Di depan gerbang sebuah sekolah menengah, nampak beberapa siswa yang nampak sangat gembira. Sambil memegang selembar kertas di tangan kanannya, mereka berteriak kegirangan. Bak telah terlepas dari sebuah bencana yang melanda mereka dan menentukan nasib mereka. Kini mereka hanya tinggal memetik buah dari kerja keras mereka selama ini. Hati mereka telah siap untuk terus belajar di jenjang yang lebih tinggi.
Keempat siswa tersebut bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun mereka nampak tak terburu-buru. Mereka menepuk tangan satu sama lain untuk merayakan hari kelulusan mereka itu.
“Setelah ini kau akan melanjutkan pendidikanmu dimana?” tanya Aji pada teman di sampingnya.
“Aku ingin kuliah di bidang bisnis agar aku dapat menggantikan ayahku untuk mengurus perusahaan. Hamid pasti juga sama sepertiku. Dia kan anak tunggal. Siapa lagi yang akan menggantikan ayahnya mengurus perusahaan selain dia? Iya kan, Hamid?” jawab Marcell.
“Oh tidak, tidak. Aku tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis. Aku lebih suka menjadi tentara saja,” sela Hamid yang berada di samping Marcell.
“Apa? Tentara? Kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan perusahaan ayahmu? Siapa yang akan mengurusnya?” tanya Marcell.
“Iya Hamid. Ayahmu kan sudah tua. Ayahmu pasti membutuhkan seseorang untuk menggantikannya mengurus perusahaan dengan segera. Lagipula kau kan anak satu-satunya,” lanjut Aji.
“Iya Hamid. Sebaiknya kau melanjutkan kuliah di bidang bisnis saja bersama denganku. Lupakan saja impianmu untuk menjadi seorang prajurit demi membahagiakan orang tuamu,” sambung Marcell.
Hamid terdiam mendengar ucapan dari teman-temannya. Ia merasa bimbang tentang mana yang harus ia pilih. Apakah harus mengikuti keinginannya untuk menjadi tentara atau berbakti pada kedua orang tuanya dengan menempuh pendidikan di bidang bisnis?
Rafiq yang berada di samping kiri Hamid dan terdiam sejak awal mulai angkat bicara, “Eh sudah hentikan! Jangan diperpanjang lagi masalahnya! Biarkan Hamid memilih jalannya sendiri! Nanti juga ada cara lain untuk mengurus perusahaan ayahnya. Lebih baik sekarang kita pulang saja. Kita beritahu kabar bahagia ini pada kedua orang tua kita. Mereka pasti akan merasa bahagia dan bangga pada kita.”
“Iya. Ayo Hamid kita pulang saja! Tidak usah difikirkan lagi masalahmu itu! Nanti juga ada jalan keluarnya. Tapi, nanti kalau kau memilih untuk melanjutkan kuliah di bidang bisnis, kau katakan saja padaku! Nanti kita berangkat mendaftar bersama,” sahut Marcell.
Keempat pemuda itu bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, mereka menolehkan wajah ke belakang. Melihat kembali sekolah mereka yang akan mereka tinggalkan itu. Mereka pun mengucapkan selamat tinggal bersama-sama. Kemudian mereka melambaikan tangan mereka ke arah gerbang. Mereka terus melambaikan tangan sambil menatap sekolah yang menjadi tempatereka menimpa diri itu. Rasa bahagia juga sedih bercampur menyatu dalam hati mereka. Mereka memang senang karena telah lulus dari sekolah menengah mereka. Namun di balik itu mereka juga sedih bila harus meninggalkan sebuah sekolah yang selama tiga tahun setia menemani mereka dalam belajar. Sekolah yang selama tiga tahun telah menyimpan kenangan indah di antara mereka, teman-teman, juga antara mereka dengan sang guru.
Setelah merasa cukup lama menatap gerbang sekolah, dengan perlahan, keempat siswa tersebut membalikkan tubuh mereka. Mereka kembali menghiasi wajah mereka dengan senyuman. Halim dan Rafiq yang sempat meneteskan air mata segera menghapusnya dan kembali tersenyum. Kemudian menyalakan motor bersama-sama. Karena arah rumah mereka sama, Marcell mengajak ketiga temannya itu untuk berlomba balap motor. Akan tetapi, sebenarnya ia hanya ingin menantang Hamid yang baru saja menggunakan sepeda motor barunya untuk pergi ke sekolah.
Hamid yang sudah dapat menebak niat Marcell, langsung menjalankan sepeda motornya dengan sangat kencang. Melihat Hamid yang bersemangat dengan sepeda motornya yang merah menyala itu, ketiga temannya yang masih berada di belakangnya tertawa bersama-sama. Kemudian mereka pun mengikutinya.
“Hahaha...Dasar Si Hamid! Sudah ayo kita kejar!” ucap Marcell.
Marcell mulai menjalankan sepeda motornya. Rafiq dan Aji pun mengikutinya. Mereka juga tak ingin ketinggalan dengan Hamid. Marcell berhasil menyusul Hamid. Ketika Marcell menyamai posisinya, Hamid segera menambah kecepatannya. Namun tetap saja, Marcell menjadi pemenang seperti biasanya.
Setelah tiba di rumah, Hamid segera berlari dan memanggil-manggil orang tuanya dengan suara yang keras. Seorang wanita tua keluar dan menemui Hamid setelah mendengar suara yang menggetarkan seisi rumah. Hamid pun langsung mencium tangan wanita tersebut.
“Ada apa? Siang-siang kok malah teriak?” tanya wanita tersebut.
“Ibu lihat! Aku lulus dan mendapat nilai tertinggi,” jawab Hamid dengan nada gembira.
Wanita tersebut terbelalak ketika melihat selembar kertas yang ditunjukkan oleh Hamid kepadanya. Ia pun berkata, ”Waah...Bagus sekali, nak. Anak ibu ini memang yang terbaik. Tapi ayahmu masih di kantor. Nanti malam setelah ayahmu pulang, kamu langsung beritahu saja ya.”
“Yaah!!! Padahal aku sudah tidak sabar untuk memberitahukannya pada ayah,” keluh Hamid.
Hamid terus menunggu kepulangan sang ayah. Agar ia dapat segera memberitahukan kabar bahagianya itu dan memberitahukan tentang rencananya untuk melanjutkan pendidikannya di dunia militer. Sejak setelah solat isya’ Hamid hanya berdiri di depan pintu. Agar ia dapat langsung menyambut ayahnya jika sudah pulang.
Tak lama kemudian, penantiannya pun berakhir ketika ayahnya telah sampai di rumah. Hamid segera menyambut kepulangan sang ayah. Ia mencium tangan ayahnya sambil menunjukkan senyumannya yang lebar. Hingga membuat sang ayah menjadi heran akan sikapnya itu.
Segera setelah itu, Hamid menggandeng tangan sang ayah untuk memasuki rumah. Setelah itu, ia meminta sang ayahnya itu untuk duduk di samping sang ibu yang telah dahulu beristirahat di atas sofa. Saat semua anggota keluarga berkumpul, Hamid langsung menyerahkan surat kelulusannya pada sang ayah.
Sang ayah memperhatikan dengan seksama nilai-nilai yang didapat Hamid dari ujiannya. Setelah melihat semua nilai-nilai Hamid, Yasir merasa sangat bangga pada putra tunggalnya itu. Ia langsung teringat pada masa kecil Hamid yang selalu menjadi anak kebanggan semua orang. Bukan hanya di dalam keluarga,namun juga di lingkungan masyarakat. Hamid adalah anak yang pintar dan cerdas. Ia sering mengikuti berbagai macam perlombaan. Baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar kota. Ia paling sering mengikuti perlombaaan tilawah Qur’an dan dakwah islam. Ia sering mendapatkan juara alam perlombaan-perlombaan tersebut. Ia bahkan sering mendapatkan juara pertama dalam lomba tilawah Qur’an karena keindahan nada dan kemerduan suaranya. Hamid tak pernah gagal dalam mendapat juara. Baik di dalam kelas maupun dalam perlombaan.
Melihat senyuman di wajah sang ayah, tanpa berfikir panjang lagi, Hamid mengutarakan niatnya pada kedua orang tuanya. Hamid yang duduk di samping kanan sang ibu tengah dibelai rambutnya kemudian berkata, ”Ibu, ayah, sekarang aku kan sudah lulus SMA, setelah ini aku ingin melanjutkan pendidikanku di Akademi Angkatan Darat. Boleh kan? Aku ingin menjadi prajurit yang hebat seperti Kak Sa’ad.”
Sejenak Hamid terdiam. Ia menundukkan kepalanya lalu menlanjutkan perkataannya, "Ya,aku tahu ayah. Ayah pasti menginginkan agar aku melanjutkan memimpin perusahaan ayah. Tapi apa salahku ayah, jika aku ingin mewujudkan impianku itu? Apakah aku tidak boleh memiliki cita-cita sendiri?”
Mendengar ucapan Hamid, Yasir meletakkan selembar kertas di tangannya di atas meja. Ia menarik nafas sejenak lalau menjawab, "Iya, ayah mengerti. Kau ingin menjadi tentara seperti Sa’ad. Kau boleh pergi kesana. Ayah tidak akan melarang. Tentang perusahaan nanti ayah yang akan mengaturnya.”
Hamid merasa sangat bahagia mendengar jawaban dari sang ayah. Ia lalu menjawab, "Terima kasih banyak ayah.”
“Iya. Kau pasti akan pergi kesana. Tapi sebelum itu, ibu ingin meminta satu hal darimu. Kau mau mengabulkan keinginan ibu kan, nak?” sela Mona.
Hamid terkejut mendengar ucapan ibunya, sontak ia langsung bangkit dari duduknya. Ia menghadapkan wajahnya pada sang ibu dan dengan penuh semangat ia pun berkata, ”Iya bu. Aku mau mengabulkan semua keinginan bu. Apapun itu. Asalkan aku bisa belajar di sekolah militer. Tapi, apa keinginan ibu itu?”
Mona memandang Yasir sejenak. Ia masih ragu untuk mengatakan keinginannya pada Hamid. Demikian pula dengan Yasir. Ia pun kembali memandang Hamid. Bagaimanapun juga mereka harus mengatakannya pada Hamid.
Melihat wajah kedua orang tuanya yang berbeda dari biasanya membuat Hamid merasa sangat heran. Ia lalu memegang tangan ibunya dan berkata, ”Ada apa ibu? Apa permintaan ibu?”
Pertanyaan Hamid membuat Mona dan Yasir terbangun dari lamunan mereka. Yasir lalu mengedipkan matanya sebagai isyarat agar Mona segera mengatakannya pada Hamid. Mona pun menganggukkan kepalanya.
Mona memandang wajah Hamid dengan lembut. Kemudian ia mendudukkan Hamid kembali. Dengan sangat hati-hati ia mulai berkata, ”Hamid! Dengarkan ibu! Ibu dan ayah kan sudah sangat tua. Dan mungkin usia kami tidak akan lama lagi. Maka dari itu, sebelum ibu dan ayah menutup mata, ibu dan ayah ingin memiliki cucu. Ibu dan ayah ingin melihat cucu kami sebelum menutup mata, walau itu hanya satu. Jadi, ibu dan ayah minta padamu sebelum pergi ke Akademi Angkatan Darat menikahlah terlebih dahulu dengan wanita pilihan ibu dan ayah. Wanitanya baik, cantik, sholehah. Dan kau pasti akan sangat menyukainya hanya dengan bertemu sekali saja. Besok kita akan melamarnya. Kau akan tahu siapa dia. Kau mau kan, nak?”
Jantung Hamid seketika berhenti berdetak setelah mendengar pernyataan dari ibunya.Senyuman di wajahnya langsung menghilang. Ia pun berkata, "Apa? Menikah bu? Apa maksud ibu sebenarnya?Aku kan masih sangat muda. Aku juga belum tahu apa-apa tentang dunia pernikahan. Aku tidak mau bu! Aku belum siap sama sekali.”
“Lagipula aku bisa gagal masuk Akmil jika ketahuan sudah menikah,” lanjut Hamid.
“Nanti kita akan sembunyikan statusmu. Kita akan tutup serapat mungkin rahasia ini," sahut Yasir
“Tidak semudah itu ayah.”
Dengan amarah yang besar, Hamid segera bangun dari tempat duduknya. Kemudian ia berjalan dengan sangat cepat ke kamarnya. Mona dan Yasir sudah menduganya sejak awal bahwa hal ini pasti akan terjadi. Tapi mereka tak mempunyai pilihan lain. Mereka harus melakukannya.
Mona mencoba untuk menyuruh Hamid untuk kembali dari kamarnya. Ia ingin memberikannya pengertian tentang masalah tersebut. Namun Yasir melarangnya. Yasir menyuruhnya untuk membiarkan Hamid menyendiri selama satu malam. Semua itu mereka lakukan agar Hamid menjadi lebih tenang esok hari. Kemudian fikirannya akan kembali jernih. Dan ia akan bersedia untuk memenuhi permintaan mereka.
Pagi hari yang cerah. Matahari bersinar terang. Seolah merestui apa yang akan dilakukan oleh Hamid dan keluarganya. Menyertai mereka yang sedang dalam perjalanan untuk pergi melamar seorang gadis yang akan dinikahkan dengan Hamid. Wajah kedua orang tua Hamid yang berseri-seri menampakkan kebahagiaan pada diri mereka. Namun Hamid tidak seperti itu. Ia malah nampak muram di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaannya.
Perjalanan panjang nan melelahkan itu akhirnya telah mencapai tujuannya. Hamid dan keluarganya telah tiba di sebuah gerbang sebuah pondok pesantren. Betapa terkejutnya Hamid setelah mengetahui tempat tujuan kedua orang tuanya itu. Matanya menoleh ke atas dan nampak tulisan “Pondok Pesantren Al-Fatah”.Ia belum mengerti sama sekali mengapa kedua orang tuanya malah membawanya ke pesantren tersebut. Begitu terkejutnya ia hingga hilanglah kesedihan dalam dirinya. Sebuah senyuman pun mulai menghiasi wajahnya.
Yasir segera mengajak Mona dan Hamid untuk memasuki pondok pesantren tersebut. Tanpa merasa ragu lagi, Yasir dan Mona mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki pondok pesantren itu. Namun Hamid masih canggung untuk memasukinya. Mengetahui bahwa Hamid masih terdiam di tempat, Mona langsung meraih tangannya dan mengajaknya masuk.
Kedatangan Yasir dan keluarganya di sambut dengan sangat hangat oleh sang pemilik pondok pesantren. Segara ia menyuruh sang istri untuk menjamu tamunya itu. Bahkan Yasir dipeluk dengan sangat erat olehnya.Setelah itu,mereka pun dipersilahkan duduk oleh pemilik pesantren itu.
Setelah mempersilahkan para tamunya untuk duduk,Rahman pun berkata, ”Yasir, kau kemari setelah sekian lama.Kau pasti memiliki tujuan tertentu hingga kau bersedia jauh-jauh datang kemari sambil membawa keluargamu juga. Biasanya kau hanya datang seorang diri. Sebenarnya apa tujuan kedatanganmu kemari?”
Dengan sedikit ragu Yasir menjawab, ”Sebenarnya maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putrimu, Zahra untuk Hamid.”
“Apa? Melamar Zahra untuk Hamid? ”jawab Rahman terkejut.
Rahman mengalihkan pandangannya pada Hamid sejenak kemudian berkata, ”Subhanallah...Dia semakin tampan sekarang. Tapi bukankah usia Hamid dan Zahra itu terpaut jauh?”
“Itu benar pak. Lagipula Zahra juga masih terlalu muda untuk menikah,” sambung Salamah yang baru datang dan meletakkan minuman di atas meja.
Yasir dan Mona terdiam sejenak. Kemudian Yasir menjawab, ”Iya, aku tahu itu. Hamid juga masih terlalu muda untuk menikah. Tapi apa daya kami? Sebenarnya kami juga tidak mau kalau mereka menikah terlalu muda. Tapi, kalian tahu sendiri kan kalau usia kami ini sudah semakin tua. Dan kami ingin segera menimang cucu sebelum kami tutup usia. Jadi kami terpaksa melakukannya. Tolonglah! Kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Anggap saja ini sebagai balasan atas rasa terima kasihku kepada kalian karena kalian yang telah membantuku untuk dapat memiliki keturunan delapan belas tahun yang lalu. Aku ingin Zahra menjadi bagian dari keluarga kami yang sesungguhnya.
Rahman terdiam sejenak. Memikirkan setiap perkataan Yasir. Bagaimanapun juga ia tak akan membiarkan sahabatnya itu dalam keadaan sulit sementara ia tak berusaha untuk membantunya sedikitpun. Salamah memandang wajah suaminya dengan penuh harap. Berharap agar suaminya dapat memberi keputusan yang terbaik untuk putri tunggalnya itu.
Rahman terbangun dari lamunannya.Kemudian ia berkata, ”Sebenarnya kami sangat ikhlas membantu kalian. Kami tak mengharapkan imbalan apapun. Karena selama Yasir belajar di pondok pesantren ini dia selalu membantuku untuk dapat memahami setiap pelajaran dengan baik. Sungguh, aku dahulu hampir putus asa karena aku yang notabene adalah anak seorang pemilik pondok pesantren malah tidak bisa menerima pelajaran agama dengan baik. Aku merasa sangat malu dengan teman-temanku. Terutama Yasir yan paling pandai dalam masalah agama. Sebenarnya aku juga belum pernah cukup untuk membalas budi padanya.”
Rahman menghela nafas sejenak. Lalu ia kembali berkata, ”Tapi jujur, kalau ditanya sebenarnya aku mau sekali menikahkan Hamid dan Zahra. Aku juga sangat tertarik dengan ketampanan dan kepintaran Hamid. Apalagi Hamid dan Zahra itu kan sama-sama penghafal Al-Qur’an. Mereka itu pasangan yang sangat cocok. Tapi bukan sekarang waktunya.”
Raut wajah Yasir dan Mona nampak sedih setelah mendengar jawaban dari Rahman. Kemudian Salamah menyela, ”Tapi semua itu juga terserah pada yang akan menikah."
"Sebentar! Saya panggilkan Zahra dulu. Dia sedang mengajar anak-anak MI,” lanjut Ustadz Rahman.
Salamah keluar dari ruang tamu. Kemudian ia berjalan menuju ruang kelas. Salamah datang di saat yang tepat. Saat para siswa tengah beristirahat dan jam mengajar untuk Zahra telah selesai.
Salamah langsung menarik tangan Zahra setelah bertemu dengannya. Kemudian ia mengajaknya untuk segera pergi ke ruang tamu. Zahra menanyakan padanya alasannya yang terlihat terburu-buru itu. Salamah tak menjawab apapun. Ia tak mempunyai waktu untuk menjelaskannya pada putrinya tersebut.
Setelah tiba di tuang tamu, Salamah segera menyuruh Zahra untuk duduk di sampingnya. Yasir dan Mona merasa sangat senang dengan kedatangan Zahra. Sebelum duduk, Zahra mencium tangan Yasir dan Mona lalu merapatkan tangannya pada Hamid. Hamid ikut merapatkan tangannya pada Zahra sambil tersenyum padanya. Zahra tersipu malu ketika Hamid tersenyum padanya.
Yasir dan Mona semakin senang melihat pandangan Zahra, pada Hamid. Begitu pula dengan Rahman. Rahman pun berkata, ”Zahra, kamu masih ingat dengan Tante Mona, Om Yasir, dan Hamid kan? Mereka datang kemari untuk melamarmu. Kau akan dinikahkan dengan Hamid. Tapi semua itu terserah kalian berdua. Bagaimana, apa kamu mau menikah dengan Hamid, nak?”
Zahra sungguh terkejut mendengar pertanyaan dari sang ayah. Tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya bahwa ia akan dilamar di usia semuda itu. Dirinya sungguh tidak siap untuk menerima takdir itu. Ia kemudian menolehkan pandangannya pada Hamid. Hamid pun melakukan hal yang sama. Karena tak ingin melakukan hal yang dilarang oleh agama, Hamid segera mengalihkan pandangannya ke bawah. Sementara Zahra menoleh ke arah sang ibu.
“Aku dan ayahmu sudah lama bersahabat. Jika aku ingin menikahkan putraku, maka aku langsung memilihmu. Dengan begitu hubungan persahabatan kami menjadi semakin kuat. Tapi kalau kau menolak juga tidak apa-apa. Itu hakmu,” ucap Yasir.
“Dan kalau kau sudah menikah dengan Hamid nanti, maka kau akan menggantikanku mengurus perusahaanku yang sudah begitu besar. Karena Hamid tak ingin menjadi seorang pengusaha. Ia lebih senang untuk menjadi seorang prajurit,” lanjut Yasir.
“Iya nak, Hamid adalah pemuda yang paling sempurna .Dia pintar, cerdas, dan juga penghafal Al-Qur’an sepertimu. Suaranya sangat merdu jika melafalkan ayat suci Al-Qur’an. Tentu kau sudah mengetahui hal itu. Abi ingin sekali mempunyai menantu sepertinya. Kalau memang ditakdirkan seperti itu, maka abi akan sangat bersyukur. Tapi kalau tidak, ya tidak apa-apa," tambah Ustadz Rahman.
"Tapi maaf, Abi, apakah pernikahannya harus dilangsungkan secepat ini? Apakah tidak bisa ditunda untuk beberapa waktu lagi? Mengingat aku baru saja lulus S1," tanya Zahra.
"Tidak bisa, nak. Om Yasir sudah sangat tua. Dia sangat menginginkan seorang cucu. Jadi pernikahannya harus segera dilaksanakan," jawab Ustadz Rahman.
"Iya nak. Tidak apa-apa jika kau masih S1.Nanti kau bisa kuliah lagi agar dapat mengurus perusahanku dengan baik nanti. Dan aku yakin sekali jika berada di tanganmu maka perusahaanku akan menjadi semakin maju," tambah Yasir.
Zahra mengangguk lalu menjawab, "Baikah.Terserah Abi saja. Aku menurut pada Abi."
Semua tersenyum puas mendengar jawaban dari Zahra. Usaha Yasir untuk mencoba melamar putri sahabatnya itu ternyata tidaklah sia-sia. Tuhan yang Maha Penyayang memberinya kenikmatan yang luar bisa ini pada dirinya. Melamar putri dari sahabatnya tanpa mendapat suatu masalah yang berarti.
"Tapi maaf sebelumnya, Rahman. Maaf jika hubungan Hamid dan Zahra harus disembunyikan untuk beberapa waktu. Karena kau tahu sendiri bahwa Hamid...."ucap Yasir dengan.penuh rasa keterpaksaan.
"Apa? Apa maksudmu hubungan mereka harus disembunyikan? Memangnya kalian anggap Zahra apa? Kalian meminta Zahra untuk menikah dengan putra kalian. Tapi kalian menyuruh kami untuk menyembunyikan hubungan mereka berdua. Apa maksud semua ini?" tanya Ustadzah Salamah dengan nada tinggi.
Yasir dan Mona saling memandang. Mereka tak tahu bagaimana cara menjelaskan masalah mereka pada Salamah. Mereka menerima amarah dari Ustadzah Salamah sebagai konsekuensi dari tekadnya untuk menikahkan Hamid di usia yang sangat muda.
Yasir menyadari bahwa memang sangatlah sulit untuk melakukan lamaran ini. Mungkin bukan hanya orang tua Zahra. Mungkin banyak orang tua lainnya yang akan menolak lamaran ini karena mereka tak mau jika hubungan putri mereka dengan Hamid hanyalah sebuah hubungan di atas kertas saja. Sebuah hubungan yang harus disembunyikan pada dunia.
Namun apalah daya Yasir. Usianya sudah sangat tua. Dan di usianya yang tua itu, ia ingin segera memiliki seorang cucu. Begitu juga dengan sang istri, Mona. Mereka takut jika sampai mereka menutup mata nanti mereka belum juga dikarunia seorang cucu oleh Tuhan. Maka ia terpaksa melakukan lamaran di waktu yang sesungguhnya belum tepat.
“Ya, aku mengerti. Aku mengerti sedikit tentang dunia militer. Dan kami sama sekali tidak merasa keberatan melakukannya,” jawab Ustadz Rahman dengan cepat.
“Benar kan, Zahra? Kau juga tidak keberatan kan?” tanya Ustadz Rahman pada Zahra.
Tanpa berfikir panjang, Zahra menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Ustadzah Ustadzah Salamah merasa heran dengan sikap Zahra yang langsung menyetujui perkataan sang ayah tanpa berfikir lebih dalam.
"Tapi bagaimana dengan nasib Zahra nanti, Abi? Dia memang dinikahi Hamid. Tapi kenapa dia tidak bisa disebut sebagai istri Hamid?" protes Ustadzah Salamah.
"Dan bagaimana dengan anak-anaknya nanti?Mereka bilang mereka ingin mempunyai cucu. Tapi dia tidak boleh disebut sebagai anak Hamid. Apakah dia hanya akan menjadi cucu kalian saja tanpa mengetahui siapa orang tua mereka?" lanjutnya.
Yasir dan Mona saling memandang. Ia mengerti bagaimana perasaan Salamah saaitu. Terlebih Mona. Sebagai seorang ibu, Mona dapat memahami naluri keibuan Salamah yang sangat mengkhawatirkan nasib putrinya di masa depan.
Yasir menolehkan wajahnya pada Salamah. Kemudian ia mencoba untuk menenangkan hati istri sahabatnya itu dengan berkata, "Ini hanya sebentar, Salamah. Kita akan mencari waktu yang tepat untuk melakukan semua itu. Jika waktunya sudah tepat, kita akan memberitahu kepada dunia tentang siapa Zahra. Kita juga akan memberitahu pada dunia tentang pernikahan Hamid. Dan Zahra serta Hamid dan anak-anaknya nanti akan hidup bahagia."
"Apa kau bilang? Hanya sebentar? Walaupun hanya sebentar, tapi apa yang kalian lakukan itu tetap akan menyakiti hati Zahra," bantah Salamah.
"Lagipula kapan kau akan menentukan waktunya? Menurutku kau tidak akan pernah melakukannya karena kau lebih menyayangkan karir Hamid daripada kebahagiaan Zahra," lanjutnya.
Ucapan yang keluar dari mulut Salamah benar-benar menyayat hati Yasir dan Mona. Yasir sama sekali tak berniat demikian. Tapi rasa sakit hati Salamah membuatnya harus berkata demikian padanya dan sang istri. Dan keduanya pun harus menerima demgan ikhlas hati.
"Sudahlah, Ummi! Terima saja! Aku yakin sekali bahwa Yasir tak akan berbohong pada kita," tegur Ustadz Rahman yang tak tahan menyaksikan perselisihan yang terjadi di antara sang istri dan Yasir.
"Bagaimana aku bisa menerima, Bi? Aku tidak bisa melihat masa depan Zahra menjadi hancur hanya karena menikah dengan anak sahabat Abi itu," bantah Salamah.
Ustadz Rahman menarik nafas pendek. Lalu ia berkata dengan tegas pada istrinya itu, "Cukup Ummi! Jangan berbicara lagi! Aku sudah menerima lamaran ini. Jadi ummi jangan membuat masalah sehingga mengganggu proses lamaran ini."
"Membuat masalah apa? Dia yang mengadakan masalah. Bukan Ummi."
Ustadzah Salamah terpaksa harus mengalah. Ia harus membungkam mulutnya hanya karena tak ingin membantah perkataan suaminya. Ia ingin sekali menolak pernikahan Zahra dan Hamid. Namun apa daya? Ia tak mampu melakukannya karena suaminya melarangnya. Bahkan suaminya itu telah tersenyum bahagia dengan Yasir dan telah menerima lamaran sahabatnya itu dengan tangan terbuka.
Yasir dan Mona merasa lega mendapatkan jawaban dari Ustadz Rahman. Sungguh sebuah nikmat yang sangat indah yang diberikan Tuhan padanya. Lamaran yang ia kira akan sangat sulit dilakukan karena usia Hamid yang masih terlalu muda juga hubungan yang harus disembunyikan dari dunia ternyata tak demikian. Semua malah berjalan berbalik dengan apa yang mereka khawatirkan.
Setelah lamaran kepada Zahra diterima tanpa ada suatu rintangan yang berarti, Yasir berpamitan pada Ustadz Rahman dan Ustadzah Salamah untuk kembali pulang. Yasir berjanji akan datang kembali untuk merencanakan tanggal pernikahan Hamid dan Zahra. Sebelum Yasir keluar dari ruang tamu, Ustadz Rahman memeluknya dengan erat. Kemudian ia melepas pelukannya dan merelakan kepulangannya walau dengan berat hati.
Lamaran untuk Zahra telah dilaksanakan dan diterima tanpa adanya suatu pertentangan. Hari pernikahan mereka pun telah direncanakan. Kini mereka tengah menunggu hari h-nya saja.Sambil menunggu, orang tua Hamid dan Zahra menyiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan dalam pernikahan. Mereka terlihat sangat kompak dalam melakukannya. Bahkan Ustadz Rahman dan Ustadzah Salamah telah melatih beberapa santrinya bertilawah untuk ikut meramaikan pesta pernikahan.
Semua orang nampak berbahagia saat mempersiapkan pesta pernikahan Hamid dan Zahra. Namun tidak dengan Hamid dan Zahra sendiri. Hati mereka merasa sangat gelisah. Kebimbangan selalu hadir setiap saat. Entah apa yang terjadi setelah hari pernikahan mereka itulah yang menjadi penyebab kebimbangan mereka.
Hamid terus mengurung dirinya di dalam kamar. Membayangkan hari-hari dimana ia harus menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Zahra. Tak berbeda dengan Zahra yang terus tak fokus pada setiap kegiatan yang dilakukannya. Jantungnya terus berdebar kencang saat hari pernikahannya semakin dekat. Dan semakin kencang seiring dengan dekatnya hari istimewa tersebut.
Sementara itu, tiba-tiba timbul rasa takut dalam hati kecil Hamid untuk menjalani kehidupan pernikahan. Walaupun sudah berusaha keras untuk mempersiapkan dirinya dalam menghadapi situasi ini, namun hasilnya tetap sama. Hamid masih belum siap untuk menikah.
Sedangkan Zahra yang sebenarnya merasa bahagia karena akan menikah, kini ia juga merasakan kesedihan. Sudah menjadi hukum alam jika seorang wanita telah menikah, maka ia harus berpisah dengan orang tuanya dan harus tinggal bersama suaminya. Hal itulah yang menjadi alasan kesedihannya.
“Sebentar lagi pernikahanku akan dilangsungkan. Setelah itu, aku akan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Aku harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku harus menafkahi keluargaku. Entah bagaimana aku bisa melakukannya. Bahkan aku belum mempunyai mahar untuk Kak Zahra,” gumam Hamid.
Hamid terdiam sejenak sambil berfikir. Beberapa saat kemudian ia pun berkata, ”Oh ya, aku kan masih memiliki uang tabungan. Aku selalu mendapatkan juara saat mengikuti perlombaan waktu kecil. Dan uangnya belum kugunakan sama sekali. Uang itu pasti cukup untuk membeli mahar untuk Kak Zahra.”
Di sisi lain, ketakutan Zahra semakin besar seiring dengan malam yang semakin larut. Waktu terus berlalu. Membuat Zahra semakin merasa takut. Ketakutan akan hari dimana dia akan berpisah dengan kedua orang tuanya terus menganggu setiap pekerjaan yang dilakukannya.
“Sebentar lagi aku akan menikah dengan Hamid. Tidak kusangka aku akan menikah secepat ini. Aku baru saja mendapat gelar S1.Tapi aku malah akan berpisah dengan abi dan umi. Padahal aku masih ingin tinggal bersama mereka. Rasanya aku tidak bisa mempercayai semua ini. Aku juga merasa belum siap untuk menerima semua ini," gumam Zahra.
Malam-malam menjelang hari pernikahan membuat Hamid dan Zahra merasa sangat gelisah. Mereka tak henti-hentinya mengurung diri di dalam kamar. Merenungkan nasib mereka di masa setelah pernikahan. Bahkan mereka tak dapat tidur setiap malamnya karena terus memikirkannya.