Siang itu matahari begitu terik. Gerbang sekolah SMA Kusuma Bangsa sudah terbuka lebar. Seluruh murid berhambur meninggalkan gedung bertingkat tersebut. Pulang membawa sebekal ilmu dengan menggantungkan cita-cita mulia.
Akan tetapi tidak demikian dengan Raina. Sebuah mobil jip berwarna hitam sudah menunggunya di persimpangan ujung jalan sekolah. Beberapa preman sudah mengintai gadis itu.
“Aaaa! Tolong! Tolong! Siapa ka-“ suara Raina menghilang setelah salah satu preman itu membiusnya.
“Awas, jangan ada yang menyentuh gadis itu. Kalau tidak bos akan marah, hati-hati menjaganya,” perintah salah satu ketua preman yang duduk di kursi depan dekat kemudi.
Jip hitam itu segera melaju kencang membawa tubuh Raina Paradisa, gadis yang masih berusia 17tahun yang kini harus membayar hutang judi sang paman. Benar, Surya yang menjadi satu-satunya kerabat Raina kini malah memanfaatkan gadis itu untuk kesenangannya semata.
“Tuan ... Tolong beri saya tempo. Saya akan membayarnya.” Itulah kalimat Surya saat anak buah Alex Mordero menangkap basah dirinya di salah satu Kasino miliknya di bilangan Jakarta.
“Hahaha! Dengan apa kau membayar hutangmu yang sudah menggunung itu, hah?! Kau bahkan tidak punya sepersenpun untuk membeli minuman seharga dua ribu rupiah. Cihh!”
“Saya ... Saya ... Saya ada keponakan, Tuan Alex. Dia cantik, dia masih belia. Umurnya baru tujuh belas tahun. Saya yakin tuan pasti menyukainya.” Surya melipat kedua tangannya. Dan berlutut di hadapan lelaki berjas branding yang duduk di kursi kekuasaannya itu.
Tangan Alex mencengkram rahang tegas Surya membuat lelaki itu sedikit memekik kesakitan.
“Hutangmu sudah satu milliyar. Dan keponakanmu yang tak berguna itu kau jadikan jaminan? Cuihhh, aku tidak suka dengan dada rata.”
“Tidak, Tuan. Keponakan saya orangnya cantik, tubuhnya padat dan dadanya sangat besar menonjol.”
Surya lantas segera mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Raina dengan beberapa temannya saat jalan-jalan di pantai beberapa waktu lalu.
Iris mata Alex memicing. Ia mengamati satu senyum indah di wajah cantik, segar, dan alami itu. Dandanannya memang sederhana, tetapi masih bisa memancarkan kecantikannya. Bibir pria matang itu mengangkat.
“Bawa dia padaku. Dan anggap hutangmu sudah lunas. Pegilah.” Usir Alex.
“Terima kasih ... Terima kasih, Tuan. Terima kasih atas kemurahan hati Tuan.” Surya begitu sangat senang akhirnya hutangnya yang bermilliyaran itu sudah lunas setelah menukarnya dengan Raina.
Sungguh malang nasib Raina. Masa depannya harus hancur di tangan pamannya sendiri dan seorang Alex.
Alex Moredo, lelaki berusia 35tahun dengan ketampanan yang memukau. Kehidupannya yang mewah membuat ia tak pernah sepi dari kaum hawa. Katakanlah dia paket yang lengkap tapi tak sempurna.
Walau memiliki pesona memikat dan harta melintir namun prangai lelaki itu sangat buruk.Temprament, angkuh, dan kasar. Tak jarang jika ia tidak suka, maka ia akan melampiaskan amarahnya pada wanita koleksinya itu. Cinta? Hanyalah belenggu bagi seorang Alexander.
BRUGH BRUGH
Suara hempasan tubuh Raina yang sudah tergeletak di ranjang sebuah kamar hotel berbintang. Mata gadis itu tertutup kain. Tangannya sudah terikat ke belakang. Alex mengamati tubuh mungil dengan seragam putih abu-abu yang masih membungkus tubuh Raina. Satu gerakan kecil mulai terlihat dari tubuh Raina.
“Dimana aku inj? Kenapa gelap sekali. Aw!” cecarnya bertanya-tanya. Suara lembut dan seksi Raina semakin meningkatkan hasrat Alex untuk segera menikmatinya.
“Kau sudah sadar rupanya.” Raina mematung mendengar sebuah suara berat menyapa di sisinya.
“Siapa kamu!? Dan ... Di mana ini?” Raina mengendus- endus penciumannya. Seakan sedang mengenali aroma maskulin pria di sisinya itu dan aroma pekat minunan keras.
“Kamu tidak perlu tahu siapa aku cantik.” Suara Alex yang sudah mulai menyisir tubuh Raina dengan satu jari telunjukknya. Jari itu terus menjalar ke bawah dan berhenti pada kancing pertama seragam Raina.
“Siapa anda? Dan mau apa anda?” Raina mencoba berucap sopan.
“Hahaha! Saya sudah katakan kamu tidak perlu tahu,” sammbil.membuka kancing kemeja Raina.
“Yang perlu kau tahu adalah bahwa kamu sekarang adalah milik saya. Pamanmu sudah menjualmu kepada saya.”
“Bohong! Tidak mungkin paman saya menjual saya,”tukas Raina mulai bergelatah.
“Hahhaha, apa kamu tidak tahu? Pamanmu kalah berjudi dan hutang judinya sebanyak satu milliar. Karena dia tidak sanggup membayarnya, maka kamulah yang harus membayarnya, manis.”
“Apa?! Sebanyak itu? Bagaimana saya membayarnya, Tuan?’
“Hahaha! Mudah saja ... Jadilah jalang saya. Saya akan menghitung setiap pelayananmu. Pelayanan pertamamu ini akan saya beri harga seratus juta, karena kau masih murni. Selanjutnya akan saya hitung perjam ... 50juta selama 2jam ... jadi jika kamu melakukannya full one stand night ... Kalikan saja kelipatannya. Bagaimana?”
Hati Raina seketika hancur. Kepingan masa depan yang sudah ia impikan selama hidupnya kini bak fatamorgana. Lulus menjadi sarjana hebat sudah menjadi mimpi semata. Yang tersisa kini ia harus menjual tubuhnya demi membayar hutang sang paman.
Apa yang bisa diperbuat oleh Raina. Surya telah berjasa bayak kepadanya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Suryalah yang sabar dan telaten merawatnya hingga remaja. Namum.ketika.usaha lelaki itu gulung tikar, ia berubah derastis. Surya kerap mabuk-mabukan dan berjudi. Tak jarang ia berbuat kasar pada Raina sebagsi pelampiasan kesialannya. Dan kini untuk kesekian kalinya Surya menjerumuskan Raina.
“Tidak Tuan! Jangan! Lepaskan saya! Jangan Tuan!’ pekikan Raina yang meronta-ronta tak berdaya di balik ikatan tangannya.
Mulut Alex sudah mendarat pada area di antara selangkang Raina. Membuat suara gadis itu terkadang melengking terkadang menahan.
Bagaimana kebiasaan Alex pada seorang pelacur, seperti itulah ia menggagahi Raina. Lihatlah tubuh polos tanpa sensor milik Raina sudah menggoda di depan matanya.
“Tuan ....” kali ini nada lemah penuh kenikmatan terdengar dari Raina saat mulut Alex memilin daging kecil di area bawah perutanya.
Tubuh Raina menggeliat tak beraturan sensasi berbeda datang menyambanginya. Desahan yang diberikan suara seksi Raina berhasil membuat Alex kecanduan.Tak jarang lelaki itu melakukan sesuatu yang membuat Raina mendesah nikmat.
Pada menit berikutnya, Alex tak segan-segan menyusupkan juniornya ke dalam mulut Raina mencari titik kepuasan seprti yang diinginkan.
“Owek!” suara mual ketika benda itu keluar.
Tak berhenti, kini Alex semakin menggila, ia memberikan hentakan keras pada Raina. Jeritan kesakitan melengking dari gadis belia itu. Cipratan warna merah langsung memandikan junior Alex.
“Hm, inilah yang kusuka darimu, Raina. Kau masih murni. Dan kemurnianmu ini sungguh membuatku tak ingin berhenti.” Kalimat pujian Alex ketika ia merasakan sensasi berbeda dari biasanya.
“Hentikan Tuan! Sakit! Saya mohon hentikan!” hanya itu yang terucap dari mulut Raina. Dengan semua gaya yang diinginkan Alex, Raina tak berhenti menjerit. Hingga pada titik terlelahnya suara dan napas gadis itu akhirnya melemas dan menyepi.
Samar-samar mata Raina membuka. Semua terlihat buram. Tenaganya sudah sangat lemah. Perlahan ia menggerakkan kepalanya ke sekeliling, mencoba mengenali tempay ia berada.
Berjam-jam menikmati tubuh dan sensasi jeritan dari Raina, Alex berjalan menuju kamar mandi. Ia segera membersihkan diri dan membiarkan tubuh Raina yang sudah tak berdaya.
Dalam guyuran air shower, Alex tak berhenti membayangkan pesona yang diberikan oleh Raina. Berbeda, mungkin itu yang tercipta dalam benak Alex tentang sosok Raina. Dara belia yang masih berusia belasan tahun itu sukses mendapatkan perhatian seoang Alex si raja harta.
‘Sial!kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu?! aku bahkan ingin menggaulinya lagi … dia memang berbeda dari wanita-wanita di luar sana,’ pikir Alex.
Alex keluar dari kamar mandi dan berajalan menuju lemari. Dari sejak proses ia mengenakan pakaiannya, mata Alex tak berhenti menatap lukisan wajah Raina yang sudah terbuka oleh tutup mata. Kecantikan gadis itu berhasil memikat Alex dalam pesonanya.
“Dia … memang cantik. dan tubuhnya membuatku candu,” gumamnya seraya mengancing lengan kemejanya.
Alex segera meminta pelayan hotelnya untuk membersihkan Raina ketika ia bangun nanti. Dan meminta Dandi untuk menyiapkan satu dokumen perjanjia untuk di tanda tangani oleh Raina.
“Dan, kau siapkan semuanya. Nanti ketika dia bangun suruh dia tanda tangani itu. tapi kalau dia tidak mau, kurung saja. Aku akan mengurusnya,” perintah Alex tanpa menatap Dandi.
“Baik, Tuan.”
Sore beranjak tiba, Alex masih dengan meetingnya di hotel tersebut. Sementara di kamar presiden suite milik Alex. Sebuah gerakan kecil di balik tumpukan selimut itu mulai terlihat.
Perlahan Raina membuka matanya. Samar-samar ia melebarkan pupilnya dan mencoba mengenali tempat ia berada.
“Aw … issshhhh, sakit,” ringisnya menekan bibir dan alisnya. Tangan Raina menekan perut bawahnya. Rasa sakit pada area sesnsitifnya seakan ingin membunuhnya.
Saat mengangkat wajah, dua orang pelayan wanita dengan seragam rapi dan senyum ramah menyambutnya.
“Selamat sore, Nona Raina,” sapa keduanya serempak.
“Sa-saya di mana ini, Mba?” tanya Raina dengan suara tertahan.
“Anda berada di kamar Tuan Alex. Jika anda bersedia, kami akan membantu anda untuk bersih-bersih,” tawar salah satu pelayan wanita itu.
Ekor mata Raina langsung memicing kesal mendengar tawaran gila dari pelayan hotel tersebut. ‘Emangnya aku ini anak bayi apa? Pake dimandikan segala,’ batin Raina.
“Tidak usah, Mba. Saya bisa sendiri. Saya akan mandi dulu.”
Perlahan dengan gerakan penuh hati-hati, Raina mencoba bangkit dan berjalan sangat pelan menuju kamar mandi. Ditatapnya seperai yang sudah menggambar warna merah di atasnya. Entah sesadis apa lelaki itu menggagahinya hingga linangan darah begitu pekat di atas permukaan kain, bahkan jika dicuci berkali-kali ia yakin nodanya tidak akan hilang.
“Dasar psikopat gila!” maki Raina menatap warna merah di atas kasur itu. sama halnya dengan Alex, Raina menenggelamkan dirinya di bawah guyuran air keran. Linangan air matanya menyatu dengan deraian air yang berjatuhan.
“Hik hik hik hik,” isaknya.
Raina hancur. Bahkan setiap penggalan kalimat dari pria yang usianya sama dengan ayahnya itu, masih terngiang lekat di telinganya. Menjadi ‘Jalang’ itulah ia di mata pria yang sudah merampas mahkota berharganya.
Beberapa jam, Raina keluar dengan handuk kimononya. Matanya disambut dengan satu stel dres berwarna hitam motip bungan sakura tergelatak di atas kasur. Tampaknya selama ia mandi, pelayan hotel sudah mengganti seperai dan menyiapkan beberapa menu makanan di sisi kasur.
Raina mengenakan pakaiannya. Sekeluarnya dari walk in closet, sebuah tubuh pria berjas masuk. Raina terkesentak karena di luar perkiraan, lelai itu masuk tepat ketika ia sudah selesai dengan pakaiannya. ‘On time banget, nih orang. Pas gua udah selesai barpakaian dia masuk. Pas banget! Nggak kurang nggak lebih, wow!’ batin Raina.
“Selamat sore, Nona Raina. Saya Dandi sekretaris sekaligus asisten Tuan Alex. Saya kemari ingin memberikan dokumen ini, tolong Nona tanda tangani,” jelas Dandi menyerahkan lembaran surat perjanjian tersebut.
Raina duduk sebentar dan membaca beberapa poi nisi perjanjian. Ia menghela napas. Sungguh dalam hidupnya bukan ini yang diinginkan yakni menjadi seorang ‘Selimut malam’
“Ini, Nona.” Dandi menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang.
Mata Raina menatap hampa pada benda yang ada di tangannya itu. Sungguh dalam benaknya ia benar-benar sudah menggadaikan masa depannya di balik lembaran uang itu. Di tambah saat ia tahu jika pamannya sudah menjualnya. Sungguh miris.
“Jadi … inilah masa depanku,” lirihnya dengan suara yang sangat kecil.
“Jadi, Nona Raina. Berdasarkan isi perjanjian ini, anda harus siap setiap waktu Tuan membutuhkan anda. Tanpa halangan dan alasan apapun. Saya akan datang menjemput Nona.” Dandi menjelaskan lagi. sebuah anggukan terlihat di wajah Raina.
Tangan Dandi menjulur, menuntun Raina untuk bersantap sebelum ia di antarkan pulang oleh Dandi.
Tetes air mata tiba-tiba datang menyambangi pipi Raina saat gadis itu menyuap makanannya. Ia sedih, ia meratapi nasib sial yang menimpanya. Tak lama Dandi berjalan mendekat dan memberikan sebuah benda.
“Apa ini, Pak Dandi?” Raina membuka suara pada pria berjas itu.
“Ini Handphone dari Tuan. Hanya ada nama Tuan di sana. Nona tidak boleh menyimpan nomor lain selain beliau. Dan Handphone ini sudah distel dengan aplikasi khusus.”
Sekali lagi hati Raina tercekat. Ia tak habis pikir jika dunianya sudah terkunci oleh lelaki asing yang datang dalam wujud iblis itu. Iblis berwajah tampan.
Baru saja benda pipih itu berpndah ke tangan Raina sebuah panggilan menderu dari ponselnya. Ada nama Alex menampang di layarnya. Raina segera menjawab panggilan itu karena Dandi masih berjaga di sisinya.
“Halo, Rei. Apa kamu sudah menerima hadiah yang kuberikan? Aku harap kamu menyukainya. Dan satu lagi, jangan sekali-kali kamu bersama dengan lelaki lain, karena mulai sekarang kamu adalah milikku. Hanya milikku. Aku sudah membelimu dari pamanmu. Dan membayarmu. Jadi kau adalah mainan berhargaku. Barang milik Alex seorang. Kau paham?!”
‘Dasar iblis! Bahkan tanpa kau jelaskan panjang lebar aku sudah mengerti iblis!’ batin Raina.
“Iya, Tuan. Saya paham. Apakah saya boleh pulang sekarang?”
“Ya pulanglah. Besok sepulang kau sekolah temani aku ke puncak. Aku ada pertemuan klien di sana. Kita akan menginap di Villaku.”
“Baik, Tuan.”
Hari itu Dandi membawa Raina ke rumahnya. Seperti biasa langkah gadis itu masih terlihat berbeda. Rasa sakit pada wanitanya belumlah pulih seutuhnya. Ia berjalan lesu menapaki lantai rumahnya.
Wajah Surya sudah menyambut di balik meja makan. Lelaki itu lantas berdiri begitu menemukan suara Raina.
“Aku pulang,” salam Raina.
“Kamu baru pulang sekarang?” tanya Surya berpura-pura baik. Mata Raina langsung menyorot tajam kepada lelaki itu. entah kenapa, bahkan telinganya merasa sakit mendengar suara pria yang sudah menjerumuskannya.
Raina malas meladeni, ia berjalan begitu saja, melewati Surya. Kening lelaki bertubuh jangkung itu mengerut. Melihat sikap dingin Raina terhadapnya.
“Raina! Kamu kenapa diam?! Kamu kenapa, sih?!” desak Surya meninggikan suaranya.
Surya kembali ke rumahnya. Seperti biasa lelaki itu akan mencari makanan di meja makan. Sayang begitu kembali tidak ada menu di bawah tudung saji. Surya kecewa. Iapun teringat di mana Raina saat ini. Surya lantas mengambil sebotol sisa winenya dan meneguk menunggu kepulangan Raina.
Suara kendaraan di luar pagar rumah mengalihkan perhatian Surya. Lelaki itu berdiri dan melihat siapa yang datang pada malam hari. Mata Surya terlihat berbinar menemukan Raina berjalan keluar dari kendaraan mewah itu.
“Aku pulang,” salam Raina.
“Kamu kemana aja, kok, baru pulang jam segini?”
Raina tak menjawab. Ia sudah malas menanggapi lelaki yang sudah menjerumuskannya itu. ia pun melajutkan langkahnya tak menghiraukan teguran Surya.
“Kamu kenapa, sih? Di tanya kok malah diam?!” bentak Surya.
“Dasar anak tidak tahu diuntung! Begini balasan kamu terhadap orang yang sudah membesarkanmu?!” cecar Surya.
“Aku sudah membalas jasamu, Paman! Aku sudah membalasnya. Jadi … please! Jangan ganggu hidup aku lagi. dan sekarang aku sudah melunasi semua hutang budiku kepadamu. Kau sudah mendapatkan semuanya, bahkan lebih! Kau puas! Aku hancur, Paman! Aku hancur! Hidupku! Masa depanku! Semuanya hancur! Hancur oleh ulahmu! Jadi kumohon! Mulai detik ini urus saja dirimu. Aku akan pergi jauh mengatur hidupku.” Suara Raina yang meledak-ledak menjawabi Surya.
Suara dan kalimat itu langsung membuat Surya membungkam. Bibir lelaki itu seakan terkunci rapat dan tak bisa mengelak lagi.
Surya menggeram kesal. Dan seperti biasa, ia akan pergi untuk berpoya-poya melampiaskan rasa kesalnya. Di dalam kamar Raian menangisi nasibnya. Ia menumpahkan tangisnya sejadi-jadinya. Ia meraung sekuatnya, meneriaki nasib yang sudah tak adil terhadapnya.
***
Sekolah SMA Kesuma Bangsa masih dengan kegagahannya. Nara dan Fikar berjalan menghampiri tubuh Raina yang berjalan dengan langkah lemasnya.
“Woi!” Nara menepuk pundak Raina untuk mengagetkan gadis itu. Dan berhasil, Raina terkejut.
Fikar mendekati Raina, mengusap ujung kepala kekasihnya. Lelaki itu tersenyum manis menyambut sang pacar.
“Kamu lamunin apa, sih, sayang? Kusut banget mukanya,” lirih Fikar.
“Emm, nggak ada, kok. Cuma inget pengen makan bakso aja,” dusta Raina membalas senyum Fikar.
“Ya udah, ntar keluar main kita makan bakso di warung depan sekolah. Kata temen-temen di sana enak,” Sela Nara.
Ketiganya berjalan masuk ke dalam kelas. Sementara dari luar gerbang, sebuah mobil sedan sedang mengawasi Raina dari kejauhan. Wanita itu bahkan sudah berhasil mengambil foto saat Fikar mengusap ujung kepala Raina dengan hangat.
Bu Susi memulai pelajaran bahasa inggris. Baru saja bu Susi menjelaskan, tiba-tiba ponsel Raina bergetar. Gadis itu tersentak dan seketika meraih benda tersebut dan membukanya di dalam kolong meja.
ALEX : Keluar sekarang juga! Kalau tidak aku akan hancurkan gedung sekolah ini.
Mata Raina langsung membola sempurna. Hatinya tersentak mendapat ancaman dari sang iblis. Tangannya pun sudah gemetar memegangi benda pipih itu. ia mengedarkan pandangannya, menelan saliva untuk menenangkan diri.
Sekali lagi ponsel itu bergetar. Tangan Raina kembali dengan cepat meraih dan membuka pesan chat yang masuk.
ALEX : Aku hitung sampai tiga, cepat keluar atau ….
ANDA : Okay. Read.
Saat suara bu Susi masih melengking, Raina langsung mengangkat tangannya dan mengutarakan maksudnya.
“Ya, Rei, ada apa?” tanya bu Susi.
“Maaf, Miss, mohon izin ke toilet sebentar. Panggilan alam, Miss,” dustanya.
“Okay, I’ll give you time ten minute.”
“Thanks Miss.”
Raina langsung beranjak bangkit. Nara dan Fikar saling bertatapan dan mengangkat bahu. Mereka tidak tahu ada apa yang terjadi pada Raina pagi itu. Semua sikapnya terlihat aneh.
Raina berlari menuruni anak tangga sekolah. Ia tanpa berhenti sejenak terus berlari menambah laju agar cepat sampai pada lelaki jahat itu.
Hingga sampai di depan gerbang, matanya sudah menangkap sebuah mobil sedan hitam memajang sempurna di sana. Ia mendekat. Pemilik mobil itu langsung membuka pintu kendaraannya.
“Masuk!” pinta Alex tanpa menatap Raina. Meskipun masih dalam situasi marah dan kesal, Raina harus menahan diri. Karena menghadapi Alex dengan sikap emosi hanya akan membuat singa dalam dirinya semakin mengamuk, yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.
Raina menyusupkan tubuhnya ke dalam. Begitu gadis itu mendudukkan tubuhnya, ia terkejut menemukan wajah tampan lelaki yang sudah membeli dirinya itu. Dandi langsung menekan gas dan melaju kendaraan dengan kencang.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan. Raina measakan hal aneh. Karena ini di luar kesepakatan kemarin.
Tepat setelah kendaraan itu tiba di sebuah danau dekat pinggiran kota. Dandi menepi. Dan lelaki itu langsung mematikan mesin lalu keluar. Dandi sedang berjaga. Di dalam tinggal Alex dan Rainaa. Rasa takut kembali menyapa hati Raina. Hawa dingin dari Ale sudah sangat kentara.
“Bisa kamu jelaskan ini apa, Rei?!” suara dingin Alex saat memajangkan foto antara ia dan Fikar. Mata Raina langsung membelalak hebat. Ia tersentak sekaligus ketakutan mengetahui jika dirinya sedang dalam pengawasan pria jahat itu.
“I-itu … i-itu … itu, pa-pacar … sa-saya, Tu-Tuan,” jawab Raina tergagap.
Buku-buku jari Alex langsung mengeras pada benda pipih yang di genggamnya. Tak lama lelaki itu melempar kasar benda tersebut. Raina terperanjat dibuatnya. Rasa ketakutan yang tadinya masih bisa ia kendalikan kini semakin terasa dalam dirinya. Tangan Raina mengepal kuat meremas rok seragamnya.
Sementara Alex dengan mata menyala langsung menarik rahang jenjang Raina dan menjepitnya dengan kasar.
“Aw!” jerit Raina kesakitan. Mata Raina melebar ketika menemukan sorot menyala dari Alex. Apalagi kini jarak mereka sudah sangat dekat. Raina bahkan bisa merasakan hembusan napas kemarahan dari rongga Alex.
“Aku sudah pernah memperingatkanmu, Rei. Jangan ada lelaki lain dalam hidup kamu. Kamu itu milik aku, utuh!” hentak Alex dengan suara dingin dan penuh penekanan.
“Dia … dia pacar saya, Tu-tuan. Jauh sebelum saya mengenal anda.” Raina berusaha membela diri.
“Saya tidak perduli! Sekali lagi saya menemukanmu dengan lelaki lain, maka nyawa lelaki itu akan segera berakhir. Camkan itu Raina! Sekarang terima hukumanmu.”
Mata Raina sudah berair. Sudah berapa kali gadis itu menelan salivanya karena ketakutan. Ia tak bisa lari lagi selain membiarkan lelaki itu menyakiti tubuhnya.
Alex mencengkeram kuat rahang Raina, membuat gadis itu meringis kesakitan. Di tambah kini ia melumat liar bibir Raina. Tidak hanya melumat, Alex pun menggigit bibir Raina hingga berdarah.
Sungguh Alex benar-benar memperlakukan Raina layaknya seorang jalang. Suara rintihan sakit gadis itu serasa seperti mengundang hasratnya.
“Agh! Sakit … Tuan ….” Lirih Raina. Bukannya berhenti, Alex semakin menggigit lagi di bagian lain. Tangan Ale sudah membuka kancing seragam Raina dan memainkan tangannya pada dua gundukan milik Raina.
Berimbang antara rasa sakit dan kenikmatan lain, menyerang Raina secara bersamaan saat Alex sudah melampiaskan amarahnya.
“Alex … iblis!” makin Raina. Alex semakin memberi rasa sakit pada lumatannya. Dan kali ini membuat tangan Raina mencengkaram kemeja lelaki itu untuk menahan rasa sakitnya. Seperti itulah Alex memperlakukan Raina.