Bab 1

Di sebuah hutan, dua puluh empat tahun lalu …

Senja pergi begitu tergesa. Awan kelabu membola pekat, menculik paksa semburat jingga dari langit sore. Gerimis datang perlahan. Sesekali, kilatan cahaya di hamparan langit menyibak kegelapan. Suasana memuram. Menyisakan kengerian, sekaligus ketegangan.

Terengah-engah, kedua lelaki berbadan tegap, berpakaian perang lengkap, dengan sederet luka menghiasi sekujur tubuh, terus berlari tanpa henti. Salah seorang lelaki membawa buntelan kain yang ia peluk erat dalam dekapannya. Rimbunan semak dan perdu mereka trabas tanpa menghiraukan ratusan duri yang akan membuat luka baru. Tak jauh di belakang, puluhan orang memburu mereka dengan senjata teracung.

Nyawa kedua lelaki itu tengah menjadi perlombaan untuk sesegera mungkin dihabisi. Siapa saja yang dapat memenggal kepala salah seorang, atau keduanya sekaligus, akan mendapat kenaikan jabatan. Dan hadiah semacam itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan.

Sambil masih terus berlari kencang, jantung kedua lelaki itu pun berdebar tak keruan. Derasnya guyuran keringat membaur pasrah dengan tetes hujan. Udara di ujung hari mendadak terasa begitu dingin. Seolah menjelma bagai ribuan jarum yang menusuk. Menghadirkan rasa sakit yang tak mungkin diabaikan. Tak langsung mematikan, namun membunuh perlahan.

Masih di dalam pelarian, mendadak, salah seorang lelaki menghentikan langkah kakinya. Pandangannya sekilas berpaling ke arah buntelan kain yang ia bawa. Rona kesedihan terpancar dari air mukanya. Dibukanya perlahan buntelan kain itu. Dan seketika, wajah mungil seorang bayi mencuat dalam dekapannya.

Sadar dengan tindakan yang diambil oleh sahabatnya, lelaki lainnya ikut menghentikan pergerakan.

“Ada apa?” lelaki itu bertanya. Raut ketegangan jelas tergambar di wajahnya. Perhatiannya lalu beralih ke arah belakang. Celingak-celinguk ia menerawang, cemas. “Kita tak boleh berhenti di sini. Mereka semua semakin dekat.”

“Aku sudah tak kuat lagi. Tolong, bawa anakku bersamamu,” salah seorang lelaki menyodorkan buntelan kain berisikan bayi kepada sahabatnya. “Pergilah, biar aku yang mengadang mereka.”

“Tidak! Aku tidak bisa.”

“Kau tidak bisa menolaknya. Hanya ini jalan satu-satunya yang kita miliki,” potong lelaki itu, memaksa. Sebulir darah mengalir jatuh dari pelipis kanannya. “Harus tetap ada yang bertahan di antara kita,” lanjutnya.

Lelaki lainnya mantap menggelengkan kepala. “Tidak! Kita harus tetap bersama. Kita tak boleh terpisah.”

Perihnya sederet luka yang menganga, terkikis habisnya tenaga, dan beberapa luka tusuk yang terus mengeluarkan darah segar, membuat tungkai-tungkai kaki lelaki itu tak kuat lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Ia tersungkur sambil terus memeluk buntelan kain berisikan bayi.

Melihat sahabatnya terjatuh, dengan sigap lelaki lainnya berusaha membantu. Ia memposisikan diri setengah berjongkok. “Sepertinya kau sudah tak mungkin lagi berjalan, biar aku yang menggendongmu.”

“Tidak usah. Bawalah saja anakku ini. Kumohon.” Sekali lagi, seorang bayi mungil yang berada dalam buntelan kain kembali disodorkan ke arah depan.

Lelaki penerima bayi itu tak dapat berkata apa pun lagi. Tak ada lagi kata-kata penolakan yang dapat ia ucapkan. Pasrah, ia pun menerima pemberian sahabatnya.

“Sembunyikan dia di tempat yang aman. Jaga ia agar terus bisa bertahan hidup.”

“Kita bisa melarikan diri bersama-sama,” lirih, lelaki itu bersuara.

“Tidak! Kau tidak akan kuat jika harus—”

“Kuat! Aku pasti kuat membawa kalian berdua.”

Lelaki dengan luka di sekujur tubuhnya itu tersenyum kecut. “Mungkin kau kuat, tapi pergerakanmu sudah pasti akan melambat. Kau seharusnya sadar betul siapa musuh kita. Walau dalam keadaan tidak terluka, kita belum tentu dapat mengimbangi mereka. Mereka ….” mati-matian, lelaki itu berusaha mengatur napas. Satu tangannya secara spontan bergerak memegangi bekas luka tusuk di bagian perut. Ia melenguh, menahan rasa nyeri yang terasa semakin menjadi-jadi. “Mereka … ditambah dengan keempat Jenderal keparat itu, sama saja bunuh diri jika melawan mereka semua.”

“Tapi ….” Buliran air mata tak dapat terbendung lagi. Tangis kegagalan menjadi penghias sempurna untuk suasana malam yang tengah memuram.

Dari celah kain yang sedikit terbuka, seorang bayi yang baru beberapa hari terlahir ke dunia merasakan lembut buliran air mata yang jatuh ke wajah mungilnya, bergerak perlahan menelusuri tubuhnya. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, ia terus tersenyum bahagia di tengah-tengah gerimis yang sedari tadi mengecupi wajahnya.

“Pergilah. Kumohon.”

“Tapi ….”

“Kumohon.”

Getir, sambil bangkit berdiri, lelaki itu sekuat tenaga menahan tangis. Ia dekap erat buntelan kain berisikan bayi dalam gendongannya. Dengan kucuran air mata, ia memandang nanar ke arah sahabatnya.

Tanpa perlu ada lagi kata di antara mereka berdua, sebuah salam perpisahan diantar oleh rintik gerimis yang terus berjatuhan. Lelaki dengan sederet luka di sekujur tubuhnya itu tersenyum hangat ke anak semata wayang, dan satu-satunya sahabatnya yang tersisa.

Akhirnya, derap langkah seorang lelaki yang sejatinya tak ingin meninggalkan kawannya sendiri harus terjadi. Ia dihadapkan pada pilihan yang teramat sulit. Di situasi genting semacam ini, tak mungkin baginya berlama-lama untuk bernegosiasi. Keadaan mengharuskannya mengabaikan hati nurani. Jika ia tak segera melarikan diri, maka benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, tak akan ada lagi yang tersisa di antara mereka. Kisah perjuangan mereka akan pasti berakhir dengan akhir yang tragis.

Sambil memandang nanar ke arah punggung sahabatnya, lelaki itu berkata lembut kepada buah hatinya yang semakin dibawa jauh dari sisinya. Selamat tinggal, anakku. Dengan cerih-cerih tenaga yang sudah tak seberapa, ia pun berusaha bangkit berdiri.

Lelaki itu lalu membalikkan badan, bersiap kembali memulai pertarungan. Kedua tangannya kuat mengepal. Ini akan menjadi pertarungan terakhirku, batinnya menegaskan. Tak berselang lama, puluhan orang dengan senjata di tangan telah berada di dekatnya.

Menyaksikan banyaknya musuh di depan mata, lelaki itu justru menyeringai bak pemangsa. “Majulah, kalian semua!” serunya lantang.

Di bawah guyuran sinar purnama, di atas hamparan bukit, seorang lelaki berambut panjang, mengenakan jubah putih, berdiri tegap menatap langit malam yang terang benderang. Kedua tangannya bertaut di belakang pinggang. Kedua bola matanya tetap awas mengamati riak air yang keberadaannya tak begitu jauh di depan.

“Tuan.” Seorang prajurit bertubuh kurus bergegas berlutut. Air mukanya memperlihatkan raut kepanikan.

“Apa anak itu sudah lahir?”

“Su—sudah, Tuan.”

“Lalu apa yang kau lakukan bersama dengan anak buahmu?”

Prajurit itu terdiam. Bingung harus menjawab apa.

Lelaki itu menoleh ke arah prajurit yang masih berlutut di dekatnya. “Berdirilah,” perintahnya.

Air muka prajurit itu pucat pasi. Meski ragu, perlahan ia mulai bangkit berdiri. “Ma—maafkan aku, Tuan. Aku sadar, aku sudah berbuat salah. Maafkan aku,” pinta prajurit muda itu. Penuh dengan ketidakyakinan, dan terselimuti rapat ketakutan.

“Kau tak perlu merasa bersalah. Semua ini sudah berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan.”

“Benarkah itu, Tuan?”

Lelaki itu mengangguk. Tersenyum tipis.

Pelan-pelan, prajurit muda itu lalu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, melihat wajah Tuannya. Tak ada raut kemarahan di sana. Sebersit senyum seketika tergambar. Kepanikan yang sempat hinggap seketika lenyap.

“Pergilah,” ucap lelaki itu seraya tersenyum.

“Terima kasih, Tuan.” Prajurit itu berbalik. Bersiap pergi.

Sambil menyunggingkan senyum simpul, prajurit yang baru beberapa hari menjalankan tugasnya itu akhirnya menjauh dari tempat keberadaan Tuannya. Langkahnya ringan. Kelegaan tergambar jelas di setiap embusan napasnya. Tapi tunggu, tepat setelah batinnya bersuara, langkah kakinya sejenak tertunda. Kenapa bayi itu dibiarkan hidup? Bukankah seharusnya bayi itu dihabisi?

“Ada apa prajurit?” tanya lelaki berambut panjang. Melihat ada gelagat tak baik yang kentara dari seorang prajurit di depannya.

Merasa telah melakukan tindakan yang keliru, prajurit itu buru-buru menoleh ke belakang. “Ti—tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa. Saya permisi,” katanya, disisipi cengiran lebar. Langkah kakinya pun kembali berlanjut.

Sambil memandangi punggung prajurit yang mulai menghilang di dalam kegelapan malam, seorang lelaki dengan kedua tangan yang masih bertaut di belakang pinggang menyunggingkan senyum lebar. Bagus, rencanaku berjalan sempurna.

Bab 2

Sebuah cangkir perak tergenggam erat di tangan seorang lelaki berpakaian perang lengkap. Riak air dalam cangkir itu terlihat bergerak cepat, tak teratur. Ada sebongkah amarah yang kapan saja siap meledak.

“Bagaimana bisa kedua cecunguk itu kabur?” tukas lelaki itu, galak.

“Sa—saya tidak tahu. Maafkan saya, Tuan.” Sambil berlutut, seorang prajurit yang sudah kepayahan dengan sederet luka di sekujur tubuhnya berkata dengan suara bergetar. Keringat dingin bercucuran. Batinnya jelas tengah dilanda ketakutan.

Lelaki itu mengeram. Kedua matanya membelalak. “Dasar bodoh!”

Bentakan itu tepat menghunjam ke sasaran. Prajurit itu semakin ketakutan. Buliran keringat kali ini meluncur deras, jatuh bebas ke tanah.

“Hanya membunuh kedua pengkhianat saja kalian tak sanggup! Kalian semua sungguh memalukan!” cangkir perak itu akhirnya diremas kuat-kuat. Isinya berhamburan keluar. Dan dalam sekejap, cangkir perak itu penyok, tak lagi berbentuk.

Dua utas tali berwarna merah menyala di atas meja tiba-tiba bergerak cepat. Melesat ke arah seorang prajurit yang masih berlutut ketakutan. Mulut prajurit itu menganga dengan sendirinya. Dan dengan kecepatan yang luar biasa, kedua utas tali itu masuk ke dalam rongga mulut dengan leluasa. Sebuah erangan keras terdengar. Darah segar menyembur keluar.

Hanya dalam hitungan detik, kedua tali itu keluar kembali, bersamaan dengan semburan darah yang mulai terhenti. Tubuh prajurit itu melunglai bagai daun layu. Dan sesaat kemudian, ia tergeletak pasrah, tak lagi bernyawa.

Beberapa lelaki yang menyaksikan kejadian itu tertawa terbahak-bahak. Menikmati pembantaian layaknya sebuah pertunjukan.

Dari arah pintu, seorang prajurit lainnya bergegas masuk ke dalam ruangan semi permanen berbahan dasar bambu. Kedua bola matanya langsung membelalak ketika ia dapati tubuh temannya telah terbujur lesu tak bernyawa. Darah berceceran di mana-mana. Getir, ia pun menandaskan ludahnya.

“Ada berita apa?” lelaki berpakaian perang lengkap itu bertanya.

Prajurit itu tersadar dari lamunan. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya, menghadap ke arah Tuannya. “Agni telah ditemukan, Tuan. Dia telah berhasil dibunuh."

“Bagaimana dengan Yama?”

Prajurit itu tak langsung menjawab. Ada jeda panjang yang kembali memicu amarah.

“Jawab!”

“Ma—maafkan saya, Tuan. Yama masih belum bisa kami temukan, tetapi kami masih terus berusaha untuk mencari. Seluruh prajurit saat ini sedang melakukan pencarian di setiap wilayah desa.”

“Cepat temukan dia! Aku tak mau ada yang tersisa. Jika sampai matahari terbit dan masih tak kudengar kabar kematian Yama, maka kau akan bernasib sama dengan temanmu itu.”

Ancaman itu meneror telak. Tubuh prajurit itu seketika basah kuyup terguyur peluh. Rasa takut yang teramat besar kini melahap satu per satu degup jantungnya. Menciutkan nyalinya.

"Tunggu apa lagi, Bodoh!" hardik lelaki itu.

"Ma—maafkan saya, Tuan. Saya pamit."

Malam semakin gelap di luar sana. Namun tak sedetik pun penglihatannya terlepas dari jendela rumahnya. Tak ada bulan, bintang, atau penghias langit lainnya. Hanya mendung yang terus menghiasi, dan sesekali cahaya kilat menampakkan diri.

Seketika, seorang perempuan yang tengah menunggu kepulangan suaminya terkesiap dengan sesuatu yang mengusik penglihatannya. Dibukanya cepat pintu kayu bermotif ukiran bunga itu.

“Kenapa kau baru pulang? Bukankah kau bilang, kalau di pagi hari kau sudah akan sampai di rumah? Kenapa?” pertanyaan perempuan itu menggantung di udara. Kedua bola matanya membundar lebar. Ada kejanggalan mengerikan yang tak sengaja ia temukan. “Kenapa pakaianmu berlumuran darah?”

Seorang lelaki yang baru saja menapakkan kaki di lantai rumahnya hanya bisa terdiam ketika menerima sepaket pertanyaan. Mulutnya terasa kelu untuk mengucap kata. Ia terlalu enggan untuk bersuara. Nanar, lelaki itu hanya menatap lirih ke arah istrinya. Dibukanya segera kain penutup berwarna biru tua yang menutupi barang bawaannya.

Setelah melonggokkan kepala, sontak sang istri terperanjat ketika mendapati barang bawaan suaminya adalah seorang bayi yang masih berwarna merah muda. Tanpa tersadar, kedua kakinya pun bergerak mundur beberapa langkah ke belakang. “Ba—bayi siapa itu?” tanya sang istri, terbata.

Tak menghiraukan semua pertanyaan yang deras menghujaninya, lelaki itu segera beringsut pergi dari hadapan istrinya. Masuk ke dalam rumah.

“Apa yang sudah terjadi?” tanya sang istri kembali, sembari mengikuti langkah kaki suaminya.

“Semua tidak berjalan dengan semestinya. Kami telah dikhianati. Kami telah diperdaya dan diperalat.”

“Oleh siapa?”

“Empat Jenderal busuk, dan seluruh sekutunya.”

Kali ini sang istri terlonjak kaget, langkah kakinya sekejap terhenti. Baru semalam ia bermimpi menyambut kedatangan suaminya dengan barisan makanan kesukaan dan sepaket hangat topik pembicaraan menyenangkan. Ia akan bertutur tiada henti, membicarakan perkembangan buah hati yang amat mereka cintai. Mimpi itu begitu indah, sampai-sampai ia tak ingin bangun dari tidurnya. Tetapi di hari ini semuanya berbanding terbalik. Ia benar-benar mendapat kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan.

“Kita harus bergegas.”

“Ke mana?”

Lelaki itu tampak berpikir keras. “Kembali ke tempat asalku. Cepat, bangunkan anak kita.”

Desa Jamahitpa, dua puluh tahun lalu ….

Kedua mata perempuan itu tak beranjak dari sesosok bayi cantik yang baru beberapa hari dilahirkannya. Ia usap lembut rambut anaknya. Ia cium kening dan pipi malaikat kecilnya. Ada perasaan bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.

“Putri kita sangat mirip denganmu,” seorang lelaki yang tengah berdiri di daun pintu berkata. Sudah sedari tadi ia berada dalam posisi yang sama, hanya mengamati. Tak lama ia pun memberanikan diri mendekati anak dan istrinya, yang tengah bergumul mesra dengan hangatnya mentari pagi di teras depan rumah mereka.

Perempuan itu termangu, memilih tak menanggapi perkataan suaminya. Suasana hatinya secepat kilat berubah. Amarah membuncah, dan kekesalan membeludak. Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi, kehadiran sesosok lelaki yang kini telah berada di dekatnya adalah hal yang paling tak diinginkannya.

Sadar dengan situasi yang tak berpihak, lelaki itu menghela napas. “Maafkan aku,” ucapnya pelan. Terdengar penuh penyesalan.

Perempuan itu tetap dalam ekspresi yang sama. Terdiam membisu di tempatnya.

Merasa harus bertindak lebih jauh, lelaki itu memilih untuk berlutut di hadapan istrinya. “Aku sadar betul, aku telah berbuat salah kepadamu,” katanya. “Sudah hampir sembilan bulan lebih kau menaruh rasa benci terhadapku. Tak pernah sekalipun bibirmu mengucapkan kata kepadaku. Apa tak ada secelah saja pintu maafmu terbuka untukku?”

Keheningan masih setia menggantung di bibir mungil perempuan itu. Rasa benci memang masih tertanam kuat di hatinya. Entah sampai kapan rasa benci itu menetap, ia masih tak tahu.

Sudah sembilan bulan lamanya lelaki di hadapannya mengurus dirinya dengan kasih sayang yang luar biasa, namun ia tak pernah meminta. Jika bukan karena lelaki itu menghamili paksa dirinya, sudah pasti tak mungkin ia mau tinggal bersama.

“Tolong. Beritahu aku. Beritahu aku bagaimana cara menebus dosaku,” kata lelaki itu, lirih. Kepalanya tertunduk lesu. “Aku tahu kau tak pernah mencintaiku. Bahkan, kau mungkin sangat membenciku. Tapi asalkan kau tahu, aku sangat menyayangimu. Begitu menyayangimu. Aku bahkan siap mati demi—”

Perempuan itu membelalakkan mata, memekik histeris. Semburan darah dari mulut suaminya menodai sebagian wajahnya.

Seorang pria separuh baya yang mendengar langsung suara jeritan itu bergegas mencari sumber suara. Sontak, ia ikut membelalakkan mata. Di ujung penglihatan, ia dapati sebuah anak panah menembus punggung menantunya.

Bersimbah darah, tubuh lelaki malang itu terkulai ke arah depan. Terlihat seolah tengah memeluk istri dan anaknya.

“Siapa yang melakukan ini?” pria itu berseru. Ia lalu beringsut cepat mendekat ke arah tubuh menantunya. Sorot matanya memindai sebuah anak panah yang serasa tak asing di ingatannya. “Ini … anak panah ini ….” tangan pria itu terjulur, meraih secarik kertas yang menempel di anak panah yang telah berlumuran darah. Dibukanya hati-hati kertas itu. “Biadab!” makinya. “Kita harus berlindung segera,” pria itu berseru kalap kepada anak perempuannya.

Bab 3

Tak ada seorang pun tahu bagaimana perasaannya di hari ini. Jiwanya terkekang oleh rasa yang tak sama, yang terus bersemayam di dalam dirinya. Seakan saling tak sejalan, dan saling menikam tanpa belas kasihan.

Di dalam kamarnya, sembari memandangi cermin berbentuk persegi panjang besar miliknya—yang terpasang dengan kokoh di dinding kamarnya—Marcapada terus bertanya kepada sisi lain di dalam dirinya. Apakah aku harus mengikuti takdir yang telah digariskan? Atau aku harus mengikuti kata hatiku yang tak sejalan?

Pintu kamar yang sedikit terbuka tiba-tiba diketuk dari luar. Suara ketukan itu memecah kesunyian yang sedari tadi menyelimuti. Membuyarkan lamunan.

“Apa kau akan berdiam di sana seharian?” tanpa pernah diundang, Rea datang ke kamar anaknya. Mendapati tingkah laku anak sulungnya yang terus menatap cermin dan tak lekas beranjak dari sana. “Sudah saatnya, Marca. Semua orang telah berkumpul. Bukankah hari ini adalah hari yang kau tunggu?”

Marca terpegun lama, memilih untuk tetap bergeming. Terasa enggan walau hanya untuk menolehkan wajahnya. Pandangannya tetap lurus ke depan. Menatap cermin. Ia malas harus meladeni ocehan perempuan separuh baya yang telah berdiri tepat di depan pintu kamarnya, mengenakan gaun panjang berwarna hitam dengan polesan makeup menyeramkan. Sebenarnya perempuan itu masih terlihat cantik meski usianya hampir memasuki kepala lima, namun bagi Marca, perempuan itu tetap menyeramkan, bagaimanapun keadaannya.

“Aku tak pernah menunggu hari ini,” Marca menjawab pertanyaan Rea dengan suara datar. Lebih datar dari tanah makam yang telah diratakan.

Ibu? Bukan. Dia adalah perempuan yang telah hadir tanpa diundang. Dia adalah perempuan yang dengan seenaknya mengusik kehangatan sebuah keluarga. Membuat semuanya runyam. Memisahkan dua sejoli yang saling mencintai. Dia adalah racun yang membuat kehidupan Marca seakan terbelenggu oleh kegelapan yang begitu pekat, begitu menakutkan. Perempuan itu adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.

Di malam itu, ketika tetesan air hujan mendarat cepat ke bumi. Menimbulkan suara bising yang tak nyaman didengar. Ketika cahaya dari langit tiba-tiba memancar tanpa aba-aba, dan membawa serta suara gemuruh guntur yang membengkakkan telinga. Tatkala Marca masih menikmati masa-masa bermainnya sebagai anak-anak, orangtuanya bertengkar begitu hebatnya. Lontaran cacian dan makian terus ia dengar di setiap detik waktu yang ada.

Marca melihat dengan mata kepalanya sendiri, ibunya tersungkur jatuh di lantai ruang keluarga rumah mereka. Menangis tersedu-sedu sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan ayahnya.

Tak seharusnya Marca melihat semua itu, namun suara bising pertengkaran mereka membuat Marca yang tengah asyik bermain di dalam kamar tiba-tiba beringsut dengan sendirinya. Membuka perlahan pintu kamar, dan dengan hati-hati mengintip dari balik pintu.

Entah apa penyebab pertengkaran hebat itu, Marca tak pernah tahu. Yang ia tahu, setelah pertengkaran hebat di malam itu ibunya tak pernah lagi terlihat. Di pagi hari, di kala Marca terbangun dari tidurnya, ibunya sudah tak ada. Ia terus berusaha mencari, ke mana-mana, ke setiap sudut desa, ke segala tempat yang terpikirkan olehnya, berhari-hari, berbulan-bulan, tapi tak pernah sekalipun ia temukan. Ibunya hilang bagaikan ditelan bumi. Tak ada tanda, atau petunjuk apa pun. Benar-benar menghilang tanpa jejak.

Tak lama setelah ibu Marca pergi, perempuan menyeramkan itu datang. Tersenyum manis menatap Marca. Senyuman itu seakan tulus membawa kebahagiaan dan kedamaian ikut serta dengannya. Semua orang merasakannya. Mereka bersikap hangat, menyambut perempuan itu bak juru selamat. Namun dari banyaknya orang yang menyambut Rea, hanya Marca yang bersikap berbeda. Baginya, senyuman Rea adalah awal mula dari semua kegelapan yang akan terus menghantui kehidupannya.

“Jangan bodoh, Marca! Kubur impian bodohmu itu dalam-dalam! Kau tak akan bisa melawan takdir yang sudah digariskan untukmu,” tukas Rea. Meski tak terucap, ia tahu betul hal apa yang dipikirkan oleh anak sulungnya.

Bayangan di cermin itu kini lenyap. Marca beranjak dari tempatnya, menghampiri ibu tirinya. “Aku tahu, aku tak akan pernah bisa melawan takdir. Tapi jika boleh memilih, maka aku akan lebih memilih untuk mengikuti kata hatiku.”

“Sudahlah. Aku tak ingin berdebat. Cepat persiapkan dirimu, sudah saatnya, pertarungan akan segera dimulai,” sahut Rea. Tergesa, ia langkahkan kedua kakinya, pergi meninggalkan kamar Marca. Jaraknya dengan Marca yang hanya terpaut satu langkah sungguh membuatnya jengah. Hadirnya Marca tepat di hadapannya mendatangkan berbagai macam perasaan yang tak dapat ia jabarkan.

Dari sudut pandangnya, Marcapada—anak sulungnya—kini telah berubah tak seperti dulu, anak laki-laki cengeng yang hanya bisa menangis ketika dimarahi. Benar-benar berubah. Kini Marca lebih terlihat gagah, berbadan kekar, tinggi menjulang. Otot-otot hasil latihan selama bertahun-tahun terlihat jelas. Marca bermetamorfosis menjadi laki-laki mengagumkan. Rambut hitam kecokelatan yang panjangnya hampir sebahu dikucir satu di bagian belakang, bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya, alis hitam lebat yang menaungi kedua matanya, hidung mancung, dan garis rahang yang tegas, membuatnya tampak memesona di mata semua orang.

Tak bisa dipungkiri, walau Marca tak pernah sekalipun memedulikan penampilannya, tetap saja tak ada satu pun perempuan yang tak menoleh ke arahnya ketika ia sedang berjalan menelusuri jalanan desa. Semua mata seakan terpusat ke satu arah. Banyak perempuan menaruh hati kepada Marca. Dan untuk Rea, meski Marca bukan berasal dari rahimnya, ia tetap menganggap Marca segalanya. Dalam diri Marca, Rea selalu melihat sesosok wujud laki-laki yang dulu teramat sangat dicintainya.

Jamahitpa, satu-satunya desa yang terisolir dari luasnya daerah sebuah kerajaan besar. Terletak di tepian pulau, Jamahitpa hampir dilupakan banyak orang. Dikelilingi oleh hutan gelap yang paling ditakuti untuk dimasuki, dan jembatan tua penuh misteri yang tak mungkin lagi dilewati, membuat tak ada satu pun akses untuk masuk maupun keluar dari sana.

Untuk hutan gelap nan mengerikan yang mengelilingi desa, semua orang sepakat menamai hutan tersebut dengan julukan “Hutan Terlarang”. Sejak dahulu kala, Hutan Terlarang sama sekali tak boleh dimasuki. Diceritakan, bahwa di dalam hutan sana, ada makhluk mengerikan yang hobi memakan manusia. Sehingga siapa saja yang nekat berkunjung ke dalam Hutan Terlarang, maka dikabarkan bahwa ia tak akan pernah bisa kembali.

Sementara itu, untuk jembatan tua, banyak orang menjulukinya dengan berbagai sebutan berbeda. Namun, “Jembatan Pertemuan” adalah julukan yang paling sering diucapkan. Menurut cerita dari para orang tua, alasan dicetuskannya julukan “Jembatan Pertemuan” itu lantaran jembatan yang telah dibangun beratus-ratus tahun lamanya pernah digunakan sebagai tempat bertemu antara kedua sosok penting pendiri kerajaan.

Di sana, mereka berdua tak hanya sekedar melakukan pertemuan biasa, lebih dari itu. Mereka melakukan pertarungan sengit yang berlangsung berhari-hari. Dampak dari pertarungan keduanya adalah jembatan megah nan kokoh yang tak lagi bisa dilewati karena tertelan bulat-bulat oleh kabut pekat.

Banyak yang mengira, kalau gumpalan kabut yang menyelimuti Jembatan Pertemuan adalah hasil benturan kekuatan dahsyat dari kedua pendiri kerajaan. Tak pernah ada yang tahu, hal mengerikan apa yang saat ini bersemayam di dalam sana. Yang pasti, setiap orang yang mencoba melintasi Jembatan Pertemuan selalu tak diberitakan kembali.

Terakhir kali ada seorang lelaki yang nekat melewati Jembatan Pertemuan. Lelaki itu dengan gagah berani masuk ke dalam pekatnya kabut. Namun, baru beberapa detik waktu berjalan, terdengar suara teriakan. Semua orang bergidik ngeri ketika menyaksikan hal itu terjadi.

Di sisi lain, dari dalam desa, seluas pandangan mata ditebarkan, tembok-tembok batu berlumut hijau—menjulang tinggi, menusuk langit—menjadi objek utama yang paling banyak menyeruak di penglihatan. Awalnya tembok batu dibangun bertujuan untuk menghalau bahaya dari luar, tetapi pada kenyataannya, tembok-tembok batu itulah yang menjelma sebagai penjara sebenarnya bagi semua orang. Berpuluh-puluh tahun sudah desa Jamahitpa terkungkung dalam impitan tembok batu.

Di sudut berbeda, di mana tembok batu tak lagi menunjukkan pesona kengeriannya, sebuah tebing curam terpampang, lengkap dengan derasnya ombak laut dan runcingnya batu karang.

Desa Jamahitpa seakan benar-benar menjadi penjara bagi para penghuninya. Hanya mereka yang telah benar-benar bosan dalam menjalani kehidupan, atau mereka yang telah benar-benar gila, yang akan sudi keluar dari pintu gerbang atau terjun dari tepian tebing curam.

Akan tetapi, tak semua kisah tentang desa Jamahitpa semenakutkan seperti yang diceritakan di awal. Bagi mereka yang dapat membuka mata lebar-lebar, melihat sisi lain pada sebuah kehidupan, akan banyak hal baik yang patut untuk disyukuri.

Kekayaan alam yang melimpah adalah salah satunya. Untuk urusan pangan para penduduk desa Jamahitpa tak perlu lagi pusing-pusing memikirkan. Semua yang mereka butuhkan tersedia. Beraneka macam sayur, buah, bahkan hewan-hewan pemakan tumbuhan—berdaging tebal—sudah dapat mereka nikmati tanpa harus bersusah payah.

Ditambah lagi, sebuah mata air yang tak pernah kering menjadi sumber kehidupan utama bagi warga desa. Dan karena saking bergantungnya kepada mata air tersebut, ritual penghormatan khusus pun dilakukan setiap tahunnya. Sebuah perayaan besar-besaran.

Dan di hari ini, bertepatan dengan perayaan sumber mata air di desa mereka, digelar sebuah perhelatan pertarungan besar yang telah dinanti-nantikan selama bertahun-tahun lamanya. Sebuah pertarungan yang akan melibatkan seluruh pemuda yang ada di desa.

Dua puluh tahun lalu, datang sebuah perintah dari Istana Kerajaan. Setiap desa diwajibkan menyiapkan para petarung terhebat mereka. Bukan untuk saat itu, melainkan dua puluh tahun yang akan datang. Sudah pasti yang dimaksud pihak Istana adalah anak-anak kecil yang saat itu masih menikmati masa-masa bermain mereka.

Tepat setelah datangnya perintah dari Istana, kehidupan anak-anak kecil di desa Jamahitpa tak pernah lagi sama. Tak ada lagi masa-masa menyenangkan ketika bermain dengan teman sebaya. Mereka dipaksa berlatih fisik sedari kecil, dituntut untuk menguasai teknik bela diri sedini mungkin.

Tak jarang, di masa-masa itu, untuk menguji kekuatan, para anak laki-laki kerap saling dipertemukan. Mereka diadu satu sama lain. Tak ada aturan yang dilanggar. Hanya saja, jika dalam pertarungan terlihat salah satu anak ada yang sudah mulai kewalahan, tak berdaya, maka harus secepatnya diselamatkan. Tak boleh ada anak kecil yang mati dalam sebuah pertarungan. Jika hal itu terjadi, maka orangtuanyalah yang harus menanggung hukuman.

Dan kini, saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Di tengah-tengah desa, kerumunan manusia telah mengepung lingkaran arena tempat berlangsungnya pertarungan. Para peserta telah lengkap, Marcapada ada di antara mereka. Di antara barisan pemuda yang telah berlatih keras selama bertahun-tahun lamanya.

“Para hadirin yang terhormat. Sebentar lagi, kita akan menyaksikan para penerus kita, anak-anak kita, akan menunjukkan kemampuan terbaik mereka,” seorang pria separuh baya berseru lantang di tengah-tengah arena.

“Di sinilah, di tempat inilah, semuanya akan terjawab. Kita akan tahu, siapa saja di antara mereka yang pantas menjadi seorang Penjaga, yang akan melindungi desa kita dari segala serangan yang tak terduga, dan akan menegaskan kekuatan desa kita kepada dunia.” Dengan semangat membara, pria separuh baya bertubuh gempal dengan berbagai bekas luka di tubuhnya itu memandang semua peserta dengan tatapan tak biasa. Tatapan seekor pemangsa kepada buruannya. “Apakah kalian semua telah siap untuk bertarung?” lantang, pertanyaan itu pun dikumandangkan.

“Siap!” semua peserta menjawab serempak.

Inilah hari yang benar-benar mereka tunggu. Hari pembuktian. Hari yang akan menentukan derajat mereka di desa, apakah akan menjadi Penjaga atau akan menjadi pemuda biasa. Semuanya bersemangat ingin menjadi yang terhebat. Akan tetapi tak semua benar-benar memiliki keinginan sama, ada satu yang berbeda, Marcapada.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED