Bab 1

"Ibu, kenapa ada foto suami saya di sini?" tanya Hana.

"Suami? Bukankah kamu masih gadis, lalu siapa yang kamu maksud suami?" tanya Rosa.

"Bu Rosa, itu foto besar yang ada di dinding adalah foto suami saya," ucap Hana dengan wajah berbinar-binar.

Rosa melihat ekspresi wajah Hana yang nampak seperti orang kasmaran, lalu mengikuti arah pandangannya. Wanita paruh baya itu pun tertawa ketika menyadari foto siapa yang sedang di pandang oleh Hana.

"Memangnya sejak kapan kamu menikah dengan Dave?" tanya Rosa.

"Semenjak di terjun ke dunia entertainment, oh ya lagu pertamanya membuat saya jatuh cinta. Wajahnya yang tampan dan suaranya yang merdu membuat saya tidak bisa berpaling pada lelaki lain," ucap Hana masih dengan ekspresi wajah yang sama.

"Hana, bagaimana kalau kamu salah mengidolakan orang?" tanya Rosa seraya menatap kembali wajah Hana.

"Tidak mungkin saya salah, Bu. Dave begitu perfek dimata saya. Dia tak hanya tampan dan multi talenta, tapi juga selalu ramah kepada fans," jawab Hana dengan semangat.

"Kalau kenyataannya dia sombong tidak seperti di depan kamera gimana?" tanya Rosa.

"Saya tetap cinta, Bu. Dave adalah cinta pertama dan terakhir saya," ucap Hana.

Rosa tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ia melanjutkan langkahnya dan meminta Bi Tuti kembali menunjukan kamar untuk Hana. Namun, Hana mengatakan hal yang membuat Risa terkejut.

"Bu, boleh gak foto itu buat saya. Nanti saya pajang di kamar saya, jadi kan berasa tidur sama suami tiap malam," ucap Hana.

"Jangan yang itu nanti orangnya bisa marah, saya akan kasih kamu foto Dave yang tak kalah besar dari itu."

"Emang siapa yang marah, Bu?"

"Dave, siapa lagi."

"Gak akan marah, Bu. Dave itu baik seperti malaikat, lagian kan dia gak tahu kalau fotonya di pinta sama saya."

"Astaga Hana, Hana. Kamu lucu banget sih! Dave kamu sebut malaikat, asal kamu tahu dia itu aslinya seperti Devil."

"Ibu, jangan fitnah suami saya seperti itu. Dave itu malaikat di hati saya, ibu hatersnya ya, jangan fitnah seperti itu kalau gak tahu seperti apa aslinya Dave."

"Bu Rosa gak fitnah. Jelas dia tahu seperti apa Tuan Dave, wong dia yang melahirkan Tuan Dave kok!"  Bi Tuti akhirnya angkat suara karena tidak tahan mendengar Hana yang selalu membanggakan Dave.

Hana terkejut bukan main mendengar ucapan Bi Tuti. Ia meminta Bi Tuti mengulang ucapannya, tapi Bi Tuti tidak mau dan menarik Hana menuju kamar yang akan ia tempati.

"Ini kamar kamu Hana, nanti kerjaan kamu masak, belanja keperluan dapur, dan mengurus dapur. Pokoknya semua yang berkaitan dengan makanan dan peralatan makan kamu yang urus, ingat ya jaga kebersihan dan perhatikan gizi dari makanan yang kamu masak setiap hari," ucap Bi Tuti.

"Iya, Bi. Kalau kerjaan rumah yang lain gimana?" tanya Hana.

"Itu sudah ada pekerja lain, tapi gak nginep. Dia bersih-bersih bagian rumah lantai bawah, dan saya lantai atas. Kalau kamu mau kamu boleh bersihkan kamar Tuan Dave, sebenarnya saya pusing setiap bersihkan kamar dia selalu salah dan kena marah," ucap Bi Tuti.

"Dave Darian maksud bibi?" tanya Hana tak percaya.

"Iya, suami halu kamu tuh. Kamarnya ada di lantai dua paling ujung kanan. Nanti malam dia pulang, gak tahu sih pulang jam berapa. Kamu pagi jam 8 kasih sarapan ke kamarnya, terus kalau dia sudah berangkat baru bersihkan kamarnya," ucap Bi Tuti.

Hana diam memegangi dadanya yang berdebar, tiba-tiba ia berteriak membuat Bi Tuti terkejut. "Aaaahhh ... Mimpi apa aku bisa kerja di rumah suami sendiri."

"Wong edan. Belum tahu aja dia Tuan Dave kaya gimana!"

Hari ini Hana baru saja di terima bekerja di rumah Bu Rosa, setelah di pecat dari pekerjaannya. Hana di pecat karena menolong orang yang tempo hari pingsan di tempat nya bekerja.

Hana sebelumnya bekerja di mall di tempatkan sebagai SPG underwear, jika turun produk dan model baru banyak laporan yang harus dia kerjakan dan yang paling menyebalkan jika ada ibu-ibu yang sudah mengacak-acak underwear tapi tidak jadi beli hingga Hana harus merapihkan barang itu kembali.

"Permisi Mbak, ini model terbaru dari merk soleram ya?" tanya seorang wanita paruh baya.

"Iya benar sekali, Bu. Mau cari yang seperti apa?" tanya Hana dengan ramah.

"Saya cari yang cup nya besar, tapi busanya jangan terlalu tebal dan jangan ada kawatnya ya!" ucap ibu tersebut.

"Oh ada kok yang seperti itu, sebentar saya carikan!" ucap Hana.

Hana mengambil beberapa pcs bra yang di inginkan oleh wanita paruh baya tersebut, wanita itu tersenyum karena Hana memberikan barang sesuai dengan apa yang dia mau, ia pun memilih warna yang cocok untuk dia.

"Ini saya suka, saya ambil 5 pcs ya Mbak," ucap wanita paruh baya tersebut.

"Baik, terima kasih saya akan buatkan nota, nanti ibu bayar di kasir ya!" ucap Hana.

Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengangguk, ia memegangi kepala yang sejak tadi terasa pusing dan dadanya sesak. Saat Hana hendak memberikan nota tersebut ibu-ibu paruh baya itu tiba-tiba pingsan dan jatuh di hadapannya.

"Astagfirullah ... Bu, Ibu bangun," ucap Hana panik.

Hana meminta tolong hingga ibu-ibu tersebut di angkat oleh security yang ada di mall. Beberapa menit di beri minyak angin dan pijitan, tetapi tidak membuat ibu itu sadar.

"Pak bawa ke rumah sakit aja, saya takut dia kenapa-kenapa," ucap Hana.

"Ayo bawa, tapi kamu sebagai penanggung jawab karena dia pingsan saat bersama kamu," ucap security.

Hana mengangguk, ia khawatir melihat wajah wanita itu tampak pucat. Teringat dengan ibunya di kampung yang mungkin umurnya hampir sama dengan wanita paruh baya tersebut.

Setelah sampai di rumah sakit, Hana kebingungan karena tidak tahu siapa nama wanita itu. Hingga akhirnya memberanikan diri membuka tasnya dan mencari dompetnya untuk menemukan kartu identitas wanita tersebut.

"Namanya bu Rosa Amalia," ucap Hana pada suster.

"Kami akan tangani, ibu ini terkena serangan jantung. Mbak silahkan urus administrasi nya ya!" ucap perawat tersebut.

Hana berjalan ke bagian administrasi, saat di minta membayar biaya penanganan di rumah sakit ia kebingungan. Karena di dompet wanita itu hanya ada uang cash berjumlah seratus ribu dan tidak cukup untuk membayar administrasi. Ada atm dan kredit card, tapi Hana tidak tahu password nya.

Hana memegang benda yang melingkar di lehernya, satu-satunya barang berharga yang ia punya.

"Mbak, tolong beri penanganan untuk Bu Rosa. Saya jual kalung saya dulu untuk bayar administrasi, dompet ini sebagai jaminan di dalamnya ada ATM dan kredit card jadi saya tidak akan kabur," ucap Hana.

"Iya boleh Mbak, kami masih memberi waktu untuk Mbak sampai bisa membayar administrasinya," ucap petugas administrasi tersebut.

Hana berlari lalu menaiki ojek untuk sampai ke toko perhiasan dan menjual kalungnya, setelah itu kembali ke rumah sakit dan membayar administrasi.

Setelah membayar administrasi Hana di beritahu oleh perawat jika Bu Rosa sudah di pindah ke ruang rawat.

"Ibu sudah sadar?" tanya Hana.

"Kamu yang membawa saya ke rumah sakit?" tanya Rosa.

"Iya, ibu pingsan di depan saya, setelah di bawa ke rumah sakit kata dokter ibu kena serangan jantung. Untung saya cepat bwa kesini, kalau enggak saya ikut kena serangan jantung juga kalau ada apa-apa sama ibu," ucap Hana.

"Terima kasih banyak ya, siapa nama kamu?" tanya Rosa.

"Nama saya Hana, Bu. Oh ya ini tas ibu, tadi saya cari uang untuk mengurus administrasi, tapi hanya ada seratus ribu, ada ATM dan kredit card tapi gak tahu password nya jadi isinya masih utuh tidak saya sentuh, Bu," ucap Hana.

"Lalu bagaimana membayar administrasinya?" tanya Rosa.

"Saya jual kalung saya, biar ibu dapat penanganan dulu biar selamat," ucap Hana.

Rosa memandang Hana dengan sendu, ia tak menyangka masih ada orang baik yang mau menolong orang padahal tidak mengenal orang tersebut.

"Terima kasih sudah menolong saya, Hana. Saya akan ganti uang kamu, saya minta nomor handphone kamu ya!" Rosa menyodorkan telepon genggamnya pada Hana.

Hana mencatat nomor ponselnya ke ponsel wanita paruh baya itu lalu ia kembalikan ke pemiliknya. Setelah itu Rosa menelpon anaknya untuk mengabari kondisinya.

Tak lama kemudian seorang lelaki datang ke ruangan tersebut.

Bab 2

"Randy, mana Dave?" tanya Rosa.

"Dia lagi syuting dan tidak bisa izin, Tante. Jadi saya yang kesini, Tante tidak apa-apa?" tanya Randy asisten pribadi sang anak.

"Saya mungkin sudah tidak bernyawa jika wanita ini tidak menolong saya. kamu ambil uang di Atm lalu ganti uang Hana!" ucap Rosa.

"Iya Tante, Mbak terima kasih sudah menolong Tante Rosa," ucap Randy.

"Sama-sama. Karena sudah ada yang menjaga jadi saya pamit untuk kembali bekerja ya!" ucap Hana.

Rosa mengangguk, setelah uangnya di ganti Hana pun kembali ke mall tempatnya bekerja. Sialnya jalan menuju tempat kerjanya macet parah bahkan kendaraan sulit bergerak.

"Ada apa sih, Pak. Kok macet banget?" tanya Hana yang berulang kali melihat jam di pergelangan tangannya.

"Ada syuting di depan katanya, Mbak. Artisnya yang namanya Dave katanya," ucap supir.

Mendengar nama idolanya Hana lupa akan segalanya, ia turun dari angkot tanpa membayar, meski di teriaki ia seperti tak mendengar. Hana berlari untuk melihat idolanya yang sedang melakukan syuting di jalan itu.

"Beneran Dave. Ternyata aslinya ganteng banget," ucap Hana.

Dengan tangan bergetar Hana meraih ponsel di saku lalu menyalakan kamera, ia merekam aktivitasnya yang berada di dekat lokasi syuting sang idola.

"Guys liat, tuh ada Dave Darian. Aslinya ganteng banget kan!" ucap Hana dengan ekspresi sangat senang.

Setelah selesai merekam ia meng-upload vidio tersebut ke story WhatsApp dan akun sosial media miliknya. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, Hana terkejut melihat nama orang di layar ponselnya.

"Matilah aku!" seru Hana seraya memukul pelan keningnya

Ponsel Hana terus berdering, wanita cantik itu ragu harus mengangkat atau mengabaikannya. Tapi ia kini sadar jika ia dalam masalah dan harus segera datang ke tempat kerjanya.

"Haduh gimana ini, jalan macet lagi," ucap Hana.

Gadis itu berlari di pinggir trotoar hingga beberapa kilometer sampai terlihat kemacetan tidak separah tadi.

"Bang ojek bang, anter saya ke mall Galaxi Square," ucap Hana.

"Saya bukan ojek pangkalan, Mbak. Harus pakai aplikasi," ucap abang-abang berjaket hijau tersebut.

"Please banget antar saya, nanti saya kasih dua puluh ribu deh sampai mall," ucap Hana.

"Yah si Mbak gimana sih, emang tarifnya segitu dari sini ke mall sana. Kalau gak pakai aplikasi nanti saya rugi Mbak," ucap Abang Ojol itu.

Hana menengok ke kanan dan kiri, di daerah tersebut memang tidak ada pangkalan ojek. Jika naik angkot pasti lama sampai karena masih sedikit macet dan terkadang angkot menunggu penumpang lain untuk naik atau turun di jalan.

"Yaudah saya kasih lima puluh ribu mau gak, Bang?" tanya Hana.

"Ya udah deh, saya juga lagi sepi order. Dari pada gak dapat uang sama sekali, gak apa-apa gak pakai aplikasi juga," ucap Abang Ojol itu.

Hana pun menaiki motor matic milik Abang Ojol, mereka berhenti di depan mall 20 menit kemudian. Sesuai yang dijanjikan Hana ia memberikan uang lima puluh ribu untuk perjalanan tersebut. Setelah turun dari motor Hana langsung berlari menuju tempatnya bekerja. Dengan nafas tersengal-sengal dan rambut mulai berantakan Hana sampai di tempatnya dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lidia.

"Keruangan saya sekarang!" ucap Lidia.

Hana mengangguk dan mengekori langkah Lidya menuju ruangan leadernya tersebut. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Lidya kepadanya. Omelan pasti sudah pasti ia dapatkan dari dia yang akan membuat telinganya panas sepanjang hari.

Sesampainya di ruangan, Lidya langsung berkata dengan nada tinggi kepada Hana.

"Enak ya, orang-orang kerja kamu malah dateng ke lokasi syuting. Kamu mau makan gaji buta di sini, kamu pikir ini perusahaan bapak moyangmu!" Hardik Lidia.

"Maaf Mbak. Tadi hanya kebetulan saja," jawab Hana.

"Kamu pikir saya gak tau kalau kamu fans berat artis bernama Dave itu! Lihat casing handphone kamu saja foto dia, pasti saat kamu tahu dia syuting di sana kamu sengaja datang dan meninggalkan pekerjaan, Kan!" ucap Lidia.

"Mbak, saya benar-benar kebetulan lihat Dave syuting tadi. Kan Mbak Lidia tahu saya nganterin pelanggan yang tiba-tiba pingsan di sini tadi," ucap Hana.

"Alasan kamu tidak bisa diterima, terhitung sudah 2 jam lebih kamu keluar dari pekerjaan yang harusnya kamu kerjakan. Jika hanya mengantar ibu-ibu tadi, setengah jam harusnya sudah cukup," ucap Lidya.

"Saya tadi membantu mengurus administrasi Ibu itu, Mbak!" ucap Hana.

Hana tidak mungkin menceritakan kepada Lidya jika ia juga sempat ke toko perhiasan untuk menjual kalungnya, dan ia yang biayai administrasi rumah sakit ibu-ibu yang ia tolong tersebut.

"Harusnya cukup mengantarkannya saja ke rumah sakit, sampai di sana kamu bisa menelpon keluarganya, kan! Intinya alasan kamu tidak bisa saya terima, apalagi ini sudah beberapa kali kamu melakukan kesalahan yang sama," ucap Lidya.

Hana hanya bisa menunduk, memang bukan hanya sekali ia membantu seseorang yang membutuhkan dan melupakan pekerjaannya, hingga membuat leadernya itu marah kepadanya.

"Kamu sudah saya kasih surat peringatan sebanyak tiga kali, sesuai dengan SOP yang berlaku di sini, kamu dipecat karena tidak bisa profesional dalam bekerja," ucap Lidya.

Hana terkejut dan mendongakkan kepalanya, ia menatap leadernya itu dengan mata berkaca-kaca. Sudah 2 tahun ia bekerja di mall tersebut menjadi SPG di bagian underwear. Meskipun terkadang kesal mendengar omelan Lidya yang terasa panas di telinganya, tapi hanya tetap menjalankan pekerjaannya karena Ia membutuhkan uang untuk bertahan hidup, ia juga harus mengirimkan ke kampung untuk membantu ibunya membiayai sekolah adiknya.

"Mbak Lidya Saya minta maaf, Saya janji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Tolong jangan pecat saya," ucap Hana memohon.

"Pada saat diberikan surat peringatan yang ketiga kamu juga mengatakan hal ini, tapi nyatanya kamu tetap melakukan hal yang sama. Jadi saya tidak bisa percaya dengan janji kamu, dan kamu harus membereskan barang-barang hari ini," ucap Lidya.

Hana terus memohon kepada Lidya, tetapi Lidya tidak goyah dengan keputusannya. Menurutnya apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang memang jadi peraturan di tempat kerjanya.

Hana berjalan gontai keluar dari ruangan Lidya, lalu membereskan barang-barangnya di loker kemudian berpamitan pada teman-temannya.

"Makanya Hana, jadi orang jangan terlalu baik. Jangan kebiasaan jadi pahlawan kesiangan, kamu boleh menolong orang tapi juga ingat dengan pekerjaan kamu. Kalau sudah begini kan kamu sendiri yang susah," ucap Meli.

"Iya, Meli. Ya sudahlah mungkin emang rezeki aku di sini sudah habis. Aku harus berjuang untuk mencari pekerjaan yang lain," ucap Hana dengan nada lirih.

"Kamu jangan hapus nomor aku ya, nanti kalau ada info lowongan pekerjaan aku kabarin," ucap Meli.

Bab 3

"Iya, Meli. Ya sudahlah mungkin emang rezeki aku di sini sudah habis. Aku harus berjuang untuk mencari pekerjaan yang lain," ucap Hana dengan nada lirih.

"Kamu jangan hapus nomor aku ya, nanti kalau ada info lowongan pekerjaan aku kabarin," ucap Meli.

"Terima kasih, Mel. Semoga kamu awet kerja di sini, aku pamit ya!" ucap Hana.

"Semoga kamu cepat dapat pekerjaan juga ya!" ucap Meli memeluk Hana sebelum Hana pergi.

Meli salah satu teman terbaik Hana saat bekerja. Ia tahu jika Hana bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk dikirimkan ke kampung halamannya, sehingga ketika mendengar hanya dipecat Meli ikut merasa sedih.

Hana berjalan gontai keluar dari mall tersebut, ia mengingat sisa uang yang ia punya. Uang dari Bu Rosa sebagai ganti kalung yang sudah ia jual.

"Tinggal dua juta lagi, semoga aku cepat dapat kerja sehingga uang ini tidak habis dipakai keperluan sehari-hari," gumam Hana.

Satu minggu yang lalu memang Hana sudah gajian, tapi ia juga harus membayar kost, kasbon saat makan, membeli keperluan bulanan, dan sebagian di kirim ke kampung. Gaji Hana memang pas-pasan, tapi Hana selalu bersyukur dengan apa yang ia dapatkan secara halal.

Keesokan harinya

"Han, mau kemana?" tanya Haris.

Orang tua Haris adalah pemilik kost tempat Hana tinggal, rumahnya dekat dengan tempat kost tersebut sehingga setiap hari selalu bertemu dengan Hana dan mereka menjadi dekat setelah 2 tahun Hana menyewa kost di sana.

"Mau nyari kerja, nyoba lamar di pabrik-pabrik kayanya," ucap Hana.

"Pakai motorku nih. Kalau naik kendaraan umum nanti uangmu habis untuk ongkos," ucap Haris.

"Beneran boleh pinjam?" tanya Hana.

"Bener, cepat ni sebelum aku berubah pikiran," ucap Haris.

Hana tersenyum dan menerima kunci motor tersebut, ia akhirnya pergi menggunakan motor matic milik Haris. Sementara Haris hanya tersenyum melihat kepergian Hana.

"Haris, motor mamah mana? Mama mau kepasar," ucap Arum.

Haris tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena ia meminjamkan motor kesayangan mamahnya pada Hana tanpa izin.

"Aku pinjemin sama Hana. Kasihan dia, Mah. Abis di pecat dari tempat kerja dan sekarang mau cari kerjaan," ucap Haris.

"Ih ... Kamu nih, mau kasih pinjem gak bilang-bilang. Kenapa motor mamah bukan motor kamu aja!" ucap Arum.

"Motor aku kopling dia gak bisa, Mah," ucap Haris.

"Lagian kamu aneh, baiknya sama Hana aja. Sama penghuni kost lain jangankan baik, nyapa aja enggak. Kamu suka ya sama Hana?" tanya Arum.

"Mamah bilang tadi mau kepasar, Kan? Yuk aku antar pakai motorku, aku tunggu sampai mamah selesai belanja!" ucap Haris.

Arum menggelengkan kepalanya, ia curiga anak bungsunya itu menyukai Hana. Gadis itu memang baik, selama tinggal di tempat kost tidak pernah berbuat macam-macam, selalu membayar tepat waktu. Bahkan beberapa kali Arum melihat Hana membantu orang-orang yang terlihat tidak mampu.

Arum dan Haris pergi kepasar tanpa mempermasalahkan lagi motor matic yang di pakai Hana.

Sementara Hana kini sudah mendatangi beberapa gedung perkantoran, mall, dan pabrik-pabrik. Namun, tak ada satupun lamarannya yang di terima karena belum ada yang membutuhkan karyawan lagi.

"Ya ampun, susah banget cari kerja. Bensin Haris udah tinggal sedikit lagi, ini mending isi perut sama isi bensin dulu deh," ucap Hana.

Saat melewati sebuah restoran Hana membelokan sepeda motornya, bukan untuk makan di sana melainkan untuk melamar pekerjaan. Namun, lagi-lagi ia di tolak hingga ia berjalan gontai keluar dari restoran tersebut.

"Hana, kamu ngapain di sini?"

"Eh, Bu Rosa. Ibu sudah sembuh? Saya sedang melamar pekerjaan, Bu," jawab Hana.

"Ya, saya sudah di perbolehkan pulang. Kamu sedang mencari pekerjaan, bukankah kamu kemarin bekerja di mall sebagai SPG?" tanya Rosa.

"Iya kemarin tapi hari ini sudah tidak lagi, saya dipecat karena terlalu lama meninggalkan pekerjaan," ucap Hana.

"Ya Tuhan, pasti karena kamu menolong saya kemarin ya?" tanya Rosa dengan rasa bersalah.

Melihat mimik wajah wanita paruh baya di hadapannya membuat Hana merasa tidak enak. Memang iya kemarin gara-gara menolong beliau, tapi keadaan diperparah karena adanya macet di jalan.

"Bukan gara-gara ibu kok, Mungkin emang rezeki saya di sana sudah selesai dan saya harus mencari pekerjaan lain," ucap Hana.

"Ngomong-ngomong kamu sudah makan siang belum?" tanya Rosa.

Hana menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rosa, wanita paruh baya itu pun mengajak Hana untuk makan di restoran tersebut. Meskipun awalnya menolak, tapi Rossa terus membujuk Hana hingga akhirnya Hana mau makan bersama wanita paruh baya tersebut.

"Kamu lulusan apa, siapa tahu bisa saya bantu untuk mencarikan pekerjaan. Saya ada teman yang memiliki perusahaan Siapa tahu kamu bisa bekerja di perusahaannya," ucap Rossa.

"Saya lulusan SMK, Bu. Kalau melamar di perusahaan paling saya jadi office girl, tapi nggak apa-apa Kalau ada saya mau," ucap Hana.

"SMK ya, agak sulit sih. Kamu bisa masak engga?" tanya Rosa.

"Bisa, Bu. Waktu sekolah saya ambil jurusan tata boga, dan di rumah juga sering membantu ibu masak karena Saya anak pertama," ucap Hana.

"Kalau gitu kamu kerja di rumah saya aja, kebetulan saya lagi mencari koki," ucap Rosa.

"Saya bukan koki, Bu. Tapi kalau untuk masak saya bisa cuma ya nggak sepandai koki, walaupun wajah saya memang mirip chef Renata," ucap Hana.

Rosa terkekeh mendengar ucapan Hana, meskipun sedang terlihat sedih tapi Gadis itu masih mengeluarkan kata-kata candaan yang membuat sifat cerianya tidak hilang. Setelah selesai makan di restoran tersebut Hana mengikuti mobil Rossa menuju kediaman Rossa.

Setelah beberapa Puluh menit berkendara akhirnya mobil yang ditumpangi Rossa masuk ke dalam rumah mewah yang membuat Hana melebarkan bola matanya.

"Waw ... Ini rumah apa istana?" gumam Hana.

Setelah memarkirkan motornya di belakang mobil Rosa, Hana pun turun dan mengikuti langkah Rosa.

"Kita langsung ke dapur aja ya, Saya mau tes kamu masak dulu, Kalau bagus dan sesuai selera saya kamu langsung kerja besok di rumah saya," ucap Rosa.

"Iya, Bu. Semoga masakan saya cocok di lidah ibu," ucap Hana.

Mereka berjalan menuju dapur melalui pintu belakang dekat garasi, setelah itu Hana langsung diminta untuk memasak beberapa. Dua menu masakan rumah, dua pasta, dan dia jenis desert.

Setelah satu jam setengah Hana berhasil menyelesaikan masakannya dan langsung di hidangkan di meja makan. Rosa menghirup aroma lezat dari makanan tersebut dan langsung mencicipi nya.

"Enak. Semua makanan ini enak dan rasanya tidak ada yang gagal," ucap Rosa.

"Jadi?" tanya Hana

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED