Enjoy reading ....
Air membasahi taman depan bangsal sebuah Rumah Sakit Swasta dengan derasnya. Udara yang pada awal terasa gerah berubah menjadi sejuk dan dingin. Kilat petir yang menggelegar di depannya membuat Anika Larasati membuka mata yang sedari tadi terpejam, menikmati suara rintik hujan bisa sedikit mengobati hati yang selalu dirundung gundah dan gulana.
“Aryo sudah nggak akan kaget lagi ya Mbah, dengar suara guntur?” tanya Anika seraya mengalihkan pandangan ke arah sang nenek yang baru saja tiba dan berdiri tak jauh darinya.
“Iya, Nduk. Semoga segera sembuh ya.”
“Pasti sembuh, dia kan jauh banget berobatnya. Naik pesawatnya lama banget.” Suara Anika melirih seiring ingatan menghadirkan paras Aryo. Anika mengusap dada yang terasa nyeri penuh kerinduan.
“Kamu kangen?” kata Rini.
“Kangen pasti, tapi ibu nggak becus seperti aku ini nggak sepantasnya kangen. Kata-katanya dia benar bukan? Siapa aku ini, nggak ada hak aku ini,” ujarnya lirih dan menunduk menatap jari jemari yang terjalin.
“Aku cuma bisa bilang kamu berhak, tapi saat ini aku nggak mau berdebat sama temanku ini. Aku mau teman baikku yang ayu ini, semangat lagi. Katanya mau sehat dan kerja di kota sama aku?” Hibur Rini, menghalau rasa rendah diri yang tak kunjung sirna dari sang sahabat.
Anika mendongak seraya tersenyum tipis menatap Rini. “Sungguh kamu mau membawaku? Kamu nggak malu punya teman gila, to?”
“Hush … siapa yang gila? Wong kamu itu setres. Cuma setresnya beda kalau sama aku.”
Anika mengerutkan dahinya, menatap Rini dengan kebingungan. “Beda gimana?” Tanyanya polos.
Rini mengulum senyum dengan sinar mata jenakanya ia berkata, “Bedanya kalau aku ini, setres kalau nggak ada lembaran merah di dompet.”
Anika menepuk dahinya seraya terkikik geli. “Walah … kalau itu juga sama. Tapi nanti kalau jahenya panen gimana, Mbah?” kata Anika yang beralih kepada sang nenek saat teringat tentang kepergiannya dan juga acara panen yang sudah dekat.
“Kamu tenang saja,” kata Dewi sang nenek.
“Kamu lebih membutuhkan suasana baru kok. Simbah masih kuat kalau ngitungin duit.”
Anika menggigit bibir dan mengerutkan dahinya tampak berpikir. “Tapi gimana dengan bos kamu, Rini. Kira-kira mau nggak terima aku kerja di sana? Kondisiku ‘kan baru saja sehat.”
Rini tersenyum dan meremas tangan Anika dengan lembut. “Kamu tenang saja. Rahasia ini cuma bos dan aku yang tahu.”
Mata Anika melebar, ia sungguh penasaran bagaimana bisa mereka menerima mantan orang nggak waras seperti dirinya?
“Sungguhan?”
“Iya, nanti juga kamu tahu siapa bosku. Dia sudah tahu siapa kamu kok. Tenang saja ya.”
“Kita pulang dulu yuk? Nanti malam kamu pergi dengan Rini ke pasar malam belilah beberapa pakaian untuk bekerja di sana.”
“Di sana juga bebas kok nggak harus memakai pakaian resmi. Kamu bisa memakai celana panjang dan kaos biasa seperti yang aku pakai sekarang ini, yang penting rapi dan bersih. Nanti aku ajari kamu berdandan ya, karena kita bekerja di restoran.”
Semua orang tahu dengan warna kulit hampir seputih susu dan wajah baby face tidak perlu menggunakan riasan berlebih sudah memancarkan kecantikan Anika. Hanya saja teman baiknya itu sering tidak percaya diri. Anika yang lincah dan gesit sudah menghilang tertinggal di masa lalu.
Anika mengangguk dengan antusias. Ia sebetulnya masih sangat penasaran dengan siapa bos Rini yang sebenarnya. Namun ia tidak enak hati untuk menanyakan lebih lanjut.
Setelah berjalan beriringan beberapa saat, Anika menoleh ke samping kepada neneknya lebih tepatnya. “Mbah, kenapa lewat samping? Lebih jauh nanti cari angkot.”
“Nggak apa-apa. Mbah cuma pingin kita mampir beli bakso mercon dulu.”
“Wah … itu Rini setuju, Mbah,” timpal Rini dengan semangat seraya mengacungkan satu jempol.
Anika dan Dewi tertawa menanggapi ucapan Rini. Tanpa tak terduga tatapan Dewi tertuju pada sosok tinggi tegap yang berjarak lima meter dari lorong tempat mereka berjalan. Dewi mendengkus benci seraya merangkul bahu cucunya lebih erat.
Anika menoleh karena merasakan rangkulan semakin erat dari nenek dan berkata, “Anika nggak akan kabur kok. Dokter tadi sudah bilang ‘kan, kalau Anika sudah sembuh.”
“Simbah cuma senang kok, Sayang,” balas Dewi dengan sedikit merendahkan suaranya.
Rini yang paham akan situasi yang terjadi kemudian mengajak keduanya lebih cepat melajukan langkah.
“Kenapa buru-buru?” tanya Anika yang sangat penasaran dengan kedua orang ini.
“Baksonya keburu habis.” Rini beralasan.
“Kalau habis kita beli dekat rumah saja.”
“Nggak sama rasanya Ika,” protes Rini yang sudah berdiri di luar gerbang samping rumah sakit terlebih dahulu.
Sementara itu di koridor rumah sakit Noah Berto yang baru akan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Gafi menghentikan kegiatannya dan mencari asal suara yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya.
Noah menelan saliva kasar seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok tersebut. Tak jauh dari tempatnya berdiri ia hanya menemukan tiga wanita yang berjalan ke arah berlawanan, hanya tampak punggung ketiganya. Noah mendesah kecewa. Rumah sakit dan juga suasana kota kecil ini mengingatkan ia pada nostalgia masa lalu. Kenangan indah sekaligus penuh kekecewaan yang akhirnya membawa dirinya kembali ke kota dan sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki kembali ke sini.
“Noah. Masih ingin bernostalgia?” tanya Jono seraya menghampirinya.
“Begitulah,” jawab Noah seraya tersenyum.
“Kalau kamu menanyakan dia. Dia saat ini menjadi TKW di Hongkong.”
Jono beranggapan setelah kematian istri Noah, pasti Noah kembali singgah ke rumah sakit ini karena ingin mencari informasi tentang seorang wanita di masa lalunya.
“Bukan begitu, aku cuma mengantarkan Gafi untuk bertemu dengan direktur saja,” kilah Noah walau apa yang dikatakan oleh Jono benar adanya. Teman baiknya itu sangat tahu isi hatinya.
“Kamu yakin alasanmu hanya karena ingin mengantar Gafi? Kamu tidak ingin tahu lebih lanjut tentang dia?”
“Kita fokus urusan Rumah Sakit jangan melantur.”
Dengan keras kepala Jono melanjutkan, “Tapi aku sama sekali nggak tahu informasi yang lebih dari itu. Aku juga tahu dari istriku saja. Jika dia sudah menjadi TKW di Hongkong semenjak bapaknya berpulang dan ibunya pindah ke kampung.”
Namun seperti permintaan dari Noah, Jono lantas merubah topik pembicaraan, “Aku nggak menyangka kamu masih mau menanamkan saham di Rumah Sakit Swasta kecil ini?”
“Justru mulai dari yang kecil, kita harapkan bisa berkembang dan mengoptimalkan pelayanan sebaik mungkin kepada masyarakat luas.”
Walau Jono sudah mengalihkan topik pembicaraan. Informasi yang diberikan oleh Jono mau tak mau meresap dan mengendap rapat dalam sanubari Noah. Bisa saja lidahnya memungkiri hal itu. Namun ia juga merasakan kelegaan bahwa wanita itu memiliki kehidupan yang lebih baik saat ini.
Dalam hati Noah sedikit kecewa, pasalnya ia sangat berharap paling tidak bertemu secara tidak sengaja dengan wanita itu. Noah ingin menguji keyakinan diri, apakah masih ada rindu yang tertambat di hati mereka berdua atau semua hanya akan menjadi kenangan indah masa lalu?
Sementara bagi Jono membagi sedikit informasi yang ia miliki setidaknya bisa mengobati rasa rindu teman baiknya ini. Jono tahu betul bagaimana perjalanan cinta Noah dan Jono berani bertaruh jika rasa cinta di antara keduanya masih sama.
“Sebaiknya kita menunggu Gafi di depan saja bagaimana?” ajak Noah.
“Ya baiklah.” Jono mengangguk dan mereka berjalan beriringan berdua ke depan.
“Yakin kamu mau kerja saja daripada melanjutkan sekolah?” tanya Dewi di sela acara menunggu pesanan bakso mereka datang.
“Rencana Ika, mau ambil kuliah malam, Mbah.”
Dewi mengerutkan dahinya, cemas. “Lho, lho. Kok, gitu? Nanti kamu capek?”
“Nggaklah. Habis Ika mau ngapain lagi coba. Habis kerja nanti cuma diem di kos-an, nggak seru. Mending Ika ambil kelas malam toh kerjanya masuk pagi terus. Simbah ingin Ika jadi orang sukses ‘kan? Sudah Ika tinggal masa tetep jadi pegawai, mburuh di tempat orang.”
Dewi ngusap puncak kepala cucunya dengan penuh cinta kasih. Anak penurut dan selalu melakukan apa yang ia mau. Tidak pernah membantah sedikitpun. Walaupun ia mengalami depresi yang tidak lain juga karena pengaruh campur tangannya juga. Ia tidak ingin sang cucu direpotkan oleh anak yang penyakitan dan jelas ia maupun cucunya tidak sanggup membiayai pengobatannya.
“Masa depanmu masih panjang. Kamu pasti bisa menjadi orang sukses seperti ibumu. Asal kamu selalu menurut kata Simbah ya? Dan semakin cepat kamu pergi semakin baik.”
Anika hanya mengangguk dan kemudian berkonsentrasi dengan pesanan mereka yang baru saja datang.
♥
Gafi Beryl mencermati surel di gadget-nya sekali lagi untuk memastikan bahwa tidak ada satupun informasi yang ia terima terlewatkan. Berulang kali ia teliti semakin dirinya merasakan antusias yang tinggi dan juga kesedihan yang mendalam akan keadaan wanita itu. Antusias dalam membangun bisnis di kota kecil ini sekaligus kecewa karena tidak mendapati satu berita apapun tentang pujaan hati, sumber informasinya tak mau memberikan petunjuk sedikit pun. Empat tahun sudah Gafi tidak menginjakkan kaki di sini dan ia ingin menebus kesalahannya. Gafi yakin, Tuhan pasti akan memberikan restu bagi hambanya yang ingin bertobat, bukan?
Gafi menajamkan penglihatan begitu melewati tikungan terakhir sebelum mobil miliknya itu memasuki halaman rumah sakit. Gafi tidak mungkin salah melihat, wanita itu yang selalu mengusik alam bawah sadarnya tertawa riang di sebuah kedai bakso. Degupan jantung Gafi berdetak semakin tidak karuan, kelegaan meliputi diri. Bahwa keadaan wanita itu tidak seperti yang ia bayangkan. Tentu saja, Anika bukan wanita yang bisa dirinya bodohi seperti dahulu kala.
Sapaan dari sang sopir menyadarkan Gafi yang baru saja akan teringat wajah ayu itu. Wajah yang tak biasa bagi gadis desa. Ia yakin juga jika wanita itu ada darah campuran, Gafi baru menyadari saat ini karena terlalu larut dalam mengurusi putra semata wayangnya sampai lupa untuk mencari tahu silsilah keluarga wanitanya.
“Kita sudah sampai Rumah Sakit, Pak. Sepertinya Dokter Noah juga sudah di sini,” kata Eko.
Gafi mengikuti arah petunjuk Eko. “Oh iya. Semoga mereka nggak lama menunggu ya.”
“Iya, Pak. Maaf tadi harus ganti ban dulu.”
“Ck ... sudahlah jangan meminta maaf terus menerus. Aku jadi merasa tidak enak hati.”
Gafi membetulkan letak kacamata dan merapikan jas sebelum menemui Noah yang bersandar pada salah satu pilar.
“Kenapa tidak menunggu di dalam saja Om?”
“Cari angin,” jawab Noah singkat.
Kedua pria yang memiliki kenangan di kota kecil ini berjalan beriringan kembali memasuki rumah sakit dan menyelesaikan urusan mereka.
Getaran dan rasa rindu itu ternyata masih ada. Buktinya hanya dengan sekilas pandang pada wajah ayu yang berseri menikmati bakso santapannya saja, membuat ia kehilangan konsentrasi sepanjang rapat ini. Gafi beberapa kali membetulkan duduknya yang terasa tidak nyaman.
"Ada masalah apa?" tanya Gauri.
"Tidak ada," jawab Gafi seraya menggeleng.
"Kamu bisa katakan padaku. Anggap saja aku sahabatmu, seperti Shalia kepadaku," kata Gauri seraya memandang Gafi lekat-lekat.
Gafi hanya menggeleng tanpa mengatakan sepatah katapun. Walau tak bisa bertemu tetapi hatinya yakin jika sosok tadi adalah wanitanya. Semangatnya bangkit kembali, semoga ada kesempatan untuknya memperbaiki masa depan.
"Kalau kamu merasa tidak enak badan lebih baik istirahat saja," tambah Gauri seraya membelai mesra lengan atas Gafi yang berotot.
Gafi menggeser duduknya memberi jarak di antara keduanya. Gafi sempat melihat sorot kecewa pada wajah Gauri yang kemudian kembali hangat seperti semula.
"Aku tidak apa-apa. Apa yang aku pikirkan, biar menjadi urusanku."
Gauri menghembuskan napas panjang dan kembali berkata, "Kamu sudah tidak berurusan dengan dia bukan?"
Gafi menatap Gauri dengan tajam dan raut wajah dingin. "Aku sudah bilang, itu urusanku." Ujarnya seraya berbisik.
Sungguh Gafi tidak ingin mencari masalah saat ini apalagi berurusan dengan Gauri yang terlalu banyak ikut campur urusan rumah tangganya. Salah istrinya juga yang selalu bercerita tanpa dipilah terlebih dahulu mana yang boleh dan tidak.
"Aku peringatkan kamu sekali lagi Gafi, jangan khianati sahabatku," balas Gauri seraya bangkit dan meremas bahu Gafi sekilas.
"Ada masalah?" tanya Noah yang menyandarkan pinggulnya di meja persis di sebelah Gafi duduk.
"Gauri terlalu ikut campur Om." Gafi mengadu.
"Sungguh kamu akan mencari wanita itu sekarang? Apa kamu yakin, dia akan segera memaafkan dirimu dan menerima dengan lapang dada? Dia berbeda dengan Kamini yang dengan mudahnya menerima Dirandra kembali. Om rasa dia tidak sebucin itu denganmu. Hidupnya cukup keras bukan? Tumbuh tanpa ibu dan bapak di bawah didikan seorang nenek yang keras. Benar begitu bukan? Siapa nama neneknya itu?" Noah mencecar Gafi dengan banyak pertanyaan setelah mereka hanya berdua. Lambat laun Noah juga penasaran dengan wanita yang memberikan Gafi seorang putra, entah mengapa ia sangat terusik dengan hal itu.
"Dewi Larasati."
Dada Noah seketika seperti terhantam bogem mentah. Nama itu, sama dengan nama di masa lalunya yang memberikan kenangan pahit. Ah ... bukan salah Dewi tapi Kuntarto suaminya yang membuat Noah harus melepaskan semuanya. Menjadi kaya raya tak lantas membuat perjalanan cinta masa mudanya lancar.
"Siapa nama suami Ibu Dewi?" tanya Noah penasaran. Dadanya berdebar mengantisipasi informasi dari Gafi.
"Tidak tahu, setahu Gafi Si Kakek sudah meninggal saat dia masih dalam kandungan. Gafi saja belum pernah bertemu dengan ibunya."
Tanpa sadar Noah menghembuskan napas lega. Bisa jadi semua hanya kebetulan semata. Nama Dewi Larasati pasti banyak bukan? Ingin memastikan lebih lanjut Noah kembali bertanya, "Mereka tinggal di mana?"
"Desa Sumber Makmur," jawab Gafi tanpa melihat ke arah Noah. Andai ia bertatap muka dengan Noah, ia pasti merasakan kejanggalan pada sahabat ayahnya itu.
Hati Noah semakin lega karena desa tempat tinggal mereka berbeda. Desa sumber makmur adalah sentra penghasil jahe merah, itu yang selama ini diketahui oleh Noah. Kesamaan antara dirinya dan Gafi adalah sempat terbuai pesona gadis desa.
Gafi mendesah panjang seraya mendongak. "Aku sungguh tidak ingin mengkhianati Shalia. Aku sudah berusaha menebusnya bukan? Tapi tetap saja aku merasa bersalah untuk keduanya."
"Apakah kamu sudah mentalak wanita itu, atau jangan-jangan tidak ada pernikahan di antara kalian?" tanya Noah seraya mendudukkan diri di kursi bekas Gauri duduk.
"Aku menikah siri dan tidak ada kata talak."
"Tapi kamu mengusirnya dari rumahmu?" tanya Noah dengan nada yang menajam.
Entah mengapa ia menjadi geram dengan Gafi ini. Dadanya terasa terbakar ada rasa tidak rela melihat wanita tidak mendapatkan perlakuan yang adil. Walaupun ia sama bejatnya di masa lalu.
Gafi menunduk rasa bersalah menderanya bukanya ia mengiyakan tuduhan dari Noah. Sungguh bukan dirinya yang mengusir wanita itu, bagaimana mungkin ia sanggup mengusir wanita yang dirinya cintai? Gafi hanya tidak memiliki nyali untuk mempertahankan, nyawa anaknya lebih penting saat itu daripada apapun di dunia ini. Gafi mengingat kembali bagaimana wajah sembab Anika saat orang tuanya mengusir wanita itu dan ia tidak bisa berbuat lebih untuk menolongnya. Seharusnya Gafi tidak pernah membawa pulang Anika. Harapannya terlalu tinggi kepada orang tua dan istrinya bisa menerima Anika. Shalia yang awalnya setuju saja berbalik ikut mengusir wanita itu. Bahkan ia masih gadis belia saat itu. Gafi sadar setiap melihat wajah sang putra ia tidak bisa melupakan Anika. Wajah mereka sangat mirip.
"Dasar kamu pria lemah," umpat Noah, bisa saja ia mengumpat seperti itu tetapi kata-kata itu seperti kembali menampar dirinya sendiri. Melihat raut wajah Gafi yang keruh Noah tahu semuanya. Gafi tidak kuasa melawan orang tuanya. Terlebih keluarga Agouri sudah banyak memberikan bantuan kepada keluarga Beryl.
Noah memandang Gafi sekali lagi sebelum berlalu, ia tidak tahan berada dalam ruangan yang sama dengan pria yang sama lemah seperti dirinya. Noah juga merindukan wanita itu, wanitanya yang dahulu ia tinggalkan dan sampai kini tidak bisa ia temukan. Cinta terhalang restu orang tua itu sangatlah menyakitkan.
Gafi melipat kedua tangannya di atas meja dengan wajahnya yang terbenam. Air matanya meleleh penuh penyesalan mengingat malam saat ia membawa Anika ke rumahnya dahulu, lima tahun yang lalu tepatnya.
Gafi membukakan pintu penumpang dan membantu Anika yang menggendong putra mereka yang berumur enam bulan.
"Mas yakin mereka akan bisa menerimaku?" tanya Anika dengan sorot penuh keraguan.
Gafi tersenyum simpul, seraya mengecup pipi kiri Anika menenangkan. Ia tahu istrinya pasti gugup.
"Pasti Sayang, karena Aryo adalah impian mereka dan kamu adalah ibunya. Jadi mereka harus bisa menerima dirimu," ucap Gafi menenangkan Anika seraya menggenggam tangannya lembut dengan tangan satunya membawakan dua tas berisi pakaian Anika dan satu lagi pakaian bayi mereka.
Sang mama, Eltara sudah menyambut mereka di teras rumah. Menatap sengit ke arah Anika dengan tajam.
"Kenapa kamu bawa wanita ini kemari?!" tanya Eltara dengan ketus.
"Dia istriku, Ma."
"Hanya istri siri, ingat itu baik-baik. Dan tempatnya bukan di rumahku ini," balas Eltara seraya meneliti penampilan Anika yang sederhana berbalutkan celana kulot semata kaki bermotif biru putih dan atasan yang sama.
"Lihat saja penampilannya, kampungan," tambah Eltara menatap jijik.
Anika yang terkejut, hanya bisa menelan salivanya kasar dan menggigit bagian dalam bibirnya, satu suku kata pun tak berani terucap dari bibirnya. Anika gemetar, takut. Gafi mengusap punggungnya yang menegang, menenangkan. Gafi tahu dengan sikap diam istri mudanya ini, pasti ketakutan berhadapan dengan mamanya.
Belum juga Gafi bereaksi, Eltara sudah lebih dulu mendekat ke arah Anika dan mengambil paksa bayi Aryo. Anika yang tidak siap terpaksa memberikan putranya daripada terjadi keributan.
"Kamu tahu anakmu ini penyakitan, pasti karena kehidupanmu yang kurang gizi." Tambahnya lagi seraya berbalik dan masuk ke rumah.
"Nyonya, anak saya!" Spontan Anika berseru, ia merasa firasat tidak enak. Sepertinya ia akan dipisahkan dari sang putra.
Eltara berbalik dan menatap penuh permusuhan kepada Anika.
"Anakmu ini cucuku. Jadi dia adalah hak kami sepenuhnya seorang Beryl. Kami akan membawanya berobat. Tapi jelas tanpa kuman sepertimu ikut serta. Aku tidak menyangka anakku sudah sangat rendah seleranya."
Anika menggeleng panik seraya memegangi kain lengan kemeja Gafi mencari dukungan.
"Mas, tolong Mas. Anakku Mas!" kata Anika dengan panik, dengan air mata berlinang dan dada yang berdebar kencang sungguh tidak rela ia dipisahkan dari sang buah hati. Gafi tentu saja paham akan hal itu, semua terlihat pada raut wajah Anika.
"Kamu tenang ya, Mas akan bicarakan dengan Mama dahulu," kata Gafi seraya mengusap puncak kepala Anika.
"Apa, yang mau kamu bicarakan, Apa?! Kamu mau Mama coret dari daftar ahli waris. Kamu mau menjadi pahlawan membela dia!" herdik Eltara seraya menunjuk dengan geram ke arah Anika. Saking kerasnya suara Eltara membuat bayi Aryo terusik dan mulai menangis.
Anika baru melangkahkan kakinya saat Eltara mendorongnya hingga jatuh tersungkur dengan sebelumnya memberikan Aryo pada seorang pengasuh yang sudah mereka siapkan. Anika terlihat kebingungan bahkan tidak tahu wanita itu datang dari arah mana.
"Jangan lagi sentuh cucuku dengan tangan penuh kumanmu. Usir dia Gafi, kembalikan dia kepada orang tuanya. Itu pun jika dia punya. Aku tahu kamu anak haram bukan? Demi Tuhan! Anak haram, bagaimana kamu memilih rahim? Gafi, Gafi. Kemana kepintaranmu itu?"
"Ma! Jangan begitu, dia istriku, Ma." Sakit hati Gafi, istri mudanya hanya dianggap sebagai penghasil anak oleh mamanya.
"Istri? Aku hanya mengakui Shalia Agouri sebagai istrimu tidak ada yang lain. Dan jika sampai kamu membawa wanita itu masuk selangkah lagi ke dalam sini. Aku akan menganggapmu bukan putraku lagi. Pilih yang mana?"
Gafi mengusap wajah kasar dengan kedua tangannya. Ia sungguh bingung dihadapkan pada pilihan yang sulit seperti ini.
"Tolonglah Ma?" pinta Gafi.
"Mama waktu ini sudah setuju bukan?"
"Mama setuju tetapi hanya untuk bayi ini, bukan beserta dengan ibunya. Kamu bisa mikir nggak sih?! Wanita seperti ini akan kamu jadikan madu dari Shalia yang cantik dan kaya raya. Jangan mimpi Gafi, jangan ngehalu terlalu tinggi. Tidak ada kisah dongeng di sini! Gafi masuk! Biarkan Harno yang mengantarkan dia kembali ke kampung." Keputusan final Eltara seraya menyeret putranya ke dalam rumah dengan terlebih dahulu merenggut paksa tangan Anika yang berpegangan pada lengan Gafi.
"Jangan sentuh anakku dengan tangan jijikmu. Segera pergi dari sini. Aku tidak akan memberikan sepeser pun uang, karena kamu memberikan aku anak yang cacat."
Anika menggeleng dengan keras seraya menanggupkan kedua tangan di depan dadanya. "Nyonya, saya mohon. Tolong jangan pisahkan saya dengan putra saya. Mas ... tolong aku, Mas!" kata Anika mengiba.
Gafi sedih melihat sang istri sampai harus memohon seperti itu, ia melangkah dan ingin meraih sang anak, namun herdikan keras sang papa membuat ia menghentikan langkahnya seketika.
"Berhenti di sana Gafi atau kamu ingin segera melihat Papa menjadi mayat!"
"Kamu seharusnya bangga, anakmu akan diakui sebagai keturunan Agouri juga. Kamu bisa bayangkan bagaimana kayanya anakmu nanti," ujar Erlan Beryl dengan wajah penuh kebanggaan seraya menatap bayi dalam gendongan pengasuh.
"Pulanglah, kamu masih muda. Carilah pemuda desa dan menikahlah dengan benar. Tidak pantas kamu menggoda anakku, dan jika kamu berharap mendapatkan sepeser harta dari kami. Kamu salah besar gadis muda. Jika kamu bersikeras untuk mengganggu kami. Saya bisa melakukan hal yang lebih kejam kepada keluargamu. Kamu tidak ingin bukan, terjadi hal yang tidak menyenangkan terhadap nenek dan ibumu?" tambah Erlan.
Gafi melihat sorot kekecewaan mendalam dari pancaran wajah sang istri, raut kekalahan dan tak berdaya. Anika yang awalnya sampai bersimpuh kemudian bangkit seraya mengambil tas berisi pakaiannya dan berbalik pergi meninggalkan Gafi tanpa sepatah kata pun. Bahkan bantuan dari Hendra tak diindahkannya. Gafi membiarkan sang istri pergi dengan patah hati yang mendalam.
♥
Anika melamun sepanjang perjalanan menuju pasar malam. Semangatnya membara hingga ia melamun membayangkan dan mengira-ira bagaimana penampakan sosok buah hatinya. Melihat bocah kecil laki-laki berusia seumuran dengan sang buah hati yang duduk di seberangnya dalam angkot ini membuatnya semakin merindukan sosok malaikat kecilnya tersebut.
Bocah kecil yang tahu jika diamati sedari tadi oleh Anika, malu-malu kucing menyembunyikan wajahnya yang hampir setelah belepotan permen di balik lengan sang ibu. Senyum kecil tersungging hingga deretan gigi susu berwarna merah bekas permen mengarah pada Anika.
Anika tersenyum lebar menanggapinya dan kemudian berbisik ke arah Rini, “Anakku pasti setampan bocah itu ya?”
Rini yang sedari tadi menatap pada layar ponselnya segera mendongak dan mengalihkan tatapan pada subyek yang dimaksudkan oleh Anika. Wanita itu lantas balik berbisik ke arah Anika. “Anakmu lebih ganteng dari dia.”
Anika melirik Rini sekilas dan berdecak sebelum menimpali, “Sok tahu, anakku sakitnya sama dengan anak Pak Sastro. Pasti juga sekarang tubuhnya kurus begitu.”
“Bedalah mana ada begitu. Gafi pasti memberikan gizi terbaik.”
“Pak Sastro juga. Kamu lupa dia orang terkaya di kampung kita. Tapi melihat anaknya aku sedih. Bocah itu sampai sekarang tidak bisa terlalu capek karena wajahnya akan cepat pucat dan membiru,” ujar Anika prihatin sekaligus ada rasa khawatir menyeruak jika sang putra juga memiliki kondisi yang sama saat ini.
“Kamu terlalu jauh berpikir. Pantas butuh waktu lama untuk kamu sembuh. Anak Pak Sastro itu belum di operasi. Duitnya belum ada, kamu sendiri yang bilang butuh banyak uang untuk mengobati sakit anakmu. Benar ‘kan?”
“Ah … iya. Kamu benar, Aku hampir saja lupa. Jika tidak perlu banyak uang tentu aku tidak akan terpisah dari anakku.”
“Jika kamu punya mertua dan laki-laki yang baik. Tentu kamu tidak akan terpisah dari anakmu.”
“Dia baik, hanya keadaan yang harus memisahkan kami.”
Rini menyiku Anika. Ia tidak suka melihat temannya ini masih saja membela laki-laki yang sama sekali tidak punya nyali membela wanita pujaannya. Jenis pria yang menghamba pada uang dan kekuasaan. Munafik dan sungguh pengecut. Mulut manis tetapi berbisa, begitulah pandangan Rini terhadap mantan suami Anika. “Jangan terus membelanya dia tidak pantas kamu bela.”
“Ayo turun kita sudah sampai,” ajak Anika yang kemudian memilih tidak menanggapi ucapan Rini. Memang benar ucapan Rini, sampai detik ini Anika belum bisa melupakan pria itu bahkan cintanya masih sangat besar seperti dulu.