Bab 2

Ia mandi dengan shower air hangat sekalian wudhu kemudian sholat isya di kamar tidurnya. Alhamdulillah, setelah sholat isya.. hatinya juga pikirannya merasa tenang dan nyaman.

"Yaa ALLOH ... Aku tidak pernah bisa membohongi diriku sendiri. Jika dihadapkan pada 2 pilihan... Ingin mempertahankan atau memutuskan hubunganku dengan Adit. Selama ini aku berusaha keras kutulikan telingaku dari semua berita buruk tentang sepak terjangnya Adit dan aku juga membutakan mataku dari semua kenyataan buruk yang ada selama ini. Aku mencoba mempertahankan hubunganku dengan Adit dengan harapan Adit bisa berubah dengan baik tapi Adit sengaja makin bersikap buruk dengan mengumbar nafsu birahinya dengan banyak perempuan penghibur. Entah kenapa... Hilang rasa respekku pada Adit ??"

Gumannya lirih sembari menatap foto Adit, pacarnya yang jauh di Indonesia.

👠

POV Adit

"Adit telpon siapa ?"

Tatapan Dea kumalasari gadis bertubuh sintal, diam-diam mendekati Adit dari belakang dan mendengar pembicaraan Adit kekasihnya.

#Adiba jangan bebal seperti binatang ! tolong dengarkan aku bicara#

#Aku sudah mendengarkan bicaramu dari tadi, Adit. Aku rasa kita tidak bisa meneruskan hubungan. Lebih baik putus.#

#Aku cinta kamu, Adiba. Aku ini pacarmu, apa otakmu waras ? percayalah padaku kalau aku setia.#

#kalau kamu cinta aku pasti kamu tidak selingkuh, dit. Sudahlah Adit, aku tidak mau kita ribut#

*Klik*

Hubungan telepon diputuskan. Adit mengira dengan pura-pura marah membentak Adiba kekasihnya dengan kata-kata kasar pasti kekasihnya yang jauh di Russia itu ketakutan, tunduk dan percaya dengan adit. Kalau pun Adiba punya alasan bukti kuat perselingkuhan Adit dengan perempuan lain, pasti Adit beralasan khilaf dan merayu agar memberinya kesempatan menjadi baik. Cara jitu itu yang adit pakai dan berhasil menundukkan kekasihnya. Itu yang selalu tertancap kuat di benak Adit. Tapi ia salah, nyatanya kali ini Adiba melawan dan tidak semudah itu memaafkan dengan memberi kesempatan apalagi melupakan perselingkuhannya. Adiba yang merasa dikhianati, sekarang berani bersikukuh menyatakan hubungan mereka putus dan yang lebih mencengangkan bagi adit itu...kekasihnya berani memutuskan hubungan telepon seluler padahal dia belum selesai bicara.

"Kurang ajarnya Adiba berani menutup telpon padahal aku belum selesai bicara."

Omel Adit sembari menatap foto Adiba di galeri ponselnya. Badan Dea tampak bergetar hebat, matanya panas menatap foto adiba yang tanpa sengaja dia lihat di ponsel Adit kekasihnya.

("Selama ini Adit membohongiku ternyata dia punya pacar lain bernama Adiba.")

Dea kumalasari mengelus dada berusaha menahan cemburunya.

"Adit, aku mencarimu."

Adit terkejut mendengar suara Dea, langsung memasukkan ponselnya ke saku celana jeans-nya dan berbalik memeluk Dea.

"Aku baru datang. Kamu sudah selesai kerja ? Yuk kita pulang, Dea !"

"Tamuku sudah pulang. Kita pulang sekarang, dit !"

Dea memeluk mesra pinggang Adit kekasihnya tapi pikirannya tidak tenang, siapa Adiba sebenarnya ? Itu yang sekarang berkecamuk di pikiran Dea kumalasari seorang perempuan panggilan yang berpacaran dengan Adit. Semua sudah tahu Dea yang menanggung kebutuhan hidup Adit, rumah dan mobil pun milik Dea. Laki piaraannya Dea melingkarkan tangannya ke pinggul dea dari belakang punggung gadis itu dan berbisik...

"Kamu sexy, Dea !"

"Jangan merayu, dit !"

sahut Dea ketawa cekikikan menanggapi rayuan gombal laki piaraannya, padahal hatinya terbakar cemburu.

"Aku tidak merayumu, Dea !"

Adit mulai mencium Dea, nafsu birahi adit mulai timbul.

"Bagus Adit, ciumlah Dea ! Aku kirimkan video ini ke Adiba pacarmu di Russia !"

Desis Elvy seorang perempuan berpenampilan seronok, yang berdiri di kegelapan malam. Elvy ini juga pacarnya Adit tapi Dea tidak tahu jika Adit juga punya pacar lain selain dirinya dan Adiba. Elvy memperhatikan Adit yang berciuman sambil masuk ke dalam mobil yang kemudian meluncur ke jalan raya. Seperti biasanya, Adit dan Dea menghabiskan malam di rumah kontrakan Dea.

"Adit, ada vodka di kulkas !"

"Ya, kita minum di kamar."

Adit mengambil Vodka di kulkas, sebelum ia masuk ke kamar bersama Dea. Memang ia sudah merencanakan mau memeriksa ponsel Adit tanpa sepengetahuan laki itu, cara satu-satunya Dea harus bisa membuat Adit mabuk. Mereka berdua duduk di lantai kamar dan mulai minum. tegukan demi tegukan vodka itu tandas oleh Adit yang lama kelamaan membuat kepalanya pening karena kadar alkohol yang berakumulasi semakin tinggi dalam aliran darahnya namun sebagai pemabuk, Adit masih bertahan.

"Adit, mana ponselmu ?"

tanya dea mencoba menguji apakah pacarnya itu masih sadar sembari melirik ponsel Adit yang tersembul dari saku celana jeans-nya.

"Jangan banyak tanya, Adiba."

racau Adit. Sontak Dea menyipitkan matanya, melihat Adit yang duduk bersandar di dinding,

"Adiba ? Dia memanggilku Adiba ?"

Desis Dea yang makin penasaran. Sepertinya otak Adit terkontaminasi dengan bayangan pacarnya yang jauh di Russia. Pelan-pelan, Dea mengambil ponsel dari saku celana pacarnya.

"Apa password ponselmu, dit ?"

Adit masih diam, kelopak mata berat setengah terpejam.

"Aku Adiba, dit !"

Dea sengaja berbohong mengaku sebagai Adiba agar Adit bersedia memberi tahu password ponselnya.

"Sini Adiba sayang ! Aku beritahu password ponselku kalau kamu mau cium aku !"

Dea langsung melumat bibir Adit.

"Apa password ponselmu, dit ?"

Bisik Dea lembut menggoda.

"Adiba cantik."

Jawab Adit sambil meremas lengan Anya.

("Binatang !! Aku yang belikan ponsel tapi dia malah pakai nama perempuan lain jadi password. Adit anjing.)

Maki Dea, ia mulai membuka ponsel pacarnya dengan password yang tadi disebutkan. Saat itu juga, Dea membaca semua chatting Adit dengan Adiba dan beberapa perempuan lainnya. Matanya nanar melihat banyak foto perempuan di ponsel pacarnya yang saat melihat ini sedang mabuk berat.

"Adit pacaran dengan Adiba gadis Pakistan yang tinggal di Russia. Lihat saja !"

Geram Dea yang merencanakan sesuatu karena cemburu. Gadis panggilan itu mulai membuka ponselnya sendiri.

Aku Adiba, Adit !"

Kata Dea lirih dengan tatapan jahat memandangi adit yang mabuk berat akibat pengaruh Vodka yang banyak di teguknya.

Tanpa membuang waktu, Dea menanggalkan bajunya dan baju Adit sampai mereka berdua telanjang bulat. Malam ini, Dea yang mengawali dengan mencium pipi Adit dan berbisik..

"Adit, aku Adiba !"

Adit yang sudah benar-benar mabuk, tidak sadar jika Dea berbohong dengan mengaku sebagai Adiba.

"Sini Adiba keparat ! Kamu sok alim, sok jual mahal ! Selalu menolak phone sex. Marah kalau aku ajak kamu sex video call. Sekarang kamu mau senggama. Sok alim, sini kamu !"

Kicau Adit yang mabuk dan masih mengira Dea itu Adiba. Tubuh Dea menggelinjang saat tangan Adit

Bab 3

tangan Adit meremas pantatnya, lidahnya menelusuri seluruh tubuh Dea

"Adit...enak, dit !"

Tubuh Dea makin menggelinjang dan Adit makin bernafsu menikmati seluruh tubuh Dea.

"Adibaa...aku cinta kamu..."

ujar laki pemabuk itu, hatinya bahagia karena benar-benar mengira Adiba yang saat ini bercinta dengannya, ia benar-benar tidak sadar kalau bukan adiba partner sex-nya, tapi Dea.

"Benar-benar laki binatang, dia bercinta denganku tapi mulutnya memanggil- manggil nama Adiba terus !"

maki dea tetapi tak lama setelahnya ia pun tersenyum licik sembari melihat ke ponselnya yang merekam adegan sex mereka.

"Ayo lebih hot, Adit !"

Bisik Dea yang membuat Adit bertambah menghunjam dalam-dalam miliknya membuat Dea tidak bisa menahan mendesah dalam kenikmatan bersama Adit.

"Oohhh aditttt.."

lenguhnya dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya bersamaan dengan Adit yang menggoyangkan pantatnya maju-mundur. Bertambah cepat goyangan mereka.

👠

POV adiba

Alarm hp berbunyi pas jam 4 subuh waktunya sholat subuh. Russia benar-benar sangat dingin di subuh hari ini membuat malas bangun tapi Adiba tetap harus mandi dan wudhu. Tidak ada pilihan lain kecuali lompat dari tempat tidur dan ke kamar mandi.

"Alhamdulillah, air hangat yang mengucur dari shower menghilangkan rasa ngantukku juga."

Setelah mandi dan wudhu, gadis Pakistan sholat subuh di kamar tidurnya.

"Ehmmm... Masih jam setengah lima. Lebih baik tidur lagi !"

Gumamnya sembari melirik jam dinding lalu melipat sajadah. Nanti jam 8 pagi, masuk kantor. Artinya masih ada waktu untuk tidur lagi. Maksud hati.. ingin melompat ke atas tempat tidur dan tenggelam dalam hangatnya selimut tebal

tapi...

*Kriinngggg....*

"Private number. Pasti Aisyah ini !"

Ujar Adiba sembari tersenyum saat melihat nomer telpon tidak kelihatan di layar ponselnya, ia mengira Aisyah adiknya yang di Pakistan menelpon dirinya karena Aisyah sering usil mengganggu menelpon dengan merahasiakan nomer telponnya ternyata dugaannya salah, ketika mendengar ...

#Hallo, Adiba. Kamu adiba kan ?#

#ya, saya sendiri.#

#Adiba, bisakah kamu tidak pacaran dengan pacarku ? Dasar perempuan murahan, gayamu sok polos sok alim tapi kelakuanmu murahan. Dasar pelakor. Anjing kamu Adiba. Perempuan murahan tidak punya harga diri daripada kamu pacaran dengan pacarku lebih baik kamu jadi pelacur.#

#Assalam mualaykum. Siapa ini, bisakah bicara yang jelas dengan baik dan sopan ?#

#ANJING KAMU, SOK ALIM ADIBA BANGSAT. APA KAMU SUDAH TIDUR DENGAN PACARKU, ADIBA LONTE ? BICARAMU SOK KALEM TAPI BANGSAT KELAKUANMU PELAKOR, LONTE KAMU ADIBA. PACARKU BAYAR KAMU BERAPA, ADIBA LONTE PELACUR !!#

#Bismillah hirohman nirohim, saya tidak serendah itu. Tolong jangan bicara sekasar itu ! Maaf kalau saya boleh tahu siapa nama pacarnya ? Siapa namamu ?#

#ADIT .. ADIT PACARKU, ADIBA LONTE .. !! TANYA ADIT SIAPA NAMAKU .. !! BANGSAT JAUHI ADIT PACARKU, ADIBA PELACUR !! ANJING BANGSAT LONTE.#

*KLIKK..*

Hubungan telepon seluler dimatikan. Sia-sia saja.. meskipun tadi mulutnya menjawab dengan nada rendah dan kata-kata sopan tetap saja.. makin histeris emosi dan makin keras suara perempuan yang tidak dikenalnya.

"Masya Alloh, rasanya mau meledak juga kepalaku ini, jika mengingat kasarnya bicara perempuan tadi yang meneleponku !"

Desisnya sembari memejamkan kedua matanya.

("Astaghfirullah al adziimmm ... Yaa Alloh, ingin rasanya kuhancurkan semua barang di kamar ini tapi percuma .. kemarahan tidak akan pernah bisa selesaikan masalah !")

Gumamnya di dalam hati, sembari membuka jendela kamar dan bersandar di tepi jendela. Tidak lagi dipedulikan udara dingin menerobos masuk ke kamar. Masih terngiang-ngiang dengan jelas makian perempuan Indonesia itu yang menelponnya.

("Yaa Alloh, sesak dada ini.. ingin rasanya menangis tapi air mataku sulit menetes !")

Desisnya lirih di dalam hati.

(" Astaghfirullah al adzim yaa Alloh..kapan adit bisa berubah menjadi lebih baik ?")

Memang semua perempuan selingkuhannya Adit suka menelpon dan memaki dirinya di telepon,

ingin rasanya dia menelpon Adit dan menanyakan semua ini tapi percuma.. pasti adit tetap dengan kebiasaannya berkelit dan memutar balikkan semua pembicaraan meski tampak Jelas kebohongannya.

"Yaa Alloh... Malas rasanya masuk kerja hari ini tapi ada janji dengan klien, tidak mungkin mendadak kubatalkan secara sepihak pertemuan dengan klien tanpa alasan jelas."

Adiba menoleh melihat jam dinding, tak terasa sudah jam setengah tujuh pagi, waktu cepat berlalu namun aktifitas harus tetap berjalan meski otaknya sedikit terkontaminasi dengan makian perempuan tak jelas di telpon tadi.

"Yaa Alloh..alangkah baiknya kalau aku lebih memfokuskan diri ke pekerjaan !"

Desahnya lirih dengan nada sedih. Cepat-cepat Adiba ganti baju, memakai jaket dan menyambar tas ransel di atas meja. Ia melangkah keluar rumah.

"GOOD MORNING, KHIMKI !"

Teriaknya sekeras mungkin setelah mengunci pintu rumahnya. Beberapa orang yang berlalu lalang menoleh pada gadis Pakistan itu,

"RUSSIA IS THE BEST !"

Teriak seorang ibu muda yang mendorong kereta bayi, sambil melambaikan tangan dan melambaikan tangannya. Ia tertawa lepas, melambaikan tangan membalas lambaian tangan sekelompok anak muda.

👠

Dengan hanya berjalan selama 15 menit menuju rumah Rowena sahabatnya yang juga merangkap atasannya. Tak terasa, adiba sudah berada di depan rumah tanpa pagar dengan rumput hijau rapi yang tertata di halaman depan. Adiba dan Rowena memang bertetangga dan tak jarang, mereka berdua sering pergi bersama ke kantor.

"Assalam mualaykum, Rowena. It's me.. Adiba !"

"WA ALAYKUM SALAM, ADIBA MASUKLAH ! PINTU TIDAK DI KUNCI !"

Teriak Rowena dari dalam rumahnya. Adiba membuka pintu depan yang disambut aroma lezat masakan.

"Adiba, ayo sarapan bersama ! sudah kusiapkan es kopi krimer kesukaanmu di atas meja makan."

Adiba mengangguk dan duduk di hadapan Morgan laki Rusia yang tersenyum ramah.

"Rowena istriku, tidak cuma cantik tapi jago masak sambil teriak-teriak dari dapur. Mari kita sarapan bersama, Adiba ".

Adiba tersenyum mendengar seloroh Morgan, tak lama kemudian Rowena menarik kursi, duduk di sebelah morgan suaminya.

"I love you, Morgan."

Rowena mencium pipi suaminya. Adiba hanya diam kemudian minum es kopi krimer kesukaannya.

"Rowena sayang, tak biasanya Adiba sahabatmu diam menunduk. sepertinya dia sedang ada masalah. Ok, aku harus berangkat kerja dulu."yang

Morgan berdiri dari kursinya dan mencium kening Rowena ..

"I love you2, Rowena my wife. Jangan antar aku ke depan, temanilah Adiba sahabatmu ".

"I love you too, Morgan."

Morgan berjalan keluar membuka pintu ruang tamu....

"Rowena sayang, nanti waktunya kita makan malam, ajaklah Adiba sahabatmu. Ok, assalam mualaykum ".

Adiba dan Rowena bersamaan membalas salam....

"Waalaykum salam, Morgan."

Rowena menyodorkan sepiring garlic bread ...

"Makanlah, Adiba. Ini garlic bread khimki kesukaanmu.":

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED