Soni menatap sendu wanita yang sejak tadi dia tunggu. Soni saat ini datang ke kantor Kara menjemput seperti biasanya. Soni tidak peduli jika Kara nantinya akan marah.
"Mbak Kara, aku perlu bicara dengan kamu tentang kita. Aku tahu bahwa kamu berpura-pura berpacaran dengan Revan. Kenapa kamu melakukan itu, Mbak Kara?"
Soni menatap tajam Kara. Pria itu tidak menyangka, jika Kara malah menghindar drastis. Dipikir Soni, dia bisa mendekati Kara perlahan, tapi Kara malah menjauhinya.
Kara ragu-ragu menatap Soni dan menjawab semua ucapan pria itu. Kara harus bisa bermain halus. Soni semakin tegaskan lewat nada keras, malah semakin berontak dan tidak mau tahu.
"Soni, aku ... aku tidak tahu bagaimana dan dari mana harus menjelaskannya. Aku khawatir tentang bagaimana nanti kamu akan meresponnya. Memang ini yang terbaik. Aku menjauh darimu."
Kara mengucapkannya dengan tenang dan santai. Mencoba sebisa mungkin tidak terpengafuh dengan wajah memelas Soni.
"Katakan saja, Mbak Kara. Aku perlu tahu alasannya. Kenapa kamu melakukan ini? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Soni yakin Kara memang ada sesuatu dibalik alasannya. Soni ingin tahu tentang hal itu. Kenapa Kara sulit sekali didekati. Berbeda dengan wanita lain yang memang banyak mengejar Soni.
Kara penuh perasaan menyesal, karena belum dapat mengungkapkan semua alasannya. Kara saat ini memilih diam saja.
"Aku khawatir jika aku jujur tentang semuanya, aku akan menyakiti hatimu dan banyak lagi yang tersakiti. Aku menganggapmu sebagai adik yang sangat baik, dan aku tidak bisa menganggap lebih. Karena hal itu saja, yang perlu kamu tahu."
Kara menatap serius pada Soni. Kara juga mengambil napas dan mengembuskan perlahan. Jika Kara lemah juga, malah akan semakin membuat Soni dapat menindasnya. Kara harus berani mengemukakan pendapatnya.
"Jangan pernah mengancam keluarga Revan! Ya, aku akui kalau aku meminta Revan berpura-pura menjadi pacarku. Apapun itu alasannya, kita nggak bisa bersatu. Yang jelas, lebih baik aku menikah dengan Revan, daripada menikah denganmu."
Soni sangat bingung dengan sikap Kara yang tetap kekeh itu. Walaupun jelas sangat sakit mendengar pengakuan itu. Seburuk itukah dia di mata Kara, atau sebenarnya ada apa? Kara terlalu memendam semuanya sendiri.
"Tapi, kamu harus tahu, betapa aku mencintaimu, kenapa kamu tidak memberi aku kesempatan? Apakah ada sesuatu yang salah dengan aku? Apa aku harus berlutut untuk mendapatkan hatimu?"
Kali ini Soni yang mengiba. Dia juga tahu, jika Kara orang yang cukup keras sama dengan dirinya. Bila tidak ada yang mengalah, maka Kara akan terus seperti itu.
Kara menangis sesenggukkan. Jelas itu sesuatu yang salah. Karena janjinya pada seseorang, Kara belum bisa mengungkapkan itu. Sesak terus mrnyergap kalbu. Merasa bersalah dan merasa turut tersakiti karena hal ini.
"Tidak, Soni, bukan itu masalahnya. Aku nggak merasakan hal yang sama terhadapmu. Aku tidak ingin hubungan kita berubah dan rusak karena ini. Tolong tetap seperti dulu saja. Anggap aku kakakmu. Percayalah, itu yang terbaik."
Kara berusaha mengendalikan diri dan juga emosinya.
"Mbak aku—"
"Jangan mengatakan apapun itu, jika kamu berharap kita bersama. Mungkin ada baiknya kita menjaga jarak saja dan anggaplah aku sebagai cucu asisten rumah tanggamu."
Kara sengaja menegaskan itu pada Soni.
"Dan kamu tahu 'kan, kalau aku bisa bertindak nekat?"
Kara tidak mempedulikan ucapan Soni. Kara langsung berlari ke arah motor Revan dan ikut naik bersama pria itu.
"Kita pulang atau mau ke mana?" tanya Revan. Pria yang cukup paham keadaan Kara. Kara tidak akn mau pulang bila dalam keadaan kacau seperti saat ini."
"Kita ke tempat ngumpul seperti biasa saja dulu."
Revan mengajak Kara ke warung biasa. Warung yang hanya menyediakan mie goreng, kopi, atau teh. Di sana tempat nongkrong Kara saat mengerjakan tugas bersama teman-temannya saat sekolah dulu.
"Mau pesan apa, Ra?"
"Mie goreng aja, sama air mineral."
Revan memesankan itu. Revan tahu bila seperti ini, pasti Kara ingin berbicara sesuatu hal. Revan langsung memberikan air mineral pada Kara, agar wanita itu lebih tenang.
"Udah tenang dan mau cerita?"
"Aku harus hindari dia, Van. Aku bingung harus kasih penjelasan gimana lagi sama dia. Aku nggak akan pernah bisa sama dia. Kamu tahu 'kan kalau Soni itu pemaksa."
Revan menganggukan kepala. Sangat paham dengan apa yang dirasakan Kara saat ini.
"Kenapa nggak coba jujur dengan semua keadaan itu?"
"Aku akan menghancurkan banyak pihak, bila mengungkapkan semuanya."
Kara menangis sejadi-jadinya di hadapan Revan. Kara tidak bisa menyimpan rahasia di depan Revan.
"Sampai kapan kamu simpan semuanya ini sendiri? Sampai kapan aku harus lihat kamu tersakiti? Kamu menjaga perasaannya, tapi apa pernah dia peduli perasaanmu sejak kecil, Kar? Aku tahu, kamu tidak boleh melawannya, tapi setidak mengungkapkan kebenaran itu tidak salah."
Luruh sudah tangisan Kara. Merasa seolah tidak kuat dengan keadaan yang ada, tapi dituntut harus kuat, karena hidup masih terus berjalan. Kara hanya bisa menampakkan kehancurannya di hadapan Revan.
"Ada nggak sih, kekasih sewaan gitu? Biar si Soni nggak ganggu lagi. Kalau sama kamu, jelas dia nggak percaya dan kayak kemarin ancam kamu sampai segitunya."
Revan tertawa mendengar ucapan Kara. "Nanti aku bantu ya, kalau ada. Cuma pikirkan ucapanku baik-baik, Soni harus tahu kebenarannya."
*
Revan bertemu Arya dan bercerita permasalahan Kara tentang Soni. Arya sangat terkejut mendengar hal itu. Bahkan Arya tidak menyangka sebelumnya.
"Jadi Kara dan Soni …?"
"Gue harap lo nggak bocor sama siapapun. Kasian Kara. Lo mau nggak jadi pacar sewaan sementara waktu. Gue yang bayar deh."
Arya tertawa terbahak tentang itu.
"Jadi beneran nganggap Kara sebagai adik, nih. Nggak mau dijadiin istri aja."
Revan menganggukan kepala. "Dia itu udah kayak adik gue. Kalau jadi istri, jelas nggak. Gue bukan kriteria Kara. Lagian Kara juga bukan perempuan yang gue suka."
"Gue nggak bisa. Nanti ada yang marah." Lesu sudah wajah Revan mendengar penuturan Arya.
"Sialan, ngajak ketemu, kirain mau bantu Kara."
"Dengerin dulu, belum selesai ngomong ini. Gue punya sahabat. Dia nggak mau dijodohkan sama mamanya. Kayaknya kita coba pertemukan keduanya deh. Siapa tahu mau, kalau buat kesepakatan gini."
Revan mengiyakan usulan Arya. Revan dan Arya juga akan mengatur kapan Kara dipertemukan dengan sahabat Arya.
Hari ini, Revan tidak bisa menjemput Kara. Revan hanya mengirimkan alamat pada Kara, tempat mereka bertemu.
Kara sedang berjalan menjauh dari kantor. Kara memang melangkah tergesa, takut jika Soni menjemputnya dan terjadi lagi drama perdebatan. Ternyata sejauh Kara melangkah, tidak ada ojek. Orderan ojek onlinenya pun malah mendapatkan penolakan terus. Jadilah Kara harus berjalan sedikit jauh.
'Byur.'
Sebuah mobil melintas cukup kencang pada genangan air. Otomatis Kara yang berjalan di dekatnya kecipratan air tersebut.
"Woy, hati-hati dong!" teriak Kara. Kara kesal bukan kepalang, tapi Kara juga mengingat plat di mobil tersebut.
Pria yang membawa mobil tersebut berhenti mendengar teriakan Kara. Pria yang cukup tampan, tapi terlihat dingin.
"Kenapa teriak-teriak? Kecipratan dikit doang ribut. Model kayak gini nih, yang biasanya malak minta ganti rugi."
"Gila ya, bukannya minta maaf, malah memaki orang. Jelas Anda yang salah." Kara tidak habis pikir bertemu dengan pria seperti itu
"Berapa yang harus diganti?" Pria itu bertanya dengan tatapan bengis.
"Susah ya emang bicara sama pria yang otaknya kosong. Hidup itu, nggak hanya untuk sekadar dapat uang, tapi ada aturan sopan santun yang harus diterapkan. Terima kasih telah mengajarkan kepada saya, tentang sombongnya orang kaya dan tidak mau meminta maaf."
Kara langsung pergi meninggalkan pria itu. Kara tidak peduli tentang perkataannya yang cukup menyakiti hati.
"Loh, Neng Kara. Mau pulang nggak? Ngojek sama bapak aja, ya. Nggak dijemput 'kan. Pak Dwi dari pagi belum dapat penumpang, karena harus bolak-balik RS. Anak bapak masuk RS lagi, Neng Kara."
Mencelos, hati Kara langsung tersentil. Seharusnya bersyukur dan hangab terlalu memikirkan Soni. Ada banyak orang yang masih berada jauh di bawahnya. Pak Dwi adalah ojek langganan Kara saat masih sekolah dulu.
"Kara ada perlu, Pak. Nggak langsung pulang, tapi boleh deh ngojek sama bapak aja."
Pak Dwi langsung tersenyum bahagia.
Kara sengaja tidak langsung masuk cafe. Pakaian Kara yang saat ini basah menjadi pertimbangan. Kara takut malah membuat Revan malu. Kara menelpon Revan dan memberitahu keadaannya saat ini. Kara juga bertanya perlukah membeli pakaian baru terlebih dahulu. Namun Revan memilih menemui Kara di depan.
"Ya ampun, kamu sampai basah gini sih, Kara?" Revan lekas membuka jaketnya, untuk menutupi pakaian Kara yang basah.
"Ngapain kamu buka jaket?" tanya Kara yang bingung.
"Orangnya sudah ada di dalam. Dia nggak suka nunggu. Nggak ada waktu buat beli pakaian. Jadi pakai jaketku aja dulu."
Kara sekarang paham dengan hal itu. Kara langsung menggunakan jaket Revan. Kara dan Revan pun lekas memasuki cafe tersebut.
"Hay, Kak Arya!" sapa Kara.
"Hay, Kara!"
Kara sangat terkejut saat melihat pria yang tadi mengajak berdebat kepadanya.
"Loh, kok, kamu?!" Emosi Kara kembali meningkat, tapi sebisa mungkin dikendalikan tidak mungkin juga meledak di depan Arya dan Revan. Kara mengambil napas dan mengembuskan perlahan.
Kara sebisa mungkin menguasai emosi. Sungguh dalam dada Kara bergemuruh rasa kesal yang sangat dalam. Apalagi Kara pun dalam melihat pria yang teramat sombong di depan matanya saat ini.
"Ngapain kamu di sini? Masih mau maksa aku bilang kata maaf ke kamu?" Nada suara Hendra sangat tinggi. Cukup membuat orang-orang sekitar terkejut.
Kara masih bergeming, bukan takut untuk menjawab. Hanya saja membiarkan orang tahu ketika dia memang tidak melakukan apapun malah diperlakukan demikian.
Revan langsung menepuk pelan punggung Kara dan menatap memberi kode, bahwa semua akan baik-baik asal sahabatnya dapat tenang.
"Apaan sih, lo? Kara ini cewek yang gue undang. Duduk Kara! Mau makanan apa dan minumnya?"
Kara hanya menggelengkan kepala. "Aku minum aja."
Kara berekspresi sangat datar. Jika saja di sana tidak ada Revan, mungkin Kara sudah pergi meninggalkan tempat itu. Rasa kesal Kara sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, Kara benar-benar menahannya.
Hendra langsung izin ke toilet pada Arya. Dia tidak menyangka bertemu dengan wanita yang sangat mengesalkan baginya. Wanita yang sok memiliki harga diri tinggi. Di mata Hendra sama saja, wanita itu hanya matre dan mengincar uang si pria.
'Kenapa ketemu wanita sombong itu lagi, sih? Lagian juga si Arya kenal di mana cewek macam gitu? Bikin kesel aja. Semoga bukan dia aja, cewek yang di maksud Arya,' batin Hendra.
*
"Kamu kenal dia, Kar?" tanya Arya menyelidik. Arya tahu, Hendra paling enggan berhubungan dengan wanita. Anehnya Hendra malah langsung mengeluarkan nada tinggi di hadapan Kara.
Kara menggelengkan kepala. "Tadi aku lagi jalan, mobil dia lewat kenceng banget, sampai aku kecipratan genangan air. Makanya tadi pakaian aku basah itu gitu. Ya, karena dia. Ih, nyebelin bangetlah dia pokoknya. Tahu sendiri dong, tadi aku udah berusaha diam aja, malah aku yang disemprot."
Kara dengan polosnya mengungkapkan semua itu.
Arya memijat kepalanya. Sudah paham maksud ucapan Kara. Arya tahu, Hendra paling anti minta maaf, dan palingan ngasih uang ganti rugi. Sedangkan Kara, bukan wanita matre yang mengharapkan uang.
"Kak Arya katanya mau kenalkan aku sama pria yang mau berpura jadi kekasihku nantinya. Memangnya siapa?"
Arya dan Revan saling tatap, mereka berdua bingung untuk menjelaskan kepada Kara. Karena Kara sudah emosi saja.
"Ya, prianya ya yang tadi itu …." Revan sudah mulai bingung dengan keadaan ini. Revan yakin, Kara belum tentu mau.
Wajah Arya sudah masam. Arya sangat paham sikap Kara bila sudah tidak suka. Walaupun Arya tidak sedekat Revan pada Kara, tapi secara garis besar, Arya tahu sikap dan sifat Kara.
Kara bergeming mendengar hal itu. "Di-dia?"
Arya dan Revan serempak menganggukkan kepala, sedangkan Kara hanya memijat pelipisnya.
"Aku langsung pulang aja deh. Aku pusing." Kara lebih memilih menghindar saja. Sangat malas bila berurusan dengan pria seperti itu.
"Nggak bisa gitu dong, Ra. Kalau gini kamu nggak ngehargain aku. Please!" Revan kembali membujuk Kara. Revan tahu, Kara paling tidak tega padanya.
Kara berusaha tetap duduk dengan tenang. Kara pun menatap lurus pada Revan. "Oke!"
Hendra kembali dengan tatapan tajam. Hendra masih sangat kesal karena masih ada Kara di sana.
"Revan, Arya, mana perempuan yang kalian mau kenalkan ke aku? Jangan bilang, kalau wanita itu dia! Aku nggak mau ya kalau dia!" Hendra langsung menunjuk wajah Kara.
Kara masih diam, belum menanggapi apapun. Kara tahu, dia butuh pacar pura-pura. Namun dia juga tidak akan merendahkan harga dirinya.
"Dra, nggak bisa gitu. Bisa nggak sih, kerja sama. Cari perempuan itu sulit, apa lagi kalau tahu lo banyak harta. Yang ada dia makin nempel ke lo. Lo sendiri cuma butuh kontrak. Apa salahnya lagian kerja sama. Buang dulu gengsinya. Kalau lo nolak Kara, gue nggak mau bantuin lo lagi."
Pandangan Hendra semakin sinis pada Kara. Hendra sangat yakin, jika Kara itu wanita yang sama, yang mengincar hartanya.
"Lalu apa bedanya dengan dia? Aku tahu, dia juga sama seperti wanita lainnya."
Kara lekas berdiri. "Maaf aku nggak bisa! Aku memang butuh kekasih pura-pura agar Soni tidak mendekatiku lagi, tapi bukan berarti dengan asal, apalagi pria yang suka merendahkan seseorang."
Kara mulai mengambil tas dan ingin melangkah pergi. Lagi-lagi tangan Kara ditarik, tapi kali ini bukan Revan maupun Arya yang menarik, melainkan Hendra.
"Tunggu! Kamu bilang kamu butuh kekasih pura-pura. Buat apa? Kamu juga bilang aku suka rendahin seseorang, maksudnya apa?"
Hendra sangat heran kenapa wanita di depannya itu butuh kekasih pura-pura. Namun, Hendra pun berusaha memperhatikan Kara. Wajahnya Kara mengingatkan Hendra pada seseorang.
Hendra pun menatap penuh tanda tanya.
"Bukan urusan kamu, untuk apa aku butuh kekasih pura-pura. Sekarang lepasin, aku mau pulang, kamu sendiri nggak mau, jadi aku juga nggak mau."
"Aku nggak butuh kekasih pura-pura. Aku butuhnya istri pura-pura."
Hendra memang tidak banyak waktu lagi mencari itu. Hendra berpikir mendingan diajak kontrak nikah saja.
"Dan aku tidak mau mempermainkan pernikahan. Berarti memang aku nggak bisa sama kamu. Simple 'kan?"
Kara langsung menarik tangan Revan.
"Ayo, Van, pulang! Masalah Soni, nanti aku coba atasi sendiri."
Revan hanya menganggukkan kepala. Revan tahu, jika Kara paling anti dalam mempermainkan pernikahan. Revan hanya memikirkan, bagaimana Kara bisa memberikan pengertian pada Soni.
*
"Makasih ya, sudah anterin aku pulang! Maaf, jaketnya aku pinjam dulu!" Revan menganggukan kepala. Revan selalu selembut itu dalam bersikap terhadap Kara.
"Jaga diri baik-baik ya! Aku pulang, jangan banyak pikiran. Nanti aku coba carikan yang lain."
Kara mengangguk dan Revan pun segera pulang.
Hendra menatap Kara dari kejauhan. Hendra pun mengingat-ingat alamat rumah Kara. Mirip dengan seseorang. Hendra akhirnya ingat kembali kejadian lama itu.
"Jangan bilang dia adalah …."
Hendra memukul stir mobilnya, merasa frustasi sendiri dengan keadaan yang ada. Hendra pun akhirnya memilih pulang ke rumahnya setelah tahu rumah Kara.
"Berarti dia adalah amanat yang harus kujaga?" Monolog Hendra.
*
Kara memasuki rumah langsung ditatap dengan sinis oleh Arlita.
"Abis dari mana kamu? Soni jemput, malah keluyuran sama pria lain. Bukannya langsung pulang, mau jadi perempuan nggak benar kamu?"
Kara tersenyum sinis pada Arlita. "Serendah itukah Nyonya menilai saya?" Kara tetap mengumbar senyum. Tidak sedikitpun raut wajah kecewa dinampakkan.
"Lancang kamu, berani menjawab saya!" sentak Arlita.
"Lalu apa gunanya saya punya mulut, jika saya tidak boleh bicara, Nyonya? Sekalipun saya pergi dengan seorang pria, tenanglah wanita ini masih mampu menjaga marwahnya. Wanita ini juga tahu batasan. Mohon maaf Nyonya, lain kali sebaiknya Den Soni, tidak perlu menjemput saya lagi, agar tidak merepotkan."
Kara masih tersenyum, dengan senyuman manis.
"Apa maksud kamu, Kara? Kenapa kamu jadi orang yang tidak tahu di untung? Sama sekali tidak bisa dikasihani, sama seperti nenekmu dulu."
"Anda tinggal menuruti ucapan saya. Itu yang terbaik. Apalagi permintaan Soni yang …."
Kara sengaja menggantung ucapannya. Kara ingin agar Arlita dapat berpikir jernih.
"Memangnya apa permintaan Soni?" Arlita sangat penasaran dengan apa yang ingin Kara katakan.
"Soni ingin menikahiku. Anda tahu bukan, seharusnya kami itu seperti apa?" Kara mengulas senyum smirk, tapi juga penuh luka.
"Nggak, itu nggak boleh terjadi Kara. Kamu sedang berbohong 'kan?"
Kara menggelengkan kepala.
"Nyonya hanya perlu bersiap saja. Tenanglah, aku nggak akan menerima Soni, karena aku tahu batasanku. Cukup jangan mengekangku masalah pergi dengan siapa. Setidaknya, itu lebih baik."
Kara memang sulit berkata lainnya. Pikirannya terlalu carut marut dalam memikirkan permasalahan itu.
"Baiklah, ingat kamu harus jauhi Soni! Jangan pernah coba bongkar rahasia itu!"
"Nyonya tenang saja. Aku tahu apa yang harus dilakukan."
Kara akhirnya memilih pergi dari hadapan Arlita dan kembali ke kamar.