Sampul Novel Seratus Kali Janji Palsu

Seratus Kali Janji Palsu

8.5 / 10.0
Sepuluh tahun menjalin hubungan, impian pernikahan di depan mata hancur saat Soni memilih menemani cinta pertamanya naik gunung ketimbang mendaftarkan pernikahan mereka. Setelah diabaikan berulang kali, sang wanita akhirnya tersadar dari janji palsu yang terus berulang untuk keseratus kalinya. Ketika Soni kembali mengirim pesan untuk janji berikutnya, ia memilih mengabaikannya dan langsung terbang ke luar negeri. Keputusan ini membuat Soni, pria yang biasanya selalu bersikap tenang, seketika kehilangan kendali dan menggila karena penyesalan mendalam telah kehilangannya.
Ringkasan Seratus Kali Janji Palsu
Sepuluh tahun menjalin hubungan, impian pernikahan di depan mata hancur saat Soni memilih menemani cinta pertamanya naik gunung ketimbang mendaftarkan pernikahan mereka. Setelah diabaikan berulang kali, sang wanita akhirnya tersadar dari janji palsu yang terus berulang untuk keseratus kalinya. Ketika Soni kembali mengirim pesan untuk janji berikutnya, ia memilih mengabaikannya dan langsung terbang ke luar negeri. Keputusan ini membuat Soni, pria yang biasanya selalu bersikap tenang, seketika kehilangan kendali dan menggila karena penyesalan mendalam telah kehilangannya.
Baca Selengkapnya

Seratus Kali Janji Palsu Bab 1

Hari pendaftaran pernikahan, aku menunggu di Kantor Catatan Sipil sejak pagi hingga langit gelap. Sementara itu, pacarku Soni malah menemani cinta pertamanya naik gunung.

Aku meneleponnya belasan kali, tapi semuanya ditolak.

Sampai telepon ke-20 baru dia mengangkat.

"Sehari nggak ketemu aku saja kamu harus menelepon puluhan kali, mau nyawa aku diambil, ya? Kamu sebenarnya segitu kekurangan lelaki, ya?"

"Yeni lagi nggak enak badan, jantungnya kambuh. Aku harus jagain dia di rumah sakit. Urusan nikah, lain kali saja."

Sepuluh tahun bersama, ini sudah ke-100 kalinya Soni meninggalkanku sendirian di depan Kantor Catatan Sipil demi perempuan itu.

Untuk ke-101 kalinya, dia hanya meninggalkan pesan. [Sayang, jam sepuluh ketemu di Kantor Catatan Sipil.]

Aku menahan tawa dingin, mengabaikan pesannya, lalu melangkah naik ke pesawat menuju luar negeri.

Soni, kali ini aku tidak akan memilihmu lagi.

Pria yang biasanya selalu terlihat tenang itu, begitu tahu aku pergi, benar-benar kehilangan kendali menggila.

Dari telepon terdengar suara jernih Yeni.

"Maaf ya, Cesya. Jantungku lagi nggak enak. Soni khawatir, jadi maksa aku tinggal di rumah sakit buat observasi beberapa hari. Nanti pulang, aku pasti suruh dia minta maaf sama kamu."

Aku tidak menjawab, hanya diam mendengarkan suara angin yang berdesir, lalu terdengar suara dingin Soni.

"Kamu memang terlalu lembut. Kalau ada yang nyakitin kamu, kamu sendiri pun nggak sadar."

"Cesya, kamu jangan terlalu mempermasalahkan ini. Badan Yeni memang selalu lemah. Kita cari waktu lain saja buat urus pernikahan ini."

Ternyata dia bukannya tidak tahu hari ini hari mendaftar pernikahan, hanya sibuk menemani perempuan yang paling dia sayangi bahkan kabar pembatalan pun enggan dia sampaikan padaku.

Dulu, di saat seperti ini, aku pasti sudah hancur, menangis, dan kehilangan kendali. Aku akan memaksa bertengkar dengan Soni untuk mencari jawaban.

Sekarang, hatiku benar-benar tenang.

Suaraku tetap datar. "Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup dulu."

Soni mengira aku akhirnya mengerti, suaranya bahkan terdengar lembut. "Asal kamu nggak marah. Aku beneran nggak bisa ninggalin Yeni sekarang. Nanti beberapa hari lagi kita…"

Aku tanpa ekspresi memutus telepon, menatap pintu Kantor Catatan Sipil yang tertutup rapat. Aku melepaskan cincin dari jariku dan membuangnya ke tempat sampah di samping.

Dalam perjalanan pulang, aku membuka status WhatsApp Yeni.

Waktu unggahannya baru saja. [Naik gunung bareng orang tercinta! Bos besar hari ini sibuk sekali, tapi tetap mau luangin waktu nemenin aku! Cinta kamu!]

Mereka berdua bergandengan erat, wajah saling menempel mesra seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta. Sinar matahari senja menyinari mereka, tenang dan indah.

Kolom komentar penuh dengan tulisan “iri banget!”

Jujur saja, selama bertahun-tahun, aku dan dia bahkan tidak punya satu pun foto yang layak ditunjukkan.

Dulu aku pernah berkali-kali mengajaknya naik gunung, tapi dia hanya tertawa sambil bilang akan menemaniku setelah urusannya selesai.

Aku menunggu tahun demi tahun. Saat aku bertanya terlalu sering, dia hanya melambaikan tangan dan berkata, "Naik gunung itu capek. Aku sibuk kerja. Kamu bisa nggak berhenti ganggu aku sama hal kecil begini?"

Ternyata dia bukan nggak mau naik gunung, dia hanya tidak mau naik gunung denganku.

Aku terus menggulir linimasa Yeni, dadaku terasa perih seperti ditusuk jarum rapat-rapat.

Mereka pernah melihat indahnya pegunungan salju bersama, menonton konser penyanyi favoritku bersama, bahkan keliling dunia bersama. Setiap foto yang mereka ambil jadi bukti mereka pernah saling memiliki.

Semua momen itu jatuh tepat di hari ketika Soni bilang padaku bahwa dia harus dinas luar kota atau sedang bersiap urus pernikahan denganku.

Aku seperti lelucon, terus-menerus menghibur diri sendiri dengan keyakinan bahwa dia pasti sedang berusaha demi masa depan kami.

Saat sampai di rumah, aku membuka kotak yang dia simpan rapi di ruang kerjanya.

Melihat setumpuk tiket pesawat dan foto-foto yang tak terhitung jumlahnya. Hatiku benar-benar mati. Aku langsung menekan nomor telepon seniorku.

"Kak Risti, aku sudah memutuskan. Aku siap pergi ke luar negeri bergabung sama orkestra yang Kakak dirikan. Aku nggak akan kembali lagi."

Seniorku jelas terkejut, lalu suaranya terdengar senang.

"Serius, Cesya? Begitu visa kamu turun, aku langsung belikan tiket. Aku sudah mengundangmu dari lama, akhirnya kamu mau juga."

Lalu dia terdengar sedikit khawatir. "Soni tahu belum? Jangan-jangan ini karena kalian bertengkar, terus kamu asal mengiyakan?"

Aku menggeleng. "Bukan, ini keinginanku sendiri."

Risti terdengar lega. Setelah memastikan, dia langsung mengirim kontrak padaku.

Tanpa ragu sedikit pun aku menandatanganinya.

Aku mendorong pintu gudang sesampainya depan gudang lantai dua.

Di tengah ruangan, piano itu dipenuhi debu tebal, persis seperti semua waktu yang dulu kuanggap indah tapi diam-diam terkubur.

Setelah lama bersama, Soni selalu nggak suka kalau aku ikut tur bersama orkestra. Dia selalu bilang orang-orang di sana penuh intrik dan berantakan, katanya itu bisa merusak pikiranku. Dia takut aku meninggalkannya.

Karena dulu dia putus dengan Yeni juga gara-gara Yeni ingin mengejar mimpi musiknya ke luar negeri.

Aku tahu dia tidak punya rasa aman, aku pikir dia sungguh membutuhkanku.

Hatiku luluh, aku mengundurkan diri dari orkestra, meninggalkan mimpiku yang sudah kujalani bertahun-tahun, lalu hidup hanya untuk mengurus rumah tangga demi dia.

Tapi, di linimasa Yeni, aku justru melihat di hari jadi hubungan kami. Soni sengaja memborong semua tiket konser dan mengajak seluruh karyawannya datang untuk mendukungnya. Hari itu aku jelas-jelas sudah memberi tahu lebih awal, menyiapkan belasan hidangan dan kue, menunggunya sampai tengah malam.

Mataku panas dan basah, lalu air mata jatuh begitu saja.

Kenapa Yeni bisa bebas mengejar mimpinya?

Sedangkan aku tidak.

Pernah aku bertanya padanya. Dia hanya tertawa sambil merangkulku. "Kamu dan Yeni itu beda."

Saat itu aku yakin, di matanya aku istimewa.

Sekarang aku baru mengerti. Bedanya ada di sana. Yeni adalah perempuan yang paling dia sayangi, jadi dia bisa bebas melakukan apa pun. Sedangkan aku tidak. Aku hanya dianggap pelengkap hidupnya. Semua tentangku harus ada dalam genggamannya.

Aku meminta pembantu membersihkan piano. Setelah itu aku duduk sendiri dengan tenang, memainkan beberapa lagu.

Esok harinya, untuk pertama kalinya aku bisa tidur sampai bangun alami.

Soni duduk di sofa dan menatapku dengan nada kesal. "Hari ini kenapa bangun selambat ini? Masih kepikiran soal kemarin? Kamu kok sekecil itu saja dibawa perasaan?"

Aku memotong perkataannya. "Aku nggak marah. Akhir-akhir ini capek, jadi tidur lebih lama."

"Bagus kalau begitu." Soni meletakkan ponselnya dan mengerutkan kening. "Cuma soal daftar nikah, nggak usah dibesar-besarkan. Beberapa hari lagi kita bisa pilih tanggal lain."

"Yeni kondisinya memang nggak bagus. Dia sendirian di sini tanpa keluarga. Aku harus lebih sering jagain dia. Kamu jangan manja."

Tatapan Soni tajam. Alisnya terkatup rapat, seolah pertanyaan kecilku kemarin adalah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan.

Dia mendorong kotak kecil berisi roti udang dari Hadalo ke arahku. Suaranya datar seperti memberi sisa makanan. "Sarapan, makanlah."

Karena aku tidak segera mengambilnya, dia berdiri dengan nada jengkel. "Kamu ini masih marah, 'kan? Sebenarnya kamu maunya apa…"

"Aku alergi makanan laut."

Sepuluh tahun bersamanya, dia tetap tidak ingat apa yang kusuka dan apa yang membuatku alergi.

Kalimat singkat itu langsung menahan amarahnya. Wajahnya memerah. Matanya berkedip penuh rasa gugup dan bersalah. Suaranya merendah. "Tadi pagi aku terlalu buru-buru… kamu… kamu minta bibi bikinin yang lain saja, ya."

Aku menatapnya lurus. Tatapanku membuatnya gelisah dan tidak nyaman.

Dering telepon yang tiba-tiba nyaring menyelamatkannya. Dia menoleh padaku ragu, lalu menggenggam ponselnya erat-erat.

Aku berkata tenang. "Jawab saja, siapa tahu penting."

Dari seberang terdengar suara Yeni. Manja dan terisak, katanya dia lagi nggak enak badan.

Beberapa kalimat ringan itu saja sudah cukup membuat Soni panik. Dia langsung menyuruh Yeni menunggu, lalu meraih mantel dan keluar terburu-buru tanpa menoleh.

Padahal aku sudah memutuskan pergi. Tapi hatiku tetap terasa sakit.

Soni, kalau kamu memang sudah nggak cinta, aku tidak akan menunggu lagi.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Seratus Kali Janji Palsu

Ch. 1 Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh Andini Wijaya, pemilik sekolah yang mandiri. Namun, hubungan mereka diuji saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi mendapat pengakuan dari ayah mereka, Sigit Wijaya. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ambisi keluarga Wijaya, akankah cinta Randika dan Andini tetap bertahan?
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian selalu menganggap wanita sebatas teman tidur dan bertekad menghindari pernikahan. Namun, keyakinan sang miliarder goyah setelah bertemu Adeeva Adelia Albert, sekretaris baru yang acuh dan tak berniat memikatnya. Sempat dipandang Adeeva sebagai kesialan terbesar dalam hidupnya, sosok Xavier kini justru menjadi anugerah terindah. Hubungan yang semula dipenuhi kebencian itu kini telah bertransformasi menjadi hari-hari romantis yang indah bagi mereka berdua.
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menyetujui kesepakatan rahasia dengan Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, demi membiayai pengobatan sang adik. Ia bersedia menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya tersebut. Namun, kematian adiknya mengubah segalanya. Nadia memutuskan melarikan diri dalam keadaan mengandung anak Reza. Di bawah ancaman kejaran Satria, ia harus bertahan hidup melindungi bayinya dari pusaran intrik kekuasaan keluarga Azhar yang sangat berbahaya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED