Bab 1

"Aku ingin tes DNA!" seruku lantang di hadapan seluruh keluarga. Suasana yang tadinya hangat dan penuh senda gurau, tiba-tiba menjadi sunyi. Semua mata tertuju padaku. Terutama mata kedua orang tuaku yang beberapa detik tadi terlihat sangat bahagia merayakan kelahiran bayi yang mereka yakini sebagai cucu.

"Arkan?" Mama menatapku dengan raut tak percaya. Perempuan yang telah melahirkan ku itu tampak terkejut dengan apa yang didengarnya tadi.

Aku menatap sekeliling. Saat ini di rumahku masih ada beberapa tamu karena Mama baru saja selesai mengadakan syukuran. Sebuah acara sederhana setelah satu bulan lebih perempuan yang belum lama ini kunikahi melahirkan seorang bayi lelaki. Bayi yang katanya sangat mirip denganku disaat aku sendiri tak yakin jika dia benar-benar darah dagingku.

Wajah Mama terlihat sedikit gusar. Untung saja tamu yang tersisa saat ini semuanya masih keluarga, begitu mungkin pikir beliau saat aku melontarkan kalimat mengejutkan tadi.

"Apa maksudmu, Arkan?" Kali ini suara Papa yang terdengar.

"Aku tidak yakin bayi itu anakku," jawabku dengan nada datar.

"Kenapa kamu tidak pernah menyebut namanya. Bayi itu punya nama. Namanya Farhan, dan dia anakmu." Mama menyela.

"Aku tidak peduli siapa namanya. Aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai anakku sebelum hasil tes DNA menyatakan jika dia memang darah dagingku." Aku kembali berujar dengan dingin. Mataku lekat menatap kearah perempuan yang kini sedang memangku bayinya sembari menunduk.

Heh, aku tersenyum sinis melihat perempuan itu. Dia selalu memasang wajah teraniaya saat ada di hadapan seluruh keluargaku, terutama di depan Mama dan Papa, seolah disini dialah yang terzolimi. Benar-benar pandai berakting. Sayang sekali dia tidak menjadi seorang aktris sehingga bakatnya itu menjadi sia-sia saja.

"Bagaimana kamu bisa bilang begitu? Tidakkah kamu lihat wajah Farhan sangat mirip denganmu? Beginilah rupamu waktu kamu masih bayi dulu, Arkan." Mama berujar lagi sembari membelai wajah bayi itu dengan jemarinya.

"Aku tetap tidak percaya. Perempuan ini melakukan hal rendah demi untuk menikah denganku. Darimana aku tahu jika anak yang dilahirkannya benar-benar anakku? Bisa saja dia sudah hamil saat menjebakku waktu itu." Aku sudah tidak tahan lagi. Aku muak terus bersabar di hadapan perempuan licik ini. Perempuan sok lemah yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Kejadian waktu itu benar-benar telah membuat hidupku hancur. Selepas mengikuti acara reuni, tiba-tiba aku terbangun di sebuah kamar, seranjang bersama seorang perempuan tanpa mengenakan busana dan tak mengingat apapun. Lalu selang beberapa bulan kemudian, perempuan itu datang mencariku untuk meminta pertanggung jawaban. Dia hamil dan bersikeras jika aku adalah ayah dari anak yang dikandungnya. Padahal saat itu aku sudah punya tunangan dan akan menikah dalam waktu dekat.

Kehidupanku kacau. Atas desakan berbagai pihak, termasuk tunanganku sendiri, aku akhirnya terpaksa menikahi perempuan itu. Perempuan yang aku yakini sedari awal memang telah merencanakan semua itu. Dan dia pasti senang karena rencana yang dibuatnya sukses besar.

Ainun, perempuan yang sedari tadi kutuding dengan kata-kata pedas itu mengangkat wajahnya dan menatap kearahku. Matanya berkaca-kaca dan tampak begitu terluka. Tapi aku tak akan tertipu dengan sandiwaranya ini. Dia mungkin bisa membohongi semua orang dengan wajah memelasnya, tapi tidak denganku. Beberapa bulan hidup bersama sejak aku terpaksa menikahinya membuatku paham setiap akal bulusnya. Dia akan memanfaatkan simpati orang untuk berpihak kepadanya hingga dia bisa mendapatkan semua yang yang dia mau. Itulah yang dilakukannya selama ini.

"Tidak perlu melakukan tes DNA." Akhirnya aku mendengar suara Ainun menanggapi.

Aku kembali tersenyum sinis padanya.

"Kenapa? Apa kamu takut kedokmu terbongkar jika kita melakukan tes DNA? Bayi ini memang bukan anakku, kan?" tanyaku dengan sarkas.

Ainun menghela nafasnya, seakan sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Mulutnya tertutup rapat meski aku tahu dia ingin menyangkal. Kena kau! Tes DNA tak bisa dibohongi. Pasti dia sedang risau karena tak ingin kebusukannya sampai terbongkar dihadapan keluargaku. Puas rasanya bisa melihat perempuan licik ini tak berkutik.

"Aku tidak mau melakukan tes DNA bukan karena takut, tapi aku tidak mau membuang uang dan waktumu. Karena kamu pasti tidak akan terima hasilnya nanti," jawab Ainun dengan suara yang sedikit bergetar.

"Di dalam hatimu sudah dipenuhi dengan kebencian dan prasangka buruk. Tes DNA tidak akan bisa menghapus itu," tambah Ainun lagi sembari bangkit dan membawa bayinya berlalu dari hadapanku.

Bab 2

Ainun masuk ke dalam kamar, meninggalkan kami semua yang sedang berada di ruang keluarga. Sekali lagi aku menatap sinis kearah pintu kamar yang dia tutup barusan. Setelah beberapa bulan belakangan berhasil mengambil hati kedua orang tuaku, lihatlah tingkahnya yang jadi semakin jumawa. Berani-beraninya dia pergi begitu saja saat aku belum selesai bicara.

"Mama Papa bisa lihat? Sekarang menantu kesayangan yang selalu kalian bela itu sudah menjadi semakin luar biasa. Memangnya salah kalau aku ingin melakukan tes DNA? Bukannya justru aku terlalu bodoh kalau percaya begitu saja pada pengakuannya. Bagaimana pun, aku sama sekali tidak ingat kejadian malam itu. Apa memang benar aku yang sudah membuatnya hamil, atau justru orang lain?" Aku berusaha setengah mati meredam gemuruh di dadaku agar nada bicaraku terdengar normal.

Mama dan Papa bergeming. Begitu pula dengan beberapa keluarga yang lain. Mereka semua yang berada di rumahku saat ini adalah orang-orang yang sudah mendorongku untuk menikahi Ainun beberapa bulan lalu.

"Tidak salah jika kamu ingin membuktikan Farhan benar-benar putramu atau bukan, tapi tidak begini caranya juga, Arkan. Jika kamu ingin melakukan tes DNA, lakukan saja diam-diam tanpa harus mengatakannya di depan seluruh keluarga seperti ini." Papa akhirnya angkat suara. Lelaki yang selama ini sangat aku banggakan, untuk pertama kalinya aku tak senang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku sengaja. Biar dia tahu bagaimana rasanya dipermalukan. Waktu itu dia mengaku hamil anakku saat semua keluarga kita sedang berkumpul seperti ini juga, kan? Padahal dia bisa menemuiku tanpa sepengetahuan orang lain. Apa tujuannya jika tidak ingin mempermalukan dan menjebakku? Aku tidak ingin berpura-pura baik lagi, Pa. Sudah cukup selama beberapa bulan ini aku bersabar menghadapi perempuan itu," ujarku pada Papa.

Papa hanya menghela nafasnya dan tak berkata apapun lagi, begitu pula dengan Mama. Mungkin mereka berpikir jika kata-kataku tadi ada benarnya. Selama ini mereka begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aiun. Aku sendiri heran bagaimana kedua orangtuaku ini bisa lebih percaya pada perempuan itu daripada aku, anak kandung mereka sendiri.

Tapi sekarang tidak lagi! Aku tidak akan membiarkan Ainun mengendalikan Mama dan Papa seperti sebelumnya. Akan kubuka mata semua orang agar tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Jika Ainun bersikeras tak mau melakukan tes DNA, berarti benar jika selama ini dia telah menipuku dan seluruh keluargaku. Anak yang dilahirkannya itu bukan anakku, tapi anak orang lain.

"Mbak Ainun itu perempuan baik, Mas. Aku tidak percaya kalau Mbak Ainun sengaja menjebak Mas Arkan. Pasti disini dia juga korban dari perbuat orang lain. Lagian, seperti yang Tante bilang tadi, wajah Farhan juga mirip sekali dengan wajah Mas Arkan. Tidak perlu di tes DNA juga kita sudah bisa lihat kalau Farhan itu memang anak Mas Arkan." tiba-tiba terdengar suara Disha memecah keheningan, salah satu anak dari saudara Papa. Sepupu yang paling dekat denganku.

Aku menoleh kearah gadis itu. Dia duduk di antara Mama dan Papanya sambil menatapku lekat. Agak kutautkan kedua alisku saat melihat ekspresinya. Entah kenapa saat ini dia terlihat sedang kecewa padaku.

Hish, bahkan Disha yang sejak kecil selalu mengikuti, kini sudah berpihak pada perempuan itu. Ainun, Ainun, ternyata kamu benar-benar sangat luar biasa. Aku sungguh takjub dibuatnya. Kamu layak untuk diberikan sebuah penghargaan untuk aktingmu yang sempurna itu.

"Jika dia memang yakin bayinya adalah anakku, harusnya dia tidak keberatan untuk melakukan tes DNA," sanggahku.

"Mas Arkan terlalu kasar pada Mbak Ainun. Kalau Mas minta baik-baik, aku rasa Mbak Ainun tidak akan keberatan. Jangan seperti ini, Mas. Kami semua tahu Mas terpaksa menikah dengan Mbak Ainun, tapi sekarang dia sudah menjadi istri Mas Arkan. Dia berhak diperlakukan dengan lebih baik," ujar Disha lagi.

Aku menatap Disha dengan sorot mata tak percaya. Begitu jahatkah aku di mata gadis itu sekarang? Padahal dulu dia selalu menggodaku dengan mengatakan hanya akan menikah jika telah bertemu dengan lelaki seperti aku. Kemana semua pujian itu sekarang? Tampaknya setiap hal baik tentangku menguap begitu saja sejak Ainun masuk ke dalam keluarga kami.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum sinis. Bahkan Reina dulu harus berusaha setengah mati agar terlihat baik di hadapan seluruh keluargaku untuk mendapatkan restu. Perempuan yang telah mengisi hatiku lebih dari tiga tahun lamanya itu telah melakukan banyak hal hingga akhirnya kami bisa bertunangan. Dia juga telah berkorban banyak untuk tetap berdiri di sisiku. Tapi kemudian semuanya sia-sia saja saat Ainun datang menghancurkan segalanya.

Entah bagaimana caranya, Ainun bisa membuat seluruh keluarga besarku menerimanya. Aku didesak untuk segera menikahi Ainun yang katanya hamil karena perbuatan ku, dan harus meninggalkan Reina, perempuan yang teramat sangat aku cintai.

Ah, sangat tak adil rasanya. Aku dianggap jahat oleh keluargaku sendiri. Dan Ainun yang sudah membuat hidupku menderita dianggap sebagai istri yang teraniaya.

Tiba-tiba pintu kamar Ainun kembali terbuka. Perempuan itu keluar dengan menggendong bayinya sembari menyeret sebuah koper.

Mataku kembali melihat kearahnya, begitu pula dengan semua orang yang ada di ruang keluarga saat ini.

"Pak Arkan, tidak perlu melakukan tes DNA, karena apapun hasilnya tidak akan mengubah pandangan Anda tentang saya," ujar Ainun dengan nada datar. Bicaranya berubah menjadi formal seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

"Maaf, kalau selama ini saya sudah banyak menyusahkan Anda. Saya akan membawa anak saya pergi dari rumah ini. Mulai sekarang saya tidak akan muncul di hadapan Anda lagi. Terima kasih untuk kebaikan Anda sekeluarga selama ini." Ainun menyeret kopernya dan berlalu menuju pintu utama.

Seluruh orang yang ada di sana terperangah dengan apa yang dilakukan Ainun. Kemudian tatapan mereka beralih padaku, seakan mengatakan jika apa yang dilakukan Ainun sekarang adalah kesalahanku.

Bagus. Bagus sekali, Ainun. Drama yang sangat menakjubkan sekali lagi dimainkannya di hadapan seluruh keluarga besarku. Benar-benar licik!

Bab 3

"Ainun!" Mama tergopoh-gopoh menyusul perempuan itu dan segera menahan lengannya. Ainun berhenti tanpa menoleh kearah Mama.

"Mau pergi kemana kamu malam-malam begini?" tanya Mama dengan wajah cemas.

Ainun bergeming.

"Saya tidak tahu mesti pergi kemana, tapi yang jelas saya tidak bisa berada di sini lagi. Tolong biarkan saya pergi, Ma," jawabnya kemudian dengan nada memelas.

Dadaku mulai bergemuruh. Perempuan itu mulai mengeluarkan jurus andalannya, terlihat sebagai istri teraniaya yang menyedihkan.

"Tidak, Ainun. Jangan begini. Mama tahu kalau Arkan sudah keterlaluan, tapi tolong pikirkan Farhan. Bagaimana nanti nasibnya kalau kamu membawanya pergi? Kalian mau tinggal di mana?" Mama berusaha membujuk perempuan itu.

"Arkan, jangan diam saja. Bujuk dan tenangkan istrimu." Kali ini Papa yang bersuara, memintaku untuk menahan Ainun agar tidak pergi.

Aku menghembuskan nafas kasar. Memang ini tujuannya, kan? Pura-pura mau pergi agar terlihat seperti orang yang tertindas dan membuatku semakin terpojok oleh keluarga besarku sendiri. Dengan begitu, semua orang pasti akan memintaku untuk membujuk dan meminta maaf padanya.

Heh, Ainun. Aku sudah hafal dengan permainanmu. Tapi maaf, kali ini aku tidak tertarik untuk ikut bermain bersamamu seperti sebelum-sebelumnya.

"Kalau memang mau pergi, pergi saja. Itu lebih baik," ujarku sembari menatap Ainun.

"Arkan?" Papa terlihat marah, begitu pula dengan yang lain.

"Kenapa? Dia sendiri yang mau pergi, bukan aku yang minta. Aku cuma ingin melakukan tes DNA dan dia malah mau pergi. Apa sampai di sini kalian semua masih tidak paham apa artinya itu? Dia ingin menghindar! Dia takut semua orang tahu kebusukannya selama ini. Tapi aku tidak sejahat itu untuk menyeretnya ke penjara karena telah menipu kita semua. Jika dia memang memilih untuk pergi, ya pergi saja sana. Tapi ingat, jangan pernah sekalipun muncul lagi di hadapanku!" kemarahanku juga ikut terpancing. Cukup sudah selama ini aku yang selalu disalahkan Mama dan Papa karena perempuan licik itu. Kali ini semua tidak akan berjalan seperti yang dia inginkan.

"Arkan, bicara apa kamu? Ainun ini istrimu. Kenapa kamu selalu memperlakukan dia seperti musuh?" tanya Mama padaku sambil masih menahan lengan Ainun.

"Sudahlah, Ma. Tidak perlu seperti ini. Saya sangat berterima kasih Mama dan Papa selama ini sangat baik pada saya, tapi saya tidak bisa terus berada di sini. Akan jauh lebih baik jika saya pergi." Ainun menoleh kearah Mama sambil tersenyum tipis.

Oke, aku ingin lihat drama apa yang kali ini yang akan dia mainkan di hadapan Mama.

"Saya dan Pak Arkan tidak cocok satu sama lain. Kalau dipaksakan terus bersama, itu justru akan buruk untuk tumbuh kembang Farhan. Saya tahu Pak Arkan juga tersiksa dengan pernikahan ini, jadi mungkin lebih baik kita hidup masing-masing saja," kali ini Ainun menyebutku dengan sapaan formal saat berbicara pada Mama. Tidak seperti biasanya.

"Apa maksud kamu, Ainun?" tanya Mama dengan suara bergetar.

"Saya akan pergi selamanya dari kehidupan Pak Arkan, Ma. Saya rasa lebih baik kami akhiri saja pernikahan tidak sehat ini."

Aku sedikit menautkan kedua alisku mendengar penuturan Ainun barusan. Jadi sekarang dia juga berpura-pura mau berpisah dariku?

"Ainun?" Mama menatap perempuan itu dengan airmata yang mulai menggenang di sudut matanya.

"Mbak Ainun …." Disha yang sedari tadi mematung langsung berhambur kearah Ainun. Heran sekali aku dibuatnya. Bagaimana bisa orang-orang terdekatku bisa lebih memihak pada perempuan licik itu?

"Mbak, jangan pergi. Pikirkan dulu semuanya baik-baik, Mbak," ujar Disha ikut membujuk Ainun.

"Jangan membuat keputusan saat sedang emosi, Ainun. Papa tahu kamu marah pada Arkan. Tapi lebih baik semua ini dibicarakan lagi setelah pikiranmu lebih tenang." Papa juga berusaha untuk menenangkan Ainun.

Ah, ingin sekali aku tertawa dibuatnya. Sebenarnya siapa di sini yang anak kandung Mama dan Papa, aku atau Ainun? Mereka seakan tak rela sekali jika Ainun tersakiti sedikit saja, tanpa peduli luka yang kurasakan karena perempuan itu. Entah sihir apa yang sudah Ainun gunakan sehingga kedua orangtuaku sampai menjadi seperti itu.

"Saya tidak sedang membuat keputusan karena emosi, Pa. Saya sudah memikirkannya sejak lama. Saya sudah membuat keputusan ini jauh-jauh hari. Kalau Pak Arkan bisa menerima Farhan, saya akan bertahan demi masa depan Farhan. Tapi seperti yang Papa lihat, Pak Arkan tidak bisa menerima Farhan. Saya tidak ingin Farhan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri karena merasa kehadirannya tidak diharapkan. Saya harus pergi demi Farhan."

"Tidak, Ainun. Mama mohon bersabarlah sedikit lagi. Turuti saja apa maunya Arkan. Mama yakin lambat laun Arkan pasti akan menyayangi Farhan." Mama membujuk Ainun lagi dengan agak terisak.

Ainun menjawab dengan gelengan pelan. Bibirnya menyungging senyuman meski matanya berkaca-kaca. Benar-benar akting yang paripurna.

"Perpisahan adalah jalan terbaik, Ma. Demi kebahagiaan Pak Arkan, saya dan juga Farhan. Maaf jika selama hidup sebagai menantu Mama dan Papa, saya banyak kekurangan. Saya pamit." Ainun kembali melanjutkan langkahnya. Tapi tak lama kemudian, ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.

"Pak Arkan, saya minta tolong agar Pak Arkan bersedia mengurus perceraian kita. Pak Arkan seorang pengacara, jadi lebih paham bagaimana caranya supaya urusan kita cepat selesai," pinta Ainun padaku.

Aku menatapnya tajam. Apa maksudnya dengan mengingatkan jika aku ini seorang pengacara? Apa dia ingin menghinaku, pengacara yang paham hukum dan berhasil memenangkan banyak kasus, tapi kalah pada permainannya?

Angkuh sekali dia!

"Saya minta maaf jika selama ini banyak kesalahan. Saya pergi, selamat tinggal …," ujar Ainun sambil menatapku selama beberapa saat. Entah apa arti dari tatapannya itu. Yang jelas sorot matanya membuatku tak suka karena ada sesuatu yang tiba-tiba terasa tak nyaman di dalam sana.

Beberapa detik kemudian, seulas senyuman hadir di wajah Ainun. Dia tersenyum padaku sebelum akhirnya berbalik dan meneruskan langkahnya keluar dari rumah.

Aku membeku dengan perasaan yang sulit dijabarkan.

Pergilah, Ainun. Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Pergilah sampai aku tak ingat jika kau pernah ada di dunia ini. Pergi dan jangan kembali!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED