1. The Tittle : Seputih Mawar.
Adinda tak pernah menyangka kalau hatinya yang sedang rapuh akan terbelah oleh kehadiran Shalu. Duda tampan dari negeri seberang yang gigih menunjukkan rasa sukanya tanpa peduli Dinda akan terima atau tidak. Sudah berulang kali Dinda mencoba menjauh namun pada akhirnya menyerah saat tanpa sengaja melihat Shalu kumat penyakit jantungnya, semua karena ucapannya. Dan ketika Shalu menodongkan senjata di kepalanya sendiri, tanpa sengaja isi hati Dinda terungkap.
Pagi yang dingin karena embun baru saja turun membuat Dinda malas melakukan pekerjaan rumahnya. Dia lebih memilih kembali ke tempat tidur dan masuk dalam selimut bermaksud kembali melanjutkan memejamkan mata. Namun karena tak jua terlelap akhirnya jemari tangannya meraih gawai yang ada di meja kecil samping tempat tidur.
" lt's you!"
Entah kenapa tangannya mengetik kalimat itu pada foto yang di unggah Shalu,tanpa peduli akan di balas atau tidak.Namun hati Dinda merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin bertanya.
" Yes."
Tak di duganya kalau Shalu akan membalas komentarnya.Karena sejak inbox yang pertama kali, Shalu tak pernah lagi lagi membalas inbox dari Dinda.
" Good morning!" sapa Dinda yang mengira kalau di negaranya Shalu saat itu juga sudah pagi.
" Very very morning this time," sahut Shalu. Membaca balasan dari Shalu yang bilang masih terlalu dini untuk di bilang pagi membuat Dinda sadar, kalau ada perbedaan waktu antara dua negara meskipun masih satu benua.
"How time in your place?" tanya Shalu kemudian.
"04.30 am ," jawab Dinda, ada sedikit rasa penasaran di hati nya jam berapa di sana. "And your time?"
" 03.00, and night coming in 20.00 pm," papar Shalu yang memberi tahu kalau waktu malam di mulai jam delapan.Itu berarti jam sembilan lewat tiga puluh menit.
" Sorry!" Dinda mengirim pesan permintaan maaf saat sadar kalau di tempat Shalu bahkan belum tengah malam.
"Why sorry?" tanya Shalu yang heran kenapa Dinda minta maaf.
" Disturb your rest time," jujur Dinda menjawab kalau sudah mengganggu waktu istirahat Shalu.
" Its ok," jawaban pesan dari Shalu,lalu kembali datang pesan selanjutnya, "No problem!"
"Realy?" tanya Dinda tak yakin .
"Yes!" jawaban dari pesan yang di terimanya membuat hatinya lega. Setidaknya Dia tak mengganggu waktu istirahat dari Shalu yang mungkin ingin memejamkan mata.
" Thank you!" pesan yang kembali datang membuat keningnya berkerut. Akhirnya Dinda mengetik pesan dan bertanya, "For?"
" Your messege!" jawaban dari Shalu justru dirasa aneh olehnya, "Bagaimana bisa berterima kasih hanya karena di kirim pesan," batinnya.
" Will you become my friend?" Datang lagi pesannya yang menurut Dinda terasa aneh. Bukankah mereka sudah berteman, tapi kenapa juga Shalu bertanya apa dirinya bersedia berteman.
"Why you asking? We friend in fb?" jawabnya bingung, bukan karena pertanyaan dari Shalu tapi lebih bingung bagaimana nanti melanjutkan obrolan mereka. Sudah tak banyak lagi kosakata bahasa Inggris yang di ingatnya.
"Yes, you are right!" jawab Shalu membenarkan Dinda kalau mereka sudah berteman di Fb. "Send me your WA !"
"Apa! Kasih no WA gimana nanti kalau dia minta ngobrol di sana?" pikirnya. Tapi bagaimana menolaknya dengan halus, kembali Dinda berpikir keras berusaha mengingat kata apa yang harus di katakan. Tidak etis kan tadi Dia yang ngajak ngobrol duluan langsung bilang no.
Akhirnya Dinda bisa bernapas lega saat ingat dua kata yang di rasa tepat untuk membalas pesan Shalu, segera jemarinya mengetikkan kata, "Next time," segera pesannya terkirim dan tak menunggu lama centang biru terlihat.
"Oky," jawaban dari Shalu segera datang.Dinda merasa kalau Shalu orang yang baik, tak mau memaksakan kehendaknya.
"Where your husband?" tanya Shalu yang membuatnya sedikit terkejut. Setelah satu dua kali inboxnya tak di balas oleh Shalu tentu saja Dinda pikir kalau Shalu pasti cuek dan lupa dengannya, apalagi menanyakan keberadaan suaminya.
" Go to his office," jawab Dinda jujur. Karena memang Bayu suaminya baru saja berangkat ke tempatnya bekerja.
" Whats your job?" tanya Shalu menanyakan profesi Dinda sekarang, tentu saja Dia senang karena ada teman berbalas pesan.
"Sewing at home!" Dinda menjawab dengan jujur kalau Dia hanya penjahit rumahan. Tapi dalam hatinya ada sedikit rasa takut kalau Shalu bertanya lagi mungkin tak akan bisa menjawab. Bahasa lnggris yang di kuasainya cuma ada beberapa kata yang masih dia ingat.
" And you?" tanya balik Dinda pada Shalu.
" Just shopkeeper!" jawab shalu. Entah apakah Dia jujur atau tidak Dinda tak berani bertanya meski sedikit tak percaya. "Bagaimana mungkin seorang pramuniaga bajunya bagus semua," batinnya dalam hati.
" You not shy?" pesan dari Shalu yang menanyakan apa dia tidak malu membuat kening Dinda berkerut. Sambil berpikir dia lalu menjawab pesan itu dan bertanya, "Why?"
" Your friend just shopkeeper," terang Shalu kembali menegaskan kalau dirinya hanya seorang pramuniaga. Dan kembali datang pesannya yang seperti sebuah keluhan, "l am not rich man!"
Membaca pesan yang baru saja datang dari Shalu yang mengatakan kalau dirinya bukan orang kaya membuat Dinda paham maksud pertanyaan dari Shalu. "We same," hanya itu balasnya, karena nggak tahu gimana ngomongnya kalau dirinya juga bukan orang yang banyak duit. Bahkan terkadang Dinda tak pegang uang sama sekali, untung semua anaknya udah ngerti jadi mereka nggak minta uang jajan sama sekali.
"Realy! You not shy?" tegas Shalu seakan tak percaya kalau Dinda tak malu berteman dengannya.
" Yes!" jawab Dinda cepat.
" Thank you," kata Shalu berterimakasih membuat Dinda merasa heran lantas cepat bertanya, " Thanks for?"
" Your friendship!" katanya, Dia berterimakasih atas pertemanan dari Dinda, membacanya membuat senyum samar terbit di bibir Dinda.
" You are wellcome," balas Dinda, sambil melihat ke arah jendela nampak kalau gelap sudah pergi. Akhirnya Dia mengirim pesan serta berpamitan pada Shalu, "Sorry!"
" Why?" balas Shalu cepat.
" l am must doing my home work!" ujarnya di sertai rasa sedikit bingung, bener tidak ya susunan kalimatnya.
" Ok!" jawab Shalu.
Tanpa membuang waktu lagi bergegas Dinda bangkit dan merapikan tempat tidur. Mulai pagi ini sengaja Dia tidak memasak, "Biar nanti Amel serta kedua adiknya belajar memasak sayur," ujarnya dalam hati.
Yah pengalamannya kemarin saat virus cikungunya menyerang tubuh Dinda, membuatnya berpikir keras bagaimana caranya agar semua putrinya mau belajar memasak di dapur. Apalagi mengingat mereka sudah tumbuh remaja, sudah waktunya belajar memasak.
Dan entah kenapa tiba-tiba dia berpikir kalau besok Dia akan menyuruh Amel serta adiknya untuk belajar bicara bahasa bule langsung dengan Shalu. "Bagaimana nanti kalau Ayah mereka tahu ya?" pikirnya kembali.
"Ah sudahlah, belum tentu juga mereka mau kan?" lanjut pikirnya sambil menyapu lantai .
Sambil meneruskan semua pekerjaan rumah kembali Dinda mengingat saat pertama kalinya berbalas pesan dengan Shalu. Begitu dirinya mengkonfirmasi permintaan pertemanannya.
"Hello!" sapa Shalu pertama kali.
"Hi" balasnya agak ragu, jujur di hatinya bingung bagaimana nanti lanjut ngobrolnya.
"How r u," kembali pesan datang dari Shalu. Karena yakin Shalu orang lndia di pikirnya itu bahasa lndia. Jadilah dengan penuh percaya diri membalas dengan kata, "Engglish please!"
"Ok, How are you!" Membaca jawaban pesan yang datang membuat Dinda menepuk keningnya keras dan sedikit mengeluh dalam hati, "Gapteknya aku! Itukan tadi singkatan."
"I am fine, and you?" balasnya setelah sadar kalau itu bukan bahasa lndia.
"Good, l am fine," sahut Shalu.
"You married?" lanjutnya lagi.
"Yes, i have three daughter," jawab Dinda jujur, kalau memang sudah memiliki tiga buah hati. Baginya tak ada masalah jika teman yang baru di kenalnya tahu status yang sebenarnya. Untuk beberapa saat tak ada lagi pesan datang dari Shalu.
Tingg!
Terdengar ada pesan datang saat Dinda baru saja meletakkan gawai di meja. Di bukanya pesan yang baru saja di terimanya, seketika matanya terbuka lebar melihat isi pesan itu. Satu buket besar penuh dengan bunga mawar dan satunya lagi setangkai mawar merah di vas terlihat sangat anggun sekali.
"Hmm apa maksudnya ya?" batinnya berkecamuk rasa heran.
"Take one pict!" Datang lagi pesan dari Shalu menyuruhnya agar memilih satu gambar.
"What means?" tanya Dinda kebingungan apa maksud dari permintaan Shalu.
"Nothing, but please tell me your choice!" pinta Shalu lewat pesannya. Akhirnya Dinda pun menuruti permintaannya, dan segera menimbang gambar mana yang akan di pilihnya.
"This one," jawab Dinda dengan mengirim gambar mawar merah yang ada dalam vas bunga.
"Ok, you good women," sahut Shalu.
"Thank you," balasnya berterima kasih atas pujian yang di terimanya.
"You are wellcome!" jawab Shalu.
"Bu! Bu! Ambilkan air minum!" Terdengar suara Mas Bayu dari depan rumah memanggilnya agar mengambilkan air minum.
"Ya bentar!" sahut Dinda. Bergegas meletakkan gawai di atas meja dan segera ke dapur mengambil air minum untuk Bayu suaminya. Segera di sodorkan air minum yang di bawanya pada sang suami yang baru saja selesai mencuci motor di depan rumah.
Saat itu entah kenapa netranya tertuju pada gawai baru suaminya ada sedikit heran dalam hati, sebab tak pernah sekalipun dirinya di telpon atau di kirim pesan dengan gawai baru itu.
"Mas berapa nomornya yang baru?" tanya Dinda memberanikan diri bertanya meski sedikit ada rasa takut di hatinya.
"Emang kenapa?" ketus Bayu membuat Dinda menghela napas yang terasa sedikit sesak.
"Nggak apa-apa," sahutnya pelan karena terselip sedikit kepiluan dalam hatinya. Seakan tanggap dengan suasana hati Dinda suaminya segera menoleh dan sedikit gusar berkata, "Nggak ada apa-apa di sana! Nggak perlu curiga!"
Tak mau memperpanjang masalah, Dinda kembali duduk di kursi ruang tamu dan meraih gawai yang tadi di tinggalkannya di meja. Kembali membuka inbox yang tadi di tinggalkannya begitu saja
Rasa penat yang melanda membuat Dinda memutuskan rehat sebentar. Di raihnya gawai di atas meja, tepat saat itu datanglah satu pesan.
"Hello!" sapa Shalu lewat pesannya yang datang.
"Hi!" jawab Dinda singkat.
"How r u?" katanya lagi, kembali pesannya hanya di singkat. "Hahh, apa memang udah biasa ya? Nulis di singkat-singkat gitu?" batin Dinda begitu membacanya.
"I am fine, and you?" jawab Dinda singkat lalu balik bertanya, sengaja memang dirinya memilih kata-kata yang singkat sadar diri akan kemampuannya.
"Ok, l am fine," jawaban yang datang dari Shalu.
Melihat ke layar gawai yang masih menyala senyum tipis terbit dari bibirnya. Ada pemberitahuan kalau Shalu mencoba melakukan panggilan video. Hal yang tak mungkin bisa, karena memang sengaja tak menginstal aplikasi meseger.
Tak pernah akan dia lupa saat memasang aplikasi itu di hari ke dua. Seseorang yang baru di konfirm pertemanannya, melakukan panggilan video tepat saat tengah malam.
"Kecilin suaranya!" kata Bayu suaminya dengan nada gusar. Segera Dinda menekan tanda menolak, dan melatakkan gawainya kembali. Dinda yang lupa mengaktifkan mode senyap menjadi ketar ketir saat terdengar ada pesan datang beberapa kali.
"Huahh!"
Terdengar suaminya menguap namun di hati Dinda dapat menangkap nada protes dari suaminya. Takut akan menjadi masalah dirinya hanya diam tak bersuara, namun dalam hatinya terucap janji tak akan lagi lupa mengaktifkan mode senyap menjelang waktu tidur.
Drrrrttt Drrrrrttt.
Getar gawai membangunkannya tanda sudah waktunya untuk bangun dan mempersiapkan bekal minum untuk suaminya yang hendak berangkat bekerja.
"Kasih tahu temanmu! Lain kali kalau mau telpon suruh siang hari!" kata Bayu, sepertinya kesal masih tersimpan di hatinya.
"Ya," jawab Dinda pelan tak ingin menambah kekesalan suaminya.
"Ambilkan masker!" perintah Bayu yang sedang sibuk bersiap-siap. Dinda pun segera berlalu ke kamar untuk mengambil masker seperti perintah suaminya. Saat masker di sodorkan pada Bayu, kembali suaminya berkata, "Kalau nggak penting blokir dia!"
"Ya nanti," sahut Dinda pelan.
"Send me your whatsapp number!" Kembali satu pesan datang dari Shalu membuyarkan lamunan Dinda.
"Next time," jawab Dinda yang masih sedikit trauma. Jadi Dia bilang lain kali saja.
"Ok" balas Shalu mengerti, namun kembali Dia mengirim pesan gambar.
"Wow," teriak Dinda dalam hati. Bagaimana matanya tak akan terbuka lebar melihat deretan kain sharee yang sangat memanjakan wanita.
"Send me other," pintanya agar memperlihatkan sisi lain dari toko yang di jaga Shalu. Meski tak yakin kalau Shalu akan paham dengan keinginannya, bagaimanapun Dia sadar kemampuan bahasa lnggrisnya.
"Call me!" jawab Shalu yang ternyata tahu maksud pesan darinya. Dan ternyata Dia mengirim gambar foto sebelahnya, isinya sama. Kain yang cantik di gantung berjejer rapi.
"Oh no," kata pesan yang di kirimnya buat Shalu.
"Why? What happen?" balas Shalu bertanya kenapa dan ada apa, wajar saja Dia heran.
"My headache," jawab Dinda jujur, bagaimana tidak sakit kepalanya melihat banyak kain cantik berjajar cantik. Pekerjaannya sebagai penjahit pasti membuatnya kepingin memiliki saat melihat kain yang motifnya cantik.
Kali ini datang lagi pesan dari shalu dengan emoji orang tertawa. Dan lalu di susul sebuah ucapan, "Thank you!"
"For?" tanya Dinda yang heran kenapa justru bukan dirinya yang berterima kasih.
"Your friendship, l am lonely," jawabnya, lalu kembali datang pesannya yang benar-benar membuat Dinda cukup terkejut, " l hate my life!"
"Apa? Dia berterimakasih hanya karena berteman dengannya?" batinnya sambil membaca ulang pesan yang baru saja datang.
"Dia kesepian, dan membenci hidupnya? Apa yang sebenarnya telah di laluinya?" batinnya kembali di penuhi beberapa pertanyaan. Akhirnya Dinda memberanikan diri mengetik beberapa huruf dan mengirimnya, "You married?"
Sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya kembali Dia perbikir etis apa tidak ya sudah bertanya menikah atau tidak.
"Yes, but unlucky," katanya. Dinda hanya menunggu pesan yang sedang di ketik Shalu, namun benaknya merasa heran mengapa Dia bisa berkata tak beruntung.
"I am married diforce women, but just four month together she was die by accident," terang Shalu. Membacanya membuat mulut Dinda terkunci, pantas saja Dia bilang tak beruntung. Hanya empat bulan usia pernikahannya dengan wanita yang sudah janda, lalu istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan.
Pantas saja Shalu merasa kesepian, empat bulan pernikahan tentu waktu yang singkat untuk sebuah pernikahan.
Ting.
Datang lagi pesan berupa gambar wanita bule bersama seorang gadis kecil, wajah keduanya hampir mirip dan semua terlihat cantik.
" Your wife?" tanya Dinda tapi hatinya sangat yakin kalau Dia benar.
"Yes," jawab Shalu singkat, membuatnya merasa sedikit tak enak dalam hati.Dalam benaknya terlintas pemikiran kalau tlah membuka luka di hati Shalu yang baru beberapa hari di kenalnya. Akhirnya Dia mengirim pesan permintaan maaf, " So sorry."
"No problem," jawaban yang di terimanya membuatnya sedikit lega.
"Send me your whatsapp number," kata Shalu lagi dalam pesannya baru saja. Dinda yang merasa tak enak akhirnya memberikan juga nomor kontak whatsappnya.
"Ok," katanya lalu mengirim gambar setangkai mawar merah di sertai tulisan, "Thank you."
Tiba- tiba saja ada panggilan masuk, tak segera di terimanya Dia justru mengamati nomor yang terasa asing apalagi dua nomor depannya. Tapi rasa penasaran membuatnya menekan tombol hijau tanda terima.
Sedikit melebar kelopak matanya saat seraut wajah nampak di layar gawainya. Meski sudah pernah melihatnya tak urung Dia sedikit terkejut melihatnya. Apalagi saat sebuah senyum tersungging di bibirnya, manis sekali. Hal yang tak pernah di lihatnya dari beberapa foto yang pernah di unggah Shalu. Hampir semua fotonya terlihat ekpresi datar dan sorot mata lelah.
"Hello!" sapanya, membuyarkan pikiran Dinda.
"H Hi!" sambut Dinda agak gugup. Bagaimanapun Dia tak yakin akan bisa mengimbangi kemampuan bahasa lnggrisnya Shalu.
"How are you?" lanjutnya berbasa basi.
"I am fine," jawab Dinda lalu balas bertanya, "And you?"
"Fine to, and ...."
"Sorry!" tukas Dinda memotong ucapan Shalu.
"Why?" tanya Shalu yang keheranan.
"Lunch time," jawab Dinda jujur, memang semua cacingnya sudah berteriak minta di isi.
"Ok, thank you," sahutnya penuh pengertian. Setelah beberapa detik Shalu tak juga menghentikan panggilan, akhirnya Dinda menekan tombol merah agar panggilan terhenti seakan tahu yang akan dilakukannya Shalu justru melambaikan tangan seraya berkata, "Bye."
Sekilas senyum terbit dari bibirnya, refleks senyumpun mengembang di bibir Shalu.
Dan sejak hari itu hampir tiap dua atau tiga hari sekali Shalu minta ijin untuk melakukan panggilan video. Untunglah Dia selalu mengirim pesan lebih dulu, dan tak sekalipun langsung memanggil.
"Ahh benar-benar pria sopan Dia," kata Dinda dalam hati. Dinda memang tak salah menilai karena Shalu selalu bertanya lebih dulu apakah dia sedang sibuk atau tidak, dan bertanya kapan Dinda ada waktu untuk menerima panggilannya.
Seiring waktu yang berjalan Dinda menjadi nyaman saat berbincang dengan Shalu, meski sering tak bisa memahami maksud ucapannya namun Shalu selalu telaten mengulang ucapannya dan sesekali tangannya memperagakan maksud ucapannya.
Dinda yang sudah terbiasa berbincang dengan Shalu merasa ada yang aneh dalam hatinya saat lima hari berlalu namun tak ada kabar apapun darinya. Kini Dia mulai menyadari kalau dirinya sudah memberikan permintaan Shalu yang dulu dianggapnya angin lalu.
"Give me a small place in your heart!" ucapan Shalu saat video callnya yang ketiga kali. Yah saat panggilan hendak di akhiri Shalu meminta sedikit tempat dalam hatinya.
"Not promise," jawab Dinda saat itu karena memang tak ingin memberikan janji apapun. Toh dirinya sudah punya suami dan anak. Meskipun di akuinya saat ini hatinya tengah rapuh. Sudah dua kali Dia meminta nomor kontak gawai baru Bayu suaminya, dua kali pula Dia harus menelan kecewa.
Namun tetap saja hatinya merasa bersalah pada suaminya, dan sebelum semua terlanjur jauh maka dia memutuskan untuk berhenti menerima video call dari Shalu.
3
Keputusan Dinda telah bulat kini, jika nanti mereka berbincang Dia akan meminta Shalu berhenti menelponnya. Dirinya yakin akan sulit mengendalikan perasaannya lagi. Seperti tahu kalau sekarang sudah waktunya istirahat, satu pesan datang dari Shalu.
"Hello!" sapanya seperti biasa. Lalu kembali datang satu pesan seperti biasanya, "Can i video call you now?"
Yah Dia selalu bertanya, apakah bisa melakukan panggilan video. Tak pernah sekalipun langsung menelpon. Sikapnya yang sopan justru membuat Dinda sungkan untuk menolak, "Yes," jawabnya.
Tak menunggu waktu lama gawainya bergetar, Shalu benar saja Shalu yang memanggilnya. Segera di tekannya tombol tanda terima. Nampaklah wajah Shalu di layar, meski ada rasa heran di benaknya mengapa wajahnya terlihat agak sedikit pucat. Namun tekadnya sudah bulat untuk berhenti berbicara dengan Shalu.
"Hallo!" sapa Shalu lalu seperti biasanya menanyakan apa kabar Dinda, " How are you?"
"I am fine and you?" jawabnya yang memang baik-baik saja. Sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam akhirnya Dinda berkata, " Sorry."
"Why?" Shalu menyahut karena penasaran, wajar saja Dia merasa begitu obrolan baru beberapa menit dan Dinda sudah meminta maaf.
"Stop your call!" ucap Dinda dengan suara berat seperti ada beban di hatinya.
"What?" tanya Shalu seakan tak percaya akan permintaan Dinda agar berhenti memanggilnya.
"Stop your call!" Dinda mengulangi perkataannya lalu menggigit kedua bibirnya sendiri untuk mengurangi rasa sakit di dalam hatinya. Seketika matanya membulat melihat tangan kanan Shalu yang memegang dada sebelah kirinya, kemudian bernafas dengan tersengal sengal.
"Oh no! Sorry ... sorry ... sorry!" buru-buru Dinda meminta maaf setelah sadar apa yang sudah terjadi.
"Ya Alloh jangan sampai terjadi," Doa Dinda dalam hati air matanya menetes membasahi pipi melihat Shalu yang berguling kekanan kekiri sambil tetap memegangi dadanya. Melihatnya sulit bernapas Dinda sangat ketakutan.
"Shalu sorry ... sorry," kembali Dinda meminta maaf lalu berkata lagi, "You can call me any time, when you want!"
Dia hanya berharap rasa sakit Shalu mereda, jadi Dia tak peduli lagi akan niatnya berhenti berhubungan. Sebab itulah Dia mengijinkan Shalu menelponnya kapan saja Dia ingin. Dinda sangat takut jika penyakit Shalu menjadi fatal.
"So sorry Shalu," kata Dinda putus asa melihat Shalu yang masih kesulitan bernapas namun perlahan mulai tenang. Dinda segera meletakkan gawainya di meja dan menyandarkannya pada gelas.
"Sorry ... sorry," ucapnya dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada, sementara air mata tetap mengalir dari sudut mata membasahi wajahnya.
"Oh no, stop this!" ujar Shalu masih sedikit tersengal dan menggeleng gelengkan kepala.
"Sorry!" katanya lalu panggilan terhenti.
Melihat Shalu yang menghentikan panggilan membuat Dinda semakin merasa bersalah. Dia yang biasanya hanya menerima panggilan kini memanggil lebih dulu. Panggilan yang pertama tak diangkat, namun tak mau menyerah kembali di tekannya tombol hijau tanda panggilan.
Hatinya melonjak senang saat panggilan keduanya di angkat. "Are you ok?" katanya, terlihat nada cemas dari suaranya.
"Yes," katanya dengan wajah yang terlihat pucat namun sudah tenang. Kembali Dinda menyatukan tangan di depan sambil berkata meski serak, "So sorry ... please forgive me!"
"No!" sahut Shalu cepat sembari menggelengkan kepala, "Please never doing again" katanya meminta agar jangan pernah melakukannya lagi sambil menyatukan ke dua telapak tangan di dada, "Promise me!"
Dinda yang masih menyesal menganggukkan kepala.
"Never block me," pintanya. Senyumnya terkembang melihat Dinda menganggukkan kepala cepat. Seakan tak yakin dengan jawaban Dinda sekali lagi Shalu bertanya, "You sure will never block me?"
"Yes, l am promise you!" sahut Dinda yakin tak akan pernah memblokirnya.
"Thank you," katanya berterima kasih.
"Are you ok," tanya Dinda yang masih merasa bersalah, dapat terlihat jelas di matanya wajah itu lebih pucat dari tadi saat pertama berbincang.
"Yes!" Namun tangan kanannya terlihat sesekali memegang dadanya.
"Please go to your doctor," pinta Dinda agar Shalu pergi ke dokter.
"No this time," jawabnya lalu tersenyum seraya berkata, "Two days again,"
"Why," tanya Dinda penasaran kenapa harus menunggu dua hari lagi.
"To day the doctor going out of city," jelasnya kalau dokternya sedang pergi ke luar kota.
"But don't worry! I am after drink medicine," lanjutnya meminta agar Dinda tak khawatir karena dirinya sudah minum obat.
"Realy?" sahut Dinda tak percaya.
"Yes!" katanya lagi sambil berusaha tersenyum berusaha meyakinkan Dinda.
Melihat senyum tersungging di wajah Shalu membuat hati Dinda merasa lega. Ketakutannya yang berkurang membuatnya tersenyum lega.
"Thanks," katanya berterima kasih kemudian. Tadi sempat terlintas di benaknya pikiran buruk, jika Shalu keadaannya memburuk pasti sulit untuk sekedar memaafkan dirinya sendiri.
"Ok," jawab Shalu yang masih berusaha tersenyum, lalu kembali berkata, "Sorry."
"Why?" buru Dinda yang heran kenapa Shalu meminta maaf.
"I want sleep, effect medicine,"
yang merasa ngantuk efek dari obatnya.
"Ok, good sleep ... and good rest!" sahut Dinda mengucapkan selamat tidur dan beristirahat.
Dinda menghirup napas dalam dan membuangnya cepat begitu panggilan terhenti. Rasa lega menyelimuti hatinya.
Kini Dia menyadari kalau hanyalah seorang manusia biasa, yang hanya bisa pasrah menjalani semua takdirnya.
Tuhan pasti memberikan semua yang terbaik buat umatnya, Dia bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya.
Dua hari berlalu tanpa ada kabar dari Shalu, meski ada rasa khawatir namun Dinda hanya bisa berdoa agar Shalu baik-baik saja. Terkadang ada keinginan untuk menghubungi lebih dulu tapi takut mengganggu istirahatnya, jadi Dinda hanya bisa menunggu. Suara tanda ada pesan masuk membuat Dinda tersadar dari lamunan. Penuh harapan Dinda membuka menghidupkan gawainya, "Semoga ini dari Shalu" batinnya.
"Hello," sapanya lewat pesan yang datang.
"Hi," balas Dinda senang.
"Can l call you?" katanya meminta ijin melakukan panggilan.
"Yes," sahut Dinda.
Terlihat wajah segar di layar gawai membuat Dinda senang. Shalu juga ikut tersenyum membuatnya terlihat sangat manis.
"How are you?" sapanya dengan senyum yang masih tersungging.
"I am fine, and you?" jawab Dinda tetap bertanya bagaimana keadaan Shalu sekarang.
"Fine to," jawabnya.
"How time you going doctor?" tanya Dinda begitu ingat kalau sekarang dokternya mungkin sudah pulang. Jadi Dia menanyakan kapan Shalu akan pergi.
"In afternoon, he back this morning," terang Shalu jika Dia akan pergi sore nanti karena dokternya pulang pagi ini.
"Ok, take care!" kata Dinda meminta agar Shalu nanti berhati-hati.
"Ok, you to," jawab Shalu kembali tersenyum, dan meminta agar Dinda juga berhati-hati.
Saat panggilan berakhir ada pesan masuk dari Shalu, mata Dinda melebar ketika membuka pesannya. Nampak sebuah tangan yang memegang setangkai mawar merah dan bertuliskan kata, "l love you."
Sadar akan kemampuan bahasanya yang minim membuat Dinda berpikir bagaimana besok jika Shalu kembali menelpon. Tidak mungkin juga hanya bertanya kabar dan basa basi lainnya. "Kenapa tidak minta di ajari bahasanya Shalu ya?" Timbul ide untuk belajar bahasa negerinya Shalu. Senyumnya terkembang membayangkan hari esok.