Satu tamparan mendarat sempurna di wajah mulus Anna, kepalanya pusing dan sudut bibirnya sudah robek karena tamparan yang sangat kuat.
“Kau berani main-main denganku?” desisnya menarik rambut Anna sampai dia mendongak dan merasakan rambutnya akan terlepas.
“Katakan pada kakakmu, bayar hutangnya atau kau ikut bersama kami.” Pria berotot itu menghempaskan tangannya yang menarik rambut Anna dan mereka semua keluar dari kedai. Meninggalkan Anna yang menangis dalam hati menyaksikan kekacauan yang mereka tinggalkan.
“Anna … “ Lyora mendekat dan memeluk sahabatnya.”
“Kau mengenal mereka?”Anna menggeleng dan terlihat sangat kacau. Dia tidak tahu siapa mereka dan ada apa sebenarnya, kenapa Arche meninggalkan banyak kekacauan. Kakaknya adalah pria yang baik.
Anna tersenyum lembut dan menepuk lengan Lyora mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tetapi dia masih tidak percaya bahwa kakaknya melakukan ini di belakangnya, hutang apa yang mereka maksud, dan untuk apa. Kepala Anna semakin pusing memikirkannya.
Sesampainya di rumah, Anna menghempaskan diri di sofa ruang keluarga, menyandarkan punggungnya dan mendongak dengan mata tertutup. Tetapi baru saja dia ingin tenggelam dalam tidurnya, terdengar pintunya diketuk dari luar.
Dia menoleh kearah pintu. Memang masih siang karena dia menutup kedai lebih cepat dari biasanya. Dia bangkit dari sofa dan melangkah ke depan pintu, baru saja dia membuka pintu Anna sudah dikejutkan dengan empat pria berbaju hitam disana.
“Ka-kalian siapa?” tanyanya terbata karena salah seorang dari mereka terlihat sangat menyeramkan.
“Ikut kami.” Yang paling berbadan besar dan menyeramkan menyeret paksa Anna sampai wanita itu hampir terjatuh. Sekuat tenaga dia memberontak melepaskan diri tetapi salah satu di antara mereka menutup mulutnya dengan sebuah sapu tangan yang diambil dari kantong celananya. Anna tidak sadarkan diri.
“Kau membiusnya?” salah seorang diantara mereka melotot tidak percaya.
“Dia memberontak itu tidak aman untuk kita, boss hanya mengatakan jangan membunuh.” Ketiganya diam kemudian membawa Anna masuk kedalam mobil mereka.
Satu setengah jam kemudian mobil hitam yang membawa Anna sudah tiba di halaman luas sebuah mansion bertingkat tiga. Dari luar tampak sangat mewah dan menangkan, tetapi siapa sangka didalamnya didominasi dengan warna dark.
Anna sudah ditempatkan di sebuah kamar di lantai bawah, kamar paling ujung di sebelah kanan dekat dengan taman belakang mansion. setelah memastikan tawanan mereka aman, keempatnya menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Tujuan mereka saat ini adalah ruang kerja boss mereka di lantai dua. Tidak menunggu lama ke empatnya sudah masuk dan melaporkan bahwa mereka sudah melaksanakan tugas dengan baik.
“Bagaimana tugas kalian?”
“Adiknya sudah kami bawa boss, berada di kamar bawah.” Terang salah satu di antara mereka. Kali ini mereka akan aman.
“Bagus. Setelah ini paksa dia mengaku dimana dia menyimpan hartanya untuk membayar hutang kakaknya atau beri dia pilihan kedua.” Keempatnya mengangguk.
Baru saja ke empatnya akan bersenang-senang karena mendapatkan bonus dari hasil kerja mereka keributan kembali terjadi saat mendengar bahwa tawanan mereka mencoba unttuk melarikan diri. Anna mencoba memecahkan jendela dan mencoba untuk keluar walaupun itu tidak mungkin.
“Lepaskan aku, kalian jangan coba-coba mendekat atau aku akan membunuh kalian!” teriaknya pada beberapa orang yang mencoba menangkapnya kembali. Tubuhnya bergetar karena tidak pernah membayangkan hal buruk ini akan terjadi setelah kepergian kakaknya Arche.
“Tangkap dia atau boss akan membunuh kita!” teriak salah seorang dari mereka.
“Jangan mendekat!” Anna melempar apa saja yang berada di dekatnya. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan karena mereka semakin banyak dan semuanya adalah pria.
“Lepaskan, lepaskan aku brengsek!” dia terus berteriak saat dua orang sudah menahan tubuhnya dan mencoba membawanya kembali ke kamarnya.
Karena kekuatannya yang tidak seberapa, Anna berhasil dibawa kembali ke kamar yang sebelumnya dia hancurkan.
Melihat bagaimana tawanan mereka terus memberontak terpaksa mereka mengikatnya di sebuah kursi dan menyuruh pelayan untuk membersihkan kembali kekacauan yang diakibatkan olehnya. Mereka masih berdiri di sisi pintu memperhatikan bagaimana Anna terus bergerak melepaskan diri.
“Katakan kenapa kalian menangkapku, aku tidak mengenal kalian!” teriaknya frustasi
“Diamlah nona, jangan terlalu berteriak kau membuat telinga kami sakit.”
“Lepaskan aku, katakan apa salahku brengsek!”
Amarahnya sudah sampai ubun-ubun dia sangat marah karena tidak tahu apa kesalahannya, tiba-tiba sudah berada di tempat ini, dia mengingat tadi pagi kejadian di toko, apakah mereka orang yang sama. Oh ya ampun apakah ini karena hutang kak Arche.
“Apakah ini karena kakakku Arche?” tanyanya pelan, dia masih tidak yakin bahwa kakaknya melakukan pinjaman kepada pria menyeramkan seperti mereka.
“Akhirnya kau menyadarinya, kakakmu meminjam uang untuk berjudi, dan tidak mau membayarnya, lalu bagaimana uang kami bisa kembali setelah kematiannya?” jawab salah seorang yang masih disana.
“Berjudi?” ucapnya tidak percaya dengan menggelengkan kepala kuat.
“Tidak-tidak kalian salah, kakakku tidak mungkin melakukan perjudian, kalian pasti salah mengenali orang.”
“Diamlah, sekarang katakan dimana kamu menyimpan uangmu, karena kami tidak ingin membuat kekacauan tidak berarti di rumahmu.” Ucapnya malas. Boss mereka memang terkadang sangat berbeda. Bahkan jika mereka menghamburkan seluruh isi rumah sudah wajar.
“Apa maksud kalian?” Anna masih mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
“Dengar, kakakmu memiliki hutang yang sangat besar dan aku yakin kau tidak akan bisa melunasinya, walaupun kedai itu kau jual jadi ….”
“Apa … katakan, aku akan membayar semua hutang kakakku, lepaskan aku, aku akan mencari uang nya.” Anna mengiba dia harus keluar dari tempat menyeramkan ini, dia tidak tahu apa yang terjadi padanya jika tidak bisa lolos, bisa saja dia akan mati seperti kakaknya.
Mengingat kematian kakaknya, Anna menatap mereka satu persatu, pakaian mereka dan bentuk tubuh mereka, apakah mereka adalah orang yang sama yang membunuh kakaknya?
“Apakah kalian yang membunuh kakakku?” tebak Anna membuat mereka saling pandang tidak menyangka bahwa apa yang mereka lakukan akan terlihat.
“Katakan! Apakah kalian yang membunuh kakakku?” pekiknya dengan kemarahan yang di ubun-ubun.
Anna terus memberontak membuat kursi yang didudukinya terus saja bergeser akibat gerakannya.
“Diam! atau aku akan membunuhmu!” teriak salah seorang yang memang paling tidak bisa menjaga emosinya. Mendengar itu Anna diam, dan menatap musuh orang yang membentaknya.
“Katakan dimana bos kalian, suru dia keluar jangan hanya bersembunyi setelah membunuh kakakku.” Desisnya.
Anna terus berteriak dan memberontak, dendamnya semakin besar setelah mengetahui bahwa dia sudah bertemu dengan pembunuh kakaknya.
“Aku akan membunuh kalian semua!” pekiknya tidak peduli bahwa lengannya sudah berdarah karena memaksa untuk melepaskan diri. Tidak ada rasa sakit karena tujuannya sudah semakin dekat, membunuh mereka semua.
Derap langkah sepatu menggema mengarah ke ruangan dimana Anna dikurung, sebenarnya ruangan yang Anna tempati masih dikatakan layak, mereka menculik hanya untuk mengancam tidak tahunya Anna mengetahui fakta lain bahwa mereka terlihat saat membunuh kakaknya.
“Lepaskan aku, aku akan membunuh kalian semua!”
“Dasar pembunuh!”
“Lepaskan aku brengsek!”
Anna terus berteriak, mengamuk dan mencoba melepaskan diri, tidak peduli lagi dengan kondisi tangannya yang sudah lecet. Tidak ada yang mendekat mencegah karena mereka tidak ada yang boleh menyentuh tawanan wanita sesuka mereka.
“Lepaskan!” teriaknya menghadap ke arah pintu, dimana seorang pria yang baru saja datang melihatnya langsung mematung dan melotot karena melihat siapa yang anak buahnya bawa.
"An- Anna.” Cicitnya melihat wanita yang berada di depanya dalam kondisi berantakan.
“Ka-kau … ” Anna juga terkejut karena melihat siapa yang berada disana, tepat di depan matanya.
“Lepaskan dia!” perintah Alexander pada keempat anak buahnya yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. Mereka cukup terkejut karena tidak tahu bos mereka mengenali tawanan mereka.
Alexander meminta keempat suruhannya untuk keluar dan membiarkannya sendiri, Xander melangkah, menutup pintu dan dan melihat jendela yang sudah rusak. Anna yang melihat pria di depannya hanya menatap dengan tatapan tidak percaya, kepalanya terlalu pusing memikirkan semuanya.
“Anna … ” Ucapnya semakin melangkah maju tetapi Anna mundur dengan tubuh bergetar.
“Bagaimana kabarmu, kau masih mengingatku, kita berjanji akan bertemu lagi kan?” Alexander menatap ke wajah takut Anna, dia merindukan wanita di depannya, dia mencarinya kemana-mana tidak tahunya mereka sangat dekat, di kota yang sama dan sekarang sudah berhadapan.
“Kau tidak merindu--,”
“Kau yang membunuh kakakku?” tanyanya dengan nada dingin menatap tajam pada Alexander.
“Tenang dulu oke! Aku bisa menjelaskannya.”
“Kau pembunuh! Kau membunuh kakakku!” teriaknya melempar vas bunga yang berada di dekatnya.
Jika saja Alexander tidak menghindar vas bunga yang Anna lempar sudah melukai wajah tampannya. Pria itu semakin maju membuat Anna semakin mundur dan terpojok di dinding.
“Berhenti kataku, kau pembunuh!” pekiknya sedetik kemudian tubuhnya luruh ke bawah. Anna pingsan.
Di tempat yang berbeda, Pria yang tidak kalah tampannya juga tengah berdiri di depan kedai milik Anna yang tertutup. Sudah sejak siang dia disana tetapi pemiliknya tidak juga terlihat.
Karena terlalu lelah menunggu akhirnya dia membawa mobilnya ke arah rumah Anna, mungkin saja wanita itu sakit atau tengah melakukan sesuatu di rumahnya sehingga tidak membuka kedai. Pikirnya.
Dia sudah berada didepan rumah Anna tetapi tidak menemukan siapa-siapa juga, melihat pintu yang sedikit terbuka membuatnya penasaran untuk masuk, bisa saja di dalam Anna tengah sakit. Pikirnya lagi.
“Anna … Kau di dalam?” teriaknya
“Maaf karena aku lancang masuk ke rumahmu, kau didalam?” masih berteriak agar Anna keluar melihatnya, posisinya saat ini sudah di dalam tetapi hanya di depan pintu saja.
Tidak lama ponselnya berdering, dia merogoh kantong dan mengambil ponselnya, saat melihat nama kontak di layar ponselnya dia tersenyum kemudian keluar dari rumah Anna dengan ponsel masih berada di telinganya.
“Baiklah tunggu aku, 15 menit aku sampai.” Menutup ponselnya dan kembali menyimpannya di kantong, pria itu melangkah lebar ke arah mobilnya melajukannya dan meninggalkan kediaman Anna dengan pintu yang masih terbuka.
Orion turun dari mobil dan menghampiri kekasihnya dengan berlari kecil menuju taman belakang dimana mereka sudah membuat janji untuk bertemu. Setelah dia melihat punggung kecil kekasihnya ia lantas memeluknya dari belakang.
“Aku merindukanmu.” Ucapnya lembut dan membalik Lyora.
“Kau merindukanku tetapi lebih dahulu menemui Anna,” ketusnya melepaskan pegangan Orion padanya.
“Oh sayang, bukankah aku harus berpura-pura mengutamakannya lebih dahulu?”
“Yah, tapi kau bisa menemuiku lebih dulu.” Lyora duduk di bangku taman rumahnya, sudah ada dua cangkir teh hangat disana karena memang Lyora tahu Orion kekasihnya menyukai itu.
Orion ikut duduk disamping kekasihnya, mereka memang sepasang kekasih tetapi Lyora sengaja membuat Orion mendekati Anna, karena dia ingin melihat kehancuran Anna saat tahu bahwa Orion adalah kekasihnya.
“Kau tahu, pagi tadi aku sangat puas karena melihat Anna kekasih palsumu itu di tampar oleh pria berbadan besar, aku rasa mereka mencari Arche, tidak tahunya pria yang mereka cari sudah tidak ada.” Lyora tersenyum puas menceritakan bagaimana terpuruknya Anna disaat kepergian kakaknya belum genap dua hari dia sudah mendapatkan tamparan dari orang lain. Sangat malang tetapi Lyora menyukainya.
Sementara itu Orion yang mendengar itu membeku, dia tidak tahu bahwa pria yang selalu mengancamnya untuk meninggalkan Anna sudah tiada, sebenarnya perasaannya terganggu karena mengetahui Anna semenderita itu.
“Sayang, kau melamunkan apa? Jangan katakan sekarang kau benar-benar menyukai Anna?” selidiknya, dia tidak akan memaafkan Anna jika benar itu terjadi.
Orion langsung menetralkan diri mengenyampingkan perasaannya yang tiba-tiba berubah. Dia tidak pernah menyukai Anna, apa yang dia lakukan setahun ini adalah karena permintaan kekasihnya Lyora, entah ada masalah apa sebelumnya. Tetapi, Orion tidak pernah bertanya selama Lyora bahagia maka dia akan melakukannya sukarela. Tetapi hari ini saat dia tahu Anna sangat rapuh hatinya terusik.
“Mana mungkin, kau tahu selama apapun hubungan kami, aku tidak akan pernah menyukainya karena hatiku hanya padamu.” Tegasnya tetapi sekarang dia mulai ragu dengan kata-katanya.
“Aku akan melihat bagaimana hancurnya dia saat dia tahu bahwa pria yang dia banggakan selama ini adalah kekasihku.” Lyora terbahak. Menyaksikan Anna menderita adalah harapannya.
Dua pasang kekasih yang baru saja bertemu itu menghabiskan hari dengan melepas rasa yang sudah tertahan selama beberapa bulan, mereka tidak pernah bertemu karena pekerjaan yang Orion lakukan dan Orion tentu harus membuat Anna percaya bahwa dia kekasih yang baik.
Keesokan harinya, Anna sudah terbangun, mata bulat itu terbuka perlahan, jendela yang tidak tertutup rapat membuat udara pagi bisa masuk membuat Anna bergidik karena kedinginan.
“Kau sudah bangun?” suara berat itu mengagetkannya, Anna yang belum sepenuhnya tersadar ada dimana langsung mendudukkan diri melihat pria tampan di depannya.
Andaikan pria yang dia lihat ini adalah pria 2 tahun lalu yang diam-diam dicintainya sudah pasti Anna akan senang hati menyambutnya, menyalurkan rindu karena sudah lama tidak bertemu, tetapi karena pria di depannya adalah dalang dari pembunuhan kakaknya membuat rasa cintanya hilang karena sangat membencinya.
Anna melihat sekeliling, bukan kamar yang ditempati kemarin, dimana dia sekarang, kaki jenjangnya menuruni ranjang namun dia kembali terkejut saat melihat bahwa dia sudah berganti pakaian. Matanya melotot dan menatap tajam Alexander.
“Apa yang kau lakukan? Kau memanfaatkan kondisiku yang tidak sadarkan diri!?” pekiknya membuat Alexander hanya menghembuskan napas panjang tetapi dia tidak akan menjelaskan sekarang.
Anna melihat pintu terbuka, dengan gerakan cepat dia turun dari ranjang dan berniat akan kabur. Alexander membiarkannya, dia akan melihat sampai dimana wanitanya akan bisa keluar dari mansion mewahnya.
Anna terus saja berlari, menuruni tangga dengan tergesa, anak buah Alexander yang melihat itu jelas ikut panik dan berusaha menahan Anna tetapi saat melihat bos nya seolah mengatakan ‘biarkan’ mereka semua undur diri dan membebaskan Anna berlari.
“Anna tenanglah, kita bisa bicara dengan tenang!” nada suara Alexander yang dingin membuat Anna semakin takut. Sudah tepat dia menghilang waktu itu. Tetapi sialnya sekarang dia berada di tangan pria jahat berwajah tampan itu.
“Lepaskan aku, aku mohon, aku akan membayar hutang kakakku tapi biarkan aku keluar.” Anna mendapatkan jalan buntu. Dia tidak menemukan pintu di rumah besar ini. Tidak ada cara lain selain merendahkan diri.
“Anna tolong tenanglah”