Bab 1

"Carla, hantarkan makanan ini kepada tuan Gerald," perintah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Nita Andriani, ibunya Carla.

"Ibu tahu sendiri kan, bagaimana sikap Gerald kepadaku ketika menghantarkan sarapan ke kamarnya kemarin," sahut Carla dengan tangan yang sibuk mencuci piring.

"Memangnya Gerald bersikap seperti apa? Kok, ibu tidak ingat," ujar Nita yang kini sibuk membereskan piring ke tempatnya sambil mengingat-ingat ucapan Carla.

"Ibu ini, selalu cepat lupa," keluh Carla yang kini selesai mencuci piringnya.

"Kemarin Gerald terus mencegahku kebawah sehingga aku tidak bisa membantu ibu membersihkan rumah besar ini," keluh Carla.

"Tetapi kali ini Gerald yang memintanya, Carl,"

Nita menyodorkan nampan berisi menu sarapan Gerald kehadapan Carla yang langsung disambar oleh Carla.

Carla Azannadia, anak seorang Nita yang merupakan asisten di rumah keluarga Barrack. Ia tumbuh dan berkembang konglomerat ini bersama ibunya lantaran ayahnya meninggal dunia sejak ia masih bayi.  Beruntungnya Barrack dan istrinya dengan baik hati mengizinkan mereka tinggal bersama.

Pakaian khas asisten rumah tangga melekat ditubuh Carla yang masih berusia 20 tahun. Meski begitu, kecantikan paras serta kepintarannya tak bisa disembunyikan, wajah berbentuk oval dihiasi dengan rambut kecoklatan sepunggung, alis yang melengkung dengan sempurna, bibir ranum yang hanya dipoles sedikit lipgloss, dan pipi putih yang senantiasa memerah ketika terlalu lelah bekerja.

Carla menjadi lulusan terbaik pertama di SMA Nusa Bangsa dengan nilai ujian nasional terbesar kedua nasional. Ia teramat membanggakan sekolah. Meski begitu, ia tak berniat mencari pekerjaan lain.

Baginya, bekerja di rumah keluarga yang sudah mau menyekolahkannya sampai SMA ditambah mengizinkannya dan ibunya tinggal di rumah besar itu sudah cukup. Beruntungnya lagi, ia bisa bersahabat baik dengan Gerald, anak dari Barrack Adibaskara, pemilik perusahaan Barrack Holdings yang bergerak di bidang properti.

Carla membawa nampan berisi segelas susu, segelas air putih, dan roti panggang selai alpukat di tangannya. Ia bergegas ke kamar Gerald yang berada di lantai tiga. Carla melangkahkan kakinya menuju lift yang berada di dekat ruang makan. Namun, baru saja ia menekan tombol lift, suara bariton milik Barrack memenuhi indera pendengarannya,

"Carla, simpan saja menu makanan Gerald disini dan suruh dia turun sekarang juga," tegasnya.

Carla menundukkan kepalanya dan berjalan menuju meja makan. Ia menyimpan menu sarapan Gerald diatas meja kemudian berpamitan, "Baik, Tuan. Saya permisi dulu."

"Katakan juga padanya bahwa ada hal penting yang harus kita bicarakan," perintah Irina, ibu Gerald.

"Baik, Tuan, Nyonya. Saya permisi dulu."

Lift membawa Carla ke lantai tiga tempat Gerald berada. Penthouse mewah ini terdiri dari lima lantai dan satu ruangan bawah tanah yang menjadi tempat Gerald selaku CEO Barrack Holdings dan ayahnya membicarakan perihal bisnis dan perusahaan. Penthouse besar ini hanya ditempati oleh Barrack, Gerald, Irina dan beberapa asisten rumah tangga yang diizinkan tinggal disini.

Sementara itu adik Gerald, Jossi Barrack Liandry bersekolah di Prancis dan pulang sebulan sekali. Kakaknya, Gustaf Leonard Barrack sudah menikah dengan seorang model cantik asal Singapura, Rania Bernabeu dan menetap di sana.

Pintu lift terbuka, menampilkan ruangan yang serba berwarna abu tua. Carla melangkahkan kakinya menuju kamar Gerald yang berseberangan dengan lift. Ia memasukkan sandi kamar Gerald kemudian masuk kedalamnya. Suasana kamar yang selalu berantakan membuat Carla menggelengkan kepalanya.

"Tuan besar menyuruh anda untuk sarapan di bawah, Tuan. Ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan," ucap Carla formal kepada Gerald yang sekarang tengah memunggunginya.

Punggung yang senantiasa selalu tegap dan bahu yang lebar membuat Gerald nampak gagah dari belakang. Meskipun setiap hari Carla melihatnya, tak mengurangi rasa kagum Carla terhadap pria di hadapannya itu.

"Kau selalu saja berkata formal padaku, Carl. Aku tak suka itu," sanggah Gerald sambil berbalik menghadap Carla.

Seketika terpampang dengan nyata wajah tegas khas blasteran Indonesia-Eropa dengan iris mata hitam setajam elang, rambut yang tersisir rapi menampilkan jidatnya yang sempurna, hidung mancung, dan bibirnya, merah merekah, menampilkan senyum yang bisa membuat siapa saja terpesona.

"Maafkan saya, Tuan. Anda ditunggu oleh tuan besar dibawah."

"Carl, sekali lagi kau berkata formal, aku tidak akan turun kebawah," ancam Gerald yang kini mendekatkan dirinya ke arah Carla.

"Baiklah, Gerald. Cepatlah turun atau aku tidak akan membuatkan roti panggang rendah kalori dan alpukat kesukaanmu itu!" Ancam balik Carla.

"Roti itu dibuat oleh ibumu, Carl. Bukan olehmu."

"Kalau begitu, aku akan tetap berbicara formal kepadamu meski kita sedang berdua saja."

Kali ini Gerald luluh. Ia tak bisa berkutik lagi ketika Carla mengatakan hal tersebut, "Baiklah, Carla. Kau menang."

"Aku memang selalu menang melawanmu, Gerald."

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Carl. Tolong bantu aku, Carla."

"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Ayah menyuruhku sarapan di bawah karena ia akan memarahiku. Aku kalah tender dengan Royal Group. Tolong bantu aku kali ini, Carl. Jadilah sekretaris di perusahaan itu dan bunuhlah Andra Azbaniar."

Gerald menatap serius iris Carla yang terlihat membesar, menandakan ia tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gerald. Ia menarik nafas, "Kau memintaku untuk menjadi seorang pembunuh?"

"Tidak, Carla. Kau salah paham."

"Kau menyuruhku menjadi seorang pembunuh, Tuan Gerald Barrack Amyts," tegas Carla.

Carla meninggalkan Gerald yang masih merasa bersalah kepada sahabatnya itu.

Sesaat sebelum pintu kamar Gerald tertutup, ia sempat mengucapkan sesuatu meskipun ia tak yakin Carla mendengarnya, ucapan yang benar-benar tulus dalam hatinya meminta kesediaan Carla dalam siasat yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.

Lelaki itu menatap pintu yang kini tertutup, menyaksikan Carla yang melenggang dari hadapannya seraya berkata, "Aku mohon, Carla."

Gerald berjalan keluar dari lift dengan punggung yang sudah merosot, mata yang sibuk menatap sepatu pantofel mengkilatnya, dan langkah yang sengaja ia buat selambat mungkin untuk sampai di meja makan. Namun, jarak meja makan dengan lift hanyalah lima meter, tidak ada alasan lain baginya untuk menolak sarapan bersama orang tuanya.

Baru saja Gerald menarik kursi, Barrack sudah menginterupsinya,

"Ayah tidak mau tahu kamu harus mengalahkan Andra dari Royal Group itu, Gerald!" hardik Barrack dengan tatapan tajam yang dilayangkan kepada Gerald.

"Bukankah ayah sudah melihat bagaimana usaha Gerald untuk memenangkan tender itu?" keluh Gerald yang kini menatap ayahnya.

"Ayah yang salah disini...."

"Ayah salah karena memilih kamu sebagai CEO Barrack Holdings. Jika perusahaan ini dikelola oleh Gustaff, mungkin kita bisa memenangkan tender itu," Ketus Barrack yang berbalik menatap tajam Gerald.

"Lantas mengapa ayah memilih saya jika saya tidak kompeten di bidang ini. Sudah saya katakan sedari awal bahwa saya tidak bisa menjadi apa yang ayah inginkan!"

Emosi Gerald sudah sampai puncaknya. Ia meremas kursi yang sedari tadi dipegang hingga buku-buku jarinya memutih.

"Maafkan saya telah lancang, Tuan."

Carla berdiri di belakang Gerald yang masih emosi. Gerald seketika membalikkan badannya dan menatap Carla dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa ia menyela perbincangan penting antara dirinya dan Barrack.

"Saya bersedia untuk menjadi mata-mata di perusahaan Royal Group, Tuan," tutur Carla sambil memberanikan diri menatap mata Barrack.

"Lantas, setelah kau menjadi mata-mata, keadaan perusahaan akan membaik pikirmu?" sembur Barrack yang kini menyilangkan tangannya didepan dada.

"Saya rasa demikian, Tuan. Saya harus menjadi sekretaris pribadinya, dengan begitu saya bisa mencuri berkas-berkas penting milik Andra."

Carla mencoba untuk meyakinkan Barrack yang terlihat tengah mempertimbangkan ide menarik tersebut.

"Jika kau ku perintah untuk membunuhnya saja, apa kau siap?" desak  Gerald yang mencoba memastikan keseriusan Carla.

"Saya siap, Tuan."

"Jaminannya?"

"Nyawa saya, Tuan."

Bab 2

Gerald menarik paksa tangan Carla ketika ia mengatakan rela mengorbankan dirinya demi misi ini. Langkahnya yang lebar membuat Carla harus mengimbanginya dengan lari-lari kecil. 

Bentley Continental GT keluaran terbaru melesat di jalanan ibu kota yang lebih lenggang dari biasanya. Carla menangkap sesuatu yang berbeda dari Gerald. Gerald tak pernah semarah ini sebelumnya. Maka dari itu ia tidak banyak bicara dan ikut kemanapun Gerald pergi.

Gerald mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal, bagi pria berperawakan gagah itu, tak ada alasan ugal-ugalan di jalan meskipun amarah menguasainya. 

Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari mulut keduanya sampai Gerald menghentikan mobilnya di sebuah pantai. Ia keluar lebih dulu sambil membanting pintu mobil, membuat Carla yang masih berada didalamnya tersentak kaget.

Carla bergegas keluar meskipun sebenarnya ia ingin melarikan diri, ia menatap punggung Gerald yang nampak naik turun karena emosi yang kini menggerayanginya. Carla tak berani mendekat, ia berbicara dengan jarak yang cukup jauh,

"Ada apa ini?" tanya Carla kepada Gerald yang memunggunginya.

Gerald berbalik, "Kau masih bisa bertanya begitu setelah kau tahu apa yang membuatku kesal?! Ayolah Carla! Kau main-main dengan ucapanmu," maki Gerald tepat di depan wajah Carla.

"Aku tidak main-main, Gerald. Bukankah kau yang mendesakku?"

"Tapi aku tidak menyuruhmu mengorbankan nyawamu, Carla!"

"Anggap saja ini sebagai balas jasa, Gerald. Aku terlanjur malu pada keluargamu yang terlalu baik."

"Tapi tidak dengan mengorbankan dirimu, Carla! Ayah pasti menganggap ucapanmu serius!" Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kesal pada sikap keras kepala yang tidak kunjung menghilang dari diri Carla.

"Aku juga menganggapnya serius," ketus Carla.

"Terserah Carla aku tak peduli," dengus Gerald.

"Mengapa kau gusar begitu, Gerald? Aku pasti bisa membunuhnya. Lagi pula, itu permintaanmu kan."

"Aku tidak memintamu mengorbankan nyawamu, Carla!"

"Aku sukarela saja, Gerald."

"Astaga Carla! Kau kira nyawamu semurah itu?"

"Ini nyawaku, bukan urusanmu."

Carla duduk diatas pasir putih, ia menjadikan sandalnya sebagai alas untuk duduk. Meskipun ia harus menghadapi amarah Gerald, Carla tak mau melewatkan momen langka yang jarang ia lakukan. Bermain pasir pantai.

Gerald tak bisa lama-lama marah kepada Carla, ia langsung mengikuti cara Carla duduk. Bedanya, Gerald lebih merelakan bokongnya yang dilapisi celana bahan mahal menjadi alas duduk daripada sepatu pantofel mengkilat keluaran terbaru miliknya itu.

Mereka larut dalam pikiran masing-masing, mencoba  untuk mendinginkan suasana dengan cara diam sambil menatap hamparan air pantai yang tenang. Dihadapan keduanya, mentari mulai meninggi.

"Kau selalu keras kepala sedari kecil, Carla." Ucap Gerald sambil menerawang ke masa lalu mereka berdua.

"Aku tidak sekeras kepala itu, tuan Gerald Barrack Amyts."

"Sangkal saja terus. Kau memang begitu sedari dulu. Keras kepala, tak mau mengalah, tak mau disalahkan, itu sudah sikapmu, Carla Azannadia." Gerald melempar kerikil kecil ke arah air pantai.

"Kau lebih keras kepala dariku, Gerald. Kau merelakan dirimu dipukul oleh ayahmu demi melindungiku yang memecahkan vas bunga."

"Aku tak melindungimu. Aku hanya tak mau kau dipukul."

"Itu berarti kau melindungiku."

"Aku tak melindungimu."

"Terserah kau, tuan penyangkal!"

"Kau tidak malu bersahabat dengan seorang anak pembantu?" keluh Carla tiba-tiba sambil menatap wajah Gerald yang tertimpa mentari pagi.

Ia menatap wajah sahabat tampannya yang kini sudah dewasa, lima tahun lebih tua dari usianya. Carla menerawang ke masa lalu, ia mengingat kembali momen bahagia yang ia lalui bersama Gerald. Ketika di pasar malam, foto keluarga, bermain bersama, semua kenangan indah seketika berputar di otaknya.

"Aku lebih malu bersahabat dengan mereka yang penuh pencitraan, Carla."

"Mereka ingin berteman denganmu, Gerald. Kau harusnya welcome terhadap mereka," usul Carla kepada Gerald yang kini menatapnya.

"Aku tak pernah mendapati sahabat yang lebih baik selain darimu, Carla. Kau sahabat terbaikku!" tutur Gerald yang kini masih betah menatap mata Carla.

"Sejak kapan kau pandai menggombal, Gerald?" selidik Carla.

"Enak saja! Aku tak menggombal, ini kenyataan, Carla. Kau yang terbaik dalam circle pertemananku,"

"Akupun tak menyangka bisa bersahabat denganmu, Gerald. Rasanya mustahil asisten sepertiku menjadi sahabatmu," puji Carla secara tidak langsung pada Gerald.

"Tetapi satu hal yang pasti..., kau cantik,"

"Aku memang cantik Gerald."

"Berhenti merayuku Carla!"

"Kau? Berani-beraninya menuduh aku merayumu, padahal kau yang pertama merayuku!"

Carla memercikkan air pantai ke arah Gerald. Kemudian ia berdiri dan berlari menjauhi 

Gerald yang kini bersiap mengejarnya. Terjadi aksi kejar-kejaran antara Gerald dan Carla. 

Mereka tak menggubris orang-orang yang mulai berdatangan dan menatap mereka yang bertingkah seperti dua orang anak kecil yang bahagia dibawa ke pantai untuk pertama kalinya oleh orang tua mereka. Keduanya sibuk berkejaran, sesekali memercikkan air ke tubuh lawan.

Sampai pada akhirnya, Carla berhenti berlari karena staminanya terkuras habis. Gerald mendatangi sebuah stand yang menjajakan minuman, ia membeli dua botol air mineral dan memberikannya satu kepada Carla. Keduanya meneguk air hingga tandas.

"Kita bersahabat sudah lama ya, Gerald."

"Sejak kau lahir dan aku sekolah SD."

Umur Gerald memang lebih tua dari Carla. Ia berumur 25 tahun, berbeda lima tahun dengan Carla. Namun, sikap kekanak-kanakannya tak pernah hilang. Gerald selalu mengeluh mengapa ia dijadikan CEO di usianya yang masih muda. Padahal, orang lain di luaran sana ingin bernasib seperti Gerald.

"Ge, kamu pernah mencintai seseorang?" Tanya Carla. Membuat Gerald kembali menatap iris cokelat yang nampak bersinar terkena cahaya mentari.

"Pernah. Bahkan sampai sekarang, aku masih mencintainya." Ucap Gerald puitis.

"Kok kamu gak bilang langsung ke orangnya?"

"Aku gak mau orang itu menjauh. Lebih baik sakit karena menahan perasaan lama, daripada kesakitan karena harus mengungkapkannya kemudian ia pergi."

"Ge."

"Ya, Carl?"

"Kau mirip seperti Mario Teguh...." Carla menjeda sebentar ucapannya. Ia menangkap raut bahagia di wajah Gerald.

"Tapi versi Gilang Dirga."

Tawa Carla meledak sepenuhnya ketika Gerald mendengus kasar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun, tawa Carla membuat Gerald kembali menatap gadis berusia 20 tahun itu. Tanpa sadar, Gerald membentuk lengkungan di bibirnya, tersenyum menatap tawa Carla yang tak pernah sebahagia itu.

Setelah puas menertawakan Gerald. Carla berdiri, menepuk-nepuk pakaian pembantunya, memakai sandal jepit hitam kesayangannya, dan membenahi sebentar rambutnya yang tersibak angin. Carla akhirnya mengajak Gerald pulang ketika jam tepat menunjukkan pukul 10.00.

"Ayo pulang, Gerald. Aku harus bersiap melamar pekerjaan!"

"Memangnya semudah itu kau melamar pekerjaan? Sulit, Carla," ujar Gerald.

"Pasti akan mudah, Gerald. Apalagi dibantu dengan perusahaan raksasa seperti perusahaanmu."

"Aku rasa kita harus membatalkan rencana bodoh itu, Carla." pinta Gerald kepada Carla yang kini sudah berdiri.

"Apa yang kau katakan?" Carla mencoba memastikan.

"Kita tak perlu mengirimmu kesana untuk menjadi mata-mata, terlalu berbahaya."

"Keputusanku sudah bulat Gerald. Aku akan membantumu agar kau tidak menjadi bulan-bulanan ayahmu lagi."

Bab 3

Carla melangkah menjauhi Gerald. Ia sudah malas berdebat dengan Gerald yang plin-plan. Padahal, ide ini adalah miliknya. Tapi sekarang, ketika Carla sudah siap, Gerald malah mencoba untuk menghentikan rencana yang belum dimulai ini.

"Tapi aku mencemaskanmu, Carla!"

"Berhenti bercanda dan kita pulang sekarang, tuan Gerald."

Gerald akhirnya mengalah. Ia menaiki mobilnya, disusul oleh Carla yang kini duduk di samping Gerald. Tak ada percakapan apapun, selain emosi yang kembali menguasai keduanya.

Gerald dan Carla memasuki rumah mewah keluarga Barrack. Keduanya langsung disambut oleh Barrack yang sedang membaca korannya.

"Gerald! Kau punya meeting penting tapi malah keluyuran tidak jelas!" semprot Barrack ketika Gerald dan Carla baru saja menginjakkan kaki di undakan pertama beranda rumah.

Bukannya menjawab, Gerald malah balik berbicara, "Yah, Gerald sudah memutuskan. Carla tidak akan terlibat dalam persaingan bisnis kita."

Carla dan Barrack yang mendengarnya seketika terkejut. Sementara itu, Nita yang sedang menyapu halaman menarik napas lega karena anaknya tidak terlibat dalam siasat licik yang disusun oleh keluarga Barrack.

"Berani-beraninya kau mengubah rencanamu sendiri Gerald! Kau harus teguh pendirian sebagai seorang CEO! Sebagai penerus keluarga BARRACK!" raung Barrack. Kali ini ia benar-benar murka. Hampir saja ia melayangkan tangannya jika Carla tidak menahan tangan majikannya itu.

"Tuan, saya sudah membicarakan semuanya dengan Tuan Muda. Saya sudah bersedia menjalankan tugas ini meskipun ia mengubah rencananya."

"Jalankan saja. Sekarang saya dengar Royal Group membuka perekrutan karyawan secara besar-besaran. Kau bisa langsung mengirim CV-mu ke sana. Tak usah hiraukan dia, dia memang tak kompeten di bidangnya," ketus Barrack sambil pergi meninggalkan keduanya.

Gerald mendesah pasrah, ia salah langkah. Melibatkan sahabatnya dalam persaingan bisnis bukanlah jalan keluarnya. Apalagi jika misi ini tidak berhasil, nyawa Carla dalam bahaya. Carla melangkahkan kakinya menuju dapur, ia mengambil segelas air kemudian memberikannya kepada Gerald yang saat ini duduk termenung di sofa.

"Saya permisi, Tuan."

Carla menghampiri ibunya yang masih berada di halaman. Ibunya merespon Carla dengan kemarahan karena ia mengambil keputusan tanpa persetujuannya.

"Kau menggali kuburanmu sendiri, Nak."

"Bu, Carla malu. Keluarga ini terlalu baik kepada kita, maka dari itu Carla harus berkorban untuk keluarga ini juga."

"Ibu hanya tidak ingin anak satu-satunya yang ibu miliki dalam bahaya. Kau memang sudah besar, Nak. Tapi dimata ibu, kau selalu menjadi bayi mungil yang membutuhkan dekapan seorang ibu." Nita berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak sanggup membayangkan jika Carla dalam bahaya.

"Aku membutuhkan doamu, Bu. Tolong doakan kebaikanku saja." Carla memeluk ibunya.

"Semoga apa yang kau pilih, itulah jalan terbaiknya." Nita tersenyum, meskipun sebenarnya hatinya menangis.

"Carla siap-siap dulu, Bu. Sekarang Carla harus pergi ke perusahaan itu. Doakan Carla agar diterima di sana."

"Ibu selalu mendoakanmu, Nak."

Carla bergegas mandi. Menyetrika baju yang ia miliki dan mengeringkan rambutnya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin. Carla tampak lebih cantik dari biasanya. Dalaman putih yang dipadukan dengan blazer krem, rok span selutut, rambut sepunggung yang terurai, serta sedikit polesan make up di wajahnya yang lebih sering terlihat polos.

Ditambah menggunakan wedges dengan hak setinggi 5 cm, membuat Carla terlihat anggun. Walaupun pada awalnya ia kesulitan berjalan karena sehari-hari hanya mengenakan sandal jepit.

Carla diantar oleh Gerald menggunakan Toyota Camry. Dulu ia membeli mobil ini dari gaji yang didapatkannya ketika menjadi seorang manajer. Didalam mobil, Gerald masih mendesak Carla untuk membatalkan misi ini. Namun Carla adalah Carla, ketika diminta melakukan sesuatu ia akan langsung menurutinya, tak peduli orang yang menyuruhnya itu membatalkannya atau tidak.

"Carl, kau yakin?" Ucap Gerald dengan nada khawatirnya.

"Kau yang menyuruhku, Gerald. Maka aku akan melakukannya untukmu. Jangan khawatirkan aku, aku bisa menjaga diriku sendiri." Carla meyakinkan Gerald dengan senyuman di akhir kalimatnya.

Gerald membatin, 'Berhenti tersenyum padaku, Carl. Aku tak ingin rasaku ini terbongkar.'

Gerald menepikan mobilnya di depan sebuah restoran. Ia sengaja menemukannya di sana agar tidak mengundang kecurigaan. Carla turun dari mobil setelah sebelumnya berpamitan pada Gerald,

"Doakan. Semoga saja ia mau menerimaku menjadi sekretaris pribadinya."

Carla melangkahkan kakinya dengan anggun, membelah trotoar jalan yang nampak ramai dari biasanya. Mungkin karena perekrutan yang dilakukan Royal Group, antusias para pencari kerja melonjak tajam meskipun hari sudah siang.

Sesampainya ia di depan gedung perusahaan Royal Group. Carla menatap penuh takjub gedung pencakar langit yang tak terlihat ujungnya. Jika diibaratkan, Carla layaknya orang kampung yang pertama kali ke kota. Ia berjalan memasuki lobi utama dengan tatapan yang terus mengedar ke segala penjuru ruangan, mengagumi kemegahan gedung pencakar langit yang satu ini.

Setibanya di dalam, Carla mengambil nomor antrian dan duduk di ruang tunggu. Beruntungnya ia karena tak perlu menunggu lama. Carla melangkahkan kakinya ke arah meja resepsionis.

"Permisi, Mbak. Wawancara calon sekretaris dimana ya, Mbak?" tanya Carla tanpa mengurangi rasa sopan yang ditunjukkan olehnya.

"Ikuti karyawan kami ya, Kak." ujar resepsionis itu menunjuk seorang perempuan yang berada tepat di samping Carla.

Carla dan perempuan itu pun berjalan menuju lift. Tak ada percakapan yang berarti diantara keduanya. Hingga lift menunjukkan angka 32, yang artinya mereka sudah sampai di lantai 32 tempat CEO berada.

Carla langsung mengenali lima orang perempuan yang tengah menunggu di luar ruangan. Mereka pastilah pelamar calon sekretaris pribadi CEO perusahaan ini.

"Silahkan tunggu disini, Kak. Wawancara dilakukan secara tertutup dan hanya satu orang saja yang memasuki ruangan." Jelas perempuan yang diketahui bernama Ratih itu.

"Terima kasih penjelasannya, Kak." Carla mengangguk takzim kepada Ratih.

Satu persatu calon sekretaris itu memasuki ruang wawancara. Namun, mereka keluar dengan wajah masam dan penampilan yang berantakan. Entah apa yang terjadi di dalam, tetapi dari raut wajah mereka tergambar kekesalan serta ketidakpuasan.

Ada yang membenahi rambutnya yang berantakan sambil menggerutu, ada yang mengancingkan pakaiannya yang sebelumnya terbuka, ada pula yang sibuk membenarkan roknya. Carla yang melihat kejadian itu keheranan sekaligus penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam?

Suara panggilan dari dalam ruangan membuyarkan lamunan Carla. Kini, giliran Carla yang memasuki ruang wawancara. Ia gugup. Baru kali ini ia melamar pekerjaan formal, di perusahaan ternama pula. Langkahnya ia buat anggun, dengan senyum canggung yang nampak dari ekspresinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED