Hingga keesokan harinya Sinta terbangun dengan sinar matahari yang sudah meninggi, ia melihat sekeliling dan belum ada tanda-tanda suaminya pulang. Sinta hanya bisa menghela nafas panjang, ini sudah ke delapan kalinya dirinya harus tidur di sofa karna menuggu suaminya pulang.
“ Tok ... Tok ... Tok ... ” Pintu diketuk dengan suara yang begitu keras, Sinta yang mengira itu suaminya langsung berdiri dan berlari menuju pintu.
“ Mas – ” Belum sempat Sinta melanjutkan ucapannya.
“ Mas apa! Lama banget tinggal bukain pintu aja! ” Potong wanita paruh baya itu.
“ Mana anakku! ” Bentak wanita paruh baya itu, yang ternyata mertuanya.
“ Kalau ditanya tuh jawab! Jangan cuma diem aja. ”
“ Gimana aku mau jawab Ma ... Kalau mama belum selesai bicaranya. ”
“ Awas! Tamu kok gak disuruh masuk! ” Ia masuk dengan mendorong Sinta yang masih di depan pintu.
“ Mau apa! ” Ia melihat menantunya ingin ikut duduk bersamanya.
“ Bikinkan mama minum! Jangan lupa, camilannya sekalian! ”
Sinta yang sudah terbiasa dengan sikap mertuanya yang seperti itu hanya bisa menuruti perintahnya, ia lebih memilih langsung ke dapur daripada membantah mertuanya. Baru saja Sinta ingin mengantarkan camilan dan minuman.
“ Sinta! ” Teriak mertuanya.
“ Iya ma! ” Ketika ia sedang menuang air panas, ia dikagetkan dengan teriakan mertuanya, hingga air panas itu tumpah ke meja dan mengenai tangannya, dengan gerakan cepat, ia membersihkan air yang tumpah.
“ Bikin minum aja lama banget! ” Dengan tidak sabarnya, ia berdiri untuk menyusul menantunya ke dapur.
“ Iya ma! Ini – ” Kalimat Sinta terhenti ketika ia melihat mertuanya sudah berada tepat di depannya. Sinta yang kaget tanpa sengaja menumpahkan camilan dan minuman yang sedang ia bawa dengan nampan, mengenai baju yang dikenakan mertuanya.
“ Plak! ... ” Bunyi tamparan keras memenuhi seisi ruangan.
Sinta ditampar mertuanya hingga tertoleh ke kanan, bahkan di pipinya terlihat jelas tatto lima jari karya mertuanya.
“ Dasar menantu tidak berguna! ” Ia menghempaskan tangannya setelah menampar menantunya.
“ Mimpi apa anakku dulu! Bisa mempunyai istri modelan kayak kamu! ” Bentaknya lagi dan menatap Sinta dengan pandangan yang garang.
Sinta hanya bisa mengepalkan ke dua tangannya erat-erat, ia takut durhaka jika membalas kemarahan mertuanya dengan keterlaluan.
“ Tapi ma! Aku ini menantu mama! Apa pantas aku diperlakukan seperti pembantu?! ”
“ Berani ya kamu! ” Mertuanya sudah bersiap untuk menampar lagi, belum sempat ia menampar menantunya, tiba-tiba ada yang mencekal lengannya.
“ Mama! ” Bentak Bram dengan menghempaskan lengan ibunya.
“ Bagus deh, Kamu udah pulang. Lihat! Istrimu yang tidak becus ini! Menumpahkan teh panas ke perut mama! ” Bentak nya pada Bram, ia tidak terima jika tamparan yang akan dilayangkan dihalangi oleh anaknya.
“ Stop ma! Aku udah capek ya! Lihat kelakuan Mama, sama Mas Bram. ” Sindir Sinta yang lebih memilih pergi dari hadapan mertua dan suaminya.
“ Lihat! Istri yang selalu kamu manjakan itu! ” Ia menatap kepergian Sinta dengan melipat kedua tangan di depan dada dan menatapnya penuh amarah, atau mungkin kebencian.
“ Ma ... Aku sudah menuruti semua keinginan Mama. Mama menyuruh aku untuk menikahi wanita pilihan Mama, aku nurut Ma! Aku gak pernah nolak kemauan Mama! Tapi tolong! ... Mama harus bisa bersikap baik dengan Sinta. Coba Mama fikir ... Jika Sinta mengetahui kalau aku sudah menikah lagi, betapa hancurnya hati Sinta. ” Ia menggenggam kedua tangan mamanya, agar mamanya bisa bersikap selayaknya Sinta juga anaknya.
“ Mama tidak perduli! Kalau bisa! Ceraikan saja dia! ” Ia menghempaskan tangan Bram. Bram yang sudah lelah menanggapi ibunya hanya berlalu pergi untuk menyusul Sinta. Bram masuk tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu. Sinta yang mendengar suara knop pintu, langsung buru-buru menghapus air matanya, ia tidak mau dianggap lemah atau dikasihani.
“ Sayang ... ? ” Panggil Bram.
“ Iya Mas, kenapa? Kamu masih ingat untuk pulang? ” Sinta memandang Bram dan tersenyum miring.
“ Kamu ngomong apa sih? Jelas dong aku pulang! Hari ini kan ulang tahun pernikahan kita. ”
“ Aku fikir, kamu tidak mengingatnya Mas. ” Ia memalingkan muka dengan tatapan sinis.
“ Nanti malam, kita keluar ya, aku sudah menyiapkan hadiah spesial untuk Kamu. ” Bram mengecup kening istrinya. Sungguh, Ia sangat mencintai Sinta.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, baru saja matahari menunjukkan kecerian dan sinarnya,sekarang matahari harus berpamitan dengan meredupkan sinarnya.
Wanita di dalam kamar itu sedang berdandan untuk acara dinner yang di janjikan oleh suaminya. Mungkin, untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka berdua.
“ Kamu sangat cantik. ” Puji Bram saat melihat penampilan Sinta yang sangat mempesona, bisa dikatakan jika penampilan Sinta saat ini tidak menunjukkan bahwa dirinya sudah berusia dua puluh tujuh tahun.
“ Makasih Mas. ” Senyum tulus terpancar jelas di kedua sudut bibir Sinta, seolah-olah mengartikan jika ia sudah memaafkan suaminya.
“ Apa kamu sudah siap? ”
“ Sudah Mas, mari kita berangkat. ”
Sinta dan Bram keluar dari kamar dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga satu per satu, ketika Sinta berpijak di anak tangga paling bawah, ibu mertuanya menatapnya dengan sinis, Sinta yang tidak memperdulikan ibu mertuanya hanya bisa tersenyum dan membuang muka untuk menghindari kontak mata secara langsung.
Bram dan Sinta menaiki mobil menuju tempat yang sudah disiapkan oleh Bram. Ya, mereka dinner dengan nuansa yang sangat romantis, Bram sudah booking seluruh restoran khusus untuk acara mereka berdua, bahkan live music yang berada disana juga sudah di pinta Bram untuk menyanyikan lagu kenangan mereka berdua selama sepuluh tahun terakhir.
Sinta yang dibawa masuk Bram dengan menutupi kedua matanya dibuat tersenyum ketika ia mendengar lagu 'Janji Suci', bisa dibilang Itu lagu ketika Bram melamarnya dulu.
Bram melepaskan penutup mata yang dikenakan oleh Sinta, ketika Sinta melihat sekeliling, ia dibuat speechless dengan kejutan yang dibikin suaminya, bahkan ada layar proyektor yang menunjukkan foto dan video mereka berdua dari awal pacaran hingga saat ini.
“ Duduk Sayang. ” Bram tersenyum tulus sembari menarik kursi untuk Sinta.
“ Makasih Mas. ”
“ Apa kamu menyukainya? ” Ia menggenggam tangan istrinya, yang sudah terduduk di depannya.
“ Tentu Mas! Aku sangat senang! ”
“ Bagus deh kalau Kamu suka. Kita makan dulu yuk sambil mengenang saat-saat dulu. ” Ia melepas genggaman tangannya, senyuman Sinta adalah candu bagi dirinya.
Sinta menuruti kata suaminya untuk makan terlebih dahulu. Sungguh, hatinya dibuat berbunga-bunga, ia tidak menyangka jika suaminya akan memberi kejutan yang sangat bagus.
Sedangkan di tempat lain dan waktu yang bersamaan, mertuanya sedang menelpon seseorang.
“ Iya! Kamu harus menyusul Bram! Ini cara satu-satunya! ” Ia tersenyum miring, tatkala ia memiliki rencana yang bagus ketika mengetahui anaknya sedang merayakan ulang tahun pernikahan, mungkin ia akan memberi kado yang sangat istimewa.
“ Tapi aku takut mas Bram akan murka Ma! ” Sedangkan wanita yang ditelpon, merasa takut jika suaminya akan marah.
“ Mama akan menjemput Kamu, kita ke sana bersama. ”
“ Baik Ma, aku akan siap-siap. ” Ia memasukkan hp nya ke tas, dan berganti pakaian.
***
“ Sinta aku bener-bener gak nyangka kita bisa sampai di titik ini. ” Bram menggenggam jemari istrinya dan tersenyum tulus.
“ Aku inget banget saat awal kita bertemu. ”
“ Iya Mas, aku juga tidak menyangka. ” Sinta tersenyum malu karna mengingat awal pertemuan mereka, semburat merah terlihat jelas di kedua pipinya.
“ Kamu masih inget kata-kata ku dulu kan? ” Sinta yang kebingungan hanya bisa menatap kedua mata Bram.
“ Jika aku salah jalan atau melakukan kesalahan, aku harap kamu jangan tinggalin aku ya, tuntun aku untuk kembali ke jalan yang diridhoi. ”
“ Iya Mas, In Syaa Allah ... Aku akan selalu mendampingi Kamu. ” Sinta sedikit merasakan risih di dalam hatinya karna ucapan suaminya, ia bertanya-tanya di dalam benaknya, kenapa suaminya berucap seperti itu.
***
Sedangkan di tempat lain, mama Bram sedang menjemput Rani untuk menyusul Bram dan Sinta. Rani harus memberitahu jika dirinya sedang mengandung anak dari Bram. Ketika di dalam mobil, mereka berdua hanya berdiam, Rani takut jika suaminya akan murka terhadapnya, sedangkan mama Bram ia merasa sangat senang dengan mengetahui kehamilan Rani, ia mempunyai cara licik untuk menyingkirkan Sinta.
Setelah mereka sampai di tempat tujuan mama Bram turun dari mobil dan langsung menyeret Rani, bukan sampai disitu saja, mama Bram sudah membayar orang untuk mematikan saluran listrik, ketika lampu padam orang itu akan mengganti foto-foto yang berada di layar proyektor dengan foto pernikahan Bram dan Rani.
Lampu mulai padam, Sinta yang ketakutan langsung menggenggam lengan Bram dengan erat, tidak lama kemudian lampu mulai menyala dan menampilkan foto pernikahan Rani dan Bram.
“ Di ... Dia siapa Mas?! ” Syok, itu yang dirasakan Sinta saat ini, ketika layar proyektor menunjukkan sebuah foto suaminya yang sedang menggunakan baju pengantin bersama wanita lain.
“ Prok ... Prok ... Prok ... Prok. ” Suara tepukan tangan yang terdengar seperti mengejek, menggelegar di seluruh penjuru restoran.
“ Bram! ” Teriak mamanya yang sudah berada di belakang Sinta.
“ Mama!? ” Ucap Bram dan Sinta bersamaan.
“ Kamu lihat! Menantuku yang satu ini sudah memberi Bram keturunan. ” Ucap mama Bram dengan mengelus perut Rani yang masih rata.
“ Maksud ma – ” Kalimat Bram terhenti.
“ Lihat Bram! Rani hamil anak Kamu. ” Potong mama Bram dengan menarik kedua sudut bibirnya, dan memandang rendah ke arah Sinta.
“ Apa-apaan ini mas?! ” Tanya Sinta dengan mata yang mulai berkabut.
“ Di – di – dia, " Ucap Bram terbata-bata, ia dibuat panas dingin dengan kedatangan mamanya dan Rani.
“ Dengar baik-baik yah ... Menantu tidak berguna ... Dia ini istri kedua Bram. ” Jelas mama Bram dengan melipat kedua tangan di depan dada, dan memandang rendah Sinta.
Sinta yang di kejutkan dan ditampar kenyataan, hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
“ PLAK! ” Bunyi tamparan terdengar nyaring di seluruh penjuru restoran. Bukan, bukan Bram yang di tampar oleh Sinta. Ketika Sinta hendak menampar suaminya, tangannya hanya menggantung di udara, Sinta lah yang ditampar mertuanya.
“ Mama! ” Bentak Bram, ia terkejut dengan perlakuan mamanya.
Ketika Bram menyuruh Sinta untuk duduk kembali, Sinta langsung menepis lengan Bram.
“ Jadi ini Mas! Ini maksud kamu bicara kayak gitu ke aku! ... Iya?! ” Tanya Sinta dengan emosi yang sudah tidak bisa di tahan, ia mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak jatuh setetes pun di depan mereka semua.
“ Makasih Ma! Ini kado yang paling mengejutkan, dan Kamu! Terimakasih sudah menjadi benalu di dalam rumah tanggaku. ” Sindir Sinta dengan menunjuk Rani, ia memandang kearah mereka semua dengan tatapan yang marah, kecewa, dan benci. Ia berjalan keluar restoran dengan langkah besar, ia tidak menyangka di hari bahagianya malah berubah menjadi petaka bagi rumah tangganya.
“ Ma! Kenapa harus sekarang ?! ” Bentak Bram sambil membanting cekalan tangan mamanya.
“ Kenapa Mama harus bawa Rani sekarang! ”
“ Kenapa Mama selalu ikut campur urusanku dan Sinta !? ” Ia benar-benar takut jika istrinya akan pergi meninggalkannya.
“ Mama hanya ingin memberi tahu kabar bahagia, Istri kamu ini sudah hamil, mending kamu ceraikan saja Sinta. ” Ia melipatkan kedua tangannya di dada, dan dengan gaya angkuhnya menunjuk Rani dengan dagunya.
“ Gak! Sampai kapan pun ... Aku ... Tidak akan pernah menceraikan Sinta! ”
“ Dasar anak kurang ajar! Kamu gak memikirkan perasaan Rani !? ” Ia menatap Bram dengan kilatan marah yang sangat kentara di kedua matanya.
“ Lalu! ... Apa Mama pernah memikirkan perasaan Sinta !? ”
“ Aku menjalin hubungan dengannya sudah sejak sekolah Ma, aku menikah sudah sepuluh tahun! Apa pernah Sinta berlaku tidak adil ke Mama !? Apa pernah Sinta marah ketika Mama selalu memojokkan dia!? ” Bram frustasi, ia takut jika istri yang sangat ia cintai akan pergi begitu saja, dan meninggalkannya.
***
Sinta menyusuri jalan dengan langkah gontai, tanpa sadar ia berjalan sampai ke tengah, untung saja jalanan sedang lengang, ia terlalu syok bahkan pikirannya buntu seketika, tidak pernah terfikir di benaknya suaminya tega menggores luka tajam dihatinya, ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya, tapi ia menangis juga tidak bisa memperbaiki keadaan.
Tiba-tiba, dari arah belakang ada sebuah motor melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Kondisi jalanan yang gelap membuat Sinta tidak terlalu terlihat, tanpa sengaja tubuh Sinta terserempet oleh motor itu, Sinta pun terjatuh di dinginnya aspal.
Bocah yang menaiki motor itu pun, langsung cepat-cepat memberhentikan motor dan menolong Sinta.
“ Mbak! Mbak gak apa-apa kan? ” Pekik bocah itu, ketika Sinta mendongak keatas, ia dibuat terpana dengan wajah Sinta yang putih mulus, tanpa ada cacat.
“ Udah tau jatuh! Pakek tanya pula! ” Sinta sebal dengan bocah yang menyerempetnya, sudah tau dia jatuh dengan posisi duduk, pasti sudah jelas sakitnya.
“ Haduh Mbak ... Maaf ya, aku bener-bener gak sengaja. ” Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Sinta, tapi tangannya ditepis langsung.
“ Saya bisa sendiri! ” Ketika hendak berdiri, kaki sebelah kirinya terasa sangat sakit, tapi ia tetap berusaha untuk bisa berdiri.
“ Mbak nya mau kemana? Mau aku antar? ”
“ Gak! Saya mau kemana juga bukan urusan kamu! ”
“ Ini sudah malam Mbak, biasanya di sebelah sana banyak preman yang suka godain perempuan cantik. ” Ia menunjuk kearah depan.
Sinta yang tidak memperdulikan ucapan bocah itu pun langsung melenggang pergi, ia tidak percaya dengan apa yang dibilang bocah ingusan tadi. Ya, bocah yang menyerempet Sinta tadi masih menggunakan seragam SMA, sepertinya ia habis merayakan acara kelulusan jika dilihat dari banyaknya coretan di seragamnya.
Benar saja, setelah ia berjalan beberapa meter, tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat banyak pria kekar, atau mungkin preman yang sedang meminum alkohol.
“ Piuwit ... ” Siul salah satu preman itu pada Sinta, Sinta yang ketakutan karna telah dihadang lima preman itu hanya bisa berdoa dan menyesali perbuatannya yang menolak bocah tadi.
“ Mau kemana neng sendirian aja nih. ” Ucap teman preman yang bersiul.
“ Mau ditemenin gak? ” Sahut preman satunya.
“ Aduh Bang, maaf ya saya lagi buru-buru. ” Ucap Sinta yang menghindar dari tangan nakal semua preman.
“ Ini udah malam loh! Nanti kalau diculik gima – " Belum sempat preman itu melanjutkan kalimatnya.
“ Heh! Bangsat! Ngapain lu pegang-pegang pacar gua! ” Sentak bocah yang menyerempet Sinta.
“ Cuihhh ... ” Preman itu membuang ludah di depan lawannya.
“ Ini cewek kayaknya lebih cocok jadi kakak lu. ” Ucap preman yang bertato sambil menunjuk Sinta.
“ Bacot! ” Bocah itu menatap para preman dengan tatapan permusuhan.
“ Jangan ... Pernah ... Sentuh ... Milik ... Gue! ” Bentak bocah itu sambil melayangkan pukulan ke preman tadi.
Sinta yang melihat kejadian itu, hanya bisa memundur ketakutan, bagaimana ia tidak takut jika yang menolongnya bocah ingusan, sedangkan yang dilawan lima preman yang mempunyai badan kekar.