Arini 8 tahun yang lalu.
"Rin... niatmu sampek ke luar negeri untuk bekerja apa? Jika hanya untuk gegayaan kaya orang-orang, Bapak nggak akan kasih kamu izin. Kamu tahu, 'kan? Banyak berita buruk tentang para tkw itu. Mereka pulang membawa anak tanpa tahu siapa bapaknya. Bapak, nggak mau kamu seperti itu," kata Wahyono dengan nada tegas saat anak sulungnya meminta izin untuk bekerja ke luar negeri.
Arini terdiam sebentar memikirkan jawaban yang tepat untuk sang ayah. Laki-laki yang kini tampak rapuh karena penyakit stroke itu tampak seperti menahan tangis. Bagaimana tidak, ia merasa tidak tega saat anak-anaknya harus membantu perekonomian keluarga ini. Suratmi, sang istri hanyalah seorang buruh serabutan yang tidak setiap hari ada yang memakai jasanya.
Kehidupan Wahyono memang sejak dulu susah. Arini adalah anak sulung dan merasa harus bertanggungjawab dengan kelangsungan hidup keluarga ini. Ia masih punya dua adik. Alma dan Satria si bungsu. Mereka masih sekolah di bangku SMP dan SD. Biaya sekolah saat ini tidaklah murah.
"Bapak, sebelumnya, saya minta maaf bukan ingin menjadi seperti mereka. Tapi, niat saya kerja jadi TKW agar setidaknya Alma dan Satria bisa kuliah. Dengan mereka kuliah, kita bisa mengubah nasib keluarga ini menjadi lebih baik. Tidak usah memikirkan saya nanti bagaimana di sana. Saya akan baik-baik saja di sana." Arini menjawab dengan tenang ucapan sang ayah.
"Kalo memang itu niat kamu, Bapak akan tanda tangani surat ini," kata Wahyono yang sebenarnya berat hati.
Percakapan itu mendadak terputar di kepala Arini saat ini. Ia masih sangat syok di depan rumahnya sendiri. Baru saja tiba, mendadak, semua saksi mengucapkan kata 'sah.' Dalam hati Arini masih berpikir positif. Namun, setelah melihat siapa yang menikah, ia kembali mendapatkan syok yang luar biasa.
"Loh, itu Arini!" Seru salah satu warga dengan suara lantang dan membuat banyak tamu undangan menoleh ke arah Arini.
Arini menunduk dan mengusap air matanya dengan cepat. Di depan sana, sang adik baru saja resmi menjadi istri seorang laki-laki. Mengapa harus kekasih Arini yang dinikahi Salma? Sejak kapan mereka punya hubungan?
"Ya, Allah, Rin, kamu kok pulang nggak ngasih kabar keluarga?" tanya Ranti dengan wajah menahan rasa kasihan pada Arini.
"Aku mau bikin kejutan tapi justru aku yang terkejut," jawab Arini sambil tersenyum, menertawakan nasibnya saat ini.
"Ya Allah, Rin. Ayo ke rumah Bulek dulu, biar kamu bisa istirahat." Ranti tahu bagaimana perasaan sang keponakan.
"Bulek, kenapa nggak ada yang ngabarin aku?" tanya Arini menahan tangisnya agar tidak pecah di hari bahagia Alma dan Aksa yang tak lain adalah sang kekasih.
"Bu-Bulek minta maaf, ya." Ranti sangat panik saat ini.
Arini tersenyum miris. Ia lalu mengikuti langkah sang bibi menuju rumah wanita itu. Hanya berjarak dari rumah kedua orang tuanya yang kini telah direnovasi. Namun, mereka justru tidak memberikan kabar perihal pernikahan Alma. Kecewa, sakit hati, marah, dan banyak perasaan lain yang ada di hati dan pikiran Arini saat ini.
Sementara itu, acara resepsi pernikahan Aksa dan Alma saat ini menjadi sorotan banyak warga. Sudah jelas jika Alma merebut kekasih sang kakak. Jahat? Entahlah, dalih mereka adalah saling mencintai. Wajah Aksa mendadak seputih kertas.
Bagaimana tidak, sampai dengan dua hari yang lalu, Aksa masih menghubungi Arini. Hubungan mereka tidak ada masalah sama sekali. Kontrak kerja Arini tinggal satu tahun lagi. Arini sengaja mengambil cuti untuk pulang ke rumah untuk memberikan kejutan.
Pukul sebelas malam, mereka semua berkumpul di rumah Ranti. Wajah mereka semua tampak tegang. Wahyono menatap ke arah anak sulungnya. Ada perasaan bersalah yang menggelanyutinya.
"Arini... Bapak minta maaf, ya. Ini semua terjadi begitu saja. Bapak tidak punya pilihan," kata Wahyono dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak terjadi begitu saja, Pak. Aku sama Mas Aksa sudah lama saling cinta." Alma menyela ucapan sang ayah. "Iya, 'kan Mas Aksa? Mas Aksa bilang juga sudah lama putus dari Mbak Arini. Jadi, sebenarnya tidak ada yang harus minta maaf di sini," kata Alma dengan angkuhnya.
Aksa hanya menunduk, lantai keramik di rumah Ranti lebih menarik. Ia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan dan menjelaskan apa pun pada Arini. Entahlah, perasaan bersalah itu mendadak menghantuinya. Arini punya cinta yang tulus hanya saja, ketika diajak menikah terus saja menolak. Arini selalu meminta agar Aksa menunggu.
"Jangan menyela ucapan, Bapak. Ada waktunya kamu berbicara!" Wahyono menegur Alma dengan tegas.
"Ya, mau sekarang atau nanti jawabannya juga sama. Ngapain harus nunggu sampai nanti. Aku juga ngantuk, Pak!" Alma berani membentak sang ayah.
"Kamu ini! Ingat, kamu bisa menjadi seperti sekarang ini juga karena Mbakmu, Arini!" Wahyono kehabisan kesabaran pada adik Arini.
"Memang! Aku akan kembalikan semua uang Mbak Arini. Aku udah hitung semua biaya kuliah yang dikeluarkan oleh Mbak Arini. Tenang saja!" Alma sangat angkuh saat ini. "Satria, mulai sekarang kamu juga harus hitung berapa uang biaya kuliah dan kembalikan pada Mbak Arini," kata Alma menunjuk Satria adik bungsunya itu.
"Cukup!" Seharusnya kalian berdua meminta maaf pada Arini. Bukan hanya kalian saja, tapi Mas Wahyono dan Mbak Sri juga harus meminya maaf pada Arini. Di sini, Arini yang seharusnya menjadi pihak tersakiti," tegur Rasman suami Ranti yang merasa muak dengan ulah Wahyono yang tidak tegas.
"Sudahlah, aku tidak gila maaf. Ini sudah terjadi. Selamat atas pernikahan kalian," kata Arini dengan wajah yang sulit ditebak.
Ucapan Arini membuat Aksa mendongak. Mata mereka bertemu dan menyiratkan kerinduan. Arini segera memutus pandangan dan menatap ke arah lain. Rasa sakit hati yang luar biasa membuat air mata Arini susah keluar.
"Pak, Bu, saya ingin bicara pada Arini," kata Aksa tanpa menoleh ke arah Salma.
"Tidak usah. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kisah kita ternyata sudah usai tanpa aku sadari. Aku yang salah di sini. Sekarang, pulanglah. Biarkan aku istirahat sebentar," kata Arini lalu beranjak dari duduknya.
Aksa tercekat saat mendengar ucapan Arini. Perempuan yang menjadi cinta pertamanya itu seolah tidak terusik. Seharusnya, Arini akan mengamuk, tetapi sebaliknya. Aksa tidak bisa berkata-kata lagi. Ia terpaksa kembali ke rumah Wahyono.
Arini masuk ke kamar tamu. Ia menutup pintu lalu menguncinya. Arini mengembuskan napas panjang, berharap jika bisa sedikit meringankan masalahnya. Namun, tidak, kini air matanya tumpah.
Pagi datang dengan cepat. Arini sudah bangun dari Subuh. Ia membantu Ranti di dapur. Tidak banyak obrolan antara bibi dan keponakan itu.
"Mbak Arini, aku mau kembalikan uangmu. Mau cash atau masuk ke rekening," ucap Alma yang entah sejak kapan ada di dapur Ranti itu.
"Berusaha menjadi sosok setenang air memang sulit. Tapi, bukankah air yang paling tenang adalah air yang berbahaya? Dan mereka pun...."
Suasana dapur rumah Ranti mendadak tegang. Sejak semalam, Alma berusaha mencari masalah dengan Arini. Pengantin baru itu seolah ingin menunjukkan bagaimana sikap buruk sang kakak. Akan tetapi, semua tidak terbukti.
"Tidak usah, Ma. Anggap saja itu uang sumbanganku saat kau menikah, ya, meski aku nggak diundang," jawab Arini tenang dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Nggak susah sok kaya, Mbak. Aku tahu gimana kehidupan para TKW di Taiwan sana. Mereka jual tubuh pada laki-laki hidung belang. Apa Mbak Arini juga melakukannya? Sampai-sampai tidak ingin aku mengembalikan uang yang Mbak kirim dulu?" Alma dengan sengaja memancing amarah Arini. "Nggak usah bohong, Mbak. Itu salah satu alasan kenapa Mas Aksa akhirnya menikahiku," lanjut Alma dengan angkuh.
"Aku tidak perlu menjelaskan bagaimana kerja di sana pada siapa pun. Tenang saja, aku tidak seperti itu. Boleh dicek. Kalo memang kamu dapat bukti aku jual tubuh pada laki-laki hidung belang, barulah boleh kamu bilang dan buat berita. Tapi, jika tidak, aku akan membawa masalah ini ke meja hijau. Pencemaran nama baik dan fitnah keji. Aku tidak sepertimu, Alma. Kamu menyodorkan tubuhmu pada Aksa. Nikmatilah hidup kalian. Kalian berdua sama saja," balas Arini telak dan membuat wajah Alma memerah menahan amarah.
Beberapa waktu yang lalu, Santi--salah satu teman TKW Arini pulang ke kampung ini. Ada hal yang menyakitkan saat wanita itu bercerita pada Arini. Namun, lagi dan lagi Arini masih berpikir positif. Santi melihat Alma dan Aksa cek in di salah satu hotel yang ada di kota ini.
Tidak hanya itu, Santi bahkan membawakan semua foto-foto sebagai bukti kedekatan kekasih Arini dengan sang adik. Namun, lagi dan lagi, Arini naif dan memilih tidak percaya. Kemarin, sebagai bukti jika ucapan Santi benar. Arini menyesal? Entahlah, semua sudah terjadi.
"Satu hal, aku bersyukur terbebas dari laki-laki jahat." Kalimat menohok itu keluar dari mulut Arini dan membuat banyak orang syok.
"Kamu, Mbak!" Alma menerjang Arini, tetapi berhasil dihentikan oleh Aksa yang sejak tadi ada di ruang tengah.
Setenang itu Arini menghadapi peliknya kisah cinta ini? Entahlah, tetapi ada penyesalan luar biasa di hati Aksa saat ini. Arini tampak sangat tenang padahal kisah mereka belum usai. Ah, salah, sudah berakhir tanpa kata pisah.
"Rin, aku ingin kita bicara." Aksa meminta waktu pada Arini sambil memegangi sang istri.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan. Hubungan kita sudah berakhir. Seharusnya, kau memanggilku dengan sebutan, Mbak. Sama dengan Alma. Aku kakak iparmu sekarang. Pakailah adab sedikit." Ucapan Arini kembali tajam dan menusuk hati.
Aksa terdiam seketika. Semalam, ia tidak mementa haknya pada Alma. Pikirannya sangat kalut karena kedatangan Arini yang mendadak. Andai kala itu tidak tergoda rayuan Alma, masalah pelik ini tidak akan terjadi.
Kedua orang tua Aksa juga merasa tidak enak hati pada Arini. Mereka sering dikirim barang-barang bagus dari Taiwan. Namun, inikah balasan mereka? Arini jelas sangat kecewa saat ini.
Pukul sepuluh pagi, Arini baru saja selesai mandi dan sudah sarapan. Arini memutuskan masuk ke dalam kamar. Ia ingin beristirahat sebentar. Bukan. Lebih tepatnya Arini akan mengemas semua barang. Ia sudah memesan travel untuk ke Jakarta nanti malam.
"Rin, Bapak boleh masuk?" Ketukan dari luar membuat Arini terpaksa menghenikan aktivitasnya.
"Masuk saja, Pak. Pintunya tidak saya kunci," kata Arini dari dalam tanpa mau beranjak dari duduknya.
Tampak dua orang paruh baya berdiri di depan pintu. Kedua orang tua Arini sangat merasa bersalah saat ini. Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi jika Wahyono dan sang istri bisa tegas. Namun, kenyakatannya tidak dan sebaliknya.
"Rin... Bapak dan Ibu minta maaf, kami...."
"Nggak usah minta maaf, Pak. Saya tahu, Bapak dan Ibu sudah melakukan hal yang terbaik. Tenang saja, saya tidak marah." Arini langsung menyela ucapan sang ayah tanpa memberikan kesempatan pada sang ayah untuk mengatakan apa pun. "Kenyataan ini mungkin menampar dan melemparku ke hal yang menyakitkan, tapi saya yakin, banyak hikmah dari kejadian ini," kata Arini dengan tenang.
Kedua orang tua Arini sangat terkejut. Anak sulungnya tidak menunjukkan ekspresi amarah. Wajah perempuan dua puluh sembilan tahun itu tampak datar. Tidak ada emosi sama sekali.
"Pak, Bu, tidak usah merasa bersalah. Bukan kalian yang salah, tapi saya. Saya seharusnya peka sejak awal karena menghidupi ular berbisa. Kini gigitan ular itu membuatku sakit." Ucapan Arini sangat tajam dan membuat kedua orang tuanya terdiam seketika.
Arini, tidak ada yang berubah dari perempuan itu. Tetap tenang meski sedang dalam masalah. Yang tidak mereka sadari adalah, manusia yang sangat tenang itu justru manusia yang paling berbahaya. Arini menjadi ancaman bagi keluarga Wahyono.
"Trus Bapak nggak bilang kalo rumah ini mau aku balik nama?" Alma sedang menekan sang ayah saat ini.
"Jangan melampaui batasmu sebagai anak, Ma! Bahkan orang tuamu masih hidup!" Wahyono berteriak dengan nada suara penuh amarah saat ini. "Dari awal, rumah ini milik Mbakyumu. Jangan usik lagi. Dia sudah banyak mengalah!" bentak Wahyono dengan tegas.
"Halah... Mbak Rini udah kerasan di luar negeri. Lihat saja, dia juga akan kembali ke luar negeri setelah ini. Dia itu perempuan nggak bener. Pakai logika saja, mana ada kerja jadi TKW trus bisa nyekolahin aku dan Satria juga bangun rumah ini. Rumah ini kisarah butuh biaya hampir lima ratus juta loh!" Alma berdecih merendahkan Arini.
"Cukup! Jangan karena kau sekarang sudah PNS lalu bisa bersikap seperti itu. Suatu saat, kesombonganmu akan ada balasanmu. Arini tidak pernah membuat masalah denganmu, tapi kau yang selalu mencari masalah dengan kakakmu!" Wahyono sangat murka pada Alma.
Aksa hanya diam dengan kekisruhan keluarga ini. Ia tidak bisa banyak bicara. Alma dan Aksa sebelumnya satu kantor. Namun, Aksa dipindah ke Badan Kepegawaian sedangkan Alma masih berada di kantor lama--Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
"Mas, kamu jangan diam saja. Coba ikut bicara pada Bapak. Rumah ini harus kita balik nama," kata Alma meminta dukungan sang suami.
"Suami kamu tidak punya hak sama sekali atas rumah ini." tegur Wahyono dengan tegas.
Memalukan memang, baru saja menikah sudah ada huru-hara. Masalah dengan Arini belum selesai, kini masalah itu semakin merembet. Arini paham, Alma memang serakah. Sejak kecil, Alma sudah punya sifat seperti itu, hanya saja, kebetulan Alma punya kecerdasan di atas rata-rata.
"Bulek dan Paklek, saya pamit, ya. Saya sudah harus kembali. Cuti yang saya ambil memang sedikit. Saya harus menyelesaikan kontrak kerja," pamit Arini saat sudah pukul sebelas malam.
"Loh? Kok dadakan, Rin?" Ranti menatap Rasman sang suami yang juga kaget.
"Memangnya kalo sakit hati karena kalian nikah diam-diam aku harus nangis? Nggak dong, aku bahagia terlepas dari orang jahat yang...."
Deru mesin mobil berhenti di depan rumah Ranti membuat beberapa tetangga keluar. Mereka ingin tahu siapa yang datang malam-malam begini. Alma sudah lama memberikan kabar jika sang kakak bekerja tidak benar. Atau, cara memperoleh uangnya dengan menjual tubuh.
"Lihat itu, siapa yang jemput Arini? Pasti itu penyalurnya," kata salah satu tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah milik Ranti.
"Iya, pantas saja, dia bisa renovasi rumah Pak Wahyono dan nguliahin kedua adiknya. Ya, selamat itu si Aksa. Nggak dapat bekas orang." Ucapan negatif dan menyakiti hati Arini membuat wanita itu hanya bisa mengembuskan napas kasar.
Arini tidak mau menanggapi ucapan mereka semua. Mereka hanya akan menambah beban masalah saja. Di depan sana, Arini juga belum tahu, setahun itu sebentar. Arini tidak mungkin akan berada di Taiwan terus setelah ini.
"Rin, kamu mau ke mana?" tanya Sri yang terkejut saat melihat anak sulungnya menarik dua koper yang sama seperti saat pulang kemarin.
"Maaf, Bu. Cuti saya sudah habis. Saya harus kerja," jawab Arini tanpa basa-basi.
"Tapi, kita perlu bicara, Rin. Biar bagaimana pun, Ibu tidak ingin kamu dan adikmu bertengkar. Bapak dan Ibu sudah tua," kata Sri memohon agar Arini tidak pergi.
"Bu, Pak, kami tidak pernah bertengkar. Aku juga tidak pernah memusuhi Alma. Saya ikhlas ketika Alma menikah," kata Arini tanpa mau menyebut nama Aksa lagi.
Aksa yang mendengar ucapan Arini merasa sangat sakit. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya saat. Ucapan Arini seolah menggambarkan jika hubungan mereka selama ini tidak ada artinya. Jelas bukan salah Arini, Aksa-lah yang memutuskan bermain api di belakang Arini.
"Rin... kami semua ingin mengajak berbicara kamu sebagai keluarga," kata Aksa menyela obrolan ibu dan anak itu.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya pamit semuanya."Arini mengatakan setelah selesai memasukkan dua koper ke dalam bagasi mobil travel yang dipesannya. "Oh, ya, ini agen travel. Bisa dibaca, ya. Jadi bukan agen yang dipakai pesan wanita untuk hidung belang. Agen ini besar dan yang menuduh jika agen ini khusus memesan perempuan untuk laki-laki hidung belang pasti akan dilaporkan," kata Arini sambil tersenyum saat melihat wajah syok para tetangga.
Mereka semua langsung tegang. Arini tersenyum puas. Ia bersikap tenang bukan karena tidak sedih. Akan tetapi, menangis bukan solusi.
"Lho? Siapa yang ngomong gitu, Mbak?" tanya sopir travel paruh baya itu.
Arini tidak menjawab, tetapi langsung menunjuk satu per satu wajah tetangganya. Mereka jelas syok dan takut. Orang kampung pasti akan takut jika mendengar akan dipolisikan. Mereka kurang pengetahuan.
"Maaf, ya, Pak. Mereka suka bikin gosip. Belum pernah masuk penjara karena pencemaran sebuah CV, Pak. Makanya mereka ingin mencoba," kata Arini sengaja mengompori sopir travel itu.
Sopir travel itu menggeleng lalu mengembuskan napas kasar. Laki-laki paruh baya itu tidak tahu menahu perihal masalah yang sedang terjadi. Arini hanyalah korban dari kelicikan anggota keluarga yang tidak amanah. Rasa iri dan dengki Alma-lah yang membuat semua menjadi kacau. Andai Alma sadar, hal ini tidak perlu terjadi.
Pagi datang dengan cepat, kedua orang tua Aksa hendak menemui Arini pagi ini di rumah Ranti. Namun, mantan calon menantunya itu sudah pergi. Hanya ada Ranti dan Rasman yang pagi ini baru selesai sarapan. Tatapan Rasman sudah penuh kebencian pada dua orang pensiunan PNS itu.
"Kalo memang niat mau bicara sama Arini, harusnya sejak kemarin. Dia sudah pergi karena cutinya tidak lama." Rasman mengatakan dengan nada sinis saat kedua tamunya baru saja duduk di kursi ruang tamu. "Lagi pula Arini sudah ikhlas mereka menikah, jadi tidak usah diperpanjang lagi. Satu hal, keponakan saya adalah salah satu bukti jika korban kelicikan orang terdekat itu ada," kata Rasman lagi membuat Bu Tuti kesulitan menelan saliva.
Bu Tuti dan Pak Yanto, kedua orang tua Aksa kali ini mendadak kikuk. Mereka terpojok dan ucapan Rasman tidak bisa dibantah. Mereka lebih setuju jika Aksa menikah dengan Alma yang seorang sarjana dan PNS. Mereka lupa, Alma bisa mendapatkan dua hal karena jerih payah Arini.
"Bukan begitu, Pak Rasman. Saya dan istri kemarin belum sempat bertemu karena banyak tamu yang datang ke rumah. Mereka tidak sempat datang ke rumah Pak Wahyono." Alasan Pak Yanto tidak cukup kuat untuk menjawab ucapan paman Arini itu.
"Benarkah? Atau kalian sedang menyusun rencana yang lebih jahat lagi?" Rasman mengepulkan asap rokok saat ini. "Bu Tuti, berapa banyak tas branded seharga gaji kalian satu bulan yang dikirimkan oleh Arini? Ah, ya, Bu Tuti bisa pamer tas itu saat masih kerja, 'kan?" Sindir Rasman membuat kedua besan Wahyono itu salah tingkah.
"Pak Rasman, saya...."
"Saya? Kenapa, Bu? Mau menjelaskan apa lagi pada saya? Saya sudah tahu. Ibu, yang sengaja membuat semua ini terjadi. Tanpa kalian memikirkan bagaimana perasaan Arini. Arini ada salah apa dengan kalian? Dia memang bukan seorang sarjana seperti Aksa dan Alma, tetapi dia lebih beradap dibanding kalian semua," kata Rasman sambil menahan amarah yang kapan saja bisa meledak.
"Paklek, nggak gitu juga," kata Alma menyela obrolan dua orang tua itu.
"Oh, gimana harusnya? Kamu sudah hamil dulu, 'kan sama Aksa? Benar-benar murah. Lebih murah dari harga Yupi. Alma, kamu tidak bisa menekan setiap orang untuk bisa ikut dengan semua keinginanmu. Ingat, karma itu pasti ada." Ucapan Rasman membuat nyali Alma ciut saat ini. "Mungkin dalam Al-Qur'an karma tidak ada. Tapi, hukum tabur tuai itu pasti ada. Kalian semua akan memetiknya," lanjut Rasman dengan wajah sangar.
Mereka semua diam, Alma yang biasa banyak bicara kali ini tidak. Menjawab ucapan sang paman sama saja dengan bunuh diri. Alma tidak mau hal itu terjadi. Rasman bahkan pernah memergoki Alma dan Aksa saat berhubungan intim di kamar milik Arini.
"Pak Rasman, apa boleh saya meminta nomor ponsel Arini?" Bu Tuti sudah tidak nyaman berada di rumah ini. "Saya akan minta alamat Arini. Saya akan menemuinya di Jakarta. Arini pasti belum langsung akan berangkat ke Taiwan," kata Bu Tuti penuh percaya diri.
"Nomor ponsel Arini masih sama seperti yang dulu. Dia perempuan yang setia. Bahkan nomor ponsel saja tidak ganti." Rasman sengaja menyindir Alma dan Aksa yang saat ini ada di rumahnya.
Mereka semua terdiam. Semalam, mereka merencanakan hendak menemui Arini untuk berbicara. Sayang, kedua orang tua Aksa tidak menghubungi putra mereka terlebih dahulu. Mereka tidak tahu jika Arini berangkat ke Jakarta.
"Alma... ingat satu hal, kamu mungkin bisa merebut Aksa dari Arini. Tapi, kamu harus tahu, siapa yang dicintai Aksa sebenarnya," kata Rasman sengaja memberikan provokasi pada Alma.