Kaluna melangkah memasuki ruangan dan terpaku sejenak saat mendapati seorang pria muda dengan rambut hitam pendek dan kacamata berbingkai persegi sudah duduk menunggunya dengan pandangan seakan menghakimi.
“Kaluna Demetria?” tanya si pria dengan nada dingin seperti es. Punggung pria muda yang lebar itu sedikit melengkung ketika dia duduk di kursinya dan kedua mata tajamnya seakan menghakimi Kaluna untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah bisa dimaafkan.
Kaluna sendiri kaget dengan atmosfer di ruangan yang terasa begitu berbeda, ditambah keberadaan pria muda yang dia kenali sebagai Estefan, seorang guru matematika sekaligus wali kelasnya di SMA Oasis.
“Bapak ... memanggil saya?” lirih Kaluna, dengan tidak yakin kedua matanya menatap mata Estefan yang tersembunyi di balik lensa kacamatanya. “Ada apa ya, Pak?”
“Duduk,” tunjuk Estefan dengan mata mengarah ke kursi yang ada di depannya.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Kaluna menurutinya dan segera duduk di kursi kosong itu.
“Kamu siswi tingkat akhir, dan sudah beberapa kali pindah sekolah berdasarkan catatan tambahan yang ditulis oleh guru kamu di sekolah yang lama.” Estefan membuka-buka buku yang terbentang di atas meja. “Alasan kamu keluar hampir selalu sama: membolos, ribut dengan teman laki-laki, tidak mengerjakan tugas, dan menjawab soal ulangan dengan asal-asalan.”
Kaluna diam saja dan tidak membantah.
“Kamu lantas mengulang kesalahan yang sama di sekolah ini,” sambung Estefan sambil menutup buku itu kemudian memandang Kaluna lurus-lurus. “Apa kamu berniat pindah sekolah lagi untuk memecahkan rekor nasional?”
Kaluna diam membisu, tetapi pikirannya melayang ke momen terakhir yang membuatnya memilih untuk meninggalkan sekolahnya yang lama dan terdampar di sekolah baru tempat Estefan mengajar.
***
Pagi itu seharusnya Kaluna tiba di sekolah lebih awal karena kekasih hatinya yang bernama Dewa ingin merayakan hari jadi mereka yang pertama, jika saja Tante Ola tidak menyuruhnya untuk sarapan dulu di rumah.
Sebagai permintaan maaf, Kaluna mampir membeli sekotak kue untuk dimakan berdua di atap sekolah.
Begitu tiba, Kaluna dengan penuh semangat menaiki anak tangga yang akan membawanya ke atap sambil menenteng sekotak kue yang sudah dia beli tadi.
“Dewa!” panggil Kaluna dengan wajah ceria. “Maaf, aku terlam – bat ....”
Keceriaan yang terpancar di wajah cantik Kaluna seketika meredup hanya dalam sepersekian detik saja ketika menyaksikan Dewa sedang memeluk erat cewek lain yang ternyata adalah teman dekatnya sendiri: Rara.
“Dewa?!” ulang Kaluna dengan suara melengking tinggi dan sukses memisahkan kedua manusia berlainan jenis itu.
“Eh, kamu ... kamu sudah datang Lun?” Dewa merapikan rambut dan seragamnya dengan segera. Rara ikut menjauh dengan tampang sedikit salah tingkah.
“Apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Kaluna dengan nada menghakimi, pandangannya menatap nanar Dewa dan Rara bergantian.
“Lun, aku jelaskan dulu ...” bujuk Dewa sambil mendekati Kaluna. “Tadi itu aku nunggu kamu dan kamu belum datang.”
“Aku nggak nanya soal tadi!” sergah Kaluna sambil memandang Dewa tajam-tajam. “Aku nanya tentang kamu sama dia!”
Jari telunjuk Kaluna mengarah jelas kepada Rara yang berdiri tidak jauh darinya dan Dewa.
“Jawab!” bentak Kaluna ketika Dewa hanya diam mematung. “Hari ini seharusnya kita merayakan satu tahun hubungan kita, tapi kamu malah ... merayakannya dengan berselingkuh sama teman aku sendiri?”
Betapa herannya Kaluna, baik Dewa maupun Rara tidak ada yang menyangkal tuduhannya sama sekali. Apa itu berarti mereka berdua benar-benar telah menjalin hubungan diam-diam di belakangnya?
“Mendingan kamu jujur deh, Ngga.” Rara memberanikan diri bersuara.
“Siapa yang suruh kamu bicara?” tanya Kaluna sengit sembari memandang Rara dengan mata menyipit penuh kemarahan.
“Bukannya kamu sendiri yang minta penjelasan?” Rara masih berani menjawab. “Ini aku sama Angga mau menjelaskannya sama kamu, Lun.”
Kaluna mendengus.
“Kalian berdua pintar sekali bersandiwara,” komentar Kaluna pura-pura memuji. “Sebelum masuk kelas memang enaknya santai di sini sambil makan kue ... kebetulan juga hari ini adalah tepat satu tahun aku pacaran sama Dewa.”
“Lun, aku bisa jelaskan ...” Dewa alias Dewangga menyela. “Tadi aku nggak sengaja ketemu Rara di ....”
“Aku ingat, aku kan habis beli kue!” cetus Kaluna sambil membuka kotak kuenya dan berjalan mendekati Rara yang menatapnya dengan sedikit curiga.
“Lun, aku tahu kamu marah sama kita,” kata Rara logis, sementara Dewa hanya diam dan membiarkan Kaluna berbuat sesuka hati.
“Kamu harus makan ini, Ra.” Kaluna membuka kotak kuenya dan mengulurkannya kepada Rara sambil tersenyum manis. “Biar kamu bisa ikut merasakan perayaan hari jadi aku sama Dewa.”
Rara menatap Kaluna dengan ragu-ragu. Saat dia akan mengambil kotak itu, Kaluna sudah lebih dulu menjatuhkan kuenya ke atas kepala Rara hingga membuat rambutnya belepotan.
“Arghh ....”
“Luna!” tegur Dewa berang seraya berlari dan menyambar pergelangan tangan Kaluna untuk menghentikannya. “Apa-apaan kamu?”
“Lepas!” sentak Kaluna dengan mata yang terfokus pada Rara yang berusaha menyingkirkan kue yang mengotori rambut dan seragamnya. “Enak nggak rasa kue itu, seenak kamu yang main tikung pacar teman kamu sendiri?”
Rara menggeleng buru-buru.
“Aku cuma kasihan sama Angga, Lun ...” katanya beralasan. “Kamu kurang peka sama Angga yang kepingin kamu perhatikan dan kamu sayang.”
“Jadi karena aku kurang perhatian sama Dewa, kamu merasa perlu untuk menggantikan tempat aku?” tanya Kaluna dengan nada tinggi. “Jangan seenaknya membenarkan alasan kamu karena sebenarnya apa yang kamu lakukan itu salah besar!”
Kaluna mendorong Rara tanpa bisa menahan diri lagi, hingga Dewa harus menahan kedua tangan Kaluna untuk mencegahnya menyerang Rara.
“Ra, mendingan kamu pergi!” suruh Dewangga yang masih berusaha menahan Kaluna yang berontak. Tanpa perlu disuruh dua kali, Rara langsung menyingkir pergi meninggalkan atap sekolah.
“Rara, aku belum selesai sama kamu ... lepas, Dewa!” Kaluna menyentakkan tangan Dewa dengan sekuat tenaga sampai lepas. Setelah itu dia berlari untuk mengejar Rara yang belum terlalu jauh, tapi Dewa dengan gesit melingkarkan kedua lengannya kuat-kuat ke pinggang Kaluna dan menariknya mundur.
“Aku bilang lepas, Dewa!” seru Kaluna sambil memukul-mukul lengan Dewa yang melingkar erat di pinggangnya. “Aku mau bikin perhitungan sama pengkhianat itu!”
“Diamlah Luna, atau kamu akan lebih malu lagi dari ini.” Dewa mengancam sambil mengangkat tubuh Kaluna dengan mudah.
Kaluna meronta dengan sekuat tenaga tapi Dewangga terus membawanya menjauh agar tidak mengejar Rara. Cowok itu membelenggu Kaluna sampai dia berhenti meronta karena lelah.
“Duduk sini, kita bicara baik-baik.” Dewa baru melepas Kaluna setelah memastikan gadis itu tidak akan berontak lagi.
“Apa pun yang mau kamu katakan, aku nggak akan percaya lagi sama kamu.” Kaluna menyahut ketus tanpa memedulikan perintah Dewa.
“Aku mau menjelaskan semuanya baik-baik Lun,” kata Dewa tajam. “Bukannya itu yang mau kamu dengar?”
“Aku udah cukup mendengar semuanya,” sahut Kaluna sambil menggeleng. “Aku nggak butuh penjelasan apa-apa lagi dari kamu atau Rara. Kalian berdua sama-sama nggak bisa dipercaya.”
Kaluna berbalik, tapi tidak segera pergi.
"Mulai detik ini kita putus," katanya tanpa menoleh. "aku mau pindah sekolah yang jauh sekalian biar nggak perlu ketemu sama kamu lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Kaluna segera pergi meninggalkan kekasih yang baru saja mengkhianatinya.
Bersambung –
Kaluna langsung meminta Tante Ola untuk mengurus kepindahannya ke sekolah karena dia tidak sudi lagi untuk bersekolah di tempat yang sama dengan Dewa dan Rara.
Di sekolahnya yang baru, Kaluna yang sudah hilang kepercayaan terhadap orang-orang cenderung antisosial dan akan bereaksi berlebihan jika ada murid yang sengaja menyenggolnya. Sudah tak terhitung berapa kali Kaluna bermasalah dengan murid laki-laki baik senior maupun junior, membolos, tidak mengerjakan tugas, dan mengerjakan soal ulangan dengan asal-asalan.
Hebatnya, Kaluna selalu serius saat ujian tengah semester atau kenaikan kelas, meskipun dalam satu semester dia bisa pindah sekolah sedikitnya dua kali jika dia bosan.
Bagaimana bisa segampang itu? Tante Ola adalah tipe orang yang tidak mau repot dan dia tinggal mendonorkan sekian juta ke sekolah baru Kaluna menggunakan uang peninggalan orang tua Kaluna yang sudah tiada.
“Kaluna, saya sedang bicara sama kamu.” Suara Estefan terdengar lagi, membuat Kaluna tersentak dari lamunannya.
“Iya Pak,” angguk Kaluna sambil terduduk tegak di tempatnya.
“Apa kamu mau mengulang kepindahan kamu lagi ke sekolah lain?” tanya Estefan ingin tahu. “Dari beberapa catatan yang ditulis guru sekolah kamu yang lama, kelihatannya kamu memang hobi pindah sekolah atau bagaimana?”
Kaluna menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
“Kalau sudah tidak betah, mau bagaimana lagi Pak?” sahut Kaluna ringan.
Estefan tidak yakin jika jawaban yang dilontarkan Kaluna adalah jawaban yang seratus persen jujur. Jika dilihat dari nilai-nilai akademiknya, Kaluna bukan termasuk murid yang bodoh. Hanya saja dia sangat pemalas berdasarkan jumlah bolos dan nilai-nilai tugas sekolah yang sering dia kesampingkan.
“Apa kamu masih niat sekolah?” tanya Estefan akhirnya.
Biasanya Kaluna akan segera menjawab dengan gelengan kepala setiap wali kelasnya yang terdahulu sudah sangat mentok menghadapi semua kenakalannya. Namun, kali ini dia terdiam bisu seolah sedang berpikir untuk melanjutkan sekolah atau tidak.
“Entahlah Pak, saya belum tahu.” Kaluna mengangkat bahunya. “Kalau ada sekolah yang masih mau menerima saya, mungkin saja saya pindah.”
Estefan tertegun, seumur-umur dia belum pernah menghadapi murid perempuan seperti Kaluna yang bersikap masa bodoh dengan sekelilingnya seperti ini.
“Pikirkan ini baik-baik,” kata Estefan sembari memandang Kaluna dari balik kacamatanya. “Kamu sudah tingkat akhir dan sebentar lagi lulus, apa kamu tidak mau untuk sekali saja dalam hidup kamu, kamu memiliki tanggung jawab terhadap diri kamu sendiri?”
Kaluna balas memandang Estefan dan tidak menjawab. Jika dulu di sekolah-sekolah sebelumnya dia hanya singgah sebentar di kantor guru untuk berpamitan karena enggan memperpanjang masalah, kali ini Kaluna terpaksa bertahan cukup lama untuk berpikir.
Seolah ada suatu magnet di dalam kantor guru yang mengikat Kaluna untuk tetap berada di depan Estefan yang menunggu jawabannya dalam diam.
“Saya tidak khawatir soal pendidikan, karena peninggalan orang tua saya tidak akan habis-habis saya makan.” Kaluna akhirnya berbicara tanpa memandang sang guru.
“Begitu?” tanggap Estefan datar. “Dari nilai ujian kamu, sebenarnya kamu lumayan pintar. Tapi kenapa kamu harus bertingkah seperti ini?”
Kaluna tidak ingin menjawab pertanyaan Estefan karena dia tahu bahwa guru muda itu hanya menjalankan profesi yang tengah disandangnya.
“Saya akan pikirkan lagi,” sahut Kaluna setelah terdiam selama beberapa saat. “terima kasih atas bimbingan Pak Guru hari ini. Permisi.”
Estefan sengaja tidak menahan Kaluna lebih lama di kantor guru, karena dia tidak ingin terburu-buru menindaknya. Terlebih karena Estefan merasa bahwa Kaluna seperti sengaja berbuat semaunya dengan alasan yang dia sendiri yang tahu.
***
“Pa, gimana kalau Luna segera kita carikan jodoh saja?” usul tante Kaluna yang bernama Ola, dia baru saja mengeluhkan tingkah keponakannya yang semakin menjadi kepada sang suami: Hendra.
“Keponakan kita masih di bawah umur, Ma.” Hendra kurang setuju. “Nanti orang-orang curiga kalau kita menginginkan sesuatu dari Luna.”
Ola mengembuskan napas berat, mengasuh Kaluna sejak kematian kakak kandungnya sempat membuat pikirannya stres berat. Namun, hal itu hanya akan sembuh jika dia mengingat seberapa besar harta warisan yang ditinggalkan untuk Kaluna seorang.
Sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas diri Kaluna, tidak salah jika Ola merasa berhak atas sebagian harta warisan itu.
“Apa? Dijodohkan?” Kaluna membelalakkan matanya ketika Ola menyambangi kamarnya begitu dia pulang sekolah. “Tante, aku baru tujuh belas tahun lebih sedikit!”
Ola tersenyum keibuan ketika dia memandang keponakannya.
“Kan kamu nggak harus menikah besok pagi,” sahut Ola kalem. “yang penting kamu mau kenalan dulu sama calon yang akan tante pilihkan nanti.”
Kaluna bertopang dagu sambil berpikir.
“Tante pasti kerepotan ngurus aku ya, sampai harus menyuruhku nikah cepat?” tanya Kaluna dengan nada tidak enak. “Tante boleh kok ambil sebagian uang bulanan aku kalau Tante butuh ....”
“Sayang, kamu ini kan keponakan tante. Sudah sepantasnya tante merawat kamu tanpa perlu imbalan apa pun.” Ola mulai menunjukkan kehebatannya bersilat lidah. “Tante kepikiran untuk menjodohkan kamu lebih awal supaya kamu nggak kerepotan nantinya cari ke sana ke sini ... gimana?”
Kaluna mengerucutkan bibirnya dan tidak segera menjawab.
“Kamu pikir-pikir dulu nggak apa-apa,” kata Ola agar keponakannya tidak curiga. “Sekarang kamu ganti baju dulu, habis itu makan yang banyak.”
“Oke Tante,” angguk Kaluna yang pikirannya seketika teralihkan. Begitu tantenya pergi, dia segera menarik napas panjang dan berat.
Keesokan harinya Kaluna masih masuk sekolah seperti biasa. Dia tidak memedulikan tatapan para murid yang telah menganggapnya sebagai si pembuat onar terlepas dari wajah cantiknya yang mengundang perhatian kaum adam.
Termasuk Yohan, salah satu most wanted di SMA Oasis. Cowok berambut model nanas itu memicingkan matanya saat Kaluna lewat di depan kelasnya.
“Hei, cewek baru!” panggil Yohan sambil bersiul menggoda.
Kaluna yang tidak merasa terpanggil hanya melengos tanpa memandang Yohan sedikitpun, membuat teman-teman Yohan terbahak.
“Pangeran sekolah dicuekin!”
“Nggak ada yang bisa menaklukkan Luna, si preman sekolah!”
Yohan yang telah memendam rasa penasarannya terhadap Kaluna, segera berlari mengejarnya demi menjaga agar nama besarnya di sekolah tidak merosot hanya karena gagal mendapat perhatian sang cewek incarannya.
“Sombong banget, Lun?” komentar Yohan sambil menjajari langkah Kaluna. “Lagi bulanan ya, makanya cepat-cepat mau ke kelas?”
Kaluna menghentikan langkahnya dan menatap tajam Yohan, membuat cowok itu merasa telah berhasil menarik perhatiannya dengan mudah.
“Menyingkir dari pandanganku, atau kamu mau merasakan azab yang pedih?” kata Kaluna tajam.
Yohan justru terbahak-bahak mendengarnya sampai ujung rambut nanasnya bergoyang.
“Santai,” kata Yohan sambil menowel pipi kemerahan Kaluna dengan ujung jarinya.
“Kamu ...?” Kaluna seketika meradang dan segera menyikut wajah Yohan dengan sikunya, membuat Yohan mengaduh ngilu.
“Berengsek,” umpat Yohan sambil mengusap hidungnya. “Kamu pikir aku nggak tega menghajar cewek?”
Kaluna langsung pasang kuda-kuda ketika Yohan melompat menerjangnya.
Bersambung –
Beberapa anak yang berada di sana langsung tersedot perhatiannya ketika melihat Kaluna dan Yohan yang tengah baku hantam di koridor kelas.
“Ya ampun, pisahkan dong!”
“Takut kena bogem nyasar!”
Kaluna tidak gentar menghadapi Yohan meskipun dia cowok, sebaliknya Yohan sendiri juga membuktikan ucapannya bahwa dia tidak segan memukul perempuan.
Beberapa kali Kaluna menyerang, meski luput karena jelas sekali jika Yohan pintar berkelahi. Dengan cepat dia membalikkan keadaan dan membuat Kaluna terpaksa mempertahankan diri dari serangannya.
“Ini sih gaya berantem cewek alay!” ledek Yohan, tubuh proporsionalnya berkelit memutari Kaluna dan tahu-tahu satu lengan cewek itu sudah berada dalam kekuasaan Yohan. Sekali sentak, lengan Kaluna dipastikan terpelintir dengan mudahnya.
“Kamu cowok jadi-jadian, ya?” komentar Kaluna dengan wajah pias yang menempel erat di bahu Yohan. “Berantem sama cewek harus pakai tenaga penuh ....”
“Nggak usah bawa-bawa gender kalau urusan berantem,” potong Yohan sementara para murid yang menonton sibuk menahan napas. “Kalian semua yang ada di sini dengar ya, anak baru yang bertingkah di sekolah ini akan berurusan sama aku! Nggak peduli mau cewek atau cowok, aku akan habisi kalau aku sudah muak!”
“Argh!” Kaluna merintih tertahan ketika Yohan menarik lengannya yang sudah mati rasa.
“Berhenti kalian!”
Kaluna menoleh ketika terdengar suara lantang yang menginterupsi pertarungan tidak seimbang ini. Kerumunan murid yang menonton seketika tersibak menjadi dua bagian ketika Estefan berjalan mendekat ke lokasi pertempuran.
Yohan langsung melepas Kaluna meskipun dengan wajah enggan.
“Kalian sadar dengan perbuatan kalian?” tanya Estefan tajam sambil memandang Kaluna dan Yohan bergantian. “Kalian sengaja berkelahi di depan para murid yang lain?”
Kaluna merapikan seragamnya tanpa menjawab.
“Saya cuma sedang melatih kemampuan murid baru, Pak.” Yohan masih bisa beralasan.
“Ke kantor guru sekarang,” suruh Estefan tegas. “biar wali kelas yang bertindak.”
Kaluna tentu saja tidak keberatan. Seperti di sekolah-sekolah sebelumnya, dia sudah terbiasa berada dalam masalah dan malah bersyukur daripada dia harus berada dalam kelas sepanjang hari yang membosankan.
Setibanya di kantor guru, Estefan langsung menyerahkan Yohan kepada wali kelasnya sendiri karena dia merasa tidak punya wewenang untuk menjatuhkan hukuman kepada dua murid itu. Sedangkan khusus Kaluna biar Estefan sendiri yang akan menegurnya.
Kaluna dan Yohan merasa kemarahan wali kelas mereka berlangsung selama berjam-jam, sampai akhirnya mereka berdua dijatuhi hukuman untuk membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah.
“Kamu sudah tahu kan seberapa besar kekuatan aku?” tanya Yohan dengan gagang pel berada di atas pundaknya. “Makanya jadi anak baru jangan sok.”
Kaluna hanya mendengus sambil duduk di kursi dan tidak berniat untuk ikut membersihkan toilet.
“Ngomong-ngomong,” ujar Yohan lagi sambil mengamati hasil kerjanya. “kenapa dari tadi cuma aku yang menjalani hukuman ini? Seharusnya kamu kan juga dihukum!”
Kaluna menertawai kelakuan Yohan.
“Aku memang dihukum sama seperti kamu,” katanya dengan nada santai. “tapi aku memutuskan untuk nggak mau menjalani hukuman itu.”
“Gila kamu ya?” Yohan menoleh menatap Kaluna yang tampak tenang-tenang saja.
“Di sekolahku yang sebelumnya aku mana pernah mau menjalani hukuman,” sahut Kaluna tenang. “Kamu saja yang kelihatannya kuat di luar, tapi di dalam takut sama guru.”
Yohan mendelik saat mendengar ucapan yang dilontarkan Kaluna kepadanya, dia meletakkan alat pelnya kemudian duduk di samping cewek itu.
“Terus ini gimana?” sungut Yohan sambil bertopang dagu.
Kaluna menolehkan wajahnya dan melihat salah satu penjaga sekolah yang melintas. Dia buru-buru berdiri dan berlari menghampirinya sementara Yohan duduk diam karena tidak mengerti apa yang akan diperbuat oleh cewek itu.
Tidak berapa lama Kaluna muncul dengan seorang petugas bersih-bersih yang siap untuk menggantikan hukumannya membersihkan toilet.
“Aku tinggal bayar bapak ini dan semua toilet dijamin bersih,” kata Kaluna dengan nada puas, dia segera mengambil tasnya dan mengerling Yohan. “Dengan ini, aku bisa bolos dengan tenang.”
Yohan melongo ketika Kaluna melenggang pergi dari hadapannya dengan santai.
“Kok mau-maunya ...?” tanya Yohan kepada petugas sekolah.
“Luna kasih uang banyak sekali,” jawab petugas itu sembari mulai membersihkan toilet sesuai titah Kaluna kepadanya.
Sementara itu Yohan masih terngiang-ngiang dengan apa yang baru saja dia saksikan, dia jadi semakin penasaran dengan sosok Kaluna Demetria.
***
“Apa, perjodohan?” Estefan mengerutkan keningnya ketika sang ibu mencetuskan ide itu saat makan malam. “Ibu jangan aneh-aneh, aku sedang fokus sama murid-muridku yang bermasalah di sekolah. Tolong jangan ditambah dengan ide perjodohan itu, aku belum mau menikah.”
Ibu Estefan yang bernama Vivian hanya tersenyum simpul mendengar tanggapan sang putra.
“Ibu tahu Rey, ini kan juga baru ide.” Vivian mengambilkan piring kosong untuk Estefan. “Tunggu sampai ayahmu pulang, dia pasti juga mendukung ide ibu.”
Estefan tidak berkomentar apa-apa dan lebih mementingkan urusan perut daripada ide perjodohan yang menurutnya konyol di masa modern seperti sekarang.
Selesai makan, Estefan segera masuk kamar untuk bersantai sejenak. Dia tidak terlalu memikirkan ucapan Vivian tadi kepadanya karena Estefan percaya bahwa sang ibu tidak akan mendesaknya untuk menikah dalam waktu dekat.
Sebagai informasi, Estefan Reyvonda mengajar sebagai guru matematika di SMA Oasis setelah sebelumnya dia mendapat masalah di sekolahnya yang lama akibat ada seorang murid perempuan yang jatuh hati kepadanya.
Bagaimana tidak, dengan tubuh tinggi di atas rata-rata bak model, rambut hitam yang dibelah rapi, serta wajah Estefan yang bersih tanpa cela, mustahil jika para kaum hawa sanggup menolak pancaran pesonanya yang tidak tertahankan.
Dan begitu dirinya diterima di SMA Oasis, Estefan sengaja mengenakan kacamata untuk menutupi sebagian pesonanya agar tidak ada lagi murid perempuan yang jatuh hati kepadanya.
Meskipun itu sulit. Karena di hari pertamanya muncul di sekolah, Estefan langsung menyita banyak perhatian dari para muridnya yang perempuan.
Dan pertemuannya dengan kasus Kaluna tadi cukup membuat Estefan geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, Kaluna terlihat tidak terpengaruh sedikitpun dengan keberadaannya sebagai wali kelas yang akan menindak tegas tingkah lakunya yang keterlaluan itu.
Dan dalam sejarah karirnya sebagai seorang guru, Estefan belum pernah bertemu dengan murid antik yang modelnya seperti Kaluna.
Keesokan harinya, Estefan sudah disambut dengan kehadiran guru BK Kaluna di mejanya.
“Saya sudah mentok menghadapi Kaluna,” curhat Bu Ester ketika Estefan baru saja meletakkan tasnya di atas meja. “Dia sudah tingkat akhir, tapi kelakuannya masih seperti bocah kemarin sore. Saya harus menegurnya dengan cara apa lagi, Pak Stefan?”
Bu Ester menutup curhatnya dengan embusan napas panjang dan berat.
“Dari obrolan saya kemarin dengan Kaluna, sepertinya dia tidak keberatan jika kita memberinya sanksi.” Estefan menjelaskan. “Dia justru merasa senang karena mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Bu Ester memijat keningnya sebentar.
“Baru kali ini saya bertemu dengan murid yang senang dihukum seperti Kaluna,” komentar Bu Ester miris. “padahal Kaluna itu sebetulnya murid yang cerdas.”
“Hatchih!” Kaluna tidak dapat menahan bersinnya tepat di depan wajah Yohan.
Bersambung –