“Bagaimana, Mas Karim? Mas sungguh mau mempertimbangkan nilai akhir saya jika saya bisa melayani Mas ‘kan?” tanya Shifa kepada pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Asisten senior yang notabene pelit dengan nilai untuk praktikum yang dihadapi oleh Shifa sebagai mahasiswa baru.
“Jangan aneh-aneh, Dik Shifa. Aku sudah punya kekasih dan dia sangat mahir di ranjang,” komentar pria yang bernama Karim itu. Shifa merasa tertantang untuk mengetahui seberapa jauh eksplorasi Karim dengan kekasihnya itu. Gadis itu menaikkan pandangannya. Netra gadis itu, satu-satunya dari wajahnya yang terlihat di luar cadar yang dia kenakan, menyorot tajam ke arah Karim.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan, Mas Karim? Saya tidak masalah menjaga rahasia,” komentar Shifa dengan santai. Karim tertawa merendahkan.
“Apa yang kamu tahu tentang bermain di ranjang? Aku hanya membuat kalimat itu karena kamu bilang akan melakukan apapun,” tanya Karim dengan nada mengejek. Shifa benar-benar merasa dia harus membuktikan dia tidak semudah itu untuk direndahkan untuk keseriusannya.
Gadis itu langsung menurunkan cadarnya dengan cepat lalu mencium bibir Karim. Karim tampak terkejut dengan serangan Shifa hingga dia kesulitan untuk mengikuti permainan yang dibawa oleh mahasiswa baru yang berada di apartemennya ini. Shifa tidak peduli bahwa dia harus membuat Karim puas, karena nilai dari praktikum ini akan menentukan kelulusan satu mata kuliahnya.
“Kamu gila!” komentar Karim saat Shifa melepaskan ciuman dadakan itu.
“Mas tidak suka?” tanya Shifa datar. Karim terdiam. Ciuman Shifa lebih bersensasi dibandingkan ciuman yang selama ini dia dapatkan dari kekasihnya. Rasanya berbeda, seakan menantang Karim untuk meminta lebih.
“Kenapa Mas? Menikmatinya?” tanya Shifa dengan santai. Tangan mungil gadis itu sudah mulai menyentuh pusaka Karim yang sudah terlepas dari celana yang dia kenakan. Karim bingung, sejak kapan gadis itu melepasnya.
“Kalau Mas Karim benar-benar menginginkan saya, Mas Karim akan mendapatkannya selama rahasia ini di antara kita,” bisik Shifa di telinga kanan Karim. Karim merasa dia telah menemukan seorang gadis gila.
“Kamu bercanda,” komentar Karim datar. Sedatar yang dia bisa karena jelas Shifa benar-benar mencoba merangsangnya dengan sentuhan di pusakanya. Shifa menggelengkan kepalanya seraya menggunakan kedua tangannya untuk melepas kancing pakaian kemeja milik Karim.
“Saya bukan tipe bercanda, Mas Karim,” jawab Shifa bersamaan dengan kancing terakhir dia lepas dari pakaian Karim. Sekarang, pakaian dalam Karim digeser oleh Shifa untuk menyentuh bagian dada bidang pria itu.
Karim menyadari bahwa gadis di depannya ini serius dengan kalimatnya.
“Atau Mas sekarang ragu, karena saya bersungguh-sungguh?” tanya Shifa dengan santai. Karim bingung ingin menjawab apa. Jika dia mundur, maka harga dirinya akan hancur. Jika dia maju, maka dia telah berkhianat pada kekasihnya. Pada akhirnya, dia memilih berkhianat demi nafsu yang terus dipicu oleh gadis muda di depannya itu.
“Kamu sendiri, bukannya dirugikan dengan bersamaku?” tanya Karim memastikan. Shifa tersenyum tipis sementara tangan mungilnya sibuk bermain dengan pusaka dan dada Karim.
“Saya tidak rugi apapun, Mas Karim. Orang hanya kenal saya sebagai Shifa Sakinah yang pendiam, lugu, dan tidak dipedulikan. Kalaupun Mas bocorkan, saya tidak masalah,” jawab Shifa dengan tenang, “tetapi Mas Karim akan kehilangan Mba Cahaya,” lanjutnya dengan tenang. Karim tidak percaya bahwa Shifa mengetahui nama kekasihnya itu. Selama ini, dia dan Cahaya tidak mencolok di kalangan mahasiswa baru sebagai seorang kekasih.
“Teman-teman saya di angkatan mungkin lugu Mas, tetapi saya tidak bodoh. Sorotan mata Mba Cahaya dan Mas Karim menjelaskan semuanya,” jelas Shifa dengan tenang. Karim tidak percaya gadis ini sangat jeli dengan hal-hal seperti itu.
“Saya menduga ada ide licik di benak Mas Karim sewaktu mengatakan silakan bertemu saya di apartemen ini,” komentar Shifa lagi dengan santai. Karim benar-benar kesulitan untuk berpikir jernih antara kalimat penjelasan Shifa dan sentuhan-sentuhan memabukkan yang gadis itu berikan. Dia tidak menduga bahwa gadis mungil tertutup di depannya ini sangat liar di kamar tertutup.
“Mas mau dengan risiko pembuahan atau ini menjadi pesta kita saja?” tanya Shifa lagi dengan tenang. Karim membelalak mendengar kalimat itu. Gadis di depannya jelas gila!
“Apa maksudmu ‘pembuahan’!?” tanya Karim dengan intonasi tinggi. Shifa terkekeh.
“Masa Mas Karim bermain berkali-kali dengan Mba Cahaya tidak mengerti?” tanya Shifa dengan santai. Senyuman terlukis di wajah gadis itu, membuat Karim menyadari bahwa Shifa melontarkan pertanyaan serius.
“Kalau aku jawab tidak, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Karim dengan nada setenang mungkin. Shifa benar-benar mahasiswi tergila yang pernah dia hadapi.
“Saya bawa pil,” jawab Shifa dengan datar, “jadi penentunya jawaban Mas,” lanjutnya. Karim tidak habis pikir dengan mahasiswi ini.
“Kalau begitu, minumlah,” jawab Karim datar. Shifa tersenyum. Gadis itu bergerak mengambil segelas air lalu meminum sebuah pil bersama dengan air itu. Selanjutnya, gadis itu kembali menyentuh Karim dengan menggoda.
Karim menyadari, dia telah mengambil buah terlarang. Hanya saja, dia tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah ada di hadapannya. Karena dia telah memetiknya, maka dia harus menikmatinya.
“Tunjukkan padaku kalau kamu benar-benar bisa menyaingi Cahaya,” komentar Karim menantang Shifa. Shifa tersenyum menyeringai.
“Mas sungguh ingin menduakan Mba Cahaya? Mas tidak bisa kembali lagi setelah pergumulan kita nanti,” komentar Shifa mengingatkan dengan santai. Karim merasa Shifa sedang memainkan emosinya.
“Jangan bermain-main denganku, Shifa Sakinah!” hardik Karim dengan nada tinggi. Shifa sempat mundur karena terkejut, tetapi gadis itu kemudian melukiskan sebuah senyuman setelah Karim menyadari dia telah berteriak.
“Kalau begitu, saya yang memimpin ya, Mas Karim,” pinta Shifa dengan senyuman dan kedipan mata seksi di depan Karim. Karim menyadari, dia telah terperangkap dalam pesona seorang gadis muda. Mungkin, Shifa benar-benar tahu apa yang dia lakukan.
Shifa melepaskan pakaian miliknya hingga seluruh tubuhnya bisa disaksikan oleh Karim. Buah dada gadis itu mungkin tidak sebesar milik Cahaya, tetapi ukurannya pas di tangan Karim. Karim juga melihat betapa indahnya bagian kemaluan gadis itu, mengundang dirinya untuk tertawan penuh dalam pesona Shifa.
“Bidadari.” Satu-satunya kalimat yang bisa dikatakan oleh Karim. Dia telah salah mengira tentang Shifa. Karim mengira Shifa menyembunyikan tubuh jelek dengan pakaian yang sangat menutupi dirinya.
Bahkan, teman-teman seangkatannya yang nakal, yang dimana mereka asistensi dengan Karim sebagai asisten mereka, pernah mengatakan kalau dari semua gadis di angkatan mereka, Shifa adalah orang terakhir ingin mereka sentuh. Mereka mengatakan Shifa terlalu culun, tertutup, dan tidak menarik.
“Kenapa bengong, Mas Karim?” tanya Shifa dengan lekuk tubuhnya menyentuh tubuh Karim. Karim bisa gila menyaksikan tubuh Shifa di depannya seperti ini. Dia telah terperangkap dengan bidadari.
“Apakah saya terlalu cantik untuk ekspektasi Mas?” tanya Shifa lagi seraya bermain dengan tubuh Karim. Karim menelan saliva yang mulai keluar di lidahnya.
“Ah, Mas tidak sabar menyentuh saya, ‘kan?” tanya Shifa lagi dengan santai, masih bermain dengan tubuh Karim. Karim menahan diri untuk tidak gelap mata dan menerkam gadis di depannya itu.
Tangan Karim tidak bisa menunggu lagi. Perlahan, tangan itu melawan otak Karim untuk tidak mencoba menerkam gadis di depannya itu. Dia tidak boleh termakan rayuan Shifa. Dia masih memiliki Cahaya.
“Ayo Mas, masa saya sendirian membuat Mas menikmati semuanya?” tanya Shifa dengan bisikan sensual di telinga Karim. Karim benar-benar gila kalau ini tidak segera berhenti. Shifa bahkan menggerakkan tangan kanan Karim dengan tangan kanannya ke buah dada kiri gadis itu. Bahkan, gadis itu dengan sengaja menggerakkan tangan Karim untuk meremas buah dada itu secara perlahan.
Desahan keluar dari mulut Shifa, membuat Karim semakin kesulitan mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin melukai Cahaya dengan tindakannya. Dia tidak ingin mengkhianati Cahaya dengan cara ini. Akan tetapi, Shifa benar-benar buah terlarang yang dia telah petik dengan gegabah.
“Mas, Mas suka ‘kan?” tanya Shifa di antara desahannya. Karim tidak menjawab kecuali remasan dari tangan kanan pria itu semakin cepat dan intens. Shifa menyadari bahwa Karim masih ragu meskipun tangan kanannya jelas telah di bawah kendalinya. Dia pun memutuskan untuk menggerakkan tangan kiri pria itu untuk menyentuh buah dada kiri miliknya dan meremasnya perlahan.
Shifa menikmati sensasi dari dua tangan yang meremas buah dadanya. Di sisi lain, sentuhan-sentuhan yang dia berikan kepada dada dan pusaka pria itu jelas telah mencapai sedikit hasil melihat ada cairan yang mulai menitik keluar.
“Mas sepertinya sudah mulai tidak tahan ini,” komentar Shifa seraya menggunakan satu tangan mungilnya untuk menjamah pusaka itu dengan lebih banyak sentuhan. Karim seakan tidak bisa berpikir lagi dengan semua nafsu yang membuat otaknya berjalan lamban.
“Maafkan aku, Cahaya,” ucap Karim terbata-bata. Shifa merasa sedih untuk senior di depannya di dalam lubuk hatinya, tetapi dia telah berjalan sejauh ini dan harga dirinya tidak akan terkoyak oleh kesedihan. Karim semakin intens memainkan kedua buah dada Shifa, menyentuhnya dengan sentuhan-sentuhan yang membuat Shifa mendesah menikmati permainan ini. Shifa mulai mengerti kenapa seseorang bisa menyukai Karim di ranjang. Pria itu agresif.
Tangan kiri Karim segera menyerang bagian bawah Shifa. Gadis itu terkejut kala satu jari Karim masuk ke dalam lubangnya. Karim mengenai titik-titik sensitifnya dengan satu jari.
“Mas Karim! Terus Mas!” teriak Shifa meminta lebih. Sentuhan-sentuhan Karim membuat instingnya menggila. Karim yang sudah gelap mata memasukkan dua jari ke dalam tubuh Shifa. Shifa benar-benar dibuat meleleh oleh sentuhan di bagian intimnya. Karim pun tidak abai dengan buah dadanya, memainkan dengan remasan dan isapan yang membuat Shifa merasa berada di puncak kenimatan.
Lenguhan yang dikeluarkan oleh Shifa, menyebutkan nama Karim, membuat Karim semakin gelap mata. Pria itu mengeluarkan tangannya dan langsung menggesekkan pusakanya ke pintu masuk milik Shifa. Shifa yang belum mencapai satu pun pelepasan menahan Karim karena dia tidak ingin pusaka itu masuk dengan kasar ke bagian intimnya.
“Mas! Jangan masuk dulu Mas!” pinta Shifa, “tangan dulu!” lanjutnya. Karim memenuhi permintaan Shifa dan memasukkan dua jari kembali. Shifa yang mendekati orgasme akhirnya meneriakkan keras nama Karim, menandakan bahwa gadis itu telah mencapai pelepasan pertamanya.
Shifa tidak berhenti. Dia mencium Karim, membuat pria itu beradu dengan gadis yang membuatnya kehilangan akal. Karim benar-benar menikmati ciuman Shifa. Gadis itu benar-benar liar.
Setelah melepaskan ciuman mereka, Shifa langsung turun ke bagian bawah, memainkan mulutnya di pusaka Karim. Karim menggeram, menikmati permainan mulut Shifa. Karim ingin sekali melepaskan isi pusakanya di dalam intim Shifa, tetapi gadis itu tidak memberikan kesempatan itu. Gadis itu menyadari bahwa Karim semakin mendekati pelepasan tetapi menolak melepaskan mulutnya dari pusaka itu.
“Shifa! Aku ingin keluar!” teriak Karim. Shifa terus mengemut pusaka pria itu dan letusan pusaka Karim dia terima ke mulutnya. Gadis itu lalu menampilkan wajah sensual dan membuka mulutnya, mempersaksikan cairan Karim dia telan. Karim semakin bernafsu melihat betapa liarnya Shifa di hadapannya.
“Mas, aku ingin Mas di dalamku. Di ranjang ya Mas,” bisik Shifa di telinga kiri Karim setelah menelan cairan Karim. Seakan terhipnotis, Karim mengabulkan permintaan mahasiswi junior di hadapannya itu. Pria itu mengangkat tubuh mungil Shifa ke ranjang yang sering menjadi tempat dia dan Cahaya bercinta.
Karim meletakkan tubuh Shifa di bawahnya dan langsung menyerang buah dada gadis itu. Selain itu, dia juga mulai menggesekkan pintu masuk Shifa dengan pusakanya. Shifa merasakan bahwa pusaka Karim telah menantikan kesempatan untuk masuk. Gadis itu ikut mengarahkan pusaka itu supaya segera memasuki dirinya.
Saat pusaka itu memasuki rumahnya, seluruh bagian intim Shifa segera menyesuaikan kehadiran benda itu. Karim terkejut menyadari bahwa Shifa bukanlah perawan, tetapi sentuhan dari bagian intim Shifa luar biasa. Shifa membuatnya lebih gila dibandingkan kala dia bermain bersama kekasihnya Cahaya.
“Milik Mas besar!” teriak Shifa kepada Karim.
“Milikmu enak, Shif!” balas Karim menikmati gerakan yang diberikan oleh intim Shifa. Gadis di depannya ini luar biasa. Karim benar-benar mengambil buah terlarang.
Karim bergerak keluar masuk ke bagian intim itu. Susah bagi Karim untuk keluar setiap kali dia masuk karena intim Shifa membuatnya mabuk kepayang. Dia merasa akan mengeluarkan isinya di dalam tubuh Shifa jika ini terus berlanjut.
“Mas! Shifa tidak tahan lagi!” teriak Shifa menjelang pelepasannya.
“Bersama Shif! Aku juga!” teriak Karim pada saat titik puncak dia raih.
Penyatuan mereka berakhir dengan pelepasan bersama-sama. Tetes cairan menyembur keluar dari intim Shifa, berpadu dengan cairan Karim. Karim merasa secercah rasa bersalah kepada Cahaya, tetapi dia menikmati Shifa. Shifa benar-benar melebihi ekspektasinya, bahkan kekasihnya di ranjang.
Mereka bersama-sama mengambil napas sejenak dari pelepasan mereka. Shifa yang sudah mulai stabil napasnya, langsung bertanya kepada Karim.
“Mas mau ronde berikutnya?” tantang Shifa dengan santai. Karim terkejut mendengar kalimat Shifa. Dia sudah kelelahan dengan dua kali pelepasan bersama mahasiswi ini. Sekarang, gadis itu menantang ronde berikutnya?
“Kamu tidak lelah?” tanya Karim memastikan. Shifa tersenyum lalu menggerakkan pinggulnya, seakan mengajak Karim untuk bermain kembali. Karim menyadari Shifa tidak bercanda di awal pembicaraan mereka tadi. Dia benar-benar tidak bisa kembali.
“Mas jangan meremehkan saya,” jawab Shifa dengan senyumannya. Gadis itu mencium bibir Karim dengan rakus, membuat Karim kembali kewalahan. Karim merasa Shifa jauh lebih hebat daripada yang dia kira. Gadis itu menyembunyikan kemampuan bermain yang luar biasa dan memabukkan siapapun yang ikut bersamanya.
Shifa melepaskan ciuman mereka. Karim benar-benar menggila dengan Shifa yang teluh mengajaknya lebih jauh lagi.
“Kalau itu maumu, Shifa,” komentar Karim dengan senyuman. Dia tidak bisa lagi memikirkan tentang Cahaya. Shifa telah menguasainya. Buah terlarang dari pohon terlarang yang dia petik memang sebuah kenikmatan tersendiri yang salah. Sangat salah.
Karim tidak peduli.
“Mas, Mas mau kan masuk ke aku arah dari belakang?” tanya Shifa dengan nada sensual di telinga kiri Karim. Karim ingin mengatakan Shifa gila. Apa gadis itu ingin dimasukkan dari pintu belakang?
“Bukan dari sana,” komentar Shifa sebelum Karim salah memahami seraya menunjuk ke bagian belakangnya, “tetapi Mas masuk ke depan lewat belakang,” lanjutnya. Karim mengerti maksud Shifa. Gadis ini tahu beberapa posisi juga ternyata.
Karim segera memposisikan Shifa supaya bisa dia penetrasi dari arah belakang. Shifa mengikuti permainan Karim dan mengarahkan dua tangan Karim yang awalnya diposisikan di bahu gadis itu ke dua buah dadanya.
Karim yang merasakan sensasi di tangannya, segera meremas kedua buah dada Shifa. Shifa yang mendapatkan sensasi melepaskan desahan-desahan yang membuat libido Karim kembali memuncak secara perlahan. Karim mencium leher Shifa, membuat desahan-desahan yang menyebut namanya itu semakin indah terdengar di telinga Karim.
“Engh, Mas Karim ... puaskan aku Mas!” pinta Shifa di antara lenguhan yang menaikkan gairah wanita itu. Karim semakin bersemangat meremas dua buah dada Shifa. Shifa yang sudah tidak sabar segera menggunakan tangannya untuk mengaduk intimnya, memprovokasi Karim untuk datang.
“Mas, aku pengen milik Mas di sini,” ucap Shifa seraya memberikan isyarat dengan tangannya. Karim langsung menggesekkan pusakanya dengan pintu masuk Shifa mendengar pinta gadis itu. Shifa yang merasakan pusaka itu mendekat mendesah, berharap segera merasakan pusaka itu bersamanya di dalam.
Karim mencoba memancing Shifa dengan tidak memasukkan pusaka itu, yang membuat sang gadis kesal. Shifa mencoba meminta dengan sensual kepada Karim.
“Mas, masukkan Mas. Aku gatal pengen milik Mas,” pinta Shifa. Karim tidak mengabulkan dan hanya bermain di depan pintu masuk Shifa. Shifa yang menyadari dia dipermainkan langsung menggerakkan tubuhnya untuk menangkap milik Karim.
Karim yang tidak menduga gerakan Shifa langsung merasakan intim Shifa meremas-remas miliknya dengan sangat dahsyat. Shifa menggerakkan pinggulnya, membuat Karim merasa diaduk oleh intim Shifa yang membuat pria itu tidak tahan.
“Ah, Shifa! Kamu bisa membuatku keluar lagi! Ah!”
Shifa tersenyum mendengar kalimat Karim. Menurutnya, Karim terlalu mudah untuk dia luluhkan dengan sentuhan-sentuhan mautnya. Shifa mengerang menikmati pusaka Karim di inti dirinya.
“Mas! Milik Mas enak!”
Karim yang tidak ingin kalah mulai mencoba menggerakkan miliknya. Gerakan masuk dan keluar dari pusaka Karim membuat Shifa merasakan sentuhan-sentuhan nikmat di titik sensitifnya.
“Mas! Terus Mas!” teriak Shifa meminta lebih. Karim yang bersemangat mempercepat gerakannya untuk masuk ke inti Shifa. Karim sudah mengabaikan semuanya tentang Cahaya. Saat ini, otaknya hanya menginginkan Shifa yang membuatnya mabuk. Shifa yang membuatnya nafsu. Shifa yang membuatnya tergila-gila.
“Argh! Mas Karim enak banget sodokannya!” kalimat vulgar keluar dari mulut Shifa. Karim sebenarnya tidak menyangka Shifa bisa mengeluarkan kalimat sevulgar itu, tetapi dia menikmati permainan gadis itu.
“Milikmu juga enak, Shif!” balas Karim tak kalah bersemangat. Kedua tangan Karim terus memainkan buah dada Shifa yang membuat gadis itu semakin mendekati puncaknya. Shifa yang menyadari dia semakin dekat tidak ingin lepas sendirian. Gadis itu ingin Karim lepas bersamanya, dan dia menahan pelepasan itu selama mungkin.
“Mas! Aku sudah mau lepas!” teriak Shifa. Karim yang masih mengejar kenikmatan semakin mempercepat gerakannya. Intim Shifa semakin erat mengunci pusakanya, membuat dia semakin merasakan nikmat dan akhirnya mendekati titik pelepasannya.
“Aku keluar Shifa!” teriak Karim. Shifa yang mendengar itu langsung melepaskan dirinya bersama Karim. Ledakan pelepasan mereka membuat cairan mereka berceceran di kasur Karim. Karim yang kelelahan mendekap Shifa dan membawanya rebahan ke posisi spooning. Pusaka pria itu masih berdiam di dalam inti Shifa.
“Gak mau satu ronde lagi, Mas?” tanya Shifa menantang Karim. Karim mulai berpikir gadis di depannya ini hyper.
“Kamu tidak lelah?” tanya Karim balik kepada Shifa.
“Saya tidak lelah kalau Mas masih mau satu ronde lagi,” jawab Shifa dengan nada santai, meskipun sebenarnya gadis itu juga sudah mulai merasakan lelah. Hanya saja, Shifa belum puas. Jika dia akan mengeksplorasi lagi, dia ingin tidak setengah-setengah.
“Kamu menang Shif. Kamu memang luar biasa,” ucap Karim yang kelelahan. Pria itu harus memenuhi janjinya bahwa dia akan memberikan A+ jika ‘Shifa mau melakukan apapun’.
“Kalau Mas mau kasih aku nilai A+ ke semua praktikumku, aku berkenan bermain untuk Mas selama semester ini,” bisik Shifa menggoda Karim dengan permintaannya. Karim yang kelelahan menganggukkan kepalanya. Shifa benar-benar tangguh dan luar biasa. Memberi Shifa nilai terbaik praktikum untuk pelayanannya? Karim rasa tidak masalah. Akal sehatnya sudah rusak oleh Shifa. Jika itu yang diperlukan untuk mendekap Shifa, maka itu hal kecil saja.
“Aku tidak mungkin memberimu tanpa cacat,” jawab Karim mengingatkan Shifa permintaannya itu berbahaya. Karim ingin melakukannya, tetapi dia harus bisa mencari cara menjelaskan Shifa memang pantas nilai tersebut.
“Ajarkan aku supaya terlihat pantas untuk nilai itu kalau begitu, Mas Karim,” bisik Shifa. Karim merasakan Shifa benar-benar dengan kata ‘apa saja’ demi mendapatkan nilai sempurna. Lagipula, berduaan dengan Shifa dan bisa menikmatinya kapan saja? Sebuah tawaran yang sangat bagus bagi Karim. Otaknya yang putus akan sangat menyukai itu.
“Baiklah. Kita punya kesepakatan,” ucap Karim, “jangan sampai Cahaya tahu tentang kita,” lanjutnya. Shifa tersenyum sinis mendengar kalimat itu. Gadis itu memiliki banyak keunggulan dalam posisi ini. Dia telah berhasil mendapatkan banyak hal.
“Mas sudah beneran lelah?” tanya Shifa yang sekarang menggerakkan bagian intimnya, membuat pusaka Karim mendapatkan sensasi luar biasa. Gadis itu juga menggerakkan kedua tangan Karim untuk bermain dengan buah dadanya. Karim merasa dia benar-benar akan dibawa sampai tidak berdaya oleh Shifa. Shifa benar-benar kuat.
“Kamu yang pimpin, Shifa,” ucap Karim pasrah. Menyentuh kedua buah dada Shifa membuat dirinya mulai merasakan nafsu lagi. Perlahan, pusakanya yang sudah lemah mulai menegak seiring dengan nafsu kembali memenuhi pikirannya. Shifa tampak menikmati mengarahkan tubuh Karim bermain dengan dirinya.
“Wah, Mas sudah bertenaga lagi ya,” ucap Shifa seakan menantang Karim. Sepertinya Shifa menyadari pusakanya yang mulai berisi lagi.
“Bukannya itu maumu?” tanya Karim balik. Shifa membalikkan wajahnya dan mencium bibir Karim, membuat Karim terkejut tetapi menikmati ciuman mereka. Shifa tahu cara menggairahkan dirinya.
“Bagaimana Mas? Ronde berikutnya ya Mas,” ucap Shifa saat mereka melepaskan ciuman. Karim tersenyum mendengar kalimat itu. Cahaya tidak pernah melebihi dua ronde bersamanya. Shifa membuatnya gila hingga dia tidak tahu lagi berapa ronde sudah dia bermain.
Yang Karim ingat adalah Shifa meneriakkan namanya berkali-kali malam itu, dan dia berulang kali meneriakkan nama Shifa. Karim hanya bisa mengingat Shifa selama pergumulan mereka malam itu.