2# Jangan Saling Menyebut Nama
Rein membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya. Ia berada di ambang kebingungan, antara harus mempertahankan prinsipnya sendiri untuk menjaga kehormatannya sebelum resmi menikah dengan lelaki pilihannya atau mengikuti hasrat terpendam yang kini amat menggebu-nggebu.
Ingin sekali ia berlari, tapi di saat yang sama ia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura. Setelah mendapatkan luka dalam dari Leon, kepercayaannya terhadap cinta kini perlahan menghilang. Mungkin saja, Rein tidak akan menikah dengan siapa pun nantinya.
Satu detik, dua detik, tiga detik, Rein masih belum memberikan jawaban yang pasti.
“Sweety? Aku menunggumu,” ujar si pria tanpa nama. Tangan besarnya mengelus puncak kepala Rein lembut.
Sial, diperlakukan demikian semakin membuat Rein tidak bisa berpikir jernih lagi.
Akhirnya, perlahan gadis itu mengangguk seraya menggigit bibir. Merasa sudah mendapatkan persetujuan, sang lelaki pun tersenyum simpul dan kembali mengecup bibir Rein sekilas.
“Tunjukkan … di mana letak kamarnya?”
Jantung Rein berdebar kencang seperti akan melompat keluar. Ia sudah masa bodoh dengan prinsipnya. Reina Patricia Ellordi boleh jadi berasal dari darah Prancis-Indonesia. Namun, sebenarnya Papa-Mamanya selalu menjunjung tinggi mengenai norma ketimuran.
Bahkan selama tiga tahun berpacaran dengan Leon, Rein juga tidak pernah mengizinkan Leon menyentuh tubuhnya. Hal paling jauh yang ia lakukan hanya sebatas berpelukan dan berciuman. Tidak lebih dari itu.
Lucunya, kini ketika bertemu lelaki asing yang tampan di hadapannya ini, hati Rein seperti berubah 180 derajat. Sungguh aneh, tetapi itulah yang dirasakan Rein saat ini. . Rein lupa diri. Sentuhan lembut bertegangan seribu watt dari pria tanpa nama itu tidak ingin ia sia-siakan.
“Follow me.” Rein menarik jemari lelaki itu dan melewati puluhan manusia yang ada di sekitar mereka. Suara dentuman musik yang memekakkan telinga langsung menghilang begitu dua sejoli itu memasuki sebuah ruangan tertutup dengan pintu merah menyala.
Begitu pintu tertutup, keduanya kembali saling menatap lalu memagut. Di bawah penerangan cahaya kamar yang terang, Rein dapat melihat wajah sang pria itu lebih jelas. Tubuh pria itu jangkung, lengkap dengan otot berurat yang tidak berlebihan, sehingga membuat penampilan si empunya begitu eksotis dan atletis. Wajah pria itu amat tampan seperti dewa Yunani. Menatapnya terlalu lama, rasanya membuat Rein perlahan meleleh seperti mentega.
Jantung keduanya berdegup kencang. Kaki mereka terus berjalan tanpa melepaskan cumbuan, lalu bersamaan terjatuh di ranjang. Ketika pria itu membelai pipi dan dahinya dengan lembut, sekujur tubuh Rein memanas. Perlakuan yang seakan memposisikan Rein bak benda rapuh yang harus diperlakukan hati-hati.
“Kau cantik.”
“Kau … tampan.”
Mendengar balasan Rein, lelaki itu tersenyum simpul. “Kau yakin, kita akan melakukannya? Karena jika sudah memulainya … aku tidak yakin bisa berhenti, Sweety.”
Pipi Rein memerah seperti ceri. “What’s your name, Dude?”
“Mari kita buat kesepakatan,” ujar pria itu sambil menatapnya dengan sorot yang teduh. “Aku bukan lelaki bajingan, tapi juga bukan pria baik yang dengan senang hati akan membuat komitmen menjalin hubungan sepasang kekasih. Apalagi dengan wanita yang baru saja kutemui.”
Rein mendengarnya dengan patuh. Gadis itu lagi-lagi mengangguk. “Lalu?”
“Ini pertanyaan terakhirku. Apakah kau bersedia dan yakin akan melakukannya … denganku? Dengan pria yang tidak perlu menyebutkan namanya?”
Mata Rein membulat. “Dan itu artinya, aku tidak perlu repot-repot menyebutkan namaku juga?”
Pria tanpa nama itu mengangguk. Tidak ada keraguan yang terpancar di matanya. Lalu bibir sensualnya mencium dahi Rein sejenak. “Bagaimana?”
Rein mengusap dada pria yang sedang berada di atas tubuhnya dengan perasaan berdebar. Membuat sang pria menggeram pelan. Sentuhan itu mengenai titik sensitifnya, tetapi hebatnya ia masih bisa menahan untuk tidak menyerang Rein sebelum gadis itu memberikan persetujuan.
“Deal.”
Mendengar satu kalimat pusaka itu, sang pria langsung menenggelamkan wajahnya ke leher Rein dan menghembuskan napasnya keras. Kelegaan seakan otomatis menyelimuti keduanya.
Ada semacam percikan kembang api ketika Rein kembali mendapatkan ciuman dalam dan menuntut. Satu persatu kain yang melekat pada tubuh dua sejoli itu terlepas dan jatuh berserakan di lantai. Rein memejamkan matanya dan tidak berani melirik ke bawah. Padahal, saat ini ia sedang merasakan nikmatnya sentuhan jemari pria itu tepat di titik pusat kenikmatan miliknya.
Lenguhan Rein pun lolos. Keringat mulai membasahi peluh keduanya. Hingga waktunya tiba, Rein pun membuka mata.
“Kumohon, lakukan dengan perlahan.”
“As your wish, Baby,” jawab sang pria sambil memeluk tubuhnya dan refleks menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. “Agar kau tidak kedinginan. Oke?”
Rein mengangguk. Tak lama kemdudian, ia merasakan sensasi pedih di bawah sana. Air matanya menetes. Sementara wajah sang pria memucat.
“Kau—”
Rein mengangguk. “Ya. Aku memang masih gadis.”
“Ketahuilah, kau juga yang pertama untukku,” jawab sang pria dengan mata berbinar.
Rein pun mengecup ceruk sang lelaki, sambil masih mengimbangi gerakan dan hentakan di bawah sana. Rasa sakit pun lambat laun berubah menjadi nikmat tiada tara. Desahan lelaki itu seperti melodi terindah yang belum pernah Rein dengar selama ini.
Mereka sama-sama gelap mata dan tidak menyangka bahwa bercinta ternyata rasanya semenyenangkan ini. Lenguhan Rein makin menggema memenuhi ruangan, tatkala ia merubah posisi membelakangi pria tanpa nama, sementara hentakan syahdu masih ia dapatkan.
“Di mana … aku harus?” tanya sang pria susah payah, sambil masih mempertahankan tempo permainan.
“Di dalam,” jawab Rein cepat. “Aku … sedang tidak dalam masa ovulasi.”
Sambil mendengar jawaban Rein yang patah-patah, lelaki itu menelan salivanya mendapati dada Rein yang berguncang karena gerakan tidak tenang yang ia timbulkan. Matanya berkilat lapar, lalu dengan cepat ia menarik tubuh Rein agar kembali saling berhadapan.
“You’re so beautiful….”
Karena pemandangan yang begitu indah itu, sang pria menghujamkan lagi hasratnya yang sempat terhenti. Rein yang terkejut pun tergelak. Namun dengan cepat, ia langsung mengimbangi permainan dengan bergerak dari bawah tubuh atletis pria itu.
Akibatnya, mereka berdua pun mendapatkan kenikmatan dua kali lipat. Geraman dan lenguhan saling bersahutan dari bibir masing-masing. Keringat bercucuran deras membasahi tubuh.
Jika boleh memberikan penilaian, mungkin Rein akan memberikan skor sepuluh untuk kesempurnaan lelaki ini. Wajah tampan, badan atletis. Wanita mana yang tidak akan terpukau?
Malam penuh gairah itu memang hanya sementara. One night stand yang tidak direncanakan maupun terpikirkan oleh Rein, setelahnya justru memberikan kenangan manis yang tidak akan dilupakannya begitu saja. Bahkan gadis itu menyadari bahwa ia sudah melupakan Leon, sang mantan yang menyakitinya hari itu.
***
Usai tragedi one night stand itu, Rein tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari. Sesuai dengan kesepakatan, setelah malam panas itu nyatanya Rein tidak lagi menjumpai sang lelaki itu meskipun sudah mencari ke berbagai tempat.
Singkatnya, satu setengah tahun pun berlalu denga cepat.
Reina Patricia Ellordi berjalan dengan percaya diri sambil menyeret koper besarnya. Saat ini ia sedang berada di Bandara International John F Kennedy, Amerika. Gadis berusia 24 tahun itu kini sudah berevolusi menjadi pribadi yang lebih menawan dan mandiri. Ya, usai mengalami peristiwa one night stand dengan pria asing kala itu, Rein yang masih belum bisa sepenuhnya move on justru memutuskan untuk melajang hingga kini.
Ditambah lagi, setelah lulus kuliah ia juga nekat menitik karir dengan bekerja di luar negeri. Lebih tepatnya di salah satu perusahaan asing bidang properti yang menjalankan bisnis water resort, konstruksi, membangun hotel, bungalow, villa, bar hingga restoran di PT. Diamant Group, GreenBreeze—Amerika.
“Kalau tidak karena Sisca yang tiba-tiba melangsungkan pernikahan, aku tidak mungkin berkunjung ke Indonesia dan mengorek luka lama. Ck!” gerutu Rein dengan bahasa Indonesia yang kental.
“Bloody hell!” umpat Rein. Gadis itu berdecak dan menenggak kopinya hingga habis tak tersisa, lalu membantingnya ke tempat sampah. Ia menggenggam boarding pass, KTP, dan passport untuk check in.
Heelsnya bergemeletuk seirama dengan lantai. Beruntungnya, penerbangan dilakukan tepat waktu saat itu. Usai mengurus ini itu, ia kemudian menuju pesawat dan duduk di seatnya dengan damai.
Seorang laki-laki bertubuh jangkung tiba-tiba duduk di sebelahnya. Lelaki itu duduk sejenak tanpa menyapa, mungkin karena kebiasaan bule di sini memang begitu. Rein yang cuek pun tidak terlalu memperhatikan, karena lelaki itu mengenakan syal leher yang menutupi sebagian hidung dan bibirnya.
Ketika pesawat akan take off, sang lelaki di sebelahnya berdiri dan pindah ke seat belakang. Digantikan oleh seorang wanita bule asing kulit hitam. Rein yang memang tidak peduli pun memilih untuk tidur. Usai perjalanan panjang nan melelahkan selama hampir 24 jam dan transit, akhirnya Rein bisa menghirup udara tanah airnya kembali.
Saking antusiasnya, ia sampai lupa dan meninggalkan jaket miliknya di seat pesawat. Dasar Reina Patricia Ellordi, tidak biasanya gadis itu seceroboh ini.
***
3# Apakah Ini Takdir?
Seorang Brandon El Carro mendesah lega sambil merapatkan syalnya. Akhirnya, hari ini ia bisa berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan Sisca, sahabat spesialnya. Ya, usai bertolak ke Amerika selama sebulan untuk beradaptasi, kini Brandon memiliki kesempatan untuk menyicipi udara Indonesia lagi sebelum benar-benar akan menjalankan bisnis water resort milik Ronald, ayahnya di GreenBreeze.
Sejujurnya, Brandon memang masih tidak rela untuk benar-benar pindah dari Indonesia. Sehingga, kesempatan emas seperti sekarang untuk berkunjung ke negara tercinta pun tidak ia sia-siakan begitu saja. Apa lagi, kejadian malam panas yang ia lalui sekitar satu setengah tahun lalu bersama dengan wanita misterius di bar, masih terus membekas di pikiran pria 27 tahun itu.
Hal ini malah menjadi alasan mengapa Brandon selalu menunda-nunda kepindahannya ke Amerika. Hanya karena sebuah keputusan bodoh untuk tidak menyebutkan nama masing-masing, Brandon justru malah menyesal. Setelahnya, ia seperti pria gila yang mencari dan menunggu sang wanita itu.
Dan tentu saja, usahanya nihil. Mencari seonggok manusia tanpa identitas satu pun, sama saja seperti mencari jarum di antara jerami.
Kini di sinilah ia sekarang. Brandon El Carro tengah berjalan cepat sambil menenteng jaket biru navy milik seorang wanita asing yang tadinya duduk tepat di kursi depannya ketika di pesawat. Begitu mendapati wanita itu belum pergi jauh, Brandon pun segera menyusul.
“Nona! Tunggu!” teriaknya nyaring. “Nona berambut panjang yang sedang menyeret koper biru! Tunggu! Jaket anda tertinggal!”
Langkah wanita itu langsung terhenti. Brandon El Carro pun buru-buru menghampirinya dan menyodorkan jaket.
“Milikmu.”
“Ah!” sang wanita bermasker itu pun terkesiap. “Terima kasih banyak! Astaga, hampir saja aku melupakannya.”
“Sama-sama, Nona.”
Namun, kini wanita itu menatap Brandon El Carro sejenak. Membuat Brandon akhirnya berinisiatif untuk memperkenalkan diri duluan. Ia menurunkan syalnya lalu mengulurkan tangan. Kini wajahnya terekspos sempurna.
“Maaf, aku Brandon El Carro. Namamu?”
satu detik.
dua detik.
tiga de—
“KAU!” pekik sang wanita dengan suara menggelegar. Ia buru-buru melepas maskernya dengan gemetar. “Kau … tidak mengingatku?”
Brandon El Carro mengerutkan dahinya kebingungan. Samar-samar ia merasa familiar dengan paras manis di hadapannya. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Bibir wanita itu bergetar. “Kejadian setahun lalu … di SummerLounge …” ujarnya terbata-bata. “Kau dan aku … pernah…”
DEG!
Bagaikan disambar petir, Brandon El Carro seketika mengingat semuanya. Namun rasa terkejutnya tersita dengan bunyi ponsel sang wanita yang langsung diangkat begitu saja. Usai berbicara beberapa patah kata, wanita itu menjauhkan ponselnya dan kembali menatap Brandon.
“Kau … masih tidak mengingatku?”
Brandon El Carro bergeming, karena saking shocknya. Hal itu nyatanya memberi dampak yang di luar dugaan, karena selanjutnya si wanita justru salah paham. Mata gadis itu pun berkaca-kaca.
“Baiklah. Anyway, terima kasih … atas jaketku.” Sang gadis menunduk dan buru-buru menggeret kopernya meninggalkan Brandon El Carro tanpa memperkenalkan namanya pada lelaki itu. “Mungkin aku salah orang.”
Setelah sekian lama mencari, kini sosok itu sudah di depan mata. Brandon kehilangan kendali tubuhnya karena saking bahagianya. Namun, bodohnya reaki yang ia tunjukkan jauh dari kata tepat.
Tanpa menunggu ba-bi-bu, sang wanita itu pun meninggalkan Brandon begitu saja. Sambil berjalan lurus, sebelah tangannya menempelkan ponsel ke telinganya kembali. “Tunggu aku! Aku segera ke sana! Kenapa kau sungguh tidak sabaran, sih?!”
Brandon El Carro menekan dadanya yang berdebar tidak karuan saat ini. Matanya masih menatap punggung si wanita yang terlihat menjauh. Ingin rasanya ia mengejar, tetapi lutut kakinya mendadak lemas.
“Apa benar … wanita itu …” gumam Brandon El Carro.
Sadar bahwa ia menemukan kembali kendali tubuhnya, tangannya pun tergerak menepuk dahinya keras. “Dasar Brandon El Carro bodoh!”
Brandon buru-buru mendongak untuk memeriksa keadaan. Sayang sekali, wanita itu sudah lenyap dan tidak ada di mana-mana.
Rasa menyesal seketika hinggap di dada Brandon. Untuk beberapa menit, ia masih berdiri mematung seperti manusia bodoh.
***
Hingga keesokan harinya ketika menghadiri pernikahan Sisca di Hotel Samantha Orchid, Brandon El Carro masih merutuki kebodohannya sendiri karena lamban dalam bertindak. Kejadian kesalahpahaman di Airport masih membekas di pikirannya hingga kini. Jika boleh memilih, rasanya Brandon El Carro ingin memutar waktu agar bisa bersikap lebih cerdas.
“Ke mana perginya Sisca?” gumamnya. Matanya jelalatan mencari sepasang pengantin yang merupakan sahabatnya.
Brandon El Carro baru saja meneguk anggur di tangannya, tetapi ia refleks tersedak saat mendapati seorang wanita berambut ikal yang begitu familiar memasuki area pesta. Wanita itu mengenakan gaun merah lengkap dengan heels sepuluh senti yang menopang kaki jenjangnya.
Meski sang wanita tidak menyadari keberadaannya, jantung Brandon El Carro tetap saja seketika berdegup kencang tidak karuan. Bahkan, gelas di genggamannya hampir saja terjatuh. Untungnya, dengan sigap lelaki itu langsung mengontrol diri dengan baik serta mengalihkan pandangan.
Bagaimana bisa wanita itu berada di acara resepsi penikahan Bara dan Sisca? Wanita yang sama dan tidak sengaja ia temui tempo hari di bandara?
Harusnya Brandon bergerak menghampiri dan menyapa.
Harusnya.
Namun, lagi-lagi hawa dingin tak diundang kembali datang. Tangannya memainkan gelas karena tidak tenang. Terbesit di hatinya untuk langsung melangkah mendekat, meski harus melawan rasa canggung dan juga debar yang tidak karuan di dalam dada.
Baru saja akan berbalik badan, ternyata Sisca dan suaminya sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum sumringah. Melihat penampilan Sisca yang hari ini begitu cantik, hilang sudah niat pria itu untuk pergi mencari si gadis misterius bergaun merah tadi.
“Brandon El Carro! Kau berusaha membuat kejutan, huh?” seru Sisca pura-pura kesal. “Katanya tidak bisa datang, tapi ini apa?”
Selanjutnya, perbincangan antara Brandon El Carro, Sisca dan juga Bara pun berlangsung. Namun, di tengah obrolan seru itu, tiba-tiba…
“SISCA! MARI BERFOTO DENGANKU!” Sisca terlonjak karena mendengar suara wanita lain yang begitu ia kenal. Ia tersenyum mendapati seseorang itu berlari dari kejauhan menghampiri.
“Ah, iya, Brandon El Carro. Perkenalkan ini sepupuku. Kau belum bertemu dengannya, namanya Reina Patricia Ellordi,” ujar Sisca semangat. “Dan Rein, perkenalkan dia Brandon El Carro . Temanku sewaktu magang dulu.”
Brandon El Carro kemudian menoleh dan melihat dengan jelas sepupu Sisca yang bernama Rein itu. Ketika mata Brandon El Carro beradu dengan Rein, mereka sama-sama terperanjat.
Ini adalah pertemuan yang lagi-lagi tidak disengaja hingga membuat bulu kuduknya merinding. Entah mengapa, rasanya seperti takdir.
“Kau…” Brandon El Carro berpikir cepat.
Ternyata gadis yang dulu pernah menghabiskan malam yang indah di SummerLounge bersamanya bernama Rein, alias sepupu Sisca. Brandon El Carro pun otomatis tertegun.
“Long time no see, Reina?”