Bab 1

"Bu, Alhamdulillah ini ada beras bisa untuk tambah-tambah kebutuhan ibu," ucapku seraya meletakkan dua kilo beras diatas meja dekat kompor. Di dalam plastik itu juga ada gula satu kilo dan teh satu kotak.

Ibu membuka bungkusan plastik itu, seketika mukanya berubah masam, "kalau gak niat ngasih, lebih baik gak usah ngasih sekalian Tur, ini mah cuma cukup untuk makan sehari!" cela ibu seraya meletakan dengan kasar gula kedalam plastik.

"Mbok ya dicontoh Adikmu Guruh, dia kalau ngasih ibu itu minimal satu karung, bukan yang lima kilo tapi yang dua puluh kilo. Belum lagi gula, teh, kopi, perlengkapan mandi juga gak ketinggalan. Udah gitu ninggalin uang lagi. Lah kamu? Jangankan uang, beras aja cuma dua kilo kamu kasih ke ibu, kok kayak ngasih makan ayam aja," sungut ibu.

Aku hanya diam, ada rasa nyeri dalam dadaku, memang nasibku tidak seberuntung Guruh, selepas lulus kuliah dia langsung diterima bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang tinggi, sedangkan aku? Aku hanya lulusan SMA yang tak mempunyai pekerjaan tetap.

Dahlia--istriku hanya menatap sendu, tangannya masih sibuk dengan seabrek cucian piring. Dia adalah wanita paling sabar yang pernah aku temui. Dia selalu ringan tangan jika berada di rumah ibu, mencuci baju, cuci piring, bersih-bersih rumah dan banyak lagi. Ibu tidak akan tinggal diam jika melihat Dahlia duduk didepan televisi.

Berbeda dengan Fika--istri Guruh, wanita itu sama sekali tak pernah menyentuh pekerjaan apapun di rumah ibu. Sesekali jika aku lagi tidak mengerjakan apa-apa, akulah yang membantu Dahlia.

Kami memang tidak tinggal serumah dengan ibu, jarak rumah kami dengan rumah ibu sekitar satu jam perjalanan. Aku jarang berkunjung kerumah ibu, disamping aku tak mau melihat istriku dijadikan pembatu gratisan, sikap ibu yang membedakan dengan dua saudaraku yang lainnya yang membuatku enggan berkunjung.

Kalau tidak Dahlia yang merengek untuk jenguk ibu, mungkin setahun sekali aku berkunjung kesana.

"Istrimu juga itu disuruh kerja, biar gak enak-enakan dirumah, bantu-bantu suami kerja kan gak salah, orang Fika yang suaminya kerja bergaji besar saja masih sibuk kerja, gak nodong gaji suami melulu." sambung ibu tak kalah pedas.

"Dahlia juga kerja bu, tapi memang rezeki kami sudah ditakar sama Allh hanya segini," jawabku membela Dahlia.

Dahlia hanya diam sambil terus fokus dengan pekerjaannya. Sesekali wanita yang telah delapan tahun menemaniku menyeka sudut netranya.

Tak kutanggapi lagi ocehan ibu yang akan memanjang bagai kereta api jika aku terus menanggapinya.

"Setelah cuci piring kita langsung pulang," bisikku di telinga Dahlia.

"Iya mas," jawabnya singkat.

"Biar mas cari Rhido dulu di lapangan." Kuusap kepala wanitku itu untuk sekedar memberinya penguatan.

Semenjak kepergian bapak, ibu menjadi tanggung jawab kami--anak-anaknya, selain menerima uang pensiun bapak, kami selalu membawakan keperluan ibu, bukan kami, tetapi saudaraku lebih tepatnya, karena aku hanya membawa sekedarnya saja, itu menurut ibu, tetapi untuk kami jelas itu sudah cukup untuk disantap tiga atau empat hari. Saudaraku ada dua, Guruh--adik bungsuku dan mbak Tika--kakak tertua.

Bapak meninggal empat tahun yang lalu karena serangan jantung. Dulu ibu tidak sekasar sekarang, karena selalu diingatkan bapak ketika sudah membandingkan kami bertiga.

Mbak Tika mempunyai suami yang bekerja di perkebunan milik pemerintah, sementara mbak Tika sendiri membuka toko sembako dirumah.

Aku? Tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku, aku bersyukur bisa bekerja di pabrik roti milik Pak Haji Mansur. Aku bekerja dari jam delapan pagi hingga jam empat sore. Sementara Dahlia menjadi guru honor di SD tempat kami tinggal.

Di lapangan, Rhido tengah asyik bermain layang-layang, peluhnya membajiri wajahnya yang putih, kulit putih yang mewarisi ibunya, sedangkan mata elangnya mewarisi aku, bapaknya.

"Do, udah main layang-layangnya. Kita mau pulang!" seruku pada Rhido.

"Nanggung Pak, masih jam segini," teriaknya

"Ibumu nanti sore mau pengajian," sambungku.

Dengan kesal anak itu menggulung senar layang-layangnya yang masih terbang tinggj. Ridho sebenarnya betah tinggal disini, dulu dia sebagai cucu kesayangan ibu, ketika masih balita, namun seiring berjalannya waktu, ibu lebih menyayangi Sindi--anaknya Guruh. Sementara anak mbak Tika sudah sekolah SMA.

Walaupun kasih sayang ibu terhadap Rhido tak seperti dulu, tetapi anak yang mempunyai tinggi hampir setinggi ibunya itu tetap betah berlama-lama di rumah mbahnya.

Rhido termasuk anak yang tidak pernah memikirkan perkataan orang sampai ke hati. Jika mbahnya mulai ngomel, maka dia akan main sampai sore.

Kadang aku yang tidak tega melihat Ridho yang dibedakan dengan cucu ibu yang lain. Waktu itu, ibu pulang dari pasar, kebetulan ada aku, Ridho dan Sindi dirumah ibu, tapi dengan teganya ibu hanya membelikan jajanan untuk Sindi. Sedangkan Ridho sama sekali tidak dibelikan.

"Ridho kan sudah besar, gak perlulah oleh-oleh kalau mbah dari pasar kan?" ucap ibu ketika memberikan jajanan pada Sindi, padalah tangannya sudah menengadah minta bagiannya.

Dengan berat hati, dia tarik kembali tangannya yang sudah terlanjur terulur, dan dia hanya menelan ludah melihat Sindi dengan lahapnya memakan jajanan tersebut.

"Mas Ridho mau?" tanya Sindi dengan mulut penuh makanan. Ridho hanya mengangguk.

"Ini untuk mas Ridho." Sindi mencuil makananya dan memberikan pada Ridho. Kemudian dengan sekali hap, makanan itu sudah habis di dalam mulut Ridho.

Hatiku teriris melihat pemandangan itu, air mataku seperti hendak runtuh, namun kutahan dengan sekuat tenaga.

"Mas, pulang yuk, udah mau hujan." Akhirnya kuajak pulang anak lelakiku itu. Terkadang aku memamgginya dengan sebutan 'mas', karena dia anak pertama dan berharap bisa memberikan adik untuk Ridho.

Ridho menurut, dia naik keboncengan motor bututku.

"Insyaallah kalau Bapak gajian, Bapak belikan ya." Hiburku. Karena uangku memang tingal sepuluh ribu lagi didompet.

Tin ... Tin ... Suara sapaan dari mas Rahmat membuyarkan lamunanku.

"Tur, dari mana?" tanya mas Rahmat. Mas Rahmat adalah tetangga tidak jauh dari rumah ibu. Dia masih ada hubungan keluarga dari pihak bapak, tapi tidak terlalu dekat.

"Ini jemput Rhido, mas," jawabku, kemudian menghentikan laju motorku didekat motor mas Rahmat.

"Minggu depan anakku yang ketiga mau aqiqah, datang ya, ajak istrimu juga, kalau bisa sehari sebelum hari H, tadi aku kerumah ibumu, tapi kamu gak ada, Dahlia juga gak ada, gak apa-apa ya, aku ngomong disini." sambung mas Rahmat.

"Alah santai aja lho mas, gak apa-apa. Insyaallah kami datang."

Setelah ngobrol sebentar, aku pamit pulang. Sesampainya dirumah ibu, Dahlia sudah bersiap dengan tasnya yang sudah terlihat usang, semenjak menikah denganku, dia belum pernah membeli tas untuk pergi-pergi. Bukan tidak ingin membelikan, tetapi uang yang kami dapat dari bekerja hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan.

"Sudah siap dek?" tanyaku pada Dahlia yang duduk di teras.

"Sudah mas."

"Aku pamit ibu dulu ya." Dahlia menggangguk.

Aku kebelakang untuk mencari keberadaan ibu. Wanita yang sudah menginjak usaia 60 tahun itu tengah memanggil ayamnya.

"Ker ... Ker ... Ker."

"Bu Guntur pa ...." Kata-kataku terhenti ketika melihat ibu sedang memberi makan ayam dengan beras yang kubawa tadi.

****

Bab 2

Perih rasa hatiku bagai tersayat sembiluh. Beras dua kilo jika untukku dan keluarga bisa dimasak untuk makan dua hari, terkadang lebih. Tapi dengan mata kepalaku sendiri beras yang mungkin sangat berharga itu harus kandas dilahap ayam.

Gajiku bekerja di pabrik roti sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah dan di bayarkan setiap satu minggu sekali, jadi aku menerima gaji sebesar 300 ribu per minggu, semua sudah ada post-nya masing-masing, 125 ribu aku sisihkan untuk bayar angsuran. Selebihnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti membeli beras, bayar listrik, air uang saku Ridho dan jika bersisa akan ditabung Dahlia untuk biaya tak terduga, tapi lebih sering kurang daripada lebih.

Aku mempunyai angsuran di bank milik pemerintah, yang aku gunakan untuk biaya wisuda Guruh waktu itu.

"Coba kamu ajukan pinjaman di bank, Tur. Ibu sudah gak ada uang untuk biaya wisuda Guruh."

"Pakai jaminan apa bu? Sertipikat rumah ini kan sudah digadaikan." jawabku waktu itu.

"Kan bisa pakai sertipikat rumahmu," ujar ibu sedikit memaksa.

"Tapi rumah itu milik Dahlia bu, Guntur gak ada hak atas rumah itu, karena rumah itu yang belikan bapaknya Dahlia," kilahku. Aku tidak enak jik harus menggadaikan sertipikat rumah yang kami tinggali, sudah bersyukur orang tua Dahlia memberi rumah untuk kami berteduh

"Kan cuma pinjam Tur, gak dijual! Apa susahnya?" Suara ibu mulai meninggi.

"Maaf Bu, bukannya masih ada uang asuransi bapak? Kan itu bisa digunakan untuk biaya wisuda Guruh, kalau pinjam bank, nanti siapa yang kaan bayar bu? Gaji Guntur kan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja." Aku masih berusaha menolak agar ibu tidak memaksa mengajukan pinjaman.

"Gak usah kamu ungkit-ungkit yang bukan urusan ku Tur, uang asuransi bapakmu itu sepenuhnya untuk ibu, bukan untuk bayar kuliah, yg jdi tanggung jawab adikmu kan kamu, setelah bapakmu meninggal!"

"Mas ... Mas ..." Tepukan Dahlia dibahuku menyadarkanku dari lamunan.

"Iya dek, ada apa?" Aku terperanjat.

"Mas itu gang kerumah kita kelewatan lho, rumah kita kan harusnya belok kanan," ujar Dahlia, seketika aku pijak tuas rem untuk menghentikan laju kuda besiku yang sudah sepuluh tahun menemaniku dan Dahlia.

"Astaghfirullah," ucapku beristighfar.

"Kamu melamun Mas?" tanya Dahlia menelisik.

"Gak kok dek, tadi merhatikan mobil didepan kita jadi gak fokus," kilahku.

"Sama pak, Dodo juga lagi lihatin mobil yg didepan, bagus ya pak?"

"Iy Do, bagus," hatiku lega karena Ridho.

"Kapan ya pak kita bisa beli mobil?" sambung Ridho.

"Doain aja rezeki kita lancar ya," hiburku, aku tidak tahu kapan bisa membeli mobil, jangankan mobil, motor saja sudah dikatakan butut, namun belum mampu menggantinya dengan yang baru.

Motor ini aku beli second dengan cara menyicil, sejak aku dan Dahlia masih pacaran dulu. Sampai sekarang masih kami pakai, beruntung motor ini tidak banyak rewel, mesinnya juga masih bgaus, tetapi modelnya sudah ketinggalan jaman.

Segera kubelokan motorku kearah kanan dimana tempat kami tinggal. Rumah yang dibelikan bapak mertua terletak dipinggiran kota.

Sesampainya dirumah, Ridho langsung berlari kesamping rumah, entah yang anak itu lakukan.

"Kamu ngapain Do?" tanya istriku.

"Mau pipis bu, gak tahan."

"Owalah," suhutku sambil terkekeh. Dibelakang rumah ki memanga ada tempat untuk mencuci baju yang tidak menyatu dengan rumah.

Dahlia mengeluarkan kunci rumah, kemudian memasukan anak kunci pada gembok yang terpasang dipintu.

"Mas, Mas tadi melamun apa?" tanya Dahlia.

"Gak melamun dek," jawabku bohong.

"Ibu ya mas?" tebaknya, wanita yang telah membersamaiku selama delapan tahun selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan.

"Gak kok dek," kilahku. "Oh iya tadi mas Rahmat ngundang untuk acara aqiqah minggu depan."

"Aqiqah-nya Ceril ya Mas?" tanya Dahli. Sambil mengeluarkan pucuk ubi yang dia petik dari belakang rumah ibu. katanya daripada gak ada yang metik. Padahal memang kami kekurangan bahan masakan. Dibelakang rumah juga aku dan Dahlia banyak menanam sayuran untuk penopang jika kebutuhan makan kehabisan uang.

"Iya, anaknya yang bontot."

"Kebetulan gajiku minggu depan cair mas, jadi bisa bawain ibu sekarung beras, pasti ibu sangat senang."

"Gaji kamu, kamu simpan aja dek, nanti mas biar minta lemburan sama haji Mansur, biar bisa belikan ibu sekarung beras."

Mata Dahlia berkaca-kaca, aku tahu, pasti dia tidak akan terima suaminya direndahkan seperti itu oleh ibunya sendiri, maka dari itu dia berusaha memberikan yang berbaik untukku dan ibu.

Walaupun perlakuan ibu terhadap Dahlia kadang semena-mena, tak serta merta wanita berusia 32 tahun itu membenci ibu, bahkan dirinyalah yang selalu membujukku untuk memaklumi sifat ibu. Katanga orang yang sudah tua itu terkadang sifatnya seperti anak kecil lagi.

---

Sudah tiga hari ini aku minta jatah lembur ke haji Mansur. Satu hari lembur dibayar 20 ribu, kalau satu minggu full lembur, aku bisa mendapatkan 140 ribu. Dengan uang itu aku bisa membawakan ibu beras 10 kilo saat acara aqiqah ditempat mas Rahmat.

Terkadang begitu harus aku paksakan membawa sesuatu ketika mampir ke rumah ibu, kalau tidak, sepanjang hari ibu akan menyindirku dan Dahlia.

Sabtu malam aku pulang dengan perasaan senang, walaupun hanya bisa membawa pulang uang kembur 100 ribu, karena jatah lembur kali ini hanya 5 hari.

Segera aku mampir di toko grosiran di depan gang masuk rumahku. Sengaja aku beli di toko grosiran agar bisa mendapatkan harga miring, walaupun hanya selisih dua ribu dari swalayan, lumayan bisa untuk membelikan Ridho jajan sisanya.

Sekarung beras berisi 10 kg sudah berada diatas motorku, sisa 5 ribu aku belikan ciki untuk Ridho dan 1 bungkus roti sisir kesukaan Dahlia.

"Assalamualaikum," ucapku ketika sudah sampai didepan pintu.

"Wa'alaikumsalam." jawab suara laki-laki kecil dari balik pintu.

"Ye ... Jajan," teriak Ridho melihat tanganku menenteng jajanan.

"Ibu mana?" tanyaku.

"Ada didalam pak." Ridho langsung duduk didepan TV sambil menyemil jajanan yang kuberi.

Di dapur, Dahlia tengah memasukan gula, kopi, mie bihun dan minyak untuk dibawa ke rumah mas Rahmat. Begitulah di desa tempat tinggal ibu, jika ada yang punya hajat, yang bantu masak atau rewang biasanya membawa sembako seikhlasnya.

"Eh mas, aku gak denger mas masuk," Dahlia sedikit terperanjat, kemudian meraih tanganku untuk dia cium.

"Alhamdulillah, mas udah beli beras untuk ibu, semoga ibu mau nerima ya dek," ucapku. Seraya menurunkan satu karung beras didekat Dahlia duduk.

Paginya kami sudah siap diatas motor, Ridho duduk ditengah, biasanya dia duduk didepan, karena didepan penuh dengan belanjaan, jadi dengan terpaksa dia duduk ditengah. Motor bututku melaju dengan pelan, karena beban diatasnya cukup berat.

Dirumah ibu ternyata sudah ada mbak Tika dan mas Rendi, sementara mobil Guruh belum kelihatan, mungkin dia masih dijalan.

"Bawa apa Tur?" Todong ibu saat aku baru saja turun dari motor.

Dengan senyum terkembang aku menurunkan sekarung beras dari atas motor, "ini bu, Guntur bawakan ibu sekarung beras," jawabku sumringah.

Ibu hanya melirik kearah benda yang kubawa, "tarok situ aja!" Ibu menunjuk sudut teras rumahnya. "Tika sudah bawakan ibu 20 kilo beras premium, makan beras merk itu bisa sakit gigi," ucapnya sambil berlalu masuk kedalam rumah.

Rasa sesak didada kembali menghimpit. Kuletakkan sekarung beras itu sesuai perintah ibu, kemudian aku melongok kedalam rumah untuk melihat mbak Tika, namun diruang tamu sungguh pemandangan yang membuat semakin sakit.

Disana ada dua karung beras premium dengan harga dua kali dari yang kubeli, disebalahnya berjejer makanan ringan, perlengkapan mandi, sembako dan masih banyak belanjaan lainnya yang tak mampu kubeli.

"Dek, langsung ke rumah mas Rahmat aja."

****

Bab 3

Kulangkahkan kaki menuju motor kembali, Dahlia sudah hendak masuk kedalam rumah ibu, namun urung dia lakukan. Beruntung Dahlia yang tadi sempat berbincang dengan mbak Yuli, tidak mendengar ucapan ibu.

"Gak ketemu ibu dulu sama mbak Tika?"

"Mbak Tika mungkin sudah di rumah mas Rahmat." Aku memundurkan motor hingga ke tepi jalan, sementara Dahlia mengekor dibelakangku.

"Itu berasnya kenapa diletak diteras mas? Nanti dimakan ayam?"

"Ruang tamu ibu penuh Dek, jadi mas tarok disitu dulu," bohongku.

Aku tuntun motor menuju rumah mas Rahmat yang hanya berjarak 500 meter dari rumah ibu. Dahlia berjalan disamping kananku dengan menjinjing tas yang sudah mulai usang.

Rumah mas Rahmat sudah dipenuhi orang. Dahlia menurunkan bawaan dan langsung berbaur dengan ibu-ibu yang tengah memasak.

"Eh Lia, sini masuk." Terdengar suara mbak Atin--istri mas Rahmat mempersilahkan Dahlia masuk, sementara aku berbaur dengan bapak-bapak yang sedang memasang tarup. Setelahnya aku tak mendengar lagi celoteh ibu-ibu didapur.

Acara aqiqah rencananya akan dilangsungkan ba'da Isya. Sore menjelang Magrib tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, aku dan bapak-bapak langsung meneduhkan kursi yang terkena iar hujan. Halaman menjadi becek karena air juga ikut masuk hingga bawah tarup.

Mas Joko berinisiatif membuat siring dadakan agar air tak menggenang. Akupun turun tangan ikut membantu. Nasib baik, hujan turun tidak lama. Setelah air surut, kami menyusun kembali kursi-kursi yang akan digunakan caara nanti malam.

Aku ke dapur untuk mencari keberadaan Ridho, tetapi tak kunjung kutemukan. Kulihat Dahlia sedang menggoreng kerupuk.

"Dek, lihat Ridho gak?" tanyaku pada Dahlia, wanita itu menoleh. Matanya sedikit sembab, mungkin karena asap tungku yg digunakannya untuk menggoreng kerupuk.

Disini memang sudah biasa menggunakan tungku kayu jika ada acara, agar menghemat gas. Disamping itu, keberadaan kayu bakar juga masih banyak, tinggal mencari di kebun.

"Tadi pamit mau mandi di rumah Farid mas," jawab Dahlia, tangganya masih sibuk membolak-balikan kerupuk agar tidak gosong. Sesekali dia berdiri dan membalik mie bihun yang sedang dia masak dikuali besar disampingnya.

"Oh, ya udah biaralah dia main disana, kamu kok sendirian goreng kerupuknya? Yang lainnya pada kemana?" Setelah kuperhatikan Dahlia hanya sendiri bekerja didapur, mengerjakan banyak masakan sendiri.

"Pada pulang mas, mau pada mandi dulu katanya."

"Kok gak gantian pulangnya?"

"Gak apa-apa mas, mungkin sebentar lagi mereka pada datang." ujarnya.

"Mas kedepan lagi ya, mau angkut minuman gelas."

"Iya mas." Dahlia menjawab tanpa menoleh. Tangannya masih dengan aktivitasnya tadi. Sesekali Dahlia menyeka keringat yang membajiri wajahnya.

Sebelum aku sambung pekerjaanku, aku pergi kerumah Farid untuk melihat keberadaan Ridho sekalian memantau apakah Ridho sudah mandi atau belum.

Jalanan becek membuatku harus hati-hati dalam melangkah, terkadang aliran tanah yang menjadi genangan memiliki tekstur lembut diatas keras dibawah, jadi jika terpijak bisa membuat kaki tergelincir.

Dirumah Farid, ternyata Ridho sudah mandi, dan sekarang sedang makan nasi berkat dari mas Rahmat.

"Eh mas Guntur," sapa mbak Misna--ibunya Farid.

"Iya Mbak, mau cari Ridho, udah mandi belum ya dia."

"Oh, sudah mas, tadi gantian sama Farid, biarin aja dia disini mas, mau nginap sini katanya."

"Duh nanti malah ngerepotin Mbak," ujarku, merasa tak enak.

"Gak kok Mas," jawab mbak Misna.

Karena Rhido kekeh mau nginap di rumah Farid, akhirnya aku kembali kerumah mas Rahmat untuk melanjutkan persiapan aqiqah.

Setelah selesai persiapan, aku numpang mandi dibelakang, ternyata aku lihat Dahlia masih kerja sendiri tanpa ada yang membantu, sebenarnya kemana ibu-ibu yang lain, padahal tadi kulihat mbak Misna tengah asyik nonton TV.

"Dek, kamu masih sendirian?"

"Iya Mas, mana masih banyak kerjaan. Gak tahu nih pada kemana ibu-ibunya kok gak balik-balik." Dahlia menghela nafasnya. Tampak sekali dia kelelahan.

"Apa lagi yang belum dek? Biar mas bantu."

"Bungkusin nasi belum Mas."

"Duh Mmas gak bisa kalau bungkusin nasi, coba mas tanya sama Mbak Atin atau mas Rahmat dulu dek."

Tanpa menunggu jawaban dari Dahlia, akupun ke rumah utama dimana Mbak Atin berada.

"Mbak, itu kemana ibu-ibunya kok Dahlia masak sendiri dibelakang."

Mbak Atin mengeryitkan dahinya, "Lho masa toh Tur, tadi masih rame pas aku kebelakang."

"Iya mbak, katanya pada pulang mau mandi, tapi sampai sekarang gak balik-balik lagi, kata Dahlia masih banyak kerjaan. Aku mau bantu, tapi gak ngerti kerjaan dapur."

"Yaa Allah, coba aku telfon mamak dulu Tur."

Mbak Atin meraih gawai yang diletak disamping box bayinya. Kemudian menekan tombol nomor telepon, tak berapa lama suara khas ibu-ibu terdengar dari sebrang.

"Ngapa Tin?" Suara bu Harni terdengar, karena mbak Atin menyalakan speakernya.

"Mamak dimana? Kok dapur cuma ada Dahlia?"

"Dirumah Tin, nanti mamak kesana sesudah Magrib ya "

"Lho, kerjaan belum selesai kata Dahlia mak, dia sudah kelelahan dari tadi masak sendiri."

"Kata Tika tadi sudah semua, tinggal nyusun jajanan dipiring aja, tadi dia wa di grup RT katanya datang habis Magrib aja."

Deg ... Seketika aku menajamkan pendengaran untuk mendengarkan obrolan mbak Atin dengan ibunya.

"Halah, mbak Tika kok dipercaya, sengaja dia mau ngerjain Lia itu, mamak kesini ya, aku masih lemes soalnya mau bantu-bantu."

"Owalah, Tika! ya ya, mamak kesanan." Terdengar bu Harni menggerutu.

Setelah mbak Atin menutup telfonnya, segera aku bertanya mengenai mbak Tika, apa maksudnya dengan kata-kata sudah biasa.

"Mbak, maksud mbak Atin tadi gimana ya? Mbak Tika sengaja ngerjain Dahlia?" Emosiku sudah mulai tersulut, mendengar Dahlia dikerjai.

"Eh Tur, kamu masih disini?"

"Iya Mbak, kan aku nunggu kabar ibu-ibu yang bantu Dahlia."

"Eh gak, kan mbakmu itu suka galak sama Dahlia." Aku hanya tersenyum masam, lalu kutinggalkan mbak Atin dengan anaknya yang sedang tidur didepan TV.

Apa iya mbak Tika segitunya sampai membuat Dahlia kewalahan sendiri, kalau kerjaannya gak beres kan mbak Atin juga yang malu.

Aku lanjutkan rencanaku untuk mandi, dibelakang sudah ada mbak Yuli, tetangga sebelah mbak Atin. Terdengar mereka tengah berbincang.

"Masa to Mbak, mbak Tika bilang gitu? Kalau tamu udah datang tapi disini belum beres kan yang malu bukan aku, tapi mbak Atin, dia niatnya mau ngerjain aku tapi imbasny pasti ke mbak Atin sama mas Rahmat," ucap Dahlia disela-sela aktivitasnya.

"Iya lho Li, ini lihat chatingan-nya." terlihat mbak Yuli menunjukkan gawainya.

Aku hanya memperhatikan mereka dari juah. Sebenarnya ada apa dengan mbakku itu, selama ini Dahlia tidak pernah membuat salah apapun sama mbak Tika.

Kutinggalkan mereka yang masih berbincang, tak enak rasanya mendengar pembicaraan orang apalagi ibu-ibu.

Malamnya aqiqah berjalan dengan lancar, hingga acara selesai, baik ibu dan mbak Tika apalagi Fika tak lagi muncul untuk bantu-bantu. Hanya mas Rendi dan Guruh yang datang memenuhi undangan mas Rahmat.

Pukul sembilan malam, hujan mulai turun lagi, aku memutuskan untuk menginap disini, karena malas kalau menginap dirumah ibu, pasti ada mbak Tika dan Fika, otomatis Dahlia semakin terpojok disana nanti.

Setelah subuh aku jemput Ridho dirumah Farid, karena harus pulang ke rumah, pukul tujuh aku masuk kerja.

Dahlia sudah siap, mbak Atin membawakan banyak sekai makanan sisa acara semalam. Kami pulang saat matahari belum muncul kepermukaan.

"Mas, mampir kerumah ibu dulu, aku mau kasih jajanan ini sekalian pamit."

"Iya dek," jawabku singkat.

Rumah ibu ternyata masih sepi, hanya ayamnya yang sudah berisik, ayam-ayam ibu memamg tidak pernah dimasukan kekandang.

Ayam-ayam itu tengah memakan susuatu dirteras. Semakin mendekat aku baru sadar jika yang dimakan unggas itu adalah beras yang kami bawa kemrin.

"Astaghfirullah," gumam Dahlia.

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED