"Randy, mana Dave?" tanya Rosa.
"Dia lagi syuting dan tidak bisa izin, Tante. Jadi saya yang kesini, Tante tidak apa-apa?" tanya Randy asisten pribadi sang anak.
"Saya mungkin sudah tidak bernyawa jika wanita ini tidak menolong saya. kamu ambil uang di Atm lalu ganti uang Hana!" ucap Rosa.
"Iya Tante, Mbak terima kasih sudah menolong Tante Rosa," ucap Randy.
"Sama-sama. Karena sudah ada yang menjaga jadi saya pamit untuk kembali bekerja ya!" ucap Hana.
Rosa mengangguk, setelah uangnya di ganti Hana pun kembali ke mall tempatnya bekerja. Sialnya jalan menuju tempat kerjanya macet parah bahkan kendaraan sulit bergerak.
"Ada apa sih, Pak. Kok macet banget?" tanya Hana yang berulang kali melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ada syuting di depan katanya, Mbak. Artisnya yang namanya Dave katanya," ucap supir.
Mendengar nama idolanya Hana lupa akan segalanya, ia turun dari angkot tanpa membayar, meski di teriaki ia seperti tak mendengar. Hana berlari untuk melihat idolanya yang sedang melakukan syuting di jalan itu.
"Beneran Dave. Ternyata aslinya ganteng banget," ucap Hana.
Dengan tangan bergetar Hana meraih ponsel di saku lalu menyalakan kamera, ia merekam aktivitasnya yang berada di dekat lokasi syuting sang idola.
"Guys liat, tuh ada Dave Darian. Aslinya ganteng banget kan!" ucap Hana dengan ekspresi sangat senang.
Setelah selesai merekam ia meng-upload vidio tersebut ke story WhatsApp dan akun sosial media miliknya. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, Hana terkejut melihat nama orang di layar ponselnya.
"Matilah aku!" seru Hana seraya memukul pelan keningnya
Ponsel Hana terus berdering, wanita cantik itu ragu harus mengangkat atau mengabaikannya. Tapi ia kini sadar jika ia dalam masalah dan harus segera datang ke tempat kerjanya.
"Haduh gimana ini, jalan macet lagi," ucap Hana.
Gadis itu berlari di pinggir trotoar hingga beberapa kilometer sampai terlihat kemacetan tidak separah tadi.
"Bang ojek bang, anter saya ke mall Galaxi Square," ucap Hana.
"Saya bukan ojek pangkalan, Mbak. Harus pakai aplikasi," ucap abang-abang berjaket hijau tersebut.
"Please banget antar saya, nanti saya kasih dua puluh ribu deh sampai mall," ucap Hana.
"Yah si Mbak gimana sih, emang tarifnya segitu dari sini ke mall sana. Kalau gak pakai aplikasi nanti saya rugi Mbak," ucap Abang Ojol itu.
Hana menengok ke kanan dan kiri, di daerah tersebut memang tidak ada pangkalan ojek. Jika naik angkot pasti lama sampai karena masih sedikit macet dan terkadang angkot menunggu penumpang lain untuk naik atau turun di jalan.
"Yaudah saya kasih lima puluh ribu mau gak, Bang?" tanya Hana.
"Ya udah deh, saya juga lagi sepi order. Dari pada gak dapat uang sama sekali, gak apa-apa gak pakai aplikasi juga," ucap Abang Ojol itu.
Hana pun menaiki motor matic milik Abang Ojol, mereka berhenti di depan mall 20 menit kemudian. Sesuai yang dijanjikan Hana ia memberikan uang lima puluh ribu untuk perjalanan tersebut. Setelah turun dari motor Hana langsung berlari menuju tempatnya bekerja. Dengan nafas tersengal-sengal dan rambut mulai berantakan Hana sampai di tempatnya dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lidia.
"Keruangan saya sekarang!" ucap Lidia.
Hana mengangguk dan mengekori langkah Lidya menuju ruangan leadernya tersebut. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Lidya kepadanya. Omelan pasti sudah pasti ia dapatkan dari dia yang akan membuat telinganya panas sepanjang hari.
Sesampainya di ruangan, Lidya langsung berkata dengan nada tinggi kepada Hana.
"Enak ya, orang-orang kerja kamu malah dateng ke lokasi syuting. Kamu mau makan gaji buta di sini, kamu pikir ini perusahaan bapak moyangmu!" Hardik Lidia.
"Maaf Mbak. Tadi hanya kebetulan saja," jawab Hana.
"Kamu pikir saya gak tau kalau kamu fans berat artis bernama Dave itu! Lihat casing handphone kamu saja foto dia, pasti saat kamu tahu dia syuting di sana kamu sengaja datang dan meninggalkan pekerjaan, Kan!" ucap Lidia.
"Mbak, saya benar-benar kebetulan lihat Dave syuting tadi. Kan Mbak Lidia tahu saya nganterin pelanggan yang tiba-tiba pingsan di sini tadi," ucap Hana.
"Alasan kamu tidak bisa diterima, terhitung sudah 2 jam lebih kamu keluar dari pekerjaan yang harusnya kamu kerjakan. Jika hanya mengantar ibu-ibu tadi, setengah jam harusnya sudah cukup," ucap Lidya.
"Saya tadi membantu mengurus administrasi Ibu itu, Mbak!" ucap Hana.
Hana tidak mungkin menceritakan kepada Lidya jika ia juga sempat ke toko perhiasan untuk menjual kalungnya, dan ia yang biayai administrasi rumah sakit ibu-ibu yang ia tolong tersebut.
"Harusnya cukup mengantarkannya saja ke rumah sakit, sampai di sana kamu bisa menelpon keluarganya, kan! Intinya alasan kamu tidak bisa saya terima, apalagi ini sudah beberapa kali kamu melakukan kesalahan yang sama," ucap Lidya.
Hana hanya bisa menunduk, memang bukan hanya sekali ia membantu seseorang yang membutuhkan dan melupakan pekerjaannya, hingga membuat leadernya itu marah kepadanya.
"Kamu sudah saya kasih surat peringatan sebanyak tiga kali, sesuai dengan SOP yang berlaku di sini, kamu dipecat karena tidak bisa profesional dalam bekerja," ucap Lidya.
Hana terkejut dan mendongakkan kepalanya, ia menatap leadernya itu dengan mata berkaca-kaca. Sudah 2 tahun ia bekerja di mall tersebut menjadi SPG di bagian underwear. Meskipun terkadang kesal mendengar omelan Lidya yang terasa panas di telinganya, tapi hanya tetap menjalankan pekerjaannya karena Ia membutuhkan uang untuk bertahan hidup, ia juga harus mengirimkan ke kampung untuk membantu ibunya membiayai sekolah adiknya.
"Mbak Lidya Saya minta maaf, Saya janji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Tolong jangan pecat saya," ucap Hana memohon.
"Pada saat diberikan surat peringatan yang ketiga kamu juga mengatakan hal ini, tapi nyatanya kamu tetap melakukan hal yang sama. Jadi saya tidak bisa percaya dengan janji kamu, dan kamu harus membereskan barang-barang hari ini," ucap Lidya.
Hana terus memohon kepada Lidya, tetapi Lidya tidak goyah dengan keputusannya. Menurutnya apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang memang jadi peraturan di tempat kerjanya.
Hana berjalan gontai keluar dari ruangan Lidya, lalu membereskan barang-barangnya di loker kemudian berpamitan pada teman-temannya.
"Makanya Hana, jadi orang jangan terlalu baik. Jangan kebiasaan jadi pahlawan kesiangan, kamu boleh menolong orang tapi juga ingat dengan pekerjaan kamu. Kalau sudah begini kan kamu sendiri yang susah," ucap Meli.
"Iya, Meli. Ya sudahlah mungkin emang rezeki aku di sini sudah habis. Aku harus berjuang untuk mencari pekerjaan yang lain," ucap Hana dengan nada lirih.
"Kamu jangan hapus nomor aku ya, nanti kalau ada info lowongan pekerjaan aku kabarin," ucap Meli.
"Iya, Meli. Ya sudahlah mungkin emang rezeki aku di sini sudah habis. Aku harus berjuang untuk mencari pekerjaan yang lain," ucap Hana dengan nada lirih.
"Kamu jangan hapus nomor aku ya, nanti kalau ada info lowongan pekerjaan aku kabarin," ucap Meli.
"Terima kasih, Mel. Semoga kamu awet kerja di sini, aku pamit ya!" ucap Hana.
"Semoga kamu cepat dapat pekerjaan juga ya!" ucap Meli memeluk Hana sebelum Hana pergi.
Meli salah satu teman terbaik Hana saat bekerja. Ia tahu jika Hana bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk dikirimkan ke kampung halamannya, sehingga ketika mendengar hanya dipecat Meli ikut merasa sedih.
Hana berjalan gontai keluar dari mall tersebut, ia mengingat sisa uang yang ia punya. Uang dari Bu Rosa sebagai ganti kalung yang sudah ia jual.
"Tinggal dua juta lagi, semoga aku cepat dapat kerja sehingga uang ini tidak habis dipakai keperluan sehari-hari," gumam Hana.
Satu minggu yang lalu memang Hana sudah gajian, tapi ia juga harus membayar kost, kasbon saat makan, membeli keperluan bulanan, dan sebagian di kirim ke kampung. Gaji Hana memang pas-pasan, tapi Hana selalu bersyukur dengan apa yang ia dapatkan secara halal.
Keesokan harinya
"Han, mau kemana?" tanya Haris.
Orang tua Haris adalah pemilik kost tempat Hana tinggal, rumahnya dekat dengan tempat kost tersebut sehingga setiap hari selalu bertemu dengan Hana dan mereka menjadi dekat setelah 2 tahun Hana menyewa kost di sana.
"Mau nyari kerja, nyoba lamar di pabrik-pabrik kayanya," ucap Hana.
"Pakai motorku nih. Kalau naik kendaraan umum nanti uangmu habis untuk ongkos," ucap Haris.
"Beneran boleh pinjam?" tanya Hana.
"Bener, cepat ni sebelum aku berubah pikiran," ucap Haris.
Hana tersenyum dan menerima kunci motor tersebut, ia akhirnya pergi menggunakan motor matic milik Haris. Sementara Haris hanya tersenyum melihat kepergian Hana.
"Haris, motor mamah mana? Mama mau kepasar," ucap Arum.
Haris tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena ia meminjamkan motor kesayangan mamahnya pada Hana tanpa izin.
"Aku pinjemin sama Hana. Kasihan dia, Mah. Abis di pecat dari tempat kerja dan sekarang mau cari kerjaan," ucap Haris.
"Ih ... Kamu nih, mau kasih pinjem gak bilang-bilang. Kenapa motor mamah bukan motor kamu aja!" ucap Arum.
"Motor aku kopling dia gak bisa, Mah," ucap Haris.
"Lagian kamu aneh, baiknya sama Hana aja. Sama penghuni kost lain jangankan baik, nyapa aja enggak. Kamu suka ya sama Hana?" tanya Arum.
"Mamah bilang tadi mau kepasar, Kan? Yuk aku antar pakai motorku, aku tunggu sampai mamah selesai belanja!" ucap Haris.
Arum menggelengkan kepalanya, ia curiga anak bungsunya itu menyukai Hana. Gadis itu memang baik, selama tinggal di tempat kost tidak pernah berbuat macam-macam, selalu membayar tepat waktu. Bahkan beberapa kali Arum melihat Hana membantu orang-orang yang terlihat tidak mampu.
Arum dan Haris pergi kepasar tanpa mempermasalahkan lagi motor matic yang di pakai Hana.
Sementara Hana kini sudah mendatangi beberapa gedung perkantoran, mall, dan pabrik-pabrik. Namun, tak ada satupun lamarannya yang di terima karena belum ada yang membutuhkan karyawan lagi.
"Ya ampun, susah banget cari kerja. Bensin Haris udah tinggal sedikit lagi, ini mending isi perut sama isi bensin dulu deh," ucap Hana.
Saat melewati sebuah restoran Hana membelokan sepeda motornya, bukan untuk makan di sana melainkan untuk melamar pekerjaan. Namun, lagi-lagi ia di tolak hingga ia berjalan gontai keluar dari restoran tersebut.
"Hana, kamu ngapain di sini?"
"Eh, Bu Rosa. Ibu sudah sembuh? Saya sedang melamar pekerjaan, Bu," jawab Hana.
"Ya, saya sudah di perbolehkan pulang. Kamu sedang mencari pekerjaan, bukankah kamu kemarin bekerja di mall sebagai SPG?" tanya Rosa.
"Iya kemarin tapi hari ini sudah tidak lagi, saya dipecat karena terlalu lama meninggalkan pekerjaan," ucap Hana.
"Ya Tuhan, pasti karena kamu menolong saya kemarin ya?" tanya Rosa dengan rasa bersalah.
Melihat mimik wajah wanita paruh baya di hadapannya membuat Hana merasa tidak enak. Memang iya kemarin gara-gara menolong beliau, tapi keadaan diperparah karena adanya macet di jalan.
"Bukan gara-gara ibu kok, Mungkin emang rezeki saya di sana sudah selesai dan saya harus mencari pekerjaan lain," ucap Hana.
"Ngomong-ngomong kamu sudah makan siang belum?" tanya Rosa.
Hana menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rosa, wanita paruh baya itu pun mengajak Hana untuk makan di restoran tersebut. Meskipun awalnya menolak, tapi Rossa terus membujuk Hana hingga akhirnya Hana mau makan bersama wanita paruh baya tersebut.
"Kamu lulusan apa, siapa tahu bisa saya bantu untuk mencarikan pekerjaan. Saya ada teman yang memiliki perusahaan Siapa tahu kamu bisa bekerja di perusahaannya," ucap Rossa.
"Saya lulusan SMK, Bu. Kalau melamar di perusahaan paling saya jadi office girl, tapi nggak apa-apa Kalau ada saya mau," ucap Hana.
"SMK ya, agak sulit sih. Kamu bisa masak engga?" tanya Rosa.
"Bisa, Bu. Waktu sekolah saya ambil jurusan tata boga, dan di rumah juga sering membantu ibu masak karena Saya anak pertama," ucap Hana.
"Kalau gitu kamu kerja di rumah saya aja, kebetulan saya lagi mencari koki," ucap Rosa.
"Saya bukan koki, Bu. Tapi kalau untuk masak saya bisa cuma ya nggak sepandai koki, walaupun wajah saya memang mirip chef Renata," ucap Hana.
Rosa terkekeh mendengar ucapan Hana, meskipun sedang terlihat sedih tapi Gadis itu masih mengeluarkan kata-kata candaan yang membuat sifat cerianya tidak hilang. Setelah selesai makan di restoran tersebut Hana mengikuti mobil Rossa menuju kediaman Rossa.
Setelah beberapa Puluh menit berkendara akhirnya mobil yang ditumpangi Rossa masuk ke dalam rumah mewah yang membuat Hana melebarkan bola matanya.
"Waw ... Ini rumah apa istana?" gumam Hana.
Setelah memarkirkan motornya di belakang mobil Rosa, Hana pun turun dan mengikuti langkah Rosa.
"Kita langsung ke dapur aja ya, Saya mau tes kamu masak dulu, Kalau bagus dan sesuai selera saya kamu langsung kerja besok di rumah saya," ucap Rosa.
"Iya, Bu. Semoga masakan saya cocok di lidah ibu," ucap Hana.
Mereka berjalan menuju dapur melalui pintu belakang dekat garasi, setelah itu Hana langsung diminta untuk memasak beberapa. Dua menu masakan rumah, dua pasta, dan dia jenis desert.
Setelah satu jam setengah Hana berhasil menyelesaikan masakannya dan langsung di hidangkan di meja makan. Rosa menghirup aroma lezat dari makanan tersebut dan langsung mencicipi nya.
"Enak. Semua makanan ini enak dan rasanya tidak ada yang gagal," ucap Rosa.
"Jadi?" tanya Hana