tidak berhak atas semua itu. Karena, saat dari awal dia memasuki pekarangan rumah itu, dia tidak membawa apa-apa selain membawa dirinya sendiri.

Dari sini aku tahu kalau kamu itu bukan laki-laki yang setia Mas. Ibu, kita lihat nanti. Akan aku buat Ibu menyesal karena sudah tidak memberikan aku kesempatan. Aku yakin ini hanya akal-akan Ibu untuk memisahkan aku dan Mas Radit. Ibu menang untuk saat ini. Tapi tidak untuk hari esok dan seterusnya. Lihat apa yang akan Vina lakukan pada Ibu dan Mas Radit. Aku percaya kalau aku itu bisa memiliki keturunan. Aku merasa ada yang janggal saat di rumah sakit tadi. Tapi, aku juga berterima kasih dengan Ibu. Karena berkat Ibu aku tahu Mas Radit itu laki-laki yang tidak setia. Dan yang jelas tidak pantas untukku. Batin Vina.

Bersambung

Bab 2

"Vin, kamu yakin mau menghadiri pernikahan mantan suami kamu?" tanya seorang wanita paruh baya yang umurnya mungkin dua kali lipat dari wanita muda yang sedang diajaknya bicara.

Yang mana wanita muda itu adalah Vina. Wanita paruh baya itu sedang menyisir rambut hitam sebahu milik Vina. Vina yang sedang duduk di kursi depan meja rias itu pun melihat ke depan. Menatap wanita paruh baya dari pantulan kaca, yang ternyata wanita paruh baya itu adalah ibunya.

"Yakin Bunda. Vina kan diundang. Jadi, tidak ada salahnya kan Vina hadir di pernikahan mantan suami Vina?" tanya balik Vina.

"Kamu yakin Vin? Kamu tidak akan sakit hati? Bunda hanya tidak mau kamu nanti pulang dengan goresan luka lama yang terbuka kembali," ucap Bunda Anna, ibu dari Vina.

Vina yang melihat kekhawatiran di wajah bundanya pun memegang tangan bundanya itu. Secara otomatis pergerakan tangan Bunda Anna yang sedang menyisir rambut itu terhenti.

"Percaya sama Vina Bunda. Vina sudah bisa mengikhlaskan itu semua. Mungkin memang Mas Radit itu bukan jodoh Vina," kata Vina penuh keyakinan. Mencoba untuk menyakinkan bundanya. Memperlihatkan senyum secerah mentari pagi.

"Walaupun Mas Radit itu jodoh Vina, bila Vina boleh meminta, Vina akan berdoa supaya Tuhan menggantikannya dengan yang lebih baik lagi dari Mas Radit. Yang paling utama harus setia di kala suka maupun duka. Itulah permintaan Vina untuk saat ini," ujar Vina.

"Iya. Bunda percaya kalau kamu itu wanita kuat. Kamu jaga sikap di sana. Jangan terlalu dekat-dekat dengan keluarga Radit. Karena, pastinya bila kamu dekat-dekat dengan keluarga Radit, kamu hanya akan menjadi topik pembicaraan dan juga ditanya-tanya saja nantinya," pesan Bunda Anna pada putrinya.

"Mbak, Mbak beneran mau datang ke pernikahannya Mas Radit? Ngapain juga datang ke sana Mbak? Mending di rumah aja temenin Dika nonton bola. Dari pada Mbak datang ke sana yang ada nanti Mbak makan hati." Seperti tamu yang tidak diundang, tiba-tiba saja ada remaja laki-laki yang masuk ke kamar Vina.

"Dek, kalau masuk kamar perempuan itu di ketuk dulu. Nggak sopan kalau asal masuk. Kamu ini sudah besar, jangan asal masuk saja!" kata Bunda Anna. Memperingati anak bungsu nya, yang bernama Dika. Itu artinya, Dika adalah adik dari Vina.

"Kan kamar Mbak Vina, Bun. Nggak apa-apa kan?" tanya remaja laki-laki yang bernama Dika itu dengan ekspresi wajah polosnya.

"Tetap nggak boleh, Dek! Kamu itu bukan anak kecil lagi. Kamu itu laki-laki yang sudah beranjak dewasa. Tidak sopan saat laki-laki masuk kamar perempuan tanpa diketuk terlebih dahulu pintunya. Walaupun toh itu Mbak kamu sendiri, tetap nggak boleh. Kalau misal nih, Mbak tadi pas ganti baju gimana? Kan nggak lucu, kalau tiba-tiba kamu masuk" kata Vina. Membenarkan ucapan bundanya.

"Itu namanya Dika dapat rezeki, Mbak. Kan kata Mbak di luaran nggak boleh tuh kayak begitu, berarti kan kalau di rumah boleh" ucap Dika tanpa dosa. Memasang raut wajah datar, namun detik kemudian tersenyum kuda karena melihat perubahan raut wajah kakak perempuannya yang tampak marah.

Bugh

Bugh

Bugh

"Sakit kak!" pekik Dika saat mbaknya alias Vina melemparinya body lotion sampai tiga kali ke arah adiknya itu.

"Rasain! Makanya punya mulut itu dijaga. Jangan asal keluar aja tuh kata-kata." Kesal Vina. Memasang wajah marah.

"Makanya Dek, kalau ngomong itu dipikirin dulu. Jangan asal keluar aja. Kamu sudah nggak sopan sama Mbakmu," kata Bunda Anna.

"Maaf Bun. Niat Dika kan cuma bercanda. Tapi Mbaknya aja yang terlalu sensitif." Kata Dika. Namun, nyalinya langsung menciut saat mendapat sorot mata tidak mengenakan dari Vina.

"Iya Mbak, iya. Dika minta maaf. Sebagai gantinya Dika bakalan pergi ikut Mbak ke nikahannya Mas Radit. Tenang aja. Dika bakal jadi pengawal Mbak kalau sampai ada yang berani macam-macam sama Mbak," kata Dika. Mencari solusi supaya dimaafkan oleh mbaknya itu.

"Nah begitu baru Mbak beri maaf. Sekali-kali pergunakan sabuk hitam kamu itu. Bukan hanya untuk pamer sama Mbak dan Bunda." Kata Vina tersenyum manis. Karena strategi yang dibuatnya untuk Dika, supaya Dika mau ikut ke acara nikahan tepat sasaran.

Dika memang sangat menguasai bela diri jenis Taekwondo. Bahkan dengan waktu yang sangat singkat dia sudah bisa mencapai sabuk hitam. Yang artinya sudah tingkatan yang paling tinggi. Maka dari itu Vina ingin adiknya itu ikut. Selain untuk menjaganya dari orang-orang yang berniat macam-macam, juga sebagai teman alias gandengan untuk Vina. Vina memang kakak, tapi karena adiknya itu laki-laki, jadi tubuhnya lebih besar dan tinggi dari Vina. Wajar saja kalau badan Dika sudah besar, karena Dika sudah duduk di bangku kelas dua belas sekolah menengah atas.

***

Di kediaman rumah Radit.

Sudah terdapat tenda yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Menambah kesan elegan tapi tetap saja termasuk mewah bagi para warga yang tinggal satu komplek dengannya. Bisa dikatakan, keluarga Radit itu keluarga paling kaya di komplek perumahannya.

Setelah menengok tenda, tidak lupa dengan mini pelaminan yang sudah terdapat sepasang pengantin di sana. Radit dan juga istri barunya Diana berdiri di atas pelaminan menyalami tamu satu-persatu yang menaiki pelaminan untuk sekedar memperlihatkan diri. Seperti sedang berkata,

"Nih, aku datang menghadiri undanganmu."

Begitu Lah kira-kira maksudnya. Semua warga komplek terkejut saat mendapat undangan pernikahan dari Radit. Tidak ada yang tahu kalau ternyata Radit itu sudah bercerai dari Vina.

Di tengah-tengah keramaian tamu yang sedang menikmati jamuan makan. Ada satu tamu undangan yang mencuri perhatian para tamu-tamu itu.

Bila tamu jauh yang membawa mobil, biasanya akan memarkirkan mobilnya itu jauh dari tempat acara. Tapi, beda halnya dengan tamu yang satu ini.

Dengan percaya dirinya, satu tamu yang menjadi pusat perhatian itu memarkirkan mobil yang bermerek Alphard berwarna putih itu di ujung red karpet tempat pintu utama masuk ke tenda. Yang posisinya itu, bila pintu mobil terbuka, si penumpang akan menginjakan kaki di atas red karpet yang menuju pelaminan.

Mata Radit dan Diana ikut memandang ke arah mobil. Sama seperti banyaknya tamu yang hadir di acara pernikahan itu, mereka berdua dibuat penasaran akan siapa yang yang menjadi tuan di dalam mobil Alphard berwarna putih itu.

Saat si pemilik mobil keluar dari mobilnya, semua tamu terkejut. Termasuk Diana istri baru Radit dan Ibu Saras ibu dari Radit. Sedangkan Radit yang melihat itu hanya bersikap biasa saja.

"Dit, itu bener Vina? Kok dia bisa pakai mobil Radit Dit? Terus itu si Dika kak? Mantan adik ipar kamu. Itu mereka keren banget Dit, turun dari mobil mewah. Mana mereka turunnya pas di depan red karpet lagi. Bikin semuanya terpesona sama mereka." Kata ibu Saras tanpa sadar. Menggoyang lengan Radit yang berdiri di sampingnya itu.

"Dit, jawab Dit! Itu bener Vina Dit?"

"...."

Bersambung

Bab 3

"Iya, Bu. Itu Vina sama Dika. Ibu sendiri kan yang mengundang Vina untuk datang ke acara pernikahan aku sama Diana? Jadi ya dia datang, Bu. Kalau Dika, mungkin Vina yang memintanya untuk ikut supaya Vina tidak sendiri, " ucap Radit. Masih menatap Vina yang sudah turun dari mobil. Menatap sang mantan istri dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.

Sedangkan Vina, Vina Berjalan menuju pelaminan, dengan tangan yang bergelayut manja di lengan adiknya itu.

"Hah? Beneran itu Vina? Vina mantan istri kamu? Vina orang kaya?" tanya ibu Saras tanpa jeda. Masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu.

"Iya, Ibu. Itu beneran Vina. Dia memang orang kaya, Bu." Jawab Radit dengan nada bicara tidak bersemangat. Sedikit malas menjawab pertanyaan dari ibunya itu.

"Vina orang kaya? Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?" tanya ibu Saras.

"Kan Ibu nggak suka sama Vina. Jadi Radit rasa, Radit nggak perlu bilang sama Ibu. Dan juga, Ibu kan nggak pernah nanya siapa sebenernya Vina. Yang Ibu tahu cuma Vina itu seorang anak single parents," kata Radit tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Kamu ini kenapa nggak bilang dari awal? Dasar anak bodoh!" umpat ibu Saras pada putranya.

"Mas, itu beneran si Vina mantan istri kamu?" Tanya Diana juga. Menatap wanita seumurannya yang sedang berjalan di red karpet bersama seorang pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Dika.

"Iya. Kenapa cemburu? Ibu yang secara sengaja mengundang dia. Katanya supaya kamu bisa kenal sama dia. Jadi, kalau kamu merasa kurang nyaman salahkan Ibu, bukan Mas," jawab Radit dengan nada dingin. Tidak mengalihkan pandangan dari Vina dan Dika. Mungkin Radit sedang terpesona dengan mantan istrinya saat ini.

Ya, memang Vina hadir di acara pernikahan Radit dan Diana istri barunya dengan penampilan yang sangat cantik. Maka dari itu, semua orang yang ada di sana seolah terbius dengan penampilan Vina.

"Nggak. Nggak cemburu. Ngapain juga aku cemburu. Buktinya sekarang aku sudah berdiri di sini. Itu tandanya aku pemenangnya." Diana berbicara dengan sangat percaya diri. Ikut menatap Vina. Tapi bedanya, bila Radit, Ibu Saras dan juga para tamu memandang dengan pandangan mata kagum dan terpesona, beda halnya dengan Diana. Diana memandang Vina dan Dika yang sedang berjalan di red karpet dengan tatapan mata tajam. Seperti sedang mengibarkan bendera perang.

"Baguslah kalau kamu nggak cemburu. Jadi aku nggak perlu repot-repot kasih pengertian ke kamu," kata Radit degan menyunggingkan senyum misterius di bibirnya.

"Itu bukannya Vina? Istri pertama dari Radit? Kok dia hadir sebagai tamu? Bukan sebagai tuan rumah ya? Tapi dia hadir dengan penampilan yang sangat cantik dan menawan. Aku tak menyangka bila Vina tetangga kita bisa secantik itu." kata seorang tamu pada teman gandengannya.

"Iya. Itu sepertinya Vina. Dan, itu kayaknya adiknya Vina yang waktu itu mendampingi pernikahan Radit dengan Vina. Kok dia datang naik mobil mewah? Bukannya mereka itu orang tidak punya ya? Mana mobilnya Alphard lagi. Pasti itu mobil hasil rental." Terdengar krasuk - krasuk suara para tamu yang hadir di pernikahan Radit dan Diana. Ada yang memuji dan ada juga yang mencemooh, itulah bentuk dari beragamnya sifat dan cara pikir manusia yang ada di bumi ini.

"Dengar-dengan si Vina sama Radit itu sudah cerai. Makanya Vina datang sebagai tamu." Kata seorang tamu lagi menyahut.

"Hah? Cerai? Serius? Padahal lebih cantik si Vina daripada istri baru Radit itu. Dasar, Radit bodoh! Masak lebih memilih emas daripada berlian." ujar seseorang lagi yang berbeda.

"Iya-ya. Radit bodoh! Lebih cantik kemana-mana si Vina daripada istri barunya itu. Pastilah suatu saat nanti si Radit bakalan menyesal karena menceraikan si Vina." Pembicaraan berlanjut, saling sahut bersahut memperbincangkan Vina, Radit, Dika, dan juga Diana istri baru dari dari Radit. Begitu seterusnya sampai mereka merasa bosan sendiri.

"Hai Ibu. Apa kabar?" Vina menyapa ibu Saras. Mencium pipi kanan dan pipi kiri Ibu Saras. Bersikap sangat manis, seolah menyimpan rindu yang sangat dalam pada mertuanya itu. Padahal dalam hati, Vina merasa sedang di kandang lintah saat ini. Ya, Vina menganggap lingkungan rumah Radit adalah kandang lintah sekarang.

"Baik. Kamu apa kabar Vina?" tanya balik Ibu Saras dengan sangat lembut. Seolah tidak pernah berbuat salah kepada mantan menantunya itu.

Cih! Baru sekarang kau bersikap baik padaku Ibu. Setelah kau tahu siapa diriku yang sebenarnya baru kau membaiki aku. Maaf, semuanya sudah terlambat. Batin Vina, memutar bola mata dengan malas.

"Baik Bu. Ibu bagaimana kabarnya?" tanya Vina bersandiwara. Ya, bersandiwara demi membalaskan semuanya.

"Baik. Baik sekali. Kamu semakin cantik Vina," kata Ibu Saras. Mengusap rambut Vina dengan lembut.

Mantan mertua penjilat.

"Ha, biasa saja Bu" kata Vina. Tersenyum canggung. Diana yang melihat itu semua darahnya seperti mendidih. Bagaimana seorang mantan mertua yang semula sangat membenci mantan menantunya, kini langsung berubah baik secara tiba-tiba. Seolah mengatakan kalau dia itu menyesal sudah menyuruh putranya itu untuk menceraikan sang mantan menantu.

Ibu mertua kurang ajar! umpat Diana.

Mbak Vina itu gimana sih? Mantan mertua lagi menjilat kok ditanggapi. Dika berbicara dalam hati. Merasa kesal dengan sikap Vina kepada mantan mertuanya itu.

"Hai Mas, happy wedding ya! Cetak gol sebanyak-banyaknya. Supaya dalam waktu lima hari istri barumu itu sudah bisa hamil. Tidak seperti diriku yang sudah menikah selama lima bulan belum juga hamil," ucap Vina tepat ditelinga Radit. Berbicara dengan nada menyindir. Lalu setelah mengatakan itu, Vina beralih memberi ucapan selamat pada Diana.

"Siapa namamu? Diana? Iya? Emm, tapi tidak penting juga untukku. Siapapun namamu itu tidak berpengaruh untukku dan keluargaku. Aku doakan semoga kamu bisa segera hamil. Tidak seperti diriku yang sudah menikah selama lima bulan, tapi belum juga hamil. Good luck! Semoga berhasil! Kamu menang untuk saat ini." Vina tersenyum misterius. Lalu kembali mendekatkan wajahnya itu di telinga Diana.

"Kamu berhasil merebut suamiku, tapi aku tidak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku suatu saat nanti. Ingat! Bukan sekarang, tapi nanti" kata Vina. Diana yang mendengar ancaman dari mulut Vina menelan air liur nya dengan susah payah. Ancaman dari Vina membuatnya gagal fokus dan bleng secara tiba-tiba.

"Aku tahu, ini adakah rencana kamu dan Ibu untuk memisahkan aku dengan Mas Radit. Aku tidak akan marah pada kamu untuk saat ini, aku justru berterima kasih padamu karena sudah menunjukkan sisi dari Mas Radit yang aku tidak ketahui sebelumnya. Satu doaku untukmu, semoga Mas Radit tidak mencampakanmu seperti Mas Radit mencampakan diriku. See you, good bye! " ucap Vina. Lalu Vina pergi meninggalkan pelaminan bersama Dika yang mengikutinya dari arah belakang.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED