Bab 1

Solo menyambutku dengan desah angin panas dan aroma rempah yang asing. Deru mesin mobil ayahku melambat, dan jantungku berdebar lebih kencang daripada biasanya. Kami tiba di sebuah gerbang besi tua yang catnya mulai mengelupas, diapit oleh pagar tembok tinggi yang dihiasi tanaman merambat liar. Di baliknya, rumah kos Bu Ratih berdiri kokoh, namun tampak sunyi, seolah menahan napas. Aku menatap keluar jendela, telapak tanganku berkeringat dingin menempel pada jok mobil.

"Sudah sampai, Dens," kata ayah, suaranya berusaha terdengar ringan, tapi aku tahu ada getaran kesedihan di sana.

Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat. Pandanganku menyapu sekeliling, mencari-cari tanda-tanda kehidupan, namun hanya kesunyian yang menyapa. Halaman kos yang cukup luas ditumbuhi rumput gajah yang rapi, dan sebuah sepeda motor tua terparkir miring di bawah pohon mangga.

Sebuah perasaan aneh merayapi diriku, campuran antara kegugupan dan kerinduan yang mendalam akan rumah. Ini adalah awal dari perjalananku yang baru, jauh dari hiruk-pikuk kota kecil di Jawa Timur.

Ayah membunyikan klakson pelan. Tak lama, pintu utama terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan daster batik berwarna cerah.

Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi yang masih utuh, namun matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang diriku.

"Assalamu'alaikum, Bu Ratih!" Ayah turun lebih dulu, menyalami wanita itu dengan sopan.

"Wa'alaikumussalam, Pak Bagus! Aduh, akhirnya sampai juga. Kok lama sekali, to, Pak? Dari pagi saya sudah siapkan kamarnya. Jangan-jangan mampir makan sate dulu, ya?" Bu Ratih menyambut dengan celotehan yang langsung membanjiri telingaku. Ia tertawa renyah, meski aku merasa sedikit disindir.

Aku turun dari mobil, membawa ransel yang terasa berat di pundak, bukan karena isinya, melainkan beban ekspektasi yang kubawa. Aku menyalami Bu Ratih, tangan wanita itu terasa hangat dan sedikit kasar.

"Ini toh, calon penghuni kos saya? Namanya Dens Bagus, kan? Wah, gagah sekali anaknya. Tapi kok pucat begitu, Nak? Ndak apa-apa?" Bu Ratih menatapku lekat, kepalanya sedikit dimiringkan.

Aku tersenyum canggung, merasakan pipiku memerah. "I-iya, Bu. Dens, Bu."

"Dens? Panggil saja Ibu Ratih, ya. Jangan sungkan-sungkan. Di sini semua saya anggap anak sendiri. Tapi kalau ada aturan yang dilanggar, jangan harap bisa tidur nyenyak!"

candanya, lalu tertawa lagi, kali ini disusul oleh ayahku. Aku hanya ikut tersenyum hambar, mencoba mencerna rentetan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Ia seperti gelombang yang tak berhenti.

"Mari masuk, Pak, Nak Dens. Saya tunjukkan kamarnya." Bu Ratih berbalik, langkahnya cekatan memasuki ruang tamu yang luas. Wangi pewangi ruangan dan sedikit aroma masakan tercium samar, memberikan kesan hangat sekaligus asing.

Ruang tamu itu lapang, diisi sofa jati ukir dan beberapa tanaman hias dalam pot. Aku mengikuti Bu Ratih dan ayahku menyusuri koridor panjang di sisi kanan, dindingnya dicat kuning gading yang mulai pudar di beberapa bagian.

Beberapa pintu berjajar rapi. Aku melirik setiap pintu yang kami lewati, sebagian tertutup rapat, sebagian sedikit terbuka, menampakkan samar-samar isi di dalamnya. Sebuah gitar tergeletak di lantai, tumpukan buku di meja, dan gantungan baju di balik pintu.

Ketika kami melewati sebuah pintu dengan stiker band metal, sebuah kepala menyembul keluar. Seorang pemuda berambut gondrong, kaus hitam lusuh, dan mata merah, sepertinya baru bangun tidur. Dia hanya mengangguk tipis ke arah kami, lalu buru-buru menutup kembali pintunya. Aku menelan ludah. Wajahnya terlihat lelah dan penuh beban.

Tidak jauh dari sana, ada suara gesekan pensil di atas kertas. Sebuah pintu terbuka sedikit, menampakkan seorang gadis berambut panjang yang fokus menunduk, tangannya sibuk menggoreskan sesuatu di atas sketchbook. Ia tak menyadari kehadiran kami. Di sampingnya, seorang gadis lain yang lebih ceria, dengan rambut sebahu dan mata yang berbinar, melambaikan tangan ke arah kami sambil tersenyum lebar.

"Hai! Anak baru, ya?" sapanya ramah, suaranya ceria sekali.

Aku hanya bisa membalas dengan senyum tipis, terlalu malu untuk bicara. Ayahku mengangguk, "Iya, Nak. Anak saya, Dens."

"Mei Lin!" gadis itu memperkenalkan diri. "Itu adikku, Li Hua. Dia lagi asyik menggambar, jangan diganggu. Selamat datang, ya!"

Bu Ratih menoleh sedikit ke belakang. "Mei Lin, jangan berisik. Nanti Pak Bagus jadi sungkan!" tegurnya, namun ada nada sayang dalam suaranya.

Mei Lin hanya nyengir, lalu kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan kami dengan kesan pertama yang ramah tapi juga sedikit mengintimidasi bagiku.

Akhirnya, kami berhenti di sebuah pintu cokelat tua, yang paling ujung di koridor. Di daun pintunya, sebuah plat nomor kecil bertuliskan angka '7' terpaku.

Pintu itu terlihat sama dengan pintu-pintu lain, namun entah mengapa, mataku terpaku pada goresan-goresan samar di permukaannya, seolah menyimpan cerita yang tak terucapkan.

"Nah, ini kamarmu, Dens. Kamar nomor tujuh. Sudah saya bersihkan. Ada kipas angin, lemari kecil, dan meja belajar," Bu Ratih membuka pintu dengan kunci yang ia keluarkan dari saku daster.

Sebuah kamar sederhana menyambutku. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung satu kasur busa tipis, sebuah lemari kayu dua pintu yang sudah termakan usia, dan meja belajar yang tampak kokoh di sudut.

Jendela kecil menghadap ke halaman belakang, ditutupi tirai kain motif bunga yang lusuh. Udara di dalam kamar terasa pengap, meski ada sedikit angin yang masuk dari jendela. Aku meletakkan ransel di lantai, menatap sekeliling.

Tempat inilah yang akan menjadi duniaku untuk beberapa waktu ke depan.

"Bersih, kan? Nanti kalau kurang apa-apa bilang saja, ya. Tapi jangan minta yang aneh-aneh," Bu Ratih menunjuk ke berbagai sudut kamar dengan telunjuknya. "Kalau mau mandi, kamar mandinya di ujung sana. Ada tiga. Bebas pakai yang mana saja, asal jangan lama-lama. Airnya juga harus dihemat, ya!"

Ayah meletakkan koperku di samping lemari. "Terima kasih banyak, Bu Ratih. Maaf merepotkan."

"Ah, tidak apa-apa, Pak. Sudah kewajiban saya. Yang penting anaknya betah dan tidak nakal," sahut Bu Ratih, lalu melirikku dengan senyum menggoda.

"Dens, kalau lapar atau butuh apa-apa, jangan sungkan tanya. Tapi kalau malam jangan keluyuran. Jam sepuluh gerbang kos sudah saya kunci."

Aku hanya mengangguk, berusaha memasang senyum terbaikku, meskipun batinku bergejolak. Rasa cemas dan rindu rumah semakin menusuk. Bagaimana aku akan melewati hari-hari di tempat baru ini? Sendirian, tanpa siapa-siapa yang kukenal.

Ayah menepuk pundakku. "Jaga diri baik-baik, Nak. Belajar yang rajin. Jangan lupa sholat. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah atau Ibu."

Mataku berkaca-kaca mendengar kata-kata ayah. Aku memeluknya erat, mencium tangannya. "Iya, Yah. Ayah hati-hati di jalan."

Ayah pergi tak lama setelah itu, diantar Bu Ratih sampai ke gerbang. Aku berdiri di ambang pintu kamar nomor tujuh, mengawasinya hingga mobilnya menghilang di tikungan jalan. Meninggalkanku sendirian di dalam labirin ketidakpastian ini.

Kembali masuk ke kamar, aku menutup pintu. Aku duduk di tepi kasur busa, merasakan permukaannya yang empuk namun asing. Keheningan tiba-tiba terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara detak jam dinding di kamar sebelah atau deru kendaraan yang samar dari jalan raya.

Aku menatap keluar jendela, ke arah langit Solo yang mulai meredup.

Aku adalah Dens Bagus, seorang pemuda dari kota kecil yang polos dan canggung, kini terdampar di tengah kota yang sibuk, sendirian. Di kamar nomor tujuh, aku merasakan desakan untuk berteriak, untuk lari pulang ke rumah. Namun, tekad untuk mandiri menahanku.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan. Aku terlonjak. Siapa? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Perasaan takut dan penasaran berbaur, membuat jantungku kembali berdegup kencang.

Apakah ini Bu Ratih dengan aturan barunya? Atau Mei Lin yang ramah tapi sedikit mengejutkan? Atau malah pemuda berambut gondrong dengan mata merah itu? Aku menatap pintu cokelat di depanku, bertanya-tanya apa yang menanti di baliknya, dan apa pula yang akan terjadi pada petualangan baruku.

Bab 2

Ketukan pintu itu kembali terdengar, lebih berani, seolah tidak mau dibantah. Aku terlonjak, menatap daun pintu cokelat di depanku dengan napas tertahan. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Siapa? Apa aku sudah salah bertingkah?

Aku memberanikan diri melangkah, jantungku berdetak tak keruan. Perlahan, tanganku meraih gagang pintu yang dingin. Aku menariknya sedikit, mengintip.

"Hai, Dens!" Suara ceria itu milik Mei Lin, gadis yang menyapaku sebelumnya. Rambut sebahu miliknya yang hitam legam terlihat berkilau di bawah lampu koridor. Ia berdiri di ambang pintu, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Di tangannya, ia memegang sepiring kecil kue lapis legit. Wanginya samar-samar tercium, manis dan menggoda.

Aku hanya bisa terdiam, terlalu canggung untuk membalas sapaannya. Pipi ini terasa panas.

"Kok melamun? Ayo, dibuka saja pintunya. Aku bawakan kue, barusan Ibu Ratih buat. Enak banget, lho!" Ia menggerak-gerakkan piring di tangannya, seolah merayuku. "Masak kamu mau terus sembunyi di kamar? Nanti dikira patung, lho!"

Aku tersenyum tipis, kali ini sedikit lebih tulus. Akhirnya, aku membuka pintu lebih lebar. "Eh... iya, Mei Lin. Makasih."

Mei Lin melangkah masuk sedikit, lalu meletakkan piring kue itu di meja belajarku yang kosong. "Santai saja, Dens. Jangan tegang begitu. Aku Mei Lin, tetangga kamarmu yang paling berisik. Itu, kamar sebelahnya Li Hua." Ia menunjuk ke arah pintu sebelah, lalu kembali padaku. "Kamu dari Jawa Timur, ya? Jauh juga merantau ke Solo. Pasti kaget, kan?"

Aku mengangguk pelan. "Iya. Baru pertama kali ini jauh dari rumah."

"Wah, sama dong! Aku sama Li Hua juga dari luar kota, tapi masih di Jawa Tengah. Tapi kamu jangan khawatir. Di sini Bu Ratih baik banget kok, galaknya cuma buat biar kita disiplin. Anggap saja ini rumah keduamu," ucapnya riang. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku yang masih kosong melompong. "Kamar nomor tujuh ini memang agak di ujung, jadi lebih tenang. Tapi jangan sampai jadi antisosial, ya! Kalau ada apa-apa, jangan sungkan tanya aku."

"Oh, iya. Makasih, Mei Lin," ujarku, berusaha menyusun kata-kata.

"Sama-sama. Oh ya, nanti malam ada Fajar sama Mas Arya mau nobar bola di ruang tengah. Kamu mau ikut? Lumayan, biar nggak kesepian sendirian di kamar." Mei Lin menatapku penuh harap, matanya berbinar.

Nobar bola? Dengan orang-orang asing? Aku menggeleng pelan. "M-maaf, Mei Lin. Aku... aku capek banget. Mau istirahat saja."

Wajah Mei Lin sedikit berubah, namun senyumnya segera kembali. "Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa. Tapi kalau berubah pikiran, langsung saja ke ruang tengah, ya! Ramai kok. Jangan sungkan!"

Ia berbalik, hendak keluar dari kamarku. "Aku balik ke kamar dulu, ya. Kalau butuh apa-apa, teriak saja. Kamarku cuma beberapa pintu dari sini."

"Iya," jawabku singkat.

Mei Lin melambaikan tangan, lalu keluar dan menutup pintu kamarku. Aku mendengar langkah kakinya yang riang menjauh, lalu suara pintu tertutup pelan. Aku kembali sendiri, dan keheningan mendadak terasa lebih pekat dari sebelumnya. Kue lapis legit di meja itu seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa interaksi tadi benar-benar terjadi.

Aku kembali ke tempat tidur, duduk di tepi kasur busa yang terasa asing. Kehangatan Mei Lin tadi hanya sesaat, kini digantikan oleh gelombang kesepian yang lebih dalam. Apakah aku sudah membuat keputusan yang salah? Meninggalkan kehangatan rumah, kenyamanan kota kecil, untuk terdampar di tempat asing ini?

Malam menjelang. Langit Solo di luar jendela berubah menjadi hitam pekat, dihiasi bintang-bintang yang tampak enggan bersinar terang. Aku mencoba memejamkan mata, memaksakan diri untuk tidur, tetapi pikiran-pikiran yang kalut terus berputar di kepalaku. Bau bantal kapuk yang sudah usang itu terasa asing, tidak seperti bantal di rumah yang beraroma sabun dan kehangatan ibu.

Tak lama, suara-suara mulai bermunculan. Dari kejauhan, klakson kendaraan masih terdengar, disusul suara anjing menggonggong. Lebih dekat lagi, aku bisa mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, lalu dengungan musik samar dari kamar yang lain. Suara orang berbicara, tawa renyah, seperti sebuah orkestra asing yang sedang memainkan simfoni malam. Aku menghela napas panjang, membenamkan wajah ke bantal.

Kemudian, terdengar suara tawa yang lebih keras dan obrolan yang riuh dari kamar sebelah, tepat di samping kamarku. Sepertinya itu kamar Fajar, atau mungkin Mas Arya? Entahlah. Yang jelas, mereka sedang nobar bola yang Mei Lin ceritakan tadi.

"Wah, itu pelanggaran jelas banget, wasitnya buta apa gimana sih?" Suara seorang pemuda terdengar kesal, disusul tawa renyah. Aku yakin itu Fajar, dari intonasinya yang terdengar 'sok asik' seperti yang Mei Lin bilang.

"Santai, Jar, masih awal kok. Jangan emosi duluan!" sahut suara lain, lebih berat dan kalem. Mungkin Mas Arya.

"Gimana mau santai, Mas? Ini kan pertandingan penentu! Kalau kalah, kita cuma bisa gigit jari!" Fajar menyahut lagi, nadanya sedikit meninggi. "Eh, kamu tahu enggak, yang di tim sebelah itu kan pernah jadi bintangnya liga amatir waktu itu? Kenapa sekarang jadi loyo begini mainnya?"

"Mungkin lagi ada masalah pribadi kali, Jar. Kita kan enggak pernah tahu beban hidup orang," timpal suara ketiga, lebih pelan dan cenderung seperti bisikan, tapi masih bisa kudengar samar-samar. Sepertinya suara Li Hua, adik Mei Lin.

"Ah, masa sih? Kalau masalah pribadi sampai mempengaruhi performa di lapangan, berarti kurang profesional dong! Kan harusnya bisa dipisahkan," Fajar berkata dengan nada sinis. "Kayak si Budi itu lho, dulu dia kan pernah pacaran sama mantannya si Anu, terus pas tanding jadi musuhan. Kan lucu!" Tawanya meledak, diikuti oleh tawa Mas Arya dan Mei Lin. Aku yakin Mei Lin ada di sana juga, karena tawanya yang khas itu tak bisa salah dengar.

"Itu kan drama sinetron, Jar! Beda sama bola," Mei Lin menimpali, suaranya terdengar ceria. "Lagian, si Budi sama si Anu kan memang udah putus dari lama. Kamu ini gosipnya kok sampai ke situ-situ!"

"Justru itu, Lin! Kan seru kalau ada bumbu-bumbu begitu. Jadi enggak cuma nonton bola doang, tapi ada hiburan ekstra!" Fajar tertawa lagi, lebih keras. "Eh, Mas Arya, menurutmu gimana? Profesionalisme dan masalah pribadi, bisa dipisahkan enggak sih?"

Mas Arya hanya berdeham. "Tergantung orangnya. Ada yang kuat mental, ada yang gampang terpengaruh. Setiap orang kan beda-beda."

"Nah, kan! Betul juga kata Mas Arya. Makanya aku bilang, si Budi itu memang mentalnya tempe!" Fajar kembali mengejek. "Coba kalau dia jadi aku, pasti udah jadi pahlawan lapangan!"

"Halah, paling juga baru sepuluh menit udah ngos-ngosan!" Mei Lin mengejek balik, diikuti gelak tawa mereka yang semakin membahana.

Obrolan mereka terus berlanjut, berputar dari pertandingan bola, gosip pemain, sampai candaan-candaan ringan yang hanya dimengerti oleh mereka. Aku berbaring di kasur, telingaku mau tak mau menangkap setiap kata. Aku mencoba memejamkan mata lagi, berharap suara-suara itu akan mereda, namun obrolan mereka justru semakin hidup, seolah tak peduli dengan orang yang mencoba tidur di kamar sebelah.

Setiap tawa, setiap candaan, terasa seperti pukulan langsung ke ulu hatiku. Mereka punya teman, mereka punya obrolan, mereka punya tawa. Sementara aku? Aku hanya berbaring di sini, sendirian, mendengarkan. Rasa kesepian memuncak, menusuk-nusuk hingga ke sudut hati.

Bagaimana aku bisa bertahan di tempat seperti ini? Aku yang canggung dan pendiam, bisakah aku menemukan tempat di antara mereka yang begitu ramah dan riuh? Aku meragukan segalanya. Keputusan ini, apakah benar? Apakah aku akan berakhir sebagai bayangan di antara keramaian ini?

Air mataku menetes, membasahi bantal kapuk yang berbau asing itu. Aku ingin pulang. Aku ingin berteriak.

Tiba-tiba, suara ketukan di dinding kamarku terdengar. Dua kali, pelan tapi tegas. Ketukan itu berasal dari kamar sebelah, kamar Fajar dan yang lain. Suara obrolan mereka mendadak hening. Mereka pasti menyadari aku terganggu.

Aku tersentak. Apakah aku sudah membuat keributan dengan tangisanku? Ataukah mereka memang sengaja menghentikan obrolan mereka, karena menyadari aku ada? Aku tahu mereka mendengarku, atau setidaknya merasakan kehadiranku yang sendirian di balik dinding.

Keheningan itu berlangsung lama, terasa begitu berat dan canggung. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Sampai akhirnya, suara pintu terbuka pelan dari kamar sebelah. Jantungku berdebar semakin kencang. Apakah mereka akan menghampiriku? Memarahiku? Atau justru...

Bab 3

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Suara ketukan di dinding yang mengakhiri riuhnya obrolan dari kamar sebelah masih terngiang. Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih atau justru merasa lebih malu. Keheningan yang menyusul terasa lebih berat daripada segala tawa mereka sebelumnya. Aku membalikkan badan, mencoba mencari posisi yang nyaman di atas kasur busa yang masih terasa asing, namun pikiranku terus berputar. Apakah mereka mendengarku menangis? Apakah mereka mengejekku dalam hati? Beban di dadaku terasa begitu nyata, seperti batu besar yang menghimpit.

Pagi menjelang dengan cepat, membawa serta aroma masakan dari dapur. Bau bawang goreng dan tumisan sayur menyeruak masuk ke celah-celah pintu, perlahan mengusir sisa-sisa kesedihan malam. Perutku yang kosong mendadak bereaksi. Aku belum makan sejak tiba kemarin sore, dan bau sedap itu sungguh menggoda. Dengan langkah ragu, aku keluar dari kamar, mengikuti aroma.

Lorong kos masih sepi. Beberapa pintu kamar tertutup rapat, yang lain sedikit terbuka, menampakkan kegelapan di dalamnya. Aku melangkah pelan, seperti pencuri, sampai akhirnya tiba di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Di sanalah, berdiri tegap di depan kompor dengan wajan besar mengepul, ada seorang perempuan paruh baya. Rambutnya diikat rapi, mengenakan daster batik motif parang. Itulah Bu Ratih, pemilik kos.

Ia sedang membalik nasi goreng dengan cekatan. Aroma rempah dan kecap manis langsung menyergap indra penciumanku. Aku berhenti di ambang pintu, terlalu segan untuk melangkah lebih jauh.

"Nah, akhirnya muncul juga penghuni nomor tujuh!" Suaranya renyah tapi ada intonasi ketegasan yang tak terbantahkan. Ia menoleh, menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa membaca seluruh isi pikiranku. "Dens Bagus, kan? Ayo sini, jangan cuma melongok di pintu. Sarapan sudah siap."

Aku tergagap. "E-eh, iya, Bu. Selamat pagi."

"Pagi. Ayo, duduk. Jangan sungkan," katanya, tapi nada suaranya tidak mengundang kesantaian. Aku melangkah masuk, menarik salah satu kursi kayu di meja makan yang panjang. Di atas meja, sudah tersaji piring-piring berisi nasi goreng, telur ceplok, dan kerupuk. Sebuah teko berisi teh hangat juga mengepul di tengahnya.

Bu Ratih menyendokkan nasi goreng ke piringku, porsi yang cukup besar untuk perutku yang lapar. "Ini khusus untuk kamu, anak baru. Biar kuat nanti dengerin ceramah saya," ucapnya, sambil tersenyum tipis yang entah mengapa terasa seperti peringatan. Aku hanya bisa menunduk, menerima piring itu dengan kikuk.

"Jadi begini, Dens," Bu Ratih memulai, suaranya kini sedikit melambat, penuh penekanan. "Kamu di sini itu kan merantau. Jauh dari orang tua. Nah, saya di sini fungsinya seperti orang tua kedua. Jadi, kalau ada aturan, ya harus diikuti. Jangan sampai bikin masalah."

Aku mengangguk cepat, menyuap sesendok nasi goreng yang langsung terasa nikmat di lidah.

"Pertama, kebersihan. Kamar masing-masing itu tanggung jawab sendiri. Jangan sampai saya lihat ada sampah numpuk atau baju kotor berserakan. Saya ini anti sekali sama kotor. Kalau kamar mandi dan dapur, itu tanggung jawab bersama. Kalau sudah pakai, ya dibersihkan. Jangan cuma numpang lewat." Ia menunjuk ke arah kamar mandi dan dapur dengan sendok nasi gorengnya, seolah sedang memberikan komando militer.

"Kedua, jam malam. Pintu gerbang itu saya kunci jam sepuluh malam. Kalau mau pulang lewat dari itu, ya izin dulu. Jangan main nyelonong masuk saja. Apalagi kalau bawa teman menginap, wah, itu saya tidak suka sama sekali. Ini kos putra-putri, tidak bisa sembarangan."

Pipi dan telingaku terasa panas mendengar penekanan pada "kos putra-putri". Aku membayangkan kejadian semalam, saat mereka semua riuh nonton bola. Apakah aku melanggar aturan dengan menangis? Atau justru mereka yang melanggar jam malam? Aku mengamati ekspresi Bu Ratih, mencari petunjuk, tapi wajahnya tetap serius.

"Ketiga, listrik dan air. Pakai secukupnya. Jangan boros. Ingat, ini bukan rumahmu sendiri. Apalagi kalau malam-malam pakai AC sampai pagi, padahal cuaca tidak terlalu panas. Itu namanya buang-buang uang."

Bu Ratih melanjutkan, rentetan aturannya mengalir bagai air bah. Mulai dari larangan memelihara hewan, kewajiban membayar uang kos tepat waktu, sampai himbauan untuk bersosialisasi tapi tetap menjaga privasi. Aku hanya bisa mengangguk, sesekali bergumam "iya, Bu" saat ia memberi jeda untuk menarik napas.

"Intinya, saya di sini cuma mau anak-anak kos nyaman dan aman. Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita. Tapi jangan sampai masalah kecil jadi besar gara-gara tidak mau terbuka. Paham?" Ia menatapku intens, menunggu jawabanku.

"Paham, Bu," jawabku pelan.

"Bagus. Nah, sekarang makan yang banyak. Habiskan itu nasi gorengnya. Kamu kelihatan kurang gizi."

Baru saja aku hendak menyuap lagi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki riang dari lorong. Mei Lin muncul, rambut hitamnya diikat ekor kuda, mengenakan kaus oblong bergambar kartun dan celana pendek. Di belakangnya, adiknya, Li Hua, berjalan lebih tenang, memegang buku sketsa.

"Selamat pagi, Bu Ratih!" sapa Mei Lin ceria, langsung menuju meja makan dan mengambil piring. "Wah, nasi gorengnya sudah habis banyak, ya? Dens, kamu sudah sarapan?"

Aku mengangguk canggung, menatap Mei Lin yang sudah terlihat segar bugar, seolah tidak pernah bergadang semalam. Li Hua hanya tersenyum tipis padaku, lalu duduk di pojok, membuka buku sketsanya.

"Tentu saja sudah sarapan, Mei Lin. Bu Ratih kan sudah bilang, anak baru harus sarapan banyak biar kuat dengerin ceramah saya," Bu Ratih menimpali, melirikku dengan senyum tipis. Aku merasa pipiku kembali memanas.

"Hahaha, betul itu, Bu!" Mei Lin tertawa. "Dens, nanti kamu pasti cepat akrab kok sama Bu Ratih. Galaknya cuma di depan saja. Kalau sudah kenal, nanti malah dikira anak sendiri." Ia mengedipkan mata padaku, seolah ingin memberi kode bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku hanya menunduk, melanjutkan sarapan. Mendengar Mei Lin berbicara, aku merasakan sedikit kelegaan. Tapi omelan Bu Ratih tadi, meski diiringi nasi goreng lezat dan senyum tipis, tetap meninggalkan kesan mendalam. Aku merasa seperti baru saja menjalani ujian masuk yang ketat. Di tempat baru ini, bahkan untuk sekadar sarapan pun aku harus melewati serangkaian aturan dan omelan. Bagaimana aku bisa bertahan jika setiap hari akan seperti ini?

Bu Ratih mengambil secangkir teh, menyesapnya perlahan. Matanya menyapu sekeliling, lalu kembali padaku. "Oh ya, Dens. Karena kamu anak baru dan kamar nomor tujuh itu jarang sekali ada penghuninya, saya ada satu tugas khusus untukmu."

Jantungku berdebar. Tugas khusus? Apa lagi? Aku menatap Bu Ratih, menunggu dengan napas tertahan. Kali ini, ekspresinya tidak bisa kubaca. Apa yang akan datang setelah ini? Sebuah tantangan baru yang akan semakin menguji batasku di tempat asing ini? Atau justru... sesuatu yang jauh lebih berat?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED