Ratu kaget bukan kepalang, ketika tiba-tiba sebuah tangan besar menarik tangannya agar masuk ke dalam mobil Jeep Wrangler Robicon hitam ketika sedang berjalan sendirian di trotoar menuju rumahnya.
"Lepaskan!" Teriak Ratu berusaha melepaskan diri dengan menarik tangannya agar terlepas.
"Diam!" Bentak pria tinggi besar berkulit hitam dengan suara baritonnya memaksa Ratu untuk masuk ke dalam mobilnya.
Ratu tetap berontak dalam cengkraman pria yang telah memeluk tubuhnya dari belakang. "Lepaskan! Apa yang kamu lakukan padaku? Lepaskan!"
Pria itu tidak mau kalah, meskipun Ratu tidak berhenti berontak, pria itu tetap berusaha keras memaksa Ratu untuk masuk ke dalam mobil. "Diam!"
Ratu tidak kehabisan akal, disaat genting otaknya masih bisa bekerja. Dengan sekuat tenaga, kaki besar pria yang memeluknya dari belakang diinjaknya sekuat tenaga sehingga spontan pelukan pria itu terbuka. Tanpa membuang waktu, Ratu dengan cepat segera ke luar dari dalam mobil yang pintunya masih terbuka lebar.
"Mau ke mana Ratu?" Tiba-tiba sebuah tangan berkulit putih dengan sedikit berbulu mencengkeram pergelangan tangannya ketika dirinya telah berhasil ke luar dari dalam mobil.
"Kamu!" Teriak Ratu dengan mata melotot karena pasti dalang yang terjadi sekarang adalah ulah orang yang sekarang ada di hadapannya.
"Hai, Ratu hatiku," sapanya tersenyum lebar tanpa melepaskan cengkeraman tangannya.
Ratu menatap galak pria yang mencengkeram tangannya. "Lepaskan atau aku akan berteriak!"
Pria itu malah tersenyum. "Berteriaklah sesuka hatimu. Tidak ada orang di sini yang akan menolongmu. Lihatlah sekelilingmu, begitu sepi dan sunyi. Daripada cape berteriak yang tidak ada gunanya, lebih baik kamu ikut denganku."
"Aku tidak mau!" Teriak Ratu dengan suara kencang sambil berusaha keras melepaskan pergelangan tangannya.
"Jangan sampai aku memakai kekerasan seperti tadi hanya untuk memintamu menemaniku makan siang! Ikut denganku atau aku akan menyuruh anak buahku untuk memaksamu masuk!" Ancam pria itu menatap tajam kedua bola mata Ratu.
Napas Ratu naik turun, jantungnya berdetak kencang. Meskipun pria yang ada di hadapannya punya paras yang sempurna, tapi Ratu tetap takut jika pria itu sudah terlihat marah.
Melihat Ratu terdiam, pria itu tersenyum. "Bagus! Jadilah gadis yang penurut agar aku tidak berbuat kasar padamu. Sekarang masuk ke dalam mobil!"
Pria besar tadi yang kakinya diinjak Ratu segera ke luar dari dalam mobil dan segera mempersilahkan Ratu untuk masuk.
"Apa harus aku meminta dia menarikmu masuk kembali seperti tadi!" Ancam pria itu melihat Ratu masih berdiri mematung tanpa pergerakan sedikitpun.
Ratu memejamkan matanya sejenak menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Jauh di dalam hatinya sangat kesal, tapi untuk melawan pria itu sama saja dengan membuang tenaga.
"Cepat masuk! Jangan membuatku kesal!" Pria itu mendorong punggung Ratu pelan agar segera masuk.
Mau tidak mau akhirnya Ratu masuk dengan wajah menahan marah. Ingin rasanya dia memukul pria itu sampai babak belur, apalagi barusan dia bilang jangan membuatnya kesal? Hallo, siapa di sini yang telah membuatnya kesal, dia atau dirinya?
"Kita ke mana Bos?" Tanya sopir melihat ke belakang lewat kaca spion dalam.
"Ke restoran," jawabnya. "Ini sudah waktunya makan siang."
Tanpa menunggu lama, mobil langsung meluncur membelah jalan raya yang terlihat lengang.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya pria yang duduk di sebelah Ratu.
Tidak ada jawaban, Ratu hanya melihat ke arah luar dengan ekspresi wajah kesal dengan bibir tertutup rapat.
"Ratu hatiku. Aku bertanya padamu, jawablah. Kenapa kamu selalu menguji kesabaranku?"
Ratu menutup matanya beberapa detik agar amarahnya tidak meledak, lalu dengan tajam melihat pria yang ada disampingnya. "Tuan Kenzo Bastian, apa tidak salah pertanyaanmu itu!"
Kenzo dengan wajah tidak berdosanya menjawab. "Tidak, apanya yang salah? Kamu memang selalu menguji kesabaranku."
Ratu mengepalkan kedua tangannya di antara kedua sisi tubuhnya. Napasnya naik turun melihat pria yang selalu membuatnya kesal. "Kamu memang sangat menyebalkan!"
"Ratu Elyna, ratu hatiku, kekasihku. Tenang, rileks. Nanti kamu cepat tua kalau marah-marah seperti itu." Kenzo tersenyum melihat gadis pujaan hatinya terlihat kesal.
"Aku bukan kekasihmu! Bukan kekasihmu!" Teriak Ratu dengan kencang sehingga sukses membuat orang yang ada di dalam mobil menutup telinganya.
"Badanmu kecil, tapi suaramu kencang sekali!" Kenzo menutup telinganya. "Hampir pecah gendang telingaku!"
"Bagus kalau pecah! Biar mati sekalian!" Teriak Ratu.
"Sadisnya. Umurmu baru 21 tahun, tapi otakmu sadis. Membunuh orang dengan teriakan," ucap Kenzo menggosok telinganya.
Ratu menatap galak Kenzo. "Aku bukan kekasihmu! Ingat itu baik-baik! Sampai kapanpun, aku bukan kekasihmu! Tidak ada dalam kamus hidupku, kamu itu kekasihku!"
"Tapi dalam kamus hidupku, kamu itu kekasihku selamanya," jawab Kenzo.
"Kamu memang benar-benar sangat menyebalkan! Apa tidak ada wanita yang menyukaimu, sampai kamu harus mengejarku yang jelas-jelas tidak mau padamu?"
"Wanita yang mengejarku banyak. Siapa yang tidak mau dengan Kenzo Bastian, pemuda tampan rupawan umur 26 tahun dengan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya," jawab Kenzo memuji dirinya sendiri.
"Lalu kenapa malah mengejarku yang jelas-jelas tidak mau denganmu? Dasar aneh! Sakit jiwa!" Ucap Ratu ketus.
Mendengar Ratu mengatakan dirinya sakit jiwa membuat Kenzo tersulut emosi. Dengan cepat ditariknya tangan Ratu sehingga tubuhnya membentur tubuh Kenzo yang keras. "Jaga ucapanmu!"
Ratu menatap dalam iris mata hitam legam yang terlihat marah. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya, tapi dengan cepat segera ditepiskan perasaan takutnya.
"Aku menyukaimu, tapi bukan berarti kamu bisa bicara seenaknya padaku. Lain kali jaga mulutmu!" Kenzo mendorong kembali tubuh Ratu menjauh darinya.
Ratu melihat Kenzo dengan amarah yang sudah diubun-ubun. "Turunkan aku di sini! Turunkan aku di sini!"
"Stop! Hentikan mobilnya," Teriak Kenzo meminta sopirnya untuk berhenti.
Sopir secara mendadak langsung menghentikan mobilnya. "Ada apa Bos?"
Tanpa melihat, Kenzo menyuruh Ratu untuk turun. "Cepat turun!"
Ratu tertegun beberapa detik karena kaget Kenzo menghentikan mobil dan memintanya turun. Tapi detik berikutnya, tangannya langsung membuka pintu mobil.
Setelah melihat Ratu turun dan menutup pintu mobilnya, Kenzo segera menyuruh sopirnya untuk jalan kembali.
Ratu berdiri dipinggir jalan melihat mobil Kenzo pergi begitu saja meninggalkan dirinya. "Dasar orang gila! Sudah jelas-jelas memang gila, tidak mau mengakui. Memangnya apa coba kalau bukan gila, memaksaku untuk ikut lalu mengaku kekasihku! Gila! Sakit jiwa."
Setelah puas mengumpat sambil melihat mobil Kenzo yang semakin lama semakin menjauh, Ratu baru tersadar kalau dirinya berada di tempat yang sepi. "Ya Tuhan, aku ada di mana ini?"
Ratu melihat ke sekeliling, tidak terlihat satupun kendaraan. "Bagaimana aku pulang? Ya Tuhan, kenapa aku selalu sial kalau bertemu si Kenzo itu?"
Ratu menghela napas, dilihatnya kiri dan kanan jalan. Dengan hati yang menggerutu, Ratu melangkahkan kakinya di bawah terik matahari menyusuri trotoar yang sepi. "Nasib, nasib. Kenapa malang sekali nasibmu Ratu Elyna?"
Sedang asik berjalan sambil mengumpat dan menggerutu, terdengar suara sepeda motor datang mendekat. "Hai cantik, sendirian saja?"
Ratu menoleh ke arah beberapa motor yang memang terlihat mau mengganggu dirinya. "Ya Tuhan, ada masalah apa lagi ini?" Hati Ratu bicara sendiri.
"Hai cantik," salah satu dari mereka mulai mengganggu Ratu.
Ratu tidak mempedulikannya, langkah kakinya semakin dipercepat berharap di depan bisa bertemu dengan seseorang agar para geng motor ini tidak mengganggunya lagi.
"Hai cantik!" Terdengar lagi mereka memanggil Ratu. "Sendirian saja. Kita temani ya atau kamu yang menemani kita. Ha-ha-ha."
Ratu semakin mempercepat langkahnya untuk menghindari mereka. "Ini semua gara-gara si Kenzo yang tidak bertanggung jawab. Awas saja kalau aku bertemu dengannya lagi, aku bikin hancur muka gantengnya itu!"
Dari sudut matanya, Ratu melihat ada empat motor yang mengekor di belakangnya. "Ya Tuhan, tolong aku. Jangan sampai aku celaka oleh mereka. Wajah mereka tidak ada satupun yang enak dilihat."
Ratu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak terlihat seorangpun di dekat tempatnya berjalan. "Daripada aku celaka, lebih baik aku berlari saja. Untung aku memakai celana panjang dan sneakers sehingga memudahkan aku berlari," hati Ratu bicara sendiri.
"Hai cantik, kenapa berlari?" Teriak salah satu dari mereka.
"Ayo kejar, jangan sampai gadis itu lolos! Kapan lagi kita bisa mendapatkan gadis cantik seperti itu?" Teriak temannya.
Ratu semakin mempercepat larinya. "Sialan, brengsek! Mereka mengikuti aku. Mereka memang mau berbuat yang macam-macam padaku. Ya Tuhan, tolong aku."
"Cantik, untuk apa kamu berlari? Nanti kaki indahmu lelah," teriak salah satu dari mereka yang berhasil mengimbangi Ratu berlari dengan sepeda motornya.
"Sialan," gumam Ratu. "Tentu saja aku tidak bisa kabur, mereka mengejarku dengan motor. Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada seorang pun di sini yang bisa aku mintai tolong."
"Untuk apa kamu berlari? Ke ujung dunia sekalipun kamu tidak bisa kabur dari kami. Lebih baik kamu simpan tenagamu untuk bersenang-senang bersama kami. Betul tidak teman-teman?" Tanya salah satu dari mereka melihat ke arah teman-temannya.
Semua temannya menjawab dengan tawa terbahak. "Ha-ha-ha."
Ratu tidak menghiraukan semua celotehan mereka, kakinya terus berlari menyusuri pinggir jalan berharap ada seseorang yang bisa menolongnya.
"Gadis ini keras kepala! Bagaimana kalau kita akhiri saja drama ini?" Tiba-tiba salah satu dari mereka menghadang Ratu dengan sepeda motornya sehingga nyaris saja tubuh Ratu terjerembab jatuh.
"Brengsek! Mau apa kalian?" Tanya Ratu marah menatap pria yang menghadangnya dengan sepeda motor.
Beberapa dari mereka tertawa. "Mau kami? Ha-ha-ha. Bermain denganmu."
Ratu menjawab galak. "Brengsek! Cari orang lain untuk kalian ajak bermain!"
"Kami hanya ingin bermain denganmu," jawab salah satu dari mereka yang sepeda motornya menghadang Ratu.
"Aku tidak mau! Jangan ganggu aku!" Teriak Ratu. "Atau aku akan berteriak!"
"Ha-ha-ha. Berteriaklah sekeras-kerasnya, tidak ada yang akan mendengar teriakanmu. Apa kamu buta? Lihat! Tidak ada orang di sini!" Jawab pria tersebut.
Napas Ratu naik turun tidak beraturan menahan marah. Dilihatnya satu per satu para pria yang masih duduk di atas sepeda motornya. "Mereka ada enam orang dengan wajah yang sangat mengerikan semuanya. Aku harus memasang kewaspadaan penuh, sepertinya mereka memang bukan orang baik." Hati terkecil Ratu bicara sendiri.
"Hai cantik, kok bengong? Ha-ha-ha. Ayolah, ikut dengan kami." Salah satu dari mereka yang bertubuh gempal turun dari sepeda motor mendekati Ratu.
Ratu mundur satu langkah, matanya tajam menatap pria gempal tersebut jika tiba-tiba pria itu berbuat jahat, dirinya bisa waspada.
"Jangan takut, kami tidak akan melukaimu. Benar tidak teman-teman?" Ucapnya melihat ke arah temannya yang dijawab dengan tawa terbahak mereka.
"Ha-ha-ha "
Salah satu dari mereka ada yang turun dari sepeda motornya. "Gadis ini cantik sekali, kulitnya putih dan mulus dengan tubuhnya yang ck, ck, ck seksi. Aku tidak tahan ingin mencicipinya."
"Matamu tidak pernah salah dalam menilai wanita. Gadis ini memang sangat cantik," jawab si pria gempal.
"Bawa saja gadis itu dengan paksa. Kita bawa ke markas!" Teriak pria yang dari tadi tidak ikut bicara.
"Sebelum ada orang yang datang, kita bawa gadis itu. Ayo, paksa saja!" Jawab yang lain.
"Ayo cepat! Kita berpesta di markas," jawab yang lain melihat ke sekelilingnya berjaga kalau ada orang yang melihat.
Pria bertubuh gempal maju mendekati Ratu yang perlahan mundur. "Ayo manis, kamu sudah mendengar apa yang teman-temanku inginkan, kita berpesta di markas. Jangan takut, kita akan sama-sama senang. Kami tidak akan melukaimu, asalkan kamu tidak melawan."
Ratu mundur menghindari pria gempal tersebut. "Jangan mendekat!"
"Jangan takut. Ayo," ajak pria gempal tersebut tersenyum manis merayu Ratu.
"Berhenti, stop! Jangan mendekat," teriak Ratu melihat ke belakang yang sudah mentok kerena ada sepeda motor teman si pria gempal yang menghalangi.
"Jangan takut. Ayo, kami tidak akan melukaimu," tiba-tiba pria yang ada di samping di pria gempal langsung maju dan memegang pergelangan tangan Ratu.
Mata Ratu melebar, dirinya sangat terkejut. "Lepaskan! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!"
"Ssst, jangan berisik. Kami tidak akan melukaimu," jawab pria tersebut menarik tangan Ratu agar naik ke sepeda motornya.
"Lepaskan! Brengsek!" Teriak Ratu memukul tangan pria tersebut dengan tangan satunya lagi.
Tenaga Ratu tentu saja tidak seimbang dengan tenaga pria yang menarik tangannya, pukulan-pukulan tangan Ratu seakan tidak berarti apa-apa baginya. Dengan santai tangannya menarik pergelangan tangan Ratu sementara teman-temannya ikut tertawa senang.
"Kamu memang yang paling tidak tahan kalau sudah menyangkut tentang wanita. Pasti si otongmu itu sudah berdiri dari tadi. Ha-ha-ha." Ledek si pria gempal.
Ratu semakin ketakutan. "Lepaskan tanganku! Tolong! Tolong!"
"Ssst! Jangan buang tenagamu secara percuma, tidak ada yang akan menolongmu. Lebih baik kamu ikut dengan kami," pria tersebut memaksa Ratu untuk naik ke atas motornya.
Semua temannya tertawa terbahak melihat pria tersebut sedikit kerepotan dengan penolakan Ratu yang terus saja memberontak. "Ha-ha-ha."
Ratu berusaha keras agar tangannya bisa terlepas dari pria tersebut. Tanpa berpikir panjang, Ratu dengan cepat menggigit tangan yang mencengkram tangannya dengan kuat tanpa merasa jijik.
"Aaa!" Teriakan yang begitu keras ke luar dari mulut pria tersebut, cengkramannya terlepas ketika Ratu menarik tangannya dengan paksa.
Semua temannya terkejut mendengar dan melihat temannya berteriak karena kesakitan. Wajahnya meringis sambil memegang tangannya yang kesakitan dengan bekas luka sebuah gigitan.
"Kenapa?" Tanya si pria gempal kaget melihat temannya meringis.
Ratu tidak membuang kesempatan, melihat semua orang lengah karena terkejut dengan teriakan temannya, dengan cepat Ratu berlari melewati sepeda motor yang menghalanginya.
"Gadis itu kabur!" Teriak salah seorang yang melihat Ratu berlari.
"Cepat kejar gadis itu! Jangan sampai dia lolos!" Teriak pria yang tangannya digigit. "Cepat kejar!"
Ratu terus saja berlari sekuat tenaga tanpa mau melihat ke belakang. Tujuannya hanya satu, ingin selamat dari para pria yang akan melecehkannya.
Beberapa orang dari mereka langsung menghidupkan sepeda motornya dan mengejar Ratu yang sedang berlari sekuat tenaga.
"Cepat kejar gadis itu! Jangan sampai dia masuk ke jalan kecil!" Teriak pria bertubuh gempal.
Suara sepeda motor semakin jelas terdengar di telinga Ratu. "Mereka mengejarku dengan sepeda motor, aku tidak bisa lolos kalau terus berlari di jalan besar. Jalan satu-satunya, aku harus berlari ke tempat sempit. Ya Tuhan, tolong aku," bisik hati kecilnya.
Ratu melihat sebuah jalan kecil ke arah kiri dalam jarak beberapa meter. "Lebih baik aku masuk ke jalan itu. Sepeda motor mereka tidak akan bisa masuk."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah belakang, kemudian disusul suara sepeda motor yang terjatuh. "Aaa!"
Ratu yang berniat mau masuk ke jalan kecil langsung menoleh ke belakang karena mendengar suara benturan yang keras. Matanya terkesiap melihat tiga buah sepeda motor sudah tergeletak di tengah jalan beserta orang-orangnya.
Tiga buah sepeda motor tergeletak di tengah jalan dengan roda ban yang masih berputar, begitu juga dengan orang-orangnya yang tergeletak berusaha untuk bangun dengan wajah yang meringis kesakitan.
Hanya satu-satunya sepeda motor milik pria bertubuh gempal yang selamat dan hanya diam melongo bercampur kaget melihat ke tiga sepeda motor temannya telah tumbang di tengah jalan.
"Kenapa dengan mereka?" Gumam Ratu heran, tapi kemudian tatapannya jatuh pada satu titik sebuah mobil Jeep Wrangler Rubicon warna hitam yang sangat dikenalnya. "Kenzo."
Dari jarak beberapa meter, Kenzo sedang berdiri di depan mobil Jeep Wrangler Rubicon hitamnya didampingi kedua bodyguard nya. Terlihat tangan mereka sedang memegang senjata api pendek.
"Sekarang aku mengerti kenapa mereka terjatuh dari sepeda motornya, ternyata ada biang keroknya," gumam Ratu. Ada sedikit rasa senang dalam hatinya begitu melihat Kenzo dari kejauhan, tapi ada juga rasa kesal karena semua ini terjadi gara-gara Kenzo yang menurunkannya di tengah jalan.
Pria yang bertubuh gempal terlihat ketakutan begitu melihat Kenzo, tanpa memikirkan teman-temannya yang tergeletak di tengah jalan, pria gempal tersebut langsung tancap gas melarikan diri dengan temannya yang duduk dibelakang.
Ke empat orang yang sedang kesakitan berusaha bangun dengan wajah meringis. Salah satu dari mereka mencari dalang siapa yang telah menembak sepeda motor mereka bertiga. "Sialan! Kurang ajar!"
"Siapa yang berani kurang ajar dengan kita?" Teriak salah satu dari mereka melihat ke sekeliling.
"Kenzo!" Ucap temannya kaget melihat seorang pria dengan setelah jas hitam-hitam sedang berdiri dengan santainya melihat ke arah mereka.
"Malapetaka buat kita. Lebih baik kita pergi daripada harus berurusan dengannya," salah satu dari mereka langsung mengangkat sepeda motornya yang tergeletak.
"Kita harus segera pergi. Cepat cabut!" Teman yang satu lagi dengan terburu-buru segera menyalakan motornya.
Dalam hitungan detik, ketiga motor tersebut langsung tancap gas meninggalkan tempat kejadian dan sudah tidak peduli lagi dengan gadis cantik yang tadi dikejarnya.
Ratu hanya melongo melihat orang-orang yang ketakutan begitu melihat Kenzo, sementara Kenzo sendiri nampak santai saja berdiri di antara kedua bodyguardnya. Bahkan terlihat sangat tenang.
Sekarang tidak ada lagi suara berisik sepeda motor, keadaan menjadi sepi seperti semula.
Ratu melihat Kenzo berjalan ke arahnya. Hatinya sangat marah dan kesal, ingin rasanya menggampar atau memukul wajah Kenzo yang ganteng itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kenzo santai melihat Ratu dari atas sampai bawah. "Apa kamu terluka?"
Napas Ratu naik turun, tangannya terkepal di antara kedua sisi tubuhnya. Amarahnya tersulut melihat wajah Kenzo yang santai tanpa merasa bersalah, padahal semua ini terjadi karena Kenzo yang membawanya dengan paksa dan menurunkannya di pinggir jalan yang sepi.
"Apa ada yang terluka?" Tanya Kenzo menatap wajah Ratu yang terlihat marah dan kening yang berkeringat serta rambut panjangnya yang dikuncir kuda terlihat berantakan.
"Kamu ---," napas Ratu naik turun. "Kamu, kamu brengsek! Sialan!" Teriaknya kencang, marah dengan tangan terkepal di antara kedua sisinya.
Kenzo hampir saja meloncat ketika Ratu berteriak di depannya. "Kamu membuatku jantungan. Hobi sekali berteriak."
"Gara-gara kamu, aku hampir mati tadi!" Teriak Ratu kesal, saking kesalnya sampai matanya berkaca-kaca.
Kenzo terdiam, ditatapnya iris mata coklat yang ada di depannya. Hatinya merasa iba dan merasakan sakit melihat Ratu yang hampir menangis.
"Aku ---," Ratu tersengal mengatur napasnya yang ingin menangis. "Aku tadi sangat takut, mereka mengejarku seperti orang gila."
Kenzo maju selangkah mendekati Ratu. "Maafkan aku, semua ini memang salahku."
Tanpa bisa di tahan lagi, perlahan air mata yang telah menggenangi kelopak mata mulai jatuh membasahi pipi Ratu. "Bagaimana kalau aku tadi sampai dilecehkan oleh mereka? Apa yang akan terjadi dengan hidupku?"
"Maafkan aku Ratu, maafkan aku," bisik Kenzo menundukkan kepala tidak tahan melihat gadis yang dicintainya menangis di depannya dan juga menangis karena ulahnya.
Ratu terisak, air mata sudah tidak bisa dibendungnya. Bayang dirinya yang tadi sangat ketakutan ketika dipaksa naik ke atas motor dan di kejar dengan sepeda motor kembali terbayang dipelupuk matanya.
Kenzo langsung menarik tangan Ratu dan memeluknya erat dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku. Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku sungguh sangat menyesal, maafkan aku."
Ratu semakin terisak dalam pelukan Kenzo, air mata semakin membanjiri kelopak matanya. Tanpa sadar kedua tangannya memeluk tubuh Kenzo untuk meluapkan isak tangisnya.
Setelah beberapa menit Kenzo terdiam membiarkan Ratu menangis dalam pelukannya, perlahan Kenzo merenggangkan pelukannya. "Apa kamu sekarang sudah lega?"
Ratu mengusap air matanya dengan wajah kesal. "Gara-gara kamu aku jadi begini! Brengsek! Sialan!"
Kenzo tersenyum, dalam hitungan menit sifat gadis yang sangat dicintainya bisa berubah. Tadi menangis seperti orang yang teraniaya, sekarang berteriak marah seperti mau menerkam orang.
Ratu baru tersadar kalau tubuhnya begitu rapat dengan tubuh Kenzo, secara refleks langsung mendorong tubuh Kenzo. "Jangan sentuh aku!"
Kenzo menghela napas, menatap wajah yang sedang sibuk menghapus air mata. Tangannya mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya lalu diberikannya pada Ratu. "Pakai ini untuk menghapus ingusmu itu."
Tanpa banyak basa basi, Ratu langsung mengambil sapu tangan dari tangan Kenzo. Tanpa rasa malu, Ratu langsung mengeluarkan ingus yang menyumbat hidungnya sehingga membuat Kenzo meringis mendengar suaranya.
"Ih, jorok sekali!" Ucap Kenzo melihat sapu tangannya yang dipakai Ratu untuk buang ingus.
Setelah selesai dengan drama nangis dan ritual buang ingusnya, Ratu mengembalikan lagi sapu tangan ke tangan Kenzo. "Ini."
"Ih ... kamu ini perempuan, tapi jorok sekali. Buang saja!" Kenzo melempar sapu tangan yang ada di tangannya.