Bab.1
"kamu ikut balet di sanggar balet yang berhantu itu ya .?"
Tanya seorang gadis kecil berbadan gemuk dengan tangan terulur, jari telunjuknya yang gemuk menunjuk ke sanggar balet yang letaknya persis di sebelah panti asuhan.
"Sanggar balet milik nenekku itu tidak berhantu ."
Jawab seorang gadis kecil cantik lucu yang rambutnya diberi bando bunga warna pink.
"Iya sanggar senam milik nenekmu itu berhantu dan mamamu yang mati dibunuh itu jadi hantu gentayangan, suka menakuti semua anak yang belajar balet di sanggar balet itu. Mamamu itu setan."
Ucap gadis kecil gemuk itu tidak mau kalah. Tanpa di duga-duga gadis kecil yang memakai bando bunga warna pink itu berteriak marah..
"Kamu dengki karena badanmu gemuk seperti tong dan kamu tidak bisa balet seperti aku.!. Mamaku bukan hantu , kamu itu hantu gemuk.!"
Gadis kecil gemuk itu pun tersulut emosi, mulutnya pun berteriak keras..
"Badanku gemuk tapi tidak seperti tong. Mamamu itu hantu jahat. Kamu anaknya hantu.!. Badanmu kurus kerempeng karena tidak pernah makan enak."
Mendengar ejekan temannya yang berbadan gemuk itu , langsung gadis kecil cantik itu menunduk sedih , dua tetes air mata menetes dari kedua matanya dan kedua tangannya meraba bando bunga warna pink yang bertengger di rambut indahnya berwarna coklat tua keemasan. Mulutnya berkata dengan suara lirih dan nada bergetar..
"Mama , aku sayang mama dan aku tidak suka kalau ada yang mengejek mama hantu. tolonglah aku , mama.!"
Gadis kecil cantik itu masih menunduk sambil meraba bando yang bertengger di kepalanya dan temannya yang gemuk makin tertawa keras. Tiba-tiba terasa ada yang memeluk bahunya , gadis kecil cantik itu menoleh dan dilihatnya .. mamanya tersenyum memakai baju balet tapi sepatu baletnya berdarah. Mamanya mengangguk dengan pasti dan seolah-olah gadis kecil cantik itu mendapatkan kekuatan dan keberanian. Gadis kecil cantik itu pun , langsung berbinar-binar matanya karena merasakan kebahagiaan atas kehadiran mamanya. Gadis kecil cantik itu mengalihkan pandangannya ke temannya yang gemuk , lalu berlari menerjang sambil kedua tangannya terulur ke depan . Temannya yang gemuk jatuh ke tanah dua gadis kecil itu berkelahi. Baju dan rambut mereka berdua kotor penuh tanah..
"BERHENTI... BERHENTILAH BERKELAHI .!"
Teriak seorang perempuan bertubuh tambun. Tapi kedua gadis kecil itu tidak berhenti berkelahi , malah berguling-guling di atas tanah. Seorang perempuan gemuk itu berlari dan dengan nafas terengah-engah melerai perkelahian dua gadis kecil.
"KENAPA KALIAN BERDUA BERKELAHI .?"
Hardik perempuan bertubuh gemuk , tangan kanannya memegang tangan anak perempuan kecil gemuk dan tangan kirinya memegang tangan gadis kecil cantik.
"Dia duluan yang mendorongku lalu memukulku dan menarik rambutku , ma.!"
Gadis kecil gemuk itu mengadu pada perempuan gemuk yang ternyata mamanya.
"Dia duluan yang mengejek kalau sanggar balet milik nenekku itu berhantu dan dia mengejekku mamaku hantu. "
Ujar gadis kecil cantik dengan nada geram. Perempuan gemuk itu langsung menarik kedua tangan gadis kecilku sembari berkata..
"Ayo kita temui nenekmu , aku laporkan kelakuanmu yang nakal , Janice junior.!"
Gadis kecil cantik itu dengan sengit berteriak ,
"Kalau berani melapor ke nenekku , pasti kalian berdua kupukul dan kutendang pantat kalian.!"
Perempuan gemuk itu tidak menghiraukan perkataan Janice junior gadis kecil cantik, tetap berjalan ke panti asuhan dan seorang perempuan cantik keluar dari panti asuhan , dengan ramah bertanya..
"Ada apa ribut-ribut seperti ini.?"
"HAI.. MONICA , KEPONAKANMU YANG SATU INI KERASUKAN SETAN MAMANYA YANG MATI DI BUNUH. DIA MENYERANG MEMUKULI PUTRIKU. KALAU KAMU DAN NENEKMU TIDAK BISA MENDIDIKNYA MAKA KULAPORKAN KE POLISI.! ."
Teriak perempuan gemuk itu sambil melepaskan genggamannya pada tangan gadis kecil cantik itu lalu menghempaskan sampai tubuh gadis kecil cantik itu terjatuh ke tanah. Cepat-cepat gadis kecil itu mengambil dua batu besar dan berdiri sambil berteriak..
"KULEMPAR DUA BATU INI KE KALIAN BERDUA KALAU KALIAN TIDAK MAU PULANG .!"
Perempuan gemuk mendekap putrinya yang gemuk. mereka berdua ketakutan di lempar batu oleh gadis kecil cantik . Dari kejauhan perempuan gemuk itu menoleh dasar berteriak..
"DASAR ANAKNYA SETAN. ANAK BODOH , TIDAK TAHU SOPAN SANTUN.!"
Gadis kecil cantik itu membalas berteriak..
"KALIAN BERDUA ITU YANG BODOH TIDAK BISA BALET . BADAN KALIAN GEMUK SEPERTI DUA KARUNG KENTUT. KALAU BERANI MENGEJEK MAMAKU LAGI, KUTUSUK JARUM BADAN KALIAN BERDUA. DASAR DUA KARUNG KENTUT.!"
Monica menahan tawa mendengar teriakan keponakannya.
"Mereka berdua sudah pergi ketakutan . Ayo , bibi Monica harus memandikanmu dan ada baju barumu., Janice junior sayang."
'iya bibi Monica."
Monica mengandeng Janice junior keponakannya masuk ke dalam rumah panti asuhan yang bersebelahan dengan sanggar balet. Tampak keluarganya sedang duduk di ruang tamu dan menoleh pada mereka berdua.
"Kenapa baju dan rambutmu kotor penuh tanah , Janice junior cucuku sayang.?"
Tanya seorang perempuan tua yang masih cantik dan bertubuh langsing .
"Aku tadi ribut dengan dua karung kentut tapi aku menang dan dua karung kentut itu lari terbirit-birit ketakutan , nenek analyn."
Tukas Janice junior dengan penuh rasa percaya diri dan kebanggaan. Semua yang mendengar menahan tawa.
"Dua karung kentut itu siapa .?"
Tanya seorang perempuan cantik yang duduk di sebelah nenek analyn.
"Itu tetangga sebelah. Dia dan mamanya gemuk seperti karung kentut , nenek Liza.!"
Jawab gadis kecil cantik sambil mengulurkan tangannya menunjuk ke arah pintu.
"Kenapa kamu panggil mereka dengan sebutan karung kentut , Janice junior cucuku yang cantik.?"
Tanya seorang pria tua yang masih terlihat gagah dan berpenampilan rapi .
"Tadinya aku panggil tong tapi dia menolak , lalu kupanggil karung kentut , kakek Arnold .!"
semua yang mendengar perkataan gadis kecil cantik itu benar-benar menahan tawa.
"Kamu tidak boleh memanggil mereka dengan sebutan tong ataupun karung kentut , Janice junior cucuku yang hebat .!"
Ujar seorang pria tua kaya . Dengan tegas gadis kecil cantik itu menjawab..
" Kakek Rudolf, mereka berdua yang duluan mengejekku kalau badanku kurus kerempeng karena tidak pernah makan enak. Mereka tidak tak tahu kalau kakek Rudolf pemilik restoran mewah di Moscow."
Semua mengusap-usap wajah mereka masing-masing menahan tawa mendengar semua perkataan Janice junior
"Mamamu itu sabar , tidak pernah berkelahi dan cantik tapi kamu suka berkelahi , Janice junior."
Ucap seorang pria muda tampan yang memeluk bahu bibi Monica. Gadis kecil cantik itu memiringkan kepalanya lalu melihat ke suaminya bibi Monica.
Bab.2
"Paman Antonius , aku tidak mau berkelahi tapi mereka mengejek sanggar senam balet milik nenek analyn itu ada hantunya dan hantunya itu mamaku yang mati dibunuh . Aku tidak pernah mengejek mamanya tapi dia mengejek mamaku. paman Antonius , mamaku bukan hantu tapi penari balet ."
Semua langsung terdiam , menatap wajah cantik gadis kecil itu. Seorang pria yang sudah berumur bangkit berdiri , mendekati Janice junior yang masih berdiri tegak. Pria tersebut menarik nafas dalam-dalam lalu berjongkok di depan Janice junior.
"Apapun alasanmu , papa tidak mau kamu berkelahi dengan siapapun.!. Sampai kapan kamu seperti ini , Janice junior putriku .!?"
semua terhenyak saat melihat gadis kecil cantik yang masih berdiri tegak di hadapannya papanya , tiba-tiba badannya yang kurus agak bergetar hebat dengan kedua mata terpejam. Perlahan kedua kelopak mata gadis kecil itu terbuka , wajahnya mendadak pucat pasi , bibir gadis kecil itu menyeringai, tatapannya tajam menusuk dan dingin sedingin kata-kata yang keluar dari bibir gadis kecil itu...
"Jangan pernah kamu mengintimidasi Janice junior putri kita , Cornelius. Aku selalu bersamanya sampai terungkap kematianku.!'
Suaranya bukan suara gadis kecil tapi suara wanita dewasa yang lembut penuh penekanan. Langsung gadis kecil itu jatuh ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Semua bangkit berdiri , Cornelius mengangkat tubuh anaknya dari atas lantai. Di dekapnya tubuh Janice junior yang pingsan..
"Aku tidak mengintimidasi Janice junior anakku, tapi siapa yang membunuh Janice istriku .?. Apa anakku kerasukan roh istriku yang sudah meninggal.?. Tadi itu suara istriku yang sudah meninggal bukan suara istriku.!"
Tiba-tiba jendela yang terkunci dan tertutup rapat itu pelan-pelan daun jendela terbuka sendiri , tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba..
*BRUAKkkk....*
Daun jendela tertutup dengan keras sekali. Semua saling berpandangan. Kakek Arnold mengambil cucunya yang pingsan dari gendongan Cornelius menantunya.
"Biar ayah bawa Janice junior ke kamar tidur ayah , Cornelius .!"
Nenek analyn pun menimpali..
"Bicaramu tadi terlalu keras pada Janice junior cucu kami. Pantas saja kalau Janice putri kami yang sudah meninggal , marah sampai daun jendela terbuka sendiri dan tertutup dengan keras., Cornelius .!"
Ucapan nenek analyn pelan tapi menohok. Nenek analyn melangkah masuk ke dalam kamar tidur, mengikuti suaminya yang menggendong Janice junior cucu mereka yang pingsan.
"Bukan aku yang membunuh Janice istriku tapi kedua orang tua Janice selalu menuduh aku yang membunuh ."
Ujar Cornelius dengan mata berkaca-kaca , suara serak menahan tangis.
🌺🌺
Setiap sore, jam lima sampai jam enam, ada latihan balet di sanggar balet milik nyonya analyn. Selalu saja ada kejanggalan yang tak masuk akal dan sulit di terima akal sehat. Tepat jam enam sore pasti lampu langsung mati meskipun tidak ada yang mematikan lampu dan tidak ada seorang pun yang bisa menyalakan lampu di ruangan sanggar balet itu. Sejak kejadian itu latihan balet diubah jam , dari jam empat sore sampai jam lima sore untuk pemula , jam lima sore sampai jam enam sore untuk senior. Kejadian itu sudah menjadi rahasia umum sejak kematian janice. Di dalam ruangan sanggar balet itu ada tiga lemari kaca besar. Lemari kaca pertama berisi banyak baju balet, stocking , sepatu balet , pita rambut , bando , aksesoris balet milik Janice. lemari kaca besar kedua berisi banyak trophy, piagam penghargaan dari berbagai lomba balet , juga banyak foto Janice dalam berbagai gerakan balet juga foto- foto saat Janice menerima trophy kejuaraan balet. Lemari kaca ketiga berisi berbagai piringan hitam musik balet . Sengaja Janice menyimpan semua barang miliknya di tiga lemari kaca besar di ruangan sanggar balet milik nyonya analyn ibunya janice. Sebulan sekali , tepatnya hari Minggu pagi di awal bulan pasti nyonya analyn mengumpulkan semua murid baletnya di sanggar balet lalu menunjukkan video saat Janice sedang balet di atas panggung , yang tujuannya agar para muridnya bisa belajar gerakan balet Janice. Tidak menutup kemungkinan , banyak orang yang tidak ikut balet pun berdesakan ingin masuk ke sanggar balet untuk melihat video Janice sedang balet. Semua orang yang menonton video balet Janice pasti mulut mereka berdecak kagum . Sejak kematian janice penari balet , tidak ada seorang pun penari balet yang bisa menandingi kepiawaian gerakan balet Janice. Sampai suatu hari ada lomba balet yang di ikuti oleh para peserta dari berbagai penjuru dunia. nyonya analyn mempersiapkan lima muridnya yang hendak ikut lomba balet untuk berlatih di sanggar balet miliknya , jam enam malam mereka bersiap-siap berlatih balet tapi lampu mati padahal lampu di panti asuhan dan lampu di rumah para tetangga menyala.
"Arnold , tolong nyalakan lampu di dalam ruangan ini karena aku harus melatih murid-murid yang hendak ikut lomba balet ."
Pinta nyonya analyn pada tuan Arnold suaminya yang langsung mencoba menyalakan lampu namun nihil. Akhirnya tuan Arnold memakai generator untuk menyalakan lampu di ruangan balet itu. Lampu hanya menyala selama lima belas menit lalu padam. Tuan Arnold mencoba menghidupkan mesin generator agar lampu bisa menyala tapi malah mesin generator macet. Terdengar sayup-sayup suara perempuan menangis merintih kesakitan kemudian suara itu menghilang. Tuan Arnold dan nyonya analyn saling beradu pandang.
"Suara rintihan kesakitan dan suara tangisan mirip dengan suara Janice putri kesayangan kita, analyn."
Ujar tuan Arnold dengan ekspresi wajah keheranan. Nyonya analyn memejamkan matanya sembari berkata...
"Lebih baik besok saja , aku melatih balet lima gadis , Arnold."
"Ya , analyn. Itu ide yang cemerlang."
Sahut tuan Arnold pada nyonya analyn.
"Maaf, lampu di ruangan sanggar balet ini tidak bisa dinyalakan , besok jam delapan pagi kita latihan. Sekarang kita pulang."
Ujar nyonya analyn kepada lima gadis yang berdiri di belakang tuan Arnold. Di saat mereka berjalan menuju pintu , tiba - tiba terdengar suara tangisan dan rintihan seorang perempuan. Mereka saling berpandangan, kelima gadis itu gemetaran ketakutan lalu merapat pada nyonya analyn dan tuan Arnold yang langsung merangkul pundak kelima gadis itu. Terpejam mata nyonya analyn, air matanya menetes . perlahan-lahan wanita cantik itu berkata dengan lirih..
"Suara rintihan kesakitan.. suara tangisan ... Apakah itu suaramu , Janice putri kesayanganku .?"
Masih terdengar suara rintihan kesakitan dan suara tangisan. Semua terdiam , hanya pandangan mata yang menyapu di dalam ruangan sanggar balet yang gelap mencari asal usul suara tangisan dan suara rintihan kesakitan..
Bab. 3
Tuan arnold meneteskan air mata kesedihan dan melirik istrinya , sembari berkata..
"Mungkin Janice putri kesayangan kita tidak mau kalau kelima gadis muridmu ikut lomba balet , analyn istriku. Kasihan mereka berlima baletnya jauh dibandingkan dengan balet Janice . Seandainya saja Janice masih ada , pasti Janice melatih balet kelima gadis ini. Mereka berlima sekarang malah menangis ketakutan. Lebih baik kita keluar dari ruangan ini saja."
Langsung suara tangisan dan suara rintihan kesakitan itu berhenti.
*CLICK...*
Suara keras pintu terkunci. Tuan arnold , nyonya analyn dan kelima gadis yang berdiri di dekat jendela kaca langsung menoleh ke arah pintu, Lambat laun terdengar musik lembut swan lake di dalam ruangan.
"Siapa yang memasang musik swan lake kesukaan Janice.?"
Tanya nyonya analyn sambil melihat wajah suaminya dan kelima gadis.
"Sejak Janice meninggal , kusimpan semua piringan hitam di lemari kaca yang terkunci itu dan aku tidak mau memakai musik swan lake lagi untuk mengajari balet tapi kenapa sekarang terdengar musik swan lake di ruangan ini.?"
Tanya nyonya analyn sambil meneteskan air mata kesedihannya. Nyonya analyn menyibak gorden jendela kaca, dilihatnya lampu di teras sanggar balet menyala dan cahaya lampu masuk ke dalam ruangan melalui kaca jendela . Mereka bertujuh merasa ada orang yang berkelebat di belakang mereka tapi di saat mereka menoleh tidak ada siapa-siapa. Gerak refleks , mata mereka melihat ke tengah ruangan sanggar balet. ruangan hanya mendapat sedikit cahaya yang masuk dari jendela kaca namun kelima gadis juga nyonya analyn dan tuan Arnold dapat melihat seorang perempuan berpakaian baju balet berdiri di tengah ruangan. Rambutnya di Cepol ke atas ala dandanan rambut penari balet pada umumnya
Salah seorang dari kelima gadis itu berkata..
"Lihatlah ada seorang penari balet yang entah muncul dari mana , dan tiba-tiba dia ada di tengah ruangan .!"
Tangannya menunjuk ke arah penari balet itu.
"Siapakah penari balet itu .?"
"Entahlah tapi sepertinya dia mau balet ."
"Lihatlah kakinya , tangannya dan gaya berdirinya sepertinya dia melakukan persiapan melakukan gerakan balet sesuai musik swan lake.! Sungguh sempurna sekali ,!"
Nyonya analyn dan tuan Arnold hanya terdiam mendengarkan percakapan lima gadis itu.
"Ayo kita agak maju sedikit , aku mau melihat dia menari balet .!
Ajak salah seorang gadis yang diikuti berjalan agak maju ke depan oleh empat gadis. Penari balet itu pun melakukan gerakan balet dengan diiringi musik swan lake. kaki penari balet tersebut dari lantai ke belakang tubuhnya lalu melompat di mana kaki depan menjulur ke samping dan naik dari lantai sementara kakinya melompat. Kaki yang diperpanjang kemudian mendarat di belakang kaki pendukung di posisi. Hilang ketakutan pada diri kelima gadis balet itu, malah kelima gadis itu memperhatikan dengan seksama gerakan penari balet di tengah ruangan sanggar balet itu .
Kelima gadis itu berdiri makin tertegun dan seperti terhipnotis dengan penari balet yang melakukan gerakan kakinya dijulurkan ke depan lalu ke belakang tubuhnya kemudian lututnya di belokkan ke samping. Nyonya analyn menoleh pada suatu suaminya.
"Arnold, lihatlah kelima gadis itu sudah tidak merasa ketakutan tapi malah maju melihat penari balet yang menari balet di tengah ruangan."
"Kamu benar sekali , analyn. Seolah -olah penari balet yang entah muncul darimana itu menari balet mengajari kelima gadis ."
Kata nyonya analyn pada tuan Arnold suaminya , matanya tidak berhenti melihat penari balet melangkah ke samping dengan satu kaki, mengangkat kaki kedua dari belakang pergelangan kaki, lalu mengganti beban pada bola kaki pertama untuk memulai lagi di sisi lain. Penari balet itu masih melakukan gerakan balet berulang-ulang di tengah ruangan di iringi musik swan lake yang entah siapa yang memasang musik tapi yang jelas penari balet tersebut , fokus sekali dengan gerakan balet. Setelah itu.. penari balet menghilang sinkron dengan musik balet yang tiba-tiba menghilang.
CLICK..
Suara pintu terbuka lalu daun pintu terbuka dengan sendirinya. Kelima gadis bersama tuan tuan Arnold dan nyonya analyn melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Ayo kita keluar dari ruangan ini.!"
Ajak tuan Arnold pada nyonya analyn dan kelima gadis itu yang masih terdiam. Akhirnya mereka bertujuh keluar dari ruangan sanggar balet. Belum sempat nyonya analyn menutup pintu ruangan itu , tiba-tiba daun pintu bergerak dan menutup sendiri. Nyonya analyn terpaku melihat pintu tertutup itu.
"Analyn , ayo kita antar kelima gadis itu pulang . Aku ambil mobil dulu ."
"Ya , Arnold."
Sahut nyonya analyn sambil menatap wajah kelima gadis itu.
"Bu analyn, awalnya tadi aku takut dan merasa ruangan sanggar balet itu berhantu namun saat kulihat seorang penari balet yang tiba-tiba ada di tengah ruangan dan melakukan gerakan balet , hilanglah ketakutanku."
Nyonya analyn hanya tersenyum getir mendengar perkataan muridnya.
"Bu analyn , tadinya aku ragu dan merasa bodoh tapi setelah melihat penari balet itu menari balet. Aku merasa percaya diri ."
Sahut muridnya yang satu lagi.
"Aku tidak tahu siapa penari balet itu tapi yang aku tahu dia sepertinya menunjukkan gaya balet yang membuatku ingin meniru gaya baletnya, Bu analyn .!"
"Ya, aku pun sama. Aku sekarang tahu harus Melakukan gerakan balet yang di untuk lomba balet , bu analyn."
"Bu analyn , bagaimana kalau di lomba balet kami berlima melakukan gerakan balet seperti penari balet tadi.?. Aku hafal gerakannya, bu.!"
"Aku juga hafal , bu.!"
"Bu analyn , aku juga hafal gerakannya.!"
Nyonya analyn mengangguk, meng-iya-kan permintaan kelima muridnya. Mobil tuan Arnold sudah datang.
"Ayo cepat masuklah ke dalam mobil.!"
Teriak tuan Arnold dari dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil , seorang gadis menoleh ke sanggar balet dan berteriak..
"AKU TIDAK TAHU SIAPA NAMAMU TAPI KAMU BAIK HATI MEMBAGI ILMU BALETMU. TERIMA KASIH , YA.!"
Keempat gadis murid balet nyonya analyn pun ikut menoleh ke sanggar balet itu dan masing-masing mereka berteriak..
"TERIMA KASIH, PENARI BALET YANG BAIK HATI."
"KAMU SUDAH MEMBUATKU PERCAYA DIRI. TERIMA KASIH ."
"KAMU PENARI BALET YANG BAIK HATI, SUDAH MENGAJARI KAMI. TERIMA KASIH."
"KAMU MEMBUATKU BERANI MAJU DI LOMBA BALET MINGGU DEPAN , DENGAN GAYA BALETMU YANG TADI."
Kelima gadis itu masuk ke dalam tuan Arnold. Sebelum nyonya analyn masuk ke dalam mobil suaminya, dilihatnya seorang penari balet tersenyum, melambaikan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang sepasang sepatu balet berdarah dari balik jendela kaca. !"