Rasa penat yang melanda membuat Dinda memutuskan rehat sebentar. Di raihnya gawai di atas meja, tepat saat itu datanglah satu pesan.
"Hello!" sapa Shalu lewat pesannya yang datang.
"Hi!" jawab Dinda singkat.
"How r u?" katanya lagi, kembali pesannya hanya di singkat. "Hahh, apa memang udah biasa ya? Nulis di singkat-singkat gitu?" batin Dinda begitu membacanya.
"I am fine, and you?" jawab Dinda singkat lalu balik bertanya, sengaja memang dirinya memilih kata-kata yang singkat sadar diri akan kemampuannya.
"Ok, l am fine," jawaban yang datang dari Shalu.
Melihat ke layar gawai yang masih menyala senyum tipis terbit dari bibirnya. Ada pemberitahuan kalau Shalu mencoba melakukan panggilan video. Hal yang tak mungkin bisa, karena memang sengaja tak menginstal aplikasi meseger.
Tak pernah akan dia lupa saat memasang aplikasi itu di hari ke dua. Seseorang yang baru di konfirm pertemanannya, melakukan panggilan video tepat saat tengah malam.
"Kecilin suaranya!" kata Bayu suaminya dengan nada gusar. Segera Dinda menekan tanda menolak, dan melatakkan gawainya kembali. Dinda yang lupa mengaktifkan mode senyap menjadi ketar ketir saat terdengar ada pesan datang beberapa kali.
"Huahh!"
Terdengar suaminya menguap namun di hati Dinda dapat menangkap nada protes dari suaminya. Takut akan menjadi masalah dirinya hanya diam tak bersuara, namun dalam hatinya terucap janji tak akan lagi lupa mengaktifkan mode senyap menjelang waktu tidur.
Drrrrttt Drrrrrttt.
Getar gawai membangunkannya tanda sudah waktunya untuk bangun dan mempersiapkan bekal minum untuk suaminya yang hendak berangkat bekerja.
"Kasih tahu temanmu! Lain kali kalau mau telpon suruh siang hari!" kata Bayu, sepertinya kesal masih tersimpan di hatinya.
"Ya," jawab Dinda pelan tak ingin menambah kekesalan suaminya.
"Ambilkan masker!" perintah Bayu yang sedang sibuk bersiap-siap. Dinda pun segera berlalu ke kamar untuk mengambil masker seperti perintah suaminya. Saat masker di sodorkan pada Bayu, kembali suaminya berkata, "Kalau nggak penting blokir dia!"
"Ya nanti," sahut Dinda pelan.
"Send me your whatsapp number!" Kembali satu pesan datang dari Shalu membuyarkan lamunan Dinda.
"Next time," jawab Dinda yang masih sedikit trauma. Jadi Dia bilang lain kali saja.
"Ok" balas Shalu mengerti, namun kembali Dia mengirim pesan gambar.
"Wow," teriak Dinda dalam hati. Bagaimana matanya tak akan terbuka lebar melihat deretan kain sharee yang sangat memanjakan wanita.
"Send me other," pintanya agar memperlihatkan sisi lain dari toko yang di jaga Shalu. Meski tak yakin kalau Shalu akan paham dengan keinginannya, bagaimanapun Dia sadar kemampuan bahasa lnggrisnya.
"Call me!" jawab Shalu yang ternyata tahu maksud pesan darinya. Dan ternyata Dia mengirim gambar foto sebelahnya, isinya sama. Kain yang cantik di gantung berjejer rapi.
"Oh no," kata pesan yang di kirimnya buat Shalu.
"Why? What happen?" balas Shalu bertanya kenapa dan ada apa, wajar saja Dia heran.
"My headache," jawab Dinda jujur, bagaimana tidak sakit kepalanya melihat banyak kain cantik berjajar cantik. Pekerjaannya sebagai penjahit pasti membuatnya kepingin memiliki saat melihat kain yang motifnya cantik.
Kali ini datang lagi pesan dari shalu dengan emoji orang tertawa. Dan lalu di susul sebuah ucapan, "Thank you!"
"For?" tanya Dinda yang heran kenapa justru bukan dirinya yang berterima kasih.
"Your friendship, l am lonely," jawabnya, lalu kembali datang pesannya yang benar-benar membuat Dinda cukup terkejut, " l hate my life!"
"Apa? Dia berterimakasih hanya karena berteman dengannya?" batinnya sambil membaca ulang pesan yang baru saja datang.
"Dia kesepian, dan membenci hidupnya? Apa yang sebenarnya telah di laluinya?" batinnya kembali di penuhi beberapa pertanyaan. Akhirnya Dinda memberanikan diri mengetik beberapa huruf dan mengirimnya, "You married?"
Sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya kembali Dia perbikir etis apa tidak ya sudah bertanya menikah atau tidak.
"Yes, but unlucky," katanya. Dinda hanya menunggu pesan yang sedang di ketik Shalu, namun benaknya merasa heran mengapa Dia bisa berkata tak beruntung.
"I am married diforce women, but just four month together she was die by accident," terang Shalu. Membacanya membuat mulut Dinda terkunci, pantas saja Dia bilang tak beruntung. Hanya empat bulan usia pernikahannya dengan wanita yang sudah janda, lalu istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan.
Pantas saja Shalu merasa kesepian, empat bulan pernikahan tentu waktu yang singkat untuk sebuah pernikahan.
Ting.
Datang lagi pesan berupa gambar wanita bule bersama seorang gadis kecil, wajah keduanya hampir mirip dan semua terlihat cantik.
" Your wife?" tanya Dinda tapi hatinya sangat yakin kalau Dia benar.
"Yes," jawab Shalu singkat, membuatnya merasa sedikit tak enak dalam hati.Dalam benaknya terlintas pemikiran kalau tlah membuka luka di hati Shalu yang baru beberapa hari di kenalnya. Akhirnya Dia mengirim pesan permintaan maaf, " So sorry."
"No problem," jawaban yang di terimanya membuatnya sedikit lega.
"Send me your whatsapp number," kata Shalu lagi dalam pesannya baru saja. Dinda yang merasa tak enak akhirnya memberikan juga nomor kontak whatsappnya.
"Ok," katanya lalu mengirim gambar setangkai mawar merah di sertai tulisan, "Thank you."
Tiba- tiba saja ada panggilan masuk, tak segera di terimanya Dia justru mengamati nomor yang terasa asing apalagi dua nomor depannya. Tapi rasa penasaran membuatnya menekan tombol hijau tanda terima.
Sedikit melebar kelopak matanya saat seraut wajah nampak di layar gawainya. Meski sudah pernah melihatnya tak urung Dia sedikit terkejut melihatnya. Apalagi saat sebuah senyum tersungging di bibirnya, manis sekali. Hal yang tak pernah di lihatnya dari beberapa foto yang pernah di unggah Shalu. Hampir semua fotonya terlihat ekpresi datar dan sorot mata lelah.
"Hello!" sapanya, membuyarkan pikiran Dinda.
"H Hi!" sambut Dinda agak gugup. Bagaimanapun Dia tak yakin akan bisa mengimbangi kemampuan bahasa lnggrisnya Shalu.
"How are you?" lanjutnya berbasa basi.
"I am fine," jawab Dinda lalu balas bertanya, "And you?"
"Fine to, and ...."
"Sorry!" tukas Dinda memotong ucapan Shalu.
"Why?" tanya Shalu yang keheranan.
"Lunch time," jawab Dinda jujur, memang semua cacingnya sudah berteriak minta di isi.
"Ok, thank you," sahutnya penuh pengertian. Setelah beberapa detik Shalu tak juga menghentikan panggilan, akhirnya Dinda menekan tombol merah agar panggilan terhenti seakan tahu yang akan dilakukannya Shalu justru melambaikan tangan seraya berkata, "Bye."
Sekilas senyum terbit dari bibirnya, refleks senyumpun mengembang di bibir Shalu.
Dan sejak hari itu hampir tiap dua atau tiga hari sekali Shalu minta ijin untuk melakukan panggilan video. Untunglah Dia selalu mengirim pesan lebih dulu, dan tak sekalipun langsung memanggil.
"Ahh benar-benar pria sopan Dia," kata Dinda dalam hati. Dinda memang tak salah menilai karena Shalu selalu bertanya lebih dulu apakah dia sedang sibuk atau tidak, dan bertanya kapan Dinda ada waktu untuk menerima panggilannya.
Seiring waktu yang berjalan Dinda menjadi nyaman saat berbincang dengan Shalu, meski sering tak bisa memahami maksud ucapannya namun Shalu selalu telaten mengulang ucapannya dan sesekali tangannya memperagakan maksud ucapannya.
Dinda yang sudah terbiasa berbincang dengan Shalu merasa ada yang aneh dalam hatinya saat lima hari berlalu namun tak ada kabar apapun darinya. Kini Dia mulai menyadari kalau dirinya sudah memberikan permintaan Shalu yang dulu dianggapnya angin lalu.
"Give me a small place in your heart!" ucapan Shalu saat video callnya yang ketiga kali. Yah saat panggilan hendak di akhiri Shalu meminta sedikit tempat dalam hatinya.
"Not promise," jawab Dinda saat itu karena memang tak ingin memberikan janji apapun. Toh dirinya sudah punya suami dan anak. Meskipun di akuinya saat ini hatinya tengah rapuh. Sudah dua kali Dia meminta nomor kontak gawai baru Bayu suaminya, dua kali pula Dia harus menelan kecewa.
Namun tetap saja hatinya merasa bersalah pada suaminya, dan sebelum semua terlanjur jauh maka dia memutuskan untuk berhenti menerima video call dari Shalu.
3
Keputusan Dinda telah bulat kini, jika nanti mereka berbincang Dia akan meminta Shalu berhenti menelponnya. Dirinya yakin akan sulit mengendalikan perasaannya lagi. Seperti tahu kalau sekarang sudah waktunya istirahat, satu pesan datang dari Shalu.
"Hello!" sapanya seperti biasa. Lalu kembali datang satu pesan seperti biasanya, "Can i video call you now?"
Yah Dia selalu bertanya, apakah bisa melakukan panggilan video. Tak pernah sekalipun langsung menelpon. Sikapnya yang sopan justru membuat Dinda sungkan untuk menolak, "Yes," jawabnya.
Tak menunggu waktu lama gawainya bergetar, Shalu benar saja Shalu yang memanggilnya. Segera di tekannya tombol tanda terima. Nampaklah wajah Shalu di layar, meski ada rasa heran di benaknya mengapa wajahnya terlihat agak sedikit pucat. Namun tekadnya sudah bulat untuk berhenti berbicara dengan Shalu.
"Hallo!" sapa Shalu lalu seperti biasanya menanyakan apa kabar Dinda, " How are you?"
"I am fine and you?" jawabnya yang memang baik-baik saja. Sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam akhirnya Dinda berkata, " Sorry."
"Why?" Shalu menyahut karena penasaran, wajar saja Dia merasa begitu obrolan baru beberapa menit dan Dinda sudah meminta maaf.
"Stop your call!" ucap Dinda dengan suara berat seperti ada beban di hatinya.
"What?" tanya Shalu seakan tak percaya akan permintaan Dinda agar berhenti memanggilnya.
"Stop your call!" Dinda mengulangi perkataannya lalu menggigit kedua bibirnya sendiri untuk mengurangi rasa sakit di dalam hatinya. Seketika matanya membulat melihat tangan kanan Shalu yang memegang dada sebelah kirinya, kemudian bernafas dengan tersengal sengal.
"Oh no! Sorry ... sorry ... sorry!" buru-buru Dinda meminta maaf setelah sadar apa yang sudah terjadi.
"Ya Alloh jangan sampai terjadi," Doa Dinda dalam hati air matanya menetes membasahi pipi melihat Shalu yang berguling kekanan kekiri sambil tetap memegangi dadanya. Melihatnya sulit bernapas Dinda sangat ketakutan.
"Shalu sorry ... sorry," kembali Dinda meminta maaf lalu berkata lagi, "You can call me any time, when you want!"
Dia hanya berharap rasa sakit Shalu mereda, jadi Dia tak peduli lagi akan niatnya berhenti berhubungan. Sebab itulah Dia mengijinkan Shalu menelponnya kapan saja Dia ingin. Dinda sangat takut jika penyakit Shalu menjadi fatal.
"So sorry Shalu," kata Dinda putus asa melihat Shalu yang masih kesulitan bernapas namun perlahan mulai tenang. Dinda segera meletakkan gawainya di meja dan menyandarkannya pada gelas.
"Sorry ... sorry," ucapnya dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada, sementara air mata tetap mengalir dari sudut mata membasahi wajahnya.
"Oh no, stop this!" ujar Shalu masih sedikit tersengal dan menggeleng gelengkan kepala.
"Sorry!" katanya lalu panggilan terhenti.
Melihat Shalu yang menghentikan panggilan membuat Dinda semakin merasa bersalah. Dia yang biasanya hanya menerima panggilan kini memanggil lebih dulu. Panggilan yang pertama tak diangkat, namun tak mau menyerah kembali di tekannya tombol hijau tanda panggilan.
Hatinya melonjak senang saat panggilan keduanya di angkat. "Are you ok?" katanya, terlihat nada cemas dari suaranya.
"Yes," katanya dengan wajah yang terlihat pucat namun sudah tenang. Kembali Dinda menyatukan tangan di depan sambil berkata meski serak, "So sorry ... please forgive me!"
"No!" sahut Shalu cepat sembari menggelengkan kepala, "Please never doing again" katanya meminta agar jangan pernah melakukannya lagi sambil menyatukan ke dua telapak tangan di dada, "Promise me!"
Dinda yang masih menyesal menganggukkan kepala.
"Never block me," pintanya. Senyumnya terkembang melihat Dinda menganggukkan kepala cepat. Seakan tak yakin dengan jawaban Dinda sekali lagi Shalu bertanya, "You sure will never block me?"
"Yes, l am promise you!" sahut Dinda yakin tak akan pernah memblokirnya.
"Thank you," katanya berterima kasih.
"Are you ok," tanya Dinda yang masih merasa bersalah, dapat terlihat jelas di matanya wajah itu lebih pucat dari tadi saat pertama berbincang.
"Yes!" Namun tangan kanannya terlihat sesekali memegang dadanya.
"Please go to your doctor," pinta Dinda agar Shalu pergi ke dokter.
"No this time," jawabnya lalu tersenyum seraya berkata, "Two days again,"
"Why," tanya Dinda penasaran kenapa harus menunggu dua hari lagi.
"To day the doctor going out of city," jelasnya kalau dokternya sedang pergi ke luar kota.
"But don't worry! I am after drink medicine," lanjutnya meminta agar Dinda tak khawatir karena dirinya sudah minum obat.
"Realy?" sahut Dinda tak percaya.
"Yes!" katanya lagi sambil berusaha tersenyum berusaha meyakinkan Dinda.
Melihat senyum tersungging di wajah Shalu membuat hati Dinda merasa lega. Ketakutannya yang berkurang membuatnya tersenyum lega.
"Thanks," katanya berterima kasih kemudian. Tadi sempat terlintas di benaknya pikiran buruk, jika Shalu keadaannya memburuk pasti sulit untuk sekedar memaafkan dirinya sendiri.
"Ok," jawab Shalu yang masih berusaha tersenyum, lalu kembali berkata, "Sorry."
"Why?" buru Dinda yang heran kenapa Shalu meminta maaf.
"I want sleep, effect medicine,"
yang merasa ngantuk efek dari obatnya.
"Ok, good sleep ... and good rest!" sahut Dinda mengucapkan selamat tidur dan beristirahat.
Dinda menghirup napas dalam dan membuangnya cepat begitu panggilan terhenti. Rasa lega menyelimuti hatinya.
Kini Dia menyadari kalau hanyalah seorang manusia biasa, yang hanya bisa pasrah menjalani semua takdirnya.
Tuhan pasti memberikan semua yang terbaik buat umatnya, Dia bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya.
Dua hari berlalu tanpa ada kabar dari Shalu, meski ada rasa khawatir namun Dinda hanya bisa berdoa agar Shalu baik-baik saja. Terkadang ada keinginan untuk menghubungi lebih dulu tapi takut mengganggu istirahatnya, jadi Dinda hanya bisa menunggu. Suara tanda ada pesan masuk membuat Dinda tersadar dari lamunan. Penuh harapan Dinda membuka menghidupkan gawainya, "Semoga ini dari Shalu" batinnya.
"Hello," sapanya lewat pesan yang datang.
"Hi," balas Dinda senang.
"Can l call you?" katanya meminta ijin melakukan panggilan.
"Yes," sahut Dinda.
Terlihat wajah segar di layar gawai membuat Dinda senang. Shalu juga ikut tersenyum membuatnya terlihat sangat manis.
"How are you?" sapanya dengan senyum yang masih tersungging.
"I am fine, and you?" jawab Dinda tetap bertanya bagaimana keadaan Shalu sekarang.
"Fine to," jawabnya.
"How time you going doctor?" tanya Dinda begitu ingat kalau sekarang dokternya mungkin sudah pulang. Jadi Dia menanyakan kapan Shalu akan pergi.
"In afternoon, he back this morning," terang Shalu jika Dia akan pergi sore nanti karena dokternya pulang pagi ini.
"Ok, take care!" kata Dinda meminta agar Shalu nanti berhati-hati.
"Ok, you to," jawab Shalu kembali tersenyum, dan meminta agar Dinda juga berhati-hati.
Saat panggilan berakhir ada pesan masuk dari Shalu, mata Dinda melebar ketika membuka pesannya. Nampak sebuah tangan yang memegang setangkai mawar merah dan bertuliskan kata, "l love you."
Sadar akan kemampuan bahasanya yang minim membuat Dinda berpikir bagaimana besok jika Shalu kembali menelpon. Tidak mungkin juga hanya bertanya kabar dan basa basi lainnya. "Kenapa tidak minta di ajari bahasanya Shalu ya?" Timbul ide untuk belajar bahasa negerinya Shalu. Senyumnya terkembang membayangkan hari esok.