Bab 1

Siang hari yang begitu terik tak membuat anak-anak berhenti bermain. Semangat yang begitu tinggi nampak pada wajah mereka. Di lapangan yang sangat hijau nan luas itu dipenuhi oleh anak-anak usia SD yang tengah asyik bermain sepak bola. Mereka berlari dan terus berlari untuk merebut bola dari lawan dan mencetak gol darinya.

Nampak seorang anak bernama Syams yang berlari begitu cepat sambil terus menggiring bola. Beberapa anak lainnya menghadangnya dari depan. Namun ia terus saja lolos dari mereka. Anak-anak yang tergabung dalam timnya terus meneriakkan namanya.Berharap agar ia dapat mencetak gol. Dan benar saja, Syams akhirnya dapat mencetak gol. Hal ini membuat timnya mendapatkan skor yang lebih unggul dari tim lawannya.

“Syams! Kau benar-benar hebat. Jika ada kamu, maka kita tidak akan pernah kalah melawan siapapun,” puji salah seorang teman Syams.

“Terima kasih. Kalian juga hebat.Kita menang karena kerja sama kita. Bukan karena kehebatanku saja," jawab Syams sambil tersenyum.

“Waahh.... Syams. Selain hebat kamu juga tidak suka menyombongkan diri,” Sambung teman lainnya.

“Alah! Itu kan hanya kebetulan saja. Aku jauh lebih hebat darinya,” bantah Wolter dari tim lain.

Syams mengalihkan perhatiannya pada Wolter sedikit kesal. Kemudian ia berkata, ”Sudahlah! Aku ingin pulang. Aku sudah lelah bermain.”

“Alah! Paling hanya alasanmu saja, kan?Sebenarnya kamu takut melawanku, kan?” lanjut Wolter.

Seketika wajah Syams menjadi merah. Ia pun menatap wajah Wolter dengan mata tajamnya. Lalu ia berkata, ”Hei, dengar ya! Aku tidak pernah takut melawan siapapun juga. Aku hanya ingin menghindari pertengkaran denganmu saja. Aku tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk bertengkar denganmu saja.”

Syams langsung pergi dari lapangan tempatnya bermain dengan penuh kemarahan. Ia segera mengambil sepedanya dan mengayuhnya dengan sangat cepat. Ia benar-benar sangat marah. Sementara itu, Wolter terus mengejeknya dari belakang. Namun ia tak memperdulikannya dan terus mengayuh sepedanya dengan sangat kuat.

Syams meletakkan sepedanya di depan rumahnya dan berlari memasukinya. Satu persatu anak tangga yang menuju kamarnya dinaikinya. Ia terus berjalan dengan cepat agar segera sampai di kamarnya. Namun saat ia tiba di depan kamar Nashir, ia berhenti sejenak.Ia melihat kakaknya itu sedang sibuk belajar. Kemarahan di wajahnya seketika berubah menjadi sebuah senyuman. Ia pun langsung berlari memasuki kamar tersebut.

“Uda! Uda sedang apa?” sapa Syams dari belakang Nashir.

Seketika itu Nashir menjadi terkejut dan salah dalam menulis huruf di bukunya. Ia kemudian menoleh ke belakang dan berkata dengan nada marah, ”Syams! Kamu mengagetkanku saja! Apa yang kamu lakukan disini?”

“Aku ingin ikut Uda belajar. Setidaknya Uda pinjami aku sebuah buku dan aku pasti akan membacanya. Aku tidak akan mengganggu Uda setelah itu," lanjut Syams.

“Kamu? Ingin membaca bukuku? Memangnya kau mengerti isi buku anak SMA? Kamu saja masih sangat kecil. Lebih baik kau pergi ke kamarmu dan baca buku yang kau beli kemarin,” ucap Nashir sambil sedikit tertawa.

“Tapi kan buku yang kubeli kemarin sudah habis kubaca semua. Sebenarnya masih ada satu buku yang belum kubaca, tapi itu untuk besok. Hari ini aku ingin membaca buku milik Uda saja.”

“Sudahlah, lebih baik kamu pergi bermain saja! Aku ingin belajar untuk persiapan ujianku.”

“Tapi kan ujian masih lama Uda. Kenapa harus dipersiapkan sekarang?”

“Walau masih lama, tapi tetap harus dipersiapkan mulai dari sekarang. Supaya hasil ujiannya mendapatkan nilai yang sempurna. Nanti kau juga harus begitu kalau sudah kelas enam. Kau harus mempersiapkan ujianmu sejak awal. Bukannya menunggu waktu ujiannya sudah dekat baru belajar. Sudah bermain sana!”

“Baik Uda,” jawab Syams dengan wajah tertunduk.

Syams berjalan keluar dari kamar Nashir dengan raut wajah muram. Ia terus berjalan dengan sangat pelan. Seketika itu, karena tidak memperhatikan sekelilingnya, ia tak sengaja menabrak Aziz. Kakaknya yang lainnya.

“Syams! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau terus menggangguku?" ucap Azis dengan sangat marah.

“Maaf Uda.bAku tidak sengaja melakukannya. Uda mau kemana? Ayo kita belajar bersama! Atau kalau Uda tidak suka kita bermain bola bersama saja!” jawab Syams.

“Apa? Bermain bersamamu? Tidak mau! Aku tidak mau menjadi korban dari kenakalanmu lagi. Kamu selalu mengerjai setiap orang ada di dekatmu. Kamu ini memang anak nakal. Nakal! Lebih baik aku bermain bersama teman-temanku saja,” ucap Aziz dengan geramnya.

Aziz meninggalkan Syams di depan kamarnya. Ia pun melanjutkan rencananya untuk bermain bersama teman-temannya. Syams semakin sedih karena tidak ada yang mau bermain bersamanya. Ia pun melanjutkan langkahnya untuk beristirahat di kamarnya.

Baru saja ia tiba di depan kamar Aisyah, Syams melihat pintu kamar kakanya itu dibiarkan terbuka sedikit.bEkspresi di wajahnya pun berubah saat ia melihat Aisyah yang sedang asyik belajar.bDengan cepat, ia segera memasuki kamar tersebut.

Syams berdiri tepat di samping kakaknya itu. Melihat buku-buku yang tertata rapi di atas meja, wajahnya pun menjadi berseri.

“Waah... Uni sedang asyik belajar ya? Bukunya banyak sekali! Ayo kita bersama! Ajari aku pelajaran sejarah Uni! Aku belum mengerti tentang sebuah subbab," ucap Syams dengan penuh semangat.

Aisyah terkejut ketika melihat Syams berada di dekatnya.bKemudian ia pun berkata dengan tegas, "Tidak! Aku tidak mau belajar denganmu! Aku sedang sibuk mempersiapkan ujianku. Kamu bermain sendiri saja sana!”

“Ayolah Uni! Kita belajar bersama! Aku sudah lelah bermain," pinta Syams drngan nada memohon.

“Kalau kamu lelah bermain, beristirahat saja di dalam kamar! Jangan menggangguku! Sudah, keluar sana dari kamarku!” ucap Aisyah dengan marah.

“Baiklah, jika itu yang Uni inginkan,” jawab Syams dengan lirih.

Syams kembali gagal untuk mengajak kakaknya belajar bersama. Ia sama sekali belum merasa lelah sehingga ia tak ingin beristirahat. Namun ia juga tak ingin bermain. Kini ia tak tahu harus berbuat apa lagi.

Syams baru saja memegang gagang pintu kamarnya. Tapi tiba-tiba saja bel pintu berbunyi dari depan rumah. Syams segera berlari dan melihat siapa yang datang di hari yang masih sangat terik itu. Dari depan kamarnya, ia dapat melihat seorang asisten rumah tangganya pintu untuk tamunya tersebut.

Betapa terkejut Syams saat mengetahui bahwa tamu tersebut adalah Halim. Kakak sulungnya yang selama ini tinggal di Padangpanjang untuk mengurus sebuah perusahaan di sana. Ia pun langsung berlari untuk menemui kakaknya tersebut. Sepanjang jalan, ia berteriak memanggil-manggil kakaknya itu. Suaranya terdengar oleh Nashir dan Aisyah yang masih sibuk belajar. Mereka pun terkejut mendengar suara Syams yang meneriakkan nama Halim. Mereka pun segera keluar dari kamar dan mengecek kebenaran tentang apa yang mereka dengar itu.

Syams langsung memeluk Halim setelah tiba di depannya. Sementara itu, Nashir dan Aisyah mencium tangannya. Halim lalu memberikan sebuah bingkisan kepada kedua adiknya itu. Kemudian ia melepas pelukan Syams dan memberikan sebuah bingkisan pula padanya.

“Kamu baru datang setelah sekian lama. Kamu pasti sangat rindu dengan adik-adikmu. Menginaplah disini beberapa hari saja!” ucap Maryam yang berdiri di samping Syams.

“Iya, Uda Halim terlalu senang tinggal di PandangPanjang. Hingga lupa pada keluarganya di Jakarta,” sambung Syams.

“Eh, itu tidak benar! Mana mungkin aku lupa pada kalian? Selama ini uda kan sering menghubungi kalian," ucap Halim sambil tersenyum.

"Sudahlah, makan saja rendang yang uda bawakan itu! Setelah itu, kamu dapat membaca dua buku yang aku bawakan untukmu, Syams. Itu buku tentang sejarah Sumatera Barat. Kamu paling menyukainya, kan? Jadi cepat makan rendang itu lalu kalian dapat membaca bukunya bersama-sama,” lanjut Halim.

“Tidak mau! Aku tidak mau membaca buku itu! Biarlah Syams yang membacanya. Dia kan yang paling menyukainya," bantah Nashir.

”Sudahlah, ayo kita makan saja Uda!” ajak Aisyah.

“Iya, ayo! Jangan sisakan rendang ini untuk anak nakal seperti dia!” jawab Nashir dengan penuh semangat.

“Terserah kalian saja. Aku ingin membaca buku ini saja. Ini lebih menyenangkan daripada menghabiskan rendang itu,” balas Syams.

Nashir dan Aisyah memalingkan wajah mereka dari Syams Kemudian mereka pergi ke meja makan dan menyajikan makanan yang berada di tangan Nashir itu ke dalam sebuah piring. Nashir dan Aisyah langsung memakannya dengan sangat lahap. Sementara itu, Syams sama sekali tidak memperdulikan tentang rendang tersebut. Ia malah pergi ke ruang keluarga dan langsung membaca buku yang dibawakan oleh Halim.

Melihat tingkah laku dari ketiga anaknya itu, Maryam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Halim melepaskan rasa lelahnya itu dengan duduk di ruang tamu dan meminum kopi yang disajikan di depan meja oleh asisten rumah tangganya. Kemudian Maryam duduk tepat di sampingnya untuk melepas kerinduannya pada putra sulungnya itu.

“Jadi bagaimana? Apa kau ingin menginap selama beberapa hari disini?” tanya Maryam.

Bab 2

Halim meletakkan gelas yang berada dalam genggamannya. Kemudian ia memandang wajah Maryam dalam-dalam. Begitu lembut wajah sang ibu yang selama beberapa bulan terakhir tak dijumpainya itu. Dari raut wajahnya, ia dapat membaca bahwa sang ibu sangat berharap padanya agar ia mau tinggal di rumahnya selama beberapa hari sebagai pengobat rindu.

Halim melepaskan pandangannya dari sang ibu. Kemudian ia menarik nafas panjang lalu menjawab, “Sepertinya tidak amak. Aku hanya akan tinggal disini selama satu atau dua hari saja. Aku masih ada banyak pekerjaan di PadangPanjang. Aku datang kemari hanya untuk melepas kerinduanku pada kalian. Terutama pada Syams.”

"Yaah! Amak pikir kamu akan tinggal disini selama beberapa hari. Padahal Amak sudah sangat rindu padamu. Kamu begitu sibuk sehingga tak mempunyai waktu keluargamu," keluh Maryam.

"Aku juga sangat menginginkan untuk tinggal disini lebih lama lagi. Tapi apa dayaku, Amak? Aku sangat sibuk dengan perusahaanku. Mungkin di lain kesempatan aku dapat mewujudkan impian Amak itu. Untuk tinggal disini selama beberapa hari lagi. “

"Ya, semoga saja begitu.”

Suara pintu yang tengah dibuka seseorang terdengar di telinga Maryam dan Halim. Seketika itu mereka langsung menolehkan pandangan mereka ke arah pintu. Seorang lelaki paruh baya telah memasuki rumah mereka. Lelaki tersebut terlihat begitu bahagia dengan kedatangan Halim. Ia pun segera duduk dan seketika lupa akan tujuan kedatangannya.

“Halim? Kapan kamu datang? Apak sudah sangat merindukanmu,” ucap lelaki yang diketahui bernama Malik itu.

“Aku juga sangat merindukan Apak. Juga semua orang yang tinggal di rumah ini,” jawab Halim.

"Bagaimana kabarmu sekarang?Bagaimana dengan perusahaan Apak di PadangPanjang yang kamu kelola itu?” lanjut Malik.

"Selama beberapa tahun terakhir ini aku disibukkan dengan tugas-tugasku di perusahaan itu. Terkadang aku merasa lelah. Tapi aku tetap harus bersemangat untuk memajukan perusahaan itu,” keluh Halim.

“Memang begitu. Mempunyai perusahaan sebesar itu memang cukup melelahkan. Tapi perusahaan itu sudah menjadi maju ketika baru saja kuberikan kepadamu. Jadi kamu tidak perlu memulainya dari enol. Itulah salah satu alasanku memberikan perusahaan itu padamu. Selain kamu lebih senang tinggal disana daripada di Jakarta ini.”

“Sudahlah, aku ingin mengambil berkasku yang tertinggal. Setelah itu aku harus kembali ke kantor lagi,” lanjut Malik.

Malik berdiri dari tempat duduknya lalu meninggalkan Halim dan Maryam yang masih duduk di tempat itu. Ia berjalan dengan sangat cepat agar ia dapat kembali ke kantornya dengan tepat waktu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Syams yang sedang asyik membaca buku seorang diri di ruang keluarga. Ia pun tersenyum bangga pada putra bungsunya itu.

Malik mulai mendekati Syams dan duduk di sampingnya. Ia mencoba menyapa putra bungsunya itu. Namun Syams yang begitu fokus dengan bukunya itu tak mendengar ucapan sang ayah. Syams terus membaca bukunya tanpa menghiraukan orang yang berada di dekatnya. Malik terus memperhatikannya yang begitu semangat dalam membaca buku.

Syams telah selesai membaca buku-bukunya. Ia pun menutup buku-bukunya itu dan tak sengaja menoleh ke samping kirinya. Ia menjadi sangat terkejut dengan hadirnya Malik di dekatnya. Malik pun tersenyum padanya.

“Eh Apak! Apak sudah lama berada disini? Maaf Apak, aku sungguh tidak tahu jika apak berada disini. Aku terlalu fokus membaca buku-buku ini. Sekali lagi aku minta maaf, Apak,“ ucap Syams dengan sedikit gugup.

"Tidak apa-apa. Aku bangga melihatmu rajin belajar. Teruslah seperti ini! Agar kelak kamu menjadi orang yang pandai. Dan kamu akan menjadi seorang pengusaha yang sukses seperti Apak. Jika kamu sudah besar nanti kamu tinggal memilih perusahaan mana yang kamu sukai. Kau mau perusahaan di Bukittinggi, di Yogyakarta, atau kamu memilih perusahaan di Jakarta ini.Terserah kau saja,” jawab Malik sambil tersenyum.

“Iya Apak. Tapi aku tidak tertarik untuk menjadi seorang pengusaha. Aku lebih suka untuk menjadi seorang ahli bahasa dan sejarawan.”

“Kamu ini masih sangat kecil. Kamu masih belum mengerti apapun tentang perusahaan. Jika kamu sudah besar nanti, kamu juga akan menyukainya. Apak ingin mengambil sesuatu dulu. Kau lanjutkan saja membaca buku-bukumu,” jawab Malik sambil mengelus-elus kepala Syams.

“Baik Apak," jawab Syams dengan sedikit gugup.

Malik melangkahkan kakinya untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di ruang kerjanya. Di lain sisi, Syams mengepalkan tangannya. Raut wajahnya pun menjadi merah. Ia langsung menutup bukunya dan pergi dari tempat tersebut.

Syams terus berjalan. Menaiki seiap anak tangga dengan penuh kemarahan. Seketika itu, Aisyah keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa buku di tangannya. Pandangan matanya terus tertuju pada Syams yang bersikap sangat aneh itu.

“Kamu ini kenapa? Bukankah kamu baru saja membaca buku yang dibawakan Uda Halim? Kenapa? Kamu mau meminta buku lagi?Apa buku yang diberikan Uda Halim kurang? Sehingga kamu terlihat begitu marah?” sapa Aisyah pada Syams.

“Bukan. Bukan masalah itu. Aku hanya marah saja pada Apak yang selalu menyuruhku untuk menjadi seorang pengusaha sepertinya. Padahal aku kan tidak suka menjadi pengusaha. Aku lebih suka menjadi seorang ahli bahasa atau sejarawan,” jawab Syams.

Aisyah menghela nafas pendek lalu berkata, ”Syams, Syams! Apa Kamu tidak tahu bagaimana sikap Apak selama ini? Dia memang begitu. Selalu memaksa anak-anaknya untuk menjadi apapun yang dia inginkan. Dia selalu menghukum anak-anaknya jika tidak menuruti perkataannya. Dia tidak pernah bertanya tentang keinginan anak-anaknya. Jadi, untuk apa kamu mengatakan keinginanmu pada Apak? Aku saja tidak berani melakukannya.”

“Sudahlah, aku ingin belajar di rumah temanku. Lebih baik kamu masuk saja ke kamarmu! Jangan menggangguku lagi!” lanjut Aisyah.

“Baiklah. Tapi setelah Uni pulang nanti, kita bermain bersama ya. Atau kita bisa membaca buku yang diberikan Syams Uda Halim bersama-sama. Walau aku sudah selesai membacanya, tapi jika aku membacanya sekali lagi, tidak apa-apa kan? Aku akan lebih memahami isinya.”

“Aku kan sudah bilang padamu untuk jangan menggangguku lagi. Jadi sebaiknya kau pergi saja dariku!”

Aisyah berbalik dan meninggalkan Syams seorang diri di kamarnya. Walau begitu, Syams tidak putus asa. Ia terus mengejar kakaknya itu. Ia terus membujuknya agar ia bisa bermain dengan Aisyah. Ia mengejar kakaknya itu hingga tak menyadari bahwa ia dan kakaknya itu sudah tiba di lantai bawah.

“Uni, ayolah bermain denganku! Ingat, Uni hanya mempunyai satu adik. Jika uni tidak mau menghabiskan waktu denganku, maka jika suatu saat aku tidak berada disini, uni akan merasa sangat menyesal karena kehilanganku,” ucap Syams mencoba untuk membujuk Aisyah.

“Biarkan saja! Biar aku tidak mempunyai adik. Daripada harus mempunyai adik yang menyebalkan sepertimu. Sudahlah, jangan menggangguku lagi! Aku harus belajar. Agar aku lulus dalam ujian nanti,” jawab Aisyah dengan kesal.

"Eh, kamu ini bicara apa, Aisyah?Kenapa kamu berbicara seperti itu pada adikmu? Jangan pernah berbicara hal yang buruk! Ingat, ucapan adalah do’a. Kalau nanti semua yang kalian ucapkan itu terjadi bagaimana? Ayo minta maaf pada Syams!” tutur Maryam yang tak sengaja lewat di depan Syams dan Aisyah.

“Tidak mau! Dia yang mulai. Jadi dia yang harus meminta maaf padaku," jawab Aisyah.

“Uni yang selalu menolak setiap permintaanku akhir-akhir ini. Apa karena Uni sudah sangat sibuk karena akan ujian? Jadi tidak sempat bermain denganku. Dulu kan Uni selalu bermain denganku,” bantah Syams.

“Itu karena kamu semakin nakal dari hari ke hari. Jadi semua orang semakin menjauh darimu. Termasuk aku.”

“Sudah, ayo mita maaf! Tidak baik bertengkar dengan saudara sendiri. Sesama saudara seharusnya hidup dengan rukun. Bukan seperti ini!” lerai Maryam.

Dengan sangat terpaksa, Aisyah mengulurkan tangannya pada Syams. Syams perlahan-lahan mengeluarkan tangannya dan mulai menjabat tangan Aisyah. Dengan segera, Aisyah melepas jabatan tangannya itu. Kemudian ia membalikan tubuhnya dan berjalan dengan sangat cepat setelah mencium tangan Maryam. Begitu pula dengan Syams yang langsung menaiki anak tangga dengan langkah kaki yang begitu cepat.

Bab 3

Waktu baru saja berjalan lima menit. Namun Syams sudah begitu bosan dengan buku-buku yang ada di depannya. Syams kemudian memutuskan untuk keluar rumah.Ia pun mengambil bolanya dan mulai bermain seorang diri di halaman rumahnya. Ia menendang bola kesana kemari. Tidak peduli bahwa ia tidak memiliki teman bermain. Ia tetap melakukannya.

“Daripada belajar terus-menerus. Kalau sudah dewasa nanti, aku akan menjadi orang yang pandai. Ujung-ujungnya aku disuruh apak untuk menjadi seorang pengusaha. Percuma aku belajar serajin mungkin dan menjadi sepintar mungkin kalau aku tidak bisa menggapai cita-citaku. Lebih baik aku bermain saja. Setidaknya aku bisa melupakan perlakuan yang begitu tidak adil yang apak lakukan pada anak-anaknya,” gumam Syams.

Syams kembali menendang bola yang ada di depannya. Ia tak memperdulikan lagi tentang buku-buku sejarah yang akan dibelinya. Bahkan ketika Halim mengajaknya untuk membeli buku baru, ia langsung menolaknya mentah-mentah Halim tak mengerti tentang sikap yang ditunjukkan oleh adik kesayangannya padanya itu. Tetapi ia tak memasukkan permasalahan itu dalam hatinya. Ia menganggapnya sebagai hal yang wajar yang sering dilakukan oleh anak-anak.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aisyah, Aziz, dan Nashir duduk berjajar di ruang keluarga. Masing-masing dari mereka disibukkan dengan tugas sekolah mereka. Namun saat-saat yang seharusnya membutuhkan konsentrasi yang tinggi itu malah menjadi pecah saat sebuah pesawat mainan jatuh di depan mereka. Mereka yang telah mengetahui tentang pemilik pesawat mainan tersebut menjadi sangat geram.

Pandangan mata mereka langsung tertuju pada Syams. Menatap wajah Syams yang sedang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.

”Syams! Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tidak tahu kalau ini adalah waktu belajar? Kenapa kamu malah mengganggu kami?” bentak Nashir.

“Apa kamu tidak mempunyai tugas sekolah? Apa kamu tidak belajar hari ini?" sambung Aziz.

“Iya. Biasanya ka u paling bersemangat saat belajar. Kenapa hari ini kamu tidak mau belajar?” lanjut Aisyah.

“Iya, memang benar. Aku memang sudah bosan belajar. Lagipula untuk apa aku belajar jika aku tidak diperbolehkan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan? Di kemudian hari, aku hanya akan menuruti perintah apak untuk menjadi seorang pengusaha. Jadi untuk apa aku meluangkan waktuku untuk menderita di masa depan? Lebih baik aku bermain saja,” jawab Syams dengan nada tinggi.

Syams langsung mendekati ketiga kakaknya dan mengambil mainannya yang terletak di atas meja. Ia lalu meninggalkan ruang keluarga tersebut dengan penuh kemarahan. Di sisi lain, Halim yang sejak lama memperhatikan ketiga adiknya yang begitu semangat dalam belajar, seketika hatinya merasa begitu teriris setelah mendengar semua pernyataan Syams. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Ia mencoba untuk menghapusnya. Namun air mata itu terus mengalir.

“Tidak kusangka bahwa adik-adikku sudah semakin besar. Dan mereka mulai mengerti kekejaman apak. Bahkan Syams yang masih sangat kecil tak ingin menjadi korban dari kekejamannya itu. Dia mungkin akan mengalami hal yang sama denganku. Yang harus mengurungkan cita-citanya demi memenuhi keserakahan Apak,” gumam Halim.

Halim menarik nafas panjang dan melanjutkan perkataannya, ”Andai saja dulu aku bisa menggapai cita-citaku sebagai seorang politikus seperti amak. Pasti aku akan merasa sangat bahagia. Aku juga bisa memberi semangat pada adik-adikku agar dapat terus bersemangat dalam belajar.”

Seketika itu Maryam tak sengaja melewati ruang keluarga. Senyuman di wajahnya mulai berkembang ketika ia melihat Nashir, Aziz, dan Aisyah yang begitu bersemangat dalam belajar. Namun senyuman itu mulai menghilang seketika saat melihat air mata yang mengalir di pipi Halim. Tanpa berfikir panjang,ia langsung ia pun langsung mendekati putranya itu.

Maryam berdiri tepat di depan Halim dan bertanya, ”Kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu bersedih seperti ini?”

Halim menjadi sangat terkejut ketika melihat ibunya berdiri di depannya. Ia pun langsung menghapus air matanya lalu menjawab, “Tidak apa-apa, Amak. Aku hanya teringat pada masa laluku yang begitu pahit itu. Ketika aku harus mengorbankan cita-citaku sebagai seorang politikus hanya demi menjadi seorang pengusaha. Mengikuti keserakahan apak.”

Maryam menghela nafas sejenak lalu berkata, “Yaaah .... Begitulah Apakmu. Dia begitu egois sehingga tak memperdulikan keinginan keluarganya. Aku berhenti menjadi seorang politikus dan berhenti dari organisasiku karena keegoisannya itu. Dia memintaku agar aku fokus mengurus rumah saja. Dan aku percaya begitu saja padanya. Tapi lama-kelamaan aku mengerti bahwa ia hanya ingin mengejar keinginannya untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Ia tak ingin aku masuk ke dunia politik lagi.

Maryam memandang wajah Halim dengan mata yang lembut. Kemudian ia menepuk bahu putranya itu lalu melanjutkan perkataannya,"Bersabarlah! Berdo’a saja agar suatu hari nanti sifat egois apakmu itu berubah. Dan kalian semua akan mendapatkan udara segar setelah keluar dari penjaranya itu.”

Halim memalingkan wajahnya dari Maryam. Kemudian ia berkata, “Aku tidak apa-apa jika menjadi korban dari kekejaman Apak. Aku sudah menerimanya sejak lama. Tapi aku hanya mengkhawatirkan nasib adik-adikku saja. Bagaimana jika mereka mengalami nasib yang sama denganku? Hati mereka pasti akan merasa lebih hancur dariku.”

Malam belum begitu larut. Nashir, Aziz, dan Aisyah pun belum beranjak jauh dari tempat duduk mereka. Mereka masih saja sibuk dengan buku-buku pelajaran mereka. Namun Malik telah kembali ke rumah.Ia langsung duduk di atas sofa di ruang keluarga tersebut. Melepaskan rasa lelah sambil memandangi anak-anaknya yang tengah sibuk belajar.

Malik merasakan keganjalan yang tengah terjadi malam hari itu. Mata Malik menoleh ke segala arah.Mencari sesuatu yang kurang lengkap yang seharusnya sudah berada di depan matanya. Sesaat ia mengetahui bahwa yang kurang itu adalah Syams, yang tak hadir untuk belajar bersama. Ia bertanya-tanya dalam hatinya tentang keberadaan putra bungsunya.

Hingga secara tia-tiba, ia tak sengaja melihat Syams tengah asyik bermain dengan pesawat mainannya.Ia pun segera memanggilnya dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Syams menghentikan permainannya ketika mendengar panggilan dari sang ayah. Dengan sangat gugup serta tubuh yang kaku, Syams mulai berjalan mendekati Malik dan duduk di samping ayahnya itu.

“Syams, kenapa kamu tidak bergabung dengan kakak-kakakmu itu dan belajar bersama mereka? Apa kamu sudah selesai belajar sehingga kamu memilih untuk bermain?” tanya Malik.

Dengan gugup, Syams menjawab, ”Aku tidak belajar hari ini, Apak. Sedang tidak ada tugas sekolah.Jadi aku bermain saja. Lagipula tadi siang sebelum bermain aku kan sudah belajar. Jadi, tidak apa-apa kan, Apak?”

Malik tersenyum lalu berkata, ”Tidak apa-apa. Apak tidak memaksamu untuk belajar terus-menerus. Sehingga kau melupakan waktu bermainmu. Apak percaya bahwa kau adalah anak yang sangat pintar. Dan kau juga begitu rajin belajar. Tidak usah disuruh pun kau sudah belajar sendiri. Jadi kau tidak usah ragu untuk beristirahat dan menggunakan waktu luangmu untuk bermain.

"Ya sudah, lanjutkan saja bermainmu! Tapi jika sudah waktunya tidur, maka cepat tidurlah!" lanjut Malik.

Syams tersenyum setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu. Ia lalu menjawab, “Baik apak."

Syams berdiri dari tempat duduknya. Kemudian ia berlari dan melanjutkan permainannya. Melihat Syams yang begitu gembira dengan permainannya, rasa lelah di tubuh Malik pun hilang seketika. Berbeda dengan Nashir, Aziz, dan Aisyah yang sangat iri padanya. Mereka ingin bebas bermain seperti Syams. Namun mereka tak mempunyai keberanian untuk mengatakannya pada ayah mereka. Selain itu, tugas sekolah mereka juga telah menumpuk.

”Kalian juga ya. Kalian juga boleh beristirahat dan bermain seperti Syams. Jangan menyiksa diri kalian dengan belajar terus-menerus. Apak percaya pada semua anak apak bahwa kalian sudah bisa mengatur waktu kalian sendiri,” tutur Malik sambil menepuk bahu Nasir.

Malik segera pergi meninggalkan Nashir, Aziz, dan Aisyah untuk beristirahat di kamarnya. Walaupun ia telah memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk mengatur waktu mereka sendiri, namun hal itu tak dapat membuat senyuman di wajah anak-anaknya tersebut. Mereka masih merasa takut jika mereka tak belajar dengan rajin maka ayah mereka akan sangat marah kepada mereka. Dan mereka akan mendapatkan hukuman yang berat. Hal itu membuat mereka kembali fokus pada buku-buku mereka. Mereka tak ingin melepaskan pandangan mereka dari buku-buku itu walau hanya sebentar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED