Bab 1

“Anna!” Sebuah suara menghentikan langkah Anna saat dia membuang sampah ke tempat sampah di belakang apartemen yang dia tinggali dan hendak kembali ke apartemennya. Pandangannya tertuju pada seorang gadis berambut pirang yang berjalan dengan langkah terhuyung menghampirinya. Gadis itu tersenyum lebar dengan wajah yang memerah menandakan bahwa ia mabuk.

Anna menghela napas menatap gadis yang sangat ia kenali itu, ia maju untuk mendukung tubuh Rosy Woods—teman satu atapnya—yang tidak dapat berdiri dengan benar hingga membuat gadis itu hampir terjatuh ke bak sampah.

“Kau mabuk. Sebenarnya seberapa banyak kau minum?” tanya Anna sembari membantu temannya itu untuk berjalan masuk ke dalam apartemen mereka. Mereka berjalan menuju lift yang terdapat di belakang gedung yang terhubung langsung dengan tempat pembuangan sampah itu.

Rosy hanya terkekeh mendengar pertanyaan Anna, ia melingkarkan tangannya di leher Anna yang sedikit lebih tinggi darinya dan mengangkat tiga jari di tangan kanannya. “Tidak banyak! Hanya empat botol wiski!” jawabnya dengan percaya diri.

Lagi-lagi Anna hanya dapat menghela napas melihat kegilaan Rosy di saat mabuk, setidaknya ia merasa bersyukur kali ini Rosy pulang lebih cepat dari biasanya. Ini masih pukul sebelas malam mengingat gadis itu berangkat ke bar ketika pulang kerja di pukul lima sore.

Biasanya Rosy akan pulang di tengah malam atau di pagi buta dengan keadaan yang kacau. Ia terbiasa berkencan dengan sembarang pria yang menurutnya sexy dan menghabiskan hubungan satu malam dengan pria asing itu.

Anna sudah berulang kali memberikan nasehat kepada sahabatnya itu untuk tidak sembarangan membuka kaki dan melemparkan tubuhnya kepada pria asing, namun Rosy malah balik menasehatinya untuk berhenti menjadi gadis kolot yang mempertahankan tradisi kuno untuk tidak tidur dengan sembarang pria dan hanya memberikan mahkotanya kepada pria yang benar-benar ia cintai.

Sebenarnya apa yang salah dengan prinsipnya?

Menurutnya nafsu bukanlah segala-galanya. Terlebih ia tidak mau memberikan tubuh dan hatinya kepada sembarang pria, mengingat terlalu banyak pria brengsek yang telah ia temui sepanjang hidupnya.

“Hey, Anna!” Suara Rosy yang sedikit keras di depan telinganya membuat Anna tersadar dari lamunannya, ternyata pintu lift sudah terbuka dan memperlihatkan lantai tempat mereka tinggal.

“Kau mengabaikanku lagi,huh? Kenapa kau selalu saja mengabaikanku saat aku membicarakan tentang pria dan seks?!”

Dahi Anna berkerut dalam ketika mendengar pertanyaan Rosy. Ia menatap gadis di sebelahnya dengan ekspresi aneh, lalu membuka pintu apartemennya dan membawa Rosy masuk.

“Tidak ada yang perlu di dengar dari hal menjijikkan itu,” jawab Anna dengan dingin. Ia benar-benar jengkel setiap Rosy membahas segala hal tentang adegan ranjang yang gadis itu sukai. Anna lalu setengah mendorong Rosy ke bed-sofa dan meninggalkannya menuju dapur yang tak jauh dari ruang tengah mereka.

Bukannya marah, Rosy hanya tertawa keras mendengar jawaban Anna. “Oh ayolah, setidaknya kau harus merasakannya sendiri, sweety! Aku yakin kau akan ketagihan setelah merasakan batang seorang pria di dalammu!”

“Sebaiknya kau tutup mulut baumu itu sebelum aku menyirammu dengan air agar pikiran kotormu itu bersih, Nona Woods!” ancam Anna dengan jengkel. Ia membuka pintu lemari pendinginnya dan mengambil sebotol air dingin lalu meminumnya.

Rosy kembali tertawa dan beranjak bangun untuk menghampiri Anna, lalu duduk di kursi depan meja bar. Gadis itu menatap Anna dengan tatapan yang tidak fokus karena efek mabuk yang ia rasakan belum hilang. “Apa kau lupa berapa umurmu saat ini? Kau sudah dua puluh tujuh tahun sayang! Bahkan anak kecil berumur tiga belas tahun saja sudah pernah merasakannya!”

“Rosy Woods, kita sudah pernah membahas hal ini berulang kali. Berhenti atau aku benar-benar akan menyirammu.”

Melihat tatapan Anna yang mulai menajam dan ekspresinya yang semakin serius membuat Rosy mengangkat kedua tangannya mengindikasikan bahwa ia akan berhenti membahas masalah umur dan juga seks.

“Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti Nona Walkins yang naif, kalau begitu buatkan aku air lemon. Kepalaku pusing sekali,” Rosy menempelkan sebelah wajahnya di atas meja berbahan marmer itu. Rasa dingin dari marmer membuat wajah Rosy yang sedikit panas terasa begitu nyaman. Matanya terpejam mencoba meredakan rasa pusing di kepalanya.

Anna mendengus kasar melihat tingkah Rosy yang sangat absurd. Ia pun dengan telaten mengambil sebuah lemon dan mulai membuat air perasan lemon yang dicampur dengan madu dan air hangat sebagai pereda hangover yang dirasakan Rosy saat ini.

“Ini minumlah dulu, setelah itu kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Aku akan kembali ke kamarku sekarang.” Anna meletakkan secangkir air lemon hangat di depan Rosy lalu meninggalkannya menuju kamar. Mengabaikan erangan gadis itu ketika ia memukul kepala Rosy karena sedikit dendam oleh pembahasan umurnya tadi.

Memangnya kenapa jika dia mempertahankan keperawanannya hanya untuk pria yang benar-benar ia impikan?

Para gadis jaman modern benar-benar mengerikan. Bukankah karena itu tingkat penularan penyakit akibat seks bebas semakin meningkat setiap tahunnya? Dan itu menjijikkan melihat bagaimana manusia bersikap bagai hewan yang tidak dapat mengontrol nafsunya.

Anna melangkah masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Ia berjalan menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

Alasan terbesar Anna tidak mau berhubungan dengan seorang pria ataupun berhubungan seks sebenarnya bukan hanya karena ia semata-mata ingin menjaga diri demi pria idamannya, tetapi karena ia tidak pernah bertemu dengan Mr. Right yang mampu membuatnya merasa dicintai dan diperhatikan dengan tulus.

Ia tidak mau kecewa lagi.

Sudah cukup ia mengharapkan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari seorang pria seharusnya menjadi cinta pertamanya, ia tidak berani mengharapkan ataupun mencoba membuka hatinya kembali.

Hatinya terasa pedih begitu mengingat sosok pria yang begitu jauh baginya. Meskipun mereka pernah hidup dalam satu atap selama beberapa tahun, namun pria itu tidak pernah melihat ataupun menerima cintanya.

Berbeda dengan Rosy yang mencari kasih sayang pria dewasa dari para pria yang ia temui secara acak, Anna tidak mau mengharapkannya dari siapapun lagi.

Namun meskipun begitu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Anna berharap dapat bertemu dengan seorang pria yang mampu membuat jantungnya berdegup dengan cepat, dan darahnya berdesir setiap bersama pria itu.

“Hahh, sialan. Ini semua karena Rosy! Kenapa dia membahasnya lagi?!” Raung Anna dengan kesal.

Ia benci merasakan dilema ini, namun karena hidup dengan seorang gadis yang terlalu mudah jatuh dalam pelukan pria seksi dan tampan, mau tak mau terkadang Anna ikut terpengaruh dan sedikit berkhayal tentang rasa seks itu sendiri.

“Hahh kau sangat menyedihkan Anna,” gumam gadis itu dengan nada lirih. Ia pun mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka ponsel, memeriksa beberapa laporan mengenai daftar klien penting yang harus ia layani sendiri.

Bab 2

Sebagai perencana pernikahan, Anna harus melihat pasangan yang saling mencintai akhirnya menikah dan merayakan pernikahan terindah dalam hidup mereka.

Ingatlah bahwa pernikahan adalah upacara suci yang menyatukan hati dan pikiran dua orang. Jadi, Anna berharap setiap pasangan akan memiliki kenangan terbaik yang akan bertahan seumur hidup mereka melalui banTuannya.

Meskipun ia berasal dari keluarga Walkins yang terkenal akan kekayaannya di kota Boston ini, namun ia mendirikan usaha Wedding Organizer ini dengan uangnya sendiri dan tanpa dukungan dari keluarganya.

Ia melakukan berbagai proyek semasa kuliahnya dan memasukkan berbagai desain gaun pengantin dan dekorasi pernikahan ke beberapa perusahaan untuk mengumpulkan uang sebagai modal usahanya.

Semua itu ia lakukan bersama Rosy Woods, sahabat semasa kuliah sekaligus rekan kerjanya. Mereka berdua mengumpulkan uang dan membuka perusahaan kecil sendiri yang bergerak di bidang jasa mengorganisir pernikahan mewah.

Dalam waktu tiga tahun usaha yang mereka bangun berkembang pesat berkat kerja keras mereka. Dan mereka memiliki 100 karyawan lebih yang kini bekerja di bawah mereka. Bahkan nama usaha mereka berada di peringkat pertama sebagai jasa perencanaan pernikahan yang paling mahal dan juga paling diminati oleh kalangan konglomerat di Boston.

Meskipun begitu, masih terdapat rasa tidak puas di hati Anna.

Manusia memang tidak akan pernah puas sepanjang hidup mereka bukan?

Salah satu alasan Anna tidak pernah puas adalah pengakuan dari ayah dan keluarganya. Hingga detik ini ia masih belum mendapatkan pengakuan atas kerjas kerasnya dari Ayah sekaligus pria yang menjadi cinta pertamanya itu.

Anna menyimpan ponselnya di atas nakas yang berada tepat di samping ranjangnya. Gadis itu melihat jam di dinding yang semakin menunjukkan bahwa malam semakin larut dan rasa kantuk ‘pun mulai menguasainya.

Waktu tengah malam memang waktu yang rentan untuk overthinking. Jadi, Anna memutuskan untuk tidur dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak berguna.

***

Esok paginya Anna berangkat lebih dulu menuju kantornya, meninggalkan Rosy yang masih terlelap di kamarnya dan tidak mau ambil pusing dengan kebiasaan gadis itu yang selalu terlambat bangun.

“Selamat pagi, Nona Walkins,” seorang wanita muda berambut pirang sebahu dan kacamata di atas hidungnya menyambut Anna begitu ia memasuki lobby sebuah gedung tiga lantai yang cukup luas.

Anna tersenyum melihat asistennya dan membalas sapaannya dengan santai, “Pagi, Sunny. Kau datang lebih pagi hari ini,” ujarnya sembari berjalan menuju lift khusus menuju ruangannya dan mengangguk sebagai balasan atas sapaan beberapa pegawainya yang lain ketika ia berjalan melewati mereka.

Sunny hanya tersenyum malu mendengar sindiran halus atasannya itu karena ia sering terlambat akibat menghabiskan sepanjang malam di bar bersama Rosy.

“Aku tidak ikut dengan Rosy semalam. Steve melarangku untuk pergi,” jawab Sunny dengan malu-malu sembari menekan tombol lift untuk Anna dan ikut masuk bersama atasannya itu lalu kembali menekan tombol penutup pintu lift.

Sebelah alis Anna terangkat mendengar sebuah nama asing dari bibir asistennya itu, ia menatap Sunny dengan bingung saat bertanya, “Steve? Siapa itu?” tanyanya.

Terdapat rona merah muda di pipi putih Sunny ketika mendengar pertanyaan Anna, ia pun menjawab dengan senyum malu-malunya yang membuat Anna semakin memandangnya aneh.

“Dia pria yang kutemui di minimarket dekat rumahku. Kami bertemu beberapa kali lalu tidur bersama dan menjadi dekat.”

Setelah mendengar jawaban Sunny entah mengapa tenaga Anna seolah berkurang drastis pagi itu. Ia merasa telah melakukan kesalahan karena menanyakan hal yang tidak seharusnya ia tanya.

Entah mengapa ia mulai merasa jengah dengan pembahasan pria dan juga ‘tidur bersama’ itu.

Menyadari Anna yang hanya diam dengan ekspresi suram membuat Sunny sedikit panik. Ia lupa bahwa atasannya itu perawan tua yang kolot. Setidaknya itulah yang sering Rosy katakan padanya.

“Ah, benar. Apa Nona sudah membaca email dariku? Tuan Bonds , salah seorang pengusaha muda yang terkaya di Boston mendaftarkan pernikahannya pada jasa kita. Menurutku ini salah satu kesempatan besar bagi kita untuk mendapatkan perhatian dan promosi yang lebih besar lagi melalui pernikahan mereka.” Sunny menjelaskan sembari berharap bahwa upayanya untuk mengalihkan pembicaraan berjalan lancar.

Mendengar sebuah nama yang tidak asing membuat Anna menoleh pada Sunny sejenak, lalu berjalan keluar dari lift begitu pintu terbuka. Sunny pun mengikutinya dari belakang dengan tergopoh-gopoh.

“Aku sudah melihatnya. Dia akan menikah dengan tunangannya yang seorang artis muda terkenal itu bukan?” tanya Anna kembali.

Sunny menghela napas lega menyadari Anna memakan umpannya dan tidak lagi memikirkan pembicaraan mereka mengenai pria. Setidaknya ia telah menyelamatkan seluruh karyawan dari mood Anna yang mengerikan jika sudah menyangkut pria.

“Ya, benar. Dia menikah dengan Lisa Romanov, artis muda yang tengah naik daun itu. Kabarnya mereka telah berpacaran selama lima tahun sejak di bangku kuliah.”

Anna melirik Sunny sejenak ketika mendengar penjelasan yang tak perlu. Ia tidak ingin tahu berapa lama pasangan itu telah menjalin hubungan, lagipula siapa yang peduli? Yang terpenting adalah bisnisnya akan meningkat jika menerima orang sehebat Marcus Bond dan juga Lisa Romanov sebagai klien mereka.

“Jadi, aku harus menemui mereka besok pagi di cafe yang ada di Downhill?”

“Ya, benar. Aku sudah memasukkannya dalam agendamu besok.”

Anna mengangguk puas mendengar penjelasan Sunny. Ia lalu meminta Sunny untuk kembali ke mejanya sementara ia mulai memeriksa beberapa berkas mengenai laporan bulanan bisnisnya dan juga informasi mengenai Marcus Bond serta Lisa Romanov. Ia harus mempelajari latar belakang mereka untuk mengetahui selera dan juga tema yang pas untuk pernikahan pasangan itu.

Sehingga ia hanya perlu membawa beberapa tabloid khusus yang berisikan dekorasi dan juga desain untuk beberapa tema pernikahan mewah yang mungkin akan disukai pasangan itu.

Satu jam kemudian anna dikejutkan oleh suara pintu ruangannya yang terbuka dengan keras disusul dengan suara berisik dari wakilnya sekaligus sahabat gilanya itu.

“ANNAAAA! Kenapa kau tidak membangunkanku?!”

Mendengar suara teriakan Rosy membuat Anna menghela napas lelah dan memijat pangkal hidungnya. Kepalanya sakit karena tingkah Rosy yang semakin menyebalkan setiap harinya. Ia masih tidak mengerti mengapa ia mau bersahabat dengan gadis seberisik Rosy.

“Nona Woods, tolong jaga sikapmu saat di kantor,” suara dingin dan tatapan tajam Anna tidak membuat Rosy gentar. Dengan seenaknya gadis itu duduk di kursi yang berada tepat di depan Anna dan memasang ekspresi cemberutnya yang kekanakan.

“Kenapa kau tega sekali tidak membangunkanku?! Bagaimana jika aku tidak bangun hingga siang? Pasti pekerjaanku akan semakin menumpuk!”

“Itu salahmu karena tidak bisa mengatur waktumu dengan baik,” jawab Anna dengan malas sembari melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

Rosy semakin menggerutu mendengar jawaban Anna yang tidak berperasaan. Ia lalu memutar-mutar kursinya dan berkata, “kurasa kau benar-benar harus mulai berkencan dan merasakan seks!Apa kau tidak sadar jika sikapmu semakin kaku dan kolot setiap harinya? Kau setuju denganku kan Sunny?”

Rosy memutar kursinya menatap Sunny yang masih berdiri di depan pintu dengan ekspresi pucatnya karena gagal menghentikan tindakan anarkis Rosy tadi. Ia hanya menatap Rosy dengan linglung dan melirik kepada Anna sejenak, khawatir ia akan disalahkan karena tidak bisa menghentikan Rosy.

Bab 3

“Sunny, tolong antar Nona Woods ke ruangannya.” Titah Anna kepada Sunny yang masih terdiam di tempatnya. Gadis itu lalu buru-buru menghampiri Rosy dan membujuknya untuk pergi.

“Rosy, kumohon kembalilah ke ruanganmu. Kau tidak mau suasana kantor ini suram karena sikapmu bukan?”

Menghela napas keras, Rosy memutuskan untuk mengalah dan beranjak dari kursi. Ia lalu menatap Anna sejenak dengan ekspresi seriusnya.

“Anna, aku mengatakan ini bukan karena aku membencimu, tapi aku dengan tulus peduli dan khawatir pada suasana hatimu yang semakin buruk setiap harinya hanya karena ada yang membicarakan pria dan juga seks. Setidaknya kau harus membuka hatimu dan berhenti bersikap menyerah sebelum mencoba berhubungan dengan seorang pria. Sebuah hubungan tidak seburuk yang kamu bayangkan, dan tidak semua pria seburuk para pria di keluargamu!”

Sunny kembali memucat dan menahan napasnya mendengar Rosy tidak kenal kata menyerah untuk mengkonfrontasi Anna. Ia melirik ekspresi datar Anna dan kembali memegang lengan Rosy sembari menariknya memberi kode untuk berhenti.

Sementara Anna hanya bergeming dengan tatapan yang terlihat fokus seolah tengah membaca laporan di tangannya mengabaikan konfrontasi Rosy.

“Astaga! Demi Neptunus! Anna Walkins, berhenti bersikap kolot dan pergilah berkencan! Aku yakin banyak pria lajang di luaran sana yang mengantre untuk berkencan denganmu! Bahkan aku bersedia mengenalkanmu pada beberapa pengusaha muda kenalanku yang lumayan seksi dan bisa memuaskanmu di pengalaman pertamamu—AAA oke, oke. Berhenti! Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan pergi sekarang.”

Rosy buru-buru meninggalkan ruangan Anna begitu melihat gadis itu bersiap-siap untuk melemparnya dengan papan nama di meja yang terbuat dari kaca tebal dan pastinya akan sangat menyakitkan jika mengenai tubuh apalagi wajah cantiknya!

Ia yakin Anna benar-benar sudah berada di batasnya akibat tidak pernah merasakan pelepasan sepanjang hidupnya!

Dalam hati Rosy bertekad akan mengenalkan Anna pada beberapa pria agar gadis itu bisa berkencan dan membuka hatinya untuk memulai suatu hubungan.

Melihat Rosy pergi, Sunny buru-buru membungkuk pada Anna dan berpamitan untuk kembali ke mejanya. Ia segera keluar dan menutup kembali pintu ruangan Anna dengan hati-hati, takut akan menjadi pelampiasan Anna atas kemarahannya terhadap ucapan Rosy yang cukup keterlaluan.

Sepeninggalnya Sunny dan Rosy, Anna mengacak rambutnya frustasi dan menghela napas kasar. Ia benar-benar marah saat ini, tidak terima jika Rosy mengungkit luka terdalam di hatinya yang diakibatkan oleh ayah dan juga kedua kakak lelakinya.

Ia tahu bahwa tidak semua lelaki di dunia ini seburuk ayah dan saudara-saudaranya, namun tidak semudah itu untuk membuka hatinya dan menaruh harapan kepada seorang pria yang terkenal memiliki sifat manipulatif demi memuaskan hasrat hewaninya. Memikirnnya saja membuat Anna merinding di sekujur tubuh.

Ia tidak dapat membayangkan jika tubuhnya disentuh oleh orang lain terlebih seorang pria.

Ia hanya mampu berharap bahwa Tuhan berbaik hati untuk mengirimkan seorang pria yang benar-benar sesuai dengan pria idamannya yang mampu membuatnya mendapatkan semua rasa cinta dan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

***

Esok harinya di cafe Downhill pada pukul sepuluh pagi, terlihat sepasang kekasih tengah duduk di salah satu sofa dengan ekspresi gelisah di wajah wanitanya.Wanita itu berkata dengan nada jengkel, “Kenapa dia lama sekali? Setengah jam lagi aku sudah harus kembali ke lokasi pemotretan!”

Pria di sebelahnya menggenggam sebelah tangan gadis itu dan meremasnya dengan lembut mencoba menenangkan sembari berkata, “Tenanglah sayang, dia akan tiba sebentar lagi.”

Tepat setelah pria itu berbicara, seorang wanita cantik berambut coklat melangkah memasuki cafe dan menghampiri meja mereka dengan ekspresi bersalah dan cemas.

“Selamat pagi Tuan Bond, Nona Romanov, mohon maaf atas keterlambatan saya,” ujarnya dengan nada menyesal dan napas yang sedikit tersenggal akibat berlari hanya untuk tiba di cafe ini.

Pagi ini Anna sudah memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan mobilnya agar ia tidak terlambat untuk datang ke Downhill menemui pasangan Marcus Bond dan Lisa Romanov sesuai janji. Namun di tengah perjalanan ban mobilnya meledak menyebabkan ia harus meninggalkan mobilnya setelah menghubungi jasa derek mobil untuk membawa mobilnya ke bengkel. Ia lalu harus mencari taksi dan buru-buru berlari akibat taksi itu terjebak para demonstran yang tiba-tiba muncul menutupi jalan raya. Sungguh hari yang sial.

Sepertinya keberuntungannya mulai menipis setiap harinya. Terlalu banyak hal menjengkelkan yang terjadi beberapa hari ini membuat Anna kewalahan dan merasa sangat lelah. Namun ia harus tetap bersikap profesional terhadap pekerjaannya.

Anna segera mengambil tempat duduk di depan kedua pasangan itu lalu mengulurkan tangan, “Perkenalkan saya Anna Walkins dari AW Organizer yang akan bertanggung jawab untuk perencanan pernikahan Anda,” Anna memperkenalkan diri dengan sopan pada pasangan di depannya dan memasang senyum lembut dan ramah terbaiknya, mencoba melunakkan hati pasangan itu karena membuat mereka harus menunggunya di hari pertemuan pertama mereka.

“Tidak masalah Nona Walkins. Salam kenal, aku Marcus Bond, dan dia adalah kekasihku Lisa Romanov,” ucap pria tampan di depannya yang langsung menyambut uluran tangannya dengan senyum maklum. Tidak ada nada kesal dan marah pada pria itu, dan itu membuat Anna dapat menghela napas lega karena pria itu tidak mempermasalahkan keterlambatannya.

Anna tidak menduga jika CEO Bond Inc. itu memberinya kesan pertama sebagai pria yang ramah dan murah hati.

Berbeda dengan respon Marcus Bond yang ramah, Lisa Romanov—sang calon mempelai wanita—itu tidak menyambut uluran tangan Anna dan hanya menjawab singkat menyebutkan namanya. “Lisa Romanov,” jawabnya dengan nada acuh tak acuh.

Melihat respon Lisa, Marcus beralih menatap Anna memberikan tatapan menyesal dan tersenyum tipis meminta maaf atas sikap kasar tunangannya, dan Anna hanya mampu tersenyum lalu mengangguk singkat memaklumi sikap Lisa. Lagipula ini sikap yang wajar karena posisi Anna memang salah saat ini.

“Kau sungguh membuang-buang waktuku, Nona Walkins. Apa begini caramu melayani klien?” Lisa menatap Anna dengan tatapan jengkel, terlihat dia begitu terganggu dan marah akan keterlambatan Anna pagi itu. Dia melanjutkan, “karena aku sibuk, kau bisa mendiskusikannya langsung pada calon suamiku. Yang jelas, aku ingin pesta yang mewah, meriah, dan elegan karena akan ada banyak publik figur dan orang-orang penting yang hadir.”

Sejujurnya Anna sedikit terkejut pada ucapan Lisa yang menggerutu dan memberitahunya jika dia akan pergi dan membiarkan Marcus sendirian untuk berdiskusi dengan Anna mengenai pernikahan mereka. Ia akui dia salah karena terlambat, dia juga sudah menduga bahwa klien nya akan marah, namun ia tidak menduga bahwa perlakuan dari calon mempelai wanitanya akan seburuk ini. Terlebih ia tahu bahwa gadis itu terkenal sebagai aktris yang profesional dan baik. Memang benar kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja.

Awalnya Anna merasa khawatir hanya pada Marcus, mengingat pria itu seorang CEO yang terkenal arogan dan dingin, namun apa yang ia temui pagi ini benar-benar berbeda dari rumor yang beredar.

Anna mencoba menanggapi ucapan Lisa dengan tenang dan tersenyum lembut, “baiklah Nona, saya mengerti. Sekali lagi saya mohon maaf atas keterlambatan saya pagi ini. Kalau begitu saya akan mendiskusikannya bersama calon suami Anda,” katanya sambil menatap Lisa yang langsung mengambil tasnya bersiap untuk pergi.

“Tidak bisakah kali ini kau meluangkan waktu untuk berdiskusi bersamaku, sayang?” Marcus yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara dan menahan tangan Lisa yang hendak beranjak dari duduknya. Ekspresinya terlihat gusar karena kekasihnya akan pergi sebelum mereka mulai mendiskusikan rancangan pernikahan mereka.

“Jangan manja, Marcus. Kau tahu aku sangat sibuk. Aku percaya pilihanmu pasti yang terbaik untuk kita, jadi kau bisa mendiskusikannya berdua dengan Nona Walkins.” Lisa melepas genggaman tangan Marcus dan menatap Anna sejenak, “kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus ke lokasi pemotretan sekarang.” Gadis itu mengabaikan ekspresi sedih Marcus dan memberikan dua kecupan di kedua pipi pria itu sebelum beranjak pergi meninggalkan calon suaminya dan Anna di meja cafe itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED