"Penyakitnya udah parah. Tadi malam David nelpon jadi mungkin kita semua berangkat kesana."
Verena mencuri dengar percakapan orang tuanya, dan masuk ke dalam kamarnya.
Dia tahu David adalah rekan orang tuanya walau jika membahas David ayahnya pasti sensitif sekali seperti wanita PMS, walau tetap mendengarkan titah Baginda ratu. Baginda ratu masih mengingat jasa David sebagai seorang malaikat yang selalu hadir saat ia kesulitan terutama awal-awal pernikahan yang sudah tak bisa diperjuangkan lagi tapi malaikat itu datang melebarkan sayapnya dan merangkul Baginda Ratu dengan ketulusan hingga ia bisa bertahan dan kembali bersama dan punya banyak anak.
"Mereka tak punya anak, kasian kesepian." Dasarnya Verena suka kepo apapun yang akan dibicarakan orang tuanya. Gadis itu keluar lagi dari kamar dan pura-pura lewat.
"Auri sakit David rawat sendirian kalau punya anak pasti seumuran sama Verena atau Asher."
"Lalala la." Verena pura-pura menyanyi kecil agar ia tak dikira menguping pembicaraan orang tuanya. Baginda Ratu sedang mengupas buah, dan suaminya duduk di depan.
"Daddy pesan tiket ya. Nggak papa mau dua hari perjalanan perjuangan dia dulu nggak sebanding dengan itu." pinta Baginda Ratu dan sang suami hanya menatapnya malas walau semua perintah Baginda Ratu adalah mutlak.
"Karena liburan summer yang panjang, aku adalah anak yang mencalonkan diri untuk ikut. Benar Daddy?" Verena langsung nimbrung dan tersenyum. Ia anak yang berani tak malu mengungkapkan apapun yang ia rasakan tidak seperti kedua kakaknya yang lebih suka memendam apapun dari orang tua mereka. Verena bahkan tak segan memberitahukan jika ia sedang menstruasi pertama kali pada ayahnya.
"Nggak! Kalian tinggal. Ini bukan pergi jalan-jalan atau liburan ini mengunjungi orang sakit."
"Sepertinya Mommy butuh teman wanita saat di sana. Kita bahkan bisa belanja loh Mommy. Tapi dia Aussie apa winter? Atau sudah spring? Cuacanya juga labil di sana jadi jangan salah kostum. Tak apa, Verena siapkan semuanya, bawa dua koper ya. Oh iya, Mommy dan Daddy rencana mau berapa hari? Biar Verena tak salah hitung bawa bikini."
Rara dan Gerald hanya menatap anak mereka dengan cengok, tak percaya putri kecil mereka sudah besar dan terlihat begitu mendominasi, apalagi Kelsea dan Skye sudah hidup masing-masing.
"Siapa yang mau ngajak?" Wajah Verena langsung manyun saat ayahnya bertanya seperti itu tapi Verena adalah anak kesayangan ayahnya yang tak bisa ditolak permintaan apapun.
"Ayolah Mom, Dad. Verena bosan liburan panjang hanya di rumah. Kebetulan Mommy dan Daddy mau pergi, biar Verena temankan. Bukankah itu tanda anak yang berbakti? Seperti yang selalu Mommy ajarkan?" Verena mulai mencari pembenaran, dan orang tuanya hanya bisa menggeleng, anak gadis mereka suka ngeles berbeda dengan kakaknya yang suka ngengas dan bicaranya jutek sekali. Verena adalah orang yang ramah.
"Nggak Verena! Mommy bukan mau senang-senang jadi kali ini tak ada manja-manja. Pulang, Mommy ajak ke Belgia atau ke Spanyol."
Verena langsung mengode pada ayahnya karena ayahnya takkan pernah bisa menolaknya.
"Tak ada belas kasihan Daddy! Dia sudah besar bukan anak bayi yang harus dibawa kemana-mana!"
"Mommy sendiri mengakui berarti Verena boleh ikut karena sudah dewasa dan takkan merepotkan. Ayolah Mommy, Aussie itu jarang kita pergi. Verena sudah bosan keliling Eropa. Verena janji jadi anak manis."
"No!" Baginda Ratu berdiri saat sudah selesai mengupas dan mengambil mayonaise buat makan buah. Kesukaan Baginda Ratu makan buah dengan mayonaise dan hampir setiap hari dia lakukan.
"Daddy ... Verena pasti kesepian. Tegakah Daddy? Nanti Verena sedih, Verena tak makan, Verena kurus, Verena kena penyakit maag dan Verena mati." ujar Verena mendramatisasi keadaan dengan wajah dibuat-buat seperti pengemis di jalanan. Dia benar-benar drama queen.
"Lebay!" teriak Rara dari dapur karena tingkah ajaib anaknya. Ada saja yang ia lakukan tiap hari.
"Tuh Daddy ... Mommy jahat hiks. Nanti Verena mati ... Padahal Verena kan belum nikah dan punya anak yang lucu-lucu. Verena udah punya list nama-nama anak yang lucu." Verena menyeka air mata buaya yang kering dan juga ingus yang tak ada sama sekali.
"Makan nih!" Verena langsung mengambil garpu dan menancapkan ke potongan apel yang sudah tercampur mayonaise.
"Padahal biar Mommy seperti punya kembaran Mommy nggak tahu ya kita itu mirip. Nggak papa Verena dibilang adik Mommy. Ya, ya, ya."
Verena menatap ibunya yang menggigit potongan buah pir dan tak menghiraukan ocehan jelek itu.
"Tidak Verena."
Verena tersenyum, ia tidak akan menyerah semudah itu. Jika kasusnya terjadi pada Kelsea dia akan berlari ke kamar dan merajuk berhari-hari, Verena tak suka merajuk baginya merajuk itu merugikan, hanya menguras energi lebih baik ia gunakan untuk mencari solusinya.
Verena beranjak dari meja makan dan menuju kamarnya, mungkin orang tuanya mengira ia merajuk tak lama ia keluar dengan membawa laptopnya.
"Oh yeah ada penerbangan nih Daddy. Daddy mau pesan untuk hari apa?" Jika dirinya yang memesan tiket maka Verena bisa memesan untuk 3 orang. Untuk sekarang orang tuanya tak perlu tahu mereka akan tahu saat keberangkatan nanti.
"Kemana Mommy? Brisbane? Perth? Adelaide?" Sebenarnya Verena sudah tahu, berpura-pura sedikit agar orang tuanya terkecoh dan tiket sudah di tangan.
"Perth." Verena langsung tersenyum dan memesan tiket. Setelah ini ia akan menyiapkan pasport miliknya dan semua dokumen yang dibutuhkan terutama pakaian apa saja yang perlu ia persiapkan. Dia hanya perlu berpura-pura tak tahu saat berangkat ia juga ikut.
"Ini perjalanan 18 jam 37 menit, tidak dengan delay. Dan dipastikan tiba di Perth malam hari." Verena membacakan jadwal padahal ia sudah merancang dalam otaknya pakaian apa saja yang perlu ia siapkan.
"Okay Mommy and Daddy. Have a nice holiday."
Verena langsung terkikik dan berlari ke kamarnya.
💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸
Senyum tak pernah lepas dari wajahnya walau tahu orang tuanya akan murka terutama ibunya.
Verena langsung memakai pakaian musim dingin walau sekarang cuaca Frankfurt begitu hangat.
"Ini kita bawa mobil parkir di bandara atau naik bis?" tanya Verena tanpa dosa mengeret koper berwarna pink. Orang tuanya sedang sarapan pesawat take off jam 11 artinya sekitar jam 9 mereka sudah harus check ini di bandara. Sekarang pukul 8 lewat masih ada waktu untuk sarapan, Verena bahkan tak perlu memikirkan sarapan ia terlalu bersemangat dan sedikit deg-degan karena bagaimana orang tuanya marah.
"Kamu mau kemana?" tanya Rara, melihat Verena memakai baju wol khas musim dingin berwarna krem memakai kaca mata hitam semuanya telah ia persiapkan dengan matang dan sempurna. Benar-benar anak Gerald yang licik.
"Lihat apa ini? Yeps, Mommy dan Daddy masih sehat karena Verena mau ikut kalian."
"Verena!" teriak Baginda Ratu. Gadis itu sudah berlari ke depan terkikik, dan tak sabar menanti perjalanan panjang yang sangat melelahkan nanti. Mungkin sampai di Australia ia hanya perlu tidur dan biarkan orang tuanya mengurus tujuan mereka.
"Verena! Mommy nggak ikhlas. Bisa-bisanya kamu." Verena hanya terkikik duduk di depan TV sambil menghidupkan TV. Mommy-nya hanya akan mengomel sebentar dan setelah itu selesai. Ini yang Verena suka dari orang tuanya tidak berlarut-larut ketika marah. Mungkin belajar dari pengalaman.
"Aku udah janji pada Asher akan bawa banyak oleh-oleh. Asher juga masih tidur." Walau sudah dewasa Verena dan Asher masih dekat hingga kini membicarakan apa saja dan berbagai apa saja.
Verena mengintip dari ruang TV dan ibunya sedang tidak ada. Ia langsung berlari ke ruang makan dan mengambil roti sepertinya ia juga kelaparan.
"Daddy nggak marah kan?" Verena tahu ayahnya tak pernah marah padanya dan tak bisa marah. Ia adalah anak kesayangan.
"Tidak apa. Biar Mommy punya teman." Verena langsung bangun dan mencium pipi ayahnya saat Mommy-nya masuk kembali ke dalam. Verena memeluk ayahnya dan tersenyum pada ibunya yang menatapnya malas.
"Eits, damai kita Mommy. Biar Mommy mabuk Verena yang jagain, biar Mommy ke toilet cewek Verena temankan."
"Mommy kan sama Daddy."
"No-no, Daddy tuh punya Verena. Benar Daddy sayang? Daddy tuh cinta pertama Verena. Verena orangnya setia dan takkan berpaling dari Daddy." Verena mencium lagi pipi ayahnya. Jika Asher suka menggoda ayahnya maka Verena juga suka melakukan hal yang sama. Saat ayahnya akan murka ketika Asher memeluk ibunya, Asher mencium pipi Rara dan Gerald akan murka, walau anak sendiri tapi baginya Asher itu seperti rival, tak ada yang boleh dekat pada istrinya kecuali dia sendiri.
Verena bersyukur ia dekat dengan orang tuanya jadi apapun yang ia rasakan bisa ia beri tahu apapun itu tak perlu ditutupi.
Mereka sarapan dalam diam dan tetap membawa mobil ke bandara dan akan dititipkan di bandara mobilnya padahal Asher bisa mengantar. Semenjak insiden kecelakaan yang hampir merenggangkan nyawanya Asher dilarang bawa mobil walau ia sering mencuri-curi dan pergi tanpa orang tuanya tahu. Asher dan Verena suka bekerja sama, Asher akan pergi membawa mobil maka ada Verena sebagai juru kunci mulut gadis itu akan memberi alasan yang bisa diterima orang tuanya dan Asher telah membayar Verena tentang hal ini.
Ketiganya bertolak dari rumah dan akan memakan waktu hingga belasan jam. Ini pertama kalinya Verena pergi jauh tanpa saudaranya yang lain karena jika berlibur maka semuanya akan ikut mungkin karena urusan genting.
Cuaca Perth begitu menusuk Verena rasanya ingin terbang kembali ke Frankfurt atau minimal ke Indonesia di rumah neneknya merasakan panas sedikit, lelah, mengantuk, lapar, dingin. Ini benar-benar menyiksa.
Mereka dijemput David di bandara. Orang tuanya saling bersalaman karena yang antusias hanya Rara. Tidak dengan Rara selamanya ia akan menganggap David musuh bebuyutan masih teringat dengan jelas pengkhianatan itu dan dengan lancangnya David dan Rara berciuman di depannya dahulu dan itu tak bisa ditolerir sampai sekarang walau balasan untuk istrinya lebih menyakitkan. Harusnya mereka sama-sama melupakan masa lalu anak-anak mereka juga sudah besar.
"Kelsea bukan? Udah besar ya."
"Enak aja! Aku Verena. Om-om pasti ngantuk ya." elak Verena saat David salah mengenal dirinya. Jika rekan orang tuanya lebih kenal Kelsea dibanding dirinya, huh tidak adil sama sekali.
"Okay Verena." David tersenyum. Verena menelan ludahnya, gila nih bapak-bapak kenapa makin tua makin menggoda.
Verena merapatkan jaket yang ia pakai dan melihat ke orang tuanya dan David yang terlihat begitu ramah.
David mengangkat koper Verena dan memasukan dalam bagasi. Semua hal itu lantas tak lepas dari pandangan Verena, entah kenapa produk tua ini begitu menarik perhatiannya. Verena memang dekat dengan ayahnya dan ingin mendapatkan laki-laki seperti ayahnya dan saat berjumpa dengan teman ayahnya ia seperti menemukan cinta yang lain.
"Verena duduk di depan." Verena tersenyum cerah dan langsung menggosok tangannya masuk ke dalam mobil David. Gadis itu melirik arah laki-laki di sampingnya.
"Istri Om, sakit?" David menoleh ke sampingnya dan hanya tersenyum sekilas.
"Om punya dimple dan itu keren. Om udah tua tapi masih gagah." puji Verena tanpa peduli dengan perasaan David yang tengah berduka apalagi orang tuanya. Rasanya Rara ingin mencubit ginjal anaknya hingga lepas. Verena benar-benar produk Gerald pantas saja mereka dekat, mulutnya sama-sama jahat tanpa peduli perasaan orang lain entah tersinggung atau tidak.
Verena melihat ke belakang ayahnya yang tertidur di bahu istrinya. "Oh aku tahu, sepertinya Om lebih tampan dan gagah dari Daddy. Apa mungkin Daddy banyak anak ya? Om nggak punya anak kan? Yes, nggak punya anak bikin awet muda."
"Verena!" Rara langsung melotot tapi Verena hanya menampilkan wajah tak berdosa sama sekali.
"Om mau? Ini roti dari pesawat tapi belum dimakan." tawar Verena, David melihat sekilas dan menolak dengan sopan. Verena makin terkagum-kagum dengan laki-laki ini sudah tampan, gagah, kuat, perkasa, sopan dan sepertinya sangat menghargai wanita.
"Ini kalian mau ke rumah sakit atau ke flat istirahat dulu?" David melihat dari kaca dan bertanya sopan pada Rara.
"Aku flat aja Om. Capek bangat, tulangku remuk semuanya, nanti aku menopause duluan kalau nggak tidur." Verena menjawab tak tahu malu. Rara rasanya ingin mencakar tanah dan memasukan lagi Verena dalam perutnya, produk Gerald ajaib satu ini.
"Boleh ke rumah sakit dulu." Rara menjawab dengan sopan. David itu laki-laki sopan dan sangat menghargai wanita, beruntung sekali wanita yang mendapatkannya.
"Antar aku dulu Om. Aku mau tidur." Verena minta tak tahu malu. Karena mereka adalah tamu jauh maka David menurut pergi ke flat miliknya yang sudah ditinggalkan beberapa bulan karena istrinya sakit dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
"Kami tunggu di mobil aja ya." Rara meminta dengan sopan. Hanya Verena dan David yang turun. David langsung menarik koper Verena. Rara hanya bisa geleng-geleng, memang menyusahkan anak satu ini entah apalagi yang akan ia repotkan besok.
David mengeret koper Verena menuju lantai lima dan biasanya sudah malam maka lift tidak bisa digunakan hanya menggunakan tangga manual.
"Aku digendong aja boleh nggak, Om? Udah nggak kuat." Verena terduduk di lantai 3 dengan napas hampir putus. Tubuhnya lelah dan sekarang harus manjat lagi.
"Ayo!" ajak David, Verena menggeleng dan sudah duduk lesehan di bawah sambil menselonjorkan kakinya. David langsung membawa koper ke flat dan berharap Verena menyusulnya.
Tapi saat menunggu dan gadis itu tak mengikuti David turun kembali dan melihat Verena tertidur di bersandar di tembok sudah tak sadarkan diri. Benar-benar anak ini. Bukan mau kurang ajar, tapi akhirnya David mengangkat Verena dan mengendong gadis itu menuju flat.
Verena tidak tertidur sebenarnya ia sengaja agar modus bagaimana rasanya digendong laki-laki, apalagi lelaki tampan dan gagah seperti David. Walau sudah tua, aroma tubuh David begitu maskulin dan menggoda dengan aroma kayu-kayuan.
Verena memeluk leher David dan tersenyum. Ah menyenangkan sekali.
"Om, nikahi aku aja. Aku masih single, Om perkasa sekali pasti di ranjang." goda Verena. Membuat David ingin membuang gadis ini, tapi pelukan Verena di lehernya begitu ketat.
"Kita akan punya banyak anak, lebih banyak dari Mommy dan Daddy." bisik Verena lagi.
David menggeleng. "Jet lag membuat dia gila!" guman David.
"Kau akan bersamaku Pak Tua!" tegas Verena dan hari-harinya ia habiskan untuk menggoda David paman yang seharusnya jadi ayahnya.
Verena bangun dengan keadaan lebih segar dan lebih baik dari semalam karena jet lag parah.
Gadis itu melihat keadaan sekeliling dan baru ingat ia tengah berada di belahan dunia lain. Dengan langkah pelan Verena turun dari ranjang dan hendak membuka pintu mencari orang tuanya dan juga Om Tampan—Calon Suami Masa Depan. Begitu lengkap. Verena tak tahu jika orang tuanya punya rekan yang begitu tampan. Gadis itu terkikik geli dan akan terus menggoda David hingga laki-laki itu jadi suaminya walau mungkin dunia terbalik.
"Selamat pagi dunia. Selamat pagi kamar masa depan. Nanti kita akan terbangun tanpa pakaian dan bercinta di semua sudut rumah."
Merasa seperti rumahnya, Verena langsung menuju dapur dan ingin membuat sarapan, ia yakin Om Tampan takkan marah jika ia membuat sarapan sendiri daripada ia menyusahkan dirinya.
Gadis itu sempat melihat keadaan flat ini, rumahnya di Jerman tiga kali lipat lebih besar dari ini, mungkin karena ia punya banyak saudara hingga orang tuanya membeli rumah yang besar.
Verena melihat mesin pembuat kopi dan langsung menghidupkan. Buat toast rasanya lebih baik. Gadis itu membuka kulkas dan semua kitchen set tapi tak menemukan apa-apa. Berapa lama rumah ini ditinggal?
Verena mendesah lelah masuk lagi ke kamar dan mencuci muka terlebih dan sikat gigi. Musim dingin adalah waktu terbaik buat memanjakan diri karena sesungguhnya Verena malas mandi. Ia berdalih. "Air itu susah, hargai penghuni manusia lain yang kekurangan air. Jadi aku bersimpati pada mereka dengan menghemat air jadi tak boleh mandi." Alasan mengada-ada yang membuat Rara hanya bisa geleng-geleng dan berkata. "Kalau gitu nggak usah makan juga. Sama karena ada orang yang kelaparan, dan juga buat apa makan jika nanti lapar lagi?"
Verena merasa lebih segar, menggerakan tubuhnya sedikit dan berkaca lagi. Tentu saja wajahnya masih cantik, ia orang yang cukup percaya diri dengan penampilannya. Verena adalah orang yang benar-benar membawa positive vibes. Ia tak pernah berpikiran buruk pada orang.
Verena mengambil ponselnya dan ingin menelpon orang tuanya, ia baru tersadar jika tak ada sambungan internet karena hilang jaringan. Bayangkan ia melewati ratusan negara, puluhan ribu pulau, beberapa benua.
Verena akhirnya keluar lagi. Semoga orang tuanya masih mengingat dirinya hingga ia tidak mati kelaparan di sini.
Karena bosan Verena melihat penyedot debu dan rajinnya kambuh. Verena adalah model orang yang rajinnya pakai musim, jika sedang masa rajin maka ia akan merapikan semuanya hingga tak ada satupun helai rambut tapi jika ia sedang malas bahkan sampah di depannya ia biarkan hingga ibunya sering mengamuk.
Verena menyedot dari karpet di depan TV, ia juga menyedot di bawah sofa semua sudut ia bersihkan sambil menggoyangkan pinggulnya seperti lagu dangdut walau yang ia nyanyikan lagu latin. Selera musik Verena adalah lagu latin karena musik mereka itu tidak bosan di telinga.
lagu latin. Selera musik Verena adalah lagu latin karena musik mereka itu tidak bosan di telinga.
Pintu flat terbuka dan David masuk ke dalam. Verena tersenyum lebar, David hanya terdiam tak menyangka jumpa manusia ajaib seperti ini.
"Lihat? Ini kita sedang stimulasi membangun rumah tangga bersama. Tenang saja, aku istri yang rajin." Verena berkata sambil menyeka wajahnya seolah itu adalah peluh yang besar-besar padahal tak ada. David masih terdiam di sana.
"Itu apa Om? Oh pasti buat sarapan? Okay, sini aku lapar." Tanpa malu Verena langsung merampas bungkusan itu dan benar saja ada sandwich dua potong dan juga jus satu kotak.
"Terima kasih suami." Verena berkata sambil mencium pipi David membuat laki-laki itu langsung membeku. Benar-benar anak Gerald yang tak bisa diprediksi. Sepertinya Gerald cetak anak ini pas lagi mabuk hingga produknya jadi gila seperti ini.
Verena langsung terduduk di sofa dan makan. Padahal jika orang tuanya tahu ia akan dimarahi karena sofa bukan meja makan.
"Kamu mau ke rumah sakit?"
"Unggh.... Agkhu di flat aja. Tapi Om juga harus di sini." Verena berkata dengan pipi menggembung, mulut penuh makanan.
David hanya menggeleng. Mungkin ia harus mengisi makanan di kulkas. Huh, Gerald datang bukannya meringankan dirinya malah semakin membuatnya repot dengan anak sebiji ini.
"Mommy nanti kesini Om?"
"Mereka menginap di rumah sakit atau mungkin mencari penginapan lain."
"Oh yes itu keren Om. Karena aku mau tinggal berdua sama Om di sini, kita bisa buat anak Om." Verena tahu jika Mommy-nya yang mendengar perkataan ini mulutnya bisa dikoyak. Tapi Verena berkata dengan serius.
Verena membuka kardus jus dan meneguknya dan melirik dengan ekor matanya baru sadar jika David berdiri dari tadi. Sebenernya yang tua rumah siapa di sini? Berhubungan dengan gadis seperti dunia terbalik.
"Jadi Om mau kembali ke rumah sakit?"
"Baiklah aku ikut, tapi Om janji harus bawa aku kembali kesini. Aku malas sama Mommy dan Daddy." David hanya bisa menghela napas, harusnya anak monyet ini tak usah kesini.
Verena langsung berganti baju. Ngomong-ngomong ia membawa tiga pasang bikini, memakai bikini di hadapan David kendengarannya seru untuk menggoda laki-laki ini. Verena tahu jika ayahnya tahu kelakuannya yang binal seperti ini ia bisa digantung atau dibuang di sungai Am Main.
Bahkan Verena memakai perona di pipi serta lipstik yang berwarna menyala. Ia tahu laki-laki normal pasti akan terpikat pada dirinya.
"Ayo Om. Om harus nikahi aku ya." Verena langsung menggandeng tangan David keluar dari flat menuju ke bawah. Kepala David rasanya mau pecah, dia perpaduan anak monyet, anak ular juga karena begitu licin dan licik.
Verena bernyanyi sepanjang perjalanan. Ia benar-benar gadis yang ceria seolah hidupnya tak mengalami kesedihan sama sekali. Berbeda dengan David yang bahkan ingin menyerah dengan hidupnya. Apalagi kondisi istrinya yang sedang sekarat.
"I'm stuck with you Om. I'll be with you forever." Dengan gaya tangan kiri seolah memegang mic dan tangan kanan mencolek pipi David. Benar-benar anak yang tidak diajarkan manner sama sekali. David yakin orang tua Verena sudah mengajarkan semua manner pada anak ini hanya saja pabriknya memang sudah salah cetak di awal. Benar-benar tempelan Gerald.