"Jangan lompat, kumohon!" teriaknya, tak memberikan cela untuk Damar terlepas dari dekapannya.
"Siapa kamu?! Lepas! Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Biarkan aku matii!!" Damar berontak dalam pelukan erat wanita yang mengenakan blazer dan cardigan itu. Sementara si wanita menggelengkan kepalanya dengan kuat bertanda isyarat membantah perintah Damar.
"Siapa aku, itu gak penting. Tapi sebagai manusia, aku merasa tidak tega membiarkan kamu mati sia-sia di jurang itu." Bersuara lembut membuat siapa pun yang mendengar dapat merasakan ketulusan wanita itu.
Kendaraan yang lewat sudah terhitung jari. Apalagi daerah itu curam berliku, berhiaskan tebing dan jurang serta penerangan jalan sangat minim.
"Apa peduli mu Hah?! Aku saja sudah menyerah dengan hidupku sendiri," bentak Damar kemudian diakhiri dengan suara lirih diujung kalimatnya.
"Seperti kataku, aku tidak tega melihat manusia mati konyol, apalagi kamu mati di depan mataku." Kalimat yang terdengar tajam namun bernada candaan. Dia yakin bahwa lelaki yang dipelukannya ini pasti sedang memasang raut putus asa, jelas sekali dari nada suaranya.
"Lepas! Aku tidak butuh belas kasihanmu!" Wajah Damar berubah semakin masam mendengar ucapan itu.
"Aku tidak akan melepaskan mu!" Pelukan yang semakin erat dan terlihat wanita itu masih bersikeras pada keputusannya.
"Lepaaass!!" Damar menjerit sekali berharap wanita itu mau melepaskannya. Namun jeritan demi jeritan yang terus- menerus sampai akhirnya kelelahan sendiri lantas menangis. Perempuan itu mendekap kepala Damar penuh iba.
"Namaku Luna. Aku bukan pendeta atau pun biksu. Hanya wanita suka pergi clubbing, minum alkohol dan melakukan hal maksiat lainnya. Tapi aku tahu bahwa bunuh diri itu sangat dibenci oleh Tuhan kita. Bukan menyelesaikan masalah, tapi malah sebaliknya. menurut legenda konon, Katanya rohnya nggak akan terima oleh langit dan bumi. Jadi hantu penasaran." Nada yang diselingi candaan saat memperkenalkan dirinya untuk me cairkan suasana sembari memberi nasihat. Namun hal itu malah terdengar seperti lelucon ditelinga Damar.
Raut wajah Damar nampak acuh tak acuh. "Lepaskan aku, kumohon ...!" serak pelan suaranya.
"Aku tidak akan melepas mu sebelum kamu berjanji untuk berubah pikiran." Luna menegaskan setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya.
"Ya. Aku tidak akan bunuh diri malam ini. Tapi tidak tau kalau besok malam." Damar menyahut lelah, sembari tersenyum getir.
Luna menangkap ucapan Damar sontak tersentak tak percaya. "Jika begitu, mari kita seperti ini saja, sampai besok malam aku akan terus memelukmu di sini." Mungkin itu terdengar gurauan bagi Damar. Akan tetapi, Luna sebenarnya tidak main-main dengan perkataannya.
"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu!" Damar tengadah menatap tajam wajah Luna yang ternyata terlihat seperti seorang wanita blasteran Sunda.
Tanpa Luna sadari jari jemari miliknya menyapu lembut tepi wajah Damar yang halus. "Biar kita sama-sama gila." Dia lantas tersenyum tipis.
Damar tertegun sejenak merasa kelembutan yang diberikan Luna padanya seolah perasaan sama ketika bersama mendiang calon istrinya. Kemudian ia tertunduk dan menangis lagi di dalam dekapan Luna.
Sejak malam itu, Damar dan Luna menjadi dekat, apalagi setelah Damar dipindahkan tugaskan dari Tarout ke Madano untuk mengisi jabatan CEO di PT Setosa. Hingga akhirnya di satu hari, keduanya sepakat mengikat cinta dan janji saling setia. Bahkan Damar telah melamar Luna. Pernikahan mereka digelar dua bulan kemudian sejak pertemuan itu.
***
Jumat siang selepas sholat Jumat. Seorang pria berusia dua puluh empat tahun duduk di singgasana-nya. Di lantai tertinggi PT Setosa, ruang kerjanya berada, dari luar jendela terlihat pemandangan kota Minahasa yang padat dan mulai didominasi gedung-gedung pencakar langit. Pria itu mengenakan vest dengan kemeja polos dilengkapi dengan dasi. Di atas mejanya yang terbuat dari kayu jati tertera sebuah papan nama kecil bertuliskan Damar Malik.
Arnol, sekretarisnya, menyodorkan sebuah map hijau yang berisi surat persetujuan dari Damar yang baru dibuat untuk menjadi sponsor dalam sebuah projek baru yang akan digelar megah di Hotel Minahasa Manado.
Damar membubuhkan tanda tangan dengan cepat. "Hari ini jadwal saya apa saja?" tanya Damar seraya menyodorkan map itu pada Arnol.
Arnol membuka Note dalam tabletnya. "Nanti sore jam tiga, ada meeting dengan salah satu CEO yang merupakan calon investor dari PT Indara."
"Oke. Untuk jadwal minggu depan, ingat kamu atur ulang semuanya!"
Arnol manggut-manggut paham. Kemudian pamit keluar dari ruang pimpinan. Damar kembali sibuk berkutat dengan puluhan berkas yang harus dievaluasi. Jarum jam pun seakan-akan bergerak dengan cepat sehingga tak terasa sudah menunjukan jam pulang.
*****
Minggu selanjutnya. Siang menjelang dhuzur, di sebuah kafe romantis dengan langit-langit kayu tinggi dan desain semi-terbuka mereka masuki. Bila Damar berceloteh dengan kekonyolan rekannya ketika masih bertugas di Tarout, maka Luna berceloteh tentang persahabatan di masa kecilnya.
"Dia kerja di mana selain jadi pemain band kafe?" tanya Damar. Kemudian ia meneguk nutello chocolate yang tinggal separuh, sedangkan Luna memakan snack.
"Cuma jadi OB gitu."
"Ohh... Gajinya lumayan, lah," kata Damar, sambil menggerakkan gelas yang ada di genggamannya.
"Aku sudah menawari dia untuk ikut kerja di bangkelku dan mau kukasih gaji lima juta, tapi dia nggak mau. Alasannya nggak bisa servis gituan. Tapi suatu saat nanti, aku harus bisa membuat dia gabung denganku. Asyik orangnya, Ulet kerjanya." Luna menyedot taro milk tea-nya
Damar hanya diam, tak berkomentar. Ia mengangguk. Lalu menanggapi calon istirnya. "Ya, setiap orang punya pilihan masing-masing."
"Iya aku juga tau. Tapi… yaudalah."
Damar tertawa melihat mimik lucu Luna.
"Besok aku ke Jakarta. Ada peresmian proyek baru."
"Lama nggak?"
"Nggak. Kamis malam juga udah di Manado. Mau titip oleh-oleh nggak?"
"Mau dong, Apa saja deh! Asal jangan kamu bawa oleh-oleh perempuan baru sepulang dari sana." Luna sedikit mencibir.
"Nggak, lah. Ngawur kamu."
Luna melirik jenaka. "Bisa jadi."
Damar tersenyum geli seraya mengusap kepala Luna lembut dengan sayang. "Tunggu disini, ya sayang. Aku ke toilet bentar," ucap Damar yang membuat alis Luna langsung terangkat sebagai isyarat mengiyakan.
Setelah itu, Damar meninggalkan Luna yang menunggu di meja nomor tujuh. Wanita itu mengeluarkan handphone dan headset yang tersambung dari tas selempangnya. Dia memasang headset di sebelah kanan telinganya. Beberapa menit kemudian ia mendengar lagu First Love yang mengalun. Matanya pun memejam menikmati lagu tersebut.
Disisi lain, setelah keluar dari toilet. Damar mampir ke kasir untuk memesan es krim favorit Luna. Sementara itu disisi lainnya terlihat seorang wanita yang bernama Nikita yang tengah asyik bermain sosial media, hingga tanpa sadar….
BRUUUKKK!!
Nikita menabrak tubuh seorang pria hingga menumpahkan minuman Ice matcha boba latte, tepat mengenai kemeja polos pria itu.
Bersambung....
Hai teman-teman selamat datang di novel keduaku. Jangan lupa komenya dan like juga. Semoga kalian suka dengan novel keduaku😘
Jujur baru kali aku buat novel romantis super hot😮💨 jadi selamat membaca....
JANGAN LUPA TINGGAL KOMENNYA AKU SUKA BANGET BACA2 KOME TEMAN-TEMAN MAMPIR KE NOVELKU😍😍 KARENA ITU SANGAT MEMBUAT KU SENANG DAN SEMANGAT JUGA❤️❤️
Nikita memekik kaget. "Aduuh, Mas, maaf, maaf." Dia panik sendiri hingga wajahnya tampak terlihat bodoh
Damar tercengang sejenak melihat kondisi kemejanya basah. Damar mendongak menatap wanita itu tajam. Seketika itu bulu pandangan mereka saling beradu.
Dia terdiam begitu Damar mengangkat wajahnya dan menatapnya tajam. Dan untuk sesaat dia tertegun serta terpesona melihat wajah tampan dengan pinggir rambut si pria dicukur dan bagian atasnya dibiarkan tetap panjang.
Dengan cepat Nikita mengatur ekspresi wajahnya. Damar mendengus kesal, disertai telunjuknya mengarah ke wanita itu.
"Lihat-lihat, dong, kalau jalan!" sentak pria itu marah. Wajah tampannya berubah galak.
Aksi Damar dan sang wanita mengundang perhatian seluruh pengunjung yang ada di kafe itu. Sebagian pengunjung menatap keduanya dengan tatapan terkejut, beberapa lainnya tampak biasa-biasa saja. Ada juga langsung berbisik-bisik buruk tentang mereka.
"Sumpah, Mas, nggak sengaja. Demi Allah, maaf. Biar saya bersihkan." Tangan Nikita hendak menyentuh dada pakaian Damar dengan tisu. Namun, Damar menepisnya dengan kasar, membuatnya meringis pelan.
"Kamu tahu berapa harga kemeja ini?" Sorot mata Damar memandang Nikita dari bawah hingga atas. "Dilihat dari tampangmu saja! Saya yakin, gajimu tidak cukup untuk membeli kemeja ini!" tandas pria itu penuh kesal.
Nikita memainkan lidahnya di dalam mulut. Pria itu sepertinya sedang berniat membuat Nikita merasa menjadi bekas kunyahan permen karet yang disingkirkan dari bawah sol sepatunya.
"Ya, saya kan udah minta maaf, Mas. Bagaimana jika saya cuci baju, Mas-nya. Dijamin bersih kok," kata Nikita sabar.
"Sayang! Ada apa?"
Suara cempreng terdengar dari arah belakang Nikita.
"Kemejaku kotor dan basah gini, yang. Gara-gara wanita barbar ini."
Nikita hendak protes ketika mendengar ucapan si pria. Namun Nikita memilih untuk mengurungkan niatnya. Wanita itu kemudian menoleh. "Kamu…." Keningnya sedikit mengerut. Dia Luna.
"Eh, Niki. Kirain siapa. Kenapa ini?"
"Nggak. Ini… nggak sengaja aku numpahin Ice matcha boba latte ke kemeja Mas ini."
"Yang. Kamu kenal orang ini?"
"Ya, kenal. Dia Nikita, sahabatku ku ceritakan tadi, lho. Yang."
"Bilang sama sahabatmu itu, kalau main hp, jangan di jalan! Lihat baju kerjaku!"
Luna melihat pada dada pakaian Damar yang ketumpahan Ice matcha boba latte sampai kotor ke bagian perut. Luna memalingkan wajah menahan tawanya.
"Ya sudah. Nanti aku beliin kemeja yang semodel. Maafin bestiku ini. Dia nggak sengaja kok," lerai Luna, masih menahan tawa.
Damar mendengus pelan, lantas meninggalkan Luna yang senyum-senyum dan Nikita yang terlihat bingung.
"Kenapa bisa kamu numpahin Ice matcha boba latte ke kemeja dia?" tanya Luna yang masih tertawa geli.
"Nggak sengaja, sumpah. Itu…, itu, tadi Damar-mu? Serius! Calon suamimu?"
"Iya. Tadinya malam ini mau kuajak nongkrong sama kamu. Sekalian kamu bawa Ray. Tapi kalau udah kayak gini ceritanya, lain waktu aja deh."
"Nggak apa-apa kok. Thanks, ya tadi. Kalau kamu nggak ada, bisa-bisa beneran dia minta dibeliin kemeja baru yang semodel. Puasa aku sebulan."
Luna tertawa. "Aku ke sana dulu, ya?" Nikita mengangguk.
Luna menyusul Damar yang sudah duduk di meja nomor tujuh. Dari kejauhan terlihat Damar membersihkan sisa Ice matcha boba latte yang melekat di pakaiannya dengan tisu.
"Jadi itu yang namanya Damar, "Raja Songong itu"...? Gila! Ganteng abis. Beruntung si Luna, tapi…, sayang banget cowoknya galak!" batin Nikita, sembari berjalan kembali meja lain.
Beberapa pengunjung pun sontak mendesah kecewa sebab endingnya tidak sesuai dengan ekspetasi. Dan sebagian lainnya hanya menggeleng kepala heran dengan anak muda zaman sekarang.
Di meja nomor tujuh….
Luna tersenyum seraya meraih ponsel. Seseorang menghubunginya "Setengah jam lagi kemeja baru bakal diantar ke sini," ujarnya kemudian.
Damar menoleh terkejut. "Serius kamu? Nggak usah, yang. Batalin aja." Raut wajah menolak. Dia merasa gengsi menerima kenyataan bahwa Luna membelikannya kemeja baru. "Aku bisa kok, hubungi sekretarisku buat beliin kemeja baru," sambungnya.
Luna tersenyum senang. "Nggak apa-apa, yang. Tadi kan sudah kubilang, aku beliin yang baru?" Luna mencium pipi Damar dengan mesra. Damar membelalak kaget, karena Luna tanpa ragu menciumnya di depan umum.
Beberapa menit kemudian. Seorang pelayan berjalan membawa baki berisi es krim pesanan Damar. Sang pelayan menaruh es krim itu dengan ramah. Setelah pelayan tersebut berjalan meninggalkan mereka berdua. Damar mempersilahkan Luna untuk menikmati es krim favoritnya.
Ujung bibir Luna terangkat. "Thank you, yang." Luna menoel hidung mancung Damar dengan gemas. Damar hanya tersenyum kecil, rasa jengkel pada wanita barbar tadi perlahan lenyap.
Dan setengah jam kemudian, pesanan Luna datang. Modelnya sama, tapi warnanya berbeda. Di toilet dalam kafe itu, Damar ganti pakaian. Sangat pas dengan postur tubuh yang tegap dan berisi dengan tinggi badan yang hampir mencapai 183 cm, belum lagi rahang tegas, disertai mata elangnya, dipinggir alis tebal itu terdapat tanda lahir membuat aura karismanya terpancar.
Dengan gaya genit, Luna menyodorkan lengannya untuk digandeng. Damar tersenyum menyusupkan tangan ke pinggang Luna, kemudian bersama mereka melenggang, meninggalkan kafe itu.
*****
Damar benar-benar jengkel dengan Luna. Dalam seminggu ini wanita itu mendadak sibuk. Janji mau mengabari ternyata tidak. Ketika didatangi ke bengkel miliknya, kata karyawannya sedang ke Malang. Ingin meminta Arnol sekretarisnya sendiri meluncur ke tempat Citra seorang fotografer dan tukang cetak undangan profesional yang dulu dikenalkan Luna padanya.
Namun, Damar teringat selera Arnol itu terlalu unik atau lebih ke aneh sih? Lagian dia akan menikah bukan sekretarisnya. Akhirnya dengan perasaan kesal yang terpendam di dalam hati. Siang itu, sekitar jam 12.00-an. Damar terpaksa ke kawasan Airmadidi, distrik memiliki tempat yang indah di atas bukit.
Satu jam kemudian. Damar sampai di toko Citra. Ia disambut Citra dengan ramah dan dipersilakan masuk. Citra mempersilakan Damar duduk di sofa. Damar pun bersandar di kursi, ia meletakkan kedua tangannya di lengan kursi dengan santai. Wanita itu dengan hati-hati ia menyuguhkan minuman yang dibuatnya. Ditaruhnya di meja, kemudian Citra mengambil bantalan kursi, memeluknya sambil bersandar dengan dengan santai. Mereka duduk saling berhadapan.
Citra mempersilakan Damar meminum jus lemon yang baru saja disuguhkan. Damar hanya mengiyakan, lalu mulai masuk pada inti pembicaraan.
"Jadi begini, Mbak. Saya mau bahan kertasnya yang glossy, ya? Buat seperti buku kecil gitu. Untuk hiasan foto-fotonya nanti saja kalau aku sama Luna sudah foto prewed," ujar Damar gamblang.
Citra mengangguk-angguk menanggapi seraya mencatat pesanan Damar di buku khususnya. "Kira-kira segini, Tuan." Citra menunjukkan hasil estimasinya. "Itu pun masih perkiraan lho. Soalnya kalau ada hiasan tambahan di kartu undangannya, pasti nambah lagi biayanya. Apalagi kalau pake tinta emas timbul gitu."
Damar berpikir-pikir sejenak lalu menjawab."Buat seindah mungkin. Kalau bisa warna marun dan gold itu. Usahakan sebulan sebelum resepsi digelar cetakan undangan sudah di tanganku. Oke?"
"Siap, Tuan."
Damar pun pamit. Tapi baru sampai pintu, ia dibuat kesal karena seorang wanita berpakaian office girl (OB) tak sengaja menyenggolnya, membuat ponsel mahalnya yang sedang dipegang jatuh. Untung dilapis casing karet! Gimana nggak coba? Bisa-bisa mengalami kerusakan ponsel mahalnya itu.
Bersambung....
"Aduh, Mas, maaf, maaf," ucap perempuan itu seraya memungut ponsel Damar.
"Kamu lagi!" sentak Damar begitu mengenali wajah wanita dihadapannya. Nikita.
Pupil mata Nikita membesar. "Astagfirullah, Mas lagi. Maaf, Mas. Saya buru-buru." Seraya menggaruk telinganya tidak gatal.
"Kenapa, Say?" Citra terkekeh melihat kejadian itu.
"Sebentar, ya, Mas." Nikita yang masih memegang ponsel Damar tanpa sadar menghampiri Citra di meja kerjanya.
"Buruan foto aku sekarang. Cetak sekarang juga. Buat ukuran tiga kali empat. Bikin tiga lembar, sama ukuran dua kali tiga. Dua lembar. Total lima lembar, ya, Cit?" sambungnya
"Mendadak amat. Buat apa?"
"Diminta kantor. Lupa aku kemarin bikin. Ini juga lagi jam kerja. Jam tiga nanti harus sudah jadi."
"Ya, tapi dua kali lipat lo bayarnya? Soal dikerjai express gitu."
"Yaelah, perhitungan banget lo sama sahabat sendiri."
"Edah! Bisnis, Say." Citra tertawa dalam hati.
"Terserahlah." Nikita memilih untuk mengalah. Jika tidak? Urusannya tidak akan kelar-kelar! Hanya perihal duit. Apalagi si Citra itu nggak mau kalah debat.
Sementara Damar masih bengong di tempat kerena ponselnya dipegang Nikita. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ponsel Damar bunyi. Dan tanpa sadar Nikita langsung mengangkatnya. Suara tenor pria.
"Astagafirullah…."
Dengan wajah bodoh Nikita menghampiri Damar yang menatap dingin padanya. Namun tidak bisa disembunyikan sedang menahan senyum.
"Maaf lagi, Mas. Ini handphone-nya." Nikita nyengir malu.
Damar menyambar ponsel mahalnya lalu keluar tersenyum geli. Dia menuju ke tempat mobilnya dipakir, dibukanya pintu mobil dan duduk di jok belakang stir. Damar membunyikan klakson sebagai tanda pamit. Beberapa saat setelah mobil Bugatti Divo merah itu menghilang di tikungan.
Nikita lalu berbalik ke arah Citra. Wanita itu memandangnya dengan penuh tanya.
"Kamu tahu siapa cowok ganteng itu?" tanya Citra setelah Nikita siap difoto
"Tahu. Cowoknya si Luna. Mau foto prewed, ya?"
"Baru pesan kartu undangan sama nentuin jadwal fotonya."
"Beruntung amat si Luna. Dapat calon suami ganteng mirip artis bollywood gitu, punya jabatan tinggi pula dikantornya."
"Dia punya ini…." Citra memainkan jarinya isyarat uang. "Dan pake susuk kali si Luna."
Nikita dan Citra tergelak.
****
Pagi yang tenang di sebuah kamar yang ditemani suara detakan jam terlihat seorang pria yang fokus mengenakan dasi berbentuk kupu-kupu di depan cermin berukuran 60 x 160 yang menempel di dinding kamarnya. Lalu pria itu meraih tuxedo yang tergantung di coat hanger di sebelah pintu kamar. Pagi itu dia akan segera melaksanakan akad nikah dengan istri pilihannya di sebuah masjid besar di Minahasa. Terlihat semua sanak keluarga sudah berkumpul di pelataran Mesjid Agung Al-Falah Kyai Modjo, menunggu kedatangan calon pengantin wanita. Namun baru beberapa menit sebelum hari bahagia itu terlaksana mereka mendapat kabar buruk dari calon pengantin wanita. Empat jam sebelum akad nikah calon pengantin wanita diketahui meninggal dunia dengan meminum racun.
Dia ditemukan tewas di kediamannya, sementara di undangan tertera akad nikah akan diadakan sekitar pukul 09.00 dan resepsi pukul 12.00 Wita. Dari keterangan saksi, calon pengantin wanita mengakhiri hidupnya dengan meminum racun tikus. Pengantin wanita diduga memiliki motif bunuh diri karena mengalami depresi akibat sakit yang dideritanya. Sehingga nekat mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun cair. Calon pengantin perempuan meninggal dengan mengenakan pakaian pengantin pada detik itu juga.
Sang mempelai pria pun tak kuasa menahan rasa sakit. Dunia seperti gelap di mata Damar. Ia tak sadarkan diri setelah mendapatkan kabar itu, pernikahannya gagal. Damar dan beberapa keluarga kemudian menyaksikan pemakaman jenazah calon istrinya di kabupaten Bunaken.
Kembali ke Minahasa, setelah kehilangan calon istri yang sangat dicintainya Damar terlihat seperti manusia linglung. Dan di malam itu, tanpa ada keluarga yang mengetahuinya Damar pergi ke Desa suluan Minahasa. Lokasi yang dikenal sebagai tempat paling angker. Karena banyak orang bunuh diri di jurang itu. Kedatangan Damar yang tiba-tiba di lokas dan terlihat sudah gelap mata nekat mengakhiri hidupnya karena orang dicintainya telah meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi alasan baginya untuk hidup di dunia ini. Di detik ketika ia hendak melompat ke jurang, seorang wanita rambut hitam legam, bola mata berbentuk bulat, jernih, dan bulu mata yang lentik dan usianya dua puluh tiga tahun tiba-tiba menarik tangannya. Terlihat sang wanita memeluk erat tubuh kurus itu hingga berhasil menggagalkan niat Damar.
Perlahan bayangan hari itu memudar. Seperti di-fade out bila dalam adegan sebuah film.
Damar ingin menangis bila ingat lagi kejadian pahit menimpa diri dan keluarganya dua tahun lalu. Namun di sela tangisnya itu kadang ada senyuman. Perlahan tapi pasti, pahlawannya itu bisa memudarkan kenangan pahit tentang hari itu walau di hari-hari tertentu kadang kelebatan menganggu.
Deringan telepon, sontak membuat Damar sedikit tersentak mendengarnya.
"Halo. Tunggu 30 menit, saya sementara di jalan menuju ke sana," ujar Damar seraya memastikan sambungan telepon secara sepihak. Mobil itu meluncur dengan kecepatan rata-rata.
*****
Selepas Azan magrib sekitar jam tujuh malam, pulang kerja, di mana orang-orang menikmati waktu santainya. Justru sebaliknya dirasakan oleh wanita blasteran arab yang tampak terengah-engah di depan
pintu rumah minimalis berlantai dua berwarna dominan putih, ada balkon di depan dan di samping, ada kolom tenang juga kolom ikan, bahkan tanaman hidroponik yang subur dalam pipa. Tak lama berselang, wanita itu menarik napasnya yang sejak tadi terengah-engah secara perlahan-lahan.
Seminggu sebelumnya dia sudah janji akan datang ke rumah Luna. Untuk membicarakan soal performance grup bandnya di acara resepsi pernikahan sahabatnya itu.
"Sialan!" makinya dalam hati. Kerutan di dahinya menggambarkan perasaan kesal wanita itu. Jika diingat-ingat kembali. Dia betul-betul sial hari ini!! Bayangkan saja! Mulai dari terjebak macet pagi tadi, diomelin bosnya, kemudian sepatu kesayangannya hilang entah kemana.
Sekarang giliran motornya bermasalah!!
Apes-Apes!!
Lima menit berselang, gejolak kelelahannya berangsur-angsur hilang. Diketuk pintu rumah tersebut. Tak lama orang tua sahabatnya menyambut dia ramah, karena Nikita sudah dianggap anak sendiri.
"Gimana kabar ibumu. Nak?" tanya wanita paruh baya usianya kisaran 65 tahun. Tersenyum lembut sambil menepuk bahu wanita muda berparas cantik di depan matanya.
Nikita pun menjawab, "Sehat, Tante." Dia menggaruk telinganya mengurangi rasa canggung. Makhluk saja dia sudah jarang main ke rumah sahabatnya terakhir pun sewaktu SMA.
Rasa lega merayapi wajah Ibu Mila tak lain adalah Ibu Luna, mengatakan besok akan menemui ibu Nikita. Ibu Mila sedikit berceloteh, kangen shopping bersama lagi.
"Oh Iya, Tante, aku izin ketemu Luna boleh?" Nikita cengar-cengir merasa tak enak hati meninggalkan Ibu Mila sendirian.
"Oh, astaga! Kamu pengen banget ketemu Luna, tante pikir kamu datang karena kangen sama tante lho" canda Ibu Mila sambil tertawa. "Tentu boleh, Nak. Dia ada di kamarnya. Mungkin dia capek banget setelah pulang dari Malang. Dia udah nggak keluar dari kamarnya dari kemarin."
Nikita mengangguk kecil sebagai tanda pengertian dan dengan sopan pamit pergi ke kamar Luna di loteng. Ketika dia sampai di sana, dia melihat Luna sedang rebahan dengan punggungnya bertumpu di kepala tempat tidur. Wajahnya terlihat lelah.
"Kamu kenapa, Lun? Sakit?" tanya Nikita sambil masuk dan menarik kursi putar yang ada di dekatnya.
Tanpa menoleh, Luna menjawab, "Aku pengen aja lupain semuanya, Niki." Tatapan matanya kosong, seolah-olah dia sudah kehilangan harapan untuk besok.
Bersambung....