'Tring! Tring!’ Alarm ponsel membangunkan wanita itu dari tidur lelapnya.
“Hoah! Mengapa berisik sekali,” gerutu wanita itu sambil melihat jam di layar Hpnya.
Ternyata masih pukul 05.00 WIB. Gendhis nama wanita itu menatap sekeliling, mencoba mengingat- ingat dia sedang berada di mana pagi ini. Sepersekian detik dia baru menyadari, ternyata ini di sebuah hotel di tengah kota yang terkenal sebagai penghasil buah Apel di Jawa Timur. Pantas saja, hawa dingin masih bisa menembus kulit padahal selimut tebal sudah Gedhis pakai.
“Tuhan, badanku rasanya remuk redam begini,” ujarnya sambil menggeliat.
Dua hari ini dia bekerja sebagai Tour Leader (TL) salah satu perusahaan swasta di Kota kelahirannya. Mereka mengadakan family gathering dengan menyewa biro jasa. Menjadi TL adalah pekerjaan sampingan, selain pekerjaan tetap sebagai peloby di salah satu perusahaan jasa juga. Untuk weekend sering kali Gendhis mengambil job freelance seperti ini, selain jalan-jalan gratis juga penghasil cuan tambahan. Lumayan untuk membayar angsuran mobil dan sekolah adiknya.
"Mengapa sepi sekali? Apa mereka belum bangun semua ya? Perasaan akan ada jadwal senam pagi atau outbond," gumam Gendhis sendiri.
Gendhis menyibakkan gorden tebal yang menutup jendela menghalangi sinar mentari pagi masuk ke dalam kamarnya. Dia berjalan keluar menuju balkon. Dingin, itu yang Gendhis rasakan. Sayup-sayup terdengar suara lembut lelaki melantunkan ayat suci. Mungkin kamar samping, yang di tempati oleh pemilik biro jasa yang mempekerjakannya.
Rio Gunawan namanya. Sosok yang diam- diam Gendhis kagumi karena ke sholehanya. Dia lelaki yang menjaga pandangannya, sering menunduk jika berpapasan dengan bukan mahramnya. Padahal sudah dua tahun mereka menjalin kerjasama. Tapi tak sekalipun dia pernah bersapa langsung atau sekedar mengobrol seperti karyawan lainnya. Beruntung sekali bukan menjadi istrinya
“Ah, suaranya merdu sekali masuk ke telinga membuat ingin mendengarkan itu lebih lama, enak kali ya sambil minum kopi,” kata Gendhis lirih.
Gendhis kembali ke kamar, menyeduh kopi. Secangkir kopi pahit dan pemandangan luar balkon di nikmati bersama mentari pagi yang perlahan mulai menampakkan diri. Bukankah perpaduan yang sempurna? Tidak kalah dengan anak senja.
Piyama lengan panjang cukup untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Tuhan maha baik dan pemurah, Tuhan menciptakan semua secara apik dan selaras. Perubahan gelap menjadi terang di pagi itu terasa begitu lembut, kuasa-Nya sangat memukau hingga tanpa Gendhis sadari kabut perlahan mulai menghilang.
“Assalamualaikum, selamat pagi Mbak” suara lembut itu memecahkan keheningan.
Gendhis menoleh ke sumber suara itu,
“Waalaikumsalam, eh Pak Ustad Rio! Selamat pagi Pak Ustad,” sapa Gendhis ramah.
“Pagi-pagi kok sudah ngopi Mbak?” tanya Rio heran.
“Iya Pak Ustad sambil melihat pemandangan nih, jarang-jarang kan di kota lihat kek gini.” jawab Gendhis.
Rasanya agak canggung memang. Bagaimapun juga sosok pak ustad sapaan akrab karyawannya adalah bos biro jasa ini. Dia terkenal sangat pendiam, santun dan sholeh.
“Iya Mbak! Jarang-jarang di kota kita bisa kayak gini, oh iya njenegan (kamu) hari ini free ya! Biar kegiatan gathering di handle anak-anak EO lapangan! Tugas njenengan besok pas mulai masuk bus saja, sambil mampir ke pusat oleh-oleh!" perintah Rio.
“Siap Pak Ustad, rencana sih mau jalan-jalan bentar saya! Tapi kalau ada yang perlu di bantu jangan sungkan ya pak ustad, saya free kok!” sahut Gendhis dengan sedikit berteriak agar di dengar oleh Rio.
Rio mengangguk dan berlalu. Gendhis segera menghabiskan kopi pahitnya sambil merenung menikmati pagi. Notif Handphone Gendhis berbunyi, nomer asing masuk.
[‘Mbak kalau free bisa ikut saya ke pusat oleh-oleh dulu? Menyiapkan oleh-oleh untuk para atasan. Jam 10.00 berangkat. Saya tunggu di parkiran mobil. Mas Rio.]
Gedhis mengernyit heran, tumben sekali seorang Rio Gunawan mau mengirimkan pesan whatsapp pada dirinya setelah dua tahun bekerjasama. Mungkin dia baru butuh bantuan pikir Gendhis.
[Siap pak Ustad]
Balas Gendhis singkat. Gendhis segera mandi dan sedikit berdandan.
"Ah, aku lupa bajuku haram semua, aku juga tak menggunakan jilbab! Biarlah, yang penting sopan, salah sendiri mengapa mengajakku begitu mendadak," gerutu Gendhis sendiri di kamar.
Gendhis memutuskan memakai celana jeans panjang hitam, wedges hitam dan kaos putih di pilih sebagai outfit hari ini.
"Untung saja Eyelash masih cetar, tak perlu aku tambahkan maskara lagi,” Gendhis berkaca sambil tangannya sibuk mengambil alat penunjang kecantikannya.
Dia mengambil sebuah listik berwarna nude.
“Lipstik warna nude selalu menjadi andalan, di tambah dengan foundation? Conceler? Ah rasanya aku tak butuh semua itu! Cukup cream dokter pagi, bb cream untuk menunjang penampilan," kata Gendhis sendiri sambil bercermin.
Dia ingin memastikan bahwa semuanya tampak sempurna. Tak lupa Gendhis menyempatkan diri untuk mencatok rambut, agar tampak rapi, lalu metanambahkan vitamin rambut, parfum, dan jam tangan.
"Pas sekali!" pekiknya takjub melihat ke arah cermin.
"Eh tunggu, kenapa berdandan seperti ini? Aku kan jalan dengan Ustad Rio! Boro-boro dia akan melihat penampilanku, dia kan selalu menunduk! Ah biarlah, aku berdandan untuk diri sendiri," kata Gendhis dalam hati.
Dia melihat jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, masih cukup untuk mampir di resto hotel menyempatkan sarapan atau breakfast.
Kopi pahit panas, salad buah, dan omelet telur sosis menjadi menu sarapan pagi. Duduk di samping jendela menghadap ke kolam renang menjadi pilihanku. Para peserta gathering terlihat melakukan games di pinggir kolam. Mereka melakukan permainan keluarga, pemandangan yang cukup mengusik.
Di usia Gendhis yang menginjak 27 tahun, dia belum berkeluarga. Bukan karena tidak memiliki pasangan, tetapi memiliki tanggungan adik dan mama yang membuat berfikir ulang jika berumah tangga.
“Mbak, sarapan sambil melamun,” tegur Rio yang membuat Gendhis sedikit terhenyak kaget.
Gendhis menoleh ke arah Rio, mata mereka saling bertatap satu sama lain.
“Saya temani ya!” pinta Rio sambil menarik kursi di hadapan Gendhis.
“Eh, iya monggo Pak Ustad,” Gendhis memeprsilahkan.
“Panggil Mas saja, tidak usah seperti anak-anak lain,” ujar Rio santai.
“Hah? Memang tak masalah Pak Ustad?” tanya Gendhis.
“Aku lebih suka di panggil Mas,” jawab Rio singkat.
Gendhis hanya menganggukkan kepalanya paham. Dia menengok menu makanan yang diambil oleh lelaki itu, susu, sereal, dan omelet menjadi menu pagi pilihannya.
“Masih mau ke kamar lagi atau langsung ikut saya ke pusat oleh-oleh?” Rio membuka percakapan.
“Langsung aja Mas, saya sudah siap-siap kok.” Ujar Gendhis.
Saat mendongak memperhatikan Rio Gendhis menyadari suatu hal, laki-laki di hadapannya ini juga sudah berdandan siap untuk pergi. Meskipun berumur 40 tahunan, namun Rio masih tampak tampan. Jenggot panjang menghiasi wajahnya, rambut tertutup topi menampakkan sedikit uban yang menegaskan bahwa usianya sudah matang.
Dia mengenakan hem flanel, celana jeans dan tas selempang. Mereka menghabiskan sarapan dalam diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Setelah sarapan, mereka menuju parkiran mobil. Rio tampak menelfon seseorang. Dia menuju mobilnya dan membuka pintu samping.
“Masuklah!” perintahnya lembut.
Gendhis terdiam, sungguh tak mengerti kali ini. Bukankah biasanya ada Dimas sopirnya? Apakah boleh keluar hanya berdua?
“Mbak, ayok masuk! Saya yang menyopir, biarkan Dimas istirahat, kasihan dia semalam nyetir sendiri,” perintah Rio.
Gendhis bimbang, akankah dia masuk ke dalam mobil duduk berdampingan dengan sosok ustad yang di kaguminya? Atau tetap masuk di kursi belakang agar menghindari fitnahan orang- orang yang melihat mereka berdua? Apa yang harus Gendhis lakukan?
BERSAMBUNG
"Ayok! Naiklah Mbak, mengapa hanya berdiri mematung di situ!" ajak Rio.
"Apa yakin tak apa- apa Mas? Bagaimana jika ada yang melihat kita satu mobil?" tanya Gendhis ragu.
"Tak usah memikirkan apa kata orang, mari masuk keburu siang! Kita memerlukan waktu satu jam- an ke sana!" perintah Rio.
Akhirnya Gendhis masuk dalam mobil. Dia duduk di samping Rio.
"Bismillah,” ucap Rio lirih namun Gedhis masih bisa mendengar jelas.
“Mbak, kenapa diam saja dari tadi? Bukannya Mbak Gendhis selalu cerewet ya? Saya sering mengamati lo, anak-anak juga sering cerita, Mbak ini idolanya anak- anak kantor,” ujar Rio.
“Ah enggak Pak Ustad eh Mas Rio, mereka aja terlalu berlebihan,” sanggah Gendhis.
Gedhis membayangkan dia dan Rio seperti dua orang dewasa yang melakukan pendekatan, lalu ini pertama kalinya mereka bertemu. Suasana canggung terasa dalam mobil.
"Astaga pa yang aku pikirkan!" kata Gendhis dalam hati sambil menepis semua pikiran halunya.
"Konsentrasi Gedhis, konsentrasi ini kali pertama Mas Rio mengajakmu jangan sampai kau melakukan tindakan konyol! Ingat ini hanya keluar bersama dalam rangka membeli oleh-oleh tak lebih," seru Gendhis dalam hati.
"Lalu kenapa sepertinya bingung?" tanya Rio.
"Saya ini mimpi atau ada di dunia nyata ya Mas?" tanya Gendhis pada Rio sambil mencubit pipi sendiri.
"Ah! Sakit ternyata, berarti bukan mimpi," lanjut Gnedhis.
"Kamu lucu ya!" Kata Rio lagi.
Gendhis hanya terdiam. Sepanjang perjalanan menuju ke pusat oleh- oleh Gendhis hanya menyimak semua cerita Rio. Dia menceritakan perjalanan mendirikan biro jasa sampai bisa berdiri sebesar saat ini.
Sesekali Gendhis menimpalinya, namun lebih banyak menyimak ceritanya. Jarang- jarang dia bercerita seperti ini.
"Dulu aku mendirikan ini dari 0, Alhamdulillah sekarang berjalan sebaik ini," kata Rio.
"Hebat ya," puji Gendhis.
"Aku tak sehebat itu, ada Dimas yang setia membantuku mengurus semua! Dia juga yang sering mencari tander kesana kemari, seperti yang kau tahu aku tak cukup percaya diri untuk menghadle sendiri, selain itu ada banyak pekerja di lapangan yang sangat membantu sepertimu" kata Rio.
Sungguh Gedhis kagum padanya, Rio memang orang yang baik, mau mengakui keberhasilan usaha dicapai dengan kerja sama team bukan hanya dari pemimpin.
"Impianku suatu hari nanti dapat melebarkan sayap merambah dunia internasional juga, sehingga bisa membuka travel umroh dan haji," lanjut Rio.
"Wah kalau itu aku menyerah, tak akan melamar jadi TL nya," terang Gendhis.
"Kenapa?"
"Aku terlalu pendosa untuk memimpin rombongan haji atau umroh," Kata Gendhis.
"Tapi suatu saat aku ingin mengajakmu kesana, untuk menjadi orang yang lebih baik,"
"Amin ya Allah! Terimaksih untuk doanya ya Mas, semoga doa baik kembali ke Mas Rio dan keluarga, ah sweet sekali ya aku," ujar Gendhis.
Rio tertawa lagi mendengar perkataan Gendhis.
"Mas lebih ganteng saat tertawa" celetuk Gendhis spontan saat melihat Rio tertawa karena ulahnya.
Entah kenapa bibir ini tak dapat terkendali.
"Apa selama ini saya tak ganteng?" tanya balik Rio.
"Ya ganteng sih, Gendhis tak mau menjadi orang yang munafik! Tapi menurut Gendhis lebih ganteng lagi kalau tersenyum, selama ini kesan yang Mas tampilkan sangat alim, dingin sehingga kami yang di lapangan sering merasa sungkan untuk sekedar menyapa sehingga sekat kita terlalu tinggi, siapa sangka kalau Mas Rio juga bisa sedekat ini dengan aku," Kata Gendhis menimpali.
Lagi Rio hanya tersenyum simpul. Membuat Gendhis salah tingkah.
"Aku memang tak ingin sembarang orang mengenalku lebih dalam! Aku tak suka jika banyak orang mengetahui tentang siapa aku, aku tak nyaman seperti itu, aku lebih nyaman sendiri tanpa bergaul dengan banyak orang, tapi ternyata kehendak Allah berbeda, aku bekerja justru di lingkungan yang mengharuskanku menemui banyak orang," Kata Rio.
"Benarkah?"
"Ya aku memang tak suka berkenalan dan terlibat obrolan langsung dengan orang- orang, bukan karena aku menjaga jarak atau bagaimana, lebih karena tak nyaman, berbeda denganmu yang sangat supel dan bisa membawa diri di berbagai situasi," terang Rio.
"Tapi Mas Rio ndak sadar juga kan kalau bicara banyak denganku saat ini?" tanya Gendhis sambil tersenyum.
"Iya aku tak sadar telah banyak bercerita tentang siapa diriku padamu, kamu memang pandai membawa suasana dan perasaan," puji Rio sambil pandangannya ke arah depan fokus menyetir.
"Sosok yang terkenal pendiam, pemimpin yang disegani banyak orang ini ternyata cerewet juga ya," batin Gendhis.
"Kamu kenapa masih bekerja sampai seperti ini?" tanya Mas Rio.
"Hobi sih, bukan bukan ralat lebih ke butuh, kebutuhan hidupku banyak Mas, menghidupi diri sendiri, adik, mama semenjak Bapak meninggal," ujar Gendhis lirih.
"Ah kalau curhat gini rasanya pengen dinafkahin aja, apa aku nikah aja ya? Tapi kalau nikah tak bisa bebas, saat temen- temen nongkrong aku ngurus anak! Aduh ribetnya!" Kata Gendhis.
Rio tertawa mendengar Gendhis berbicara seperti itu.
"Kamu lucu sekali, pengen menikah tapi tak punya anak?" tanya Rio.
"Ya punya tapi masih belum sekarang kalik ya? Takut belum siap menjadi yang terbaik buat anak," ujar Gendhis lagi.
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka telah sampai tengah kota Malang. Mobil melaju pelan saat memasuki pusat oleh-oleh yang menyediakan berbagai macam olahan susu segar. Ternyata di tempat ini juga menyediakan saung untuk menikmati olahan susu jika ingin di makan langsung di tempat.
"Mau berjalan-jalan sebentar?" tawar Rio.
Gendhis mengangguk setuju. Kapan lagi dia bisa mengunjungi tempat wisata di kota Malang. Kesempatan bagus tak boleh di sia- siakan bukan.
"Bolehkah memetik apel langsung dan memakannya?" tanya Gendhis pada Rio.
Tak sabar rasanya melihat buah apel yang bergelantungan berwarna hijau kemerahan. Rasanya segar sekali di lihat menyejukkan mata.
"Boleh, jika membawa pulang baru membayar, jadi makan sepuasmu mumpung di sini gratis," kata Rio.
Tak membuang waktu. Gendhis segera berlari pelan menuju pohon buah apel yang tak seberapa tinggi namun berbuah sangat lebat, memetik sebiji yang paling merah dan menggigitnya.
"Asem tapi manis!" kata gendhis sambil mengernyit.
lalu dia melanjutkan memakan lagi dan memilih.
"Taruh sini, nanti bisa di bawa pulang untuk oleh- oleh atau camilan di kamar!" perintah Rio sambil menyerahkan keranjang anyaman rotan pada Gendhis.
Darimana juga laki- laki ini mendapatkannya pikir Gendhis. Dia melanjutkan kegiatan memilih satu lagi yang berwarna merah lalu memberikannya pada Rio.
"Makanlah Mas! Cicipi!" perintah Gendhis.
Rio mengambil apel dari tangan Gendhis dan memulai menggigitnya.
"Enak?" tanya Gendhis.
"Agak asem!" jawab Rio.
Mereka tertawa bersama, Gendhis sibuk memilih dan memetik beberapa apel untuk di masukkan ke keranjang di bawa pulang.
"Ayok cari ke belakang, disana ada lebih banyak," ajak Rio memberikan arahan.
Karena ini baru pertama kalinya Gendhis kesini jadi tak salah jika mengikuti aba- aba dari Rio yang lebih tahu tempat ini. Mereka berjalan bersama di tengah hamparan kebun apel.
"Kamu suka tempat seperti ini?" tanya Rio.
"Aku suka semua tempat, gunung atau pantai, apapun itu," jawab Gendhis.
"Pernah naik gunung?" tanya Rio.
Gendhis menggelengkan kepala, jangankan untuk naik gunung acara pramuka saat sekolah saja dia sangat meghindari dengan membuat surat izin dokter takut di ajak kemah di gunung.
"Kok suka gunung?" tanya Rio heran.
"Yaelah Mas, suka gunung bukan berarti harus mendaki gunung lewati lembah juga kali! Kita bisa menikmati pemandangan gunung dari TV, HP, jaman makin canggih lo Mas! Jika ingin menikmati lebih pergi ke tawang mangu, makan di cafe depan cemoro sewu yang basecamp pendakian lawu kan sama aja menikmati gunung," sanggah Gendhis mencari pembenaran.
Lagi Rio hanya tertawa saja mendengarkan semua celotehan gadis itu.
Ternyata di bagian paling belakang kebun terdapat kolam ikan, pantas saja tadi dalam daftar menunya terdapat makanan dari olehan ikan. Rio mengajakku kembali ke depan untuk menuju salah satu saung setelah puas memetik apel sekeranjang penuh.
“Aku pesan yang coklat, sampean (kamu) mau apa?” tanya Rio.
“aku yang ori aja Mas! Jangan pakai tambahan gula ya,” pesan Gendhis
“Siap, ori tanpa tambahan apapun kan,” Rio memastikan.
"Boleh di tambahi kalau senyumanmu Mas," seloroh Gendhis.
Rio tertawa mendengar ucapan gadis itu. Dia berjalan ke depan tempat pemesanan.
"Mau makan siang sekalian tidak?" tanya Rio sesaat setelah kembali.
Gendhis menggeleng, sarapan di hotel tadi cukup membuatnya kenyang sampai sekarang.
"Yakin?" tanya Rio lagi.
Gendhis mengangguk,
"Aku pesan ikan bakar lo! nanti kepengen," ledek Rio.
"Ya kalau kepengen mintalah! Mas Rio ndak mau membagi? pelit amat!" Protes Gendhis.
Rio hanya tertawa mendengarkan celotehan Gendhis. Hari ini Gendhis mendapatkan kesan baru dari lelaki yang di kenanya. Dia lelaki yang begitu romantis, dia juga memperlakukan wanita dengan romantis, mulai membukakan pintu mobil, berjalan beriringan.
Meskipun Gendhis merasa banyak tatapan aneh dari pengunjung, dia merasa seperti sugar baby sedang jalan sama om-om. Namun om-om apa yang alim seperti itu? apa pandangan orang itu aneh karena kami terlihat semacam pasangan selingkuh dimana aku menjadi istri kedua atau simpanannya ya.
“Dua tahun ini aku selalu mengamatimu, bahkan saat kita pernah makan bersama dengan kekasihmu,” ujar Rio datar.
“Benarkah? Untuk apa?” tanya Gendhis heran.
BERSAMBUNG
Sungguh aneh rasanya, Gedhis tak pernah bertegur sapa sebelumnya tetapi Rio berkata seperti itu. Selama ini, Gendhis memang mengidolakannya namun hanya sebatas kekaguman atas sifat dan sikapnya. Gendhis menatap matanya, Rio hanya tersenyum dan diam. Pesanan mereka datang, Gendhis meneguk susu hangat untuk meredakan segala kecamuk di pikiran.
“Mas, mau belikan oleh-oleh apa untuk atasan-atasan itu?”
“Terserahmu, ambillah lebih juga untuk adik dan ibumu!" perintah Rio.
Dengan cepat Gendhis memasukkan aneka olahan susu, keripik buah, dan strudle.
"Kenapa kamu tergesa-gesa? Apa kamu tak suka berdua denganku Mbak?” tanya Rio.
Gendhis menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, aku hanya bingung jika kamu diam saja Mas! Jangan memandangku seperti itu, bisa ge-er nih aku! Masak iya aku jadi istri keduamu!” seloroh Gendhis.
“Itu yang ku suka darimu,” Kata Rio sambil tersenyum.
Mereka mengobrol banyak hal sampai tak terasa terdengar suara adzan tanda waktu dzuhur, Rio berpamitan untuk melaksanakan sholat di Mushola kecil samping toko. Sungguh hari ini banyak hal mengejutkan terjadi. Rio dalam diamnya seolah menyimpan banyak rahasia yang sulit dimengerti.
Gendhis meminum susu yang telah dingin itu sampai habis, lalu berjalan masuk menuju toko untuk memilih camilan dan oleh-oleh lagi. Susu itu niknat sekali rasanya dia ingin membeli lebih untuk stok di rumahny sendiri.
Sampai Gendhis merasakan usapan pelan di bahu saking asiknya berbelanja.
“Masih ada lagi atau sudah?” tanya mas Rio.
“Sudah mas, ini lebih dari cukup,” ujar Gendhis.
“Untuk adik dan ibumu sudah?” tanyanya memastikan.
Gendhis mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju kasir. Rio menyerahkan dompetnya pada Gendhis.
“Ambillah, kalau uang cash kurang pakai kartu yang hitam! Pinnya tanggal lahirmu," bisik Rio di telinga Gendhis.
Gendhis tertegun, lelaki di sampingnya ini penuh kejutan.
"Apa kau yakin tak masalah Mas jika aku mengambilnya? Bukankah ini terlalu melanggar privasi?" tanya Gendhis liris.
Rio menggelengkan kepala.
"Antrian berikutnya!" teriak kasir.
Gendhis segera maju ke depan. Kasir menotal semua belanjaannya. Benar saja uang cash yang berada di dompet Rio kurang. Gendhis memandang ke arah Rio. Lelaki itu mengangguk.
Dengan bergetar Gendhis menggesek kartu atm hitam milik Rio dan memasukkan tanggal lahirnya sebagai kode pin. Berhasil, benar apa kata Rio. Pin kartu ATM miliknya adalah tanggal lahir Gendhis.
Setelah membayar semua belanjaan, Gendhis mencari Rio berjalan ke luar toko. Ternyata Rio sudah mengambil mobilnya. Dia turun dan membantu memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil.
“Masuklah, biar aku yang selesaikan!” perintah Rio.
Gendhis menuruti perintah Rio, dia langsung masuk ke mobil. Tak lama Rio menyusul dan menjalankan mobil perlahan. Mereka berdua saling diam. Sungguh situasi yang menyebalkan bagi Gendhis, dia tidak menyukai hening dan diam. Kaku rasanya.
“Oh ya Mas ini kartunya," sodor Gendhis menyerahkan kartu ATM hitam milik Rio.
"Taruh situ saja," jawab Rio.
"Emm... Mas nanti malam kan acaranya bebas ya? Ada hiburannya kan? Aku mau ikut gabung ah yang di kolam renang, boleh kan?” tanya Gendhis.
Rio tak menjawab dia hanya tersenyum dan diam.
“Mas di tanya diem terus, bosen nih! Aku nyalakan ya lagunya? Boleh? Karaokean sendiri nih aku dari pada diem," izin Gendhis.
“Iya, puter aja lagunya, sambungkan ke HP mu, ini Flash disk hanya qiroah qur’an...” jelas Rio.
Gendhis sibuk menyambungkan perangkat HPnya ke audio mobil Rio.
‘Sulit bagiku menghadapi kamu, tapi ku takkan menyerah kau layak di perjuangkan’
‘Perih bagiku menahan marahku, tapi ku akan lakukan bahkan lebih dari itu’
‘Aku yang minta maaf walau kau yang salah, aku kan menahan walau kau ingin pisah’
‘karena kamu penting lebih dari penting dari semua yang ku punya’
Gendhis mulai menyanyikan lagu dari salah satu penyanyi favoritnya, dia melihat Rio hanya tersenyum dan terus mengendarai mobil melaju pelan membelah kota dingin itu.
“Kamu suka lagu seperti ini?” tanya Rio.
“Aku mah segala lagu oke aja, tau sendiri kan mas kadang tamu yang ku bawa usia bapak-bapak yang di bus full lagu kenangan, kadang anak muda sukanya lagu hok a hok e,” jawab Gendhis sambil tertawa.
Rio menatapnya tajam, dan berkata lirih
“Mulai sekarang jangan begitu ya!" perintah Rio.
“Maksudnya?” tanya Gedhis.
Rio mengelus rambut gadis itu dan kembali diam. Jantung Gendhis seolah berhenti berdetak. Bagaimana mungkin seorang Rio yang alim dan terkenal kesholehahnya mau besentuhan langsung dengan bukan muhrimnya, bahkan mengusap pelan rambut Gendhis.
Gendhis langsung terdiam, sambil mendengarkan lagu yang terus berputar. Mereka berdua saling diam selama perjalanan menuju hotel. Sesampainya di parkiran hotel Gedhis langsung turun.
“Masuklah ke kamarmu, istirahat! Biar semua di urus sama Mas Dimas. Nanti malam gala dinner, ada breafing team di depan loby! Jam 19.00,” kata Rio.
Gendhis mengangguk dan berjalan menuju kamar hotel. Nyamanya kasur hotel tidak mampu meredakan gundah yang sejak tadi Gendhis rasakan. Ada apa dengan Rio? Segala pertanyaan memutari kepala Gendhis sampai tertidur.
Suara penyanyi Mahalini dengan lagus Sial membangunkan Gendhis. Ternyata itu nada dering yang di pakai Gendhis tanda ada panggilan masuk.
“Hallo? Iya ko? Aku ketiduran! Jam berapa ini? Oh iya, aku malam ada acara gala dinner sama hiburan! Habis itu aku off istirahat, lanjut besok jam sepuluh pagi cek out baru balik...” jelas Gendhis.
Panggilan masuk itu ternyata dari kekasih Gendhis. Wajar saja dia menghubungi ternyata ini sudah jam lima sore. Tak terasa Gendhis tertidur cukup lama, gegas dia mandi untuk persiapan acara nanti malam.
Dress hitam panjang, berlengan model balon transparan di pilih Gendhis untuk acara malam ini. Rambutnya di biarkan terurai, tak lupa dia menyematkan bross mawar kecil di baju polosnya sebagai pemanis baju. Make up natural, jam tangan klasik Alexander Christie hitam, dan parfum tak lupa di pakai serta wedges untuk menyempurnakan penampilannya.
"Sempurna!" seru Gendhis saat berkaca di cermin.
Gendhis berjalan menuju loby hotel, dia melihat Dimas sudah berada di kursi tamu namun dia hanya terlihat sendiri belum ada teman-teman yang lain.
“Mbak Gendhis sini, Woy sini!” teriak Dimas sambil melambaikan tangannya.
Gedhis berjalan menghampirinya.
“Yang lain masih menyiapkan gala dinner Mbak, termasuk si Bos, sampean (kamu) nunggu sini aja,” perintah Dimas.
Gendhis hanya mengangguk, karena ini bagian team EO bukan dirinya. Untuk menghilangkan bosan Gendhis membuka aplikasi instagram, menscroll berita ter-update mulai dari gosip sampai politik untuk mengusir rasa jenuh. Tanpa dia sadari Rio sudah berada di hadapannya.
Dan sama seperti biasanya dia hanya tersenyum dan diam. Seolah-olah siang tadi tidak ada kejadian apapun. Mereka lanjut breafing malam team sebelum acara di mulai, setelah semua team kumpul di lanjut makan malam bersama.
Suara musik perlahan mulai terdengar, tanda di kolam renang bawah hiburan sudah berjalan. Jiwa berdangdutanku meronta-ronta.
“Mas, ini udah kan ya? Acaranya bebas kan? Mau ke bawah aku” pamit Gendhis.
“Mbak Gendhis pasti mau nyumbang lagu nih, cus lah! Sekalian mau ambil ketan duren aku,” sahut Dimas.
Mereka berdua meninggalkan meja makan. Gendhis menyumbang satu lagu cmpursari koplo penyanyi Jawa Timur, Dimas berduet dengan Gendhis karena mereka berdua sama- sama menyukai lagu campursari dan koplo.
Iki tulising kidungku
(Ini adalah penulisan lagu saya)
Kanggo siro hapsarining kalbu
(Untuk kepolosan hati nurani)
Eseme kang manis madu
(Senyumnya manis sayang)
Dasar ayu parasmu kang tanpo layu
(Dasar yang baik dari parasmu Anda adalah tanpa memudar)
Tiba-tiba Dimas memegang tangan Gendhis. Mereka saling berpegangan tangan dan menatap satu sama lain.
Yomung ndiko kang sawiji
(Hanya kamu adalah satu-satunya)
Langit bumi kang hanyekseni
(Langit dan bumi bersaksi)
Nalikane ngucap janji ono lathi
Ketika dia membuat janji di lidahnya
Gendihis membalas rangkulan mesra Dimas. Ini membuat para penonton bersorak-sorai. setelah membawakan lagu campursari lagam. Gendhis menyumbangkan sebuah lagu campursari koplo yang sedang hits naik daun. Penonton berjoget bahkan Dimas berpura-pura menyawer agar tambah meriah.
Hampir setengah jam mereka sibuk bernyanyi dan bersenda gurau dengan para peserta gathering, sampai Dimas tiba-tiba menarik tangan Ghendis.
“Mbak bukak hp sampean (kamu) sekarang,” perintah Dimas.
Gendhis segera mengeluarkan HP dari saku dress, terlihat 15 panggilan tak terjawab dari Rio. Segera Gendhis menghubungunginya balik, tetapi tidak diangkat. Dengan tergesa Gendhis berjalan menaiki tangga, dia cari Rio di loby hotel. Terlihat dia duduk dikursi dan diam memandang ke arah Gendhis dengan tatapan tajam dan menusuk.
“Kenapa mas? Ada yang bisa ku bantu?” tanya Gendhis mendekat.
"Apa maumu?" tanya Rio dingin dengan tatapan mengintimidasi.
Bersambung
untuk melihat visual mereka jangan lupa follow IG atau Tik tok author
@Secilia_hariono / Secilia Abigail Hariono