Bab 1

"Aisyah bangun sayang!" teriak Adiba Bunda Aisyah yang melihat putrinya itu masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupinya.

"Ah Bunda, aku masih ngantuk," gerutu Aisyah sambil membalikan tubuhnya.

"Ayo bangung mandi dulu nanti kita sarapan, Ayahmu sudah menunggu di ruang makan," ujar Adiba dengan menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu.

Aisyah menggeram, "Nanti aku mandi Bun, tunggu lima menit lagi ini cuacanya dingin banget."

Adiba hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan anaknya, "Kalau nunggu dingin kapan mau mandinya? Mau siang hah?"

Aisyah membalikan tubuhnya yang masih nyaman berada di atas kasur dia membuka matanya dan menatap Bundanya, "Ah Bunda aku masih ingin tidur," lirihnya.

"Ayoo bangun! masa anak gadis bangunnya siang," tukas Bundanya.

Aisyah menggeliat dengan enaknya lalu mengulurkan tangannya, "Iya Bunda, Bangunin!"

Setelah Aisyah bangun dan beranjak ke kamar mandi Adiba pun berlalu untuk turun ke bawah.

"Bunda tunggu di bawah ya kamu jangan lama-lama mandinya!" pinta Adiba sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar Aisyah.

Aisyah Salsabila merupakan anak kedua dari dua bersaudara dia terlahir dari orangtua yang selalu mementingkan pendidikan dan taat dalam beribadah, kakaknya bernama Katya Salsabila yang kini sedang melanjutkan studynya di Kairo Mesir Ayahnyalah yang memintanya untuk melanjutkan sekolah di sana dan setiap keputusan Ayah tidak akan ada yang bisa menolaknya, Katya memang anak yang pintar dan selalu juara di sekolahnya hal itu menjadi cerminan untuk Aisyah agar bisa menjadi seperti kakaknya.

Air terasa seperti air es saja membuat Aisyah takut untuk menyentuh air di bak mandi untung saja hari ini dia libur sekolah membuatnya merasa beruntung tidak akan berjalan menembus jalanan yang cuacanya dingin seperti ini.

"Huhf kenapa hari ini dingin sekali ya?" gumam Aisyah setelah selesai mandi.

Dengan cepat Aisyah memakai pakaiannya untuk segera turun menemui kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di ruang makan.

"Pagi Ayah Bunda," sapa Aisyah saat melihat Ayah dan Bundanya makan.

Ayahnya hanya tersenyum, "Kebiasaan banget kalau hari libur pasti bangunnya siang," omel Ayahnya.

Aisyah mengakui kesalahannya itu dan memang benar saja alasannya ya malas mandi karena dingin.

"Ya sudah ayo buruan makan!" sergah Adiba sambil menuangkan nasi ke piring dan memberikannya kepada Aisyah.

"Ayah mau pergi ada rapat di kantor hari ini," ujar Ayahnya yang selalu memberi tahu kemana dia akan pergi.

Aisyah menatap Ayahnya yang memang sedang berpakaian rapi dengan dasi yang melekat di keranya. "Ayah Aisyah juga boleh main?" tanyanya meminta izin.

Adiba menoleh menatap putrinya itu dengan kerutan di keningnya Aisyah hanya tersenyum kelu sambil menunggu jawaban dari Ayahnya.

"Memangnya mau pergi kemana hah?"

"Aisyah sudah ada janji akan pergi ke rumah Fatimah soalnya ada tugas kelompok kemarin," jelas Aisyah yang sebenarnya tidak ingin pergi kemana-mana, hanya saja teman-temannya ingin mengerjakan tugasnya di rumah Fatimah bukan di rumahnya dengan alasan rumah Fatimah lebih dekat dengan rumah yang lainnya.

Ayah masih diam sambil melahap sarapannya, "Sudah jam tujuh Ayah harus berangkat dulu ya!"

"Ayahhh!" gerutu Aisyah karena permintaan izinnya belum dijawab oleh Ayahnya.

"Mobil sudah siap tuan Haris," ujar Pak Ujang supir pribadi di rumah ini. Haris nama Ayahnya Aisyah.

Aisyah menatap Bundanya dengan nelangsa, "Ayah, aku pergi dibolehin ya! Nanti kalau aku gak pergi gak akan dapet nilai," tukas Aisyah dengan kesal.

Haris menatap Aisyah sambil berpikir sesuatu, "Pak Ujang antar Aisyah ke rumah temannya saja biar saya pergi naik mobil sendiri," pinta Haris dengan keputusannya.

"Ayah," gumam Adiba sembari bangkit dari duduknya.

"Bundaa!" rengek Aisyah yang memang tidak ingin jika dia pergi selalu diantar jemput oleh supir.

"Ini yang terbaik buat kamu jika tidak mau ya sudah tidak usah pergi!" tukas Ayahnya sambil beranjak pergi.

Adiba membawakan tas kerja dan mengikuti suaminya ke depan rumah sedangkan Aisyah kembali terduduk sambil menyantap buah pir yang ada di atas meja makan.

"Kapan mau pergi Non?" tanya Pak Ujang sambil menunduk patuh.

Aisyah masih merasa kesal dan berpikir jika dia tidak pergi maka dia bisa kena omel teman kelompoknya dan tentu nilainya akan dikurangi Aisyah merasa bingung.

"Sekarang Pak," jawab Aisyah dengan ketus.

"Siap Non!" ucap Pak Ujang dengan tegas dan berlalu pergi.

Adiba telah kembali yang berarti Ayahnya sudah pergi.

"Bunda memangnya kakak juga dulu seperti itu ya?" tanya Aisyah yang penasaran akankah sikap Ayah memang seperti itu kepada anak-anaknya yang lain.

Adiba mengangguk, "Iya sayang, Ayahmu memang sangat mengkhawatirkan anak-anaknya apalagi ke dua anaknya perempuan semua," jawab Adiba sambil mengelus kepala Aisyah yang tertutup dengan hijab.

"Tapi kan Bun sampai kapan Ayah akan selalu menyuruh Pak Ujang untuk mengantar jemputku jika aku pergi? Kan aku juga ingin naik motor dengan teman-temanku jika pulang sekolah," ungkap Aisyah.

"Temen cewek apa cowok?" ejek Adiba dengan menggoda anak gadisnya ini.

Aisyah terkekeh, "Ah Bunda selalu saja menggodaku, aku tidak pernah membayangkan bagaimana jika aku diantar oleh seorang laki-laki ke rumah dan Ayah tahu itu," seru Aisyah.

"Hehehe," Bunda hanya tertawa karena ikut membayangkan jika itu terjadi bagaimana ekspresi suaminya itu.

Selama ini kedua putrinya selalu patuh akan perintah Ayahnya untuk tidak berpacaran karena harus pokus dengan pendidikan apalagi Aisyah mempunyai hafalan Al-Quran bagaimana nantinya hafalan itu akan tetap bertahan saat putrinya berbuat maksiat.

"Ya sudahlah Bun lagi pula aku percaya bahwa keputusan Ayah adalah yang terbaik buat anak-anaknya," ujar Aisyah dengan tersenyum.

Adiba pun mengangguk sembari tersenyum, "Ya sudah lanjutkan sarapannya!"

"Sudah Bun, aku mau pergi dulu ya," pamit Aisyah sambil mencium tangan Bundanya itu.

"Hati-hati ya sayang belajar yang benar." Adiba memberikan kecupan hangat untuk putrinya itu.

Aisyah berlalu pergi berjalan menuju pintu keluar sudah terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Pak Ujang.

"Ke mana Non?" tanya Pak Ujang saat membukakan pintu mobil untuk Aisyah.

"Ke jalan Anggrek no 3 Pak," sahut Aisyah sembari menggunakan sabuk pengaman.

*"Fat, gue udah berangkat nih."*

Aisyah mengirim pesan untuk memberitahu jika tidak seperti itu maka temannya ini akan mengomel.

*"Baiklah gue tunggu."*

Gue dan Lu memang perkataan biasa yang memang sering Aisyah gunakan untuk berbicara dengan teman-temannya dan tidak ada masalah bukan? Karena rata-rata teman-temannya berbicara dengan Gue dan Lu, jadi menurut Aisyah itulah perkataan untuk lebih dekat dengan teman-temannya terkadang juga Aisyah menggunakan kata saya ketika berbiraca formal dengan teman-temannya atau pun Guru-guru.

"Belok kanan Pak," seru Aisyah saat sudah sampai di gang rumahnya Fatimah.

"Baik Non," sahut Pak Ujang.

"Pak Ujang boleh pulang dulu nanti pulangnya akan aku kabarkan lewat Bunda ya," ujar Aisyah sambil tersenyum kasihan jika Pak Ujang harus menunggu dia selesai belajar.

"Owhh baik Non kalau begitu." Pak Ujang tersenyum mendengarnya.

Tinn ... tinn ....

Rumahnya Fatimah pun dijaga dengan Saptam Pak Ujang membunyikan klakson mobilnya lalu terdengar suara Fatimah yang memanggil Saptamnya.

"Pak Hendri buka gerbangnya Pak!"

Dengan cepat gerbang pun dibuka Aisyah turun dari mobilnya.

"Woyy Ujang!" seru Pak Hendri yang memang sudah kenal dengan Pak Ujang karena sering bertemu kala Aisyah main ke rumah Fatimah.

Pak Ujang melambaikan tangannya dan tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.

"Silahkan masuk Non," ujar Pak Hendri mempersilahkan.

"Makasih Pak," sahut Aisyah kepada Pak Hendri sambil tersenyum.

Bab 2

"Ayo masuk yang lain sudah ada di dalam," ujar Fatimah saat Aisyah sudah sampai di depan rumah Fatimah.

"Owhh yaudah yuk!"

Aisyah sudah beberapa kali main ke rumah Fatimah tapi tak pernah melihat kedua orang tuanya.

"Fat, rumah lu besar tapi kok gue lihat cuma ada pembantu sama lu doang Bokap sama Nyokap lu mana?" tanya Aisyah pikirannya penuh dengan rasa ingin tahu.

Fatimah diam sebentar tidak langsung menjawab pertanyaan sahabatnya ini.

"Hemm orangtua gue kan kerja di Amerika ada perusahaan mendiang Kakek gue di sana yang diberikan ke Bokap untuk mengurusnya," jelas Fatimah dengan mata yang berlinang.

Aisyah melihat ada luka di hatinya dengan perlahan Aisyah memberikan sentuhan pelan di bahunya untuk memberikan kekuatan dan kesabaran pada sahabatnya ini.

"Sabar ya Fat, kalau lu kesepian lu bisa minta si Jaki buat ke sini aja nemenin lu haha," ejek Aisyah sembari tertawa.

Jaki adalah teman kelasnya yang cupu tapi menyukai Fatimah dia pun kerap kali mengirim surat untuk Fatimah.

Fatimah pun ikut tersenyum mendengar candaan Aisyah.

"Ya kali gue nyuruh dia ke rumah bisa-bisa gue diapain sama dia," gerutu Fatimah sambil bergidik takut.

"Hahahaha." Aisyah terus tertawa membayangkan jika Jaki main ke rumah Fatimah.

"Sudah sudah lu mau minum apa?" tanya Fatimah dengan sisa tawanya.

Aisyah masih tertawa tidak berhenti rasanya dia ingin mengundang Jaki ke rumahnya Fatimah.

"Terserah lu aja deh wkwkw." Aisyah berusaha menahan tawanya dengan telapak tangan sembari sesekali beristigfar karena terlalu banyak tertawa.

"Yaudah gue ambilin minum dulu ya! duduk aja dulu," ujar Fatimah dan berlalu pergi.

Terdengar dering ponsel Fatimah yang mana tertera panggilan dari Reyhan di layar ponsel.

Aisyah ingin mengangkatnya namun ada rasa tidak enak hati dalam dirinya.

"Ada apa ya kok Reyhan nelepon Fatimah?" gumam Aisyah dalam hati.

Reyhan merupakan teman kelas Aisyah dan Fatimah cowok itu terkenal kutu buku di kelas dia sering kali bersaing dengan Raka ketika ujian tiba dia bertubuh tinggi dan selalu berkaca mata karena matanya yang mint.

"Aisyah nanti lu yang jelasin aja ya gue yang baca," tukas Fatimah dengan membawa dua gelas minuman.

Aisyah menoleh mendengar perkataan Fatimah. "Kok gue sih? gak mau ah lu aja."

Fatimah meletakan gelas itu di atas meja dengan setoples makanan ringan untuk menemani mereka mengerjakan tugas.

"Gue yang baca lu yang jelasin ya! lu kan tahu sendiri kalau gue jelasin yang ada nanti mati kutu gue di depan." Fatimah masih merajuk Aisyah sambil memegangi tangannya.

"Okey okey nanti gue yang jelasin asal bantuin cari referensinya ya!" ujar Aisyah.

"Makasih baby."

Fatimah pun memeluk Aisyah sebentar lalu melepaskannya sambil tersenyum senang.

Setiap orang itu pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan Fatimah sangat pintar dalam pelajaran dan pengetahuannya lebih luas dibanding Aisyah namun Fatimah mempunyai rasa malu atau kaku dalam memberikan penjelasan di depan teman-temannya yang lain sedangkan Aisyah memang tidak pandai dalam mata pelajaran tapi dia selalu berani jika diminta tampil di depan teman-teman yang lainnya.

"Fat, tadi ponsel lu bunyi sepertinya ada telepon dari seseorang," ungkap Aisyah sambil membuka-buka lembaran buku paketnya.

Fatimah langsung meraih ponselnya dan membukanya yang benar saja Reyhan barusan menelponnya.

Aisyah menoleh menatap Fatimah yang sedang mengetik pesan untuk seseorang yang dia duga Reyhanlah orangnya.

"Yaudah dari mana dulu nih kita rangkumnya?" tanya Fatimah saat telah selesai urusannya.

Aisyah berpikir apa jangan-jangan Fatimah dan Reyhan mempunyai hubungan dekat tanpa anak-anak yang ketahui termasuk dirinya.

Fatimah menepuk bahu Aisyah. "Hey dari mana nih gue nulisnya?"

Lamunan Aisyah pun buyar seketika. "Eh iya udah lu nulisnya dari A aja langsung nanti lu rangkum deh sedangkan gue mau nulis contohnya," jelas Aisyah.

Mendengar perkataan sahabatnya ini Fatimah langsung mengambil posisi untuk mulai menulis.

"Syah, gue nyalahin musik ya biar enak ngerjain tugasnya!" usul Fatimah dengan sumringan.

Aisyah menoleh dan memetikan jarinya, "Nah, ide bagus tuh setel lagunya yang enak ya dan jangan lupa putar lagunya Astro dan Ikon ya."

Dengan senang Fatimah menyalahkan lagu kesukaannya dan musiknya dua boy band yang Aisyah minta.

Senandung lagu pun mulai terdengar di ruangan itu Fatimah menggelengkan kepalanya perlahan-lahan mengikuti irama musiknya bagitu pun Aisyah yang nampak terbawa dengan lirik-lirik lagu tersebut hingga ikut bersenandung.

Beginilah Aisyah dan Fatimah jika sedang mengerjakan tugas kelompok seperti tidak ada rasa malas atau lelah sedikit pun mereka terlihat asik bersenandung sambil menulis dan sesekali mereka berdiri untuk menari bersama.

Hari pun mulai sore Fatimah dan Aisyah telah menyelesaikan tugasnya.

Fatimah mematikan musiknya, "Alhamdulillah selesai juga," ucapnya.

"Alhamdulillah," sahut Aisyah sambil membereskan buku-bukunya.

"Syah, mau makan dulu enggak? apa langsung pulang?"

Aisyah terdiam sebentar, "Kayanya lain kali aja deh Fat orangtua gue udah nanyain aja nih."

"Owhh yaudah deh gak apa-apa."

Aisyah pun menelpon supirnya pribadi rumahnya untuk memberi kabar bahwa dia sudah selesai.

"Fat gue pulang dulu ya!"

Aisyah bangkit dari duduknya dan meraih tasnya.

"Syah Raya sama Feby kok gak ikut belajar bareng? tadi lu ngomong mereka udah nungguin gue di dalam," gerutu Aisyah saat baru menyadari bahwa hanya dirinya dan Fatimah saja yang mengerjakan tugas kelompok.

Fatimah tertawa, "Hahaha maaf Syah gue tadi bercanda kejadian yang sebenarnya Raya mendadak sakit dan Feby kebetulan lagi ada acara keluarga dadakan jadi mereka gak bisa datang sorry ya gue juga lupa kasih tahu."

Aisyah memasang wajah cemberut mendengar penjelasan Fatimah namun dia memang sedari tadi tidak menyadarinya.

Mobil pun sudah datang berhenti tepat di depan Aisyah dan Fatimah.

"Gue pulang dulu ya!" ujar Aisyah sambil melambaikan tangannya.

Fatimah tersenyum, "Hati-hati ya!"

Setelah Aisyah masuk ke dalam mobil, Pak Ujang pun menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Fatimah.

Saat di mobil Aisyah melihat postingan Raka yanh sedang bergaya hal itu sontak membuatnya tersenyum.

"Lo memang ganteng Rak, meski sikap lu begitu gue rasa tidak akan mempengaruhi perasaan gue," gumam Aisyah pelan.

Raka cowok pintar yang mempunyai rambut ikal dan hobby bernyayi dia juga mempunyai wajah yang terbilang tampan di kalangan akhwat.

Tiba-tiba jemari Aisyah menyukai postingan Raka tersebut sambil menslide satu persatu foto Raka.

"Pak, Bunda gak bilang apa-apa kan tentang saya?" tanya Aisyah mengkhawatirkan Bundanya akan marah kepadanya.

"Tadi sih Nyonya sempat nanyain 'kok belum di jemput sudah sore' ya Pak Ujang jawab kalau Non Aisyah akan menghubungi Pak Ujang kalau tugasnya sudah selesai."

Aisyah menganggukan kepalanya mendengar penjelasan dari Pak Ujang.

"Pak Ujang sudah lama kerja sama Ayah?" tanya Aisyah kembali.

"Hemm ... sekitar 15 tahun yang lalu saat Non Aisyah umur 3 tahunan," ujar Pak Ujang sambil terkekeh.

Saat itu juga Pak Ujang bercerita tentang perjalanan Ayahnya Aisyah dalam merintis perusahaan yang kini sudah semakin berkembang.

Aisyah ingin sekali ke Turky karena kakaknya berada di luar Negeri juga namun, kakaknya berada di sana karena dia mempunyai hafalan Al-Quran dan anak yang pintar sehingga mudah baginya bisa pergi ke sana sedangkan dirinya hafalannya masih belepotan dan nilai sekolahnya pun standar yang kadang nurun jika dirinya sampai bolos belajar.

Aisyah menarik napasnya pelan lalu mengembuskannya dengan berat mengingat bahwa dia harus lebih giat lagi dalam belajar dan menghafal.

Bab 3

Saat mendengar adzan asar Aisyah menyuruh Pak Ujang untuk mencari masjid terdekat karena rumahnya masih lumayan jauh tidak memungkinkan untuk bisa sholat asar apalagi jalanan sore pasti macet.

"Sayang, kalau sudah waktunya salat segeralah berhenti di masjid terdekat!"

Seketika ponsel Aisyah bergetar dan menampilkan ada pesan dari Bundanya dengan cepat Aisyah membukanya ternyata itu adalah nasehat Bunda untuknya yang memang sedang berada di jalan.

Aisyah sudah hapal betul kedua orangtuanya dan hal yang penting yang selalu orangtuanya bilang untuk jangan pernah tinggalkan salat di mana pun dia berada.

"Non Aisyah kita berhenti di depan ya!" tutur Pak Ujang saat melihat ada masjid.

Aisyah ikut menoleh dan memandang keluar jendela yang benar saja di sampingnya kini memang ada masjid yang tidak begitu luas namun terlihat elegan dengan cat berwarna hijau dan pintu yang terbuat dari warna emas. Mobil pun berhenti di parkiran yang tidak begitu luas juga, Aisyah keluar dari mobilnya dan memandang para Ibu-ibu dan anak muda yang memakai mukena beriringan masuk ke masjid.

"Pak Ujang jangan lupa salat juga ya!" ujar Aisyah setelah keluar dari mobil.

Pak Ujang mengangguk, "Siap Non saya parkirkan dulu mobilnya."

"Ya sudah aku masuk duluan ya Pak." Aisyah pun berlalu menuju masjid.

Sampai samping masjid Aisyah merasa bingung di mana tempat wudhu untuk perempuannya sedangkan ada beberapa Ibu-ibu sudah mulai sholat.

"Duh, kayanya gak ada tempat wudhu untuk perempuan ya," gumam Aisyah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Syah!"

Aisyah lantas menoleh merasa namanya dipanggil seseorang betapa terkejutnya dia melihat siapa yang memanggilnya.

"Ilham? kok kamu ada di sini." Aisyah menujuk Ilham yang memang sudah menjadi teman dekatnya.

Kedekatan Aisyah dengan Ilham terjalin sebab sering kali Aisyah membantu cowok itu untuk bisa dekat dan kenal dengan saudarinya yaitu Aqila.

"Ya aku mau salat, lu ngapain di sini?"Ilham bertanya balik kepada Aisyah.

"Aku mau salat juga, tempat wudhu buat cewek di mana ya?"

"Tempat wudhu cewek ada di belakang," sahut seseorang yang membuat Aisyah sangat terkejut.

"Ya Tuhan mengapa dunia terasa sempit seperti ini?" gumam Aisyah dengan debaran di hatinya.

Ilham menoleh menatap Raka yang sudah berada di belakangnya sedangkan Aisyah sangat gugup melihat kehadiran cowok itu, apakah ini takdir atau hanya kebetulan?

"Owh, ya sudah terima kasih," ujar Aisyah dan berbalik ingin melangkah pergi, "Ilham aku duluan ya!"

Ilham tersenyum menatap wanita yang sudah dia anggap sebagai sahabat ceritanya itu Ilham tahu bahwa Aisyah sedang malu dan sangat terkejut saat melihat bahwa dirinya sedang bersama Raka kemudian matanya beralih menatap Raka yang masih menatap kepergian Aisyah.

"Hey udah wudhu?" tegur Ilham sambil menepuk bahu Raka.

Raka kaget dibuatnya, "Sudahlah, sana wudhu! gue masuk duluan ya."

Raka berlalu pergi meninggalkan Ilham begitu saja lantas Ilham langsung bergegas menaruh sepatunya dan masuk ke dalam tempat wudhu.

Setelah selesai salat Aisyah masih merasakan debaran pada jantungnya ada rasa senang dalam dirinya karena telah dipertemukan dengan Raka namun, di sisi lain Aisyah merasa kebingungan karenanya dia baru saja melihat foto Raka yang terupload di akun sosmed cowok itu.

"Aisyah tenangkan dirimu jaga sikapmu okey, semoga aja cowok itu sudah pulang duluan," gumam Aisyah karena dia sangat merasa gugup jika harus kembali melihat kehadiran Raka.

Aisyah masih menunggu di dalam masjid sambil membetulkan hijabnya dia lupa bahwa seharusnya dia bertanya kepada Ilham apakah cowok itu sudah pulang atau belum akhirnya Aisyah membuka ponselnya.

"Ilham kamu sudah pulang?"

Aisyah sangat berharap bahwa ke dua cowok itu sudah pulang akhirnya ponsel Aisyah pun kembali bergetar menampilkan nama Ilham di layar sana.

"Belum Syah, aku lagi santai dulu di depan masjid."

Betapa terkejutnya Aisyah melihat jawaban Ilham itu, sudahlah akhirnya pun Aisyah memberanikan diri untuk keluar karena dia takut akan kena omelan Bundanya terlalu lama berada di luar.

"Bismillah," ucap Aisyah dengan penuh keberanian.

Pada saat Aisyah menoleh pada taman depan masjid ternyata di sanalah Raka berfoto hal itu membuat bibir Aisyah tersenyum manis mengingat jelas foto Raka yang terupload di akun sosmednya.

"Kenapa Syah?"

Ponsel Aisyah kembali bergetar dan menampilkan pesan dari Ilham yang membuat Aisyah bingung harus menjawab apa kepada cowok itu.

"Hemm, gak apa-apa Ham, ya sudah aku pulang duluan ya!"

Aisyah pun kembali melangkah keluar namun saat pandangannya ke depan matanya pun langsung tertuju pada Raka dan Ilham yang sedang duduk di atas lantai yang memang disediakan untuk duduk dan bersantai dengan cepat Aisyah langsung menundukan pandangannya dan berlalu pergi ke tempat parkir.

"Pak Ujang cepetan buka pintunya!" teriak Aisyah tidak sabaran.

"Owh iya siap Non Aisyah," ujar Pak Ujang panik sebab merasa dikagetkan oleh suara teriakan bosnya itu.

Aisyah pun dengan bergegas langsung masuk ke dalam mobil, dengan perasaan yang tidak karuan duh betapa teduhnya tatapan Raka kepadanya dan mengapa debaran itu selalu ada saat dia melihat atau berada di dekat Raka.

"Non, kok tumben lama biasanya cepet, ada masalah?" Pak Ujang merasa ada yang aneh dengan Aisyah apalagi saat dengan terburu-burunya masuk ke dalam mobil.

Aisyah tersenyum entah mengapa senyum itu bisa terbit begitu saja, "Hemm, gak ada masalah kok Pak cuma pas masuk aku tidak tahu di mana tempat wudhu perempuan jadi mungkin itu sebabnya aku lama di masjid."

Pak Ujang menganggukan kepalanya meski sepertinya bukan itu sebabnya namun tentu saja dia tidak ingin terus bertanya seperti itu, kini mobil sedan milik Aisyah sudah berhasil keluar dari tempat parkiran, Aisyah kembali menoleh ke belakang untuk melihatnya.

"Ya sudah hati-hati ya!"

Aisyah menoleh menatap ponselnya dan membalas pesan dari Ilham, "Thanks."

"Astagfirullah," gumam Aisyah dengan beristigfar rasanya dia tidak bisa terus diam dan malu-malu seperti tadi di depan Raka yang ada cowok itu akan merasa kepedean dan sok ganteng.

"Fatimah!"

Aisyah mengirim pesan kepada Fatimah untuk menceritakan kejadian ini ya hanya Fatimahlah sahabat yang bisa Aisyah percaya dibanding yang lainnya dengan alasan Fatimah tidak akan berhianat kepadanya atau membongkar rahasia yang sudah dia ceritakan.

"Iya Syah, ada apa? lo sudah sampai rumah?"

Fatimah yang baru saja selesai mandi langsung membuka ponselnya dan melihat pesan dari sahabatnya itu dan tentu saja Fatimah langsung membalasnya takut terjadi sesuatu di perjalanan pulang Aisyah.

"Masih di jalan Fat, gue mau cerita tapi lewat telepon aja ya!"

"Owh okey never mind."

Aisyah akhirnya menelpon Fatimah setelah mendapatkan persetujuan sahabatnya itu dan langsung menceritakan kejadian yang barusan sampai membuatnya merasa detak jantungnya terus berdebaran mengingat tatapan dan senyum tipis cowok itu.

"Istigfar Syah!" seru Fatimah saat via telepon.

"Sudah Fat, gue sudah berapa kali beristigfar."

"Ya sudah lo biarin saja jantung lo terus berdebar kan ada kebahagian di sana wkwk."

Aisyah menjerit sedikit pelan karena takut terdengar oleh Pak Ujang yang sedang pokus mengendari sambil mendengarkan musik 90 an.

"Tapi ini bukan gue banget Fat," keluh Aisyah merasa ada yang aneh dengan dirinya.

"Ini lo yang sebenarnya Syah, kan kalau yang palsunya lo dingin dan cuek sama Raka," jelas Fatimah sambil tersenyum mendengar cerita Aisyah lewat via telepon ini.

Aisyah tertawa menyadari akan kebenaran itu, "Hahah iya juga sih tapi gue merasa gak biasa kaya gini yang ada nanti hapalan gue hilang duh jangan sampai deh."

Itulah yang paling berbahaya bagi Aisyah jika sudah melihat Raka ya hanya cowok itu yang selalu berhasil membuatnya gagal pokus dan berpaling dari semua laki-laki yang mendekatinya.

"Ya sudah gini aja deh, lo banyak istigfar dan jangan lupa lihat foto idol lo pasti lupa sama Raka."

"Owh okey juga sarannya semoga berhasil deh, thanks ya Fat mau dengerin gue hehe," ujar Aisyah dengan sedikit malu karena yang tahu dia seperti ini hanya Fatimah saja.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED