Ia pun berlari, mengikuti sang adik yang berjalan ke sebuah lorong, sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat pintu-pintu kamar khusus untuk menikmati malam panas maupun berpesta untuk melepas penat. Tepat ketika adiknya menurunkan seorang gadis dalam gendongan, ditepuklah bahu sang adik sebanyak dua kali.
“Anak siapa yang kali ini masuk perangkapmu, Vin?!” teriak Devan menatap penuh amarah pada Devin.
“Gak perlu tahu! Gadis ini milikku, Van.”
Direngkuhlah Allura, mengambil paksa dari rangkulan sang adik yang terkenal berengsek di kalangan wanita kelab malam. “Dia pacar atau korban barumu?!”
“Berhenti ikut campur urusanku, Van!”
“Pikir dulu pekerjaanmu, dan jangan cuma bermain di sini! Aku bisa memecatmu kapan saja!”
“Besok! Aku mulai bekerja lagi besok, Devan. Sekarang biarin aku berserang-senang bersamanya! Berikan gadis itu padaku!”
“Aku yakin, dia bukan pacar barumu, tapi korban barumu.”
“KEMBALIKAN DIA, DEVAN! DIA MILIKKU!”
Tidak sudi menuruti perintah adiknya, Devan lantas mengirim tinju yang kencang ke pipi. Pukulan keras itu jatuh tepat di pipi sebelah kiri Devin. “Aku muak mengurus semua perbuatanmu! Kasusmu bolak-balik aku yang urus!” Ditendanglah perut Devin tanpa rasa kasihan dan dengan sangat kencang. Lalu digendognya Allura.
Ketika Devan berbalik, sahabat yang menjelma sebagai tangan kanannya datang. Pria itu dengan cepat mencegah serangan dari Devin yang hendak memukul dari belakang.
“Lepas, Ben! Gadis itu milikku! Kembalikan padaku, Devan!” teriak Devin murka. Ia yang sangat tidak terima dengan aksi sang kakak itu menatap punggung Devan dengan penuh rasa benci. Dia sungguh tak suka bila Devan ikut mencampuri urusannya.
Sedangkan Devan yang tengah fokus menggendong Allura, dikejutkan dengan panggilan seorang bartender. Sang bartender lantas menghampiri Devan dan berucap, “Ini tas pacarmu, Tuan.”
Devan berdeham kala kata ‘pacarmu’ ditujukan untuknya. “Kalungkan ke leherku.”
Devan kembali melanjutkan langkah kaki. Keluar dari kelab malam, dan menghampiri mobilnya. Begitu masuk, ia lekas memasangkan sabuk pengaman untuk Allura dan melajukan mobil itu ke tempat tinggalnya.
Tibalah mereka di rumah pribadi Devan. Rumah mewah berwarna putih juga kelabu itu menjadi tempat ternyaman setelah dirinya memilih keluar dari rumah orang tua.
“Sepertinya wajahnya enggak asing ...,” lirih Devan saat hendak mengangkat Allura. Tidak lupa Devan mengalungkan tas hitam Allura ke lehernya lagi sebelum menekan enam angka di daun pintu rumah. Detik berikutnya pintu rumah di hadapannya terbuka.
Devan memilih untuk membaringkan Allura ke ranjang yang ada di kamar lantai satu, bukan kamar pribadinya. Dibaringkanlah Allura ke ranjang empuk dengan sangat lembut, takut membangunkan.
Devan juga melepaskan sepatu hak tinggi yang membalut kedua kaki mulus Allura pelan-pelan. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang membuatnya merinding ketika memberi selimut untuk tubuh Allura.
"Emh ... panas. Tolong aku ... uh,” lirih Allura berada tepat di depan wajah Devan.
Rasa kaget sekaligus gugup Devan tidak berhenti di sana, karena Allura tiba-tiba menarik tengkuknya begitu cepat. Menempelkan bibirnya ke bibir Devan, Allura mulai melumat pelan-pelan. Mencium Devan sebisanya sampai sang lelaki yang kaget masih terpaku. Sedangkan Allura justru makin mendambakan yang lebih dari sekadar ciuman.
“Panas! Tolong aku!”
Devan yang tersadar, sebisa mungkin menahan hasrat. Melihat perempuan yang teramat seksi dan terlalu cantik di depan mata, jelas dia terkesima dan sempat membayangkan hal lebih dari ciuman tadi. Namun, ia harus waras, karena dirinya bukan Devin.
“Adikku pasti mencampurkan sesuatu di dalam minumanmu. Sadarlah!"
Allura tidak mendengarkan, karena ia mabuk dan kepanasan. Tubuh perempuan itu terus begerak liar. Bahkan bagian inti sudah digesek-gesekkan ke paha Devan demi mencari kenikmatan.
Devan yang lama-kelamaan ikut merasa kepanasan, mengetatkan rahang dan kedua tangan sudah mengepal. Bibirnya tidak bisa diam lagi. Dia pun membalas ciuman dan lumatan dari bibir Allura.
Devan juga mencari kenikmatan dengan menggerakkan lidahnya. Menggali kepuasan dan terpancing kala Allura juga membalas ciumannya tak kalah liar. Milik Devan kini sudah tegak sempurna akibat gesekan dari benda privasi Allura yang masih tertutup kain berbentuk segitiga.
“Devin! Sialan Devin!” teriak Devan sebelum menciumi leher Allura dengan perasaan frustrasi.
Tangannya mulai menyentuh bongkahan daging di balik gaun pink milik perempuan cantik nan seksi yang bergerak liar dan bebas di bawahnya. Meremas kasar daging empuk nan kenyal itu, netra Devan yang penuh gairah, menyorot mata Allura yang sudah hilang fokus sejak berada di kelab malam. “Jangan salahkan aku kalau setelah bangun nanti kamu menyesalinya.”
Gadis itu sungguh meminta dipuaskan sampai dia sendiri tidak bisa fokus saat diajak bicara. Tubuhnya benar-benar minta disentuh, dan hilang kontrol.
Sebagai pria normal, Devan tentu saja tidak mampu menahan diri. Pergerakan Allura yang liar dan seksi di matanya, mampu membangkitkan hasrat terpendamnya. Dengan tidak sabaran, dibukalah gaun merah muda Allura.
“Ah!” pekik Allura sembari memegangi tangan Devan yang membelai lalu menggesek di area paling terlarang. “Nikmat sekali, lebih cepat .... ”
Semakin cepat pergerakan jari Devan yang menggesek miliknya, Allura makin meracau dan mengeluarkan suara merdu berulang-ulang. Tubuhnya terus menuntut, meminta sesuatu yang lebih dahsyat dari itu.
Sementara milik Devan yang sudah mengencang, saat ini makin berdiri seperti tiang yang tegak. Diarahkan senjata siap tempurnya ke objek milik Allura yang sudah siap menerima peluru. Begitu mendorong tubuh, suara erangan dari gadis itu pun memenuhi seisi kamar.
Semakin masuk senjatanya ke dalam tubuh Allura, Devan menggeram tertahan. Nikmat dan sesak dirasakan, hingga tubuhnya kian memanas. Bulir keringat menetes dari kening, bersamaan dengan sesuatu yang mengalir dari ruang keluar bayi milik Allura.
Merasa milik Allura sangat-sangat sempit, Devan menyadari sesuatu dan menelan ludah. Raut wajahnya menjadi cemas, terlebih saat Allura mengeluh sakit. Punggungnya yang dicakar berkali-kali juga menjadi bukti bahwa gadis itu sangat kesakitan ketika miliknya memaksa masuk.
“Ta-tahan sebentar.”
Dorongan demi dorongan diberikan. Allura mengeluh sakit, tapi meminta dipuaskan di saat yang bersamaan. Hal itu membuat Devan bingung sekaligus berkeringat dingin. Menarik senjatanya hati-hati dan jantung yang berdegup kencang, Devan menyudahi aksinya.
Devan menunduk pelan-pelan untuk memastikan. “Astaga! D-darah?!” Beberapa detik terdiam karena kaget, Devan menatap kembali darah yang ada di senjatanya. “Kamu ternyata benar masih perawan?!”
Devan kini makin sadar bahwa gadis itu sudah kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, dan pelakunya adalah dirinya sendiri, bukan sang kembaran yang selalu menjebak para perempuan di kelab malam. Dirinyalah yang justru menghancurkan masa depan seorang gadis yang tidak dikenal.
Tampak raut kaget sekaligus menyesal menyelimuti wajah Devan. Ia benar-benar tidak menduga bahwa perempuan yang menjadi mangsa Devin adalah seorang gadis perawan.
“Hei! A-apa benar ini?! Apa betul aku yang membuatmu tidak suci lagi?!” Devan menutup mulutnya. Kedua mata melotot, masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan. “Shit! Uh, ya ampun ... so-sorry.”
Begitu syok, karena baru pertama kali ini dirinya menyentuh wanita sampai berlebihan. Devan tak mengira kalau orang yang dijebak oleh kembarannya adalah gadis bersegel. Milik perempuan itu belum terjamah, dan dialah orang pertama yang menyentuhnya.
“Aku tidak tahu ... apa aku harus mengucap syukur atau menyesal, tapi aku dan kamu sama-sama belum pernah melakukan ini.” Devan menatap perempuan di hadapannya dengan perasaan bersalah. “Yang pasti ... a-aku lega kalau milikku masuk ke goa bersegel.”
Walaupun merasakan sakit pada bagian benda paling privasi di bawah sana, rasa untuk melanjutkan pemanasan ranjang ternyata malah bertambah. Gelora di dalam Allura kian meninggi.
Terlihat jelas dari tubuhnya yang bergerak-gerak bak cacing kepanasa. Hal itu membuat Devan yang melirik, jadi menelan ludah.
Mata masih terpejam menahan hasrat yang membumbung dan meremas seprei. “Lagi! Aku mau lagi yang seperti tadi!” seru Allura dengan suara memohon.
Heran dengan apa yang diminta, tapi Allura sungguh ingin sentuhan. Hal paling langka di hidupnya kalau minta seseorang memuaskan gejolaknya saat ini.
Di mulut meminta lebih layaknya wanita murahan, tapi di hati merasa kacau. Dasar hati tak terima dengan apa yang diminta tubuhnya sekarang, sungguh seperti perempuan nakal.
Berada di bawah tubuh Devan, ia merasakan gerakan. Mengeluarkan desahan dengan spontan kala milik Devan memenuhi benda privasinya.
Perempuan yang sudah tidak gadis lagi itu terus memohon agar Devan makin memberi dorongan lebih dalam. Bukan hanya dalam, tapi kuat dan cepat.
“Sepertinya obat dari Devin yang masuk ke tubuhmu sangat banyak.” Devan masih bergerak maju mundur seperti yang diminta oleh Allura.
Mau tak mau Devan mendorong lebih kuat dan liar. Menyentak dan menyembur dalam-dalam ketika suara merdu Allura mengalun indah di telinganya.
Menerima miliknya bawah sana terpuaskan, bukannya merasa senang tapi justru ada kecewa di dalam dada. Air mata Allura pun tak bisa dibendung.
Meskipun perempuan itu masih terpengaruhi oleh alkohol, air mata yang jatuh ke pipi menjadi bukti bahwa kegiatan ini adalah kesalahan. Miliknya yang sudah dijaga selama dua puluhan tahun harus diberikan pada laki-laki yang tidak dia kenal.
Efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Allura menangis bersama desahan yang memenuhi ruangan begitu Devan masuk lagi lebih dalam.
Kenikmatan dan rasa saki yang bergabung jadi satu membuat tubuhnya lemas. Allura yang masih menerima sentakan itu tak berhenti menangis sembari mencengkeram sprei kasur.
Malam ini adalah malam terkelam baginya yang terbiasa hidup di bawah penjagaan sang papa serta pantauan adik lelakinya. Seraya memegangi lengan berotot Devan, rasa sesal memenuhi rongga dada. Andai saja dia tidak ke kelab malam, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi.
Jika saja dia tidak nekat ke kelab malam sendirian, pasti tubuhnya tak akan tersiksa dan kotor seperti sekarang. Ya, andai waktu bisa diputar kembali Allura pasti patuh pada ajakan adiknya untuk pulang bersama.
Ranjang di dalam kamar lantai satu rumah Devan inilah yang menjadi salah satu saksi bisu permainan panas kedua insan. Bersama-sama mengejar kenikmatan dunia dan puncak tertinggi dalam pergulatan penuh keringat.
Dorongan demi dorongan dari Devan dan suara desahan seksi Allura adalah bukti bahwa keduanya sama-sama melepas hasrat dan gelora yang selama ini dipendam. Baik Devan maupun Allura nyatanya sama-sama menikmati, walaupun rasa sesal juga melekat di hati mereka.
Di tempat lain, Devi yang beberapa saat lalu berada di rumah seseorang, kini masuk ke sebuah kelab malam. Dia datang bersama laki-laki yang berbeda. “Aku harus ke toilet,” bisiknya pada sang pria dan dipersilakan.
Devi melangkah terburu-buru. Air di tubuhnya harus dikeluarkan. Tak lama ia pun keluar dari toilet khusus wanita.
Namun, lengan sahabat Allura itu tiba-tiba ditarik. Dengan cepat orang yang menarik Devi itu memojokkan tubuh Devi ke ruangan yang lebih gelap.
“Devin?!”
“Kemarin panggilanku kamu abaikan, tapi sekarang kamu ke kelab bukan dengan Devan?!”
“Ma-maaf, Vin ... aku enggak bermasud cuek denganmu.”
“Aku bisa memberi apa pun yang kamu mau. Tapi kenapa harus bawa laki-laki selain aku?” balas Devin tak terima. Jemarinya mulai bergerak ke tubuh Devi. Ia memberikan sentuhan lembut di bagian atas milik Devi yang dirindukannya.
“Vin, sadar! Ini tempat umum! Kamu mau apa?!”
“Sentuhanmu. Sentuhan yang buat aku ketagihan.” Devin melumat kasar bibir Devi tanpa aba-aba. “Aku menginginkan tubuhmu,” bisiknya seraya meraba bagian bagian bawah yang tertutup kain segitiga.
“Jangan, Vin ... aku mohon ... aku takut Devan tahu tentang hubungan kita, Vin!”
“Lalu kamu boleh berduaan dengan pria yang datang ke kelab bersamamu? Apa kamu mau aku memberi tahu Devan tentang semua yang kita lakukan di belakang Devan?”
“Jangan! Aku mohon! Aku cinta sama Devan!”
“Kalau gitu ikut aku. Layani aku seperti malam itu.”
“Gak bisa, Vin ... Aku gak bisa karena kamu saudara Devan. Aku gak mau hubungan kalian semakin rusak gara-gara aku..”
“Jadi, kamu nolak aku?! Aku bisa kirim fotomu dan pria tadi ke Devan!” Tersenyum miring seraya memperlihatkan ponselnya ke arah Devi. Dia sudah memotret Devi dan pria yang tak dikenalnya tadi sejak masuk ke kelab malam.
“Fotomu dan pria tua itu ada di sini,” kata Devin dengan senyum iblisnya. Ia pun dapat melihat mata Devi terbelalak setelah memandang ke layar handphone-nya. “Kenapa, Vi? Sudah percaya atau belum?”
“Oke! Aku ikut kamu!” pekik Devi yang hanya bisa pasrah dengan nasibnya beberapa waktu ke depan. Ia terpaksa mengikuti langkah Devin.
Saudara Devan itu memba Devi ke ruangan favoritnya. Dengan cepat dia duduk di sofa sambil menarik Devi agar mendekat. Membebaskan juniornya yang bersembunyi di balik celana, Devin memerintah, “Cepat! Lakukan sekarang, Devi!”
Dengan mata memerah menahan marah sekaligus air matanya, Devi merendahkan tubuhnya. Dielusnya milik Devin yang belum bangun. Mengurut perlahan-lahan yang mampu membuat Devin memejamkan kedua matanya.
Tak lama kemudian Devi memainkannya dengan mulut. Lidahnya menari-nari pada senjata Devin. Beberapa menit berlalu, Devin mengeluarkan erangan sembari meremas rambut Devi.
Pria itu menekan kepala Devi supaya lebih dalam melumat miliknya “Ya! Seperti itu, Devi!” pekiknya sebelum mengerang lagi “Kamu pintar dan membuatku tergila-gila dengan permainan mulutmu!”
Devi merespons ucapan Devin dengan lirikan saja. Ia masih memainkan milik Devin karena cepat-cepat ingin menyudahi kegilaan ini. Ia sungguh membenci dirinya sendiri yang pernah bermain dengan Devin. Jika waktu bisa diulang, dia tidak akan mau mendekati Devin yang ternyata terkenal brengsek.
“Aku mau lubangmu! Berdiri, Dev!”