Bab 1

1# First Met

“Lebih memilih wanita jalang, lalu membuang wanita berkelas sepertiku? Sinting,” desis Rein. Sedetik kemudian, ia memukul setir mobilnya dengan kekuatan penuh hingga menimbulkan suara klakson yang berisik.

TIINN!

Dalam kondisi mengamuk, karena usai dicampakkan oleh Leon—si mantan kekasih, rasanya Rein amat membutuhkan alkohol untuk saat ini. Tragedi putus cinta itu terjadi ketika Rein mendatangi apartemen Leon niat memberi kejutan. Yeah, hari ini pria itu memang sedang berulangtahun yang ke 24.

Sehingga, berbekal kue ulang tahun dan belasan balon warna-warni di genggaman, Rein justru nampak begitu menyedihkan—karena begitu pintu apartemen terbuka, pemandangan yang terpampang nyata adalah Leon yang tengah memadu kasih dengan wanita lain.

Sungguh, bahkan Rein hanya bisa terdiam untuk beberapa detik, apa lagi saat iris matanya yang suci bersirobok dengan pantat yang tengah bergoyang di atas tubuh Leon. Begitu sadar mereka tengah dipergoki, Rein refleks melempar kue beserta balon-balon sialan yang ia bawa, lalu pergi kabur begitu saja.

“Gila! Ini gila! Dunia memang sudah tidak waras!” pekik Rein histeris. Giginya bergemeletuk menahan amarah. Mata lentik yang biasa memancarkan keceriaan, kini nampak begitu merah seperti monster yang akan melahap siapa pun di hadapannya.

Lucunya, bukannya mengejar dan meminta maaf ala-ala di drama Korea seperti pada umumnya, Leon justru membiarkan Rein serta hanya mengirimkan pesan singkat melalui chat aplikasi hijau yang berbunyi; ‘Sudah lama aku menyembunyikan ini darimu. Lebih baik kita berhenti di sini, membuatmu kecewa bukan niat awalku. Kuharap kau bisa menerima keputusan ini. –Leon’

“Sial! Sial! Sial!” umpat Rein tanpa henti. Ia kembali tergugu.

SYUUT!

Tanpa melihat spion lagi, ia banting setir berbelok ke Summerlounge—tempat gemerlap khas dunia malam yang selalu menjadi tujuan Reina Patricia Ellordi di kala gundah. Ia sudah tak peduli lagi akan bagaimana jadinya jika menikmati alkohol sendirian. Mengingat selama ini , jika pergi ke sana ia selalu membawa Sisca—sepupunya. Namun, tidak dengan hari ini.

Kedatangan Rein langsung disambut oleh Hugo, si bartender yang memang sudah sangat hafal dengannya. Sebotol penuh alkohol berhasil Rein tenggak dalam waktu singkat. Air matanya terus berderai saat mengingat bajingan yang mencampakkannya hari ini. Pikiran Rein kalut. Bodoh rasanya jika tidak patah hati. Apalagi, tiga tahun menjalin kasih bukan waktu yang singkat.

“Bajingan! Susah payah menjaga hati, tapi di belakangku kau justru bermain api dengan jalang!” desis Rein menggebu-nggebu. Sedetik kemudian, ia menenggak tetes terakhir alkohol di genggaman.

“Apakah kau baik-baik saja, Nona?”

Rein menggeleng dan menepis tangan Hugo yang mencoba untuk menolongnya bangkit. Yeah, karena saking mabuknya, gadis itu sampai hampir terhuyung ke samping kursi.

“Jangan hiraukan aku,” ujar Rein singkat. “Aku masih waras.”

“Jangan segan memanggilku jika membutuhkan bantuan, Nona.”

Rein hanya menanggapi Hugo dengan kibasan tangan di udara. Sementara Hugo Cuma geleng-geleng kepala, lalu memilih untuk melayani pelanggan lain.

Botol alkohol kosong Rein hentakkan ke atas meja dengan malas. Rasa pusing yang menjalar di pelipis, membuatnya sadar bahwa ia tidak akan kuat untuk pulang dan menyetir setelah ini, sehingga akhirnya gadis itu memutuskan memesan sebuah kamar yang merupakan salah satu fasilitas tambahan di SummerLounge.

Setidaknya, nantinya bisa digunakan singgah sampai besok pagi.

Lucunya, baru istirahat selama dua jam dan bangun untuk membersihkan wajahnya yang awut-awutan, Rein justru kembali keluar. Satu kali mabuk, nyatanya belum membuat gadis itu puas untuk membuat pikirannya melayang agar bisa melupakan kejadian buruk hari ini.

Tiap kali akal sehatnya kembali bekerja, bayangan penghianatan Leon selalu muncul di permukaan. Membuat pelupuk mata Rein kembali mengembun. Sial, tetapi kini yang bisa dilakukannya hanya menahan tangis sembari kembali menikmati alkohol sendirian seperti jomblo kesepian.

“Seorang wanita tidak baik minum sendirian, Sweety.” Suara barito khas lelaki membuat Rein menoleh. Untuk sesaat, ia berpikir bahwa lelaki yang menyapanya pasti tidak lebih dari pria jelek miskin yang mencoba menggoda wanita asing. Namun sayangnya, kali ini tebakan Rein tidak tepat sasaran.

“Allo. Aku duduk di sebelahmu, karena memang kosong.” ujar pria itu lagi. “Tidak masalah, ‘kan? Apakah kehadiranku mengganggumu?”

Rein yang didatangi tiba-tiba, hanya bisa terperangah dan mengerjap. Akhirnya, terjadilah adu pandang antar dua manusia yang baru saja bertemu untuk kali pertama.

Raut wajah dengan rahang tegas, alis lebat dan mata setajam elang itu membuat dada Rein berdesir. Ditambah lagi, ketika Rein melirik ke bawah, gadis itu langsung tau bahwa pria di sampingnya bukan sembarang manusia.

Ya, sepatu merk Passion Diamond Shoe memang salah satu dari sekian merk sepatu termahal di dunia. Dalam sekali lirik, Rein paham bahwa pria tanpa nama ini pasti berasal dari keluarga konglomerat.

“Mooi.”

Rein sontak mendongak begitu mendengar si pria lagi-lagi berbicara.

Apa katanya? Batin Rein bingung, tak memahami artinya.

Pria tanpa nama itu mengulang ucapannya, “Mooi.” Lalu mendekat dan berbisik, “Bahasa Belanda. Artinya, cantik.”

Kemudian, tanpa segan ia meraih sebotol alkohol yang tadinya berada di genggaman Rein, lalu menuangkannya ke dua buah gelas. Gerakannya sungguh gemulai, hingga membuat Rein tanpa sadar terhipnotis. Karenanya, gadis itu bahkan lupa untuk bernapas.

“Hhh.”

Dan ketika ia sadar sudah waktunya untuk menghirup udara, aroma maskulin khas pria itu justru menginvasi sebagian paru-parunya. Damn good. Kenapa aroma tubuh pria ini jauh lebih memabukkan ketimbang alkohol yang sedang kunikmati? Pikir Rein mulai melantur.

“Bersulang?” sang pria tanpa nama menyodorkan gelas.

Bagi Rein, ia berani bertaruh bahwa kulit sawo matang khas pria Asia-Eropa itu cukup menggetarkan hati wanita siapapun. Bahkan, Rein mungkin juga salah satunya. Rein mendadak tersenyum.

Diam-diam, ia menatap bola mata sang lelaki lamat-lamat. Gila, kenapa warnanya coklat sekali? batinnya.

“Bersulang atau mau aku pergi saja?” tanya si pria tanpa nama lagi.

“Bersulang,” jawab Rein akhirnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rein tidak bersikap cuek pada pria asing yang baru ia temui.

Mereka berdua mengangkat gelas berisikan minuman memabukkan itu ke udara hingga menimbulkan suara yang berdenting nyaring, lalu meneguknya sampai habis.

“Sendirian saja?” tanya lelaki itu sambil melengkungkan senyuman.

“Berdua. Denganmu.” Rein menggigit bibir bawahnya, memang niat ingin sedikit menggoda. Efek alkohol selain membuat akal sehatnya mulai bergeser, rupanya juga meningkatkan hasratnya dengan cepat. Aneh, bahkan sensasi ini baru Rein rasakan ketika bertemu pria tampan seperti saat ini.

Lihat, Leon! Jika kau bisa mencampakkanku, maka aku bisa menggaet pria lain yang lebih darimu! Gumam Rein dalam hati.

Demi membuat kepalanya lebih rileks lagi, Rein pun mengambil alkohol dan meneguknya lebih banyak.

“Ahh!” Rein memekik kecil. Sensasi pahit yang menyejukkan seketika memenuhi kerongkongannya.

“Well,” desis si pria asing dengan senyum meremehkan. “Akan kutebak mengapa gadis semanis dirimu datang ke tempat ini seorang diri. Jika salah, kau boleh meminta apapun padaku.”

“Dan jika kau benar?” balas Rein tidak sabar. Tatapannya tidak terlepas dari sorot coklat pria asing di sampingnya.

“Maka kau harus memenuhi permintaanku. Impas.”

“Deal.” Rein menghela napas, menopang dagu dan masih mengamati wajah tampan di hadapannya. Entah setan apa yang merasukinya, mungkin pengaruh alkohol membuatnya menjadi sensitif dan lupa diri.

Ada semacam sensasi menyenangkan ketika melakukannya. Dadanya lega, karena ia merasa bisa menebus perih di dalamnya, meski Leon—si bajingan itu tidak berada di sini. Semacam kiat balas dendam tak terlihat, tetapi tetap membuat batinnya puas.

“Usai dicampakkan mantan kekasih?” Alis lelaki itu naik.

“EH?” mata Rein sontak melebar.

Sang pria asing itu tertawa sumbang. “Celaka. Kurasa tebakanku tepat sasaran.”

“Bagaimana bisa … kau …” Ia menatap sang lelaki dengan sayu dan setengah memohon. Lucu sekali, berani-beraninya gadis itu memasang wajah menggemaskan dan manja di hadapan lelaki asing yang belum dikenalnya sama sekali?

“Kemarilah. Aku ingin kau memenuhi permintaanku.”

Rein menelan salivanya kuat dan mendekat. Jujur, dadanya mulai berdegup kencang. Ia penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

“Aku ingin …” sang pria merangkulkan sebelah tangannya ke pundak Rein, sementara tangannya yang lain meraih botol alkohol yang sudah tersisa setengah. “Menyicipi sedikit minuman dari botol ini.”

“Silakan saja,” jawab Rein agak mencicit.

Namun, si pria tanpa nama menyipitkan mata dan mengerling nakal. “Tapi dengan cara yang lain.”

“Cara yang lain?” alis Rein mengerut indah. Sementara sang pria tampan menelengkan kepalanya sedikit dan menatap wajah Rein dengan lekat. Membuat dada gadis itu lagi-lagi berdesir. Sial, kenapa pria asing ini begitu rupawan?

“Aku ingin mencicipinya dari bibirmu.”

DEG!

Bingo. Ibarat menarik busur panah, dua manusia itu seperti tengah mendapatkan jackpot. Sama-sama rupawan, sama-sama tengah saling memancing dan menggoda. Meski seharusnya Reina lari dari sana saat itu juga, karena ia selama ini adalah tipe gadis yang tidak mudah ditaklukan.

Untuk beberapa saat, Rein akhirnya mencoba membuat keputusan. Alih-alih kabur, gadis itu justru meraih botol alkohol dari sang pria dan meneguknya sedikit. Sengaja, di dalam rongga bibirnya ia menyisakan sedikit cairan memabukkan itu, kemudian….

CUP!

Rein menarik tengkuk sang pria dan menempelkan bibirnya di atas bibir tebal yang menggairahkan itu.

“Hmm,” suara merdu itu lolos dari celah bibir keduanya, tatkala cairan itu mulai berpindah dan meninggalkan rasa manis bercampur pahit khas alkohol di waktu yang bersamaan. Sensasi itu sungguh menggelitik.

Rein merasakan perutnya seperti diaduk-aduk dari dalam. Bibir kenyal milik pria itu membuatnya candu dan tidak ingin berhenti untuk memagut. Tangannya bahkan refleks memeluk leher sang pria untuk memperdalam ciuman. Ketika sang pria membalas lumatan itu dengan sama dalamnya, Rein seakan meleleh.

Kegiatan berciuman ini yang amat mendebarkan. Bagaimana pun juga, meski sudah berkali-kali melakukanya dengan sang mantan pacar, tetapi kali ini tetap terasa berbeda. Bagi Rein, ini adalah kali pertama ia melakukannya dengan pria asing. Agak gila, tetapi apa boleh buat jika dilakukan sebagai bentuk pelampiasan dan pelarian di hari buruk?

“Emmm.” Rein membelitkan lidahnya, kemudian melumat bibir atas sang pria. Tangan sengaja ia kalungkan di leher untuk menikmati momen yang ada. Namun saat Rein mulai menginginkan lebih, sedetik kemudian si pria justru melepaskan pagutan itu dengan cepat.

Gadis itu kecewa? Tentu saja. Tidak usah ditanya.

“Kecewa?” bisik si pria dengan nada menggoda sembari masih terengah, seakan bisa membaca isi kepala Rein dengan mudah. Sementara yang ditanya hanya bisa mendongak sayu dengan tatapan memohon.

Beruntungnya, belum sempat Rein menjawab dan kecewa terlalu jauh, sang lelaki tanpa nama menangkap tubuh Rein kembali. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. Membuat Rein membesarkan pupilnya. Mata mereka saling beradu untuk beberapa saat.

Lelaki ini benar-benar tampan disertai dengan sorot matanya yang teduh dan menenangkan. Begitu dalam, begitu memabukkan.

“Kau….”

“Ya, Sweety?”

“Kau tampan,” ujar Rein polos. Tangannya tergerak menyentuh pipi sang pria sambil tersenyum. “Bolehkah aku…” Degup jantung Rein terasa lebih kencang dua kali lipat dari biasanya.

Bibirnya kembali mendarat di bibir pria asing itu untuk beberapa detik. Gila memang. Dalam keadaan mabuk dan menyedihkan, Rein justru terbuai dengan ketampanan lelaki asing dan menciumnya tanpa permisi.

“Tidak.” Rein melepaskan dirinya sendiri karena mulai tersadar jika dirinya melakukan kesalahan. “I have to go. Tidak seharusnya aku—”

SRET!

Ketika Rein akan pergi, pria itu menarik gadis itu lebih erat ke dalam dekapan.

“Tidak seharusnya apa?” tanya sang pria heran. “Kau yang memulai, maka dari itu mari kita akhiri bersama-sama.”

Jika tadi yang selalu bergerak duluan adalah Rein, kali ini justru pria itu yang mencium terlebih dulu. Niat Rein yang tadinya ingin pergi, kembali sirna. Sial, iman Rein memang selemah itu.

Cukup lama keduanya berada dalam posisi saling mengecup. Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuh Rein, membuat efek mabuk yang dirasakannya lambat laun mulai menghilang. Tergantikan dengan kesadaran penuh, tetapi berujung pada perasaan candu seperti mendambakan sentuhan yang lebih.

Rein hampir kehabisan napas, tetapi sang lelaki masih menelusupkan lidahnya untuk mengabsen gigi serta rongga mulutnya semakin dalam. Sesekali pria itu juga menggigit kecil bibir bawah Rein.

Candu sekali. Napas keduanya tersengal. Sepersekian detik kemudian, lelaki itu melepas ciumannya.

“Hhh, kau membuatku sulit berhenti.”

Rein mengusap dada pria yang barusan menciumnya dan tersenyum. Bukan ciuman pertamanya dengan lawan jenis, tetapi rasanya begitu candu.

Sang pria masih memeluk tubuhnya dengan posesif. Tatapannya yang teduh semakin mengunci kesadaran Rein sembari menempelkan dahi masing-masing. Tangan lelaki itu perlahan meremas pinggul Rein dengan sensual. Senyum iblis dari si empunya bibir tebal itu terukir.

Tubuh Rein seketika meremang.

“Aku bukan pria brengsek yang akan menyentuh sembarangan gadis. Tapi kurasa, malam ini kau yang memulai semuanya,” ujar lelaki itu dalam. “Namun ketahuilah, Nona. Aku tidak akan melanjutkannya jika tidak mendapatkan izin darimu.”

Mata Rein memejamkan matanya dan sibuk mengatur napasnya yang masih satu dua. Gadis itu tau betul, ke mana arah pembicaraan si pria tanpa. Tangan Rein pun tergerak menyentuh pipi pria itu dengan lembut. Ia bergeming, tidak menjawab.

“Aku bersedia pergi. Pun juga tinggal. Katakan, apa kau … juga menginginkanku?”

Bab 2

2# Jangan Saling Menyebut Nama

Rein membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya. Ia berada di ambang kebingungan, antara harus mempertahankan prinsipnya sendiri untuk menjaga kehormatannya sebelum resmi menikah dengan lelaki pilihannya atau mengikuti hasrat terpendam yang kini amat menggebu-nggebu.

Ingin sekali ia berlari, tapi di saat yang sama ia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura. Setelah mendapatkan luka dalam dari Leon, kepercayaannya terhadap cinta kini perlahan menghilang. Mungkin saja, Rein tidak akan menikah dengan siapa pun nantinya.

Satu detik, dua detik, tiga detik, Rein masih belum memberikan jawaban yang pasti.

“Sweety? Aku menunggumu,” ujar si pria tanpa nama. Tangan besarnya mengelus puncak kepala Rein lembut.

Sial, diperlakukan demikian semakin membuat Rein tidak bisa berpikir jernih lagi.

Akhirnya, perlahan gadis itu mengangguk seraya menggigit bibir. Merasa sudah mendapatkan persetujuan, sang lelaki pun tersenyum simpul dan kembali mengecup bibir Rein sekilas.

“Tunjukkan … di mana letak kamarnya?”

Jantung Rein berdebar kencang seperti akan melompat keluar. Ia sudah masa bodoh dengan prinsipnya. Reina Patricia Ellordi boleh jadi berasal dari darah Prancis-Indonesia. Namun, sebenarnya Papa-Mamanya selalu menjunjung tinggi mengenai norma ketimuran.

Bahkan selama tiga tahun berpacaran dengan Leon, Rein juga tidak pernah mengizinkan Leon menyentuh tubuhnya. Hal paling jauh yang ia lakukan hanya sebatas berpelukan dan berciuman. Tidak lebih dari itu.

Lucunya, kini ketika bertemu lelaki asing yang tampan di hadapannya ini, hati Rein seperti berubah 180 derajat. Sungguh aneh, tetapi itulah yang dirasakan Rein saat ini. . Rein lupa diri. Sentuhan lembut bertegangan seribu watt dari pria tanpa nama itu tidak ingin ia sia-siakan.

“Follow me.” Rein menarik jemari lelaki itu dan melewati puluhan manusia yang ada di sekitar mereka. Suara dentuman musik yang memekakkan telinga langsung menghilang begitu dua sejoli itu memasuki sebuah ruangan tertutup dengan pintu merah menyala.

Begitu pintu tertutup, keduanya kembali saling menatap lalu memagut. Di bawah penerangan cahaya kamar yang terang, Rein dapat melihat wajah sang pria itu lebih jelas. Tubuh pria itu jangkung, lengkap dengan otot berurat yang tidak berlebihan, sehingga membuat penampilan si empunya begitu eksotis dan atletis. Wajah pria itu amat tampan seperti dewa Yunani. Menatapnya terlalu lama, rasanya membuat Rein perlahan meleleh seperti mentega.

Jantung keduanya berdegup kencang. Kaki mereka terus berjalan tanpa melepaskan cumbuan, lalu bersamaan terjatuh di ranjang. Ketika pria itu membelai pipi dan dahinya dengan lembut, sekujur tubuh Rein memanas. Perlakuan yang seakan memposisikan Rein bak benda rapuh yang harus diperlakukan hati-hati.

“Kau cantik.”

“Kau … tampan.”

Mendengar balasan Rein, lelaki itu tersenyum simpul. “Kau yakin, kita akan melakukannya? Karena jika sudah memulainya … aku tidak yakin bisa berhenti, Sweety.”

Pipi Rein memerah seperti ceri. “What’s your name, Dude?”

“Mari kita buat kesepakatan,” ujar pria itu sambil menatapnya dengan sorot yang teduh. “Aku bukan lelaki bajingan, tapi juga bukan pria baik yang dengan senang hati akan membuat komitmen menjalin hubungan sepasang kekasih. Apalagi dengan wanita yang baru saja kutemui.”

Rein mendengarnya dengan patuh. Gadis itu lagi-lagi mengangguk. “Lalu?”

“Ini pertanyaan terakhirku. Apakah kau bersedia dan yakin akan melakukannya … denganku? Dengan pria yang tidak perlu menyebutkan namanya?”

Mata Rein membulat. “Dan itu artinya, aku tidak perlu repot-repot menyebutkan namaku juga?”

Pria tanpa nama itu mengangguk. Tidak ada keraguan yang terpancar di matanya. Lalu bibir sensualnya mencium dahi Rein sejenak. “Bagaimana?”

Rein mengusap dada pria yang sedang berada di atas tubuhnya dengan perasaan berdebar. Membuat sang pria menggeram pelan. Sentuhan itu mengenai titik sensitifnya, tetapi hebatnya ia masih bisa menahan untuk tidak menyerang Rein sebelum gadis itu memberikan persetujuan.

“Deal.”

Mendengar satu kalimat pusaka itu, sang pria langsung menenggelamkan wajahnya ke leher Rein dan menghembuskan napasnya keras. Kelegaan seakan otomatis menyelimuti keduanya.

Ada semacam percikan kembang api ketika Rein kembali mendapatkan ciuman dalam dan menuntut. Satu persatu kain yang melekat pada tubuh dua sejoli itu terlepas dan jatuh berserakan di lantai. Rein memejamkan matanya dan tidak berani melirik ke bawah. Padahal, saat ini ia sedang merasakan nikmatnya sentuhan jemari pria itu tepat di titik pusat kenikmatan miliknya.

Lenguhan Rein pun lolos. Keringat mulai membasahi peluh keduanya. Hingga waktunya tiba, Rein pun membuka mata.

“Kumohon, lakukan dengan perlahan.”

“As your wish, Baby,” jawab sang pria sambil memeluk tubuhnya dan refleks menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. “Agar kau tidak kedinginan. Oke?”

Rein mengangguk. Tak lama kemdudian, ia merasakan sensasi pedih di bawah sana. Air matanya menetes. Sementara wajah sang pria memucat.

“Kau—”

Rein mengangguk. “Ya. Aku memang masih gadis.”

“Ketahuilah, kau juga yang pertama untukku,” jawab sang pria dengan mata berbinar.

Rein pun mengecup ceruk sang lelaki, sambil masih mengimbangi gerakan dan hentakan di bawah sana. Rasa sakit pun lambat laun berubah menjadi nikmat tiada tara. Desahan lelaki itu seperti melodi terindah yang belum pernah Rein dengar selama ini.

Mereka sama-sama gelap mata dan tidak menyangka bahwa bercinta ternyata rasanya semenyenangkan ini. Lenguhan Rein makin menggema memenuhi ruangan, tatkala ia merubah posisi membelakangi pria tanpa nama, sementara hentakan syahdu masih ia dapatkan.

“Di mana … aku harus?” tanya sang pria susah payah, sambil masih mempertahankan tempo permainan.

“Di dalam,” jawab Rein cepat. “Aku … sedang tidak dalam masa ovulasi.”

Sambil mendengar jawaban Rein yang patah-patah, lelaki itu menelan salivanya mendapati dada Rein yang berguncang karena gerakan tidak tenang yang ia timbulkan. Matanya berkilat lapar, lalu dengan cepat ia menarik tubuh Rein agar kembali saling berhadapan.

“You’re so beautiful….”

Karena pemandangan yang begitu indah itu, sang pria menghujamkan lagi hasratnya yang sempat terhenti. Rein yang terkejut pun tergelak. Namun dengan cepat, ia langsung mengimbangi permainan dengan bergerak dari bawah tubuh atletis pria itu.

Akibatnya, mereka berdua pun mendapatkan kenikmatan dua kali lipat. Geraman dan lenguhan saling bersahutan dari bibir masing-masing. Keringat bercucuran deras membasahi tubuh.

Jika boleh memberikan penilaian, mungkin Rein akan memberikan skor sepuluh untuk kesempurnaan lelaki ini. Wajah tampan, badan atletis. Wanita mana yang tidak akan terpukau?

Malam penuh gairah itu memang hanya sementara. One night stand yang tidak direncanakan maupun terpikirkan oleh Rein, setelahnya justru memberikan kenangan manis yang tidak akan dilupakannya begitu saja. Bahkan gadis itu menyadari bahwa ia sudah melupakan Leon, sang mantan yang menyakitinya hari itu.

***

Usai tragedi one night stand itu, Rein tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari. Sesuai dengan kesepakatan, setelah malam panas itu nyatanya Rein tidak lagi menjumpai sang lelaki itu meskipun sudah mencari ke berbagai tempat.

Singkatnya, satu setengah tahun pun berlalu denga cepat.

Reina Patricia Ellordi berjalan dengan percaya diri sambil menyeret koper besarnya. Saat ini ia sedang berada di Bandara International John F Kennedy, Amerika. Gadis berusia 24 tahun itu kini sudah berevolusi menjadi pribadi yang lebih menawan dan mandiri. Ya, usai mengalami peristiwa one night stand dengan pria asing kala itu, Rein yang masih belum bisa sepenuhnya move on justru memutuskan untuk melajang hingga kini.

Ditambah lagi, setelah lulus kuliah ia juga nekat menitik karir dengan bekerja di luar negeri. Lebih tepatnya di salah satu perusahaan asing bidang properti yang menjalankan bisnis water resort, konstruksi, membangun hotel, bungalow, villa, bar hingga restoran di PT. Diamant Group, GreenBreeze—Amerika.

“Kalau tidak karena Sisca yang tiba-tiba melangsungkan pernikahan, aku tidak mungkin berkunjung ke Indonesia dan mengorek luka lama. Ck!” gerutu Rein dengan bahasa Indonesia yang kental.

“Bloody hell!” umpat Rein. Gadis itu berdecak dan menenggak kopinya hingga habis tak tersisa, lalu membantingnya ke tempat sampah. Ia menggenggam boarding pass, KTP, dan passport untuk check in.

Heelsnya bergemeletuk seirama dengan lantai. Beruntungnya, penerbangan dilakukan tepat waktu saat itu. Usai mengurus ini itu, ia kemudian menuju pesawat dan duduk di seatnya dengan damai.

Seorang laki-laki bertubuh jangkung tiba-tiba duduk di sebelahnya. Lelaki itu duduk sejenak tanpa menyapa, mungkin karena kebiasaan bule di sini memang begitu. Rein yang cuek pun tidak terlalu memperhatikan, karena lelaki itu mengenakan syal leher yang menutupi sebagian hidung dan bibirnya.

Ketika pesawat akan take off, sang lelaki di sebelahnya berdiri dan pindah ke seat belakang. Digantikan oleh seorang wanita bule asing kulit hitam. Rein yang memang tidak peduli pun memilih untuk tidur. Usai perjalanan panjang nan melelahkan selama hampir 24 jam dan transit, akhirnya Rein bisa menghirup udara tanah airnya kembali.

Saking antusiasnya, ia sampai lupa dan meninggalkan jaket miliknya di seat pesawat. Dasar Reina Patricia Ellordi, tidak biasanya gadis itu seceroboh ini.

***

Bab 3

3# Apakah Ini Takdir?

Seorang Brandon El Carro mendesah lega sambil merapatkan syalnya. Akhirnya, hari ini ia bisa berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan Sisca, sahabat spesialnya. Ya, usai bertolak ke Amerika selama sebulan untuk beradaptasi, kini Brandon memiliki kesempatan untuk menyicipi udara Indonesia lagi sebelum benar-benar akan menjalankan bisnis water resort milik Ronald, ayahnya di GreenBreeze.

Sejujurnya, Brandon memang masih tidak rela untuk benar-benar pindah dari Indonesia. Sehingga, kesempatan emas seperti sekarang untuk berkunjung ke negara tercinta pun tidak ia sia-siakan begitu saja. Apa lagi, kejadian malam panas yang ia lalui sekitar satu setengah tahun lalu bersama dengan wanita misterius di bar, masih terus membekas di pikiran pria 27 tahun itu.

Hal ini malah menjadi alasan mengapa Brandon selalu menunda-nunda kepindahannya ke Amerika. Hanya karena sebuah keputusan bodoh untuk tidak menyebutkan nama masing-masing, Brandon justru malah menyesal. Setelahnya, ia seperti pria gila yang mencari dan menunggu sang wanita itu.

Dan tentu saja, usahanya nihil. Mencari seonggok manusia tanpa identitas satu pun, sama saja seperti mencari jarum di antara jerami.

Kini di sinilah ia sekarang. Brandon El Carro tengah berjalan cepat sambil menenteng jaket biru navy milik seorang wanita asing yang tadinya duduk tepat di kursi depannya ketika di pesawat. Begitu mendapati wanita itu belum pergi jauh, Brandon pun segera menyusul.

“Nona! Tunggu!” teriaknya nyaring. “Nona berambut panjang yang sedang menyeret koper biru! Tunggu! Jaket anda tertinggal!”

Langkah wanita itu langsung terhenti. Brandon El Carro pun buru-buru menghampirinya dan menyodorkan jaket.

“Milikmu.”

“Ah!” sang wanita bermasker itu pun terkesiap. “Terima kasih banyak! Astaga, hampir saja aku melupakannya.”

“Sama-sama, Nona.”

Namun, kini wanita itu menatap Brandon El Carro sejenak. Membuat Brandon akhirnya berinisiatif untuk memperkenalkan diri duluan. Ia menurunkan syalnya lalu mengulurkan tangan. Kini wajahnya terekspos sempurna.

“Maaf, aku Brandon El Carro. Namamu?”

satu detik.

dua detik.

tiga de—

“KAU!” pekik sang wanita dengan suara menggelegar. Ia buru-buru melepas maskernya dengan gemetar. “Kau … tidak mengingatku?”

Brandon El Carro mengerutkan dahinya kebingungan. Samar-samar ia merasa familiar dengan paras manis di hadapannya. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Bibir wanita itu bergetar. “Kejadian setahun lalu … di SummerLounge …” ujarnya terbata-bata. “Kau dan aku … pernah…”

DEG!

Bagaikan disambar petir, Brandon El Carro seketika mengingat semuanya. Namun rasa terkejutnya tersita dengan bunyi ponsel sang wanita yang langsung diangkat begitu saja. Usai berbicara beberapa patah kata, wanita itu menjauhkan ponselnya dan kembali menatap Brandon.

“Kau … masih tidak mengingatku?”

Brandon El Carro bergeming, karena saking shocknya. Hal itu nyatanya memberi dampak yang di luar dugaan, karena selanjutnya si wanita justru salah paham. Mata gadis itu pun berkaca-kaca.

“Baiklah. Anyway, terima kasih … atas jaketku.” Sang gadis menunduk dan buru-buru menggeret kopernya meninggalkan Brandon El Carro tanpa memperkenalkan namanya pada lelaki itu. “Mungkin aku salah orang.”

Setelah sekian lama mencari, kini sosok itu sudah di depan mata. Brandon kehilangan kendali tubuhnya karena saking bahagianya. Namun, bodohnya reaki yang ia tunjukkan jauh dari kata tepat.

Tanpa menunggu ba-bi-bu, sang wanita itu pun meninggalkan Brandon begitu saja. Sambil berjalan lurus, sebelah tangannya menempelkan ponsel ke telinganya kembali. “Tunggu aku! Aku segera ke sana! Kenapa kau sungguh tidak sabaran, sih?!”

Brandon El Carro menekan dadanya yang berdebar tidak karuan saat ini. Matanya masih menatap punggung si wanita yang terlihat menjauh. Ingin rasanya ia mengejar, tetapi lutut kakinya mendadak lemas.

“Apa benar … wanita itu …” gumam Brandon El Carro.

Sadar bahwa ia menemukan kembali kendali tubuhnya, tangannya pun tergerak menepuk dahinya keras. “Dasar Brandon El Carro bodoh!”

Brandon buru-buru mendongak untuk memeriksa keadaan. Sayang sekali, wanita itu sudah lenyap dan tidak ada di mana-mana.

Rasa menyesal seketika hinggap di dada Brandon. Untuk beberapa menit, ia masih berdiri mematung seperti manusia bodoh.

***

Hingga keesokan harinya ketika menghadiri pernikahan Sisca di Hotel Samantha Orchid, Brandon El Carro masih merutuki kebodohannya sendiri karena lamban dalam bertindak. Kejadian kesalahpahaman di Airport masih membekas di pikirannya hingga kini. Jika boleh memilih, rasanya Brandon El Carro ingin memutar waktu agar bisa bersikap lebih cerdas.

“Ke mana perginya Sisca?” gumamnya. Matanya jelalatan mencari sepasang pengantin yang merupakan sahabatnya.

Brandon El Carro baru saja meneguk anggur di tangannya, tetapi ia refleks tersedak saat mendapati seorang wanita berambut ikal yang begitu familiar memasuki area pesta. Wanita itu mengenakan gaun merah lengkap dengan heels sepuluh senti yang menopang kaki jenjangnya.

Meski sang wanita tidak menyadari keberadaannya, jantung Brandon El Carro tetap saja seketika berdegup kencang tidak karuan. Bahkan, gelas di genggamannya hampir saja terjatuh. Untungnya, dengan sigap lelaki itu langsung mengontrol diri dengan baik serta mengalihkan pandangan.

Bagaimana bisa wanita itu berada di acara resepsi penikahan Bara dan Sisca? Wanita yang sama dan tidak sengaja ia temui tempo hari di bandara?

Harusnya Brandon bergerak menghampiri dan menyapa.

Harusnya.

Namun, lagi-lagi hawa dingin tak diundang kembali datang. Tangannya memainkan gelas karena tidak tenang. Terbesit di hatinya untuk langsung melangkah mendekat, meski harus melawan rasa canggung dan juga debar yang tidak karuan di dalam dada.

Baru saja akan berbalik badan, ternyata Sisca dan suaminya sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum sumringah. Melihat penampilan Sisca yang hari ini begitu cantik, hilang sudah niat pria itu untuk pergi mencari si gadis misterius bergaun merah tadi.

“Brandon El Carro! Kau berusaha membuat kejutan, huh?” seru Sisca pura-pura kesal. “Katanya tidak bisa datang, tapi ini apa?”

Selanjutnya, perbincangan antara Brandon El Carro, Sisca dan juga Bara pun berlangsung. Namun, di tengah obrolan seru itu, tiba-tiba…

“SISCA! MARI BERFOTO DENGANKU!” Sisca terlonjak karena mendengar suara wanita lain yang begitu ia kenal. Ia tersenyum mendapati seseorang itu berlari dari kejauhan menghampiri.

“Ah, iya, Brandon El Carro. Perkenalkan ini sepupuku. Kau belum bertemu dengannya, namanya Reina Patricia Ellordi,” ujar Sisca semangat. “Dan Rein, perkenalkan dia Brandon El Carro . Temanku sewaktu magang dulu.”

Brandon El Carro kemudian menoleh dan melihat dengan jelas sepupu Sisca yang bernama Rein itu. Ketika mata Brandon El Carro beradu dengan Rein, mereka sama-sama terperanjat.

Ini adalah pertemuan yang lagi-lagi tidak disengaja hingga membuat bulu kuduknya merinding. Entah mengapa, rasanya seperti takdir.

“Kau…” Brandon El Carro berpikir cepat.

Ternyata gadis yang dulu pernah menghabiskan malam yang indah di SummerLounge bersamanya bernama Rein, alias sepupu Sisca. Brandon El Carro pun otomatis tertegun.

“Long time no see, Reina?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED