Membuka lemari dan mengambil salah satu gaun paling seksi. Gaun warna merah jambu yang berada di antara gaun-gaun selutut lengan panjang dan sopan yang menemaninya malam ini.
Sudah lama dia ingin memakai gaun seksi itu, tepatnya ketika dia berulang tahun yang ke dua puluh. Akan tetapi, baru bisa dipakai di saat usianya hampir menginjak dua puluh dua tahun, tahun ini. Buru-buru mengenakan gaun pink nan seksi itu.
Allura yang sudah tampil memukau, segera menghubungi temannya. Menaiki mobil hitamnya, menjalankan kendaraan roda empat itu ke rumah Devi. “Dev! Aku lagi di perjalanan mau ke rumahmu. Malam ini kita bisa ke kelab malam! Aku jemput sekarang!”
“Ka-kamu serius? Malam ini, Ra?! Gimana caranya kamu bisa lepas dari kawalan adik sama papamu?”
“Aku ceritain nanti, sekarang kamu siap-siap! Ganti pakaianmu, Dev!”
“A-aku gak bisa, Ra. Sekarang ini aku lagi gak ada di rumah ... ash! Pelan-pelan, Sayang ...! Ya, di situh ... ah ....”
“Sepertinya aku nelpon kamu di saat yang enggak tepat.”
“Emh ... so-sorry, Ra.”
Panggilan dimatikan oleh Allura. Tidak peduli jika sang sahabat tak bisa menemaninya, gadis yang belum pernah memasuki dunia malam itu tetap bertekad untuk mendatangi kelab malam.
“Kesempatan hanya datang satu kali seumur hidup, Ra. Ingat, ya, Ra ... kamu mau ke tempat biasa buat seneng-seneng aja. Kamu pasti aman dan baik-baik aja, Allura ....,” bisiknya pada diri sendiri.
Perjalanan yang ditempuh tidak sampai empat puluh menit. Mobil hitam Allura kini terparkir rapi di tempat yang seharusnya. Dengan perasaan yang sedikit gugup, sepasang kaki Allura memijak tanah begitu pintu mobil terbuka.
Sepasang mata kini terarah pada pintu masuk. Sedikit tidak yakin, tapi keinginan dan rasa penasarannya terlalu kuat. Sehingga Allura memilih nekat memasuki kelab tersebut.
Dengan punggung tegap dan berusaha percaya diri, gadis itu mempercepat langkahnya. Ia menarik sudut bibir ke atas.
“Akhirnya aku bisa lihat dan ngerasain langsung kelab malam!”Allura tampak kegirangan setelah diperiksa oleh salah satu petugas keamanan yang setia berdiri di depan pintu masuk. “Mantap, Allura! Selamat datang di dunia malam, Ra,” hembusnya dengan langkah kaki yang makin cepat, tapi tetap elegan nan anggun.
Gadis polos itu tak tahu jika sejak kakinya masuk ke area kelab malam, ada seseorang yang sudah terpesona oleh kecantikannya, terutama bagian lekuk tubuh. Pria itu berada cukup dekat dari Allura, karena memastikan jarak agar tidak jauh maupun terlalu dekat dengannya. Lelaki itu senantiasa mengikuti ke mana langkah Allura pergi. Bahkan di saat Allura duduk di depan bar, ia pun mencari kursi kosong yang jaraknya lagi-lagi agak dekat dengan Allura.“Aku mau minuman yang enak dong, Kak.”
“Aku belum pernah lihat kamu sebelumnya. Baru pertama datang ke sini?"
"Lebih tepatnya aku belum pernah ke kelab malam."
"Oh, begitu ... jadi, kamu mau coba minuman yang rendah alkohol aja?”
“Paling enak, Kak. Aku gak peduli berapa persen kadar alkoholnya, yang penting pernah nyobain minuman itu.”
Bartender itu terkekeh. “Oke, sesuai permintaanmu, Cantik.”
Sang bartender tampan itu pun meracik minuman yang biasanya menjadi favorit para wanita. Alkohol yang tidak terlalu pahit, dan cenderung manis dan beraroma harum. Bartender itu sangat yakin bahwa Allura pasti menyukai minuman racikannya.
“Silakan dinikmati, Cantik,” katanya menaruh segelas cairan beralkohol warna merah itu di depan Allura.
“Makasih, Kak.”
Baru mencicipnya satu teguk, raut wajah Allura terlihat sangat tak bersahabat dengan minuman itu. Ia belum bisa menerima.
Namun, dua teguk, ia yang masih mencecap rasanya mulai tersenyum tipis. Beberapa teguk setelah itu barulah lidah Allura mulai beradaptasi dengan rasa sedikit pahit dan manis yang makin lama makin enak di mulutnya.
“Mau tambah lagi dong, Kak,” pinta Allura mulai ketagihan.
Begitu diberi, Allura hanya beberapa detik saja menghabiskannya. Hingga ketika gelasnya sudah kosong, ia minta diisi kembali.
Entah sudah berapa kali dia meneguk minuman beralkohol manis itu. Allura pun meminta tambah lagi sebelum berdiri. Meskipun kantong kemihnya penuh, Allura tetap minta tambah. Sampai akhirnya ia berkata, “Aku mau ke toilet, kebelet pipis.”
“Hati-hati, Cantik. Perhatikan langkahmu, jangan lupa pegangan.”
Allura mengangguk asal. Meninggalkan beberapa lembar uang warna merah di meja bar. Mengayunkan kaki, Allura memegangi perut yang sudah tidak tahan hendak buang air. Rasa pusing di kepalanya kian terasa nyata. Gadis yang tadinya fokus itu, sekarang sudah memejamkan mata.
“Hei! Kamu baik-baik aja? Bisa jalan sendiri?”
Allura hanya bergumam dalam rengkuhan pria itu. Merasa tidak nyaman, Allura berusaha menyingkirkan tangan yang tengah membelit pinggangnya tanpa izin. Akan tetapi, usaha Allura sia-sia. Tangan itu tidak sudi beranjak dari pinggang ramping Allura.
“Kamu mau ke mana? Aku bisa bantu kamu.”
“Ke toilet.”
“Oke, ayo aku antar.” Allura yang sempoyongan itu pun tidak keberatan. Hingga ketika berada di depan toilet, pria itu berujar, “Aku tunggu di sini, ya.”
Allura yang tidak bisa berjalan tegak pun berpegangan pada dinding sambil masuk ke toilet pelan-pelan. Lebih dari sepuluh menit untuk Allura buang air kecil dan kembali berhadapan dengan pria yang membantunya tadi. Berkat kesadaran yang makin tipis, Allura tidak mampu melihat wajah sang pria dengan jelas. Bahkan sampai sepasang matanya menyipit, Allura tak tahu jelas wajah pria itu.
“Mau aku antar ke tempatmu tadi atau kamu mau pulang?”
“Aku masih mau bersenang-senang di sini.”
Mendengar jawaban Allura yang sesuai dengan harapannya, senyum iblis tersungging di wajah pria tersebut. Dengan senang, ia menuntun Allura hati-hati ke tempat duduknya.
Akibat mengamati Allura dari Allura masuk ke kelab malam, ia pun tahu di mana tempat Allura duduk sambil menikmati minuman favorit para wanita di sini. Ia pun menempatkan diri di samping Allura dan meminta dituangkan alkohol lagi.
Diam-diam, ia mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman yang diteguk Allura. Senyum puas kian melebar di wajahnya ketika gadis incarannya yang sudah mabuk itu menenggak cairan merah manis bercampur obat favoritnya tanpa ragu.
“Mau ke ruangan yang aku sewa buat istirahat?”
Allura sudah tidak menjawab lagi. Dia memejamkan mata dan ambruk dalam dekapan pria di sampingnya. Tanpa berlama-lama didekaplah tubuh Allura. Tubuh molek Allura diangkat dalam gendongan lengan kencangnya.
“Malam ini waktunya kita berpesta, Sayang ...,” bisiknya tepat di telinga Allura.
Sedangkan dari kejauhan, ada pria yang sibuk mencari saudara kandungnya. Ia pun mengepalkan tangan sambil celingak-celinguk dan fokus memeriksa postur tubuh pria di dalam kelab malam ini.
Hingga satu waktu netranya berhasil menangkap sosok adik kandungnya, setelah mendatangi kelab malam satu-persatu sejak pukul delapan malam. Namun, ada hal yang membuatnya tampak sangat marah. Kelakuan sang adik yang sudah keterlaluan itu membuat rahangnya mengetat.
Ia pun berlari, mengikuti sang adik yang berjalan ke sebuah lorong, sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat pintu-pintu kamar khusus untuk menikmati malam panas maupun berpesta untuk melepas penat. Tepat ketika adiknya menurunkan seorang gadis dalam gendongan, ditepuklah bahu sang adik sebanyak dua kali.
“Anak siapa yang kali ini masuk perangkapmu, Vin?!” teriak Devan menatap penuh amarah pada Devin.
“Gak perlu tahu! Gadis ini milikku, Van.”
Direngkuhlah Allura, mengambil paksa dari rangkulan sang adik yang terkenal berengsek di kalangan wanita kelab malam. “Dia pacar atau korban barumu?!”
“Berhenti ikut campur urusanku, Van!”
“Pikir dulu pekerjaanmu, dan jangan cuma bermain di sini! Aku bisa memecatmu kapan saja!”
“Besok! Aku mulai bekerja lagi besok, Devan. Sekarang biarin aku berserang-senang bersamanya! Berikan gadis itu padaku!”
“Aku yakin, dia bukan pacar barumu, tapi korban barumu.”
“KEMBALIKAN DIA, DEVAN! DIA MILIKKU!”
Tidak sudi menuruti perintah adiknya, Devan lantas mengirim tinju yang kencang ke pipi. Pukulan keras itu jatuh tepat di pipi sebelah kiri Devin. “Aku muak mengurus semua perbuatanmu! Kasusmu bolak-balik aku yang urus!” Ditendanglah perut Devin tanpa rasa kasihan dan dengan sangat kencang. Lalu digendognya Allura.
Ketika Devan berbalik, sahabat yang menjelma sebagai tangan kanannya datang. Pria itu dengan cepat mencegah serangan dari Devin yang hendak memukul dari belakang.
“Lepas, Ben! Gadis itu milikku! Kembalikan padaku, Devan!” teriak Devin murka. Ia yang sangat tidak terima dengan aksi sang kakak itu menatap punggung Devan dengan penuh rasa benci. Dia sungguh tak suka bila Devan ikut mencampuri urusannya.
Sedangkan Devan yang tengah fokus menggendong Allura, dikejutkan dengan panggilan seorang bartender. Sang bartender lantas menghampiri Devan dan berucap, “Ini tas pacarmu, Tuan.”
Devan berdeham kala kata ‘pacarmu’ ditujukan untuknya. “Kalungkan ke leherku.”
Devan kembali melanjutkan langkah kaki. Keluar dari kelab malam, dan menghampiri mobilnya. Begitu masuk, ia lekas memasangkan sabuk pengaman untuk Allura dan melajukan mobil itu ke tempat tinggalnya.
Tibalah mereka di rumah pribadi Devan. Rumah mewah berwarna putih juga kelabu itu menjadi tempat ternyaman setelah dirinya memilih keluar dari rumah orang tua.
“Sepertinya wajahnya enggak asing ...,” lirih Devan saat hendak mengangkat Allura. Tidak lupa Devan mengalungkan tas hitam Allura ke lehernya lagi sebelum menekan enam angka di daun pintu rumah. Detik berikutnya pintu rumah di hadapannya terbuka.
Devan memilih untuk membaringkan Allura ke ranjang yang ada di kamar lantai satu, bukan kamar pribadinya. Dibaringkanlah Allura ke ranjang empuk dengan sangat lembut, takut membangunkan.
Devan juga melepaskan sepatu hak tinggi yang membalut kedua kaki mulus Allura pelan-pelan. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang membuatnya merinding ketika memberi selimut untuk tubuh Allura.
"Emh ... panas. Tolong aku ... uh,” lirih Allura berada tepat di depan wajah Devan.
Rasa kaget sekaligus gugup Devan tidak berhenti di sana, karena Allura tiba-tiba menarik tengkuknya begitu cepat. Menempelkan bibirnya ke bibir Devan, Allura mulai melumat pelan-pelan. Mencium Devan sebisanya sampai sang lelaki yang kaget masih terpaku. Sedangkan Allura justru makin mendambakan yang lebih dari sekadar ciuman.
“Panas! Tolong aku!”
Devan yang tersadar, sebisa mungkin menahan hasrat. Melihat perempuan yang teramat seksi dan terlalu cantik di depan mata, jelas dia terkesima dan sempat membayangkan hal lebih dari ciuman tadi. Namun, ia harus waras, karena dirinya bukan Devin.
“Adikku pasti mencampurkan sesuatu di dalam minumanmu. Sadarlah!"
Allura tidak mendengarkan, karena ia mabuk dan kepanasan. Tubuh perempuan itu terus begerak liar. Bahkan bagian inti sudah digesek-gesekkan ke paha Devan demi mencari kenikmatan.
Devan yang lama-kelamaan ikut merasa kepanasan, mengetatkan rahang dan kedua tangan sudah mengepal. Bibirnya tidak bisa diam lagi. Dia pun membalas ciuman dan lumatan dari bibir Allura.
Devan juga mencari kenikmatan dengan menggerakkan lidahnya. Menggali kepuasan dan terpancing kala Allura juga membalas ciumannya tak kalah liar. Milik Devan kini sudah tegak sempurna akibat gesekan dari benda privasi Allura yang masih tertutup kain berbentuk segitiga.
“Devin! Sialan Devin!” teriak Devan sebelum menciumi leher Allura dengan perasaan frustrasi.
Tangannya mulai menyentuh bongkahan daging di balik gaun pink milik perempuan cantik nan seksi yang bergerak liar dan bebas di bawahnya. Meremas kasar daging empuk nan kenyal itu, netra Devan yang penuh gairah, menyorot mata Allura yang sudah hilang fokus sejak berada di kelab malam. “Jangan salahkan aku kalau setelah bangun nanti kamu menyesalinya.”
Gadis itu sungguh meminta dipuaskan sampai dia sendiri tidak bisa fokus saat diajak bicara. Tubuhnya benar-benar minta disentuh, dan hilang kontrol.
Sebagai pria normal, Devan tentu saja tidak mampu menahan diri. Pergerakan Allura yang liar dan seksi di matanya, mampu membangkitkan hasrat terpendamnya. Dengan tidak sabaran, dibukalah gaun merah muda Allura.
“Ah!” pekik Allura sembari memegangi tangan Devan yang membelai lalu menggesek di area paling terlarang. “Nikmat sekali, lebih cepat .... ”
Semakin cepat pergerakan jari Devan yang menggesek miliknya, Allura makin meracau dan mengeluarkan suara merdu berulang-ulang. Tubuhnya terus menuntut, meminta sesuatu yang lebih dahsyat dari itu.
Sementara milik Devan yang sudah mengencang, saat ini makin berdiri seperti tiang yang tegak. Diarahkan senjata siap tempurnya ke objek milik Allura yang sudah siap menerima peluru. Begitu mendorong tubuh, suara erangan dari gadis itu pun memenuhi seisi kamar.
Semakin masuk senjatanya ke dalam tubuh Allura, Devan menggeram tertahan. Nikmat dan sesak dirasakan, hingga tubuhnya kian memanas. Bulir keringat menetes dari kening, bersamaan dengan sesuatu yang mengalir dari ruang keluar bayi milik Allura.
Merasa milik Allura sangat-sangat sempit, Devan menyadari sesuatu dan menelan ludah. Raut wajahnya menjadi cemas, terlebih saat Allura mengeluh sakit. Punggungnya yang dicakar berkali-kali juga menjadi bukti bahwa gadis itu sangat kesakitan ketika miliknya memaksa masuk.
“Ta-tahan sebentar.”
Dorongan demi dorongan diberikan. Allura mengeluh sakit, tapi meminta dipuaskan di saat yang bersamaan. Hal itu membuat Devan bingung sekaligus berkeringat dingin. Menarik senjatanya hati-hati dan jantung yang berdegup kencang, Devan menyudahi aksinya.
Devan menunduk pelan-pelan untuk memastikan. “Astaga! D-darah?!” Beberapa detik terdiam karena kaget, Devan menatap kembali darah yang ada di senjatanya. “Kamu ternyata benar masih perawan?!”
Devan kini makin sadar bahwa gadis itu sudah kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, dan pelakunya adalah dirinya sendiri, bukan sang kembaran yang selalu menjebak para perempuan di kelab malam. Dirinyalah yang justru menghancurkan masa depan seorang gadis yang tidak dikenal.
Tampak raut kaget sekaligus menyesal menyelimuti wajah Devan. Ia benar-benar tidak menduga bahwa perempuan yang menjadi mangsa Devin adalah seorang gadis perawan.
“Hei! A-apa benar ini?! Apa betul aku yang membuatmu tidak suci lagi?!” Devan menutup mulutnya. Kedua mata melotot, masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan. “Shit! Uh, ya ampun ... so-sorry.”
Begitu syok, karena baru pertama kali ini dirinya menyentuh wanita sampai berlebihan. Devan tak mengira kalau orang yang dijebak oleh kembarannya adalah gadis bersegel. Milik perempuan itu belum terjamah, dan dialah orang pertama yang menyentuhnya.
“Aku tidak tahu ... apa aku harus mengucap syukur atau menyesal, tapi aku dan kamu sama-sama belum pernah melakukan ini.” Devan menatap perempuan di hadapannya dengan perasaan bersalah. “Yang pasti ... a-aku lega kalau milikku masuk ke goa bersegel.”
Walaupun merasakan sakit pada bagian benda paling privasi di bawah sana, rasa untuk melanjutkan pemanasan ranjang ternyata malah bertambah. Gelora di dalam Allura kian meninggi.
Terlihat jelas dari tubuhnya yang bergerak-gerak bak cacing kepanasa. Hal itu membuat Devan yang melirik, jadi menelan ludah.
Mata masih terpejam menahan hasrat yang membumbung dan meremas seprei. “Lagi! Aku mau lagi yang seperti tadi!” seru Allura dengan suara memohon.
Heran dengan apa yang diminta, tapi Allura sungguh ingin sentuhan. Hal paling langka di hidupnya kalau minta seseorang memuaskan gejolaknya saat ini.
Di mulut meminta lebih layaknya wanita murahan, tapi di hati merasa kacau. Dasar hati tak terima dengan apa yang diminta tubuhnya sekarang, sungguh seperti perempuan nakal.
Berada di bawah tubuh Devan, ia merasakan gerakan. Mengeluarkan desahan dengan spontan kala milik Devan memenuhi benda privasinya.
Perempuan yang sudah tidak gadis lagi itu terus memohon agar Devan makin memberi dorongan lebih dalam. Bukan hanya dalam, tapi kuat dan cepat.
“Sepertinya obat dari Devin yang masuk ke tubuhmu sangat banyak.” Devan masih bergerak maju mundur seperti yang diminta oleh Allura.
Mau tak mau Devan mendorong lebih kuat dan liar. Menyentak dan menyembur dalam-dalam ketika suara merdu Allura mengalun indah di telinganya.
Menerima miliknya bawah sana terpuaskan, bukannya merasa senang tapi justru ada kecewa di dalam dada. Air mata Allura pun tak bisa dibendung.
Meskipun perempuan itu masih terpengaruhi oleh alkohol, air mata yang jatuh ke pipi menjadi bukti bahwa kegiatan ini adalah kesalahan. Miliknya yang sudah dijaga selama dua puluhan tahun harus diberikan pada laki-laki yang tidak dia kenal.
Efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Allura menangis bersama desahan yang memenuhi ruangan begitu Devan masuk lagi lebih dalam.
Kenikmatan dan rasa saki yang bergabung jadi satu membuat tubuhnya lemas. Allura yang masih menerima sentakan itu tak berhenti menangis sembari mencengkeram sprei kasur.
Malam ini adalah malam terkelam baginya yang terbiasa hidup di bawah penjagaan sang papa serta pantauan adik lelakinya. Seraya memegangi lengan berotot Devan, rasa sesal memenuhi rongga dada. Andai saja dia tidak ke kelab malam, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi.
Jika saja dia tidak nekat ke kelab malam sendirian, pasti tubuhnya tak akan tersiksa dan kotor seperti sekarang. Ya, andai waktu bisa diputar kembali Allura pasti patuh pada ajakan adiknya untuk pulang bersama.
Ranjang di dalam kamar lantai satu rumah Devan inilah yang menjadi salah satu saksi bisu permainan panas kedua insan. Bersama-sama mengejar kenikmatan dunia dan puncak tertinggi dalam pergulatan penuh keringat.
Dorongan demi dorongan dari Devan dan suara desahan seksi Allura adalah bukti bahwa keduanya sama-sama melepas hasrat dan gelora yang selama ini dipendam. Baik Devan maupun Allura nyatanya sama-sama menikmati, walaupun rasa sesal juga melekat di hati mereka.
Di tempat lain, Devi yang beberapa saat lalu berada di rumah seseorang, kini masuk ke sebuah kelab malam. Dia datang bersama laki-laki yang berbeda. “Aku harus ke toilet,” bisiknya pada sang pria dan dipersilakan.
Devi melangkah terburu-buru. Air di tubuhnya harus dikeluarkan. Tak lama ia pun keluar dari toilet khusus wanita.
Namun, lengan sahabat Allura itu tiba-tiba ditarik. Dengan cepat orang yang menarik Devi itu memojokkan tubuh Devi ke ruangan yang lebih gelap.
“Devin?!”
“Kemarin panggilanku kamu abaikan, tapi sekarang kamu ke kelab bukan dengan Devan?!”
“Ma-maaf, Vin ... aku enggak bermasud cuek denganmu.”
“Aku bisa memberi apa pun yang kamu mau. Tapi kenapa harus bawa laki-laki selain aku?” balas Devin tak terima. Jemarinya mulai bergerak ke tubuh Devi. Ia memberikan sentuhan lembut di bagian atas milik Devi yang dirindukannya.
“Vin, sadar! Ini tempat umum! Kamu mau apa?!”
“Sentuhanmu. Sentuhan yang buat aku ketagihan.” Devin melumat kasar bibir Devi tanpa aba-aba. “Aku menginginkan tubuhmu,” bisiknya seraya meraba bagian bagian bawah yang tertutup kain segitiga.
“Jangan, Vin ... aku mohon ... aku takut Devan tahu tentang hubungan kita, Vin!”
“Lalu kamu boleh berduaan dengan pria yang datang ke kelab bersamamu? Apa kamu mau aku memberi tahu Devan tentang semua yang kita lakukan di belakang Devan?”
“Jangan! Aku mohon! Aku cinta sama Devan!”
“Kalau gitu ikut aku. Layani aku seperti malam itu.”
“Gak bisa, Vin ... Aku gak bisa karena kamu saudara Devan. Aku gak mau hubungan kalian semakin rusak gara-gara aku..”
“Jadi, kamu nolak aku?! Aku bisa kirim fotomu dan pria tadi ke Devan!” Tersenyum miring seraya memperlihatkan ponselnya ke arah Devi. Dia sudah memotret Devi dan pria yang tak dikenalnya tadi sejak masuk ke kelab malam.
“Fotomu dan pria tua itu ada di sini,” kata Devin dengan senyum iblisnya. Ia pun dapat melihat mata Devi terbelalak setelah memandang ke layar handphone-nya. “Kenapa, Vi? Sudah percaya atau belum?”
“Oke! Aku ikut kamu!” pekik Devi yang hanya bisa pasrah dengan nasibnya beberapa waktu ke depan. Ia terpaksa mengikuti langkah Devin.
Saudara Devan itu memba Devi ke ruangan favoritnya. Dengan cepat dia duduk di sofa sambil menarik Devi agar mendekat. Membebaskan juniornya yang bersembunyi di balik celana, Devin memerintah, “Cepat! Lakukan sekarang, Devi!”
Dengan mata memerah menahan marah sekaligus air matanya, Devi merendahkan tubuhnya. Dielusnya milik Devin yang belum bangun. Mengurut perlahan-lahan yang mampu membuat Devin memejamkan kedua matanya.
Tak lama kemudian Devi memainkannya dengan mulut. Lidahnya menari-nari pada senjata Devin. Beberapa menit berlalu, Devin mengeluarkan erangan sembari meremas rambut Devi.
Pria itu menekan kepala Devi supaya lebih dalam melumat miliknya “Ya! Seperti itu, Devi!” pekiknya sebelum mengerang lagi “Kamu pintar dan membuatku tergila-gila dengan permainan mulutmu!”
Devi merespons ucapan Devin dengan lirikan saja. Ia masih memainkan milik Devin karena cepat-cepat ingin menyudahi kegilaan ini. Ia sungguh membenci dirinya sendiri yang pernah bermain dengan Devin. Jika waktu bisa diulang, dia tidak akan mau mendekati Devin yang ternyata terkenal brengsek.
“Aku mau lubangmu! Berdiri, Dev!”