Ketukan pintu itu kembali terdengar, lebih berani, seolah tidak mau dibantah. Aku terlonjak, menatap daun pintu cokelat di depanku dengan napas tertahan. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Siapa? Apa aku sudah salah bertingkah?
Aku memberanikan diri melangkah, jantungku berdetak tak keruan. Perlahan, tanganku meraih gagang pintu yang dingin. Aku menariknya sedikit, mengintip.
"Hai, Dens!" Suara ceria itu milik Mei Lin, gadis yang menyapaku sebelumnya. Rambut sebahu miliknya yang hitam legam terlihat berkilau di bawah lampu koridor. Ia berdiri di ambang pintu, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Di tangannya, ia memegang sepiring kecil kue lapis legit. Wanginya samar-samar tercium, manis dan menggoda.
Aku hanya bisa terdiam, terlalu canggung untuk membalas sapaannya. Pipi ini terasa panas.
"Kok melamun? Ayo, dibuka saja pintunya. Aku bawakan kue, barusan Ibu Ratih buat. Enak banget, lho!" Ia menggerak-gerakkan piring di tangannya, seolah merayuku. "Masak kamu mau terus sembunyi di kamar? Nanti dikira patung, lho!"
Aku tersenyum tipis, kali ini sedikit lebih tulus. Akhirnya, aku membuka pintu lebih lebar. "Eh... iya, Mei Lin. Makasih."
Mei Lin melangkah masuk sedikit, lalu meletakkan piring kue itu di meja belajarku yang kosong. "Santai saja, Dens. Jangan tegang begitu. Aku Mei Lin, tetangga kamarmu yang paling berisik. Itu, kamar sebelahnya Li Hua." Ia menunjuk ke arah pintu sebelah, lalu kembali padaku. "Kamu dari Jawa Timur, ya? Jauh juga merantau ke Solo. Pasti kaget, kan?"
Aku mengangguk pelan. "Iya. Baru pertama kali ini jauh dari rumah."
"Wah, sama dong! Aku sama Li Hua juga dari luar kota, tapi masih di Jawa Tengah. Tapi kamu jangan khawatir. Di sini Bu Ratih baik banget kok, galaknya cuma buat biar kita disiplin. Anggap saja ini rumah keduamu," ucapnya riang. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku yang masih kosong melompong. "Kamar nomor tujuh ini memang agak di ujung, jadi lebih tenang. Tapi jangan sampai jadi antisosial, ya! Kalau ada apa-apa, jangan sungkan tanya aku."
"Oh, iya. Makasih, Mei Lin," ujarku, berusaha menyusun kata-kata.
"Sama-sama. Oh ya, nanti malam ada Fajar sama Mas Arya mau nobar bola di ruang tengah. Kamu mau ikut? Lumayan, biar nggak kesepian sendirian di kamar." Mei Lin menatapku penuh harap, matanya berbinar.
Nobar bola? Dengan orang-orang asing? Aku menggeleng pelan. "M-maaf, Mei Lin. Aku... aku capek banget. Mau istirahat saja."
Wajah Mei Lin sedikit berubah, namun senyumnya segera kembali. "Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa. Tapi kalau berubah pikiran, langsung saja ke ruang tengah, ya! Ramai kok. Jangan sungkan!"
Ia berbalik, hendak keluar dari kamarku. "Aku balik ke kamar dulu, ya. Kalau butuh apa-apa, teriak saja. Kamarku cuma beberapa pintu dari sini."
"Iya," jawabku singkat.
Mei Lin melambaikan tangan, lalu keluar dan menutup pintu kamarku. Aku mendengar langkah kakinya yang riang menjauh, lalu suara pintu tertutup pelan. Aku kembali sendiri, dan keheningan mendadak terasa lebih pekat dari sebelumnya. Kue lapis legit di meja itu seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa interaksi tadi benar-benar terjadi.
Aku kembali ke tempat tidur, duduk di tepi kasur busa yang terasa asing. Kehangatan Mei Lin tadi hanya sesaat, kini digantikan oleh gelombang kesepian yang lebih dalam. Apakah aku sudah membuat keputusan yang salah? Meninggalkan kehangatan rumah, kenyamanan kota kecil, untuk terdampar di tempat asing ini?
Malam menjelang. Langit Solo di luar jendela berubah menjadi hitam pekat, dihiasi bintang-bintang yang tampak enggan bersinar terang. Aku mencoba memejamkan mata, memaksakan diri untuk tidur, tetapi pikiran-pikiran yang kalut terus berputar di kepalaku. Bau bantal kapuk yang sudah usang itu terasa asing, tidak seperti bantal di rumah yang beraroma sabun dan kehangatan ibu.
Tak lama, suara-suara mulai bermunculan. Dari kejauhan, klakson kendaraan masih terdengar, disusul suara anjing menggonggong. Lebih dekat lagi, aku bisa mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, lalu dengungan musik samar dari kamar yang lain. Suara orang berbicara, tawa renyah, seperti sebuah orkestra asing yang sedang memainkan simfoni malam. Aku menghela napas panjang, membenamkan wajah ke bantal.
Kemudian, terdengar suara tawa yang lebih keras dan obrolan yang riuh dari kamar sebelah, tepat di samping kamarku. Sepertinya itu kamar Fajar, atau mungkin Mas Arya? Entahlah. Yang jelas, mereka sedang nobar bola yang Mei Lin ceritakan tadi.
"Wah, itu pelanggaran jelas banget, wasitnya buta apa gimana sih?" Suara seorang pemuda terdengar kesal, disusul tawa renyah. Aku yakin itu Fajar, dari intonasinya yang terdengar 'sok asik' seperti yang Mei Lin bilang.
"Santai, Jar, masih awal kok. Jangan emosi duluan!" sahut suara lain, lebih berat dan kalem. Mungkin Mas Arya.
"Gimana mau santai, Mas? Ini kan pertandingan penentu! Kalau kalah, kita cuma bisa gigit jari!" Fajar menyahut lagi, nadanya sedikit meninggi. "Eh, kamu tahu enggak, yang di tim sebelah itu kan pernah jadi bintangnya liga amatir waktu itu? Kenapa sekarang jadi loyo begini mainnya?"
"Mungkin lagi ada masalah pribadi kali, Jar. Kita kan enggak pernah tahu beban hidup orang," timpal suara ketiga, lebih pelan dan cenderung seperti bisikan, tapi masih bisa kudengar samar-samar. Sepertinya suara Li Hua, adik Mei Lin.
"Ah, masa sih? Kalau masalah pribadi sampai mempengaruhi performa di lapangan, berarti kurang profesional dong! Kan harusnya bisa dipisahkan," Fajar berkata dengan nada sinis. "Kayak si Budi itu lho, dulu dia kan pernah pacaran sama mantannya si Anu, terus pas tanding jadi musuhan. Kan lucu!" Tawanya meledak, diikuti oleh tawa Mas Arya dan Mei Lin. Aku yakin Mei Lin ada di sana juga, karena tawanya yang khas itu tak bisa salah dengar.
"Itu kan drama sinetron, Jar! Beda sama bola," Mei Lin menimpali, suaranya terdengar ceria. "Lagian, si Budi sama si Anu kan memang udah putus dari lama. Kamu ini gosipnya kok sampai ke situ-situ!"
"Justru itu, Lin! Kan seru kalau ada bumbu-bumbu begitu. Jadi enggak cuma nonton bola doang, tapi ada hiburan ekstra!" Fajar tertawa lagi, lebih keras. "Eh, Mas Arya, menurutmu gimana? Profesionalisme dan masalah pribadi, bisa dipisahkan enggak sih?"
Mas Arya hanya berdeham. "Tergantung orangnya. Ada yang kuat mental, ada yang gampang terpengaruh. Setiap orang kan beda-beda."
"Nah, kan! Betul juga kata Mas Arya. Makanya aku bilang, si Budi itu memang mentalnya tempe!" Fajar kembali mengejek. "Coba kalau dia jadi aku, pasti udah jadi pahlawan lapangan!"
"Halah, paling juga baru sepuluh menit udah ngos-ngosan!" Mei Lin mengejek balik, diikuti gelak tawa mereka yang semakin membahana.
Obrolan mereka terus berlanjut, berputar dari pertandingan bola, gosip pemain, sampai candaan-candaan ringan yang hanya dimengerti oleh mereka. Aku berbaring di kasur, telingaku mau tak mau menangkap setiap kata. Aku mencoba memejamkan mata lagi, berharap suara-suara itu akan mereda, namun obrolan mereka justru semakin hidup, seolah tak peduli dengan orang yang mencoba tidur di kamar sebelah.
Setiap tawa, setiap candaan, terasa seperti pukulan langsung ke ulu hatiku. Mereka punya teman, mereka punya obrolan, mereka punya tawa. Sementara aku? Aku hanya berbaring di sini, sendirian, mendengarkan. Rasa kesepian memuncak, menusuk-nusuk hingga ke sudut hati.
Bagaimana aku bisa bertahan di tempat seperti ini? Aku yang canggung dan pendiam, bisakah aku menemukan tempat di antara mereka yang begitu ramah dan riuh? Aku meragukan segalanya. Keputusan ini, apakah benar? Apakah aku akan berakhir sebagai bayangan di antara keramaian ini?
Air mataku menetes, membasahi bantal kapuk yang berbau asing itu. Aku ingin pulang. Aku ingin berteriak.
Tiba-tiba, suara ketukan di dinding kamarku terdengar. Dua kali, pelan tapi tegas. Ketukan itu berasal dari kamar sebelah, kamar Fajar dan yang lain. Suara obrolan mereka mendadak hening. Mereka pasti menyadari aku terganggu.
Aku tersentak. Apakah aku sudah membuat keributan dengan tangisanku? Ataukah mereka memang sengaja menghentikan obrolan mereka, karena menyadari aku ada? Aku tahu mereka mendengarku, atau setidaknya merasakan kehadiranku yang sendirian di balik dinding.
Keheningan itu berlangsung lama, terasa begitu berat dan canggung. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Sampai akhirnya, suara pintu terbuka pelan dari kamar sebelah. Jantungku berdebar semakin kencang. Apakah mereka akan menghampiriku? Memarahiku? Atau justru...
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Suara ketukan di dinding yang mengakhiri riuhnya obrolan dari kamar sebelah masih terngiang. Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih atau justru merasa lebih malu. Keheningan yang menyusul terasa lebih berat daripada segala tawa mereka sebelumnya. Aku membalikkan badan, mencoba mencari posisi yang nyaman di atas kasur busa yang masih terasa asing, namun pikiranku terus berputar. Apakah mereka mendengarku menangis? Apakah mereka mengejekku dalam hati? Beban di dadaku terasa begitu nyata, seperti batu besar yang menghimpit.
Pagi menjelang dengan cepat, membawa serta aroma masakan dari dapur. Bau bawang goreng dan tumisan sayur menyeruak masuk ke celah-celah pintu, perlahan mengusir sisa-sisa kesedihan malam. Perutku yang kosong mendadak bereaksi. Aku belum makan sejak tiba kemarin sore, dan bau sedap itu sungguh menggoda. Dengan langkah ragu, aku keluar dari kamar, mengikuti aroma.
Lorong kos masih sepi. Beberapa pintu kamar tertutup rapat, yang lain sedikit terbuka, menampakkan kegelapan di dalamnya. Aku melangkah pelan, seperti pencuri, sampai akhirnya tiba di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Di sanalah, berdiri tegap di depan kompor dengan wajan besar mengepul, ada seorang perempuan paruh baya. Rambutnya diikat rapi, mengenakan daster batik motif parang. Itulah Bu Ratih, pemilik kos.
Ia sedang membalik nasi goreng dengan cekatan. Aroma rempah dan kecap manis langsung menyergap indra penciumanku. Aku berhenti di ambang pintu, terlalu segan untuk melangkah lebih jauh.
"Nah, akhirnya muncul juga penghuni nomor tujuh!" Suaranya renyah tapi ada intonasi ketegasan yang tak terbantahkan. Ia menoleh, menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa membaca seluruh isi pikiranku. "Dens Bagus, kan? Ayo sini, jangan cuma melongok di pintu. Sarapan sudah siap."
Aku tergagap. "E-eh, iya, Bu. Selamat pagi."
"Pagi. Ayo, duduk. Jangan sungkan," katanya, tapi nada suaranya tidak mengundang kesantaian. Aku melangkah masuk, menarik salah satu kursi kayu di meja makan yang panjang. Di atas meja, sudah tersaji piring-piring berisi nasi goreng, telur ceplok, dan kerupuk. Sebuah teko berisi teh hangat juga mengepul di tengahnya.
Bu Ratih menyendokkan nasi goreng ke piringku, porsi yang cukup besar untuk perutku yang lapar. "Ini khusus untuk kamu, anak baru. Biar kuat nanti dengerin ceramah saya," ucapnya, sambil tersenyum tipis yang entah mengapa terasa seperti peringatan. Aku hanya bisa menunduk, menerima piring itu dengan kikuk.
"Jadi begini, Dens," Bu Ratih memulai, suaranya kini sedikit melambat, penuh penekanan. "Kamu di sini itu kan merantau. Jauh dari orang tua. Nah, saya di sini fungsinya seperti orang tua kedua. Jadi, kalau ada aturan, ya harus diikuti. Jangan sampai bikin masalah."
Aku mengangguk cepat, menyuap sesendok nasi goreng yang langsung terasa nikmat di lidah.
"Pertama, kebersihan. Kamar masing-masing itu tanggung jawab sendiri. Jangan sampai saya lihat ada sampah numpuk atau baju kotor berserakan. Saya ini anti sekali sama kotor. Kalau kamar mandi dan dapur, itu tanggung jawab bersama. Kalau sudah pakai, ya dibersihkan. Jangan cuma numpang lewat." Ia menunjuk ke arah kamar mandi dan dapur dengan sendok nasi gorengnya, seolah sedang memberikan komando militer.
"Kedua, jam malam. Pintu gerbang itu saya kunci jam sepuluh malam. Kalau mau pulang lewat dari itu, ya izin dulu. Jangan main nyelonong masuk saja. Apalagi kalau bawa teman menginap, wah, itu saya tidak suka sama sekali. Ini kos putra-putri, tidak bisa sembarangan."
Pipi dan telingaku terasa panas mendengar penekanan pada "kos putra-putri". Aku membayangkan kejadian semalam, saat mereka semua riuh nonton bola. Apakah aku melanggar aturan dengan menangis? Atau justru mereka yang melanggar jam malam? Aku mengamati ekspresi Bu Ratih, mencari petunjuk, tapi wajahnya tetap serius.
"Ketiga, listrik dan air. Pakai secukupnya. Jangan boros. Ingat, ini bukan rumahmu sendiri. Apalagi kalau malam-malam pakai AC sampai pagi, padahal cuaca tidak terlalu panas. Itu namanya buang-buang uang."
Bu Ratih melanjutkan, rentetan aturannya mengalir bagai air bah. Mulai dari larangan memelihara hewan, kewajiban membayar uang kos tepat waktu, sampai himbauan untuk bersosialisasi tapi tetap menjaga privasi. Aku hanya bisa mengangguk, sesekali bergumam "iya, Bu" saat ia memberi jeda untuk menarik napas.
"Intinya, saya di sini cuma mau anak-anak kos nyaman dan aman. Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita. Tapi jangan sampai masalah kecil jadi besar gara-gara tidak mau terbuka. Paham?" Ia menatapku intens, menunggu jawabanku.
"Paham, Bu," jawabku pelan.
"Bagus. Nah, sekarang makan yang banyak. Habiskan itu nasi gorengnya. Kamu kelihatan kurang gizi."
Baru saja aku hendak menyuap lagi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki riang dari lorong. Mei Lin muncul, rambut hitamnya diikat ekor kuda, mengenakan kaus oblong bergambar kartun dan celana pendek. Di belakangnya, adiknya, Li Hua, berjalan lebih tenang, memegang buku sketsa.
"Selamat pagi, Bu Ratih!" sapa Mei Lin ceria, langsung menuju meja makan dan mengambil piring. "Wah, nasi gorengnya sudah habis banyak, ya? Dens, kamu sudah sarapan?"
Aku mengangguk canggung, menatap Mei Lin yang sudah terlihat segar bugar, seolah tidak pernah bergadang semalam. Li Hua hanya tersenyum tipis padaku, lalu duduk di pojok, membuka buku sketsanya.
"Tentu saja sudah sarapan, Mei Lin. Bu Ratih kan sudah bilang, anak baru harus sarapan banyak biar kuat dengerin ceramah saya," Bu Ratih menimpali, melirikku dengan senyum tipis. Aku merasa pipiku kembali memanas.
"Hahaha, betul itu, Bu!" Mei Lin tertawa. "Dens, nanti kamu pasti cepat akrab kok sama Bu Ratih. Galaknya cuma di depan saja. Kalau sudah kenal, nanti malah dikira anak sendiri." Ia mengedipkan mata padaku, seolah ingin memberi kode bahwa semua akan baik-baik saja.
Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku hanya menunduk, melanjutkan sarapan. Mendengar Mei Lin berbicara, aku merasakan sedikit kelegaan. Tapi omelan Bu Ratih tadi, meski diiringi nasi goreng lezat dan senyum tipis, tetap meninggalkan kesan mendalam. Aku merasa seperti baru saja menjalani ujian masuk yang ketat. Di tempat baru ini, bahkan untuk sekadar sarapan pun aku harus melewati serangkaian aturan dan omelan. Bagaimana aku bisa bertahan jika setiap hari akan seperti ini?
Bu Ratih mengambil secangkir teh, menyesapnya perlahan. Matanya menyapu sekeliling, lalu kembali padaku. "Oh ya, Dens. Karena kamu anak baru dan kamar nomor tujuh itu jarang sekali ada penghuninya, saya ada satu tugas khusus untukmu."
Jantungku berdebar. Tugas khusus? Apa lagi? Aku menatap Bu Ratih, menunggu dengan napas tertahan. Kali ini, ekspresinya tidak bisa kubaca. Apa yang akan datang setelah ini? Sebuah tantangan baru yang akan semakin menguji batasku di tempat asing ini? Atau justru... sesuatu yang jauh lebih berat?