Bab 1

Kapal pesiar Goldensea yang membawa lebih dari lima ratus penumpang kembali berlabuh di pelabuhan Singapura. Kapal pesiar dengan rute Singapura – Perth – Indonesia dan akhirnya kembali berlabuh di Singapura, telah menghabiskan waktu dua puluh satu hari di tengah lautan. Gilang Mahendra selaku salah satu nakhoda kapal pesiar itu pun akhirnya bisa merasakan suasana kota lagi, setelah hampir satu bulan berada di tengah lautan.

'Angkat telponku. Kapan lagi kita membahas rencana pernikahan kita kalo bukan sekarang, Mas.'

Udara pagi di pelabuhan Marina Bay Cruise Centre Singapore itu sangat segar. Harusnya Gilang merasa senang sudah kembali berlabuh di kota. Namun sebuah pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya seketika membuat dirinya tidak lagi bersemangat.

“Kenapa, Lang? Kok tiba-tiba berhenti?”

Enggan menjawab pertanyaan sang senior, Gilang hanya memberikan pesan yang ia terima. Sang senior yang berdiri di samping Gilang pun membaca pesan itu. Seketika tawa sang senior pecah, dan hal itu sukses membuat Gilang menghela napas kasar.

“Kan sudah saya bilang ke kamu, Lang. Kalo kamu ga mau nikah, putusin sekarang juga,” jawab sang senior sembari mengembalikan ponsel milik Gilang.

“Saya bukannya ga mau nikah, Pak. Cuma belum siap aja,” keluh Gilang yang kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana jeans, enggan membalas pesan tersebut.

“Ya kasih penjelasan dong pacarmu itu. Lagian kenapa sih kamu belum mau nikah? Emang apalagi yang mau kamu siapin?”

Gilang melirik ke arah seniornya, “Nyiapin diri, Pak,” hela Gilang, “Nyiapin duit lamaran lebih tepatnya.”

Sang senior kembali tertawa ketika mendengar jawaban Gilang, “Emang pacar kamu minta berapa sih? Kok kamu macem orang susah ga punya uang gitu?”

Gilang hanya diam tidak menggubris pertanyaan yang diajukan seniornya. Ia hanya diam sepanjang perjalanan menuju ke tempat antrian taksi.

Seolah tahu dengan apa yang sedang dipikirkan Gilang, seniornya kembali bicara, “Dengar, Lang. Kalo kamu orangnya lurus aja dan emang setia, kamu ga bakal kepikiran dengan kebiasaan kamu sebagai orang kapal nanti setelah menikah,” ucap sang senior menepuk pundak kiri Gilang, “Lagian kamu mainnya sama saya sih. Kalo kamu main sama Pak Bayu yang setia banget sama istrinya dan juga agamis, ya kamu ga bakal terpengaruh juga. Semuanya balik ke pribadi masing-masing.”

Pak Rafi, senior Gilang pun telah mendapatkan taksi yang ia pilih. Gilang hanya menatap seniornya yang sudah duduk di dalam taksi.

“Mending kamu pikirin baik-baik, Lang. Dan juga jangan lupa nanti malam bakal ada party kecil-kecilan di Marina Bay. Seperti biasa,” ucap Pak Rafi sembari mengedipkan satu matanya. Lalu taksi yang membawa seniornya itu pun pergi meninggalkan stasiun tempat mereka memesan taksi.

Gilang pun langsung masuk ke dalam taksi yang ia pilih. Setelah mengatakan ke mana tujuannya, taksi pun segera melaju menuju ke hotel tempat biasa Gilang menginap.

Marina Bay Sands Hotel. Hotel yang selalu menjadi tempat pilihan Gilang untuk menginap. Walau harga per malamnya kamar hotel tersebut hampir menyentuh delapan juta, Gilang tetap akan memilih menginap di sana. Alasannya sederhana, kasino terbesar ada di dalam hotel tersebut. Walau yang sebenarnya Gilang cari adalah night club-nya.

Sesampainya di hotel, Gilang langsung check-in dan merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang ia pilih. Tangannya meraih ponsel yang kembali bergetar entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini. Namun Gilang tetaplah Gilang. Walaupun panggilan tak terjawab dengan nama kontak yang sama sudah lebih dari dua puluh kali. Ia tetap enggan untuk menjawabnya.

“Aku sibuk,” gumam Gilang ketika akhirnya ia mengangkat telpon setelah dirinya membersihkan badan.

“Kamu kenapa sih akhir ini selalu menghindar? Kamu ada cewe lain di sana ya, Mas?”

“Aku sibuk, Sella. Kapalku baru aja berlabuh. Masih banyak yang harus ku urus. Bisa ga sih nanti aja kita ngobrolnya?”

“Kamu ngehindarin aku.”

“Maksud kamu apa, Sel?”

“Iya aku tahu kamu lagi ngehindarin aku. Kamu ga biasanya kaya gini. Sesibuk dan selelah apapun kamu, kamu pasti angkat telpon dari aku. Dan hari ini? Puluhan kali aku telpon kamu dan baru kamu angkat sekarang.”

“Sella denger. Hari ini ada kerjaan penting yang buat aku ga bisa ngangkat telpon dari kamu.”

“Kamu selingkuh. Kamu pasti punya pacar baru kan di sana? Ngaku sama aku, Mas. Aku ga pernah permasalahin kamu kalo kamu mau main cewe tapi, please. Jangan punya pacar selain aku, Mas. Aku satu-satunya pacar kamu.”

Gilang yang baru saja ingin menuangkan air ke dalam gelas pun tiba-tiba berhenti. Ia pun segera duduk di pinggiran kasur, “Bentar. Main cewe? Apa maksud kamu?”

“Ga usah pura-pura gatau kamu Mas. Aku tau persis kebiasaan orang kapal tuh main cewe. Udah jadi rahasia umum kalo di setiap pelabuhan pasti ada cewe-cewe yang sudah nunggu kamu. Sumpah Mas aku gapapa. Aku ga marah selagi itu bukan pa—“

“Maksud kamu apa sih, Sel? Jadi selama ini kamu ngeraguin kesetiaanku?” suara Gilang terdengar sudah naik satu oktaf.

“Aku gapapa kamu main sama para cewe penggoda di sana, asal kamu tetep sama aku. Biarpun kita nikah nanti kamu tetep mau main sama cewe di sana juga bakal aku ijinin. Makanya nikahin aku segera, Mas. Kamu ga bakal aku kekang.”

“Gila kamu, Sel.”

Tidak pernah sejarahnya Gilang mematikan panggilan telponnya lebih dulu. Tidak pernah sekalipun. Ia terlalu kesal mendengar ucapan pacarnya barusan. Entah apa yang dipikirkan pacarnya itu sampai menuduh Gilang memainkan para gadis di sini.

Memang benar. Apa yang dikatakan Joysella—pacar Gilang, benar adanya. Gilang sudah berumur tiga puluh empat tahun, tahun ini. Dan ia bukanlah tipikal pria yang agamis. Ia butuh hiburan. Dan ia butuh belaian wanita lain di saat ia jauh dari sang pacar.

Namun dituduh dengan tuduhan yang ‘cukup blak-blakan’ seperti ini membuat Gilang kesal. Ia terdengar seperti laki-laki rendahan. Dan hal itulah yang membuat Gilang marah.

“Dan apa maksudnya? Dia rela kalo aku main cewe asal dia aku nikahin? Sedangkan aku nahan ga mau nikahin dia karna aku masih sering main cewe, dan aku ga mau nyakitin dia nantinya.”

“Cewe mana yang mau suaminya main di luar demi cewe lain? Sella oh Sella. Entah apa yang ada di otak kamu saat ini,” keluh Gilang masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran pacarnya itu.

Ponsel Gilang kembali bergetar. Dilihatnya ada dua pesan masuk. Yang pertama dari Sella dan yang satunya dari Reno—teman Gilang di kapal pesiar.

'Maafin Sella ya, Mas. Sella lagi datang bulan dan ibu terus-terusan nyuruh Sella buat nanyain ke Mas Gilang kapan mau nikahin Sella. Mas tahu kan hormon Sella gimana kalo Sella lagi datang bulan? Maafin Sella yaa, Mas. Sella sayang dan selalu percaya sama Mas, kok.'

“Hormon aja terus yang disalahin. Kalo hormon kamu bisa ngomong, marah kali dia selalu dibawa tiap kamu mau marah,” gumam Gilang masih kesal ketika membaca pesan masuk dari Sella.

Tak berniat membalas pesan dari Sella, Gilang pun langsung beralih ke pesan masuk yang lain. Pesan yang dikirim Reno dua menit yang lalu.

'Ke mana sih Lang? Cepet sini aku udah di bar. Jadi nginep di Marina lagi kan?'

“Mau nginep di mana lagi aku Ren, kalo bukan di Marina,” gumam Gilang sembari merapikan rambutnya dan berjalan menuju pintu kamar hotelnya.

Tak pernah lupa leather clutch bag Gucci yang sempat ia beli tempo hari di shopping centre Marina Bay. Habislah riwayat dirinya jika lupa membawa clutch bag berwarna hitam itu, pasalnya isi clutch bag itu merupakan barang penting. Dompet dan paspor ada di dalamnya.

Gilang keluar dari dalam lift dan segera masuk ke dalam bar. Seseorang berbaju hawai berwarna biru dengan celana pendek hitam menarik perhatian Gilang. Pria itu sudah memesan minuman dan seorang gadis sudah duduk di samping pria tersebut.

“Mana yang lain?” gumam Gilang mengambil posisi duduk di samping pria tersebut.

“Eh, Lang? Yang lain open table di atas,” tunjuk Reno menggunakan dagunya menunjuk ke meja yang berada di lantai dua.

“Yaudah aku naik dulu. Nyusul ga Ren?” tanya Gilang sebelum beranjak mencari rekannya yang lain.

“Ga deh kayanya. Udah dapet nih.”

“Yaudah duluan.”

Tanpa menunggu jawaban dari temannya, Gilang pun langsung menaiki lantai dua. Ia melihat sekumpulan bapak-bapak bersama para wanita muda di samping mereka. Gilang menarik napas dalam sebelum ikut bergabung dengan para seniornya.

“Gilang akhirnya yang ditunggu datang juga.”

***

Bab 2

“Kyra, overtime.”

Kyra mendongak ke arah pintu yang setengah terbuka. Sang atasan masih berdiri di balik pintu menunggu jawabannya.

“Tapi, Pak..”

Sang atasan melambaikan tangannya, “Overtime!” kemudian menghilang dari pandangan bawahannya itu.

Kyra hanya bisa menghela napasnya dan menatap kembali layar komputer di hadapannya. Apa yang bisa ia lakukan, sang atasan tak akan pernah memberikan kesempatan untuknya berpikir bahkan menjawab sekalipun.

Menjadi seorang wakil manajer di salah satu bank milik pemerintah Indonesia yang berada di Singapura, membuat Kyra sering telat pulang ke rumah. Jika orang lain berpikiran bekerja di bank adalah pekerjaan yang enak, bekerja di ruangan dingin terlebih lagi seorang wakil manajer yang hanya duduk di depan layar komputer saja. Padahal nyatanya, hampir setiap hari Kyra harus lembur karena harus menghitung pemasukan dan pengeluaran dengan sangat teliti. Kurang satu angka saja semuanya akan kacau.

Baru saja Kyra akan masuk ke pantry, sang atasan keluar dengan membawa dua gelas di tangannya. Diberikannya segelas di tangan kanan sang bos yang berisi kopi yang baru saja diseduh kepada Kyra.

“Sampai jam berapa?”

“Cuma dua jam.”

Sang bos baru saja ingin meninggalkan Kyra namun kembali menoleh, “Hanya pekerjaan tambahan. Saya kirim ke email kamu. Datanya tidak ada yang cocok dengan data yang masuk tadi siang. Besok pagi sudah harus dikirim ke kantor pusat di Indonesia.”

“Ya.”

Kyra menjawab dengan lemas dan kembali ke ruangannya dengan membawa segelas kopi dari sang bos. Berharap kopi yang diberikan oleh bosnya bisa memberikan sedikit semangat untuk Kyra mengerjakan pekerjaannya.

Dilihatnya email yang baru saja ia dapat dari sang bos. Kepalanya mendadak pusing dan napasnya terasa sesak sesaat. Kumpulan angka dengan banyak angka nol di Microsoft Excel-nya lah yang membuat ia mendadak pusing.

“Ini harus dimulai dari yang mana dulu aduh pusing.”

Kyra pun memasang alarm di ponselnya. Selesai ataupun tidak selesai, ia akan berhenti mengerjakan tugasnya ketika alarm di ponselnya berbunyi. Ya, dua jam lagi.

Kyra pun mulai mengerjakan dan meneliti data yang masuk dari awal hingga akhir. Sesekali ia akan meminum kopinya yang sudah tak lagi panas dan terus melanjutkan pekerjaannya. Tak terasa hampir dua jam ia menyelesaikan dan menemukan data apa yang membuat hasil keduanya tidak cocok. Ia pun langsung mengirimkan kembali tugasnya ke sang bos.

Kyra melirik ke arah ruangan sang bos yang umurnya hanya terpaut dua tahun lebih tua dibanding dirinya itu. Sang bos memberikan jempol ke arahnya dan kemudian fokus pada pekerjaannya lagi. Sedangkan Kyra langsung mematikan komputernya dan membereskan semua barang-barang miliknya.

“Kyra tunggu sebentar.”

Kyra melihat sang bos mendekat ke arahnya yang baru saja akan turun ke lantai bawah. Sang bos bergegas mendekati Kyra dan berjalan turun bersama Kyra.

“Free malam ini?”

Kyra menghela napas, “Jangan ganggu saya Pak. Saya capek sekarang dan butuh istirahat. Lagian sekarang udah hampir jam sembilan,” keluh Kyra.

“Buat kamu.”

Sang bos memberikan free pass masuk ke salah satu night club di hotel bintang lima. Kyra yang kaget pun langsung menarik kartu tersebut dari sang bos.

“Buat saya pak?”

“Oh my bad, saya kasih pinjam kamu buat hari ini saja soalnya kamu sudah bantu saya.”

“Bapak bilang buat saya.”

“Kan saya bilang tadi kalau saya salah ngomong,” protes bosnya.

“Dih tapi oke. Terima kasih ya, Pak.”

“Ya.”

Keduanya sudah sampai di parkiran dan akan masuk ke dalam mobil masing-masing. Namun lagi-lagi sang bos menghentikan langkah Kyra.

“Mau ke sana kamu malam ini?”

“Tentu. Bapak bilang kan mau kasih pinjam hari ini.”

“Kamu bilang tadi hari ini butuh istirahat?”

“Ya capek sih tapi ga masalah. Kenapa sih, Pak?”

“Nothing. Have fun, Kyra. Jangan lupa besok kembalikan ke saya. Jangan terlalu mabuk kamu.”

Kyra membalas ucapan sang bos hanya dengan senyuman lalu segera masuk ke dalam mobilnya, setelah melihat mobil sang bos menjauh dari area parkir,

Kyra langsung melajukan mobilnya ke arah Marina Bay Sands. Siapa yang tidak tahu hotel bintang lima yang terkenal dengan ikon perahu di atas hotel tersebut. Para turis yang datang ke Singapura pasti akan menghampiri Marina Bay Sands hanya untuk sekadar berfoto atau melihat salah satu ikon negara tersebut.

Kelab di Hotel Marina termasuk kelab malam yang terbuka untuk umum, namun mereka lebih mendahulukan para pemegang free pass untuk bisa masuk. Terkadang ia cukup takjub dengan sang bos, bagaimana ia bisa survive hidup mewah di Singapura.

Tak ingin ambil pusing dengan pikirannya, ia pun langsung masuk ke dalam kelab. Kelab malam itu cukup sepi pengunjung mengingat hari ini adalah selasa malam. Namun tidak bisa disebut sepi juga, karena kelab di hotel tersebut sangat luas, dan jika pengunjung malam itu dikumpulkan di kelab biasa, maka jumlah pengunjung kelab ini bisa memenuhi ruangan di kelab hotel lain.

“Classic Margarita.”

Sang bartender pun langsung tersenyum dan membuatkan pesanan yang sudah dipesan oleh Kyra. Kyra yang bosan hanya memperhatikan sang bartender yang sedang membuatkan minuman yang ia pesan.

Sembari menunggu pesanannya selesai dibuatkan, Kyra membuka kontak di ponselnya. Ia butuh seseorang yang menemaninya. Dan entah apa yang ia pikirkan, jarinya terhenti di kontak sang bos.

“The hell!” kaget Kyra.

Kyra langsung mematikan panggilan telpon yang baru saja ia tekan. Ia panik ketika sang bos mengangkat panggilan telpon darinya. Bodohnya Kyra, bisa-bisanya ia menghubungi sang bos. Apa yang harus ia katakan nantinya karena sang bos pasti akan balik menghubunginya.

Dan benar saja apa yang Kyra pikirkan, sang bos sudah kembali menghubunginya saat ini. Mau tak mau Kyra mengangkat panggilan telpon tersebut.

“What happened?”

“Salah telpon,” jawab Kyra singkat.

“Memang kamu mau nelpon siapa? Kesepian kamu?”

“Mau telpon Jason. Sudah ya Pak saya matikan telponnya.”

“Bentar—kamu ngapain mau telpon Jason? Mau minta temenin Jason? Biar saya saja yang ke sana sekarang!”

Panik. Kyra langsung mencari alasan apa yang cocok untuk membalas ucapan sang bos. Jangan sampai bosnya itu datang menghampirinya saat ini.

“Tidak, Pak. Tidak perlu. Temen saya bakal datang kok. Tadi telpon Jason mau ada perlu yang lain.”

“Benar kamu ada teman di sana? Laki atau perempuan?”

“Bapak banyak tanya deh. Sudah ya.”

Kyra pun langsung mematikan panggilan telponnya. Ia pun kembali memperhatikan sang bartender yang belum juga selesai membuatkan pesanan miliknya.

“Classic Margarita, please”

Sang bartender tersenyum dan menyodorkan segelas cocktail yang baru saja selesai ia buat ke arah Kyra. Kyra meraihnya dengan penuh sumringah. Pesanan yang sudah ia tunggu sedari tadi.

“You guys ordered the same drink.”

Kyra pun menoleh ke arah seseorang yang baru saja datang dan mengambil tempat duduk di sampingnya. Seorang pria dengan kemeja putih yang digulung hingga ke lengannya, dipadukan dengan jeans pendek berwarna coklat susu. Tak lupa leather clutch bag hitam yang baru saja pria itu letakkan di atas meja. Outfit yang cukup simple dan sudah pasti ia adalah salah satu pengunjung hotel.

Tapi tunggu sebentar. Kyra merasa mengenal seseorang yang tengah duduk di sampingnya. Seseorang yang tampak sangat tidak asing di mata Kyra.

“Gilang? Gilang Mahendra?”

Pria yang duduk di sampingnya fokus ke arah cocktail milik Kyra. Ia menoleh ke arah Kyra ketika Kyra menyebut nama pria tersebut. Memandangnya dengan tatapan bingung. Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh pria yang duduk di sampingnya, Kyra kembali membuka suara.

“Aku Kyra, tetangga kamu. Kamu anak Bu Jani kan? Aku anaknya Tante Ranti. Temen TK kamu dulu.”

***

Bab 3

Bising dengan candaan para seniornya, Gilang pun segera turun ke bawah. Niatnya ia ingin segera mencari seorang gadis yang bisa ia ajak bicara. Namun sepertinya stok para gadis muda di kelab malam ini sudah habis karna dipesan untuk yang open table.

Gilang pun berjalan menuju meja bar. Dilihatnya dari kejauhan seorang gadis berpakaian formal namun cukup berantakan sedang duduk sendirian. Tubuh ramping gadis itu terlihat menarik walau dari belakang.

“Classic Margarita, please.”

Gilang pun mengambil posisi duduk tepat di samping gadis dengan pakaian formal atasan blouse berwarna biru muda dan rok putih selutut. Anak rambutnya yang terlepas dari ikatan rambut menambah kesan semakin menarik yang Gilang lihat dari posisi samping.

“You guys ordered the same drink,” ucap sang bartender sambil tersenyum.

Gilang melihat cocktail yang baru saja diberikan ke arah gadis di sampingnya itu. Gadis itu pun menoleh ke arah Gilang sebentar lalu fokus kembali pada cocktail miliknya.

Tunggu sebentar, Gilang merasa tak asing dengan gadis di sampingnya. Namun ia tidak tahu pernah bertemu di mana. Atau gadis ini salah satu gadis yang pernah ia sewa atau gadis yang pernah bertemu dengannya di kelab malam lain.

“Gilang? Gilang Mahendra?’

Gadis di sampingnya kembali menoleh dan mengucapkan namanya. Nama Gilang. Tidak, bukan hanya nama panggilan tapi nama lengkap Gilang. Tak banyak orang di Singapura yang tahu nama lengkapnya.

“Aku Kyra, tetangga kamu. Kamu anak Bu Jani kan? Aku anaknya Tante Ranti. Temen TK kamu dulu.”

Gilang dibuat kaget dengan pertanyaan gadis di sampingnya. Benar, Gilang memang anak Bu Jani—Anjani lebih tepatnya. Dan itu adalah nama ibunya.

Dan tunggu sebentar. Kyra? Kyra anak Tante Ranti? Kyra temen TKnya dahulu? Tunggu sebentar, Gilang benar-benar tidak ingat siapa gadis di sampingnya ini.

“Kyra. Yaampun jangan bilang kalo kamu beneran lupa? Aku itu tetangga kamu.”

“Kyra?”

“Ya Tuhan kamu beneran ga inget, Lang? Anaknya Tante Ranti. Om Dion deh. Kalo kamu ga inget juga udahlah,” ucap Kyra pasrah.

“Kyra Pandhita?”

Gadis yang mengaku namanya adalah Kyra itupun mengangguk semangat. Tak salah lagi, gadis itu Kyra Pandhita, temannya sewaktu di taman kanak-kanak dahulu. Tetangga yang hanya beda tiga rumah dengannya.

Ya Tuhan maafin Gilang ya Kyra. Dirinya sampe mikir bahwa Kyra adalah salah satu gadis yang pernah ia sewa. Gilang tidak pernah terpikirkan bisa bertemu teman di Singapura soalnya.

“Yaampun Kei! Sumpah saya kaget banget loh. Saya lupa nama lengkap kamu siapa, makanya pas kamu bilang Kyra, saya harus mikir dulu. Maaf ya?”

Kyra tertawa kecil mendengarnya, memang benar di kampung halamannya, Kyra biasa dipanggil Kei karena untuk memudahkan orang-orang ketika memanggil namanya.

“Aku seneng sih akhirnya kamu inget juga. Tadinya aku pikir bakal salah orang, atau yang paling memalukan sih cuma aku doang yang inget haha,” canda Kyra.

Keduanya saling tertawa satu sama lain. Sang bartender pun datang kembali dan membawakan pesanan milik Gilang.

“So, you two know each other?” tanya sang bartender ramah.

“Yash! He’s my childhood friend,” jawab Kyra dengan senyuman manisnya.

“Glad to hear that. Have fun you two!”

“Thanks!”

Kyra tak henti tersenyum ketika melihat Gilang. Sudah lama sekali ia tidak melihat Gilang bahkan ketika ia masih tinggal di Indonesia dulu. Walau mereka adalah tetangga tapi jarang sekali mereka bertemu satu sama lain.

“Jadi kamu tinggal di Singapura sekarang Kei?”

Kyra mengangkat kedua bahunya, “Ya seperti yang kamu lihat, Lang. Dapat kerja di sini.”

Gilang terus menatap ke arah Kyra yang terus tersenyum. Teman masa kecilnya itu tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang sangat cantik sekarang. Walau Kyra tampak lelah sepulang bekerja, ia tetap terlihat cantik.

“Kamu ngapain di Singapura, Lang? Nginep di bawah pasti ya? Pakaian kamu terlalu santai.”

Gilang mengangguk, “Wah padahal cuma dari pakaian doang kamu bisa tahu ya, Kei?”

Kyra tertawa kecil, “Haha kamu emang keliatan nyantai sih, Lang. Jadi asal nebak pasti lagi bermalam di sini. Traveling, Lang?”

“Lagi libur, Kei. Nunggu jadwal berangkat lagi jadi ya nginep di sini dulu.”

“Oh iya, kamu kerja di kapal kan? Aku pernah denger dari papa, papa bilang kamu ambil sekolah pelayaran.”

Tiba-tiba ponsel Gilang bergetar dan layarnya menampakkan nama Sella. Gilang yang melihat pun segera mematikan panggilan telpon di ponselnya tersebut.

“Angkat, Lang. Siapa tahu penting,” ucap Kyra namun mendapat gelengan dari Gilang.

Namun panggilan tersebut kembali masuk walau Gilang sudah berulang kali mematikannya. Kyra yang melihatnya pun menepuk lengan Gilang dan mengisyaratkan untuk segera mengangkat telponnya. Mau tidak mau, Gilang pun beranjak keluar mencari tempat yang cukup sepi untuk mengangkat telpon.

Kyra yang ditinggal Gilang menelpon pun kembali meminum cocktail yang ia pesan, dan sesekali membalas pesan masuk dari bosnya. Bosnya khawatir dan menyesal membiarkan Kyra pergi ke kelab malam seorang diri.

“Hi, miss. Need someone to accompany you?”

Seorang pria yang cukup mabuk tiba-tiba mendatangi Kyra dan merangkul pundak Kyra. Kyra yang kaget pun langsung berdiri dan menjauhkan tangannya dari pria tersebut.

“You look so beautiful. Come with me this night!”

Pria tersebut menarik pergelangan tangan Kyra agar lebih mendekat ke arahnya. Baru saja Kyra ingin melepaskan tangannya, tangan lain yang jauh lebih kekar memegang tangan pria tersebut, melepaskan pergelangan tangan Kyra dari tangan pria asing itu dengan mudah.

“Sorry, she came with me.”

Gilang merangkul pundak Kyra dan menjauhkan gadis itu dari jangkauan pria asing yang mencoba mendekati Kyra. Gilang mengambil tas milik Kyra yang ada di meja dan menuntun Kyra untuk keluar dari kelab malam tersebut.

Kyra menunggu Gilang yang sedang membayar minuman yang tadi mereka pesan. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Ini bukan kali pertama ia datang ke kelab malam tapi ini adalah kali pertama pria mabuk datang mendekati dan menggoda Kyra. Dan Kyra cukup kaget sampai kakinya tidak sanggup berdiri.

“Kei?”

Gilang datang menghampiri Kyra yang tengah berjongkok sembari memegang kedua lututnya. Tatapan sendu dan senyuman yang sedikit dipaksa dari Kyra didapatkan oleh Gilang saat ini.

“Kamu mau saya anter pulang atau mau tenangin diri dulu di kamar?”

Gilang membantu Kyra berdiri. Gilang bisa merasakan kaki Kyra yang gemetar ketika membantunya untuk berdiri.

“Kalo aku numpang duduk dulu bentar, boleh Lang? Ah kayanya aku istirahat di resto aja, Lang.”

“Tentu. Kamu boleh mampir, kok. Kayanya kamu istirahat dulu di kamar. Nanti kalo kamu mau pulang saya anterin.”

Gilang pun membantu Kyra berjalan menuju kamar tempat Gilang menginap. Selama berada di dalam lift, Kyra hanya bersandar di dada sebelah kanan Gilang, sedangkan Gilang merangkul tubuh Kyra yang semakin lemas.

Pintu lift pun terbuka, Gilang langsung melangkah menuju kamarnya dan menempelkan kunci kamar yang ia pegang. Gilang pun mempersilahkan Kyra masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.

“Maaf ya jadinya aku ngerepotin kamu, Lang.”

Kyra merebahkan badannya di atas kasur milik Gilang. Gilang pun mendekat ke arah Kyra dan membantu menyelimuti badan gadis itu.

“Kamu istirahat dulu aja, Kei. Ntar saya pesenin teh hangat. Kamu udah makan?”

Kyra mengangguk lemas, “Udah makan aku, Lang. Gapapa gausah pesenin makanan.”

Gilang pun berdiri dan mendekati telpon hotel hendak memesan teh hangat dan beberapa camilan ringan. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan menampakkan nama Sella di sana. Gilang pun memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut di balkon hotel.

“Hallo kenapa, Sell?”

“Kamu kemana aja sih, Mas? Dari tadi aku telponin loh kok ga diangkat sama sekali!”

“Maaf yaa ini lagi kumpul sama senior.”

“Kebiasaan deh kamu tuh kalo udah kumpul, kamu ga pernah mau ngangkat telpon dari aku.”

“Ya maaf, lagian mau gimana lagi. Kamu juga, kalo lagi kumpul sama teman-teman kamu kan ga mau diganggu.”

“Lah kenapa jadi ke aku? Ngomong-ngomong kamu minum lagi ya, Mas?!”

“Engga, Sella.”

“Bohong!”

“Ya minum sih tadi tapi cuma sedikit soalnya ada masalah.”

“Masalah apalagi sih Mas? Perasaan kamu ada masalah mulu.”

“Ada sesuatu. Aku matiin ya telponnya, besok disambung lagi.”

“Ih mau kemana?!”

“Sudah dulu ya. Aku matiin telponnya.”

Gilang langsung mematikan panggilan telponnya serta menonaktifkan ponsel miliknya. Ia masuk kembali ke kamar dan melihat pelayan hotel sedang menyajikan pesanan milik Gilang yang dibantu oleh Kyra. Setelah mengantarkan pesanan makanan, pelayan hotel itu pun segera meninggalkan kamar milik Gilang.

“Minum dulu, Kei.”

Kyra pun meraih gelas yang diberikan oleh Gilang lalu meminumnya pelan. Sedangkan Gilang membuka kaleng soda yang ia pesan bersamaan makanan yang lain.

“Lang maaf ya, harusnya kita ketemu lagi dalam keadaan baik dan nyaman, bukannya ada kejadian seperti ini.”

“Kamu kenapa sih terus-terusan minta maaf padahal kamu tuh tadi hampir—ah udahlah ga perlu bahas itu, Kei.”

Tangan Gilang merapikan rambut Kyra yang berantakan. Matanya menatap sendu ke arah teman semasa kecilnya itu. Seketika kenangan masa kecil teringat di kepala Gilang. Kyra kecil sangat manis dan sekarang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

“Jujur ya Kei, saya masih ga percaya bisa ketemu kamu di Singapura. Ketemu kamu di sini, Kei,” ucap Gilang membuka obrolan.

Senyum Kyra seketika kembali merekah. Ia menepuk kasur di sampingnya mengisyaratkan Gilang supaya ikut bersandar di samping Kyra.

Melihat gerakan tangan Kyra, Gilang pun naik ke kasur dan duduk bersandar di samping Kyra. Keduanya teringat kenangan masa kecil mereka dulu.

“Aku sempat kaget pas papa bilang kamu mau jadi pelaut,” gumam Kyra sambil tersenyum manis.

Gilang menoleh ke arah Kyra dengan tatapan penuh tanya, “Kenapa?”

“Ya karena waktu TK dulu kamu selalu bilang ke aku kalo kamu mau jadi polisi. Kamu tahu Lang, dulu kamu tuh sering banget main tembak-tembakan terus ngehampirin aku, lalu main lagi sama anak cowo yang lainnya.”

Gilang merasa tertarik dengan obrolan bersama Kyra. Jujur, Gilang sudah tidak ingat kenangan apapun lagi tentang masa kecilnya. Ia merasa kenangan masa kecilnya terlalu buruk untuk diingat. Dan ia merasa bersyukur ketika Kyra menceritakan hal menyenangkan tentang masa kecil mereka.

“Ohya Lang. Kamu tau dulu tuh kamu pernah buat aku nangis haha. Aku tebaknya kamu pasti ga inget, kan?!” ucap Kyra sambil senyum-senyum penuh arti, buat Gilang merasa penasaran dengan apa yang membuat Gilang melakukan itu pada Kyra.

Gilang semakin tertarik dengan obrolan bersama Kyra, “Saya beneran ga inget deh, Kei. Pasti karna kamunya nakal jadi saya buat kamu nangis haha. Bener ga?”

Kyra menggelengkan kepalanya pelan, “Dulu aku tuh ga ada temen selain kamu, Lang. Dan kamu bisa-bisanya pas itu bilang ga mau temenan sama aku lagi.”

Seketika Kyra menatap ke arah langit-langit kamar. Gilang yang melihatnya pun tahu jika gadis di sampingnya itu sedang menahan tangis.

“Saya sejahat itu yaa Kei sampe sekarang pun pas kamu inget hal itu bikin kamu sedih?”

Kyra refleks tertawa mendengarnya, “Haha bukan gitu! Kamu tuh baik banget orangnya, Lang. Kamu temen pertama aku. Makanya kenangan pas waktu kecil sama kamu sebisa mungkin ga mau aku lupain. Kamu tahu Lang? Bahkan aku sampe tulis di buku tentang kenangan aku sama kamu. Jaga-jaga biar aku ga lupa.”

Kyra menoleh ke samping kirinya tepat ke arah Gilang yang sedang memperhatikannya, “Dan pasal kamu bilang ga mau temenan lagi sama aku, karena kamu mau aku tuh punya banyak temen, Lang. Kamu ga mau kalo temen aku tuh cuma kamu doang. Sumpah aku masih ga nyangka kamu kok bisa sedewasa itu dulu, Lang.”

Gilang menghela napasnya pelan. Lega mendengar cerita dari Kyra secara lengkap. Tangan kirinya pun ia letakkan di atas kepala Kyra. Membelainya secara perlahan dan penuh kasih sayang.

“Jujur cerita kamu barusan buat hati saya tenang, Kei. Maaf ya harusnya saya ga lupain kenangan masa kecil kita dulu.”

Kyra menggelengkan kepalanya, “Bukan, Lang. Itu akunya aja yang terlalu berlebihan dan ga mau lupain kenangan waktu kita kecil dulu—“

—karna aku pernah suka sama kamu, Lang.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED