Cuaca Perth begitu menusuk Verena rasanya ingin terbang kembali ke Frankfurt atau minimal ke Indonesia di rumah neneknya merasakan panas sedikit, lelah, mengantuk, lapar, dingin. Ini benar-benar menyiksa.
Mereka dijemput David di bandara. Orang tuanya saling bersalaman karena yang antusias hanya Rara. Tidak dengan Rara selamanya ia akan menganggap David musuh bebuyutan masih teringat dengan jelas pengkhianatan itu dan dengan lancangnya David dan Rara berciuman di depannya dahulu dan itu tak bisa ditolerir sampai sekarang walau balasan untuk istrinya lebih menyakitkan. Harusnya mereka sama-sama melupakan masa lalu anak-anak mereka juga sudah besar.
"Kelsea bukan? Udah besar ya."
"Enak aja! Aku Verena. Om-om pasti ngantuk ya." elak Verena saat David salah mengenal dirinya. Jika rekan orang tuanya lebih kenal Kelsea dibanding dirinya, huh tidak adil sama sekali.
"Okay Verena." David tersenyum. Verena menelan ludahnya, gila nih bapak-bapak kenapa makin tua makin menggoda.
Verena merapatkan jaket yang ia pakai dan melihat ke orang tuanya dan David yang terlihat begitu ramah.
David mengangkat koper Verena dan memasukan dalam bagasi. Semua hal itu lantas tak lepas dari pandangan Verena, entah kenapa produk tua ini begitu menarik perhatiannya. Verena memang dekat dengan ayahnya dan ingin mendapatkan laki-laki seperti ayahnya dan saat berjumpa dengan teman ayahnya ia seperti menemukan cinta yang lain.
"Verena duduk di depan." Verena tersenyum cerah dan langsung menggosok tangannya masuk ke dalam mobil David. Gadis itu melirik arah laki-laki di sampingnya.
"Istri Om, sakit?" David menoleh ke sampingnya dan hanya tersenyum sekilas.
"Om punya dimple dan itu keren. Om udah tua tapi masih gagah." puji Verena tanpa peduli dengan perasaan David yang tengah berduka apalagi orang tuanya. Rasanya Rara ingin mencubit ginjal anaknya hingga lepas. Verena benar-benar produk Gerald pantas saja mereka dekat, mulutnya sama-sama jahat tanpa peduli perasaan orang lain entah tersinggung atau tidak.
Verena melihat ke belakang ayahnya yang tertidur di bahu istrinya. "Oh aku tahu, sepertinya Om lebih tampan dan gagah dari Daddy. Apa mungkin Daddy banyak anak ya? Om nggak punya anak kan? Yes, nggak punya anak bikin awet muda."
"Verena!" Rara langsung melotot tapi Verena hanya menampilkan wajah tak berdosa sama sekali.
"Om mau? Ini roti dari pesawat tapi belum dimakan." tawar Verena, David melihat sekilas dan menolak dengan sopan. Verena makin terkagum-kagum dengan laki-laki ini sudah tampan, gagah, kuat, perkasa, sopan dan sepertinya sangat menghargai wanita.
"Ini kalian mau ke rumah sakit atau ke flat istirahat dulu?" David melihat dari kaca dan bertanya sopan pada Rara.
"Aku flat aja Om. Capek bangat, tulangku remuk semuanya, nanti aku menopause duluan kalau nggak tidur." Verena menjawab tak tahu malu. Rara rasanya ingin mencakar tanah dan memasukan lagi Verena dalam perutnya, produk Gerald ajaib satu ini.
"Boleh ke rumah sakit dulu." Rara menjawab dengan sopan. David itu laki-laki sopan dan sangat menghargai wanita, beruntung sekali wanita yang mendapatkannya.
"Antar aku dulu Om. Aku mau tidur." Verena minta tak tahu malu. Karena mereka adalah tamu jauh maka David menurut pergi ke flat miliknya yang sudah ditinggalkan beberapa bulan karena istrinya sakit dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
"Kami tunggu di mobil aja ya." Rara meminta dengan sopan. Hanya Verena dan David yang turun. David langsung menarik koper Verena. Rara hanya bisa geleng-geleng, memang menyusahkan anak satu ini entah apalagi yang akan ia repotkan besok.
David mengeret koper Verena menuju lantai lima dan biasanya sudah malam maka lift tidak bisa digunakan hanya menggunakan tangga manual.
"Aku digendong aja boleh nggak, Om? Udah nggak kuat." Verena terduduk di lantai 3 dengan napas hampir putus. Tubuhnya lelah dan sekarang harus manjat lagi.
"Ayo!" ajak David, Verena menggeleng dan sudah duduk lesehan di bawah sambil menselonjorkan kakinya. David langsung membawa koper ke flat dan berharap Verena menyusulnya.
Tapi saat menunggu dan gadis itu tak mengikuti David turun kembali dan melihat Verena tertidur di bersandar di tembok sudah tak sadarkan diri. Benar-benar anak ini. Bukan mau kurang ajar, tapi akhirnya David mengangkat Verena dan mengendong gadis itu menuju flat.
Verena tidak tertidur sebenarnya ia sengaja agar modus bagaimana rasanya digendong laki-laki, apalagi lelaki tampan dan gagah seperti David. Walau sudah tua, aroma tubuh David begitu maskulin dan menggoda dengan aroma kayu-kayuan.
Verena memeluk leher David dan tersenyum. Ah menyenangkan sekali.
"Om, nikahi aku aja. Aku masih single, Om perkasa sekali pasti di ranjang." goda Verena. Membuat David ingin membuang gadis ini, tapi pelukan Verena di lehernya begitu ketat.
"Kita akan punya banyak anak, lebih banyak dari Mommy dan Daddy." bisik Verena lagi.
David menggeleng. "Jet lag membuat dia gila!" guman David.
"Kau akan bersamaku Pak Tua!" tegas Verena dan hari-harinya ia habiskan untuk menggoda David paman yang seharusnya jadi ayahnya.
Verena bangun dengan keadaan lebih segar dan lebih baik dari semalam karena jet lag parah.
Gadis itu melihat keadaan sekeliling dan baru ingat ia tengah berada di belahan dunia lain. Dengan langkah pelan Verena turun dari ranjang dan hendak membuka pintu mencari orang tuanya dan juga Om Tampan—Calon Suami Masa Depan. Begitu lengkap. Verena tak tahu jika orang tuanya punya rekan yang begitu tampan. Gadis itu terkikik geli dan akan terus menggoda David hingga laki-laki itu jadi suaminya walau mungkin dunia terbalik.
"Selamat pagi dunia. Selamat pagi kamar masa depan. Nanti kita akan terbangun tanpa pakaian dan bercinta di semua sudut rumah."
Merasa seperti rumahnya, Verena langsung menuju dapur dan ingin membuat sarapan, ia yakin Om Tampan takkan marah jika ia membuat sarapan sendiri daripada ia menyusahkan dirinya.
Gadis itu sempat melihat keadaan flat ini, rumahnya di Jerman tiga kali lipat lebih besar dari ini, mungkin karena ia punya banyak saudara hingga orang tuanya membeli rumah yang besar.
Verena melihat mesin pembuat kopi dan langsung menghidupkan. Buat toast rasanya lebih baik. Gadis itu membuka kulkas dan semua kitchen set tapi tak menemukan apa-apa. Berapa lama rumah ini ditinggal?
Verena mendesah lelah masuk lagi ke kamar dan mencuci muka terlebih dan sikat gigi. Musim dingin adalah waktu terbaik buat memanjakan diri karena sesungguhnya Verena malas mandi. Ia berdalih. "Air itu susah, hargai penghuni manusia lain yang kekurangan air. Jadi aku bersimpati pada mereka dengan menghemat air jadi tak boleh mandi." Alasan mengada-ada yang membuat Rara hanya bisa geleng-geleng dan berkata. "Kalau gitu nggak usah makan juga. Sama karena ada orang yang kelaparan, dan juga buat apa makan jika nanti lapar lagi?"
Verena merasa lebih segar, menggerakan tubuhnya sedikit dan berkaca lagi. Tentu saja wajahnya masih cantik, ia orang yang cukup percaya diri dengan penampilannya. Verena adalah orang yang benar-benar membawa positive vibes. Ia tak pernah berpikiran buruk pada orang.
Verena mengambil ponselnya dan ingin menelpon orang tuanya, ia baru tersadar jika tak ada sambungan internet karena hilang jaringan. Bayangkan ia melewati ratusan negara, puluhan ribu pulau, beberapa benua.
Verena akhirnya keluar lagi. Semoga orang tuanya masih mengingat dirinya hingga ia tidak mati kelaparan di sini.
Karena bosan Verena melihat penyedot debu dan rajinnya kambuh. Verena adalah model orang yang rajinnya pakai musim, jika sedang masa rajin maka ia akan merapikan semuanya hingga tak ada satupun helai rambut tapi jika ia sedang malas bahkan sampah di depannya ia biarkan hingga ibunya sering mengamuk.
Verena menyedot dari karpet di depan TV, ia juga menyedot di bawah sofa semua sudut ia bersihkan sambil menggoyangkan pinggulnya seperti lagu dangdut walau yang ia nyanyikan lagu latin. Selera musik Verena adalah lagu latin karena musik mereka itu tidak bosan di telinga.
lagu latin. Selera musik Verena adalah lagu latin karena musik mereka itu tidak bosan di telinga.
Pintu flat terbuka dan David masuk ke dalam. Verena tersenyum lebar, David hanya terdiam tak menyangka jumpa manusia ajaib seperti ini.
"Lihat? Ini kita sedang stimulasi membangun rumah tangga bersama. Tenang saja, aku istri yang rajin." Verena berkata sambil menyeka wajahnya seolah itu adalah peluh yang besar-besar padahal tak ada. David masih terdiam di sana.
"Itu apa Om? Oh pasti buat sarapan? Okay, sini aku lapar." Tanpa malu Verena langsung merampas bungkusan itu dan benar saja ada sandwich dua potong dan juga jus satu kotak.
"Terima kasih suami." Verena berkata sambil mencium pipi David membuat laki-laki itu langsung membeku. Benar-benar anak Gerald yang tak bisa diprediksi. Sepertinya Gerald cetak anak ini pas lagi mabuk hingga produknya jadi gila seperti ini.
Verena langsung terduduk di sofa dan makan. Padahal jika orang tuanya tahu ia akan dimarahi karena sofa bukan meja makan.
"Kamu mau ke rumah sakit?"
"Unggh.... Agkhu di flat aja. Tapi Om juga harus di sini." Verena berkata dengan pipi menggembung, mulut penuh makanan.
David hanya menggeleng. Mungkin ia harus mengisi makanan di kulkas. Huh, Gerald datang bukannya meringankan dirinya malah semakin membuatnya repot dengan anak sebiji ini.
"Mommy nanti kesini Om?"
"Mereka menginap di rumah sakit atau mungkin mencari penginapan lain."
"Oh yes itu keren Om. Karena aku mau tinggal berdua sama Om di sini, kita bisa buat anak Om." Verena tahu jika Mommy-nya yang mendengar perkataan ini mulutnya bisa dikoyak. Tapi Verena berkata dengan serius.
Verena membuka kardus jus dan meneguknya dan melirik dengan ekor matanya baru sadar jika David berdiri dari tadi. Sebenernya yang tua rumah siapa di sini? Berhubungan dengan gadis seperti dunia terbalik.
"Jadi Om mau kembali ke rumah sakit?"
"Baiklah aku ikut, tapi Om janji harus bawa aku kembali kesini. Aku malas sama Mommy dan Daddy." David hanya bisa menghela napas, harusnya anak monyet ini tak usah kesini.
Verena langsung berganti baju. Ngomong-ngomong ia membawa tiga pasang bikini, memakai bikini di hadapan David kendengarannya seru untuk menggoda laki-laki ini. Verena tahu jika ayahnya tahu kelakuannya yang binal seperti ini ia bisa digantung atau dibuang di sungai Am Main.
Bahkan Verena memakai perona di pipi serta lipstik yang berwarna menyala. Ia tahu laki-laki normal pasti akan terpikat pada dirinya.
"Ayo Om. Om harus nikahi aku ya." Verena langsung menggandeng tangan David keluar dari flat menuju ke bawah. Kepala David rasanya mau pecah, dia perpaduan anak monyet, anak ular juga karena begitu licin dan licik.
Verena bernyanyi sepanjang perjalanan. Ia benar-benar gadis yang ceria seolah hidupnya tak mengalami kesedihan sama sekali. Berbeda dengan David yang bahkan ingin menyerah dengan hidupnya. Apalagi kondisi istrinya yang sedang sekarat.
"I'm stuck with you Om. I'll be with you forever." Dengan gaya tangan kiri seolah memegang mic dan tangan kanan mencolek pipi David. Benar-benar anak yang tidak diajarkan manner sama sekali. David yakin orang tua Verena sudah mengajarkan semua manner pada anak ini hanya saja pabriknya memang sudah salah cetak di awal. Benar-benar tempelan Gerald.