Berjuta ide yang masuk ke hati helen dari temannya, membuat helen menjadi bangkit semangat baru, dengan segala rencana akan ia lakukan demi bima seorang pria sederhana dan pintar di sekolahnya.
***
"Oya Vik, kita mampir dulu ke warung Bu Siti ya?" Ajak bima sebari memarkirkan motornya.
"Mau ngapain Bim?" Tanya Vika, ia hanya menunggunya di motor saja.
"Aku di suruh Ibu buat beli beras," Jawabnya tanpa rasa malu, dengan ke sederhanaannya bima memang tidak seperti anak-anak yang lain.
"Oh, oke deh aku tunggu di sini saja ya." Sahutnya sebari menatap lekat pria tampan yang lama di kaguminya.
Vika yang telah lama menunggu sebuah kata yang indah dari bibir bima, namun tidak juga ia dapatkan, vika hanya berangan saja kalau suatu saat nanti bima bisa bilang kalau dia sangat menyukainya.
Segala perhatian dan simpatiknya telah vika dapatkan dari bima namun kata cinta sepertinya masih bima rahasiakan, entah karena malu atau apa yang jelas bima adalah tipe cowok yang tidak mudah untuk mengatakan cintanya sekali pun ia begitu menyukai seorang gadis itu.
Pribadinya yang susah di tebak, membuat banyak perempuan yang merasa GR banget jika mendapat perhatian darinya.
Usai membeli beras bima dan vika melanjutkan kembali perjalanannya, sampai di rumah vika langsung masuk sejenak ia merebahkan badannya di atas sofa hanya melepas rasa lelah.
***
Sedangkan helen dan ketiga temannya ia masih berada di tempat biasa ia nongkrong, helen anak orang kaya kedua orang tuanya seorang pembisnis, keduanya selalu sibuk dengan kerjaannya.
Sedari kecil helen hanya hidup bersama seorang suster yang mengasuhnya, helen merasa ia tidak punya kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah ibunya, helen hanya mendapat kasih sayang dari bi sani aja seorang asisten rumah tangga yang sangat baik dan perhatian kepadanya.
Tiap kali helen minta di temani oleh ibunya namun selalu saja sibuk, dari itu lah sikap helen menjadi berubah menjadi seorang gadis liar, ia sering keluar malam dan pulang tengah malam layaknya anak laki-laki.
"Len, balik yu udah pukul 04 nih," Ucap anggun merasa takut kena tegur oleh ayahnya.
"Ah payah lu, dasar anak Mami!" Cetus helen dengan tawa kecilnya.
"Lu balik aja deh duluan, gue masih betah di sini." Lanjut helen sebari kembali memakan cemilan yang di sajikan oleh bu salma.
"Ya udah gue balik duluan ya Len," Pamit anggun seraya meraih tas sekolahnya yang di taruh di atas meja.
"Gue ikut Gun," Ucap rosa kemudian ia pun bangkit dan pamit sama helen.
Helen kini tinggal berdua bersama dea.
"Lu gak pulang juga De?" Tanya helen sebari memutar bola matanya ke arah dea yang masih duduk dan memainkan gawainya.
"Di rumah Gak ada yang ngarepin gue pulang Len," jawab dea dengan pandangannya yang datar.
"Loh kenapa Lu?" Tanya helen heran.
"Gue gak punya Ibu Len, Ayah gue menikah lagi. Gue di rumah tinggal sendiri!"
"Emm. Lu sabar ya Dea mungkin nasib kita sama. Gue juga kalau pulang gak ada yang nungguin gue." Ucap helen dengan hati yang sangat kesal, karena kedua orang tuanya yang lebih mentingin uang dan bisnisnya di banding putrinya sendiri.
"Bukannya Lu enak ya Len, Lu punya segalanya. Iri gue sama lu."
"Lu salah, gue gak dapat kasih sayang tulus dari nyokap gue, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing De, mereka sama sekali gak ada waktu buat gue." Geram helen seolah tidak kuat lagi memendam rasa kesalnya.
"Mereka kerja kan buat Lu Len, buat bahagiain lu."
"Hah, sudah lah gak usah bahas soal itu, enek gue. Kita balik yu?" Ajak helen setelah ia puas berada di tempat itu.
Dea hanya mengangguk pelan seraya bangkit dan mengikuti helen masuk ke dalam mobil mewah milik helen.
Helen mengemudi mobilnya dengan santai musik yang berisik menemani perjalannya, helen seolah sudah hilang rasa ia hanya tau gimana caranya untuk membuat jiwanya tenang dan bahagia.
Helen membeli semua yang di inginkannya oleh uang kedua orang tuanya, ia tidak merasa takut sama sekali kalau uangnya habis.
****
"Oya Bim, habis sekolah disini kamu rencana kemana?" Tanya seorang gadis cantik yang duduk di sampingnya di bawah pohon cemara yang biasa bima pake ketika lagi sendiri, namun vika selalu tiba-tiba datang membuang bayangan buruknya.
"Gak kemana-mana Vik, aku di sini saja nungguin kamu," Candanya dengan senyuman tulusnya.
Vika tertunduk mendengar ucapan bima, yang seolah hendak mengungkap perasaannya saat ini.
"Lebay."
"Ya udah kalau gak mau," Ucap bima seraya menatap wajah vika yang masih menunduk, tidak berani menatap kedua bola mata indah milik seorang pria yang ada di sampingnya.
"Lagian sih! Aku tanya serius. Canda mulu." Sahut vika dengan perlahan mengangkat wajahnya memberanikan diri untuk melihat wajah bima.
Bima yang masih menatapnya kini menjadi berpadu hingga empat mata saling bertatapan.
Deg!
Debaran jantung dua insan dak dik duk tak menentu, rona wajah cantik vika kini bagaikan buah tomat yang matang.
"Emm. Bim aku masuk dulu ya, aku lupa kalau aku lagi menanak nasi di dapur." Alasannya seraya berlari meninggalkan bima sendirian.
Ya Tuhan! Kenapa aku tidak bisa jujur tentang perasaanku? Aku sangat mencintainya.
Gumam bima dengan membuang nafas dalam, tatapannya mengiringi langkah kaki vika hingga lenyap tak terlihat lagi.
Vika memasuki kamarnya lalu ia berdiri di balik pintu kamarnya, dengan kedua tangan memeluk dadanya yang merasakan getaran aneh.
Bima apa kamu merasakan hal yang sama, seperti yang aku rasakan saat ini?
Bisik hati vika kedua matanya terpejam berusaha membuang semua rasa yang kini hinggap di hatinya.
Vika melangkah lambat menghampiri tirai kamarnya, ia ingin melihat kembali bima yang ternyata masih ada di situ, bima menatap kosong.
Ingin sekali ia mengungap rasa cintanya untuk vika, namun bima teringat tentang rencana kedua orang tua vika yang akan mengirim vika ke luar negri untuk melanjutkan kuliahnya.
Bima rasanya tidak akan sanggup jika harus berpisah jauh dengan vika, seorang gadis yang sangat di cintainya, sedangkan vika pergi bukanlah waktu yang sebentar, bima membayangkan kepergian vika yang hendak meninggalkannya jauh dari tempat itu.
Rasanya ingin sekali bima melarang vika untuk pergi, dan memilih menikah saja dengannya, tapi bima yang hanya hidup seadanya ia tidak akan mampu untuk membuat vika bahagia, bima hanya berdoa saja supaya apa yang di inginkan vika segera tercapai dan segera kembali lagi, bima yakin jika memang vika adalah jodohnya, vika pasti akan kembali untuknya dan ia pun akan setia mrnunggunya.
Tapi jika tidak mungkin hanya saling berdoa saja semoga selalu bahagia bersama siapa pun yang menjadi pendampingnya.
Tengah malam tiba helen berjalan dengan sangat pelan-pelan, ia takut kalau ayah dan ibunya bangun, helen perlahan menutup pintu rumahnya.
Helen begitu terkejut ketika melihat lampu rumahnya tiba-tiba menyala, helen serentak membalik badannya ke belakang, seketila itu helen kaget ternyata tak seberapa jauh darinya tengah berdiri kedua orang tuanya dengan menatapnya begitu tajam.
"Mom, Dad!" Sapanya dengan wajah yang pucat pasi, helen tidak menyangka kalau ayah dan ibunya akan mengetahui bahwa helen tidak ada di kamarnya.
Biasanya juga mereka kalau pulang dari kantornya langsung tidur.
"Dari mana saja kamu Helen? Pulang sampai larut malam begini!" Tanya ardi ayahnya helen.
"Apa kamu tidak tau, bahwa ini sudah tengah malam. Apa yang kamu lakukan di luar sana Helen?" Sambung fitri ibunya helen.
Helen menunduk ia masih berdiri terpaku di belakang pintu, fitri melangkah lambat mendekati putrinya, ia akui memang helen jauh dari perhatiannya, karena kesibuk-kan bisnisnya hingga fitri banyak meninggalkan putrinya bersama bi sani.
"Hel, Momy sama Dady pergi pagi pulang sampai larut malam, itu semua demi kamu sayang, demi masa depan kamu! Momy mohon kamu jangan bikin Momy sama Dady kecewa Nak." Lanjut fitri perlahan menyungar lembut rambut helen yang hanya membisu di hadapannya.
"Jawab Momy Nak, dari mama saja kamu?"
"Helen dari rumah teman Mom," Jawabnya tanpa berani menatap wajah fitri.
"Ke rumah temen, tapi kenapa harus malam Hel?"
"Mom, Helen bete di rumah, Momy gak ada Dady gak ada. Helen pengen Mom seperti yang lain. Mendapat kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu. Dari kecil helen hanya tau cuma Bi Sani saja Mom, kapan Helen dapat perhatian Momy sama Dady?" Tutur helen tiba-tiba matanya berkaca-kaca, helen sangat berharap semua itu di dapatkan dari fitri seorang ibu yang telah melahirkannya.
"Helen, Momy bekerja meninggalkan kamu, itu semua demi masa depan kamu Nak. Demi kebahagiaan kamu!" Tegas fitri seraya menatap putrinya lebut.
"Kebahagiaan apa maksud Momy, Helen butuh perhatian Momy. Helen rindu belaian lembut Momy." Sahut helen bulir-bulir bening mengalir membasih pipinya.
"Sejak kapan kamu bicara seperti itu Helen? Siapa yang telah mengajarkanmu untuk melawan kepada orang tua?" Timpal ardi sangat geram melihat tingkah putrinya yang tidak mengerti dengan pekerjaan orang tuanya.
"Tidak ada yang mengajariku Dad, aku hanya melihat kebahagiaan teman sekolahku sejak kecil pun aku melihat teman-temanku mereka selalu di antar oleh ibunya, sedangkan aku. Aku hanya di antar oleh Bi Sani!" Lirihnya kian menyayat, helen begitu merindukan belaian manja dari seorang ibu.
"Helen cukup!" Bentak ardi hendak menampar putrinya.
"Tampar saja aku Dad, tampar!" Teriak helen di iringi isak-kan tangisnya.
Tangan ardi hanya terbang di angan saja ia sangat tidak mampu jika harus menyakiti putri tunggalnya, helen adalah putri satu-satunya yang sangat ia sayangi.
"Hel, Dad cuma khawatir sama kamu, jika seorang anak gadis harus pulang di tengah malam begini. Dady sama Momy tidak ingin kamu kenapa-napa." Ucapan ardi berubah menjadi lembut, tangannya perlahan ia turunkan kembali, helen anak manja sedari kecil ardi sama fitri menitipkannya kepada bi sani, dengan harap helen harus baik-baik saja.
Helen bergegas berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia menutup pintu kamarnya kasar seketika itu helen menjatuhkan badannya di atas tempat tidur.
Fitri mengejar helen kemudian ia mengetuk-ngetuk pintu kamarnya namun helen tetap tidak menghiraukannya, helen menangis tersedu di atas tempat tidurnya.
Fitri akhirnya kembali turun dan langsung menuju kamarnya karena rasa lelah ia tertidur pulas hingga pagi menjemput.
***
Pagi yang indah begitu terang di hiasi sang surya yang tersenyum ceria menyambut semua insan, vika bangun lebih awal hari ini adalah hari terakhir ia duduk di kelas 2 SMA, vika tidak sabar ingin segera melihat nilai raportnya tahun ini, setelah kemarin kalah sama anggun sahabatnya helen.
"Sayang berangkat sekarang yu?" Ajak aghata sebari tersenyum tipis, menatap putrinya, vika yang masih bersolek di depan cermin.
"Iya Ma, Mama tunggu di luar aja ya, sebentar lagi Vika selsai kok!" Jawabnya dengan menatap ibunya dari balik cerim yang ada di depannya, ada rasa bangga di hati vika saat itu, mempunyai seorang ibu seperti aghata yang selalu perhatian dan peduli kepadanya.
"Oke Mama tunggu di luar ya, jangan lama-lama."
"Iya Ma!" Sahut vika sebari melanjutkan kembali mengambil sebuah make up yang tersedia di meja riasnya.
"Bu apa Vika sudah siap?" Tanya sari ibunya bima yang baru saja keluar dari rumahnya hendak menemani bima untuk mengambil rapotnya.
"Belum Bu, masih nunggu." Jawab aghata sambil tersenyum ramah, aghata dan sari mereka begitu sangat dekat layaknya seorang sahabat dari kecil.
"Selamat pagi semuanya?" Sapa vika dengan sopan ketika melihat ada sari, ibunya bima sedang mengobrol bersama ibunya.
"Pagi Vika, wah cantik banget kamu Nak," Puji sari sebari memandangi vika dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Tante bisa aja deh!" Sahutnya malu-malu di lihatin seperti itu oleh sari.
"Oya Tan, Bima kok belum kelihatan?" Lanjut vika sambil celinguk-kan mencari bima.
"Oh, iya Bima masih di rumah Nak, mungkin sebentar lagi selsai." Jawab sari sebari menggandeng tangan vika mengajaknya untuk duduk sejenak sambil menunggu bima keluar, setelah bima keluar kemudian mereka semua pada berangkat bersama naik mobil milik burhan ayahnya vika.
***
Helen yang masih bermalas-malasan ia serentak bangun, seketika itu ia ingat bahwa hari ini semua murid harus di temani oleh ibunya masing-masing bahwa hari ini di kelas ada pembagian raport.
Helen bergegas bangun ia begitu cepat berlari turun melewati satu-persatu anak tangga sambil memanggil-manggil ibunya.
"Mom …. Momy ...Momy!" Panggil helen seraya mengetuk pintu kamar ibunya, namun tak ada sahutan dari dalam kamarnya, helen akhirnya ia hanya bisa bersandar di balik pintu kamar fitri dengan tanpa semangat.
Hari yang sangat bahgia buat dirinya kini hancur sudah karena ibunya tidak bisa menemaninya, helen mengambil benda kecil yang masih di genggaman tangannya, ia mencoba untuk menghubungi fitri, ibunya dengan harapan hari ini ibunya bisa mengerti dan mau menemaninya meski hanya satu hari saja.
Tut … tut …
Nyaring bunyi ponsel dari dalam tas fitri satu sampai dua kali ia tidak mengangkatnya karena lagi sibuk dengan komputernya, namun sepertinya helen tidak pernah lelah untuk terus menghubunginya kembali sebelum telponnya di angkat oleh fitri, seorang ibu yang sangat ia rindukan.
Fitri akhirnya mengakat telpon dari helen setelah beberapa kali ia mengulang panggilannya.
"Hallo Hel, ada apa sayang? Maaf Momy lagi meeting Nak, nanti saja ya telponnya!"
"Tapi Mom! Momy jangan di tutup dulu …"
Tut … tut … tut ….
Panggilan terputus, suara di ujung telpon sungguh tidak pernah mengiraukan perasaan helen saat itu, seketika itu helen lunglai dan menjatauhkan dirinya di atas lantai ia membelakangi pintu kamar ibunya.