Napas Scarlett Chen tercekat, jantungnya berpacu bagai genderang perang di dalam rongga dada. Jemarinya gemetar saat membuka pesan singkat di ponselnya, sebuah alamat hotel mewah dengan instruksi singkat: "Temui aku di sini, sayang. Ada kejutan." Senyum tipis terukir di bibirnya. Pasti Daniel. Kekasihnya itu memang gemar memberi kejutan, apalagi setelah seminggu penuh tenggelam dalam pekerjaan. Daniel Lee, sang CEO tangguh yang mendominasi setiap aspek hidupnya, adalah satu-satunya alasan detak jantungnya berdebar kencang seperti ini.
Dengan langkah riang, Scarlett melangkah ke lobi hotel yang megah, aroma melati dan sandalwood menyambutnya, memanjakan indera penciumannya. Lift berdenting pelan, membawanya ke lantai yang tertera di pesan. Pintu kamar 207, begitu katanya. Scarlett merapikan gaun sutra selututnya, memejamkan mata sesaat, membayangkan pelukan hangat Daniel, bisikan mesra yang selalu berhasil meluluhkan hatinya. Sebuah ketukan pelan. Pintu terbuka.
Namun, bukan Daniel yang berdiri di ambang pintu.
Seorang pria asing, tinggi menjulang dengan seringai licik terpampang di wajahnya, menghalangi pandangan. Mata Scarlett membelalak, napasnya tertahan. "Maaf, Anda siapa?" tanyanya, suaranya tercekat.
Pria itu tidak menjawab, melainkan meraih pergelangan tangan Scarlett dengan cengkeraman kuat, menyeretnya masuk ke dalam kamar yang remang-remang. Jantung Scarlett mencelos. Ini jebakan! Ia berusaha melepaskan diri, meronta sekuat tenaga, namun tenaga pria itu terlalu besar. "Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!" teriak Scarlett, ketakutan mulai merayapi setiap sendi tubuhnya.
Pria itu mendorongnya dengan kasar ke atas ranjang king-size. Tubuh Scarlett terhempas, pegas kasur memantul, seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Ia mencoba bangkit, namun tangan kekar itu menekan bahunya, kembali menjatuhkannya. Mata pria itu berkilat nafsu, menelanjangi Scarlett dengan pandangannya yang menjijikkan.
"Kau pikir kau bisa lolos, manis?" desisnya, suaranya serak dan berat, membuat bulu kuduk Scarlett berdiri.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Scarlett. Ketakutan yang mencekik membuat paru-parunya sesak. Ia meronta, menendang, mencoba berteriak, namun suaranya hanya menjadi bisikan pilu. Dengan satu gerakan cepat, pria itu merobek gaun sutra Scarlett, kainnya bergesekan kasar, meninggalkan bekas merah di kulitnya. Kain-kain itu berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kekejaman yang akan terjadi.
"Tidak! Jangan sentuh aku!" Scarlett berteriak, suaranya serak, tenggorokannya sakit. Ia mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan, namun percuma. Pria itu menyeringai, matanya penuh hasrat gelap. Ia pun membuka pakaiannya sendiri, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan mengerikan.
Pangan Scarlett membelalak saat pria itu menaiki tubuhnya, bobotnya yang berat menindihnya, membuat napasnya sesak. Kengerian mencengkeramnya. "Tolong! Siapapun!" teriak Scarlett, berharap ada keajaiban, seseorang akan datang menyelamatkannya dari neraka ini.
Pria itu mencondongkan wajahnya, mencium bibir Scarlett dengan paksa. Bibir yang selama ini hanya disentuh oleh Daniel, kini dinodai oleh sentuhan menjijikkan ini. Scarlett memalingkan wajah, berusaha menghindar, namun cengkeraman tangan pria itu terlalu kuat. Lidahnya memaksa masuk, menjajah setiap inci rongga mulut Scarlett, membuatnya mual.
Tangan pria itu turun, meremas payudara Scarlett dengan kasar. "Mhhhh...kau sangat cantik, sayang," desahnya, suaranya seperti geraman binatang buas. "Sangat... manis..."
Scarlett menggeliat, air mata membanjiri pipinya. Ia merasa jijik, tubuhnya gemetar tak terkendali. Pria itu terus meremas, jemarinya semakin turun, menyusup ke selangkangan Scarlett, lalu memaksa masuk ke dalam vaginanya.
"Ahhh... kau begitu sempit... nikmat sekali..." desah pria itu, kepalanya mendongak, matanya terpejam dalam kenikmatan yang menjijikkan.
Scarlett menjerit, "Tidak! Jangan!" Ia menendang, menggerakkan pinggulnya, berusaha melepaskan diri dari sentuhan kotor itu. Namun, pria itu hanya tertawa, tawa yang penuh kemenangan dan kekejaman. Ia menarik tangannya keluar, lalu dengan brutal, memaksa penisnya yang tegang masuk ke dalam mulut Scarlett.
"Telan! Telan semuanya!" perintahnya, suaranya serak. Ia menekan kepala Scarlett, memaksa penisnya masuk lebih dalam. Scarlett terbatuk, tersedak, air mata dan air liur bercampur, membasahi pipinya. Rasa pahit dan jijik memenuhi mulutnya. Ia tidak bisa bernapas. Ia merasa akan mati.
"Ghhhh... ahhh... lebih dalam... telan... lagi..." desah pria itu, napasnya memburu.
Scarlett memberontak, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat. Pria itu menggerakkan pinggulnya, dan Scarlett merasakan cairan kental, menjijikkan, memenuhi mulutnya. Ia ingin memuntahkannya, namun pria itu menekan kepalanya, memaksa Scarlett untuk menelan. Scarlett terisak, merasakan cairan itu mengalir di tenggorokannya, membakar, menghancurkan segalanya.
"Bagus... kau gadis penurut..." desah pria itu, menarik penisnya keluar sebentar, lalu kembali memaksa masuk. Scarlett sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Ia hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan tubuhnya dinodai, jiwanya hancur berkeping-keping. Pria itu mengulanginya berkali-kali, desahan-desahan liarnya memenuhi ruangan, setiap desahan adalah tusukan belati bagi jiwa Scarlett.
"Ohhh... ya... ini... ini sangat... ahhh... nikmat..." desahnya, suaranya parau.
Scarlett hanya bisa terisak, air mata membanjiri bantal, menenggelamkan rasa sakitnya. Ia ingin mati saja. Ia ingin semua ini berakhir.
Daniel Lee, dengan napas memburu dan langkah lebar, melesat menuju kamar 207. Hatinya dipenuhi amarah yang membakar. Sebuah pesan anonim baru saja masuk ke ponselnya, sebuah foto yang membuat darahnya mendidih: Scarlett, kekasihnya, di kamar hotel ini, bersama pria lain. Foto itu buram, namun jelas terlihat Scarlett terbaring tak berdaya di bawah tubuh seorang pria. Kecemburuan dan kemarahan menguasai Daniel, mengikis habis setiap rasionalitas. Ia tidak percaya. Scarlett tidak mungkin mengkhianatinya. Tapi foto itu...
Ia mendobrak pintu kamar 207 tanpa peduli etika. Pemandangan di hadapannya menghantamnya seperti palu godam. Pakaian Scarlett robek berserakan di lantai. Dan di atas ranjang, pria asing itu masih menindih tubuh Scarlett, penisnya masih berada di mulut kekasihnya.
Dunia Daniel runtuh.
Amarah yang selama ini tertahan, meledak dengan dahsyat. Otaknya blank, hanya ada satu dorongan: menghancurkan pria di atas Scarlett. Dengan geraman yang lebih mirip raungan binatang buas, Daniel melompat, menarik pria itu dari atas Scarlett, lalu menghantamkan tinjunya ke wajahnya berkali-kali. Pria itu terhuyung, darah membasahi wajahnya, namun Daniel tak peduli. Ia terus memukul, melampiaskan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang ia rasakan.
"Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh kekasihku!" raung Daniel, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap.
Pria itu mencoba melawan, namun tinju Daniel terlalu kuat. Ia terkapar di lantai, tak berdaya. Daniel meludahinya, lalu beralih menatap Scarlett. Wajah Scarlett pucat pasi, air mata membanjiri pipinya, tatapannya kosong. Tubuhnya gemetar tak terkendali.
"Scarlett?" Suara Daniel bergetar, namun bukan karena simpati, melainkan karena kemarahan yang membakar. Ia melihat tubuh Scarlett yang telanjang, bekas merah di kulitnya, rambutnya acak-acakan. Pemandangan itu bagai racun yang menyebar di nadinya. "Apa-apaan ini?" desisnya, suaranya dingin, mematikan.
Scarlett mencoba meraih tangan Daniel, air matanya semakin deras. "Daniel... bukan... bukan begitu..."
Namun Daniel menepis tangannya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya. Ia merasa jijik, dikhianati. Selama ini ia percaya Scarlett sepenuhnya, mencintainya tanpa batas. Tapi apa yang ia lihat? Pemandangan menjijikkan ini menghancurkan semua kepercayaannya. "Aku tidak menyangka kau akan serendah ini, Scarlett."
Air mata Scarlett semakin deras. "Tidak, Daniel, dengarkan aku! Aku dijebak! Aku tidak tahu ini akan terjadi!"
"Jebakan?" Daniel tertawa sinis, tawa yang menusuk hati Scarlett. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku akan percaya omong kosong itu? Pakaianmu robek, kau telanjang, dan bajingan ini masih di atasmu! Apa lagi yang harus aku lihat, Scarlett?"
"Dia... dia memaksaku..."
"Cukup!" Daniel memejamkan mata, menahan rasa sakit yang menusuk. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Semuanya sudah jelas. Kita berakhir, Scarlett. Sekarang juga."
Kata-kata itu bagai bilah pedang yang mengiris jantung Scarlett. Berakhir? Tidak. Tidak mungkin. Ia mencintai Daniel lebih dari apapun. "Daniel, kumohon... beri aku kesempatan menjelaskan..."
Namun Daniel sudah berbalik, memunggunginya. "Keluar dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Suaranya dingin, menusuk hingga ke tulang.
Malam itu adalah neraka bagi Scarlett. Ia menghabiskan sisa malam dalam tangisan dan ketidakpercayaan. Bagaimana bisa Daniel begitu mudah percaya pada kebohongan itu? Bagaimana bisa ia menuduhnya berkhianat setelah semua yang mereka lalui?
Keesokan paginya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Scarlett berangkat kerja ke kantor. Ia harus berbicara dengan Daniel, harus menjelaskan semuanya. Kakinya melangkah berat menyusuri koridor, setiap langkah terasa seperti timah. Jantungnya berdebar kencang saat ia berdiri di depan pintu ruangan Daniel.
Ia mengetuk pelan, menunggu izin masuk. "Masuk," suara Daniel terdengar dingin dari dalam.
Scarlett mendorong pintu perlahan, melangkah masuk ke ruangan yang familiar, tempat ia dan Daniel berbagi tawa, impian, dan cinta. Namun kini, ruangan itu terasa asing, dingin, dan penuh aura permusuhan. Daniel duduk di balik mejanya yang besar, matanya menatap tajam ke arah Scarlett, tanpa sedikit pun kehangatan.
"Ada apa?" tanyanya, suaranya datar.
Scarlett menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Daniel... aku datang untuk menjelaskan semuanya. Kumohon, dengarkan aku."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan," jawab Daniel, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
"Ini semua salah paham. Aku dijebak, Daniel. Pesan itu... aku pikir itu darimu. Aku tidak tahu kalau ada orang lain yang menungguku di sana. Dia... dia memaksaku, Daniel. Aku bersumpah, aku tidak melakukan apapun dengannya. Saat kau datang, dia panik dan langsung kabur. Kumohon, percayalah padaku." Suara Scarlett bergetar, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Daniel mendongak, menatap Scarlett dengan tatapan mencemooh. "Kau pikir aku bodoh? Jadi, kau ingin aku percaya kalau bajingan itu melakukan semua itu padamu, lalu saat aku datang, dia kabur begitu saja? Dan kau, setelah semua itu, kau tidak berusaha menghubungi polisi? Atau setidaknya, menghubungiku?"
"Aku... aku sangat syok, Daniel. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan menjelaskan semuanya." Scarlett merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop putih. "Dan... dan ini." Ia menyerahkan amplop itu kepada Daniel. "Aku... aku hamil, Daniel. Ini anak kita."
Daniel menatap amplop itu, lalu menatap Scarlett dengan mata menyipit. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Ia meraih amplop itu, merobeknya dengan kasar tanpa membukanya, lalu melemparkannya ke tempat sampah.
"Kau pikir aku akan percaya omong kosong ini?" desis Daniel, suaranya penuh kemarahan. "Kau berani-beraninya datang kepadaku dengan kebohongan ini setelah semua yang aku lihat kemarin? Anak itu? Anak siapa? Anak dari bajingan itu? Kau pikir aku sebodoh itu, Scarlett?"
Scarlett tersentak. Hatinya hancur berkeping-keping. "Tidak! Ini anakmu, Daniel! Aku tidak pernah bersama siapapun selain dirimu! Kumohon, percayalah!"
"Cukup!" Daniel membentak, berdiri dari kursinya. Aura dominasi dan kemarahan memancar kuat darinya. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Aku sudah muak dengan semua kebohonganmu. Kau sudah berkhianat, Scarlett. Kau menodai kepercayaan dan cintaku."
"Tapi Daniel, aku dijebak! Aku tidak pernah mengkhianatimu!" Scarlett memohon, air mata mengalir deras di pipinya. "Aku tidak pernah melakukan hubungan dengan lelaki itu saat kau pergi. Setelah kau memukulnya, dia langsung pergi dari kamar hotel."
Daniel tertawa sinis. "Jebakan? Omong kosong! Kau pikir aku tidak tahu trik-trik seperti itu? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana wanita licik seperti kalian beraksi? Hidup dengan kekerasan, desing peluru, dan hitamnya dunia mafia sejak kecil telah mengajariku untuk tidak memiliki belas kasih terhadap apa yang aku anggap sebagai kebohongan dan pengkhianatan. Aku tidak akan pernah percaya padamu lagi."
Ia berjalan mendekat, menunjuk pintu dengan jari telunjuknya. "Keluar dari sini, Scarlett. Sekarang juga. Aku tidak ingin melihatmu lagi di kantorku, di hidupku. Kau dipecat. Dan jangan pernah berani-beraninya kau menghubungiku lagi."
Kata-kata itu menghantam Scarlett bagai palu godam. Dipecat? Diusir? Daniel benar-benar mengusirnya, dalam kondisi ia berbadan dua dengan anak Daniel. CEO tampan dan bengis yang sangat ditakuti musuh itu tidak percaya bahwa anak di dalam rahimnya adalah buah cinta mereka. Ia menuduh sang sekretaris telah berkhianat dan berhubungan dengan lelaki lain.
Scarlett berdiri terpaku, memandangi Daniel, kekasih yang dulu begitu mencintainya, kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan jijik. Rasa sakit itu tak tertahankan, menusuk hingga ke inti jiwanya. Ia hanya bisa menangis pasrah, memeluk dirinya sendiri, merasakan denyutan perih di perutnya. Anak ini, anak mereka, tidak diinginkan oleh ayahnya.
Dengan langkah gontai, tubuh yang terasa begitu berat, Scarlett berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan serpihan hatinya yang hancur di belakangnya. Dunia terasa gelap, hancur. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, bagaimana ia akan bertahan hidup, atau bagaimana ia akan membesarkan anak ini sendirian. Yang ia tahu hanyalah satu hal: ia tidak akan pernah melupakan hari ini, hari di mana cinta dan kepercayaannya dikhianati, hari di mana ia diusir, hancur lebur tanpa sisa.
Namun, di balik kehancuran itu, ada percikan api yang mulai menyala di dalam diri Scarlett. Api dendam. Daniel Lee telah menghancurkan hidupnya. Dan suatu hari nanti, ia akan memastikan bahwa Daniel Lee akan membayar mahal untuk semua rasa sakit yang telah ia timbulkan.
Dunia seolah runtuh di atas kepala Scarlett. Setelah diusir dari kantor Daniel, dipecat, dan dicampakkan tanpa belas kasihan, ia mendapati dirinya terdampar di tengah kota Jakarta yang kejam, tanpa arah dan tanpa harapan. Air mata sudah kering di pipinya, digantikan oleh kekosongan yang menyesakkan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi pengingat pahit akan cinta yang telah dihancurkan, dan beban baru yang harus ia pikul sendirian.
Pencarian pekerjaan menjadi neraka tersendiri. Dengan riwayat pekerjaan yang berakhir dengan "dipecat" dan perut yang semakin membesar, tak ada satu pun pintu yang terbuka baginya. Setiap wawancara berakhir dengan penolakan halus, tatapan iba, atau bahkan tatapan curiga yang seolah menuduhnya. Scarlett mencoba melamar di berbagai tempat, dari staf administrasi hingga resepsionis, namun selalu berakhir dengan kekecewaan. Setiap penolakan mengikis sedikit demi sedikit semangatnya, mengancam untuk menenggelamkannya dalam keputusasaan yang tak berujung.
Satu-satunya tempat yang mau menerimanya adalah sebuah warung makan kecil di pinggiran kota. Pekerjaannya sebagai pencuci piring, dengan upah harian yang pas-pasan, nyaris tidak cukup untuk menyambung hidup, apalagi untuk biaya persalinan yang semakin mendekat. Tangan Scarlett melepuh, punggungnya pegal, dan kakinya membengkak setiap malam. Dinginnya air sabun dan tumpukan piring kotor menjadi teman setianya, sementara pikirannya terus berkelana memikirkan masa depan bayinya.
"Hanya segini?" Scarlett bergumam pada dirinya sendiri, menatap lembaran uang lusuh di tangannya. Upah mingguannya bahkan tidak cukup untuk membeli satu set perlengkapan bayi yang paling sederhana. Panik mulai merayapi hatinya. Waktu terus berjalan, dan perutnya semakin membuncit, menjadi saksi bisu akan kehidupan baru yang sebentar lagi akan lahir, tanpa persiapan finansial sedikit pun.
Suatu malam, setelah seharian penuh berkutat dengan tumpukan piring berminyak, Scarlett kembali ke kamar kos sempitnya yang pengap. Ia berbaring di atas kasur tipis, membelai perutnya yang kini terlihat jelas di bawah daster longgar. "Bagaimana ini, Nak?" bisiknya lirih, air mata menetes membasahi bantal. "Ibu harus mencari uang..."
Ia meraih ponsel lamanya, mencari-cari pekerjaan sampingan. Iklan-iklan lowongan biasa sudah tak menarik perhatiannya lagi. Ia membutuhkan uang, cepat, dan banyak. Matanya menyusuri layar, berpindah dari satu iklan ke iklan lain, hingga akhirnya, sebuah iklan mencolok menarik perhatiannya. "Peluang Karier Eksklusif: Wanita Pendamping CEO. Gaji Fantastis. Privasi Terjamin."
Jantung Scarlett berdebar kencang. Ia tahu betul apa artinya "wanita pendamping CEO" dalam konteks seperti ini. Itu adalah nama lain untuk... wanita jalang. Rasa jijik dan mual menyeruak di tenggorokannya. Ia, Scarlett Chen, mantan sekretaris Daniel Lee, seorang wanita terhormat, kini dihadapkan pada pilihan mengerikan ini. Harga dirinya menjerit, berontak. Namun, wajah polos bayinya yang belum lahir seolah membayangi, memaksanya untuk menelan pahitnya kenyataan. Uang. Ia membutuhkan uang untuk melahirkan anaknya. Demi bayinya, ia akan melakukan apa saja.
Dengan tangan gemetar, Scarlett menghubungi nomor yang tertera di iklan. Suara seorang wanita paruh baya menjawab, ramah namun terdengar dingin. Setelah beberapa pertanyaan singkat dan detail yang membuat Scarlett merasa semakin kecil, ia diberi alamat sebuah gedung pencakar langit di pusat kota. Pertemuan dijadwalkan malam itu juga.
Malam harinya, dengan jantung berdebar tak karuan, Scarlett tiba di alamat yang diberikan. Gedung itu menjulang tinggi, penuh kemewahan yang kontras dengan keadaannya saat ini. Ia disambut oleh seorang pria bertubuh kekar dengan setelan rapi, yang langsung membawanya ke sebuah ruangan di lantai teratas. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal menunggunya.
"Nona Scarlett Chen?" tanya wanita itu, suaranya menusuk.
Scarlett mengangguk kaku.
"Baiklah, saya akan langsung pada intinya," kata wanita itu, menyerahkan selembar kontrak. "Ini adalah perjanjian kerja Anda. Anda akan melayani hasrat seksual klien kami, seorang CEO. Privasi sangat kami utamakan. Anda harus siap kapan pun klien membutuhkan. Kompensasi akan dibayarkan setiap kali Anda menyelesaikan tugas. Baca baik-baik, dan tanda tangani jika Anda setuju."
Mata Scarlett menyapu setiap baris tulisan di kontrak itu. Setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. "Melayani hasrat seksual... kapan pun klien mau..." Itu adalah perjanjian untuk menjual tubuhnya, martabatnya. Namun, nominal angka yang tertera di bagian kompensasi membuat matanya terbelalak. Cukup. Cukup untuk biaya persalinan, bahkan lebih. Air mata sudah tidak punya tempat lagi di matanya. Hanya ada rasa dingin, kebas, dan tekad yang kuat. Demi bayinya.
Dengan tangan gemetar, ia meraih pena dan menandatangani kontrak. Sebuah bagian dari dirinya mati pada saat itu.
Setelah penandatanganan kontrak, Scarlett langsung dibawa ke sebuah kamar yang gelap. Pria bertubuh kekar tadi mengantarnya, lalu mendorongnya masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi "klik" yang mematikan.
Kamar itu gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya remang-remang dari celah gorden yang tertutup rapat. Aroma maskulin yang asing menusuk hidungnya. Jantung Scarlett berdebar tak keruan, ingatan akan malam di hotel yang mengerikan itu kembali menghantamnya. Trauma. Ketakutan mencengkeramnya. Ia merasa akan muntah. Namun, ia tidak punya pilihan. Uang. Ingat uang. Demi bayimu, Scarlett.
Ia melangkah maju perlahan, matanya mencoba beradaptasi dengan kegelapan. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar terlihat samar. Di atasnya, terbaring sesosok tubuh pria.
"Kau sudah datang, Nona?" Suara berat dan serak itu memecah keheningan, membuat Scarlett tersentak. Suara yang asing, namun entah mengapa, terasa familiar, menimbulkan sedikit rasa takut yang tak bisa dijelaskan.
Scarlett tidak menjawab. Ia hanya berdiri terpaku, gemetar.
"Mendekatlah," perintah suara itu. "Dan lepaskan pakaianmu. Aku ingin kau memuaskanku."
Perintah itu bagai cambuk yang menghantam jiwanya. Scarlett memejamkan mata, menahan gelombang jijik yang menguasainya. Dengan tangan bergetar, ia mulai melepaskan satu per satu pakaiannya. Gaun sederhana, lalu pakaian dalamnya. Setiap helai kain yang terlepas, seolah mengoyak sedikit demi sedikit harga dirinya. Dinginnya udara kamar menyentuh kulitnya yang telanjang, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sekarang, naiklah ke atasku," perintah pria itu lagi, suaranya kini terdengar sedikit tidak sabar.
Scarlett melangkah mendekat, tubuhnya terasa kaku. Ia merangkak naik ke atas ranjang, merasakan kehangatan tubuh pria asing itu. Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah bayinya, mencoba mencari kekuatan dari sana. Ia naik, memposisikan dirinya di atas tubuh pria itu, merasakan kulit telanjangnya bersentuhan dengan kulit telanjang sang klien.
Pria itu mendesah pelan. "Kau... kenapa perutmu agak membuncit?" tanyanya, suaranya sedikit ragu, disentuhnya perut Scarlett yang sedikit menonjol. Sentuhan itu membuat Scarlett tersentak. Apakah klien ini menyadari? "Apakah kau sedang hamil?"
Jantung Scarlett berdegup kencang. Ia menahan napas. Jujur atau berbohong? Jika ia mengaku hamil, mungkinkah pekerjaannya dibatalkan? Ia sangat membutuhkan uang ini.
"Ti-tidak..." Scarlett berbohong, suaranya serak. "Mungkin... hanya karena banyak makan."
Pria itu tidak berkomentar lebih lanjut, hanya mendesah pelan. "Tidak apa-apa dengan bayimu jika kau sedang hamil?" tanyanya lagi, kali ini terdengar sedikit lebih serius.
Scarlett merasakan gelombang rasa bersalah. Ia harus tetap berbohong. "Tidak. Saya tidak hamil."
Pria itu menghela napas, lalu tangannya meraih pinggul Scarlett, menariknya lebih dekat. "Baiklah. Sekarang, puaskan aku, Nona."
Dengan air mata yang tak terlihat dalam kegelapan, Scarlett mulai menjalankan "tugasnya." Ia menggerakkan pinggulnya, menyesuaikan diri dengan keinginan pria itu. Ia melayani setiap sentuhan, setiap desahan, setiap perintah, seolah tubuhnya bukan miliknya sendiri. Pikiran Scarlett melayang jauh, berusaha melepaskan diri dari realitas yang mengerikan ini. Ia membiarkan pria itu memasukkan penisnya ke dalam rahimnya, menggerakkan tubuhnya mengikuti irama yang asing.
"Ahhh... ya... begitu... lebih cepat..." desah pria itu, suaranya parau. "Kau... kau lumayan... ghh..."
Scarlett menelan ludah, menahan rasa mual yang terus menyeruak. Ia menggerakkan tubuhnya lebih cepat, lebih dalam, seperti robot yang diprogram. Setiap desahan pria itu adalah siksaan baginya. Ia memejamkan mata, mencoba memblokir semua sensasi, semua rasa jijik.
Pria itu tiba-tiba menarik diri, lalu dengan cepat, memaksa penisnya masuk ke dalam mulut Scarlett. "Sekarang, hisap aku..." perintahnya, suaranya penuh nafsu.
Scarlett terkesiap. Lagi. Ingatan tentang malam di hotel itu kembali menghantuinya. Air mata menggenang di matanya, namun ia tidak bisa melawan. Ia harus melakukannya. Demi bayinya. Ia menghisap, mengulum, mengikuti setiap instruksi pria itu, membiarkan tubuhnya dinodai, dihancurkan. Rasa pahit dan amis memenuhi mulutnya. Ia ingin berteriak, ingin muntah, namun ia menahannya.
Pria itu mendesah panjang, "Ohhh... ya... itu... itu dia..."
Scarlett terus melakukannya, hingga akhirnya, pria itu mengerang panjang, dan cairan hangat memenuhi mulutnya. Ia menelan, memejamkan mata, membiarkan rasa jijik membakar tenggorokannya.
"Bagus... kau memang wanita yang tahu cara memuaskan pria..." desah pria itu, suaranya kini terdengar puas. Ia menarik diri, lalu berbaring lagi di ranjang. "Kau boleh istirahat sekarang. Besok pagi, kau akan menerima bayaranmu."
Scarlett tidak menjawab. Ia hanya berbaring di samping pria itu, terisak pelan tanpa suara dalam kegelapan. Jiwanya kosong, hampa.
Pagi harinya, cahaya mentari mulai menembus celah-celah gorden yang terbuka sedikit, menerangi kamar yang tadinya gelap gulita. Scarlett terbangun, merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Ia membuka mata perlahan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Di sampingnya, pria yang semalam melayaninya masih terbaring pulas.
Pria itu mendesah pelan, lalu membuka matanya. Ia mengerjap, mengamati sekeliling kamar, lalu tangannya meraba-raba nakas di samping ranjang, mencari saklar lampu tidur. "Ah, sudah pagi rupanya," gumamnya, suaranya terdengar lebih jelas dan... familiar.
Scarlett merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Suara itu... tidak mungkin. Ia sudah pernah mendengar suara itu ribuan kali.
Klik. Lampu tidur menyala, memancarkan cahaya kuning lembut yang menerangi seluruh ruangan.
Dan di sampingnya, di atas ranjang yang sama, telanjang, terbaring... Daniel Lee.
Dunia Scarlett terbalik. Otaknya seolah berhenti bekerja. Jantungnya mencelos, berdetak dengan irama tak beraturan. Daniel? Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin.
Daniel, yang juga baru saja terbangun sepenuhnya, menggosok matanya. Pandangannya beralih dari lampu ke sampingnya, lalu membeku saat melihat Scarlett. Mata Daniel membelalak. Wajahnya yang semula tenang, kini berubah pucat pasi, lalu memerah padam karena amarah yang tiba-tiba membuncah.
"Scarlett?" Suaranya rendah, penuh keterkejutan dan kemarahan yang membakar. "Kau?!"
Scarlett terkesiap, tubuhnya menegang. Ia ingin berteriak, ingin menjelaskan, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ini adalah mimpi buruk terburuk yang pernah ia alami.
Daniel bangkit dari ranjang, wajahnya mengeras, matanya berkilat-kilat penuh amarah dan jijik. "Jadi ini pekerjaanmu? Menjadi wanita jalang? Aku tidak percaya! Jadi benar semua tuduhanku kemarin! Kau memang wanita murahan, Scarlett! Wanita jalang yang sering gonta-ganti pasangan, melayani hasrat siapa saja demi uang!"
Setiap kata Daniel bagai pisau yang menusuk jantung Scarlett. Ia tidak bisa menahan lagi. Semua rasa sakit, keputusasaan, dan amarah yang selama ini ia pendam, meledak keluar.
"Terserah kau mau bilang apa, Daniel!" Scarlett berteriak, air mata membanjiri pipinya. "Hina aku! Caci maki aku! Aku tidak peduli! Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu betapa sulitnya aku harus bertahan hidup setelah kau mengusirku! Kau tidak tahu betapa putus asanya aku mencari uang untuk biaya persalinan anak ini!"
Scarlett menunjuk perutnya yang membuncit. "Ya, aku melakukan ini! Aku menjadi wanita jalang! Aku menjual tubuhku! Tapi itu semua karena kau! Karena kau mencampakkanku, karena kau tidak percaya padaku! Karena kau membuangku dalam keadaan hamil! Aku butuh uang, Daniel! Aku butuh uang untuk melahirkan anakmu! Anak yang tidak kau inginkan!"
Daniel terdiam, terkejut dengan luapan emosi Scarlett. Matanya menatap perut Scarlett, lalu kembali ke wajahnya, penuh keraguan. Anakku?
"Kau pikir aku senang melakukan ini?!" Scarlett melanjutkan, suaranya serak karena tangisan. "Aku jijik pada diriku sendiri! Aku membenci setiap detik yang aku lalui di sini! Tapi aku harus! Aku tidak punya pilihan lain! Demi anakku! Anak kita!"
Daniel melangkah mundur, keterkejutan dan kemarahan bercampur aduk di wajahnya. Ia melihat air mata di mata Scarlett, kesedihan yang tulus, dan perut yang memang terlihat membuncit. Apakah benar Scarlett hamil anakku? Dan semua ini... ia lakukan karena aku?
Namun, pikiran itu segera ditepis oleh kemarahan yang kembali membakar. "Bohong! Kau selalu berbohong! Kau pikir aku akan percaya lagi? Kau menjijikkan, Scarlett! Pergi dari sini! Sekarang juga!"
Napas Scarlett tercekat di tenggorokan. Kata-kata Daniel bagai cambuk panas yang menguliti harga dirinya. Rasa malu, marah, dan sakit bercampur aduk, membakar seluruh jiwanya. Ia bahkan tidak punya kekuatan untuk membalas, untuk membela diri lagi. Untuk apa? Daniel sudah memutuskan hukumannya, dan ia tidak akan pernah percaya. Tubuhnya gemetar hebat, namun ia berusaha tegar. Ia tidak akan membiarkan Daniel melihatnya hancur lebih dari ini.
Dengan tangan gemetar, Scarlett meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Setiap gerakan terasa berat, seolah beban ribuan kilogram menimpanya. Ia mengenakan kembali gaun yang tadinya koyak, menutupi tubuhnya yang telanjang, meskipun ia tahu, kehormatannya sudah terkoyak lebih parah dari kain itu. Matanya memerah, namun ia menahan air mata yang ingin tumpah. Ia tidak akan menangis di hadapan Daniel lagi. Tidak akan.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Daniel, Scarlett melangkah gontai menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terbuat dari timah. Ia tidak peduli lagi akan kemana, atau apa yang akan terjadi padanya. Yang ia tahu, ia harus keluar dari ruangan ini, dari pandangan Daniel yang memuakkan.
Saat tangannya meraih gagang pintu, sebuah suara menghentikannya.
"Mau kemana kau?" Suara Daniel dingin, penuh otoritas.
Scarlett tidak berbalik. "Bukan urusanmu," jawabnya lirih, suaranya serak.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah menodai ranjangku, setelah semua kebohonganmu itu?" Daniel berkata, suaranya tajam, menusuk. "Kau tidak bisa lepas dariku semudah itu, Scarlett."
Jantung Scarlett berdegup kencang. Ia memejamkan mata, menggertakkan gigi. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan padamu, Daniel. Kau sudah mengambil semuanya."
"Oh, ya? Kita lihat saja nanti." Daniel bangkit dari ranjang, meraih jubah mandinya dan mengenakannya dengan gerakan cepat. "Kau masih berhutang padaku, Scarlett. Hutang atas penghinaanku."
Scarlett tidak menjawab. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, tanpa menoleh ke belakang. Koridor hotel terasa panjang dan tak berujung. Setiap langkah adalah penderitaan, setiap hembusan napas adalah siksaan. Ia terus berjalan, berjalan menjauh dari Daniel, dari kehancuran yang ia tinggalkan di belakangnya.
Daniel menatap pintu yang tertutup di belakang Scarlett dengan mata menyala. Rahangnya mengeras, kemarahan masih membakar hatinya. Gadis itu... Scarlett! Berani-beraninya ia muncul lagi di hadapannya, apalagi dalam kondisi seperti ini! Daniel merasa terhina, martabatnya diinjak-injak. Ia, CEO Daniel Lee, ditipu mentah-mentah oleh wanita yang pernah dicintainya. Wanita itu bahkan berani menjual tubuhnya! Dan ia, bodohnya, semalam bahkan menikmati sentuhannya!
Geram, Daniel meraih ponselnya di nakas. Dengan jari gemetar, ia mencari kontak "Liam".
"Liam!" bentak Daniel begitu panggilan tersambung. Suaranya penuh kemarahan yang tertahan.
"Ya, Tuan Daniel?" Suara Liam terdengar tenang di seberang sana.
"Kenapa kau begitu bodoh?!" raung Daniel. "Kenapa kau tidak mengenali wanita itu?! Kenapa kau tidak memberitahuku?!"
Liam terdiam sesaat. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu maksud Anda."
"Wanita jalang yang kau kirimkan ke kamarku semalam! Wanita itu Scarlett Chen! Mantan sekretarisku! Mantan kekasihku! Apa kau pura-pura tidak tahu?!"
Terdengar helaan napas dari Liam. "Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu bahwa wanita yang melamar pekerjaan itu adalah Nona Scarlett. Nama yang tertera di aplikasi berbeda, Tuan. Saya hanya mengikuti prosedur."
Daniel mendengus kesal. "Alasan! Pokoknya, aku tidak mau dia lagi. Cari wanita lain. Sekarang juga!"
"Maaf, Tuan," kata Liam lagi, suaranya kini terdengar sedikit ragu. "Tapi... Nona Scarlett sudah menandatangani kontrak perjanjian, Tuan. Selama satu tahun."
Ucapan Liam bagai petir di siang bolong. Daniel terkesiap. Kontrak perjanjian? Selama satu tahun? Darah Daniel mendidih. Jadi, ia tidak bisa menyingkirkan Scarlett begitu saja? Wanita itu akan terus menjadi bagian dari hidupnya, bagian dari lingkaran setan ini?
Kemarahan Daniel berubah menjadi senyum sinis. Sebuah ide gila mulai terbentuk di benaknya. Ia tidak bisa menyingkirkan Scarlett? Baiklah. Jika begitu, ia akan membuat hidup Scarlett menderita. Ia akan membuat Scarlett menyesal telah menipunya, menyesal telah mengkhianatinya.
"Tuan?" suara Liam memecah lamunannya. "Apakah ada masalah, Tuan?"
"Tidak. Tidak ada masalah," jawab Daniel, suaranya kini terdengar tenang, terlalu tenang. "Biarkan saja. Aku tidak masalah jika Scarlett Chen menjadi 'wanita jalangku'."
Liam di seberang sana terdengar sedikit bingung, namun ia tidak berani bertanya lebih lanjut. "Baik, Tuan. Apakah ada perintah lain?"
"Tidak. Aku akan menghubungimu nanti." Daniel mematikan ponselnya, senyum sinis masih terpampang di wajahnya.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan ke arah jendela, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai ramai di bawah sana. Matanya berkilat penuh rencana jahat. Scarlett Chen, kau ingin bermain? Baiklah, kita akan bermain. Kau akan tahu rasa sakit yang sesungguhnya. Kau akan menyesal telah menipu Daniel Lee. Hidupmu akan menjadi neraka. Dan aku akan memastikan itu.
Rasa sakit karena dikhianati masih membekas, namun kini rasa itu bercampur dengan tekad baja untuk membalas dendam. Daniel, yang terbiasa hidup dalam dunia hitam mafia, tempat kekerasan dan pengkhianatan adalah santapan sehari-hari, tidak mengenal belas kasih. Ia akan membuat Scarlett membayar mahal.
Beberapa hari berikutnya adalah siksaan bagi Scarlett. Ia tidak bisa melarikan diri dari kontrak itu. Setiap kali ponselnya berdering, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, itu adalah panggilan untuk "bertugas". Setiap tugas adalah siksaan, setiap sentuhan adalah pisau yang mengiris jiwanya. Ia melayani para pria asing, wajah-wajah yang berbeda, namun rasa jijik yang sama selalu menghantuinya. Ia harus menelan pahitnya kenyataan, menekan semua emosinya, dan hanya fokus pada satu hal: uang. Uang untuk bayinya.
Perutnya semakin membesar, dan itu membuat pekerjaannya semakin sulit. Beberapa klien menatapnya dengan tatapan aneh, beberapa bahkan menolak untuk melanjutkan begitu mereka menyadari perutnya. Scarlett harus berbohong lagi, mengatakan bahwa ia hanya gemuk, atau bahwa ia sedang sakit. Setiap kebohongan terasa seperti ludah di wajahnya sendiri.
Namun, di antara semua klien itu, ada satu yang paling sering memanggilnya. Daniel.
Setiap kali Daniel yang memanggil, rasa takut dan jijik Scarlett berlipat ganda. Daniel selalu meminta agar lampu kamar dimatikan, seolah ia tidak ingin melihat wajah Scarlett. Namun, setiap sentuhan Daniel terasa lebih menyakitkan daripada sentuhan klien lain. Setiap desahan Daniel adalah pengingat akan pengkhianatan, akan cinta yang hancur.
Suatu malam, Scarlett dipanggil ke apartemen Daniel lagi. Ia melangkah masuk ke kamar yang gelap, bau parfum maskulin yang familiar menyambutnya. Daniel sudah berbaring di ranjang.
"Naiklah," perintah Daniel, suaranya dingin.
Scarlett menurut. Ia naik ke atas tubuh Daniel, merasakan otot-otot tegang di bawah kulitnya. Keheningan mencekam. Hanya napas mereka yang terdengar.
"Kenapa kau tidak memakai pakaian dalammu?" Daniel bertanya tiba-tiba, suaranya rendah.
Jantung Scarlett berdebar. Ia lupa. Dengan gemetar, ia mencoba untuk turun. "Maaf, Tuan. Saya lupa-"
"Jangan bergerak," potong Daniel. "Biarkan saja. Aku ingin kau merasakan setiap sentuhanku."
Scarlett memejamkan mata, menahan rasa sakit di dadanya. Daniel memang sengaja. Ia ingin menyiksanya.
Daniel memegang pinggul Scarlett, menariknya lebih dekat. "Kau ingat bagaimana dulu kita bersama, Scarlett?" bisiknya, suaranya serak. "Bagaimana kau selalu memohon padaku?"
Air mata Scarlett mulai menetes. "Jangan... jangan sebut-sebut masa lalu."
"Kenapa? Kau malu?" Daniel tertawa sinis. "Kau lupa bagaimana kau memelukku setiap malam, bagaimana kau berjanji akan selalu setia padaku?"
Setiap kata Daniel adalah tusukan. Scarlett tidak menjawab, hanya membiarkan Daniel melakukan apa yang diinginkannya. Ia mencoba mematikan perasaannya, membiarkan tubuhnya bergerak seperti boneka.
"Kau tahu, Scarlett," Daniel melanjutkan, "aku tidak pernah membayangkan kau akan jatuh serendah ini. Menjadi wanita jalang, melayani setiap pria demi uang."
Scarlett menggigit bibirnya, menahan isakan. "Aku melakukan ini demi anakku, Daniel. Anakmu."
"Anakku?" Daniel tertawa meremehkan. "Kau masih berani menyebutnya anakku setelah semua itu? Anak hasil perselingkuhanmu dengan pria lain?"
"Aku tidak pernah berselingkuh!" teriak Scarlett, tidak bisa menahan diri lagi. "Aku dijebak! Aku tidak pernah melakukan apapun dengan lelaki itu!"
"Cukup!" Daniel membentak. "Aku muak dengan kebohonganmu itu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kau bisa berbohong pada dunia, tapi tidak padaku."
Ia menggerakkan pinggulnya dengan kasar. "Nikmati ini, Scarlett. Ini adalah balasan untuk semua kebohonganmu."
Scarlett hanya bisa pasrah, membiarkan Daniel menyiksanya, baik fisik maupun mental. Setiap kali Daniel bersamanya, ia selalu mengatakan hal-hal yang menghancurkan hatinya, mengingatkan pada pengkhianatan yang tidak pernah ia lakukan. Daniel seolah ingin memastikan Scarlett menderita, ingin membalas dendam atas sakit hatinya.
Beberapa bulan berlalu, dan perut Scarlett semakin membesar. Ia semakin sulit bergerak, semakin sulit menyembunyikan kehamilannya. Ia tahu, sebentar lagi ia tidak akan bisa lagi melakukan pekerjaan ini. Rasa panik kembali menyerang. Bagaimana ia akan membayar biaya persalinan, biaya hidup setelah ini?
Suatu malam, setelah melayani Daniel, Scarlett terduduk di sudut kamar mandi, menangis pilu. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia merasa seperti mayat hidup, tanpa jiwa, tanpa harapan. Punggungnya pegal, kakinya bengkak, dan ia sering merasa mual. Ia merindukan pelukan hangat Daniel, senyumnya yang menenangkan, masa lalu mereka yang indah. Tapi semua itu kini telah menjadi abu, hancur lebur oleh api kesalahpahaman dan dendam.
Ia membelai perutnya. "Maafkan Ibu, Nak," bisiknya lirih. "Ibu tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Ibu adalah wanita kotor. Tapi Ibu janji, Ibu akan berjuang demi kamu. Ibu akan memastikan kamu lahir dengan selamat."
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Daniel tertera di layar. Scarlett ragu untuk mengangkatnya. Namun, ia tahu ia tidak punya pilihan. Kontrak itu mengikatnya.
"Halo?" suaranya serak.
"Kau masih di sini?" Daniel bertanya, suaranya dingin. "Datanglah ke kamarku sekarang. Aku ingin bicara."
Jantung Scarlett berdebar. Bicara apa? Apakah Daniel akan membatalkan kontraknya karena kehamilannya? Atau apakah ia akan menyiksanya lebih parah lagi?
Dengan langkah gontai, Scarlett kembali ke kamar Daniel. Daniel sudah duduk di sofa, memakai jubah mandi, dengan segelas minuman di tangannya. Wajahnya terlihat muram, matanya menatap kosong ke depan.
"Duduklah," perintah Daniel, tanpa menoleh.
Scarlett duduk di kursi di hadapannya, menjaga jarak. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Udara terasa tegang, penuh emosi yang tidak terucap.
"Kau tahu, Scarlett," Daniel memulai, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. "Aku tidak pernah berpikir aku akan membenci seseorang sebegitu dalamnya. Aku mencintaimu, dulu. Sangat mencintaimu."
Mata Scarlett berkaca-kaca. Hatinya perih mendengar pengakuan itu.
"Tapi kau menghancurkannya," lanjut Daniel, suaranya kini mengeras. "Kau menghancurkan kepercayaanku, menghancurkan hatiku. Aku melihatnya, Scarlett. Dengan mataku sendiri. Kau berkhianat. Dan sekarang, kau menjadi wanita jalang. Kau menjijikkan."
Air mata Scarlett tumpah. "Aku tidak mengkhianatimu, Daniel! Aku tidak pernah! Ini semua jebakan! Kenapa kau tidak mau percaya padaku?!"
Daniel mendengus. "Untuk apa aku percaya pada seorang wanita jalang yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari bayinya sendiri?"
"Ini anakmu!" teriak Scarlett, frustrasi. "Hanya anakmu! Aku bersumpah demi Tuhan!"
Daniel tertawa sinis. "Sumpah? Kau pikir aku akan percaya sumpah seorang pelacur?"
"Kau tidak punya hati, Daniel!" Scarlett berteriak, amarahnya meledak. "Kau monster! Kau egois! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau menghancurkan hidupku, menghancurkan segalanya, dan kau masih berani menuduhku!"
Daniel bangkit dari sofa, berjalan mendekat. Wajahnya mendekat ke wajah Scarlett. "Ya, aku menghancurkanmu. Dan aku akan terus melakukannya. Aku akan membuatmu menderita, Scarlett. Sampai kau memohon ampun, sampai kau menyesal telah mengkhianatiku."
Ia mencengkeram rahang Scarlett, memaksa Scarlett menatap matanya. "Kau terikat kontrak denganku selama satu tahun. Dan selama satu tahun itu, kau akan melayaniku. Kapan pun aku mau. Dan aku akan memastikan kau tidak pernah melupakan siapa yang menghancurkan hidupmu."
Cengkeraman Daniel menguat, menyebabkan Scarlett meringis. "Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Scarlett. Kau akan selalu menjadi budakku, sampai aku puas."
Scarlett memejamkan mata, air mata mengalir deras. Ia tahu, Daniel benar. Ia terperangkap dalam jaring Daniel. Ia harus melayani pria yang menghancurkannya, yang menuduhnya berkhianat, dan yang kini akan menjadi ayah dari anaknya. Hidupnya benar-benar telah menjadi neraka yang tak berujung. Dan ia tidak tahu sampai kapan ia harus bertahan dalam lingkaran setan ini.
Namun, di balik keputusasaan itu, sebuah tekad baja mulai tumbuh di hati Scarlett. Tekad untuk bertahan, demi anaknya. Tekad untuk suatu hari nanti, membalas dendam pada Daniel Lee. Jika Daniel ingin menyiksanya, ia akan menanggungnya. Tapi ia tidak akan pernah menyerah. Ia akan bertahan, dan suatu hari nanti, Daniel akan menyesali semua yang telah ia lakukan padanya.